"Kau tidak mengada-ada kan, Sasuke-kun?" Tanya Sakura takut. "Hn? Untuk apa aku bohong?" Tanya Sasuke. Sakura menoleh kearah pintu kelas. "Sasuke-kun, ayo kita mendobrak pintu bersama-sama!" Kata Sakura serius. Sasuke mengangguk. Mereka pun mulai mendobrak pintu itu.

Pertama tak berhasil

Kedua tak berhasil

Ketiga….

BRAK

"Yeah, kita berhasil!" Sorak Sakura senang. "Ssst, jangan bersorak dengan suara keras seperti itu!" Bisik Sasuke. Sakura dengan cepat menutup mulutnya. Sasuke dan Sakura mulai perlahan berjalan menuju gerbang. Tiba-tiba, muncul sosok pria berjubah mengerikan. "Sa..Sasuke-kun," Kata Sakura dengan suara bergetar.

"Sepertinya, baru akan dimulai!"

Summary: Dari dulu, Sakura sudah mencintai Sasuke. Tapi, ia tak tahu Sasuke mencintainya atau tidak. Naruto, Hinata, dan Tenten dengan senang hati membantunya mendapatkan Sasuke. Suatu hari, Sasuke dan Sakura terkurung dalam kelasnya sendiri. Bagaimana kisahnya? Nggak pandai bikin summary. Harap Maklummm

A/N: Sebelumnya aku minta maaf kepada seluruh reader's karena fic "You're Happy, I'm Happy Too, Sasuke-kun" tidak memuaskan. Aku hnya seorang manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Maka dari itu, aku minta maaf ya^^. Terimakasih dan maaf juga karena aku update-nya lama. Smoga kalian suka dengan Chap ini ya, Hehehe^_^. Aku juga berterimakasih kepada yang telah men-review fic ini. Arigatou Gozaimasu, Minna-san…..^^b

Ghost In Konoha City

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance/Hurt/comfort/Horror

Pairing: Sasuke Uchiha/Sakura Haruno

Character: /Rock

Don't Like, Don't Read

Happy Reading^^

CHAPTER IV

Sosok jubah hitam itu mulai berjalan mendekati Sasuke dan Sakura. Sasuke tampak tenang, sementara Sakura sudah mulai ketakutan setengah mati. "Apa yang kau inginkan?" Tanya Sasuke dengan nada dingin. "Khu, khu, khu, jangan banyak bicara, Uchiha!" Kata Sosok itu. "Ba..bagaimana dia tau nama cl..clanmu, Sasuke-kun?" Tanya Sakura takut. Sasuke tak menggubris perkataan Sakura, ia terus memperhatikan sosok jubah hitam itu dengan dingin.

"Kaupikir aku tidak tau siapa kau? Kau Asuma-sensei kan?" Kata Sasuke sambil menarik jubah sosok itu. Saat jubah itu ditarik, ternyata dugaan Sasuke tepat. "A…Asuma-sensei! Ta…tapi, kenapa?" Tanya Sakura tak percaya. "Itu mudah saja, aku sudah memperhatikan gelagat Asuma-sensei dari tadi. Dia memang berniat membunuh kita semua!" Jelas Sasuke sambil memandang sinis Asuma.

"Khu, khu, khu, ternyata, Uchiha tidak bisa diremehkan, tidak seperti Baka-Obito!" Sasuke memandang Asuma dengan sini. "Jangan bilang kalau kau yang membunuh Obito-jisan." Sinis Sasuke. Sementara Sakura hanya terdiam, ia tak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Asuma hanya mendecih. "KENAPA KAU LAKUKAN ITU, HAH?" Bentak Sasuke sambil meninju wajah Asuma.

BUAGH!

"Cih, aku dan Kurenai hanya menuntun Obito dan Rin ke perpustakaan. Kalau soal Obito dan Rin terbunuh itu…." Asuma menggantungkan kata-katanya. "Apa?" Tanya Sasuke. "Kami tak tahu. Sekolah ini, bahkan Kota ini memang berhantu. Dulu, seluruh kota Konaha terbakar, dan banyak memakan korban. Korban-korban itu menjadi hantu yang bergentayangan di Kota dan Sekolah ini. Saat kabar terbunuhnya Obito dan Rin, kami sangat kaget. Ternyata, Hantu-hantu itu sudah mulai memakan korban." Jelas Asuma panjang lebar.

"Lalu, ke…kenapa Asuma-sensei dan Kurenai-sensei menyekap kami?" Tanya Sakura takut. "Kami ingin memberitahu pada kalian yang sebenarnya. Dan kami tidak berniat membunuh kalian." Ujar Asuma jujur.

"Aku sudah memberitahu pada kalian semuanya, jadi, aku harus pergi sekarang! Kalian juga, cepatlah pulang! Aku merasakan firasat buruk tentang kota ini. Langit merah darah, sepertinya akan terjadi sesuatu yang luar biasa, untuk itu, cepatlah pulang. Aku tak ingin kalian menjadi korban!" Kata Asuma khawatir sambil memegang pundak Sasuke dan Sakura. Mereka mengangguk. Asuma pun meninggalkan mereka berdua.

"Hn, ayo pulang!" Ajak Sasuke sambil menarik tangan Sakura. Tanpa Sasuke sadari, wajah Sakura sudah merah sekali. "Hn, kenapa gerbangnya jadi jauh ya?" Gumam Sasuke bingung. "Ng, ada apa, Sasuke-kun?" Tanya Sakura.

"Hn, kenapa gerbang sekolah jadi jauh ya? Padahal sudah didepan mata." Kata Sasuke sambil melepaskan genggamannya pada Sakura. Sakura juga memandang gerbang itu. 'Iya ya, padahal sudah didepan mata, kok jauh banget ya?' Batin Saakura Bingung. Tiba-tiba….

"SASUKE-KUN, SAKURA-CHAN!" Teriak seorang gadis. Sasuke dan Sakura sontak menoleh kebelakang. "Ino-chan? Sai-senpai? Kenapa kalian ada disini?" Tanya Sakura heran sambil memandang dua orang didepannya. "Kami kesulitan mencapai gerbang. Kami baru saja keluar dari kelas untuk patroli, tapi saat pulang kami sulit sekali untuk sampai gerbang. Jadi kami memutuskan untuk menunggu disini. Dan untungnya, kami bertemu dengan Kalian." Jelas Sai.

"Hn, kami juga kesulitan." Kata Sasuke. Sakura mengangguk menyetujui perkataan Sasuke. "Padahal sudah didepan mata, tapi kenapa sulit!" Kata Sakura. "Sakura-chan, sekarang jam berapa sih? Kok langitnya sudah merah banget." Tanya Ino sambil memandang langit. "Masih setengah tiga." Kata Sakura. "Hah? Jangan bo'ong kamu, Sakura-chan!" Kata Ino kaget. "Nggak percaya Lihat aja sendiri!" Kata Sakura kesal sambil menunjukkan jam tangannya pada Ino.

"Kayaknya, bakal terjadi sesuatu nih!" Kata Sai. "Hn, sebaiknya, kita coba keluar dari sini!" Kata Sasuke serius. Mereka semua mengangguk. Mereka pun mulai berjalan, berjalan, dan terus berjalan tapi tak sampai-sampai. 'Cih, sebenarnya ada apa dengan sekolah ini?' Batin Sasuke kesal.

DITEMPAT LAIN….

"Selanjutnya berapa lagi?" Ketus seorang pemuda berambut jabrik. "Na…Naruto-kun, kita harus susul Tenten-chan, dan Lee-san." Kata gadis berambut indigo dengan serius. "Kenapa hanya mereka berdua? Kita harus selamatkan yang lain!" Kata pemuda bernama Naruto itu dengan kesal. "Ha…hanya mereka berdua ka..karena, tinggal mereka yang tersisa!" Kata Gadis itu dengan nada tinggi. "Neji, Sasuke, dan Sakura-chan juga! Ayo Hinata!" Kata Naruto.

BACK TO SASUSAKU…..

"Hn, sepertinya kita harus mencari jalan keluar yang lain!" kata Sasuke. "Sa…satu-satunya jalan yang tersisa adalah gerbang belakang dan belakang kantin!" kata Sakura. "Kalau begitu kita harus berpencar. Aku dan Ino ke kantin, kalian berdua ke gerbang belakang." Kata Sai. "Tapi, kalau kejadian ini terjadi, kumohon kita bertemu di lapangan." Kata Sakura. Mereka mengangguk. "Berpencar!" Mereka semua pun berlari berlawan arah.

"Sa…Sasuke-kun, bagaimana kalau kita tidak bisa keluar?" Tanya Sakura takut. "Hn, berpikir yang positif aja!" Kata Sasuke tanpa menoleh kebelakang. Sakura mengangguk ketakutan. "Itu dia gerbang belakang! Ayo cepat Sasuke-kun!" kata Sakura. "Sebentar!" Kata Sasuke tiba-tiba menghentikan larinya. Sakura pun ikut menghentikan larinya. "Ada apa Sasuke-kun?" tanya Sakura.

"Hn, kita harus memanggil mereka." Kata Sasuke. Sakura mengangguk, mereka pun berbalik menuju kantin. Sampai di kantin, Sasuke dan Sakura membelalakkan matanya kaget. "A…apa yang terjadi disini?" Tanya Sakura takut. "SASUKE, SAKURA, PERGI DARI SINI!" Teriak Sai. "Sai-senpai, ada apa?" tanya Sasuke. Sai dan Ino langsung berlari menghampiri mereka. "Ada apa Ino-chan?" Tanya Sakura panik. "Pe..pergi, di…disini baha…" Sasuke dan Sakura sontak membelalak kaget, 2 buah pisau menancap dengan ganasnya tepat di tubuh Ino dan Sai. Darah yang bermuncratan mengenai wajah Sakura yang sedang berdiri ketakutan menatap Sahabatnya dan Senpai-nya itu. Sasuke sudah merasakan ada yang tidak beres, dengan cepat ia menyadarkan Sakura. Tapi Sakura tak bergeming sama sekali. Ia masih shok dengan kejadian barusan.

"Sakura, kita harus cepat keluar dari sini!" Kata Sasuke sambil menarik tangan Sakura. Sakura sama sekali tak merespon, matanya masih menatap takut jalanan. "A…Aku takut Sa…Sasuke-kun, I…Ino-chan dan Sa..Sai-senpai ma…mati di…dihadapanku!" Ujar Sakura sambil bergetar ketakutan. Sasuke tak merespon perkataan Sakura. Ia hanya focus pada jalan keluar. Tiba-tiba saja Handphone-nya bergetar tanda ada panggilan masuk. "Halo?" Tanya Sasuke.

"TEME? KAU DIMANA?" Teriak seseorang disebrang sana. "Aku masih disekolah. Tolong datang ke sekolah SEKARANG!" Kata Sasuke dengan cepat dan langsung mematikan panggilan itu. Sasuke menuntun Sakura sampai di gerbang belakang sekolah, disana ia mencari tempat yang aman. 'Cih mana ada tempat yang aman disini!' Ketus Sasuke sambil mencari-cari tempat. Mau tak mau ia menuntun Sakura sampai didepan gerbang.

"Sa…Sasuke-kun, aku takut!" Kata Sakura dengan nada bergetar. Sasuke yang kasihan melihat Sakura yang masih shok itu, lalu memeluk Sakura dengan pelan. "Tenanglah, kau akan baik-baik saja." Kata Sasuke sedikit menghibur Sakura. Sakura yang mulai sedikit tenang, akhirnya mengangguk pasrah. "Kita tunggu sampai Naruto datang menjemput kita." Gumam Sasuke.

TIN, TIN, TIN,

Suara klakson yang berasal dari mobil Naruto menyadarkan Sasuke dan Sakura. "Hn, kita pergi dari sini!" Kata Sasuke sambil menarik tangan Sakura dengan cepat. Setelah masuk kedalam mobil Naruto, mereka langsung dihujani dengan jutaan pertanyaan dari Naruto. "Cih, daripada berlama-lama disini, lebih baik cepat bawa mobilmu ini pergi!" Kata Sasuke kesal. "Hhh, baiklah, kita berkumpul dirumahku dulu." Kata Naruto.

"Hn, Kenapa dirumahmu?" Tanya Sasuke. "Tak ada tempat persembunyian lagi! Sisanya hanya rumahku. Ada Neji, Tenten, Hinata, dan Lee disana." Kata Naruto. "Hn, terserah kau saja. Yang penting cepat!" Kata Sasuke. "Widih, kayaknya udah mulai ada perasaan untuk Sakura-chan ya. Dari tadi pegang tangan Sakura-chan terus.." Goda Naruto.

BLETAK

"Awww, Sakit tau!" Ketus Naruto "Cepat bawa mobil ini pergi. Sebelum aku menghajarmu!" Ketus Sasuke kesal. "Baiklah, kejam amat sih!" Ketus Naruto. Sasuke hanya mendecih dan melepaskan genggamannya pada Sakura. Sementara Sakura, yap benar! Wajahnya merah bak tomat busuk, dan degup jantungnya berdetak tak beraturan.

Naruto pun mulai menjalankan mobilnya menuju rumahnya. Sesampainya disana, Sasuke dan Sakura langsung dihujani dengan ribuan pertanyaan lagi dari Tenten dan Lee. "Ya, memang ada yang tidak beres dengan kota ini. Langit tiba-tiba saja berubah menjadi warna merah." Kata Neji sambil melipat tangannya didadanya. "Iya, ini aneh! Langitnya bukan merah seperti langit sore, tapi seperti warna darah." Ujar Naruto.

"Se…semuanya mati, ya..yang tersisa ha…hanya kita." Kata Hinata. "Iya, semuanya mati, termasuk Ino-chan dan Sai-senpai." Kata Sakura lirih. "Hah? Ino-chan dan Sai-senpai mati? Kau tau dari mana" Tanya Tenten kaget. "Hn, kami menyaksikannya sendiri." Ujar Sasuke. "Heh, kau bohong Uchiha!" Kata Lee tak percaya. "Hn, kalau kau tak percaya, kau boleh melihat jasadnya disekolah." Kata Sasuke dingin sambil memandang Lee dengan sinis.

"Heh, kau pikir aku takut dengan tatapan sinismu itu? Sakura-chan, kau kenapa mau sama dia sih? Mendingan sama aku!" kata Lee sambil memandang Sasuke sinis. "Cih, apa-apaan pandanganmu itu? Menjijikan!" Kata Sasuke kesal sambil berjalan meninggalkan mereka semua. "Sasuke-kun!" Teriak Sakura seraya mencoba mengejar Sasuke, tapi tangannya ditahan oleh Naruto.

"Biar aku dan Neji yang bicara dengannya, kau disini saja!" kata Naruto sambil tersenyum lebar. Sakura mengangguk. Naruto dan Neji pun mengejar Sasuke. Sakura hanya menghela nafas panjang. "Su…sudahlah Sakura-chan. Lebih baik kau istirahat dulu dikamar." Kata Hinata. "Iya, kami akn menemanimu kok." Kata Tenten sambil tersenyum. "Arigatou, minna." Kata Sakura.

"Sakura-chan, daripada berdiam diri dikamar, lebih baik kutemani jalan-jalan." Kata Lee sambil menggenggam tangan Sakura. "Lee, biarkan Sakura istirahat dulu! Kau sangat egois." Ketus Tenten sambil melepaskan tangan Lee dari Sakura secara paksa. "Ayo Sakura-chan." Ajak Tenten sambil menarik tangan Sakura dan Hinata dan meninggalkn Lee sendirian disitu. 'Sakura-chan akan kudapatkan! Takkan kubiarkan si Uchiha itu mengambilnya!' Batin Lee.

SEMENTARA DI BAGIAN SASUKE…..

Naruto dan Neji berjalan mendekati Sasuke yang sedang duduk sambil melempar batu itu. "Teme, apa yang kau lakukan disini? Lebih baik kau masuk kedalam!" kata Naruto sambil menepuk pundak Sasuke. "Hn, aku ingin mencari udara segar. Kalian masuklah dulu!" Kata Sasuke yang sama sekali tak menoleh menghadap Naruto dan Neji.

Naruto dan Neji pun berinisiatif untuk duduk disamping Sasuke. "Kau sedih atas kematian Ino?" tanya Neji. "Hn, tidak. Aku tidak sedih." Kata Sasuke. "Wajahmu seperti kesal. Kau kesal pada siapa, heh?" Tanya Naruto. Sasuke hanya diam tak menjawab pertanyaan Naruto. "Hhh, kau aneh!" Keluh Naruto sambil menghela nafas panjang. "Hn, mana Sakura?" Tanya Sasuke.

"Dia dikamar bersama Tenten dan Hinata. Memangnya ada apa?" tanya Neji. Sasuke menggeleng. "Ooh, aku tau masalahmu. Kau sedang memikirkan kejadian tadi ya? Kau cemburu pada alis tebal, kan?" Tebak Naruto sambil tersenyum menggoda. "A…aku tidak cemburu!" Ketus Sasuke sambil memalingkan wajahnya. "Ahh, tebakanku tepat sasaran!" Kata Naruto sambil tersenyum bangga. "Kalau kau suka sama Sakura, kenapa kau tidak ungkapkan saja?" Tanya Neji penasaran.

"Iya, dijamin kau takkan ditolak deh sama Sakura-chan. Kau tau, dia sangat menyukaimu lho!" Kata Naruto. "Aku tak percaya padamu, Dobe." Kata Sasuke tak percaya. "Sumpah, kalau aku bohong, kau boleh mencekikku!" Kata Naruto kesal karena perkataannya tak dipercaya. "Iya, Naruto benar. Tenten pernah cerita padaku kalau Sakura sangat menyukaimu." Kata Neji. Sasuke terdiam sejenak. "Aku akan mengatakannya jika sudah waktunya!" Ujar Sasuke.

"Hah, kalau kau makin lama, nanti Sakura-chan keburu diambil orang lho!" Ancam Naruto. "Iya, Sakura takkan mungkin memendam perasaannya terus menerus. Bisa saja nanti dia menyukai Lee." Celetuk Neji. "Heh, si Alis Tebal itu, mana mungkin Sakura suka sama dia." Ketus Sasuke.

"Kan bisa saja." Kata Neji sambil mengangkat bahu. "Aku setuju denganmu, Neji. Lebih baik kau ungkpkan sekarang, daripada nanti menyesal." Kata Naruto."Hhhh, kalau itu mau kalian, baiklah." Ujar Sasuke sambil menghela nafas panjang.

"OK, akan kupanggil Sakura-chan kesini!"

DI BAGIAN SAKURA…

"Kau kenapa, Sakura-chan?" Tanya Tenten. "Ka…kau terlihat sedih." Lanjut Hinata. "Tenten-chan, Hinata-chan, apa aku menyebalkan?" Tanya Sakura lirih. "Kenapa kau berpikir kalau kau menyebalkan?" Tanya Tenten heran. "Entahlah. Hanya saja, aku terlihat menyebalkan didepan Sasuke-kun, ya 'kan?" Tanya Sakura lagi. "Ng…nggak juga kok. Me…menurutku, kamu tidak menyebalkan didepan Sasuke-san." Sahut Hinata sambil tersenyum.

"Lalu, kenapa Sasuke-kun selalu bersikap dingin padaku?" Tanya Sakura(lagi). "Itu sih, kami nggak tau ya. Mungkin saja ada maksud lain dari sikap dinginnya itu." Ujar Tenten mengangkat bahu. "A…apa maksudmu?" Tanya Sakura gugup. "Yah, mungkin saja Sasuke suka sama kamu." Celetuk Tenten. "A…apa katamu! Ja…jangan sembarangan ngomong deh!" Kata Sakura gugup.

"Hah, Sakura-chan, aku bilang kan 'Mungkin' " Kata Tenten sambil menghela nafas panjang. Sementara Hinata hanya tertawa kecil. "Mu…Mungkin itu bi…bisa saja terjadi lho~" Goda Hinata sambil tertawa kecil. "Setuju dengan kamu, Hinata-chan!" Kata Tenten sambil tersenyum lebar.

BLUSH

Sakura sontak saja memalingkan wajahnya. "Wah, wajah Sakura-chan merah! Malu ya?" Goda Tenten. "Ka…Kalian berhenti menggodaku!" Ketus Sakura malu. "Iya deh. Gini aja, coba kamu ungkapkan perasaanmu pada Sasuke." Usul Tenten. "Kamu gila ya? Mana mungkin aku berani!" Kata Sakura kesal. "Harus berani dong! Nanti akan kusuruh Neji-kun untuk membantumu mengungkapkan perasaanmu itu." Ujar Tenten sambil mengacungkan jempolnya.

"A…aku takut Tenten-chan. Bagaimana kalau Sasuke-kun tolak aku?" Kata Sakura lirih. "Hmmm, soal ditolak itu urusan belakang. Yang penting, kamu sudah mengungkapkan perasaanmu itu. Kalau diterima, ya syukur. Kalau ditolak juga nggak apa-apa kok. Beban dihatimu juga akan berkurang." Kata Tenten. Hinata mengangguk setuju. Tiba-tiba saja Naruto datang.

"Widih, lagi nge-gossip ya?" Tebak Naruto sambil tersenyum jahil. "Enak aja! Kami lgi membicarakan hal yang sangat penting tau!" Ketus Tenten. "Iya deh. Sakura-chan, kamu dicari Teme lho." Kata Naruto. "Sasuke-kun? Emangnya ada apa?" Tanya Sakura ragu. "Wah, kayaknya mau ditembak nih!" Kata Tenten. "Ga…Ganbatte ya, Sakura-chan." Kata Hinata. "Kalian apa-apaan sih! Belum tentu tau!" Ketus Sakura malu.

"Aah, udah deh adu debatnya! Teme nanti keburu emosi lho!" Kata Naruto sambil menarik tangan Sakura keluar. "SEMANGAT YA, SAKURA-CHAN! AND GOOD LUCK!" Teriak Tenten dan Hinata bersamaan. Sementara ditempat lain, ada yang mendengarkan percakapan mereka. 'Takkan kubiarkan kau merebut Sakura-chan dariku, Uchiha!'

BACK TO SAKURA….

"Naruto, lepaskan! Sakit tau!" Ketus Sakura. "Sabar bentar lagi, Sakura-chan. Ntar aku lepasin kok!" Kata Naruto yang terus menarik tangan Sakura dengan kuat. "TEME!" Teriak Naruto tiba-tiba. "Nih, pesananmu!" Lanjut Naruto sambil melepaskan Sakura dari tarikannya. "Cih, bukannya kau yang seenaknya membawanya kesini." Ketus Sasuke kesal.

"Yeeeh, Teme. Sudah baik-baik kubawakan Sakura-chan untukmu. Kau malah tidak berterima kasih." Dengus Naruto. "Emangnya aku makanan apa?" Ketus Sakura sambil menjitak kepala Naruto. "Aduuh, Sakit tau! Sasuke mau ngomong sama Sakura-chan." Jelas Naruto sambil memegang kepalanya yang habis dijitak oleh Sakura.

Sontak saja wajah Sakura memerah. Dia malah bertingkah seperti Hinata. Memainkan jari dengan malu-malu. "Ne, Sakura-chan. Kau jadi mirip dengan Hinata-Hime deh." Celetuk Naruto. Tapi, tidak ada satu katapun yang digubris Sakura. Hening. Tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Akhirnya, Naruto pun mengeluarkan suara.

"Hah, nggak ada yang bicara satupun! Teme, bicara dong!" Ketus Naruto kesal. "Berisik!" Desis Sasuke. "Heh, ya sudahlah. Sepertinya kalian butuh untuk berduaan saja. Neji, let's go!" Kata Naruto sambil menarik tangan Neji untuk pergi dari situ. "Ng, Sa…Sasuke-kun, ka…kamu mu ngomong apa?" Tanya Sakura malu-malu. 'YEAH, AKHIRNYA DIA AKAN MENEMBAKKU! SENANGNYA!' Inner Sakura angkat bicara.

"Hn, bagaimana keadaanmu?" Tanya Sasuke basa-basi. Sakura tertunduk lesu. 'Ternyata hanya itu?' Batin Sakura sedih. "Baik." Jawab Sakura singkat dengan nada sedih. "Sebenarnya, apa yang ingin kamu bicarakan padaku?" Tanya Sakura dengan nada agak tinggi. Sasuke sangat kaget mendengar suara Sakura yang seperti marah itu. Sakura sendiri kaget atas perkataannya tadi.

"Aah, gomen. Ka…kalau nggak mau bicara lagi, aku akan pergi." Ujar Sakura lirih sambil berjalan meninggalkan Sasuke. "Hn, tunggu!" Kata Sasuke sambil menarik tangan Sakura. Sakura sontak berbalik sambil menatap genggaman tangan Sasuke padanya. "Ikut aku!" Ujar Sasuke sambil menarik Sakura pergi dari situ. Sasuke membawanya kebelakang pohon besar yang ada ditaman halaman rumah Naruto.

"Sa…Sasuke-kun, ada apa?" Tanya Sakura gugup. Pasalnya, Sasuke mendekatkan dirinya pada Sakura. Hal itu membuat detak jantung Sakura berdetak dua kali lebih cepat ditambah dengan wajah Sakura yang sudah memerah seperti warna buah kesayangan Uchiha bungsu satu ini. "Kenapa dengan wajahmu? Kau sakit?" Goda Sasuke sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura. "Sa…Sasuke-kun, be…berhenti menggodaku!" Kata Sakura pura-pura kesal.

Sasuke pun menjauhkan wajahnya dari wajah Sakura. "Dasar aneh!" Kata Sasuke sambil tersenyum tipis. Sakura yang melihat senyuman itu, malah bertingkah laku aneh/Salting dan wajahnya makin memerah sekarang. Hening sesaat. Sakura teringat perkataan Tenten beberapa waktu yang lalu.

"Iya deh. Gini aja, coba kamu ungkapkan perasaanmu pada Sasuke." Usul Tenten. "Kamu gila ya? Mana mungkin aku berani!" Kata Sakura kesal. "Harus berani dong! Nanti akan kusuruh Neji-kun untuk membantumu mengungkapkan perasaanmu itu." Ujar Tenten sambil mengacungkan jempolnya.

"A…aku takut Tenten-chan. Bagaimana kalau Sasuke-kun tolak aku?" Kata Sakura lirih. "Hmmm, soal ditolak itu urusan belakang. Yang penting, kamu sudah mengungkapkan perasaanmu itu. Kalau diterima, ya syukur. Kalau ditolak juga nggak apa-apa kok. Beban dihatimu juga akan berkurang." Kata Tenten. Hinata mengangguk setuju.

'Apa aku harus mengungkapkannya?' Batin Sakura sambil menatap Sasuke. 'Aku harus mengatakannya!' Lanjut Batin Sakura. Lain halnya yang ada didalam pikiran Sasuke. 'Cih, kenapa akau nggak bisa mengatakannya? Aku memang bodoh!' Batin Sasuke kesal. 'Hn, aku akan mengatakannya sekarang!'

"Sasura-kun." Panggil mereka bersamaan. Karena mereka memanggil secara bersama-sama, nama yang dipanggil jadi terlihat aneh(?). "Hn, kau duluan." Kata Sasuke mempersilahkan. "Ahh, kau duluan." Kata Sakura. "Hn, kau saja." Kata Sasuke. "Baiklah. Gini, se…sebenarnya, a…aku…" Sakura menggantungkan kata-katanya. Ia bingung, apa yang harus dia ucapkan. "Hn? Apa yang kau katakana?" Tanya Sasuke heran.

"Se…sebenarnya a..aku, a…aku, su…sudah la…lama menyukaimu." Kata Sakura malu-malu pada akhirnya. "Hn? Jadi, maksud perkataanmu itu adalah Kau menyukaiku?" Tanya Sasuke dengan alis yang terangkat. Sakura mengangguk malu-malu.

"Hn, kalau begitu…" Kata Sasuke gantung. Sakura hanya menunduk dalam-dalam. 'Ditolak deh.." Batin Sakura lirih. "Hn, aku juga menyukaimu." Ujar Sasuke seraya memalingkan wajahnya. Sakura sontak menatap Sasuke dengan intens. "Ka…kau me…menyukaiku juga?" Tanya Sakura kaget. Sasuke mengangguk sekilas. Wajah Sakura makin menjadi-jadi.

"Hn, maukah kau menjadi pacarku?"

TBC

Hmm, gimana Chap IV ini?

Jelek kah?

Kependekkan kah?

Gak jelas?

Maaf ya, Character Lee disini OOC dan memang sengaja kujadikan Antagonis XD

Chap selnjutnya insyaallah bakal ada Horrornya lagi.

Kalau chap slanjutnya nggak keluar Horror-nya

Aku minta maaf ya.

Hmmm, Chap 5 sedang diproses, klu chap ini respon-nya bagus, akan ku publish secepatnya.

Oh, iya…

Minal Aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir batin ya bagi yang menjalankan.

Minta Review dan Kritiknya ya.

REVIEW PLEASE

THANK YOU.