Title : Reborn—chap 4. Haha. Waktu pertama buat fic ini gak nyangka bakal 'agak' panjang. Pengennya, sih nyelesaiin di chap 6. Bisa gak, ya?

Disclaimer : Gundam Seed n' Destiny punya bandai yang oke punya! *ngibarin pom-pom.

A/N : As usual, thank you so muchmuchmuchmuch for semua yang dah review and para Readers yang udah bersedia baca fic abal ini walau gak review. asiik banget! Hahaha. Thank you so much! XD


.

Aku terbangun pagi ini karena mendengar ribut-ribut dari lantai bawah. Aku pun memutuskan untuk turun, masih dengan baju-dada-terbuka kesayanganku, dengan mata redup aku menyusuri tangga.

Di ruang tengah, semua penghuni rumah sudah berkumpul dengan wajah cemas. Aku menghampiri mereka dengan malas. "Ada apa, sih ribut-ribut?" tanyaku sambil mengucek-ucek mata dan diselingi kegiatan menguap.

"Astaga! Sedang gawat-gawat kayak gini, kau malah dengan santainya nanya ada apa sambil nguap? Bikin naik darah saja! Sudah, kau kembali ke kasur empukmu itu saja sana!" balas Shinn yang sama sekali tidak ramah. Bentakannya itu membuat mataku benar-benar terbuka.

Baru aku dan dia bersiap memulai perdebatan, Kira menyela dengan berdiri di depan kami. "Maaf, Auel-san. Tapi keadaannya memang mengkhawatirkan saat ini. Kalau kau berkenan, bisa bantu kami?" sela Kira sopan.

"Makanya itu, ada apa?" aku mengulang pertanyaan awal.

"Kau tahu Shota? Dia menghilang. Kami sudah mencari kemana-mana tapi tidak juga menemukannya. Sekarang kami mau mencari lagi. Auel-san ikut, ya!" jelas Kira tanpa bisa menyembunyikan rasa cemasnya.

Shota, anak pertama yang mengajukan pertanyaan tentang bunga tempo hari. Dia termasuk yang paling tidak bisa diam, sih di antara anak-anak lain. Mungkinkah tersasar?

"Kau ikut atau tidak juga tidak banyak bedanya," celetuk Shinn. Luna langsung menyikutnya kuat untuk menegurnya. Terima kasih, Luna. Tapi lain kali hajar saja wajahnya.

"Aku ikut. Bagaimana pun juga aku bagian dari rumah ini. Aku cukup tahu diri untuk mengetahui apa yang harus kulakukan. Bukan begitu, Tuan Asuka?" ujarku sinis dan mulai pergi mencari tanpa komando.


.

Teriakan-teriakan yang memanggil-manggil nama Shota terdengar di segala penjuru rumah. Aku pun ikut mencari di sekitar kebun bunga, dibantu oleh anak-anak lainnya.

"Ketemu?" tanya Lacus pada Kira. Jarak mereka berdua tidak begitu jauh dariku sehingga aku bisa mendengar pembicaraan mereka.

"Belum. Bagaimana denganmu?" balas Kira dengan nafas tersengal.

"Sama denganmu. Kira-kira dimana, ya, Shota? Anak itu 'kan masih tujuh tahun. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya? Aku benar-benar khawatir."

Kira menepuk bahu Lacus lembut. "Tenanglah, Lacus. Kita pasti bisa menemukannya. Tapi semua tempat sudah dicari. Atau jangan-jangan dia ada 'disana'?"

Lacus tersentak. "Tidak mungkin! Tempat itu, 'kan sudah diberi kode dan membutuhkan kunci untuk membukanya. Bagaimana bisa anak-sekecilnya masuk? Lagipula tempat itu hanya beberapa orang yang tahu, 'kan?"

"Aku juga berharap dia tidak di sana. Memang tidak mungkin. Ya sudahlah, ayo kita mulai mencari lagi!"

Lacus mengangguk dan mereka berdua pergi ke arah yang berbeda.

Tempat berkode? Dimana? Dimana di rumah sekitar ini yang memiliki tempat tersembunyi? Apa masih ada suatu tempat yang belum kujelajahi di sini? Tempat yang hanya diketahui beberapa orang. Dimana?

Aku melihat Meyrin dikejauhan sedang berteriak-teriak dengan wajah cemas, ikut mencari. Tunggu. Melihat Meyrin membuatku teringat akan sesuatu. Ya, tanah yang agak naik itu.

Aku pun segera pergi ke tanah itu dan mulai mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Ruangan di bawah tanah ini kira-kira terhubung kemana?


.

"Shota!"

Teriakanku menggema di penjuru ruangan sepi ini, shelter. Akhirnya aku bisa menemukannya setelah berkeliling ke sana kemari sambil menghindari Kira dan Lacus. Terlihat gerbang besi besar di depanku.

Astaga. Sebenarnya ada apa, sih dibalik gerbang itu? Kenapa jalan masuknya saja sampai di dalam Shelter begini? Dan bagaimana bisa seorang anak kecil sepertinya bisa masuk? Memang benar apa kata Kira, tidak mungkin. Tapi mau dimana lagi? Tak ada salahnya, 'kan mencoba?

Aku mendekati suatu undakan di tepi gerbang sebelah kiri, dimana terdapat beberapa tombol dan sebuah lubang kunci di sana. Aku pun berpaling ke sisi kanan gerbang. Di sana juga ada undakan yang sama. Hm... sepertinya akan sulit karena sistemnya sinkronisasi. Mungkin?

Tapi bukan Auel namanya kalau menyerah begitu saja.

Butuh kunci? Tidak ada kunci. Butuh password? Tidak ada password. Semuanya pasti terhubung dengan kabel. Dan kabel pasti tidak jauh dari mesin. Aku mencari ke sekeliling. Ada sebuah lemari kaca yang di dalamnya terdapat peralatan kebakaran darurat. Aku memecahkan kacanya dengan sikuku lalu kuambil kapak di dalamnya.

Kurasa bisa digunakan untuk membuka sisi undakan itu.

Yap, benar. 2-3 kali hantaman punggung kapak sudah berhasil membuatnya penyok. Aku pun menendangnya sebagai sentuhan akhir dan sisi itu terbuka, memperlihatkan jalinan kabel yang membingungkan. Oh, ayolah~ apa tidak ada yang lebih susah?

Aku menaruh kapak itu di sebelahku dan berlutut untuk memulai 'pekerjaan' baruku. Aku memilah beberapa kabel lalu mengotaka-atiknya di sana-sini. Terdengar suara derukecil dari arah gerbang. Aku pun berpindah ke mesin satunya dan melakukan hal yang sama.

Peeesshh...

Gerbang itu pun perlahan terbuka. Hahaha. Entah kenapa aku merasa bangga akan hasil kerjaku. Oke, kembali ke tujuan awal.

"Shota! Kau ada di sini?" sahutku sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mataku membelalak begitu menyadari isi tempat ini. Astaga, apa maksud semua ini?

Dua buah mobile suit berwarna merah tipe figuran—standar menurutku—diletakkan terlentang berjejer. Di dekatnya, berdiri mobile suit legendaris yang tentu diketahui semua orang. Freedom yang selama ini dipiloti Kira Yamato.

Kenapa mesin-mesin pembunuh ini masih di sini? Di rumah kami para orphan?

Perhatianku teralih karena melihat salah satu pintu kokpit mobile suit itu terbuka. "Shota...?" gumamku pada diriku sendiri. Jantungku berdetak lebih cepat. Aku berlari dengan was-was ke arah mesin itu.

"Shota!" sahutku sambil mendongak ke dalam kokpit.

Dadaku sesak. Ia terpejam sambil mendekap mainan gundam-nya. Ia masih memakai piyama, berarti ia sudah hilang sejak pagi tadi. Atau mungkin...malam? Aku memberanikan diri untuk menyentuhnya, menyentuh wajahnya.

Awalnya aku hanya menyentuh pipinya yang lembut dengan kukuku, namun akhirnya aku mendekap kedua pipinya dengan tanganku. Ia sedikit mengerang. Aku menghela nafas. Syukurlah masih hidup..

"Shota, hei, ayo bangun," ujarku pelan sambil menepuk-nepuk pipinya.

Ia mengerang lalu mulai membuka matanya yang masih sayu. Ia menguceknya dulu beberapa kali. "Ah? Auel-Nii? Sedang apa di kamarku?"

Anak ini sepertinya tidur berjalan semalam. "Aku? Aku ingin mengajakmu ke tempat kakak-kakak yang lain. Di luar ramai, lho."

Ia mengerut. "Nggak mau! Lihat, Auel-Nii, aku punya gundam super besar di kamarku. Ayo kita coba! Auel-Nii lihat saja dari sana, ya!" balasnya. Ia pun mulai menekan asal beberapa tombol yang menarik perhataiannya.

"Oi-Hei! Apa yang kau lakukan? Uwah!" pijakanku goyah. Dan saat itu aku sadar kalau mesin ini mulai bergerak. "Shota, geser!" perintahku tegas padanya. Ia pun spontan bergeser dan aku segera melompat masuk ke dalam kokpit. Pintu kokpit perlahan tertutup.

Bagus sekali.

"Iiih, kakak bodoh! Apa yang kau lakukan di sini, sih? Menggangguku saja! Apa tidak ada kerjaan lain? Aku masih mau main, nih!"

"Jangan bercanda! Ini bukan mainan, tahu! ini asli!"

"Asli? Berarti ini cuma mimpi. Kalau begitu biarkan aku menikmati mimpiku ini!" ia menyikutku kuat dan mengambil alih kemudi. Dengan gaya yang sok ia menekan sebuah tombol yang entah darimana kutahu adalah tombol high jump *pokoknya lompat yang pake tekanan api d bawah kaki itulah.

Uwah! Dasar anak bodoh! Di atas itu, 'kan atap! Aku segera mengambil alih kemudi dan menekan beberapa tombol yang entah kenapa terasa tidak asing. Aku mengeluarkan sebuah senapan dan menemakkannya ke atap beberapa kali, membuatnya runtuh. Dan kami pun pergi ke dunia luar dengan sukses.


.

Aku memicingkan mata karena cahaya matahari yang menyilaukan masuk menembus kaca kokpit.

"Lihat! Itu teman-teman! Semuanya! Wow, keren juga! Mereka terlihat kecil!" sahut Shota kegirangan.

Aku mendongak untuk melihat ke arah yang sama. Mereka semua memang ada di sana dan sedang berlarian karena melihat kedatangan kami yang tiba-tiba. Aku pun melihat Kira yang sedang berdiri tegap tanpa mengaihkan pandangannya dari kami sambil mendekap Lacus penuh perlindungan.

Celaka! Kira dan Lacus! Dua orang yang paling tidak ingin kutemui saat ini.

"Kalau begitu biar kutunjukkan sesuatu pada mereka!" Shota kembali merebut kendali dan menekan beberapa tombol. Sekian detik kemudian, kami sudah menggenggam sebuah pedang laser. Ia pun menyabetnya dengan kasar dan sukses membuat beberapa pohon tumbang.

Aku bisa melihat Shinn yang melindungi Luna sambil mengumpat-umpat dan Kira yang berusaha sangat keras untuk menyampaikan sesuatu pada kami. Aku tidak melihat adanya Nona Cadrid di sana. Syukurlah..

Nah, sekarang tinggal masalah bocah satu ini. "Shota, dengar, ini memang mimpi yang sangat menarik. Tapi bisa kita sudahi?" bujukku sambil menatapnya.

"Hahaha! Siapa yang mau? Ini sangat menyenangkan tahu! Mereka semua terlihat seperti semut, tidak berarti!"

Deg!

Tiba-tiba muncul pemandangan kacau balau di otakku. Asap dan api ada dimana-mana. Suara-suara ledakan dan tembakan yang muncul dari segala arah membuat telingaku bising. Dan tiba-tiba ada cahaya yang sangat terang menghantam dan timbul rasa sakit yang tidak terucapkan di tubuhku. Seketika itu semua pemandangan berganti dengan warna biru. Biru laut dengan suasananya yang dingin.

"Auel-Nii? Oniichan kenapa?" pertanyaan Shota membuatku tersentak. Apa aku baru saja pergi ke 'dunia lain' lagi?

"Tidak..apa-apa," jawabku lirih. Ukh, perutku terasa sakit. Nyeri seperti saat pertama aku bertemu dengan mereka.

"Auel-Nii yak..."

"Shota..." potongku. Ia diam. Mendengarkanku dengan seksama dan menurunkan tangannya dari kemudi. "...berapa umurmu?" tanyaku.

"Tujuh. Memangnya ken.."

"Masih suka main robot-robotan?" potongku lagi.

"Suka, dong! Apalagi kala.."

"Lebih suka mana? Yang kecil seperti yang tadi kau bawa atau yang besar seperti ini?"

Ia tidak langsung menjawab. Terlihat sekali kalau ia tidak bisa memilih.

"Yang besar seperti ini, sih mengasyikkan. Lebih terasa petualangannya. Tapi..." ia mengambil lagi mainannya yang sempat terlupakan dan memandanginya untuk beberapa lama. "...kalau yang kecil seperti ini bisa selalu menemaniku kapan pun kumau," lanjutnya pelan dengan kepala tertunduk.

Aku menghela nafas. Rasa nyeri itu perlahan berkurang. "Kalau begitu coba lihat lagi keluar. Semuanya sangat mengkhawatirkanmu. Kau tidak mau tanpa sengaja menyakiti mereka karena kelihatan 'seperti semut yang tidak berarti', 'kan?" tanyaku lembut. "Kata-kata itu, sebenarnya bukanlah kata-kata yang sepatutnya diucapkan anak umur tujuh tahun. Mengerti?"

Ia memandangku dengan tatapan setuju namun keberatan. Akhirnya ia memalingkan kepalanya. "Auel-Nii, bawa aku turun. Aku mau pulang dan bangun saja dari mimpi ini. Di sini tidak seru lagi," pintanya dengan wajah merona karena malu. Dasar anak gengsi-an. Walau cuma padaku, sih.

Aku hanya tersenyum geli melihatnya. Aku pun menepuk kepalanya dan mengacak-acak rambutnya sebentar. "Hehe, tenang saja. Saya akan membawamu turun, Yang Mulia Kaisar. Sekarang tidurlah dan tunggu sampai saya membangunkan anda...," balasku.

Ia hanya mengangguk pelan dan mulai memejamkan matanya. "Jangan lama-lama, ya, pelayan," gumamnya sambil bersandar di lenganku. Sialan. Anak ini masih sempat saja meledekku. Tapi tak apalah. Toh, tadi dia sudah bersikap 'manis' sebelumnya.


.

Setelah menemukan cara untuk membuka kokpit dengan lancar. Aku pun turun dengan tangan kanan memegangi tali yang turun secara otomatis dari tepi pintu sedangkan tangan satunya menggendong anak 'biang masalah hari ini' agar tidak jatuh.

"Auel!"

Meyrin tiba-tiba datang dan langsung memelukku begitu aku menginjak tanah. Aku sempat mundur beberapa langkah karena aksi mengejutkan itu. "Ah..Hei..."

"Kau ini bodoh atau apa? Membawa anak kecil ke dalam mobile suit seperti tadi dan membuat keributan sebesar ini. Apa yang kau pikirkan?" cercanya tepat di telinga kananku.

"Ah, itu. Terserah, deh kau mau anggap aku apa. Penjelasannya kapan-kapan saja, ya," balasku sekadarnya. Pandanganku mulai buram. Aku mengerjap beberapa kali dan berhasil membuatnya lebih jelas untuk beberapa lama.

Ia melepaskan pelukannya. "Kenapa malah bersikap cuek begitu? Aku khawatir padamu, tahu! Sangat khawatir.. kau, 'kan tidak pernah mengendalikan mesin itu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu?"sahutnya lagi dengan suara lebih pelan dan agak serak. Ia menatapku tajam namun matanya terlihat basah. Namun ia tidak menangis.

Terkejut. Itu yang kurasakan. Aku pun memalingkan wajahku ke tanah untuk menyembunyikan wajahku yang terasa memanas. Jantungku terasa berdetak lebih cepat. "Maaf..kalau begitu."

Ia tidak menjawab dan hanya menunduk menutupi wajahnya.

Keheningan canggung ini untungnya tidak berlangsung lama karena Kira, Lacus, Shinn, Nona Cadrid, Lunamaria dan anak-anak lainnya menghambur ke arah kami dengan segenap celotehan.

Aku menyerahkan Shota yang masih tertidur kepada Nona Cadrid. "Dia kutemukan di bawah. Tenang saja. Hanya tertidur," ujarku datar, tidak peduli itu yang mereka tanya atau tidak.

Pandanganku kembali kabur.

Nona Cadrid menatapku dengan wajah cemas. Aku hanya mengangguk sopan. "Maaf. Tapi aku ingin kembali ke dalam lebih dulu." Aku berpaling ke arah Kira yang menatapku dengan ekspresi aneh. aku manarik nafas. "Kira-san. Aku akan menemuimu sendiri nanti. Aku tahu ada yang ingin kau bicarakan."

"Ya. Istirahatlah. Hari ini kau sudah banyak membantu. Terima kasih, Auel-san," balasnya sopan.

Aku pun membungkuk lagi dan mulai berjalan setelah mendapati Meyrin dan dan yang lain menatapku dengan tatapan aneh. Kenapa? Kenapa kalian merubah tatapan kalian padaku?

Perhatian mereka kembali teralih karena erangan Shota yang terbangun.


.

Aku terus berjalan menuju kamarku yang entah kenapa terasa seperti menempuh ruang hampa. Kepalaku terasa berat. Ada beberapa ingatan lagi yang ingin keluar namun hanya berkumpul di suatu titik. Membuat kepalaku sakit.

"Kau juga mantan anggota EA, 'kan?"

Kumohon, apa pun itu jangan membuat semuanya berbeda. Jangan membuat hidupku berubah lagi. Aku hanya ingin menjalani hidup dengan biasa-biasa saja. Bagaimana jika bocah Asuka itu benar? Bahwa aku mantan anggota EA.

Rasa lelah yang teramat sangat menyerangku begitu aku menapakkan kakiku di kamar. Dengan langkah lunglai aku mendekati ranjang dan membanting diriku begitu saja seperti lilin yang jatuh. Pandanganku mulai redup.

Semoga semuanya baik-baik saja. Kumohon...Kami-sama.


.

Oyeay! Chapter 4~ chapter 4~ lalalala~ lalalala panjang~ panjang~ chapter panjang~ *ditimpuk baskom.

Oke dah. Sekian ke gajean saya. Ayo review-review-review, please ^^ ini memang fic ga mutu and masih butuh editan d sana-sini. Karena itu ayo review-review-review *nari gaje. Arigatou gizaimasu, minna-san! XD