Standard disclaimer applied.
I do not own Naruto. No material profit was taken.
Knight, Hunter, and Queen
a Naruto fanfiction
.
Chapter IV
Sasuke berjalan paling belakang dari barisan kecil itu. Lima temannya melangkah dalam diam di depannya, melewati lorong-lorong bawah tanah yang gelap, pengap, dan lembab. Berada di paling depan barisan adalah seorang ANBU dengan topeng keramik kucing bergaris biru masing-masing dua di bagian pipi. Entah ke mana pria ANBU misterius itu akan membawa mereka tengah malam begini. Yang jelas, mereka tak akan bisa mengelak.
Setelah berjalan berkelok-kelok di lorong-lorong sempit selama hampir setengah jam, akhirnya pria itu membimbing mereka menuruni tangga pendek yang mengarah ke kiri. Beberapa langkah di undakan terakhir tangga, sebuah pintu besi besar dengan jelas terlihat.
ANBU bertopeng kucing tersebut berhenti, lalu menempelkan tangan kanannya pada kaca hitam di pinggiran pintu. Berselang beberapa detik, terdengar desisan angin seperti yang biasa terdengar pada mesin-mesin bertenaga uap. Anehnya, atau mungkin hebatnya, pintu itu terayun terbuka dengan mulus, tanpa decitan logam berkarat padahal rupa pintu logam itu tidak lebih baik dari pagar karatan asrama mereka.
"Ayo. Buntaichō sudah menunggu."
Tanpa berucap, mereka mengekor masuk dan nyaris dibuat mati berdiri.
Ruangan bawah tanah tempat mereka berada luasnya nyaris menyamai aula sekolah. Dinding-dindingnya dicat putih tanpa cela. Langit-langitnya tinggi, kira-kira nyaris tiga meter dari atas kepala. Lampu-lampu besar menerangi setiap sudut ruangan, sampai-sampai bayangan diri mereka di lantai nyaris pudar. Meja-meja kayu cokelat ditata memanjang bertingkat, dari sisi dinding satu ke sisi dinding lain, dan satu meja ditempatkan di depan deretannya. Sebuah meja panjang yang lain dari pada meja-meja di dalam ruangan itu di letakkan di depan meja tunggal, lengkap dengan enam kursi putar empuk berwarna hijau.
Yang membuat enam remaja itu tercenung di tempat bukan hanya karena melihat betapa canggih peralatan di dalamnya, melainkan melihat kursi-kursi di balik setiap meja itu terisi nyaris penuh oleh pria dan segelintir wanita bertopeng keramik berwajah hewan. Kursi-kursi kosong di sana bisa dihitung dengan jari.
"Aa. Kalian sudah datang." Seorang pria yang duduk di balik meja tunggal bersuara. Separuh wajahnya tertutup masker hitam. Sudut-sudut dan pinggiran matanya berkerut, mengindikasikan senyuman yang tidak tampak dari balik maskernya.
Shikamaru dan Neji yang pertama kali beranjak dari tempatnya tercenung menuju salah satu kursi yang sudah disiapkan khusus untuk mereka berenam. Empat teman mereka yang lain segera mengikuti di belakang.
"Selamat datang di aula besar markas pusat ANBU. Ini kali pertama aku bisa bertemu dengan kalian. Aku Hatake Kakashi, buntaichō ANBU untuk saat ini," ujarnya kalem dengan dagu ditopang tangan. Gayanya begitu santai dan tenang ketika memperkenalkan diri, seolah yang baru saja dikatakannya hanyalah sebuah pengetahuan umum dan bukannya membongkar keberadaan markas rahasia pasukan paling tersembunyi.
"Senang bertemu dengan Anda, Hatake-san," Neji mencoba beramah-tamah.
"Tidak perlu seformal itu." Dia terkekeh. Sedikit banyak tawanya berhasil meredakan ketegangan keenam remaja itu berada di bawah tatapan elang berpuluh-puluh ANBU.
Neji menggangguk. "Ini markas besar ANBU? Tak masalah membawa kami ke mari?"
"Tak masalah. Tempat ini ada di bawah tanah. Alat GPS kalian tidak akan berfungsi karena dinding-dinding beton ini. Jadi, kalian tidak akan tahu—"
"Tiga setengah kilometer ke arah timur laut dari akademi, kurang lebihnya." Sasuke bergumam.
Neji dan Kiba serempak menaikkan alis karena mereka berdua lah yang bisa mendengar gumaman Sasuke. Neji duduk di sebelah Sasuke; Kiba di sebelah Neji dan pendengarannya lebih tajam dari orang normal.
"Tepat di bawah gedung pemerintahan?" Neji berpaling ke Kakashi dengan rasa geli tersirat jelas pada kedua matanya. Jelas, Sasuke tidak membutuhkan alat GPS untuk melacak lokasi mereka sekarang. Pemuda satu itu punya kecerdasan visual-spasial luar biasa. Membayangkan perubahan konfigurasi terhadap belokan, arah, dan jarak yang tadi mereka tempuh sehingga membentuk sebuah gambar utuh di kepalanya bukanlah hal yang begitu sulit bagi Sasuke. Terlebih jika tidak ada hal lain yang menggangu konsentrasinya.
Kakashi menggerutu. Kenapa rasanya mudah sekali bocah-bocah itu mencari tahu? Dia berdecak, kemudian memasang wajah serius. "Aku butuh kerja sama kalian untuk…kalian tentunya sudah tahu mengenai apa." Sepasang matanya yang berlainan warna tersebut terarah pada mereka berenam. "Kalau dari laporan bawahanku, kalian bertiga yang paling tahu banyak?" tanyanya ditujukan kepada Neji, Sasuke, dan Shikamaru.
"Hanya di antara kami berenam. Toh, kami hanya menemukannya secara tidak sengaja dengan main tebak-tebakan," Shikamaru berdalih. Dia lirik Hinata yang duduk dengan punggung dan bahu kaku di sampingnya. Dia sedikit khawatir dengan puluhan pasang mata yang mengintimidasi mereka. Wajah gadis itu cemas dan gugup, tetapi bukan takut. Hinata tidak pernah takut. Diam-diam Shikamaru menghela napas lega.
Kakashi terkekeh di mejanya. "Tentu, tentu. Aku sudah dengar rincian 'permainan tebak-tebakan' kalian dari rekan timku yang tanpa sengaja mendengar diskusi kecil kalian di asrama."
"Lalu? Apa lagi yang Anda perlukan dari kami?" Neji mengerutkan keningnya tidak suka sambil melemparkan tatapan tajam kepada Kakashi.
"Aku ingin dengar lanjutannya."
"Kami belum punya tebakan lanjutannya."
"Yare yare. Mungkin kau tidak punya, Shikamaru, tapi aku yakin temanmu yang paling diam itu mengetahui sesuatu yang tidak kalian ketahui. Informasi yang hanya segelintir orang ketahui."
Shikamaru menunjukkan keterkejutan alami di wajahnya. Dia ikuti pandangan mata Kakashi yang ternyata sedang terarah pada Sasuke yang duduk di kursi paling kanan.
"Apa maksud Anda, Kakashi-san?" tanya Neji dengan kepalan tangan di pahanya.
"Benar begitu, 'kan, Sasuke?"
Sasuke mendongakkan kepala malas-malasan. Pandangan matanya berpindah dari pola abstrak kayu meja ke wajah tersenyum Kakashi—walaupun dia sendiri ragu pria itu sedang tersenyum atau tidak. "Oh ya?" tantangnya malas-malasan.
"Kau mau menceritakannya pada mereka, Sasuke?"
Sasuke hanya mendengus, kemudian membuang muka.
"Dari mana kau tahu itu makna simbol mugen itu?" Kakashi mencoba lebih mendesak ketika pemuda itu masih tetap bergeming.
"Kau mau informasi yang hanya 'segelintir orang tahu' itu dibicarakan di sini?" Sasuke menyipitkan mata. Dia sudah berpaling lagi menatap Kakashi. Wajahnya keruh oleh ekspresi yang tidak terbaca.
"Sudah mendapat izin. Tenang saja."
Sasuke berdecak, terdiam sejenak, dan menimbang-nimbang. "Mugen. Infinite," ujarnya lamat-lamat. Dia memberi jeda sejenak untuk memilah-milah kata. "Proyek rekayasa manusia. Mugen no ko."
Tenten dan Hinata serempak terkesiap. Namun, bukan hanya mereka berdua yang kaget setengah mati. Puluhan orang di belakang mereka menegangkan bahu dan postur-postur mereka berubah seperti patung.
Kakashi menarik napas beberapa kali sebelum tersenyum lagi. Kali ini senyumnya adalah senyum kegugupan. "Dan dari mana kau tahu itu?" Dia sama sekali tidak menyangka seorang bocah di bawah umur seperti Sasuke, seorang bocah yang kelihatannya biasa-biasa saja seperti itu, memiliki pengetahuan mengenai rahasia besar negara. Rahasia, atau mungkin tepatnya dosa kelam, yang mati-matian ditutupi. Atau begitulah pikir mereka.
Neji yang duduk di sebelah Sasuke dapat merasakan ketegangan Sasuke memuncak. Tangannya terkepal, rahangnya mengeras, dan bahunya kaku. Pemuda itu tengah berduel dalam dirinya.
"Dari sebuah arsip yang kutemukan di rumah orang tuaku. Empat tahun yang lalu."
Dua alis Kakashi naik tinggi. Dia masih belum bisa menyatukan potongan-potongan informasi itu. "Dari mana orang tuamu mendapatkannya? Dan bagaimana bisa kau menemukannya?"
Jemari tangan Sasuke terkepal semakin rapat sampai buku-buku jarinya memutih dan telapak tangannya perih akibat tekanan kukunya. Dia benci bukan main jika harus membicarakan urusan keluarga. Bukan hanya karena ada peraturan yang tidak menganjurkan untuk pembicaraan mengenai keluarga, melainkan juga karena dia tidak suka mengenainya.
"Orang tuaku dulunya peneliti. Aku menemukannya ketika membereskan rumah mereka." Sasuke berusaha keras membuat suaranya tetap datar seperti biasa. Dia mencoba sekuat tenaga, tetapi dia tidak yakin dengan hasilnya. Suaranya pasti terdengar kaku dan aneh karena Kakashi sekarang menatapnya dengan sorot mata semakin ganjil.
"Kau pulang ke rumahmu? Itu masih menjadi larangan bagi anak seusiamu, bukan?"
"Ya." Sasuke mengangguk kaku dengan susah payah. Dadanya terasa berat dan sakit, seperti baru dibebaskan dari pilinan tambang. Mulutnya tiba-tiba kering. "Tapi apa itu masih menjadi larangan ketika seorang anak berniat menghadiri pemakaman orang tuanya sendiri?" desisnya. Dia tidak lagi mencoba mengontrol suaranya. Pasti suaranya terdengar buruk karena teman-temannya terkesiap. Begitu juga dengan pria di depannya.
"A—"
"Aku tidak butuh ucapan bela sungkawamu."
Kesenyapan melingkupi ruangan besar itu untuk beberapa menit lamanya.
"Ceritakan isi arsip itu."
Sasuke mengambil napas dalam-dalam. Dia tidak perlu berpikir dua kali untuk mengingat informasi yang seolah diukir jelas dalam memorinya. Semuanya terekam jelas dalam memorinya layaknya sebuah foto. "2098. Sebuah teori genetika dipatahkan oleh beberapa peneliti dan ilmuwan genetika Jepang. Sintesis protein dari intron."
"Kau pernah mendengar penemuan semacam itu, Hinata?" Tenten berbisik.
Gadis pemalu itu menggeleng gugup dengan wajah sedikit lebih pucat dari biasanya. Dia memang suka membaca berbagai jurnal penelitian, tetapi penemuan besar semacam itu belum pernah dia ketahui.
"Penemuan itu belum dipublikasikan. Sampai sekarang." Sasuke menimpali.
"Kenapa begitu?" Tenten menatap Sasuke bingung.
"Karena peristiwa mengerikan yang terjadi setelah penemuan itu." Sasuke menatapnya balik. Wajahnya datar dan matanya kosong; seolah dia tengah bernostalgia ke masa lampau, seolah dia berada di sana dan menyaksikan peristiwa mengerikan yang dia maksud. "Epitasin. Nama gagasan untuk protein baru yang berhasil mereka temukan melalui translasi sense intron tersebut."
"επιταχύνουν…(epitachýnoun)?" Shikamaru bergumam. Dia baru setengah jalan belajar bahasa Yunani, bahasa yang banyak digunakan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, jadi dia paham sedikit-sedikit dengan istilah Yunani. Shikamaru familier dengan satu kata itu. Kata yang bermakna harfiah mempercepat.
Sasuke mengangguk membenarkan. "Ya. Itu adalah akar katanya. Mempercepat."
"Mempercepat apa?" tanya Kiba dengan kening berkerut. Lambat laun dia merasa semakin tidak menyukai arah pembicaraan mereka. Lebih-lebih tadi Sasuke menyebutkan sesuatu mengenai proyek rekayasa manusia. Pemuda itu bergidik tanpa sadar. Pikiran-pikiran buruk segera saja menjajahnya.
"Kerja sel. Pembelahan, regenerasi, aktivitas metabolisme." Pemuda itu mengerutkan kening, mencoba mengais ingatannya mengenai lembar-lembar arsip yang dulu dilihatnya. "Dan kemudian seorang peneliti mencetuskan ide gila. Yang membuatnya nyaris ditahan dan dicerca banyak pihak."
"Percobaan pada manusia?" Neji mendesis. Suaranya seolah sedang tersangkut di tenggorokan. Wajahnya ngeri.
Sasuke menjawabnya dengan anggukan.
"Proyek itu…benar-benar dilakukan?" tanya Tenten di sela napasnya yang patah-patah.
"Peristiwa paling mengerikan yang pernah terjadi setelah Jepang memasuki era barunya. Di tahun 2117 mulai muncul kasus penculikan pada balita dan wanita yang sedang hamil 2 hingga 7 bulan. Di tahun 2118, korbannya mencapai 189 orang." Kali ini giliran Kakashi angkat suara. Entah bagaimana, pria itu mampu membuat suaranya terkendali. Mata beda warnanya mengamati ekspresi enam remaja di depannya dengan seksama.
Hinata menahan jeritannya. Tangannya membekap mulut. Begitu pula dengan Tenten yang mengerut di kursinya. Fakta mengerikan semacam itu mana mungkin bisa diterima dengan mudah oleh segelintir bocah di bawah umur.
"Bagaimana hasilnya?"
Kakashi memfokuskan mata kepada Shikamaru yang tampak memucat, tetapi berhasil menenangkan diri. "Korban balita sejumlah 92. Semuanya kembali." Nyaris saja mereka menghembuskan napas lega. "Tanpa nyawa." Mata hitam-merahnya kosong. "96 wanita kehilangan kandungannya dan kembali dalam kondisi yang tidak lebih baik dari kematian. Atau mungkin lebih buruk?" Kakashi mengusap-usap dagunya, menimbang-nimbang pemilihan kata. "Trauma menghantui mereka seterusnya. Beberapa meninggal karena kesehatan buruk, beberapa akhirnya selamat, tetapi banyak juga yang mati bunuh diri karena menderita halusinasi akut." Ekspresi kelamnya senada dengan seluruh penghuni ruangan itu.
Neji melakukan perhitungan cepat dalam kepalanya. Angka korban yang diculik dan yang kembali tidak sesuai. "Kurang satu korban lagi."
"Benar." Kakashi mengangguk sekali. "Satu korban wanita tidak pernah ditemukan. Sampai sekarang."
"Dan proyek mereka berhasil? Anak-anak itu sekarang mulai meneror?" tanya Shikamaru dari balik rahang yang mengeras.
Kakashi menggeleng. "Hanya proyek satu orang," koreksinya. "Peneliti gila, kalau boleh aku menyebutnya. Orochimaru. Dan sepertinya dia didanai oleh beberapa orang kuat, yang sampai sekarang belum berhasil kami selidiki sepenuhnya. Dan ya, proyeknya berhasil walaupun belum ada bukti konkrit untuk itu."
"Apa motif anak-anak itu?" Neji menatap Kakashi dengan teror di mata kecubungnya yang pucat.
"Entahlah," aku Kakashi. "Orochimaru pernah mengirimkan video berisi rekaman suara kepada kami sekitar lima atau enam tahun setelah peristiwa penculikan besar-besaran itu. Dia mengklaim lima anak akan datang kepada kami. Untuk menemukan orang-orang dalam suatu daftar yang tidak kami ketahui. Niatnya…kami pun tidak tahu. Hanya asumsi-asumsi tak berdasar."
"Balas dendam." Kakashi dan lima remaja memandang Shikamaru, begitu juga dengan puluhan ANBU yang diam tak bersuara sedari tadi. "Mungkin Orochimaru menginginkan balas dendam."
"Atas apa?"
"Usaha terhadap penangkapannya? Karena dia peneliti gila, dia tidak akan membiarkan siapa pun, apa pun, menghalangi niatnya." Shikamaru memandang Kakashi lekat-lekat sebelum melanjutkan. "Atau, anak-anak itulah yang ingin balas dendam."
"Apa alasan mereka?" Semua orang di sana bisa dengan jelas menangkap kengerian dalam suara Neji yang berusaha dibuat setenang mungkin. Mereka semua paham. Tidak ada seorang pun di sana yang tidak merasakan kengerian yang sama.
"Kau tadi mengatakan ada beberapa orang di balik proyek itu. Bagaimana jika…mereka ingin mencari siapa saja yang membuat mereka menjadi manusia tak normal? Yang dengan seenaknya mengutak-atik diri mereka? Bermain-main sebagai Tuhan?"
Kakashi diam tepekur. Apa yang diucapkan anak-anak ini sama sekali tidak mustahil. Lima anak yang berhasil Orochimaru ciptakan punya alasan kuat untuk menuntut balas. Mulai dengan perburuan terhadap orang-orang di balik layar proyek. Seperti apa pun kemampuan yang mereka dapat dengan mengubah DNA, tentu mereka tidak menyukainya. Toh, kemungkinan besar mereka masih berhati nurani.
Ya, ya. Dan mungkin pemerintah lah yang menjadi sasaran berikutnya.
Alasannya? Karena negara telah gagal mencegah peneliti gila menghancurkan hidup mereka berlima.
.
Naruto melangkah sepanjang koridor panjang dengan gusar. Tidak sepenuhnya melangkah, dia lebih terlihat sedang menghentak di setiap langkahnya. Satu-satunya tujuannya pagi itu adalah ruang kepala akademi yang terletak di sayap timur gedung akademi. Pelajaran sudah dimulai setengah jam lalu, tetapi Naruto tidak peduli—dia tidak ingin peduli.
Saat melihat pintu ganda di ujung koridor, langkahnya semakin dipercepat. Pemuda satu itu tak sabaran untuk bicara dengan Senju Tsunade. Setelah tiga hari lalu kehadirannya ditolak mentah-mentah, kali ini Naruto datang dengan kekeraskepalaan yang dilipatgandakan.
Berhenti sejenak di depan pintu itu, Naruto terdiam. Benaknya mulai menyusun kata-kata apa yang harus diucapkannya terlebih dahulu.
"Masuk." Suara Tsunade terdengar sayup-sayup dari dalam.
Naruto termenung memandang kayu kecokelatan itu. Belum sempat dia mengankat tangan untuk mengetuk pintu, Tsunade sudah mengizinkannya masuk. Apakah Tsunade sudah mengetahui keberadaannya di depan kantornya? Apa baru-baru ini Tsunade memasang CCTV? Dengan bingung Naruto melihat sekeliling, ke langit-langit, bahkan ke lantai.
Nihil. Dia tidak menemukan benda-benda yang terlihat seperti CCTV. Pemuda pirang itu pun tak mau ambil pusing dan langsung meraih kenop pintu, lalu memutarnya.
"Naruto? Sedang apa kau di sini?"
Naruto berpaling, mendapati Sakura menatapnya bingung. "Eh, Sakura-chan. Bolos itu tidak baik."
Gadis itu mengerutkan kening. "Lihat dirimu!"
Dia terkekeh seraya menggaruk kepala bagian belakangnya secara tak sadar. "Aku sedang rindu Tsunade-baachan."
Sakura melangkah menghampirinya dan berhenti tepat di sebelah Naruto. "Dan aku dapat tugas dari Profesor." Sakura lebih suka menyebut mentor pribadinya itu dengan panggilan profesor ketika mereka sedang membicarakan urusan akademi. Ketika dia hanya berdua dengan wanita itu, Sakura akan memanggilnya Tsunade-sama.
Naruto mengangguk-angguk. "Ayo kita masuk." Dia mendorong masuk pintu kayu tersebut, kemudian melihat sekeliling lantas bingung.
Sakura mengintip dari atas bahu Naruto, kemudian menggumam. "Mungkin sedang mengajar."
Pemuda di sebelahnya menggaruk pipi. "Tapi aku tadi dengar suaranya menyuruhku masuk,"
Melihat ekspresi serius di wajah Naruto, gadis yang hendak membantah itu mengurungkan niatnya. "Kau yakin?" Naruto mengangguk mantap. "Kita tunggu saja. Mungkin masih di toilet."
Mereka berdua masuk dan duduk di sofa tamu yang ditata di dalam kantor Tsunade. Hampir setengah jam lamanya mereka berdua duduk dalam diam di ruangan kepala akademi yang kosong. Naruto yang tidak bisa diam lantas tidak henti-hentinya membuat suara. Entah itu sekadar berganti-ganti posisi duduk, mengetuk-ngetuk pegangan kursi dengan jemarinya, menggerutu, atau berkeliling kantor.
Pemuda pirang itu sudah hendak berseru jengkel ketika tiba-tiba terdengar suara gemuruh datang dari deretan lemari buku panjang yang merapat di dinding. Dia melompat kaget dan nyaris terjungkal ke belakang. Sakura berdiri dari duduknya dan memelototi lemari dengan takjub.
"Tsunade-sama!" serunya tanpa sempat menghentikan diri
Tsunade tak kalah terkejut. Di belakangnya, dua pemuda mengekor keluar dari celah selebar satu meter yang terbentuk di antara lemari buku panjang.
"Sakura? Naruto? Apa yang kalian lakukan di kantorku?" Wanita tersebut nyaris memekik ketika melihat Sakura dan Naruto memandangnya dengan mata membulat lebar.
"Kami…"
"Aku mendengar Baa-chan menyuruhku masuk tadi!" Naruto menuding. "Jadi kami masuk dan menunggu."
"Aku tidak…" Tsunade kelabakan. Dia tidak merasa mempersilahkan siapa pun masuk. O-oh… Pasti Naruto mendengarnya ketika memerintahkan dua bocah di belakangnya itu masuk ke lorong rahasia di balik susunan buku-bukunya.
"Apa kami baru saja melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat, Prof?" tanya Sakura dengan kening mengernyit takut-takut.
"Teme! Apa yang kau lakukan di sana!"
Sasuke semata-mata hanya menggerutu dan mengumpatkan sesuatu yang terdengar seperti 'sialan' atau 'menyebalkan' atau kata-kata bermaksud sama lainnya dari belakang Tsunade.
Setelah mampu mengatasi keterkejutannya atas kedatangan tamu tak diundang, Tsunade memicingkan mata dan menatap Sakura dan Naruto bergantian. "Ini bukan sesuatu yang perlu kalian ketahui. Pergilah."
Sakura baru saja hendak berbalik dan keluar dari ruangan Tsunade seperti yang telah Tsunade diperintahkan kepadanya, tetapi seruan nyaring Naruto memaksanya berhenti.
"Sakura-chan! Tsunade-baa-chan jelas-jelas punya rahasia dengan Sasuke-teme! Apa yang dirahasiakannya? Kenapa bukan kita?" Naruto benar-benar menjerit sekarang.
"Naruto…" Sakura mendesis tajam. Dia sama penasarannya dengan pirang impulsif itu, tetapi Sakura sadar dia harus bisa menahan diri. Gadis itu sudah kenal Tsunade bertahun-tahun lamanya dan sudah pandai mengartikan suasana hati pembimbingnya itu. Jika wanita tersebut berkata A di situasi semacam ini, maka dia pun harus ikut A.
Sebelum terlambat, Sakura akan mencoba menyelamatkan Naruto. Namun sayangnya, pemuda pirang dengan mata sebiru langit itu tak kunjung sadar dengan bantuannya. Dia terus saja berseru marah—yang anehnya ditujukan hanya kepada Sasuke.
"Hei, teme!"
Sasuke berdecak, kali ini kentara sekali sebalnya. Pemuda dingin itu ingin sekali maju dan mencekiknya supaya berhenti berseru dan mengoceh. Sayangnya, yang bisa dia lakukan hanya menusuk Naruto dengan tatapan—yang sepertinya sudah tidak mempan untuk mendiamkan pirang pengoceh itu.
Tsunade menghela napas berat. Pelipisnya berdenyut-denyut sebelah. Dia berniat menyimpan hal-hal yang berhubungan dengan murid-murid Shimizudani itu sebagai rahasia. Namun, kehadiran dua muridnya di saat yang sama sekali tidak tepat itu tidak sedikit pun membantu. Dan selama ini, Naruto tidak akan mundur sebelum mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Apa pun konsekuensi akhirnya. Naruto tidak akan mundur hanya dengan ancaman main-main Tsunade.
"Kalian semua duduklah." Tsunade mengibaskan tangannya ke udara dan tangan lain memijat pelipis. "Demi Tuhan."
Masih dengan gerutuannya, Naruto duduk di sofa tamu yang ditata di depan meja kerja Tsunade, diikuti dengan Sasuke dan Shikamaru di belakang Tsunade. "Ada apa ini, Baa-chan?"
"Pertama-tama, berhentilah memanggilku seperti itu, Naruto!"
"Tapi kenyataannya memang seperti itu," kelakarnya. Dia suka sekali memanggil Tsunade seperti itu. Mengingatkan atas umur, begitu dalihnya.
Tsunade meremas rambutnya penuh kekalahan. Sebaiknya dia menyisihkan topik itu untuk sekarang. Semakin cepat dia menjelaskan duduk perkara, semakin cepat pula bocah-bocah menyebalkan di depannya itu pergi. Dengan setengah menghempas, Tsunade duduk di kursi kerjanya. "Jadi…" Tsunade mulai menjelaskan dengan perlahan mengenai alasan kepindahan enam murid Osaka, mengenai hubungan ketiganya dengan penyelidikan ANBU—tentunya dengan menutup mulut rapat-rapat mengenai proyek mugen, dan bagaimana penyelidikan itu baru saja berakhir.
Di tempatnya, Sakura mengangguk-angguk. Naruto mencebik dengan kening berkerut. Dia tampaknya seolah hendak membantah, tetapi menit-menit berlalu dalam kebisuan.
"Kenapa tidak melibatkan murid akademi ini, Prof?"
"Ini rahasia."
Sakura terdiam lagi. Dia kehilangan kata-kata untuk menanggapi Tsunade. Belum lagi ekspresi tak mau dibantah milik Tsunade sudah jelas terlihat.
"Aku ingin ikut membantu! Kalau Sasuke-teme bisa, tentunya aku juga bisa!"
Dan kenapa teman pirangnya satu itu tidak juga pintar-pintar membaca situasi? Tsunade sudah mengeluarkan aura kelamnya, tetapi Naruto masih terus mengulur-ulur benang kesabaran Tsunade.
Di seberangnya, Sasuke mendengus keras. "Lucu sekali, dobe."
Mendengar komentar pedas Sasuke, Naruto mulai mengoceh dan menggerutu lagi kepada Sasuke.
Kepala akademi mereka berdecak keras. Digebraknya meja kerjanya dengan keras. "Sudah, kalian pergilah! Ingat baik-baik. Apa yang kalian dengar dan lihat di ruangan ini adalah rahasia besar negara!"
Keempatnya berbarengan menggumamkan persetujuan. Begitu mereka menghilang di balik pintu dan suasana kantornya berubah hening, Tsunade mulai mengeluhkan hasil penyelidikannya. Dia menghela napas dan rasa-rasanya dia semakin kewalahan.
.
[Edited 4/23/2017]
