Naruto : Masashi Kishimoto-san
Folllow You : Namikaze Asyifa
Pairing : SasuNaru
Rating : T
Genre : Supranatural, Romance, and Friendship
Warning : AU (Alternative Universe), boy x boy, OOC, Future!Mpreg, typo(s), alur super cepat terutama di chap ini, EYD berantakan, etc
PS : Fic ini mengandung unsur BOYS LOVE, jika sudah tidak suka dengan fic YAOI silahkan tekan tombol BACK untuk kembali daripada meninggalkan jejak buruk yang menyinggung perasaan author sendiri dan seluruh fujodanshi. Terimakasih...
"nana" dialog biasa
'nana' pikiran
"nana" sang sosok yang berbicara pada Naruto dan hanya Naruto yang mendengarnya
.
Chapter 4 : Konoha
.
Tik… tik… tik…
Ruang makan di kediaman Iruka terasa hening, meskipun ruangan tersebut tidak kosong melainkan diisi oleh dua sosok manusia. Tapi, ruangan tersebut memang sunyi, hanya detikan jam yang terdengar memecah kesunyian yang terjadi.
Iruka menatap iba Naruto yang kini hanya menundukkan kepalanya. Ia tahu bagaimana perasaan Naruto begitu mengetahui fakta yang sebenarnya. Bahwa Naruto adalah seorang yatim piatu yang baru mengetahui jati dirinya sebenarnya. Walau tidak menunjukkan respon apapun, tapi Iruka sangat yakin jika pemuda manis di hadapannya kini tengah mencoba menguatkan hatinya yang menderita. Menahan tangisan agar tidak terlihat lemah. Iruka tahu itu, hanya saja untuk kali ini, ia tidak bisa berbuat banyak karena itulah kenyataan yang sebenarnya.
"Jadi… Naruto~" lirih Iruka pelan mencoba mengambil perhatian Naruto. Dan sepertinya berhasil karena Naruto kini telah membalas tatapannya. "Sekarang kau bisa memutuskan, untuk mengikuti camping itu atau tidak. Jisan harap kau mengambil keputusan yang bijak dan tidak merugikan dirimu sendiri."
Meskipun Naruto merasa sangat sedih, karena baru mengetahui kalau orang tuanya telah lama meninggal. Dan semua itu dikarenakan sesosok makhluk yang memburunya. Tapi, ia yakin dengan keputusannya kali ini. Menarik nafas panjang, akhirnya Naruto membuka suara setelah Iruka menyelesaikan ceritanya. "Aku akan tetap ikut jisan."
Perkataan Naruto serasa badai dalam hati Iruka. Jujur saja ia tidak ingin Naruto celaka ataupun pergi ke dunia Akuma. Tapi, jika Naruto sudah bertekad untuk tetap mengikuti camping itu, ia bisa apa? Tak selamanya ia mengurung Naruto disini 'kan? Naruto juga sudah bukan bayi lagi yang memiliki fisik lemah, Naruto kini telah menjelma menjadi pemuda manis dengan fisik yang kuat. Dan sepertinya takdir Naruto untuk menjadi mate sang Akuma semakin dekat. Jadi buat apa ia mengurung Naruto disini? Bukankah itu sama saja dengan membunuh Naruto secara perlahan karena telah berpisah cukup lama dengan matenya? Selain itu, jika Iruka telah berhasil membuat Naruto tetap tinggal di sini, di dunia ini, Naruto tidak akan pernah memiliki pasangan hidup. Karena sejak berabad-abad lamanya takdir pemuda blonde di depannya adalah bersama sang Akuma.
"Aku ingin bertemu secara langsung sosok yang telah membunuh kedua orang tuaku. Aku penasaran seperti apa rupa pembunuh kaasan dan tousan," lanjut Naruto berusaha meyakinkan Iruka.
"Iruka-jisan tenang saja, aku akan baik-baik saja. Bukankah segel yang tousan buat nanti akan melindungiku selama berada di hutan?" Naruto kembali meyakinkan Iruka. Dan sepertinya kali ini berhasil, terbukti dengan Iruka yang mengangguk pelan walau sabenarnya tidak ikhlas.
"Baiklah… jika itu keputusanmu. Tapi jisan akan ikut ke Konoha. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
Naruto mengangguk pelan. "Tentu saja. Aku juga akan membawa Kyuubi."
…
#Namikaze _Asyifa#
…
Waktu terasa berjalan sangat cepat bagi Iruka. Karena hari ini adalah hari dimana KSHS mengadakan camping itu. Semua siswa tingkat dua telah berkumpul di lapangan KSHS. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian yang cukup terbuka mengingat sekarang sudah menginjak musim panas. Tapi sepertinya Naruto tidak terpengaruh dengan suhu saat ini. Terbukti dari penampilannya yang memakai jaket orange kesayangannya.
Sayangnya dari sekian banyaknya murid dan guru yang akan mengawasi mereka saat camping nanti, tidak ada yang menyadari perbedaan dari penampilan sang Uzumaki. Di saat yang lainnya mengenakan pakaian terbuka, Naruto justru mengenakan pakaian tertutup. Di saat mereka semua merasakan udara panas di musim panas, Naruto justru merasakan udara dingin di musim panas. Hell…. Apa hanya dia satu-satunya manusia yang merasakan dinginnya angin di musim panas? Atau memang hanya dirinya yang aneh? Tidak mungkin 'kan kalau Naruto memiliki sindrom aneh?
Sebenarnya Iruka cukup merasa aneh dengan keadaan Naruto. Bahkan jika tidak dibangunkan, Naruto mungkin masih terlelap dalam ranjangnya. Apalagi sebelum bocah hiperaktif itu bangun sepenuhnya, Iruka bisa mendengar walaupun samar Naruto yang menggigil kedinginan. Dan saat sarapan tadi Naruto mengeluh kedinginan. Ia beberapa kali mengecek suhu tubuh Naruto, tapi semuanya normal. Suhu tubuhnya terlalu normal untuk dikatakan demam. Jadi apa yang membuat Naruto kedinginan?
"Yo… Naruto kenapa kau memakai jaket? Apa tidak panas?" tanya Kiba penasaran sambil mengusap-usap kepala Akamaru yang berdiri di sampingnya.
Guk! Disusul dengan gonggongan Akamaru.
"Aku kedinginan," jawab Naruto singkat.
"Haa?" Kiba hanya melongo tidak percaya mendengar jawaban dari pertanyaannya. "Apa kau sakit? Tapi kelihatannya kau baik-baik saja."
"Aku memang sehat dan sedang tidak sakit. Hanya saja aku merasa kalau udara hari ini sangat dingin, makanya aku memakai jaket," jelas Naruto sedikit kesal dengan tingkah sahabatnya itu.
Kiba hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti walaupun sebenarnya ia masih sedikit kurang mengerti. Bagaimana tidak mengerti jika di cuaca sepanas ini masih ada manusia yang mengatakan dingin kecuali kalau orang tersebut mengalami sesuatu yang lain dari tubuhnya, seperti terkena syndrome mungkin.
Sesaat Kiba melihat Iruka yang berdiri di tepi lapangan dengan Kyuubi yang terduduk di sampingnya sambil mengawasi gerak-gerik Naruto bak seorang bodyguard. "Apa Iruka-jisan akan ikut kita camping?" tanya Kiba penasaran.
"Hmm," Naruto menganggukkan kepalanya pelan. "Ada seseorang yang ingin jisan kenalkan padaku," jelas Naruto menjawab pertanyaan tak terlontarkan dari Kiba.
"Oh…"
Keduanya terdiam. Sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Seharusnya mereka berangkat ke Konoha 15 menit yang lalu, tapi sepertinya kendaraan yang telah dipesan oleh pihak sekolah belum juga datang. Pendataan murid yang akan mengikuti camping ini telah selesai 20 menit yang lalu. Dan sepertinya guru-guru yang akan mendampingi mereka mulai cemas dengan keterlambatan transportasi yang akan mereka gunakan.
"Kenapa lama sekali sihh…" gerutu Kiba mulai kesal.
"Kau benar," Naruto menanggapi.
"Tidak lama lagi…"
DEG!
Jantung Naruto berpacu dengan cepat. Setelah beberapa minggu ini ia tidak pernah mendengar suara aneh, kini ia mendengarnya bahkan sangat jelas. Ia mencengkram dada kirinya, tepat di bagian jantungnya. Perasaan ini…. perasaan ini sama persis ketika Naruto pulang sekolah, lebih tepatnya setelah Naruto selesai memakan ramen dan ketika Teuchi-jisan selesai menceritakan masa lalu Konoha padanya.
Jantungnya berdegup kencang. Khawatir? Senang? Sedih? Atau apapun itu, Naruto tidak bisa membedakan perasaan mana yang lebih mendominasi dalam dirinya, persis seperti waktu itu. Perlahan-lahan air mata Naruto menetes, membasahi pipinya. Membuat aliran yang sangat umum dilihat.
Ia tidak tahu. Naruto tidak tahu mengapa tiba-tiba air matanya menetes. Sial… padahal saat mendengar kalau orang tuanya sudah lama meninggal ia tidak menangis barang sedetik pun. Tapi kenapa sekarang ia menangis untuk sesuatu yang bahkan Naruto sendiri tidak diketahui.
"Naruto… kau baik-baik saja," tanya Kiba khawatir.
"Aku tak ap-"
"Semuanya harap periksa kembali barang bawaan kalian. Kendaraan sudah datang, harap kalian segera memasuki kendaraan masing-masing sesuai dengan yang sudah di bagikan," teriak Tazuna, salah satu guru Naruto.
Kiba kembali mengalihkan pandangannya, menatap Naruto intens. "Kau yakin kau baik-baik saja?" tanya Kiba.
"Aku baik-baik saja. Sebaiknya kita cepat kalau kau ingin tidak ingin tertinggal bus."
Setelah memastikan kalau sahabat pirangnya benar-benar dalam keadaan fit, akhirnya Kiba memasuki bus dengan nomor 3 dari 9 bus disusul Akamaru di belakangnya. Naruto sendiri berada di bus yang sama dengan Kiba. Jangan lupakan Kyuubi yang kini telah meringkuk dengan nyamannya dalam gendongan sang tuan. Aah… Iruka sendiri akan menaiki angkutan umum. Ia tidak mungkin 'kan menaiki bus pariwisata yang dipesan oleh pihak sekolah? Bisa ditendang nanti kalau naik bus itu.
.
Konoha yang pada dasarnya terletak di pinggiran kota memang cukup sulit di jangkau dengan kendaraan umum. Selain karena factor jalur yang cukup menantang, Konoha juga termasuk ke dalam desa yang sangat terpencil namun memiliki pesona yang mengagumkan.
Perjalanan ini memakan waktu yang cukup lama, yaitu lima jam. Perjalanan yang cukup membosankan, tapi sepertinya sebagian besar murid tingkat dua ini menghabiskan waktu tersebut dengan bergosip untuk kaum hawa selama satu jam, sedangkan untuk kaum adam lebih senang membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan olahraga selama satu jam pula. Sisa empat jam dihabiskan untuk tidur beramai-ramai.
Sedangkan para guru sepertinya sedang melakukan rapat dadakan guna mengatur ulang jadwal kegiatan mereka yang molor hampir setengah jam itu.
Berbeda dengan yang lainnya, Naruto sejak bus yang ditumpanginya berjalan ia hanya menatap keluar jendela. Memandang gedung-gedung tinggi yang kini telah berganti menjadi pohon-pohon rindang. Ia yang semula merasakan dingin entah kenapa sekarang justru merasakan udara yang sejuk. Dan Naruto sangat nyaman dengan itu hingga tanpa sadar ia sudah terbuai hampir terlelap.
"Tidurlah… sayangku…"
Dan suara misterius yang sering Naruto dengar berhasil membuat bocah blonde tersebut tertidur, terlena dalam dunia mimpi dimana ia dan seseorang tengah hidup berbahagia sambil menggandeng tangan seorang bocah berumuran 5 tahunnan.
"Naruto… woiy… bangun…. Mau sampai kau akan tidur?" tanya Kiba sambil mengguncang-guncang tubuh Naruto pelan.
"Enghh…" sebuah lenguhan meluncur dari bibir Naruto, ia mengerjapkan matanya perlahan-lahan. Jujur saja ia masih sangat mengantuk. Kenapa pula harus dibangunkan secepat ini. "Ada apa?" tanya Naruto serak, khas orang baru bangun tidur.
"Sebentar lagi kita sampai. Cek barang bawaanmu, jangan sampai ada yang tertinggal di bus."
Dengan malas akhirnya Naruto mengikuti perkataan Kiba. Mengecek barang bawannya yang tidak terlalu banyak. Hanya berisi beberapa potong pakaian dan beberapa bungkus ramen instan. Untuk makanan Kyuubi, ia pikir mungkin nanti Kyuubi akan mencari sendiri di hutan tempat Akuma berada. Sedang masalah apel… hu~h biarlah Kyuubi sendiri yang mencarinya. Tapi, kalau tidak salah kata paman Iruka Konoha memiliki kebun apel yang bebas dipetik oleh siapapun. Dan itu berarti ia tak perlu khawatir Kyuubi akan kehabisan stok apel.
Ngomong-ngomong tentang Kyuubi, Naruto baru ingat sejak tadi ia belum melihat Kyuubi. Dimana rubah itu?
"Kiba, apa kau tahu dimana Kyuubi? Sejak bangun tidur aku belum melihatnya. Kemana dia?" tanya Naruto beruntun pada Kiba yang masih sibuk mengecek ini dan itu.
"Kyuubi sedang bermain dengan Akamaru," jawab Kiba tanpa menghentikan acara mari mengecek barang bawaan.
"Eh? Bermain? Dimana?" sungguh Naruto sangat penasaran dan juga merasa cukup janggal. Mereka sekarang ada di bus yang tengah berjalan. Dipenuhi puluhan murid dan guru. Tidak cukup ruang untuk dua ekor hewan peliharaan bermain dengan bebas layaknya di tengah lapang. Jadi, dimana rubah nakalnya dan anjing putih milik Kiba bermain? Jangan-jangan…
"Mereka bermain di atap bus."
"APA!?" Naruto berteriak kaget menyebabkan seluruh penghuni bus memandangnya aneh. Naruto segera saja berdiri dan membungkukkan badannya beberapa kali tanda meminta maaf.
"Apa katamu tadi?" tanya Naruto ulang. Ia berharap pendengarannya salah.
"Ck," Kiba berdecak kesal. Kini ia memandang Naruto kesal. "Aku bilang kalau Akamaru dan Kyuubi bermain di atap bus."
"Bagaimana mereka bisa berada di atap bus? Bagaimana kalau mereka terjatuh?"
"Mereka berada di atap bus melewati itu," Kiba menunjuk sebuah ventilasi yang berada di atap bus. "Kau tenang saja, Kyuubi dan Akamaru tidak akan jatuh. Mereka akan baik-baik saja, sebentar lagi kita sampai."
Naruto tak bertanya lagi. Walau sebenarnya masih diliputi rasa khawatir, tapi Naruto yakin Kiba benar, Kyuubi dan Akamaru tidak akan terjatuh dari atap bus.
Sayangnya Naruto tidak mengetahui kalau sebenarnya Kyuubi hanya duduk dengan tenang di atap bus sambil menatap sebuah hutan yang mengeluarkan aura hitam tak mengenakkan dengan mata rubynya. Mata Kyuubi… terlihat seperti menantang sosok yang berada di hutan tersebut. Sedangkan Akamaru hanya merebahkan tubuhnya di samping Kyuubi.
"Kurama no kitsune … lama kita tidak pernah bertemu,"
"Grr!"
.
Tap… tap… tap…
Tsunade tampak cemas dan sedikit rasa gugup(?), rombongan Kyoto Senior High School telah sampai di Konoha sekitar sepuluh menit yang lalu. Dan masalah utama yang membuat Hokage garang tersebut terlihat gugup adalah karena Iruka baru saja menghubunginya kalau ia akan membawa Naruto ke ruangannya.
Sedangkan Shizune hanya bisa menatap prihatin atasannya yang sangat jarang menampilkan raut gugup. Sejujurnya ia juga penasaran dengan rupa dari putra Hokage Keempat itu yang mungkin bisa sedikit menjinakkan Akuma. Eh… tunggu… menjinakkan? Akuma?
"Hokage-sama~" panggilan Shizune berhasil membuat Tsunade menghentikan kegiatan mondar mandirnya.
"Apa?"
"Bagaimana kalau kita meminta pada putra Yondaime Hokage untuk sedikit menjinakkan Akuma? Misalnya dengan menghentikan pengiriman warga Konoha yang berambut pirang," usul Shizune.
Hening….
Tampaknya sang Hokage yang telah memiliki umur setengah abad ini tengah memikirkan usul Shizune. "Tidak, kita tidak bisa meminta Naruto untuk menjinakkan Akuma. Itu sama halnya dengan menyuruh Naruto menemui sosok mengerikan itu. Akuma memang tidak bisa membawa Naruto pergi, tapi ia masih bisa menyentuh Naruto."
"Aku rasa… aku bisa melakukannya," ucapan seorang pemuda pirang dengan iris sapphire dan cengiran khasnya membuat Tsunade, Shizune, dan satu orang lagi yang berdiri di sampingnya melebarkan matanya tak percaya.
.
.
Sepuluh menit sebelumnya….
"Segarnya~" ucap Naruto begitu menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya. Udara yang segar membuat seluruh otot-otot tubuhnya terasa sedikit lebih rileks. Maklumlah lima jam dihabiskan dengan duduk pasti membuat ototmu terasa nyeri dan pegal.
"Kau benar. Disini sangat menenangkan. Tidak ada gedung-gedung pencakar langit, tidak ada polusi, tidak ada kendaraan-kendaraan yang membuat telingamu sakit… hu~h… pasti sangat nyaman tinggal disini," lanjut Kiba sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mencoba memotret apapun yang dilihatnya ke dalam otaknya untuk kembali diceritakan kepada keluarganya.
"Hmm," gumam Naruto singkat. "Eh! Ngomong-ngomong dimana hutan yang akan menjadi tempat camping kita?" tanya Naruto penasaran.
"Hoaahm… disebelah sana," jawab seorang pemuda berkucir nanas(?) sambil menunjuk ke arah utara dengan malas. Tepat sekitar 800 meter di depan mereka terdapat gerbang yang sangat besar. Dan Naruto serta Kiba sangat yakin kalau hutan yang mereka tuju ada di balik gerbang tersebut.
"Dimana Neji?" tanya Naruto.
"Masih di bus. Ada barang yang tertinggal katanya."
"Heiy Shika…" panggil Kiba. "Sebaiknya kau cuci wajahmu yang kusut itu. Mengerikan," hina Kiba. Shikamaru hanya memutar matanya bosan sambil menggumamkan trademarknya 'mendokusai'. Sudah kebal dengan segala hinaan Kiba yang diperuntukkan untuknya. Hinaan yang sebenarnya hanya untuk bercanda tanpa ada niat menghina.
"Naruto~" panggil Iruka dari kejauhan. Sepertinya ia baru tiba di Konoha.
"Jisan" balas Naruto sambil melambai-lambaikan tangannya pada Iruka.
"Dimana Kyuubi?" tanya Iruka begitu sampai di hadapan Naruto.
"Aku melihatnya sedang memakan apel tak jauh dari bus," jawab Neji yang sudah selesai mengecek barang bawaannya.
"Apa kau juga melihat Akamaru?"
"Tidak."
"Hu~h ya sudah…" jawab Kiba kesal dengan jawaban singkat Neji.
"Eh! Ada apa paman mencariku?" tanya Naruto.
"Sebaiknya kau ikut jisan"
"Kemana?"
"Ke kantor Hogake."
Dan disinilah Naruto berada. Di depan pintu sang pemimpin desa yang baru diketahuinya bernama Tsunade itu. Ia tidak langsung masuk ke dalam bersama Iruka. Karena sepertinya sang Hokage sedang membicarakan sesuatu yang serius dengan asistennya. Pembicaraan tentang Akuma.
"Memikarkanku hn?"
Naruto tersentak. Kali ini saja… ia ingin bicara dengan suara misterius yang selalu terngiang-ngiang di kepalanya. 'Siapa kau?'
"Bukan siapa-siapa. Hanya matemu yang sangat mencintaimu."
'Hahaha… jangan bercanda. Kita bahkan belum pernah bertemu, bagaimana mungkin kau mengatakan bahwa kau mencintaiku?'
"Kita bukan hanya pernah bertemu. Kita saling melengkapi. Di kehidupan sebelumnya, sekarang maupun di kehidupan yang akan datang. Selamanya kau adalah milikku. Mateku."
'Apa mak-'
"Naruto, sampai kapan kau akan berdiri disini terus?" tanya Iruka membuat percakapan Naruto dengan sang suara misterius terputus.
"Gomennasai. Aku gugup," katanya sambil menggaruk pipinya yang chubby.
Naruto berniat membuka kenop pintu tersebut sebelum mendengar sedikit perbincangan sang Hokage.
"Bagaimana kalau kita meminta pada putra Yondaime Hokage untuk sedikit menjinakkan Akuma? Misalnya dengan menghentikan pengiriman warga Konoha yang berambut pirang."
"Tidak, kita tidak bisa meminta Naruto untuk menjinakkan Akuma. Itu sama halnya dengan menyuruh Naruto menemui sosok mengerikan itu. Akuma memang tidak bisa membawa Naruto pergi, tapi ia masih bisa menyentuh Naruto."
Tanpa pikir panjang lagi, Naruto langsung saja membuka pintu di depannya dengan sedikit keras. Dan mengucapkan sesuatu yang mungkin bisa menjadi awal perjalanan hidupnya dengan sang Akuma.
"Aku rasa… aku bisa melakukannya."
.
.
Kembali ke waktu sebelumnya…
"Aku rasa… aku bisa melakukannya."
Iruka ahh~ tidak hanya Iruka tetapi juga Tsunade dan Shizune terbelalak lebar dengan ucapan bocah pirang yang mereka ketahui adalah mate dari sang Akuma. Mereka tidak menyangka kalau bocah itu berani menemui Akuma. Selama ini, selama 17 tahun sejak kedatangan makhluk itu di Konoha hanya Hokage Keempat dan Tsunade saja yang pernah bertatap secara langsung sosok penghancur itu.
Tsunade yang sadar dari rasa keterjutannya perlahan-lahan melangkahkan kakinya kearah Naruto yang sedang menampilkan cengiran khasnya. Ia mengusap pipi dengan tiga goresan tipis dengan lembut. Tatapannya penuh dengan kasih. Memang, ini baru kali pertama ia melihat Naruto secara nyata. Bocah polos dengan sejuta kepolosannya. Lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Pantas saja Akuma begitu menginginkan pemuda ini.
"Hey bocah, apa yang kau pikirkan?" tanya Tsunade dengan wajah garangnya.
"Entahlah. Aku hanya berpikir kalau makhluk yang membunuh kedua orang tuaku itu sangat menyebalkan sampai-sampai ia meminta korban manusia," Naruto menerawang.
"Akuma memang sangat menjengkelkan. Kalau saja dia manusia mungkin aku akan memukul kepalanya," gerutu Tsunade.
Naruto hanya mengangguk, setuju dengan ucapan sang Hokage sambil sedikit memanyunkan bibirnya tanda kesal.
"Jangan berekspresi seperti itu my lady. Kau membuatku ingin memakanmu."
TWITCH!
"NANI…? aku ini laki-laki tahu, bukan perempuan," teriak Naruto tanpa sadar membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut.
"Heii bocah, jangan berteriak di ruanganku," protes Tsunade.
"Ne baasan, jangan salahkan aku. Kalau saja suara itu tidak memanggilku my lady, mana mungkin aku akan berteriak," protes Naruto balik. Tidak ingin disalahkan oleh Tsunade. Tapi sayangnya Naruto tidak tahu kalau Tsunade tidak suka dipanggil nenek. Karena menurutnya panggilan itu terlalu tua untuknya.
"Jangan panggil aku nenek bocah."
"Naruto-san, kenapa kau berteriak?" tanya Shizune.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Iruka tak kalah khawatirnya.
Kini posisi Naruto adalah berdiri di tengah-tengah Tsunade, Iruka dan juga Shizune. Berdiri kaku karena tatapan mengintimidasi dari Iruka, tatapan penasaran dari Shizune dan tatapan garang dari sang Hokage yang dipanggil nenek oleh bocah blonde itu.
"Err…. Aku baik-baik saja, kurasa. Dan baasan, kau itu sudah tua, jadi sangat pantas kalau kau dipanggil nenek," jawab Naruto mencoba untuk tidak gugup.
"APA-"
"Tsunade-sama, hentikan. Nah Naruto-san, kenapa kau berteriak?"
"Shizune-nee, tadi 'kan sudah kukatakan. Aku berteriak karena suara itu memanggilku my lady. Jelas-jelas aku ini pria, bukan perempuan. Aku heran apa dia itu tidak punya mata?" gerutu Naruto sebal.
"Suara? Suara apa maksudmu?" tanya Tsunade yang mulai mengendalikan emosinya.
"Entahlah…. Suara itu terdengar begitu jelas. Sering terdengar di kepalaku. Kadang menggangguku dan mengejutkanku, kadang juga menggodaku. Yang terakhir tadi dia memanggilku dengan sebutan my lady. Eh… ngomong-ngomong, kenapa baasan ingin bertemu denganku?"
"Ohh… hampir lupa," Tsunade melepas kalung Kristal miliknya. "Gunakan ini," katanya sambil menyerahkan kalung Kristal miliknya pada Naruto .
"Untuk apa?" tanya Naruto sambil meraih kalung tersebut.
"Melindungimu tentu saja bodoh."
"Eh? Melindungiku? dari apa?" tanya Naruto innoncent.
"Dari Akuma," jawab Iruka.
"Buat apa? Aku akan baik-baik saja tanpa memakai kalung ini."
"Hei bocah pakai saja kalung itu selama berada di hutan. Jangan banyak tanya. Itu juga untuk keselamatanmu."
"Iya iya iya… dasar cerewet," gerutu Naruto tapi tetap masih mengenakan kalung pemberian Tsunade.
"Apa kau bilang?"
"Tenangkan dirimu Tsunade -sama."
"Kau harus memiliki kesabaran ekstra jika menghadapi Naruto," terang Iruka.
Naruto menganggukkan kepalanya setuju dengan Iruka.
…
#Namikaze _Asyifa#
…
Keesokkan harinya…
Hari cuaca sangat cerah. Mentari menyinari bumi dengan begitu indahnya. Suara-suara alam yang sangat sulit kau dengar ketika berada di kota benar-benar membuatmu sangat nyaman. Kicauan burung-burung yang sangat menenangkan dibanding dengan suara bising yang diakibatkan oleh kendaraan-kendaraan yang memenuhi jalan kota. Udara yang sangat segar bebas dengan yang namanya asap. Pepohonan yang asri sungguh sangat indah jika dibandingkan dengan gedung-gedung pencakar langit yang menghalangi penyinaran matahari.
Di depan gerbang yang dijaga oleh Kotetsu dan Izuma, rombongan dari Kyoto Senior High School tengah berbaris, mendengarkan instruksi guru yang akan membimbing mereka memasuki kawasan hutan Konoha. Sedangkan dari pihak Konoha, mereka telah menyediakan pemandu yang akan menunjukkan jalan yang seharusnya mereka tempuh dan jalan yang dilarang mereka lewati yaitu jalan menuju kuil yang berada di tengah hutan.
Tsunade yang notabenenya pemimpin desa memerintahkan pemuda bermasker yang seumuran dengan Iruka untuk membimbing mereka. Pemuda itu bernama Hatake Kakashi. Beruntung sekali para tetua Konoha akhirnya menyetujui pemikiran Tsunade untuk memerintah Kakashi agar menjaga rombongan KSHS dari serangan Akuma. Terkhusus Naruto.
"Baiklah anak-anak, hari ini kita akan memulai camping kita di hutan yang ada di balik gerbang ini. Pastikan kalian membawa peralatan untuk camping. Kita akan tinggal di hutan itu selama tiga hari. Apa kalian jelas?" tanya Asuma, salah seorang guru di KSHS.
"Jelas sensei," jawab semua murid serempak.
"Sebelum kita memulai camping ini. Perkenalkan beliau adalah Hatake Kakashi. Beliau yang akan memandu kita memasuki kawasan hutan. Ada yang ingin ditanyakan?"
Entah sadar atau tidak, tiba-tiba Naruto mengangkat tangannya. "Kakashi-sensei, bisakah Anda menceritakan pada kami sejarah Konoha?"
Dengan tatapan bosannya, Kakashi memperhatikan Naruto. 'Jadi dia yang bernama Uzumaki Naruto?' Sebelumnya, Kakashi memang sudah diberi tahu oleh Tsunade tentang mate Akuma. Awalnya dia memang kaget dengan penjelasan Tsunade, tetapi akhirnya ia mulai mengerti mengapa Hokage Keempat yang merupakan gurunya itu menyegel Akuma.
"Baiklah… Konoha didirikan oleh Hokage Pertama yang bernama Senju Hashirama dan Uchiha Madara. Mereka berdua adalah seorang sahabat. Awalnya kehidupan Konoha sangat damai dipimpin oleh Hokage Pertama. Tapi lama-kelamaan Uchiha Madara mulai memusuhi Senju Hashirama. Tidak diketahui mengapa Uchiha Madara berbalik memusuhi sahabatnya. Selama hampir 2 tahun mereka saling perang dingin. Sampai akhirnya kejadian rak terduga terjadi."
"Kejadian apa sensei?" tanya seorang siswi yang kelihatannya mulai penasaran dengan sejarah Konoha.
"Kejadian yang mengungkapkan bahwa Uchiha Madara ternyata bukanlah seorang manusia yang kemudian menghilang dari Konoha dan tidak pernah menampakkan diri sampai sekarang. Setelah Hokage Pertama wafat, jabatan Hokage jatuh kepada Senju Tobirama yang merupakan adik dari Senju Hashirama. Pimpinan kemudian dilimpahkan kepada Sarutobi Hiruzen yang sepertinya memiliki hubungan darah dengan salah satu guru kalian, benarkan Sarutobi Asuma- san?" Asuma hanya mengangguk membenarkan perkataan Kakashi.
Bisik-bisik mulai terdengar begitu mengetahui kalau s ,llloalah satu guru mereka memiliki hubungan darah dengan pemimpin desa.
"Kemudian jabatan Hokage Keempat atau Yondaime Hokage jatuh pada Namikaze Minato," Kakashi melihat tubuh Naruto yang sedikit menegang begitu ia menyebutkan nama sang Hokage Keempat. "Pada saat pimpinan beliau kejadian mengerikan terjadi. Yaitu makhluk mengerikan yang berniat menghancurkan desa demi mencari seseorang yang bahkan belum lahir saat penyerangan terjadi. Hokage Keempat dan istrinya, Uzumaki Kushina yang baru melahirkan putra pertama mereka meninggal karena melindungi putra mereka dan desa dengan mellawan makhluk itu. Kemudian beberapa tahun yang lalu Hokage Kelima, Hokage yang sekarang sedang menjabat terpilih. Beliau bernama Senju Tsunade yang juga merupakan keturunan dari Hokage Pertama."
"Begitulah sejarah singkat Konoha," kata Kakashi sambil menampilkan senyumannya yang tak terlihat karena tertutup masker.
"Sensei, lalu bagaimana dengan makhluk yang menyerang Konoha? Apa dia mati? Apa dia berhasil membawa bayi yang dicarinya? Apa bayi itu putra Hokage Keempat?" tanya Kiba tanpa menyadari tubuh Naruto yang semakin menegang.
"Pertanyaanmu terlalu banyak puppy."
"Apa yang kau katakan Shikamaru? Siapa yang kau panggil 'puppy'?" desis Kiba menahan amarah.
"Yare… yare… bukankah kalian akan mengadakan camping?"
"Ahh…. Benar juga. Sebaiknya kita sambung lagi sesi tanya jawab ini kapan-kapan."
"Ha'I sensei…"
Gerbang pembantas telah terbuka. Hutan yang selama ini dihindari oleh masyarakat Konoha pun telah tampak. Tinggal berjalan beberapa langkah, maka mereka resmi memasuki wilayah kekuasaan sang Akuma. Sama halnya dengan yang terjadi pada Tsunade saat berniat meneemui Akuma. Hawa dingin yang berasal dari hutan itu mulai mereka rasakan walaupun belum memasuki kawasan hutan. Apalagi saat ini matahari hampir mencapai puncaknya, tetapi hawa dingin itu benar-benar mengalahkan panasnya matahari.
Beberapa murid tingkat dua mulai merinding. Termasuk Kiba. Sedangkan Kakashi dan iruka yang kini tengah berdiri di samping Kakashi sedang menerawang. Mencoba menebak apa yang dipikirkan oleh Akuma.
"Penyambutan yang buruk," komentar Kakashi.
"Aku harap mereka baik-baik saja," Iruka berharap-harap cemas.
Kakashi mengalihkan pandangannya darii hutan itu ke wajah Iruka yang cemas. "Kau tenang saja Iruka. Tsunade-sama telah membuat kesepakatan dengan Akuma untuk tidak melukai rombongan KSHS."
"Aku harap begitu."
Disaat semua orang tengah memperhatikan hutan itu, Naruto yang berbaris di tengah, entah sadar atau tidak sadar, pemuda blonde itu melangkahkan kakinya menuju hutan. Tatapannya terpaku pada hutan tersebut. Seolah-olah ada yang memanggilnya untuk memasuki hutan itu.
Sadar dengan apa yang terjadi pada Naruto, Iruka dengan wajah panic segera berlari menuju Naruto yang kini tengah berada di gerbang tersebut. Pria dengan luka melintang itu segera menarik tangan Naruto membuat mereka saling berhadapan. "Naruto…. Naruto… sadarlah!"
Usaha Iruka sia-sia, tatapan Naruto tetap mengarah pada hutan itu walaupun Iruka berusaha memalingkan wajah Naruto agar tidak memandang hutan yang masih menguarkan aura mistis.
Melihat tuannya yang masih belum sadar, Kyuubi segera menubruk tubuh Naruto membuat putra Hokage Keempat itu terjatuh dengan Kyuubi yang menindihnya.
"Grr…"
DEG!
Naruto mulai mengerjapkan matanya beberapa kali. Raut bingung terpancar jelas di wajahnya ketika mendapati pamannya, Kakashi, Kiba, dan beberapa guru sedang mengerubunginya. Belum lagi Kyuubi yang masih berada di atas tubuhnya.
"Naruto, kau baik-baik saja?" tanya Iruka.
"Aku tidak apa-apa paman. Maaf membuatmu khawatir. Sepertinya tadi aku melamun sampai-sampai tidak sadar kalau aku berjalan ke hutan itu," jawab Naruto dengan cengiran khasnya. Berusaha meyakinkan orang-orang yang mengerubunginya walaupun ia sendiri masih bingung dengan peristiwa yang baru saja terjadi.
'Akuma~'
.
.
Tenda-tenda sudah berdiri dengan tegaknya membuat pola melingkar. Setiap tenda berisi 5 siswa atau siswi. Naruto sendiri harus berbagi tenda dengan Kiba, Shikamaru, Neji, dan Chouji. Jangan lupakan Kyuubi beserta Akamaru. Jadi tenda Naruto berisi tujuh makhluk, lima manusia dan dua hewan. Alasan mengapa Kyuubi dan Akamaru tidak tidur di luar tenda adalah karena cuaca dan juga binatang buas yang mungkin saja menyerang dua hewan peliharaan itu.
Pendirian tenda selesai pada sore hari. Dan kini para guru yang berada di sana tengah membagikan tugas pada murid-muridnya. Untuk putri, mereka mendapat bagian memasak, sedangkan putra dibagi menjadi dua, sebagian mencari kayu bakar, dan sebagian mencari air. Shikamaru, Kiba, dan Chouji mendapat bagian mencari kayu bakar, sedang kan Naruto dan Neji harus mencari air.
Naruto dan Neji sepakat untuk berpencar. Neji mencari ke arah selatan, Naruto mencari ke a rah utara yang berarti semakin masuk ke dalam hutan. Dan sayangnya bocah yang tengah diperhatikan itu tidak menyadari kemana kakinya melangkah.
SREET!
Ia terus melangkah ke utara. Melewati semak belukar. Berusaha mencari air demi memenuhi kebutuhan mereka akan air. Hutan itu sangat sunyi, tidak terdebgar suara apapun, karena hal itu Naruto sedikit bersenandung dengan tujuan mengusir suasana sepi yang menyelimuti hutan itu. Kakinya melangkah semakin jauh masuk ke dalam hutan. Tangan kirinya menenteng wadah yang akan ia gunakan untuk menampung air, sedangkan tangan kanannya membawa sebilah pisau untuk berjaga-jaga. Sampai tanpa disadarinya, karena tepat di depannya terdapat semak yang cukup tinggi, Naruto melangkah melewati semak tersebut tanpa tahu sesuatu yang berada di balik semak itu.
"Aaarrrgggghhh…."
Sebuah jurang.
…
TBC
A/N
Ini dia chap 4-nya… semoga tidak mengecewakan. Ohh ya… ini ceritanya AU ya, bukan canon jadi gak ada hubungannya sma yang manga aslinya. Mungkin settingnya saja yang sama, kalau jalan cerita jauh dari yang canon. Dan masalah Minato yang bisa segel.. anggap saja seperti yang ada di kerajaan atau kesultanan di Indo. Pasti 'kan orang-orang jaman dulu punya kekuatan gitu.
Lama gak up date? Itu karena kemarin –beberapa hari yang lalu– sekolah ngadain pelantikan bantara *tau 'kan?* jadi selama hari itu saya tidak pengang lepi maupun HP,… maaf yaa~~~….. Dan satu lagi jangan panggil saya kaka'… saya masih muda *plak* panggil saya syifa saja ya…
Thanks ya,.. review yg kemarin. Yang nunggu SHARINGAN,.. sabar ya,….. kalau mau protes silahkaannn…. Kalau ada yang ditanyakan silahkan ditanyakan lewat review…
Bye-bye…
Sampai jumpa di chap depan,….
