"Big Bang datang.. Big Bang datang.." grasak-grusuk terdengar dipenjuru kampus saat mobil yang dikendarai GD dan juga kawan-kawannya memasuki parkiran sekolah. Big Bang memang sudah dikenal dikalangan para murid dan guru karena tingkah mereka yang menguras emosi. Disaat hukum mulai mengambil alih, politik uang terencana didalamnya mampu mengacaukan hukuman bagi mereka. Dan bagi siapapun pelapor hanya akan mendapatkan ganjaran kejam dari Big Bang. Semua mulai mewanti-wanti saat Big Bang terlihat berseliweran disekitar Luhan dan benar saja anak itu telah masuk perangkap. Luhan tak lagi dikenal akan kelembutan dan paras menawannya. Namun semua orang menjadi takut padanya karena Luhan menjadi lebih tak terkendali, bahkan melebihi para anggota Big Bang, sang provokator baginya. Semua orang sangat menyayangkan hal tersebut.

"Ya, Youngjae!" Luhan berteriak kala anak kurus kerempeng lewat dihadapannya dengan takut-takut. Luhan beranjak lalu merangkul pundaknya sok akrab. "Kau mata, telinga dan juga mulutku, Youngjae! Apa berita yang akan kau perdengarkan untukku?" Luhan bertanya dengan nada mengancamnya membuat tubuh Youngjae bergetar, ia juga menahan kencingnya diujung kemaluan. Youngjae adalah murid Ma Shou yang berasal dari Korea. Dia salah satu murid teladan yang dipercaya guru-guru. Maka tak arang jika Youngjae akan lebih tahu banyak hal karena sering keluar masuk ruang guru dikampus mereka.

"Ha-hari i-ini..." Youngjae menjawab dengan tergagap membuat Luhan mendegus jengah.

"Bicara yang jelas." Kesal Luhan menempeleng kepala Youngjae.

"Ha-hari ini akan ada murid pertukaran dari Korea Selatan, namanya Byun Baekhyun."

"Oh, astaga! Kau akan bertemu teman satu spesiesmu, Youngjae!" seru Luhan berpura-pura. "Lalu kenapa kau terlihat sedih?" Luhan mencengkeram dagu Youngjae lalu melepasnya dengan kasar.

"Karena ia akan bernasib sama denganku." Youngjae membatin.

"Anak baru itu, semester berapa?" tanya TOP yang sedari tadi hanya diam mengawasi.

"Semester empat."

"Whoaa! Dia satu kelas denganmu sepertinya." GD berujar sembari menepuk pundak Luhan. Ya, Big Bang memang berada satu tingkat diatas Luhan. Karena itu mereka lebih dahulu ditakuti daripada Luhan.

"Apa kita akan melakukan penyambutan?" Dasheng bertanya.

"Ya, tentu saja." Luhan menjawab dengan senyum iblis terpatri diwajah malaikatnya yang kontras sekali.

.

.

Baekhyun memasuki kelas pertamanya sebagai murid transfer di Ma Shou. Ia memulai dengan perkenalan dan parasnya yang ceria benar-benar membuat Luhan muak. GD benar dengan ucapannya jika Baekhyun akan sekelas dengan Luhan.

Baekhyun duduk dikantin menikmati makan siangnya. Ia hendak menyumpitkan sesuap nasi ketika dengan tiba-tiba sekujur tubuhnya basah oleh air.

"Ya! Apa-apaan kau?" Baekhyun berteriak tidak terima dalam bahasa Korea. Luhan dan anggota Big Bang tertawa puas.

"Ini salam hangat dari kami, kau suka?" Luhan mencolek dagu Baekhyun yang langsung ditepisnya. Mama Luhan berasal dari Korea, maka dari itu ia bisa berbicara lancar bahasa Korea pula. Jadi ia tidak akan kesulitan untuk berargumentasi dengan Baekhyun kedepannya. Karena menurut penglihatan Luhan, Baekhyun memiliki wajah-wajah pembelot dan Luhan senang akan hal itu. Karena itu akan lebih menantangnya untuk berbuat lebih, tidak seperti kebanyakan anak yang akan berlari menangis dan meringkuk dalam pelukan ayah dan ibunya.

"Kalian gila!" cela Baekhyun sebelum beralih pergi meninggalkan Luhan dan Big Bang.

.

.

Baekhyun beradaptasi dengan cepat, ia dengan mudah mengenal siapa Luhan dan kawanan bringasnya yang lain. Baekhyun melewati hampir lima bulannya dengan segala tingkah tak waras Luhan dan Big Bang padanya. Meski terkadang Baekhyun akan melawan dan berakhir dengan babak belur karena pukulan anggota Big Bang yang lain. Baekhyun akhirnya menjadi terbiasa jika harinya dikacaukan Luhan dan Big Bang, membuatnya menatap malas pada Luhan yang tidak ada jengah-jengahnya saat mengerjainya.

Luhan seringkali menjegal Baekhyun hingga ia jatuh dan lututnya lecet. Menambah garam pada jatah makan siang Baekhyun. Menghilangkan buku pelajaran Baekhyun, mencoba menenggelamkan Baekhyun saat kegiatan ekstrakulikuler berenang sedang berlangsung. Menendang Baekhyun dengan bola, karena Luhan cukup lihai bermain sepak bola. Dan masih banyak lagi.

"Aku mengutukmu, Luhan!" kesal Baekhyun karena Luhan membuat kakinya terkilir. "Kau akan mengalami penderitaan melebihi apa yang aku dan anak-anak lain rasakan –dalam konteks anak-anak yang dibully Luhan. Luhan mengibas tangannya acuh dan berlalu. Tidak menyadari jika kutukan Baekhyun benar-benar terjadi padanya dalam waktu dekat.

.

.

Setelah malam dimana Luhan dijamah orang tak dikenalnya, menghilangnya para anggota Big Bang dan kembalinya ketentraman dikampus. Semua terjadi begitu saja membuat beberapa anak terheran-heran. Luhan masih mengikuti kegiatan belajarnya setelah beberapa kali melewatkan kegiatan dikampusnya karena home schooling dari babanya. Baekhyun terkadang merasa kasihan kepada Luhan yang menatap kosong sekitarnya dan berdiam diri di pojokkan kelas. Namun, mengingat semua perilaku Luhan membuat Baekhyun urung untuk menemaninya.

Malam itu hujan turun dengan deras, Baekhyun pulang terlambat karena ia menyelesaikan tugas skripsinya dikampus. Sebentar lagi ia akan menyelesaikan semester limanya dan segera pulang ke Korea setelah itu. Baekhyun sudah menunggu namun tak kunjung reda pula, hingga ia memilih untuk meminjam payung pada petugas kantin yang ada dikampus dan berjalan dibawah payung menuju kos-kosannya.

Baekhyun yakin ia tidak mengalami gangguan penglihatan. Tapi, ia juga yakin jika melihat siluet mirip Luhan yang baru saja terjatuh tergeletak dipinggir jalanan ditengah derasnya hujan. Bahkan kilat dan guntur terkadang ikut meramaikan hujan yang tak kunjung mereda ini. Digerakkan oleh rasa manusiawi, Baekhyun menghampiri sosok tersebut.

"Luhan!?" teriak Baekhyun membuang payungnya. Ia letakkan kepala Luhan dipahanya dan mengguncang tubuh pucat Luhan dengan pelan, hingga Baekhyun akhirnya tersadar jika tangan kirinya yang ikut menyangga kepala Luhan berwarna merah. Baekhyun tidak bodoh untuk mengenali jika itu darah. Dengan panik Baekhyun mencoba menghentikan kendaraan yang berlalu-lalang sambil meneriakkan pertolongan bagi siapapun yang lewat ditengah derasnya hujan. Dan ketika sebuah mobil berhenti membantunya, Baekhyun berterimakasih pada pria tinggi dengan bola mata lebarnya dan cuping telinganya yang mirip peri itu.

Baekhyun begitu panik kala tubuh Luhan memasuki ruang ICU dan beberapa tenaga medis lain menutup masuk kedalam ruang tersebut. Baekhyun menunggu dengan sabar mengabaikan tubuhnya yang menggigil kedinginan. Ia sudah lama tak bertemu Luhan, dan Baekhyun sangat ingin mengumpat pertemuan tidak elitnya dengan Luhan hari ini.

.

.

Seorang dokter keluar dan berbicara bahasa Cina, Baekhyun hanya menangkap maksud dokter yang menanyakan keluarga korban. Maka dengan sigap Baekhyun mengangkat tangannya dan menghampiri dokter. Dokter tersebut kemudian berbicara dengan bahasa Cina lagi yang kali ini sialnya Baekhyun tidak mengerti apa yang ia bicarakan. Hingga akhirnya pria penolongnya tadi menjelaskan padanya dengan bahasa Korea.

"Pasien mengalami pendarahan pada bagian kepalanya akibat benturan keras, dia membutuhkan transfusi darah. Jika kau berkenan dokter akan melakukan cek karena kantung darah di RS ini sudah habis digunakan."

"Bisa kau tanya apa golongan darahnya?"

Pria itu kembali menanyakan dan menerjemahkannya pada Baekhyun.

"Golongan darah pasien O." Baekhyun melonjak senang dalam hatinya. Ia lalu mengangguk mantap dan akan menolong Luhan. Dokter membawanya pada suster yang akan mengambil sampel darah darinya untuk Luhan sementara setelahnya sang dokter menjelaskan kembali kondisi Luhan.

.

.

"Suplai darah telah terpenuhi dan Luhan masih dalam kondisi kritis. Bayi Luhan baik-baik saja meski dokter berkata ada sedikit guncangan pula diperutnya. Tapi sepertinya Luhan melindungi jabang bayinya dari kecelakaan itu meski berimbas pada saat ini masih dinyatakan koma."

Baekhyun terperanjat, ia menatap pria didepannya tak percaya.

"K-kau b-bercanda?"

Pria dihadapannya menatap prihatin. Dia sudah bisa menangkap dari gelagat Baekhyun jika pria mungil dihadapannya ini juga baru mengetahui kehamilan sosok yang dipanggil Luhan tersebut. Baekhyun terduduk lemas dikursi dan airmatanya terjatuh.

"Maafkan aku, aku turut bersedih." Pria bercuping peri itu menepuk pundak Baekhyun, memberinya kekuatan disana. "Ini tas Luhan." Ia menyerahkan travel bag hitam yang setengah basah itu pada Baekhyun. "Maafkan aku juga, aku masih ada urusan. Aku harus meninggalkanmu."

Baekhyun masih terdiam dan baru tersadar saat dirinya tidak sempat menanyakan siapa nama pria tersebut. Dan Baekhyun juga menyadari kebodohannya yang bahkan tidak mengucapkan terimakasih pada penolongnya itu.

.

.

Luhan sudah dipindahkan dari ruang ICU dan berada disalah satu bangsal rumah sakit. Baekhyun selalu menjenguk Luhan disela-sela kegiatan kuliahnya. Ini sudah hampir empat bulan berlalu, ia juga sudah menyelesaikan semester limanya dan akan segera meluncur kembali ke negara asalnya. Baekhyun sudah mengetahui kenyataan tentang Luhan yang didrop out dari kampus. Luhan yang pergi dari rumah dan Luhan yang hamil. Baekhyun membaca buku Luhan dan ia sudah menyimpulkan kehidupan apa yang dialami Luhan, yang merubahnya menjadi sosok bermata kosong beberapa waktu lalu.

"Tagihan rumah sakit untuk pasien Luhan sudah dibayarkan."

Baekhyun kembali mengernyit. Ia tidak pernah sekalipun mengeluarkan biaya untuk perawatan Luhan meski Baekhyun sudah mengumpulkan sebagian uang sakunya. Ia sangat bersyukur sebenarnya karena ada yang menanggung biaya Luhan. Maklum saja, Baekhyun hanya berasal dari keluarga yang berkecukupan.

"Siapa yang membayarnya? Hanya aku anggota keluarganya." Baekhyun mencoba kembali mengorek informasi.

"Maafkan kami. Kami dilarang untuk membuka identitasnya."

Baekhyun pun menyerah untuk mencari tahu. Tapi yang pasti ia selalu mengucap beribu terimakasih pada siapapun itu yang turut membantunya juga Luhan. Baekhyun berbalik menuju kamar inap Luhan meninggalkan satu sosok yang menatap punggung sempitnya dengan senyum tulus. Sosok yang sama yang membantunya sejak awal ia menemukan Luhan tergeletak tak berdaya dipinggir jalan.

"Bangunlah, Luhan. Apa kau tidak lelah tertidur?" Baekhyun kembali mengajak Luhan berbicara. Dengan telaten ia menyibin tubuh Luhan dengan waslap dan air hangat.

"Kau tidak sendirian, Luhan. Kau memiliki aku. Aku Byun Baekhyun berjanji akan selalu bersamamu dan membantumu menghadapi kesulitan. Kita akan menghadapinya bersama. Aku, kau dan jabang bayi diperutmu." Baekhyun mengusap perut Luhan yang mulai membuncit. Kandungan Luhan bisa dikatakan rentan. Jika Luhan masih menolak untuk sadar, ia akan kehilangan bayinya.

"Kau harus bertahan, Luhan. Bayimu membutuhkanmu, jika kau tidak bangun kau juga akan kehilangannya." Bisik Baekhyun lalu menggenggam tangan Luhan. Memperhatikan Luhan yang terbaring pucat dengan bantuan alat medis.

Jari Luhan bergerak kecil membuat Baekhyun terpekik, mata Luhan juga bergerak kecil ingin membuka. Baekhyun tanpa babibu menekan bel disebelah ranjang Luhan dan tak lama dokter datang dengan beberapa suster. Baekhyun menunggu diluar dengan cemas dan ketika dokter keluar dengan tampang bahagianya, Baekhyun tak bisa untuk tidak mengulas senyum manisnya.

.

.

"Pasien Luhan sepenuhnya sadar. Bersyukurlah pada Yang Kuasa."

Dokter menyalaminya dan Baekhyun menyambutnya dengan girang.

Seminggu terlewat sudah dan Luhan diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Luhan menangis sejadi-jadinya saat tahu penolongnya tak lain dan tak bukan adalah seseorang yang dianggapnya musuh selama ini, sedangkan mereka yang Luhan sebut teman sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Tidak teman dan tidak pula keluarganya. Luhan meringis pelan menyadari jika ia sudah dibuang.

"Kau memilikiku, Luhan. Ingatlah hal itu."

Dan Luhan berhutang budi kepada Baekhyun dalam banyak hal. Dan Luhan hanya mampu berterimakasih atas itu.

"Masa transferku sudah berakhir, Luhan. Aku sudah mengurus kembali kepindahanku." Luhan menahan dirinya untuk tidak menangis. Ia tahu jika Baekhyun akan segera pulang ke negara asalnya. Luhan menyayangkan hal itu, karena Luhan hanya memiliki Baekhyun. Tapi ia juga tidak bisa egois untuk menahan Baekhyun dan mengajaknya hidup sulit seperti dirinya.

Baekhyun mendekati Luhan. "Kenapa kau bersedih, eum?"

"Aku hanya bisa berterimakasih padamu atas segalanya yang kau perjuangkan untukku, Baek. Maaf membuatmu sulit. Berhati-hatilah, aku mendoakanmu darisini."

"Kenapa kau berkata seperti itu, Luhan? Aku memang akan pulang ke Korea. Tapi aku tidak akan pulang sendiri." Baekhyun mengeluarkan dua tiket penerbangan disakunya. "Karena aku akan membawamu bersamaku." Ia memeluk Luhan. Luhan menangis dengan keras.

"Sudah kukatakan bukan? Aku akan selalu bersamamu, Luhan."

"Terimakasih, Baekhyun. Terimakasih."

.

.

Title : The Mad Baba

Main Cast : Xi Luhan – Oh Sehun

Rated : M (Mecuum)

Genre : Romance & Drama

Lenght : Chaptered

Warning : YAOI/ M-PREG!/ DLDR/ Typo(s)/ its HUNHAN AREA! SIDERS AND HATERS ARE NOT ALLOWED!

.

.

.

YO! I'm right here again

I'm drop the Hunhan Fict BL

The new revolution just started again..

.

.

.

Previous chapter

Luhan tanpa sadar mengeraskan tangisannya.

"Ziyu..hikss..hikss..D-dia menolakku.." Luhan menatap Baekhyun. Ziyu yang melihat Luhan menangis tiba-tiba menggigit bibirnya. Ia pun beringsut mengarahkan tangannya kepada Luhan.

"P-papapapaa.." lirih Ziyu ikut bergetar. Luhan yang melihat itu tak melewatkan kesempatan. Ia langsung meraih Ziyu dan membawanya kedalam pelukan. Ia kecupi Ziyu bertubi-tubi dengan penuh kasih sayang.

"Jangan menolak baba lagi, Ziyu. Jangan.." Pinta Luhan berbisik meski yang lain masih mampu mendengar. "Baba hanya memilikimu, jangan tolak baba." Racau Luhan lagi mengeratkan pelukannya pada Ziyu yang juga memeluk erat dirinya. Luhan pun berbalik melangkah pergi diiringi Baekhyun dan Kyungsoo yang menatap Luhan iba.

"Dia benar-benar gila."Baekhyun berujar dalam hatinya. Namun matanya dan bibirnya mengukir senyum tulus untuk Luhan. Dia mengerti keadaan Luhan, dia bisa merasakan kesedihan Luhan. Luhan telah kehilangan segalanya dan ia hanya memiliki Ziyu sebagai pondasi dasar tujuan hidupnya.

"Kau tidak sendirian, Luhan." Bisik Baekhyun yang mensejajarkan langkahnya dengan Luhan juga Kyungsoo.

Sementara Sehun masih terdiam dengan segala kejadian yang dialaminya barusan. Ada perasaan nyaman kala dirinya dianggap sebagai sosok ayah bagi putera Luhan. Dan Sehun perlahan mengerti kenapa Luhan disebut-sebut 'gila' oleh sebagian orang. Sehun tetap memperhatikan Luhan sampai kemudian menyadari, tak jauh dari mereka ada sebuah mobil dengan manis bertengger ikut memperhatikan.

"Appa..."

.

.

Chapter 4

"Apa hubunganmu dengan Luhan?"

Kyuhyun tersenyum lalu memandang kearah puteranya.

"Hubungan yang tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata."

Sehun berdecih malas. Dia mengakui dirinya brengsek tapi dia mengakui jika ayahnya jauh lebih brengsek darinya. Pikiran Sehun berlari kepada Luhan, menebak apa mungkin Luhan pria simpanan ayahnya yang membuat ibunya selama ini menderita. Tapi Sehun juga yakin jika Luhan bukan pria seperti itu. Setampan atau sekaya apapun ayahnya, ia yakin bukan itu alasannya. Tapi apa? Sehun sangat tidak suka menebak-nebak hal yang bisa membuatnya meledak.

"Hubungan apapun itu, percayalah jika semua tidak seperti apa yang ada didalam pikiranmu saat ini." Kyuhyun menepuk bahu Sehun dan berlalu meninggalkan puteranya didalam ruangan besar dirumahnya.

"Sayang, apa kabarmu?" Kyuhyun mengecup kening sosok pria mungil yang memejamkan matanya diatas ranjang. Kyuhyun tersenyum lagi saat tak mendapatkan jawaban lagi dari sang empu. "Aku membawakanmu lily lagi hari ini, kau suka?" Kyuhyun bertanya dan hanya dengungan angin yang menjawab. "Ini sudah hampir dua tahun kau tertidur, tidakkah kau lelah?" Kyuhyun menatap sendu sosok dihadapannya. "Jika kau tidak bisa bangun untukku, bangunlah untuk putera kita, Sehun." Kyuhyun meletakkan kepalanya diatas tangannya yang menggenggam sosok tersebut.

"Bangunlah, Sungmin. Aku membawa kenyataan lain untukmu tentang Sehun. Aku membutuhkan kau untuk itu. Bangunlah." Kyuhyun menangis dan tak lama tertidur dengan tangan yang bertaut erat.

Sehun terbangun dengan kondisi dan mood yang sangat buruk. Apalagi setelah dirinya menemukan beberapa berkas Luhan didalam ruangan milik ayahnya. Sehun tidak ingin berpikir macam-macam, namun semua ini membuatnya memikirkan hal itu.

"Tuan Sehun, anda baik?" Paman Kim bertanya pada Sehun yang terlihat sekali kacau meski tatanan penampilannya sangat rapi dan tentu saja tampan.

Sehun mendegus cukup keras.

"Apa hubungan appa dengan Luhan?" Sehun bertanya sambil memandang serius paman Kim.

Paman Kim mengurai senyumnya. "Jadi karena hal ini Anda gelisah?"

"Katakan padaku. Aku hanya bisa mendapatkan jawaban darimu. Ayahku terlampau pintar, ia membuat semua orang menutup mulut." Sehun geram sendiri.

"Kenapa Anda penasaran, tuan Sehun?"

Sehun mengerat giginya. Bersumpah jika paman Kim tidak mendapatkan perlindungan penuh dari ayahnya, maka ia akan menghancurkan orang itu dengan tangannya.

"Karena ini menyangkut Luhan."

Dan jawaban tersebut membuat paman Kim kembali mengulas senyumnya.

"Kalau begitu saya akan menjawab." Paman Kim berujar pelan membuat perhatian Sehun sepenuhnya terarah padanya. "Karena ini menyangkut tuan Sungmin. Tuan Kyuhyun melakukan ini karena tuan Sungmin, ibu Anda."

Sehun mengernyit, namun masih menunggu jawaban lain dari paman Kim.

"Lalu?" tanya Sehun saat paman Kim bungkam cukup lama.

"Maafkan saya, tuan Sehun. Saya hanya dapat mengatakan hal tersebut. Jika Anda benar-benar mencari jawaban tentang apa yang Anda pikirkan saat ini, sebaiknya bertemu dan bicaralah langsung pada orang yang bersangkutan."

Sehun merasa tertampar. Sekali lagi, jika bukan karena ayahnya ia sudah pasti menghanguskan sosok dihadapannya.

Luhan melap kaca perusahaan Sehun dengan sangat riang. Berbalik dengan Sehun, mood Luhan sangat bagus hari ini. Seminggu lagi Ziyu akan genap berusia 2 tahun, dan Luhan sedang menabung untuk merayakannya bersama Kyungsoo dan Baekhyun. Yah, meskipun hanya pesta kecil-kecilan, tapi yang penting bagi Luhan adalah momen kebersamaan mereka. Luhan tersenyum-senyum kecil dengan tangannya yang telaten melap kaca tersebut.

"Luhan hyung." Seseorang memanggil namanya lalu berlari kearahnyaa. Tanpa menoleh Luhan tahu siapa gerangan yang memanggilnya.

"Taeyong-ah, ada apa?"

Taeyong menggeleng sesampainya dihadapan Luhan. "Hanya ingin menyapa." Tukasnya jujur. "Aku melihat kau sangat senang hari ini. Ada apa?" Luhan kembali terenyuh. Taeyong memang pribadi hangat, ceria dan peduli. Tak jarang ia akan membantunya melewati masa sulit. Taeyong sudah Luhan anggap seperti adiknya sendiri, meski Taeyong tidak menginginkan hal tersebut.

"Apa Ziyu dapat calon ayah baru?" goda Taeyong membuat Luhan mendegus dan memutar bola matanya malas. Kedua tangannya berada dipinggang dengan tatapan menyalak pada Taeyong, membuat gestur marah meski berakhir dengan sangat menggemaskan bagi Taeyong.

"Mulutmu itu benar-benar! Baru saja aku memujimu didalam hatiku." Sungut Luhan membuat Taeyong tertawa.

"Aku tahu, Luhan hyung. Sebentar lagi ulang tahun Ziyu, bukan?"

Luhan mengangguk semangat.

"Jadi, Taeyong-ah... bisakah kau pesankan lagi manisan seperti tahun kemarin? Aku akan membagikannya untuk beberapa pegawai disini."

Taeyong menatap Luhan serius.

"Lagi, hyung?" tanya Taeyong tak yakin. Luhan pernah membagikan manisan pada beberapa pegawai yang cukup dekat dengannya dan Ziyu. Namun tetap saja, Luhan harus menahan lapar dan hausnya untuk berbagi hari spesial Ziyu tersebut. Bukan maksud Taeyong menghina pendapatan Luhan, namun karena ia mengkhawatirkan Luhan.

"Kau tahu itu tidak perlu, hyung." Gumam Taeyong pelan. Luhan tersenyum hingga matanya menyipit menyerupai bulan sabit. Senyuman itu menular pada Taeyong, ia juga tersenyum.

"Aku melakukannya dengan tulus, Taeyong-ah. Aku ingin berbagi, meski dengan makanan kecil dan murah. Tapi setidaknya, kita semua bisa menikmatinya."

Taeyong mengangguk pasrah. Tahu benar watak batu Luhan.

"Dan carikan lagi diskon untukku. Kau bilang toko pemilik manisan itu adalah saudaramu, coba nego harganya. Siapa tahu aku bisa kembali mendapat harga yang murah." Gurau Luhan yang kembali ditanggapi serius oleh Taeyong.

"Baiklah, hyung." Taeyong memberikan jempolnya untuk Luhan dan pamit berlalu. Namun setelah lima langkah beranjak Taeyong kembali memandang Luhan yang masih memperhatikannya.

"Luhan hyung!" Panggil Taeyong cukup keras. "Jika kau belum juga menemukan calon ayah untuk Ziyu, aku masih mendaftarkan diri. Aku memegang polling tertinggi, kau ingat?" Taeyong mengambil langkah satu-satu sambil berjalan mundur dan tetap mengarah pada Luhan. "Saranghae, hyung." Taeyong menempatkan kedua tangannya dikepala membentuk 'love'. Lalu ia kembali berjalan dengan benar meninggalkan Luhan yang tertawa dengan tingkah ajaib Taeyong.

"Anak itu! Dasar! Dia kira aku ini pedofil!" Sungut Luhan kembali menghadap kaca disamping kanannya. Baru saja kain lapnya menempel, Luhan sudah tersentak saat melihat bayangan yang terpantul dikaca dari sosok dibelakangnya. Dengan cepat ia berbalik menghadap sosok tersebut dan membungkukkan badannya memberi hormat.

Sehun mengamati Luhan yang tergugup didepannya. Ia tidak suka pemandangan yang baru saja terjadi dihadapannya. Sehun pastikan akan mem-blacklist sosok yang dipanggil Taeyong tadi.

"Aku ingin bicara."

"Bicaralah, presdir Oh."

"Ikut aku keruanganku."

Luhan terdiam. Sekelebat memori membayanginya membuatnya ragu untuk mengikuti langkah Sehun.

"Aku tidak akan menerkammu kali ini. Cepatlah!" sedikit bentakan disana membuat Luhan dengan cepat menyamai langkah panjang Sehun keruangannya. Luhan simpulkan jika Sehun memang tengah mengajaknya bicara serius, bukan hal lain yang akan berakhir dengan desahan jika hanya ada mereka disebuah ruang tertutup.

Sehun duduk dikursinya dan meminta Luhan duduk dihadapannya.

"Sejak kapan kau mengenal ayahku?" Sehun melontarkan pertanyaannya tepat setelah bokong Luhan mendarat dikursi empuk milik Sehun.

"Beberapa hari setelah aku diterima bekerja disini." Jawab Luhan.

"Apa aku bisa mempercayaimu?"

Luhan mengernyit lalu menangkap kearah mana Sehun berbicara.

"Aku tidak suka berbohong, presdir." Jawab Luhan jujur.

"Apa kalian memiliki hubungan lain diluar 'atasan dan karyawan'?"

Luhan terkejut, matanya membola lebar dan ia mengumpati Sehun didalam hatinya.

"Apa Anda memandang saya serendah itu?" tanya Luhan tak percaya. Sehun tersentak, mengacak rambutnya yang telah ditata dengan rapi.

"Bukan begitu!" nada Sehun naik satu tingkat. "Ayahku sangat peduli padamu, dan semua itu menggangguku." Aku Sehun. Matanya memandang frustasi kearah Luhan. "Aku tidak mempercayai ayahku, tidak sepenuhnya percaya. Aku memang brengsek, tapi aku mengakui jika ayahku juga sangat brengsek. Aku hanya khawatir jika kalian memang memiliki hubungan."

"Siapa yang Anda khawatirkan, presdir?"

"Berhenti berbicara formal ketika hanya ada kau dan aku disini." Sehun menatap tajam Luhan.

"Siapa yang kau khawatirkan disini?"

Sehun menatap iris Luhan, dengan lekat dan tanpa ada keraguan ia berujar "Kau, Luhan. Kau!" Membuat mata Luhan kembali membola. "Aku mengkhawatirkanmu."

Jawaban Sehun membuat Luhan terdiam kaku. Meski ia sudah menduga, namun Luhan pikir Sehun lebih mengkhawatirkan hubungan ayah dan ibunya. Luhan pun tersenyum, melihat Sehun bisa sefrustasi ini hanya karena afeksi Kyuhyun padanya.

"Presdir Kyuhyun melakukannya karena istrinya, tuan Sungmin." Luhan membuka suara. Tatapannya mengarah lurus tepat menghunus manik Sehun yang juga menatapnya. "Ia hanya mengatakan tentang hal itu. Dan tidak menjelaskan detailnya padaku meski aku sudah berulangkali bertanya padanya." Luhan menjawab dengan sungguh-sungguh.

Sehun menautkan kedua tangannya dan meletakkan dahinya disana.

"Percayalah, apapun itu ayahmu tidak melakukan apa yang saat ini sedang kau pikirkan. Aku percaya padanya, kau pun juga seharusnya melakukannya." Luhan menatap mata Sehun lembut memberi keyakinan disana. Semua biasa saja hingga desiran itu kembali menyentak keduanya. Rasa tak asing itu kembali hinggap, keduanya merasa pernah sama-sama saling menatap. Namun tak ada yang ingat kapan pastinya itu terjadi.

Luhan berada pada kesadarannya terlebih dahulu, memutuskan kontak mata itu, ia pamit undur diri dari hadapan Sehun. Namun belum sempat Luhan meraih kenop pintu, seseorang telah membukanya terlebih dahulu. Orang didepannya cukup tampan dan berperawakan tinggi menyerupai Sehun. Luhan merasa tak asing dengan orang dihadapannya namun ia putuskan untuk berlalu sebelum suara Sehun kembali menghentikannya.

"Luhan, bawakan kopi untuk kami."

Dan Luhan kembali melanjutkan langkahnya.

.

.

"Sudah lama sekali sejak terakhir kita bertemu." Sosok tersebut berkata sembari menjabat tangan Sehun.

"Ya sudah lama sekali." Sehun mengulas senyumnya.

"Terakhir kali bertemu denganmu aku bernasib sial." Gurau sosok tersebut.

"Dan kesialan itu membuatmu menang tender, sialan!" Sehun mengumpat temannya itu.

"Baiklah, baiklah, Sehun. Aku kalah." Sosok itu mengangkat tangannya menyerah. Ia duduk di kursi didekat Sehun dan Luhan mengetuk pintu.

"Tapi jujur saja aku masih kesal karena harus kehilangan itu. Jika saja kita berada di Beijing lebih lama saat itu, aku bisa mencarinya. Kalung itu satu-satunya peninggalan ibuku dan seseorang menariknya."

"Sudahlah, Kai. Kenapa kau bahas itu lagi?"

"Aku hanya tidak ingin kehilangan kalung itu. Satu-satunya pemberian ibuku padaku. Seharusnya kita memang tidak datang diacara ulang tahun itu." Sungut Kai lagi. Ia masih asyik bercerita tanpa melihat suasana diruangan Sehun berubah.

Luhan terdiam membeku, kedua bola matanya berair. Tangannya bergetar dan mulutnya membuka seakan ingin berbicara.

'PRANGGGGG!'

Nampan yang dibawanya terjatuh mengagetkan Sehun dan juga Kai. Kai menoleh menatap sosok Luhan dan Luhan mengamati Kai dengan seksama.

"Ti-tidak!" Gumam Luhan tak percaya. Sehun berlari kearahnya dan menanyakan apakah ia baik-baik saja. Namun Luhan tidak menjawab, kalimat demi kalimat yang Kai lontarkan merasuki pikirannya. Hingga saat Sehun mengguncang tubuhnya, Luhan menatap Sehun dan setitik airmata lolos dari manik rusanya.

"Tidak mungkin!"

.

.

Yifan berjalan lunglai, membuka sebuah pintu kamar yang berisi kenangan seseorang yang ia sayang. Ia membuka kamar yang telah ditinggalkan pemiliknya tersebut, lalu berjalan masuk dan kenangan tentang Luhan seolah tergambar nyata disana. Bagaimana Luhan yang akan heboh kala dirinya bangun kesiangan, atau saat-saat dimana Luhan memberengut diatas kasur saat kemauannya tidak dituruti. Yifan masih mampu mengingatnya dengan jelas, terlampau jelas malah. Yifan berjalan kearah ranjang Luhan, mengelus awang seolah Luhan tengah tertidur disana. Yifan menatap potret dirinya dan Luhan diatas nakas. Mengambilnya dan mengelus wajah Luhan disana.

"Gege merindukanmu, Xiaolu."

.

.

Dua hari telah berlalu, Luhan menjadi sosok yang cenderung pendiam. Tidak seperti biasanya, dan ia juga terlihat sering melamun. Sehun menyadarinya, Luhan berubah sejak terakhir kali ia memintanya membawa kopi keruangannya. Sehun enggan bertanya karena Luhan akan menangis.

Sehun mengutuk dirinya, ia seperti menjadi orang lain jika mengenai Luhan. Apapun tentang Luhan yang membuatnya bergairah juga telah membuatnya menjadi penasaran. Luhan menyembunyikan sesuatu, tentang dirinya yang orang lain tidak boleh tahu. Tapi kemudian Sehun teringat.

"Baekhyun.." Gumamnya.

Sehun yakin Baekhyun pasti tahu sesuatu, mengingat betapa posesifnya Baekhyun jika menyangkut Luhan. Dia bahkan bisa mengarahkan telunjuknya pada Sehun tatkala Sehun kehilangan kendali dan hampir saja menyentuh Luhan. Sehun ingin sekali meneriaki Baekhyun namun kemudian Baekhyun menangis membuat Sehun menjadi tontonan direstoran.

Sehun berpikir cepat dan ingin mengajak Baekhyun berbicara. Namun setelah beberapa langkah dirinya tak sengaja menubruk seseorang membuat berkas-berkas orang tersebut berserakan dilantai lobbynya.

"Maaf." Sosok itu lebih dahulu mengatakannya padahal Sehun tahu benar jika ia yang salah.

"Siwon hyung!" pekik Sehun saat melihat siapa orang yang ditabraknya. Ia membantu mengemas berkas-berkas milik Siwon hingga sebuah kertas berisikan tindak kriminal disana membuatnya terhenti.

Sehun membacanya dengan seksama dan ia membelalak. Dengan tangan bergetar ditunjukkannya kertas itu pada Siwon

"A-apa ini?"

Siwon ikut melihatnya dan ia juga terkejut.

"I-ini.."

"KATAKAN PADAKU!" Geram Sehun mencengkeram kerah baju Siwon.

"Maafkan aku, Sehun. Kau harus mengetahuinya dengan cara ini. Tapi ya, Sungmin memang pernah terlibat kasus tabrak lari saat kalian berlibur di Beijing dan korban tabrak lari tersebut adalah salah seorang karyawanmu, Xi Luhan."

Cengkraman Sehun melemah seiring setetes airmata jatuh.

"Tidak mungkiin..."

.

.

To be continued

Hai hai, apa kabar? Adakah yang menunggu kelanjutan cerita ini?

Maaf tidak bisa mengingkari update cepat karena saya baru saja pulih. Sebenarnya chapter ini sudah selesai beberapa hari yang lalu dan tinggal menambahkan namun kejadiaan naas menimpa saya dan istri kakak saya beserta keponakan. Kami tergelincir saat melintasi rel kereta sehingga kami koprol dan membuat saya babak bundas karena reflek melindungi keponakan saya itu. Jadi saya minta maaf karena baru menyelesaikannya.

Baiklah, bagaimana dengan chapter ini? dan fyi, cerita saya mungkin akan banyak kejutannya yah jadi yang sabar saja. Yang pasti saya akan berusaha sebaik mungkin. Terimakasih atas dukungannya.

Sampai bertemu dichapter depan #XOXO