LIFE of JISOO pt. 4

.

.

BarbieLuKai

.

.


A/n : Mau ngelurusin aja, Kim Taeyong itu bukan OC tapi Lee Taeyong-nya NCT. Kan Taeyong sama Mingyu lumayan mirip tuh, jadi author jadikan saudara aja deh (?) OH! Ada OC juga di chapter ini, jangan dihajar OC-nya ya, kasian mereka cuma pemeran pembantu, khusus OC!Hyunhee bayangkan Seunghee CLC aja. OC yang lain terserah mau dibayangin siapa. Thankseuu~~~


.

.


~HAPPY READING~


.

.

Jeonghan sedang memasak mie instan saat ia mendengar suara mobil yang memasuki halaman. Tanpa diberitahu pun, ia sudah tahu siapa pemilik mobil tersebut.

"Jeonghannieee~"

See? Siapa lagi kalau bukan si anak teknik industri ITB. Choi Seungcheol. Namja yang sedang ditunggu Jeonghan itu kini masuk ke dapur untuk memeluknya. Jeonghan memutar mata malas.

"Kau tidak ada kelas hari ini?" tanya Seungcheol manja.

"Jam 4, kau lapar?"

Mencium aroma mie instan yang dicampur dengan telur, perut Seungcheol berbunyi seketika. Dia menyengir.

"Boleh, kalau makan berdua.."

"Dih, mau benar.." jawab namja cantik tersebut seraya mematikan kompor. Seungcheol melepas pelukannya, lalu celingak-celinguk.

"Kemana anak-anak?"

"Belum pulang sekolah, Jihoon ada pelajaran tambahan, Soonyoung ada ekskul, Seokmin jalan sebentar, Hansol di kamar, Dino main basket di lapangan sebelah, siapa lagi yang kau cari?" tanya Jeonghan sambil menaruh bumbu. Seungcheol mengangguk, ia mengambil mangkok tersebut dan membawanya ke meja makan.

Jeonghan mengikuti langkah namja tampan tersebut. Satu mangkok mie instan dimakan berdua sambil bercengkrama layaknya sepasang suami istri.

"Ehm."

Keduanya mengalihkan perhatian. Seungkwan, Joshua, Jun, Wonwoo serta Mingyu menatap mereka penuh minat.

Oh, bukan mereka, maksudnya mie instan.

"Kalian baru pulang?" tanya Jeonghan berdiri tapi Seungcheol malah menahannya untuk duduk kembali.

"Ne, eomma. Lapar nih," Seungkwan mendekati mie instan mereka. Seungcheol yang sadar akan gerak-gerik tersebut menjauhkan mangkuk-nya.

"Memangnya cuma kau yang lapar, sana masak sendiri!"

Namja berpipi tembam itu mengerucutkan bibir. Jeonghan melihat Mingyu, lalu menaikkan alis. "Bukannya kau pulang jam 4, Gyu?"

Mingyu sontak merangkul Wonwoo yang hanya mengerjap-erjapkan mata, "Aku ada urusan dengannya,"

Jeonghan dan Seungcheol saling berpandangan. Termasuk Joshua yang masih belum mengerti kenapa mereka berdua bisa menempel begitu.

"Aku.. mau makan siang," gumamnya sambil berlalu. Menyisakan enam orang yang juga ikutan bingung.

Mereka hanya penghuni kost-an, bukan keluarga yang harus ikut campur kalau dia mau ke mana kan?

Langkah Joshua tampak santai ketika membawa dirinya keluar dari pintu dapur. Dia sempat bertemu Junwoo yang menyunggingkan senyum licik padanya, tetapi ia tidak mengindahkan.

Di tempat lain, Jeonghan merasa aneh. Dia menatap Mingyu dan Wonwoo. "Baiklah, jangan terlalu ribut ya!" ujar namja cantik itu sambil menyesap mie instan yang keburu dingin.

Wonwoo diam saja, ia mengikuti langkah Mingyu ke gedung kos-kosan mereka. Sedangkan Jun dan Seungkwan tetap berdiri di sana.

"Kalian ngapain di sini?" tanya Seungcheol. Jun menaikkan satu alis.

"Dih, sewot amat tanyanya, ayo Seungkwan kita buat sendiri!" ajak senior kelas 3 tersebut menarik Seungkwan yang masih bersungut-sungut. Setelah kepergian dongsaeng-nya, Jeonghan membuka suara.

"Memang Wonwoo masih mau dengannya?"

Seungcheol mencomot kuning telur dan mengunyahnya perlahan, memikirkan hal-hal bodoh tanpa mendengarkan kicauan kekasihnya. Materi dosen tadi siang masih menari-nari di kepala.

"... Cheol-ah,"

Mahasiswa ITB itu tersadar dari lamunannya, ia menoleh ke Jeonghan yang menyipitkan mata.

"Taruhan kau tidak mendengar dari tadi,"

Sedang Seungcheol hanya mengecup pipinya sayang.

.

.


.

.

Joshua mengendarai mobil ke arah mall, dengan bantuan google maps, ia berhasil berhenti di pusat perbelanjaan daerah yang tak jauh dari kos-kosan.

Pandangannya tertuju pada restoran cepat saji yang sangat terkenal, duh, siapa coba yang tidak kenal KFC? Bahkan negara Afrika pun pasti punya satu di kota mereka.

Dengan bahasa Indonesia yang lumayan lancar, dia berhasil mendapatkan makan siang meskipun sempat digoda oleh tukang kasir perempuan. Hiyyy.

Sambil menyantap burger yang ia beli, samar-samar bisikan dari sebelah bangkunya menarik perhatian untuk menguping.

"Ih, ganteng ya.." suara yeoja pertama.

"He eh, pasti orang Cina, sipit-sipit gimanaa gitu," yeoja kedua.

"Hush, nggak cuma orang Cina aja kali yang sipit, Korea juga," yeoja ketiga.

"Taruhan yuk! Siapa di antara kita yang dapat nomor ponselnya, ntar kutraktir di Starbucks, pilih sesuka hati," yeoja keempat terdengar sombong. Joshua mendengus, tetap melanjutkan makannya. Di otaknya sekarang, ia sibuk mencari alasan agar menggagalkan rencana empat yeoja genit itu.

Yeoja pertama mencoba, dia menyapa Joshua dan namja cantik itu langsung sibuk dengan ponselnya.

"Hai!"

Joshua menekan sembarang angka, lalu menaruh ke telinga. Bermaksud pura-pura menelepon seseorang.

Yeoja pertama ini secara fisik memang menggoda, apalagi rok denim di atas lutut dan kaus tanpa lengan yang ia pakai cukup membuat Joshua sedikit takut.

Takut diperkosa.

"Boleh kenalan, nggak?"

Joshua hanya meliriknya sadis.

Namun, si yeoja tetap saja tidak menyerah, dia malah duduk di hadapan Joshua. "Namaku Irene, namamu siapa, Tampan?"

Bagusnya, namja berambut cokelat itu memasang wajah tidak mengerti padanya. Seakan-akan dia tidak bisa berbahasa Indonesia. Padahal, lumayan.

Irene memiringkan kepala, "Kamu bukan orang Indo ya? So, what's your name, Handsome?"

Dikatain handsome, Joshua malah bergidik ngeri. Dia berharap dewi fortuna membantunya untuk menyingkirkan makhluk aneh di hadapannya.

Ternyata, dikabulkan.

"Oppa?!"

Joshua dan Irene menoleh ke asal suara, seorang yeoja berambut pirang yang familiar di mata Joshua melambaikan tangan.

Oh, anaknya pemilik kos. Park Hyunhee.

Hyunhee menghampiri Joshua dan duduk di sampingnya, "Oppa, kenapa tadi meninggalkanku?" tanyanya memakai bahasa Korea, ia melirik Irene yang menganga.

Namja manis tersebut diam, burger di tangannya tak ia hiraukan lantaran bingung mencari jawaban yang pas.

"Anu, kau lama sekali di sana, aku kan lapar jadi aku ke sini," jawabnya memakai bahasa Korea juga.

Hyunhee mendelik sadis pada Irene, "Terus, yeoja di depan kita ini siapa?"

Joshua menggeleng, "Tidak tahu, tiba-tiba saja muncul,"

Kemudian, yeoja berambut pirang itu mengalungkan lengan pada Joshua yang tersentak kaget, ia bisa melihat aura menyeramkan, menyeruak dari tubuh Hyunhee.

"Kau. Pergi dari sini! Dasar jalang! Jangan ganggu kekasihku!" repetnya dalam bahasa Indonesia. Irene terkejut setengah mati lalu mengambil langkah seribu dengan wajah pucat. Beberapa temannya yang takut kena damprat dari Hyunhee kabur meninggalkan bekas makan.

Setelah mereka menghilang, Hyunhee melepaskan kalungannya, namja manis itu akhirnya bisa bernapas lega.

"Wah, gamsahamnida Hyunhee-sshi!" ucap Joshua tulus. Dia membungkuk sedikit, sedang Hyunhee tertawa kecil.

"Ah, itu bukan apa-apa kok! Dan jangan formal begitu, kita kan seumur,"

Joshua hanya mengangguk pelan, "Araseo. Kau baru pulang?"

"Ne, aku sedang mengajak Seonjae shopping, kau tidak ke kost-an?" tanya Hyunhee mencomot kentang goreng milik namja manis tersebut tanpa basa basi. Joshua menatapnya tapi tidak begitu peduli. Lagipula yeoja ini sudah menyelamatkan dirinya.

"Sudah, cuman tidak ada makan di rumah, makanya aku ke sini,"

Hyunhee mengangguk mengerti, "Kau mau ikut bersama kami? Daripada digodain yeoja-yeoja di sini,"

Namja itu nampak berpikir sesaat. Ada benarnya juga tawaran yeoja ini, daripada dia ngeluyur sendirian nggak ada tujuan, mending nemenin mereka kan? Akhirnya Joshua mengangguk setuju, dia menghabiskan burger yang sudah dingin lalu mengikuti Hyunhee keluar dari restoran.

"Kau tahu darimana aku di dalam?" tanya Joshua sedikit kikuk. Tidak mungkin kan yeoja pirang ini menguntit.

Hyunhee menyengir, "Aku memang berniat beli es krim di sana, waktu melihatmu dengan yeoja itu, langsung saja kuhampiri,"

Joshua mengangguk mengerti, mereka berjalan ke toko jam di mana sosok yeoja berambut hitam legam dengan seragam SMA yang masih melekat berdiri di depan etalase jam yang berkilau.

"Jae? Sudah selesai belum? Eonni mau jemput yang lain nih," tegur Hyunhee padanya. Seonjae menoleh dan menaikkan satu alis ketika melihat Joshua.

Namja manis tersebut tampak gugup. Anak Jinyoung Ahjussi yang satu ini memang memiliki tatapan yang menyeramkan.

Dia tidak menjawab, tetapi mengangguk. Sambil melewati kedua sosok yang lebih tua tersebut, ia memimpin jalan.

Joshua menatap Hyunhee, meminta penjelasan, sedangkan yang ditatap tersenyum kecil. "Seonjae memang pendiam, dia tidak ingin bicara kalau dirasanya tidak penting buat dibicarakan,"

'Wah, tipikal misterius,' batin namja bermarga Hong itu.

"Jangan khawatir! Dia bukan psikopat kok! Habis ini kau mau ke mana?"

"Pulang saja deh," jawab Joshua mengangguk-angguk pelan, "aku mengantuk.."

Hyunhee tersenyum sambil menahan diri untuk tidak mencubit pipi Joshua yang kini tak sadar bertampang imut, ia mengangguk, "Araseo, ayo kita ke parkiran!"

Joshua pikir, dia akan diajak shopping dengan dua bersaudara ini. Ternyata dugaannya salah. Meski begitu, ia masih merasa aman jika ada dua yeoja Korea di dekatnya. Coret- maksudnya Hyunhee saja.

Sesampai di parkiran, mereka berpisah. Hyunhee mengendarai mobilnya berlawanan arah dengan Joshua. Namja bermata kucing itu menghela napas.

"Makan siang yang menarik," gumamnya sambil menurunkan rem tangan.

.

.


.

.

"Hyung, dimana Jisoo hyung?" tanya Mingyu pada Jun yang sedang membaca majalah di kamar. Kepalanya muncul begitu saja sampai Jun hampir terkejut.

"Buat apa kau mencarinya?" tanya namja Cina itu tak peduli.

Mingyu menggembungkan pipinya, "Aku kan hanya tanya,"

"Dia bukan mainanmu, Mingyu.."

"Dia istriku, hyung!"

Jun hanya memutar matanya malas, "Serahmu lah," kemudian ia teringat kalau Minghao pulang jam 4 sore. Dia melirik jam yang menunjukkan pukul 3.

Dih, masih satu jam lagi.

Mingyu yang merasa tidak diacuhkan oleh Jun pergi begitu saja. Dia melihat Soonyoung dan Jihoon yang baru pulang sekolah.

"Hyung! Lihat Jisoo-hyung tidak?"

Jihoon membuka pintu kamarnya, lalu menatap Soonyoung. Mereka memandang Mingyu secara bersamaan dan menggeleng. Mingyu mengerucutkan bibir. Kemudian, kedua namja tersebut masuk ke kamar Jihoon.

Saat pintu kamar Hansol terbuka, Mingyu langsung memborongnya, "Sol-ah! Kau lihat Jisoo-hyung tidak?"

Hansol menggeleng seraya menaikkan alis, "Kenapa hyung mencarinya?"

"Memangnya aku tidak boleh mencari istriku sendiri?"

Namja blasteran itu hanya menatap hyung-nya aneh dan masuk kamar Chan yang terletak di sebelah Soonyoung.

Mingyu mengacak surainya frustasi, kemana namja manis itu? Dia baru sehari tinggal di Jakarta tapi sudah keluyuran.

Kim Mingyu, sadarlah kau bukan orangtuanya ataupun suaminya.

Ah, bukankah Mingyu sudah meng-klaim Joshua sebagai istrinya walaupun jelas sekali namja bermarga Hong itu menolak mentah-mentah.

Akhirnya, objek yang ia cari muncul dengan wajah lelah. Namja berambut abu-abu tersebut langsung cerah dan memeluknya.

Pandangan Joshua lurus pada dada bidang Mingyu. Tangan Mingyu yang dua kali dari tangan lentiknya mengelus rambut cokelatnya lembut.

"Kau darimana, hyung?"

Joshua masih diam menatapi dada Mingyu horror.

Lama mereka berpelukan sampai Jun yang ingin menjemput Minghao menegur mereka.

"Kalau bermesraan jangan di depan kamar orang!"

Baru sadar kalau mereka berdiri di antara kamar Joshua dan Jun. Namja manis tersebut berusaha melepaskan rengkuhan Mingyu tetapi bocah SMA itu malah mengeratkannya.

"Kau tidak apa-apa kan, Hyung?"

"Kau ini ngomong apa sih?" sahut Joshua agak kesal. Dia harus mendongak saat bertatapan dengan Mingyu.

"Aku mengkhawatirkanmu, kau tiba-tiba pergi saat kita masih di dapur,"

"Aku hanya mencari makan," jawabnya, ia mendorong Mingyu pelan. "minggir, aku mau tidur!"

"Ikut!"

"Shireo!" mata Joshua membulat. Dia menghalangi pintu kamarnya agar Mingyu tidak bisa masuk.

Namja tampan itu mengerucutkan bibir, "Kenapa? Aku kan ingin tidur dengan istriku,"

"Sejak kapan kita menikah?" tanya Joshua jengkel. Tangannya berusaha mendorong Mingyu.

"Tidak usah dipikirkan sejak kapan, pokoknya ciuman kemarin buktinya!"

"Shireo!"

"Ayolah, Hyung~"

"Kau kan punya kamar sendiri!"

"Tidak enak rasanya tidak ada yang menemani,"

Joshua tidak bisa menahan kekesalannya. Sebenarnya dia dari tadi cemburu karena Mingyu memusatkan perhatian pada Wonwoo. Duh, sebenarnya dia ini suka siapa sih? Mingyu atau Wonwoo? Makanya dia rada sewot begini.

"Tidur saja dengan Wonwoo sana!"

BRAK

Sebelum Mingyu dapat masuk, Joshua sudah membanting pintu kamarnya di depan wajah tampan Mingyu. Menguncinya ganda tanpa ingin diganggu.

Tsk, hari kedua yang merepotkan!

Namja bermarga Hong tersebut memutuskan untuk tidur sampai jam makan malam tiba.

.

.


.

.

Wonwoo mengetuk pintu kamar Joshua, sedangkan namja yang masih tertidur pulas itu tidak ingin dibangunkan. Melihat pintu kamarnya yang tak terkunci, senior kelas 3 itu masuk.

"Jisoo-hyung?"

Joshua berbaring menghadap dinding, dengan pakaian kaus putih dan boxer hitam di atas lutut. Mendengkur lembut sampai Wonwoo tidak tega membangunkannya.

Tapi, ini perintah Jeonghan. Mama tidak ingin satu dari anak-anaknya mati kelaparan, meskipun dalam keadaan tidur. Jadi, ia duduk di pinggiran kasur, dan pelan-pelan mengguncang namja manis tersebut.

"Hyung?"

Joshua bergerak sedikit.

"Hyung, Jeonghan hyung menyuruhmu makan malam," panggil namja berambut hitam itu, masih mengguncang tubuh Joshua perlahan.

Akhirnya, sedikit demi sedikit Joshua mendapat nyawa kembali, ia menatap Wonwoo lama dan menghembuskan napas panjang.

"Bagaimana kau bisa masuk? Aku kan sudah mengunci pintu,"

Kemudian, ia teringat sebelum tidur ia pergi ke kamar mandi untuk berganti baju dan membersihkan diri. Sehabis itu, ia lupa mengunci pintu kamarnya. Wajahnya berubah masam.

"Sudah berapa lama aku tertidur?"

Wonwoo mengulas senyum, "Ini sudah jam 8 malam, hyung,"

Mereka berjalan keluar kamar dan menyempatkan diri mampir ke kamar kecil untuk mencuci wajah. Keduanya berjalan menuruni tangga dan melewati kamar-kamar penghuni bawah dalam diam.

"Wah, ada si cantik! Sama selingkuhannya ya?"

Joshua menoleh ke asal suara, sebuah kamar yang terbuka memperlihatkan segerombolan anak-anak berwajah barat sedang tertawa-tawa. Salah satu dari mereka tampak familiar.

Ah, si Lee Junwoo.

Wonwoo merangkulnya, "Jangan terlalu dihiraukan, Hyung. Anak-anak seperti mereka memang tidak tahu sopan santun,"

Namja bermarga Hong itu akhirnya menatap lurus ke depan tanpa mendengarkan ocehan mereka. Sesampai di ruang makan yang hampir sepi, Joshua mengambil tempat.

Jeonghan menghela napas, "Kau lelah ya, Soo?"

Senyum kecil terulas di bibirnya, "Sedikit," jawabnya menggumam seraya mengucapkan terima kasih pada eomma dari penghuni atas.

"Hanya kau dan Mingyu yang belum makan, tapi biarkan saja anak itu dulu, dia sedang tidak ingin diganggu,"

Joshua menyuap makan malamnya perlahan, terus mendengarkan ocehan Jeonghan. Padahal pikirannya melayang ke Mingyu yang kata Jeonghan belum makan.

'Apa Mingyu masih marah padaku?'

Setelah menghabiskan makan malam, ia berjalan bersama penghuni atas yang tadinya masih di bawah. Mereka melewati kamar penghuni bawah yang belum tidur.

"Jisoo si Jalang~"

"Jisoo si pria malang~"

"Jisoo si bodoh dari SIU~"

"Jisoo si-"

"YAK! BISA DIAM TIDAK?!"

Joshua hampir terjengkal dari langkahnya ketika mendengar teriakan Jeonghan. Anak-anak yang tadinya mengolok Joshua langsung menutup pintu kamar karena takut. Lampu kamar dimatikan dan suasana senyap seketika.

Wonwoo merangkul Joshua sayang, dan kau tahulah Joshua memang ada rasa suka sama dia, maka dari itu jantungnya berdegub tak keruan. "Jangan dengarkan mereka, ya Hyung.."

"Aku harus melapor pada Seokjin-hyung kalau begini caranya," geram Jeonghan, ia melangkahkan kaki ke arah kamar yang tertutup dan mengetuknya perlahan.

"Please Jeonghan-hyung, jangan bangunkan Seokjin-eomma!" teriak salah satu anak yang mengolok Joshua.

Jeonghan menuding ke wajahnya, "Kalau kau terus mencari gara-gara, Haeri-ya, kupastikan Seokjin hyung akan menyembelihmu!"

"Junwoo-hyung bilang Jisoo memang jalang, Hyung!" balas si rambut hitam.

Namja cantik berambut sebahu itu bersiap menggampar mulutnya, "Bilang pada kulkas jangkung itu untuk berhati-hati kalau tidak ingin disembelih oleh dua orang sekaligus!"

Keduanya menutup mulut, mereka mengacungkan hormat lalu melesat ke dalam kamar. Entah milik siapa. Jeonghan kembali pada teman-temannya.

"Tenang saja, Soo. Kalau anak-anak itu mulai mengganggumu, panggil aku!"

Joshua hanya mengangguk pelan, tidak tahu harus menjawab apa.

Wonwoo masih merangkulnya saat mereka sudah di atas. Namja bermarga Hong itu terkesiap melihat Mingyu yang baru keluar dari kamarnya dengan wajah seram. Dia menatap Joshua tajam dan berlalu melewati mereka. Tidak peduli akan teriakan Jeonghan.

"Sudahlah, Hyung." balas Wonwoo pada akhirnya, "dia bisa mengurus dirinya sendiri,"

Joshua memandang mereka tidak paham.

"Kau tidak apa-apa kan, Won? Dia tidak bermain kasar kan?" tanya Jeonghan cemas.

'Bermain kasar? Apanya bermain kasar?' pikir Joshua mencerna-cerna.

Wonwoo tersenyum kecil, "Mau kasar mau lembut, tetap aku kan yang di bawah?"

Jeonghan hanya menepuk bahu Wonwoo lembut, "Jangan terlalu dihiraukan lagi, Won. Itu sama saja menyakiti dirimu,"

Sedang namja tampan itu hanya mengangguk, Joshua berdeham, mencuri perhatian. Seketika dua namja itu menoleh.

"Aku ke kamar duluan."

"Hati-hati, Hyung!"

"Selamat tidur, Soo!"

Padahal setelah semua penghuni masuk kamar, Joshua berniat untuk mendatangi Mingyu.

.

.


.

.

Joshua berjalan mengendap-endap, jam menunjukkan pukul 11 malam dan Mingyu tidak nampak batang hidungnya. Anak-anak yang bersekolah besok sudah tidur lelap, kecuali seperti Seungcheol yang betah di kamar Jeonghan entah melakukan apa.

Saat ia berjalan melewati kamar penghuni bawah, tampak sepi tak ada orang, ia menahan napas selama melangkah, sesampai di ruang makan yang remang-remang, ia berani bernapas kembali.

Sosok jangkung dengan kaos hitam dan celana piyama tampak duduk sambil menyuap makan malam. Joshua bingung harus melakukan apa.

Apa dia perlu mengejutkannya? Apa dia perlu bersikap manja seraya meminta maaf? Atau perlu balas menciumnya?

Duh, ada apa dengan otaknya akhir-akhir ini?! Kenapa dia jadi kesemsem gini?

Akhirnya, ia hanya mengejutkan sosok tinggi itu dengan mengalungkan lengannya di leher, ia bisa merasakan tubuh yang ia peluk itu mematung.

"Mingyu-ya.."

Sosok yang ia panggil Mingyu, menyunggingkan senyum licik. Sedangkan namja manis itu menggumamkan kata maaf berulang kali.

"Maafkan aku, ne?"

"Ne, hyung."

Tunggu-

Jangan bilang kalau ini bukan Mingyu.

.

.


To be Continued


.

Thanks to :

Peach Prince; jeonwonu; rena anaknya babeh; Afyb; sheerin; Iceu Doger; blxcklily; wukim9091; aestas7; byul173; sanaa11; ketiiiliem; bonableblegyu; MyNameX; Honeylili; BumBumJin

TERIMA KASIH SUDAH MENJADI PEMBACA SETIA LIFE OF JISOO /cium reader satu-satu/ tanpa kalian, fanfic ini pasti sudah dimakan rayap, muahaha. Dan makin hari Jisoo semakin manis baik di dunia nyata maupun di dunia per-fanfic-an (?) apa salah gue jadi bikin Jisoo macam ini T^T hahaha maaf jisoo *ditabok*

Eniwei, bagi yang sedang menunggu bias atau kopel yang lain muncul, harap sabar ya sayang… karena semua ini butuh proses dan kalau dipaksakan, maka alur cerita nanti kachau :D

Apalagi kalau everybodyxjisoo, itu sangat susah sekali. Mengingat gue juga bimbang mau masangin Jisoo sama siapa. Ampun dah author macam apa gue aaaakkk! /dilempar balok/

Terima kasih sudah mau membaca notif author, hahaha. Makasih juga buat reviewnya, fave dan follow :* maaf kalau momennya masih kurang atau gak srek di hati. Langsung aja review.

ONCE AGAIN THANK YOU ^^ /nyanyi once again-nct127/ *dikejar* AJU NICEU ^w^)b