+ Sunflower

Naruto by Masashi Kishimoto

Chapter 4 : Hari di Konoha

Jam di dinding menunjuk pada angka satu, yang berarti hari telah menjelang dini hari. Semua orang telah terbuai dalam lelap tidur dan mimpinya masing=masing. Sesekali terdengar suara hewan-hewan nocturnal yang tengah memulai kehidupannya. Tetapi pada saat orang lain tengah menikmati tidur nyenyaknya seorang pria gagah berambut perak, tengah terjaga dari tidur dan segala mimpinya.

Kakashi terbangun dari tidurnya. Bukan karena ia merasa tak nyaman tidur di sofa. Sebagai seorang shinobi elit, ia sering atau bahkan mungkin selalu tidur beralaskan rumput dan ditemani udara malam yang dingin. Jadi tidur di sofa juga bisa dibilang suatu kenyamanan untuknya. Tetapi copy ninja itu terbangun karena ada suatu hal yang ingin dikerjakannya. Pria itu bangkit perlahan dari sofa tempatnya berbaring. Dengan langkah pelan tanpa suara ia berjalan menuju sebuah kamar, yang selama ini dijadikannya sebagai tempat penyimpanan senjata dan dokumen-dokumen ninjanya.

Jemari tangannya yang panjang dan kokoh itu meraih gagang pintu, lalu membukanya perlahan. Tangan kanannya yang bebas terulur untuk mencari tombol lampu. Tak sampai sedetik kemudian kamar yang tadinya gelap, diterangi oleh cahaya lampu. Mata kelabu Kakashi melihat beberapa kotak karton dan peti kayu tempatnya menyimpan senjata ninjanya. Kamar kosong itu tidaklah berantakan, karena Kakashi adalah tipikal pria yang bersih dan rapi. Kakashi memasuki kamar itu, mengangkat beberapa kotak karton keluar lalu menaruhnya di tempat kosong yang berada di dekat balkon. Tetapi untuk dua buah peti kayu yang berisi senjata ninjanya, ia menaruhnya di dalam lemari bawah dapurnya.

Jounin elit itu tak berhenti sampai disitu, setelah ruangan itu kosong. Ia mengambil sapu disudut ruangan, lalu mulai menyapu guna membersihkan kamar kosong tersebut. Senti demi senti ia bersihkan kamar itu. Sebenarnya Kakashi telah memesan sebuah ranjang berukuran sedang untuk diletakkan didalam kamar ini. Tak lupa dengan sebuah lemari yang cukup besar dan sebuah meja rias mungil. Karena kamar kosong ini nantinya akan ditempati oleh seorang gadis yang sekarang tengah bermimpi indah dalam balutan hangat selimutnya.

Sebuah senyum mengembang diwajah yang tertutup masker itu, setelah ia selesai menyapu seluruh ruangan itu. Kini hal terakhir yang akan dilakukannya adalah mengepel kamar yang masih kosong itu. Dan sekali lagi pria perak itu mengerjakan semuanya dengan sempurna dan tanpa suara.

Kakashi kembali merebahkan tubuh kekarnya disofa. Telinganya yang peka dan terlatih hanya menangkap suara detak jam dinding yang tergantung di sampingnya. Dalam gelapnya ruangan itu, indra penciumannya yang memang tajam itu masih bisa mencium sedikit aroma blueberry yang menguar dalam ruang tamunya. Obito, Rin, Sensei…dan juga kau tou-san, andai kalian masih hidup….aku….aku pasti akan dengan senang hati mengenalkannya pada kalian. Dan kalian pasti akan terkejut dengan sifatnya yang sedikit …ahhhhh….tidak sifatnya yang sangat judes dan tak bisa diatur.

Aku tahu kalau Aylee adalah seorang gadis dengan jiwa yang bebas dan tak mau dikekang. Ibarat seekor burung ia adalah burung yang selalu ingin membentangkan sayapnya dan terbang bebas di angkasa. Tetapi entah mengapa aku juga bisa merasakan bahwa dibalik sifatnya yang judes dan keras kepala itu, ia memiliki kelembutan hati yang luar biasa dan sebenarnya jauh di dasar jiwanya ia adalah sosok yang lemah dan butuh dilindungi.

************************sunflower*************************

*********************************sunflower***********************************

*****************************************sunflower*********************************************

Mentari telah merangkak naik menuju puncak langit, saat seorang gadis telah terbangun dari tidur nyenyaknya. Sebenarnya ia belum bangun sepenuhnya. Tubuh mungilnya semakin meringkuk didalam hangat nyaman selimut tebal yang menutupinya. Selimut …..? seketika ia terbangun dari tidur sepenuhnya. Dan mendapati dirinya berada diatas ranjang dalam sebuah kamar. Matanya yang masih mengantuk melihat keadaan sekelilingnya. Seingatnya kemarin ia tertidur di sofa, lalu kenapa ia sampai berada didalam kamar asing ini.

Tepat disisi kirinya terdapat sebuah meja dengan beberapa lembar kertas yang ada diatasnya. Lengkap dengan pensil, ballpoint dan penghapus. Disamping kanan pintu ada sebuah lemari kayu besar berwarna kuning pastel. Segera sebuah kesadaran menyergap otak gadis berlesung pipit itu. Dengan gerakan yang sedikit kasar ia menyingkap selimut yang sedari tadi menghangatkannya, dan meloncat turun dari ranjang berukuran sedang yang ada dalam kamar itu.

Aylee membuka pintu dengan rasa marah yang luar biasa. Ia tahu bahwa pria perak yang notabene adalah tunangannya sendirilah yang telah memindahkannya dari sofa ketika ia tidur semalam. Sungguh bagi Aylee ia sangat tak menyukai perbuatan Kakashi ini. Baginya ini merupakan tindakan kurang ajar dan keterlaluan. Dia benar-benar tidak menyukai hal ini. Bukankah dia sendiri yang memilih dan memutuskan untuk tidur di sofa harusnya pria setengah ngantuk itu menghargai keputusannya. Bukannya memindahkannya disaat dia telah tertidur lelap.

"Kakashi….apa yang kau lakukan hhaaahh…!"

Aylee berteriak keras begitu mendapati seorang pria gagah berambut perak yang masih tertidur diatas sofa. Serta merta tangannya menarik bantal sofa berwarna hijau yang digunakan Kakashi untuk menopang kepalanya. Dan otomatis apa yang dilakukan gadis berambut sepunggung itu membuat pria dihadapannya terbangun mendadak.

"A….ada apa ini?"

Kakashi segera duduk dari tidurnya. Kepalanya terasa sedikit pening dan berputar. Tentu saja terasa berputar jika dibangunkan seperti itu. Tangan kananya menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Lalu didapatinya sosok seorang gadis dengan tatapan ingin memakannya hidup-hidup sedang berdiri tepat didepannya. Kakashi benar-benar tak mengerti ada apa dengan Aylee, hingga gadis manis itu terlihat begitu mengerikan.

"Ohayou…Aylee. Kenapa kau sudah ribut sepagi ini?"

Uuugghhh…rasanya Aylee benar-benar ingin mencincang pria bermasker dihadapannya itu. Sementara Kakashi masih memandangnya dengan tatapan tak mengerti. Sungguh mati pria itu tak tahu apa yang tengah terjadi dengan tunangannya itu. Lagipula ia tak tahu apa yang membuat gadis manis itu begitu marah di hari yang masih pagi ini.

"Kau…pasti kau yang memindahkanku semalam. Iya kan?"

Telunjuk lentik jari kanan Aylee mengarah tepat di kening Kakashi. Membuat sang jounin elit tersebut sedikit menelan ludah. Kami-sama kenapa pagi-pagi begini gadis ini sudah ribut? Dan lagi sepertinya ia benar-benar marah, padahal aku hanya bermaksud baik padanya. Aku benar-benar tak mengerti, padahal dalam novel icha-icha yang kubaca, seorang gadis itu selalu bersikap lembut dan patuh pada laki-laki. Apalagi laki-laki itu adalah calon suaminya sendiri. Tunangannya. Tapi dia? Oohhh….

"Yaahh… memang aku yang memindahkanmu."

"Uuugghh…kau beraninya..aku sudah bilang kan kalau…"

"Kau baru saja menempuh perjalanan jauh, dan kalau kau tidur disofa kau bisa masuk angin dan sakit. Karena itu aku memindahkanmu kedalam kamarku. Lagipula udara semalam sangat dingin."

Aylee tak bisa berucap apapun begitu mendengar alasan calon suaminya tersebut. Selain itu apa yang dikatakan oleh pria dihadapannya itu benar. Tubuhnya benar-benar kelelahan semalam. Juga terasa sangat penat dan capek. Dengan satu helaan nafas berat ia mengeluarkan segala rasa amarahnya. Sementara itu Kakashi tersenyum tipis dari balik maskernya.

"Tapi kau tak berbuat macam-macam kan?"

Seperti putung rokok yang disiram seember besar air, senyum dibibir Kakashi hilang begitu ia mendengar pertanyaan bernada mengancam dan tajam dari Aylee. Tou-san….apa kau tahu betapa sulitnya keadaanku saat ini? Aku sangat butuh pertolongan untuk menghadapi gadis ini. Sungguh.

"Kau ini bicara apa? Tentu saja tidak. Sudah kubilang kalau aku ini pria baik-baik."

"Kuharap itu benar. Tapi awas kalau kau berani melakukannya lagi."

Aylee menghela nafas panjang sebelum menghempaskan diri di samping Kakashi. Tampak olehnya sebuah buku bersampul orange tergeletak diatas meja. Suasana masih terasa dingin menusuk, membuat gadis yang duduk disamping pria perak itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Sesaat keheningan melingkupi mereka berdua.

"Konoha memang selalu berhawa dingin, yahh….aku rasa kau sudah tahu."

"Ya…..memang dingin sekali disini."

Aylee menoleh untuk melihat pria disampingnya, Kakashi hanya mengenakan kaus ketat berwarna hitam tanpa lengan yang menyatu dengan maskernya. Menampakkan kedua bahunya yang kekar dan berotot. Aylee tercengang begitu pandangan matanya tertuju pada satu titik. Mata kiri Kakashi. Ia melihat mata itu tertutup dengan bekas luka memanjang sampai pipinya. Karena kemarahannya ia tak melihat wajah Kakashi dari tadi.

"Apa…apa ini…karena misi?"

Tangan kanan Aylee terulur perlahan menuju wajah bagian kiri pria bermasker yang duduk disampingnya. Jemari lembutnya yang hangat, perlahan menyusuri mata kiri yang tertutup itu. Menyentuhnya pelan disepanjang garis luka itu. Kakashi sedikit shock akan apa yang dilakukan gadis berlesung pipit itu.

"Ya. Terluka saat mejalankan misi."

Aylee cukup cerdas untuk membaca mata lawan bicaranya. Karena sesaat kemudian Kakashi Nampak sangat sedih dan terluka. Mengingat bahwa luka yang ada diwajahnya adalah luka yang didapatnya dihari yang sama saat ia kehilangan sahabat sejatinya. Sebuah luka yang tak bisa dihilangkan, tetapi jauh lebih menyakitkan luka yang diderita oleh hati dan jiwanya.

Jadi karena ini Kakashi menutupi mata kirinya dengan hitai-atenya. Kami-sama ….aku tak tahu jika pria ini telah kehilangan sebelah matanya. Aku benar-benar menyesal telah bersikap buruk padanya.

"Ngggg…..Aylee, aku masih punya bola mata. Aku tidak cacat."

Kakashi tersenyum dari balik maskernya, hanya dengan melihat ekspresi Aylee ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh calon istrinya itu. Bahwa gadis itu pasti mengira ia seorang pria cacat yang hanya memiliki satu mata.

"A..a..apa maksudmu?"

"Aku masih punya mata kiri. Aku selalu menutup mata kiriku karena ini."

Kakashi membuka mata kirinya yang tertutup sedari tadi. Menampakkan sebuah bola mata yang sungguh berbeda dengan mata kanannya. Membuat gadis yang dijodohkan dengannya membelalak tak percaya akan apa yang dilihatnya saat ini. Mata sewarna darah dengan tiga titik hitam. Butuh waktu yang cukup lama bagi Aylee untuk mencerna keadaan yang tengah dialaminya saat ini. saat kesadarannya telah terkumpul sepenuhnya ia segera menarik tangannya yang sedari tadi mengelus mata kiri Kakashi.

"Kenapa…kenapa…dengan matamu?...itu…apa..itu?"

Tenggorokan Aylee terasa tercekat dan sulit untuk berkata-kata. Betapa tidak? Ini pertama kali baginya melihat bola mata yang seperti itu. Tangan kirinya reflex menutupi mulutnya, sambil terus memandang Kakashi yang tersenyum padanya dengan tatapan bingung. Kaget bercampur dengan rasa sedikit ngeri dan bingung.

"Ini sharingan Aylee."

Sharingan….? Tunggu dulu,,,,,sepertinya aku pernah mendengar kata itu. Ahh…aku ingat, aku pernah membaca sebuah buku di perpustakaan pribadi tou-san mengenai sharingan. Sharingan itu merupakan kekai genkai yang kuat. Pupil yang merupakan doujutsu yang sangat kuat. Dapat meniru taijutsu, ninjutsu dan genjutsu dalam sekali lihat. Terlebih dari itu semua mata sharingan dapat membaca gerakan lawan sampai tiga detik sebelumnya.

Tetapi…tunggu…bukankah sharingan hanya dimiliki oleh para elit keluarga Uchiha? Dan yang aku dengar klan itu sudah hampir musnah dalam sebuah pembantaian. Tapi kenapa Kakashi yang bukan dari klan Uchiha bisa memiliki sharingan yang begitu melegenda itu? Di dunia ini hanya ada satu orang yang punya sharingan selain klan Uchiha, dari buku yang kubaca orang itu disebut Copy ninja. Pria berambut perak…apa….? Perak….? ….TIDAK….mana mungkin dia?

"Kau….kau…copy ninja…."

Aylee cukup cepat berpikir dan menyimpulkan siapa pria yang ada dihadapannya ini. dari buku ninja yang pernah dibacanya dia cukup tahu mengenai informasi dunia shinobi. Gadis manis tersebut semakin membelalak tak percaya akan kenyataan siapa pria yang telah dijodohkan dengannya.

"Ha…ha…ha…tepat. Itu sebutanku."

"Ma..mana mungkin! Kau terlihat lemah dan tak bisa diandalkan….juga…aaahhh….entahlah…."

Aylee terlalu shock akan kenyataan yang dihadapinya saat ini. ia tak pernah menyangka bahwa pria yang ada didepannya adalah copy ninja yang terkenal itu. Kaa-sannya dan juga Shizune-san memang pernah mengatakan bahwa pria yang akan jadi suaminya kelak adalah seorang shinobi hebat dan ternama. Tapi ia tak pernah menyangka kalau dia akan dinikahkan dengan shinobi yang sudah menjadi legenda hidup di dunia shinobi. Ini bahkan lebih mengejutkan dari perjodohan itu sendiri.

"Kau kenapa?...apa kau baik-baik saja?"

"Entahlah…aku sendiri tak tahu apa aku baik-baik saja atau tidak…"

"Apa tou-san dan kaa-sanmu tak pernah memberitahu siapa aku yang sebenarnya?"

"Tidak…tak pernah. Mereka hanya bilang kalau namamu Hatake dan seorang shinobi hebat."

"Ha…ha…ha…ha…begitu…."

Kakashi tersenyum geli begitu melihat reaksi Aylee ketika tahu siapa dirinya. Bahwa dia adalah copy ninja no Kakashi yang dikenal di lima Negara besar shinobi. Sementara Aylee masih terlihat shock begitu tahu laki-laki yang menjadi tunangannya adalah seorang ninja hebat. Desa tempatnya tinggal memang bukan desa shinobi, tapi berita tentang seorang ninja yang mampu meniru seribu jurus lawan juga menjadi topic pembicaraan di desanya. Gadis manis itu hanya menghela nafas panjang berkali-kali untuk meredam rasa terkejutnya. Berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi anehnya. Jika hal itu memang bisa untuk menjadi kenyataan.

"Kau mau kemana?"

"Aku ingin mandi."

Kakashi menatap Aylee yang beranjak dari duduknya, melihatnya yang masuk kedalam kamar mandi. Sejujurnya sampai saat inipun ia tak tahu mengapa ia menyetujui perjodohan ini. apa karena ini wasiat terakhir dan satu-satunya dari tou-sannya? Atau karena hal lain? Tetapi hal lain apa yang sampai membuatnya menerima pertunangan ini.

Pria berambut perak itupun sebenarnya sangat ingin bertanya pada gadis yang kini berada didalam kamar mandinya, ingin bertanya mengapa gadis itu juga mau menerima perjodohan ini. mengingat sifat gadis itu yang pemberontak, modern dan sangat suka kebebasan harusnya Aylee menolak mentah-mentah pertunangan ini. dan yang lebih penting dari semua hal, tak ada perasaan diantara mereka berdua. Tak ada rasa sayang apalagi cinta. Kakashi sendiri tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. tapi….

"Kakashi-san….buka pintunya."

Kakashi terbangun dari lamunannya ketika didengarnya sebuah suara dan ketukan dari arah pintu. Ia segera bangkit berdiri dari duduknya kemudian berjalan kearah pintu. Untuk membukakan pintu bagi siapa saja yang datang berkunjung sepagi ini.

"Kakashi-san kami mengantarkan barang pesananmu."

Mata kelabu Kakashi menatap pada sesosok pria muda di depannya. Pria itu tak sendirian, dibelakangnya ada beberapa pria lain yang tengah membawa sebuah lemari, ranjang, dan sebuah meja rias kecil.

"Aaahh….Kojiro-san, pagi sekali kau dating."

" Begitulah….lalu barang-barang ini mau diletakkan dimana?"

"Disana…ayo ikut aku."

Kakashi membantu membawa sebuah lemari yang berukuran cukup besar, lalu meletakkan semua barang-barang itu ke dalam sebuah kamar yang telah dibersihkannya semalam. Menatanya, dan merapikan bed cover yang ada diatas ranjang baru tersebut. Pria perak itu masih ada didalam kamar sementara orang-orang yang tadi mengantarkan barang-barang tersebut telah berpamitan dan pergi.

Aylee yang baru keluar dari kamar mandi tak mendapati Kakashi dimanapun. Matanya menyusuri seluruh ruangan apartement mewah itu.

"Kakashi…hey…kau dimana?"

"Aku disini…kemarilah."

Terdengar suara barithon yang dalam dan bening dari kamar diujung ruangan. Dengan hati-hati Aylee mendekat kearah asal suara itu. Mendapati seorang pria bermasker yang tengah bersandar di dinding, dengan kedua tangan menyilang didadanya.

"Ini adalah kamar barumu."

Aylee menatap takjub pada sebuah kamar yang ada dihadapannya. Kamar kecil dengan perabotan yang sederhana namun terlihat elegan. Terlebih lagi pada sebuah ranjang dengan bed cover berwarna biru langit bercorakkan bunga lily of the valley. Ranjang itu terlihat cantik dengan motif bed covernya yang berupa bunga-bunga kecil berbentuk seperti lonceng.

"Apa kau menyukainya?"

"Tentu…tapi tunggu…bukankah kemarin kau bilang belum membereskan kamar ini?"

"Aku membereskannya semalam, lalu perabotannya juga baru saja diantar, saat kau mandi."

Seketika ada perasaan aneh yang menyergap Aylee. Semalam Kakashi membersihkan kamar ini untuknya. Aylee tak tahu perasaan aneh apa yang tengah menyerangnya saat ini. tapi gadis itu memilih untuk tak mempedulikanya. Ia melangkah masuk ke dalam kamar lalu duduk diatas ranjang barunya.

"Bunga lily of the valley."

"Nani…?"

"Nama bunga yang jadi corak bed cover ini."

"Ha…ha..ha…aku tak tahu nama bunganya, aku memilih bed cover ini karena kurasa hanya bed cover ini yang coraknya cantik. Jadi nama bunga ini lily of the valley ya?"

"Kau yang memilih bed cover ini?"

"Iya…juga semua perabot ini, aku lega kalau kau menyukainya."

"Kakashi…kau tahu apa arti bahasa bunga lily of the valley?"

" Nnnggg….tidak."

" Artinya adalah HARAPAN UNTUK MENDAPATKAN CINTA DAN KEBAHAGIAAN SEJATI."

TBC

Hyyaaa…akirnya selese juga. Maaf kalo super duper jelek. Akir2 ini bos ngasih banyak pekerjaan jadi update agak lama. Aku ucapkan banyak terima kasih untuk yang sudah mau ngeriview fic jelekku ini. aku benar2 berterima kasih. Aku sangat ingin membalas satu2 riview kalian tapi jujur aku ngetik ini disela2 waktu kerjaku hehehehe….jadi maaf ya kalau aku hanya bisa menyampaikan rasa terima kasihku yang sebesar2nya pada semua yang telah berkenan meriview.

BY ALL RIVIEW TERUS DAN YANG BANYAK YA….^^