Gomen lama update, keinginan mengarang pasang surut dan ide ide baru berdatangan, jadi tumpang tindih sama cerita cerita yang lain T.T #deepbow

(a/n)Diclaimer: All Characters Belong to SDK Author, om Kamijyo Akimine :3

OOC, typo mewabah

summary: Akhirnya Tokito mulai jalan dengan Akira, gimana cerita masa-masa pacaran mereka?


Telepon genggamku berdering, segera cepat-cepat kupacu langkahku menaiki tangga menuju kamar, 'GUBRAK', namun kakiku tersandung anak tangga. "Sayang, kau baik-baik saja?" Teriak ibuku dari bawah mendengar bunyi debam yang lumayan keras.

"Sssh, ya buu" Jawabku sambil meringis menahan nyeri. Dengan langkah terseok-seo, aku bersaha mencapai pintu dan meraih handphone yang tergeletak dimeja rias. "Sss...halo?" Sapaku.

"Hei sayang, kau baik-baik saja?" Tanya suara Akira disebrang sana, terdengar cemas.

"Ah um ya, Cuma tersandung dikit, hehe" Kataku tertawa kecil walau sebenarnya ingin berteriak kesakitan. Kudengar akira tertawa kecil.

"Kau tidak bisa berbohong padaku. Baiklah, aku akan mampir kerumahmu sebentar, kau mau kubawakan apa?" Tanyanya.

"Aaah tidak usah lah. Cetek gini ju...aaaw" Sahutku tanpa sengaja terlalu kencang memijat bagian yang berwarna biru.

"Ckckck...Tokitoo, sudah kubilang kau tidak akan bisa berbohong padaku" Katanya lagi. Aku terkikih geli mendengar nada bicaranya, dapat kubayangkan wajahnya yang penuh kemenangan berhasil mengungkap kedokku. "Ya sudah deh, kubawakan sushi saja, ya? Karena kukira buah buakn hal yang tepat untuk tuan putriku yang sedang sakit kaki ini" Sambungnya.

"Hehe, terima kasih banyak" Kataku tersenyum malu walau mungkin dia takkan mampu melihatnya.

"Oke, sampai jumpa disana" Katanya lalu segera menutup telepon begitu aku membalas ucapannya. Kutatap layar ponselku dimana foto kami berdua terpasang. Senyuman tipis menghiasi wajahku, sudah dua minggu lebih aku jadian dengannya dan kuakui dia memang seorang kekasih yang baik. Akulah yang tidak baik itu, karena aku terkadang masih suka melihat kearah jendela dimana terdapat rumah Kyoichiro berada.

Yah mungkin ini baru awal-awal. Melupakan cinta yang kau pikirkan selama dua belas tahun itu bukan perkara mudah, bukan?. Dan juga duabelas tahun itu bukanlah waktu yang sebentar, ada 144 bulan, 4.230 hari yang kugunakan hanya untuk menatap jendela kosong disebrang sana. Aku hanya berharap, Akira benar-benar bisa membuatku lupa akan hal itu dan kebiasaanku. Ya, tak ada lagi yang bisa kuharapkan selain dia.


"Halo? Aku tidak melihat tuan putri menyambutku di pintu?" Tanya Akira menololkan (sp?) kepalanya dari balik pintu geser ruang keluarga dimana aku terduduk manis disofa disitu.

"Maaf deh, dengan kaki begini mana mungkin aku menyambutmu, berdiri aja susah" Gerutuku kesal seraya menunjukan kakiku yang memerah dan diperban. Aku tak menyangka kecelakaan kecil beberapa jam yang lalu itu membuat kakiku sedikit keseleo. Akira tertawa kecil lalu duduk disampingku. Ia menaruh sekotak sedang dalam keresek yang mungkin berisi sushi yang dijanjikannya itu.

"Ya sudah, istirahatkan saja dulu" Katanya lembut sambil mengusap-usap punggung tanganku. Aku tersenyum simpul, kemudian menyandarkan kepalaku dibahu bidangnya. Mungkin keseleoku ini tidak terlalu buruk juga, setidaknya aku ada alasan bisa bermanja-manja padanya #ups.


Hari yang cerah di musim gugur adalah waktu yang sangat pas untuk berlibur kedanau digunung Kudo. Suasana alamnya yang masih asli, dengan perpaduan warna oranye dari pohon-pohon yang berguguran sangat memanjakan mata siapapun yang melihatnya. Segala keindahan itu bertambah sempurna dengan ikutnya Akira berlibur dengan keluargaku.

Secara mengejutkan ayah dan ibuku mengajaknya dalam liburan keluarga kali ini dan dia pun mengiyakan. Yah mungkin biar dia menjadi baby sitter-ku. Secara aku ini walaupun sudah berumur kepala dua tapi masih suka kesana kemari layaknya anak kecil. "Wuaaah, lihat-lihat airnya jernih sekali. Ayo kita turun kebawah" Kataku seraya menarik-narik lengan Akira yang baru saja menaruh dua tas besar milikku dan dia dirak penyimpanan tas dikamar hotel.

"Aduh Tokito, sabar dong. Istirahat saja dulu. Akira mungkin capek, kan?" Tegur ayahku. Aku menggerutu pelan lalu duduk dikasurku.

"Haha, bentar ya sayang." Ujar Akira mencubit gemas hidungku lalu duduk disampingku. Lupandangi beranda kamar hotel dimana pemandangan danau langsung terlihat dari situ. Air danau yang tenang rasanya membuatku yang hobi berenang ini ingin langsung saja nyebur kedalamnya. Tapi tentu tidak mungkin, karena ini musim gugur dan suhu air mencapai sepuluh derajat celciulus. Bisa-bisa kena hipotermia. Dengan mengenakan pakaian tebal seperti ini saja nafasku sudah berembun dan aku masih saja terkadang menggigil kedinginan. Hawa dingin memang sudah terasa walau salju belum mulai menampakan wujudnya.

"Hei, ayo" Perktaan Akira membuyarkan lamunanku. Kulihat ia sudah berdiri sambil mengulurkan tangan mengajakku pergi kedanau itu. Sambil tersenyum dengan semangat kugenggam tangannya dan langsung menyeretnya keluar kamar. Tentu ini karena aku adalah seorang perempuan yang lumayan energik, apalagi kalau dibawa ketempat yang masih bernuansa alam seperti ini.


Suasana danau yang tenang dan sunyi mendamaikan pikiran siapapun yang ada disitu. Aku melepas sarung tanganku dan menciduk air danau dengan kedua tanganku. Sensasi dinginnya membuat sekujur tubuhku menggigil. Tapi tentu itu tidaklah membuatku kapok untuk lalu bermain-main air didekat pinggiran danau itu, menimbulkan riakan kecil yang memanjang hingga menghilang beberapa meter dari tempatku berada.

"Awas, jangan terlalu jauh" Ujar Akira sambil memegangi pinggangku.

"Ah lihat, ada ikan" Seruku menciduk seekor ikan kecil dengan keduan tanganku. Ikan mungil itu berenang-renang dikolam kecil yang dibentuk oleh kedua tanganku. Saat tengah asyik mengamati ikan kecil itu, kusadari nafas hangat Akira menyapu lembut pipiku, membuat pupil mataku melirik padanya.

Ketika kusadari kami tengah saling beradu pandang, Akira tersenyum padaku lalu mencium pipiku. Membuat kedua pipiku merona merah, namun tentu bukan karena udara dingin yang menyelimuti seisi wilayah danau ini. Akira menyandarkan dagunya dibahuku dengan wajah menghadap padaku. "Aku menyayangimu, Tokito" Bisiknya lalu mencium lembut lagi pipiku. Aku sempat terdiam beberapa detik, mencerna ucapan yang baru saja dilontarkannya, lalu tersenyum.

"Aku juga menyayangimu, Akira" Kataku. Dapat kurasakan Akira tersenyum walau aku tak melihat wajahnya. Bagaimana bisa aku menatap wajahnya sedekat ini. Bisa-bisa nanti wajahku malah terbakar lagi.

"Lepasin ikannya, tuh. Dia pasti kangen sama temen-temennya" Katanya. Oh iya, aku sampai melupakan nasib ikan malang ini. Kucelupkan tanganku kedalam danau dan ikat itu lalu segera berenang cepat menuju kedalaman danau.

Matahari terbenam diufuk barat kami nikmati dipinggir danau seraya berangkulan saling menghangatkan. Kami saling bercerita tentang banyak hal, namun tak ada satupun dari hal yang kami bicarakan hal yang menyakitkan atau menjurus ke arah itu. Karena tak satupun dari kami ingin merusak keindahan sempurna yang sudah menghiasi hampir seharian ini.

Sinar Matahari terbenam dan sunyinya danau menjadi saksi bisu menguatnya hubungan cinta antara dua insan manusia, antara kami. Kehangatan cintanya serasa melumuri seluruh jiwaku, membawa ketentraman yang rasanya sudah lama sekali tidak kurasakan.

.

.

.

Tbc


(a/n) Akhirnya rebes eh beres juga chappie ke-empat. Mangap kalau kelamaan karena alasan yang saya sebutkan diatas.

psst, spoiler: kemungkinan chappie ke lima bakalan ngebahas pertemuan Tokito dan Kyoichiro setelah terpisah selama dua belas tahun (kalau author gak dapet wangsit baru yang bikin cerita nambah molor xD #plak)

anyway, RR please

Review anda semangat saya :3