"Hellooooo~ anyone home?" Kyungsoo yang membantu ibunya menyapu daun kering tersentak oleh interupsi mendadak.
"Hei Soo. Kau menyapu daun atau melamun?" Tanya Jongsoo, tukang pos desa.
Kim Jongsoo adalah teman sekelas Kyungsoo ketika mereka berada disekolah dasar. tubuh kecokelatan Kim Jongsoo adalah aset yang paling menarik untuk setiap wanita meneteskan air liurnya.
"Jongsoo ah, kau mengagetkanku. Anyway, apakah ada surat untukku?" Tanya Kyungsoo, tidak sabar.
Kyungsoo sedang menunggu balasan untuk wawancara. Dia telah melamar pekerjaan dibeberapa perusahaan terkenal di Seoul.
"Ya, aku memiliki surat untukmu. Sign here." Jawab Jongsoo dan menunjukkan a registered letter untuk Kyungsoo tandatangani. Setelah ia menandatangani surat tersebut, Kyungsoo mengucapkan terima kasih untuk teman lamanya dan tersenyum tulus padanya.
Setelah Kyungsoo tak melihat sepeda Jongsoo lagi, Kyungsoo dengan cepat merobek surat itu dan menemukan surat dari KJ Corporation memintanya untuk wawancara. Kyungsoo terlalu senang dan berlari masuk ke rumah tapi ia bertemu dengan ibunya di tengah jalan.
"Surat apa itu, Soo?" Tanya Mrs. Do.
"Surat pemberitahuan yang memintaku untuk datang wawancara, Omma. Mereka memintaku untuk datang pukul 09:00, Senin depan." Dengan senang Kyungsoo menjelaskan kepada ibunya.
"Aku akan menelepon Baek. Aku pikir aku ingin tinggal bersamanya sementara aku di Seoul." Tambah Kyungsoo.
"Eh, Omma pikir orang tua Baekhyun telah pindah ke Yeosu, sejak kapan ia tinggal di Seoul?" Spontan Mrs. Do bertanya.
Kyungsoo tersenyum. Dia terkesan dengan ibunya yang mengingat latar belakang sahabatnya.
"Keluarganya di Yeosu tapi appa nya tidak pernah menjual rumah mereka ketika mereka tinggal di Seoul sebelumnya. Jadi Baekhyun saat ini tinggal di sana sendirian." Mrs. Do mengangguk dan meninggalkan Kyungsoo yang tersenyum sendirian seperti orang gila.
Young Shik samchon mengantar Kyungsoo ke stasiun bus terdekat dan dia akan mengambil bus dari kotanya ke Seoul dan disana Baekhyun menunggunya.
Setelah 2 jam perjalanan, Kyungsoo tiba di Stasiun Bus Seoul dan sibuk mencari sahabatnya diantara ribuan penumpang di stasiun bus. Setelah melewati pembatas di stasiun bus, akhirnya ia menemukan sahabatnya yang duduk disebelah kios sedang membaca koran.
Baekhyun dan kulit mulusnya adalah sesuatu yang membuat Kyungsoo iri. sahabatnya mengenakan celana jeans gelap dengan T-shirt putih sedangkan dia memakai sepasang slack hitam dengan sweater merah.
"Baek ..." Kyungsoo menyapa sahabatnya yang tampaknya masih tidak tahu kehadirannya di sana.
"Hei, Soo ... .." jawab Baekhyun dengan cepat memeluk sahabatnya. Setelah beberapa saat, ia dengan cepat menyeret Kyungsoo keluar dari kerumunan di stasiun bus dan berjalan ke mana ia memarkir mobilnya.
"Baek, aku merindukanmu babe! Sudah 3 bulan kita tidak bertemu sejak kita tiba di Korea kan?" Kata Kyungsoo sambil membuka pintu mobil Audi R8 Baekhyun dan Baekhyun menganggukan kepalanya, setuju dengan apa yang sahabatnya katakan.
"Wow, Baek ... mobil baru?" Tanya Kyungsoo. Dia sampai mati ingin memiliki mobil sportnya sendiri tapi tampaknya ia masih harus menunggu.
"Ya, appa memberikannya sebagai hadiah untukku pulang kembali dari U.K. aku mengatakan kepadanya aku ingin menggunakan mobil kecil tapi dia bersikeras untuk membelikanku yang satu ini." Kata Baekhyun dan dia mulai pergi kemana rumah keluarganya berada.
Kyungsoo menertawakan sahabatnya yang mengeluh tentang ayahnya. Dia mengakui bahwa Baekhyun berasal dari keluarga kaya tapi sikapnya sungguh rendah hati, tidak ada yang menduga bahwa dia juga adalah satu-satunya pewaris untuk Byun Corporation - perusahaan terbesar kedua setelah Kim. Itulah sebabnya Kyungsoo nyaman menjadi teman Baekhyun.
"Kapan wawancaramu mulai besok?" Baekhyun bertanya, memecah keheningan diantara mereka.
"Jam 09:00. Kau tahu Baek, Young Shik samchon mengatakan kepadaku tentang lowongan disana. Dia adalah orang yang mencarinya melalui internet," kata Kyungsoo sambil menyisir rambutnya yang tampak agak berantakan. Mungkin itu terjadi saat dia tidur di bus sepanjang perjalanan kesini.
"This is millennium Soo, semuanya ada diinternet. Sekarang kau mencari lowongan pekerjaan melalui internet, lalu kau akan menemukan suamimu melalui internet juga," canda Baekhyun dan Kyungsoo tertawa lebih keras.
"Pokoknya, aku akan mengantarkanmu untuk wawancara, oke?" Sebelum Kyungsoo bisa protes Baekhyun memotongnya, "Hei, aku sudah mengatakannya kepada appa kalau aku mengambil cuti besok dari perusahaan? Kau pikir aku akan membolos dari pekerjaanku? Sebelumnya, ya, aku ingin membolos untuk menghadiri kuliah tapi sekarang aku berubah. Baekhyun telah berubah!" Baekhyun membual tentang dirinya, bangga.
"Terima kasih Baek."
Kyungsoo sedang mencuci piring sementara Baekhyun tengah menyeka meja makan. Tiba-tiba, Baekhyun mengatakan, "Hei, Soo. Hari itu aku pergi ke COEX Mall untuk membeli sesuatu dan aku bertemu dengan Kai dan temannya. Aku tidak bisa mengingat temannya, tapi siapa dia, Soo? "
"Siapa?" Tanya Kyungsoo sambil memutar tubuhnya untuk melihat temannya.
"Teman Kai yang mengambil studi Hukum saat di U.K." Baekhyun mencoba yang terbaik untuk mengingat teman Kai sejak ia bertemu dengan mereka bulan lalu, tapi sepertinya dia tidak tahu tentang orang itu.
Kyungsoo telah selesai dengan cuciannya dan menyeka tangannya pada handuk dan menarik kursi di meja makan. Dia mengajak Baekhyun untuk duduk bersamanya.
"Sepertinya seseorang sampai ingin mati untuk tahu nama seseorang." Goda Kyungsoo dan temannya hanya bisa cemberut, cutely.
"Soo. Aku tidak mati di sini, oke? Well, aku tidak pernah tahu temannya berada diuniversitas yang sama dengan kita sampai aku menemukannya hanged out dengan Kai. "
"Dia mungkin Park Chanyeol, dan. Dia berada difakultas hukum. kenapa? OMO! Kau menyukainya?" Kulit mulus nya bisa dengan mudah menjadi merah. Jadi ketika Kyungsoo menggodanya, pipinya merona merah.
"Jadi ..." Kyungsoo meminta penjelasan lebih lanjut mengenai adegan yang terjadi.
"Well, sebenarnya tidak terjadi apa-apa. Kami hanya saling menyapa sebagai teman sekelas dan coba tebak, Kai bertanya tentangmu. Mungkin perasaannya mulai tumbuh padamu, Soo. Jadi, kau masih memiliki perasaan untuknya?" Kyungsoo dengan cepat turun dari kursi yang ia duduki sebelumnya dan berjalan keruang tamu tanpa menunjukkan minat untuk menjawab pertanyaan Baekhyun. Tidak puas, Baekhyun mengikuti jejak sahabatnya.
"Mengapa? Sekarang, kau membencinya?" Tanya Baekhyun, ingin tahu.
"Baek, ini tidak seperti aku membencinya. Aku hanya menahan diri agar tidak jatuh terlalu dalam padanya. Well, aku yakin dia membenciku karena kami berdebat tentang tugas terakhir. Sigh. Aku tidak tahu dari mana keberanianku datang untuk melawannya."
"Keberanianmu adalah sesuatu yang aku hormati, Soo. 4 tahun belajar dia pikir dia memiliki hak untuk memilih seseorang. Ia berpikir bahwa setiap pria dan wanita adalah budaknya. Aku mendukungmu, Soo." Sekali lagi, Kyungsoo menghela napas.
"Mari kita akhiri pembicaraan tentang Kai. Kita berbicara tentangnya terlalu banyak. Siapa tahu sementara kita berbicara buruk tentang dirinya dan ia sedang makan makanan laut, mungkin dia akan tersedak sampai mati. Aku tidak bertanggung jawab untuk itu."
"Headline Besok menjadi 'Kim Jongin pewaris Kim Corporation ditemukan meninggal akibat tersedak makan makanan laut'. Aku ragu semua orang akan menangis atau tertawa."
Keduanya, Kyungsoo dan Baekhyun tertawa atas lelucon delusi mereka sendiri.
Kyungsoo tiba di KJ Corporation jam 8.30 pagi, 30 menit lebih awal. Dia berjalan ke pegawai dimeja sebelah pintu masuk utama.
"Here! Isi semua keterangan yang diperlukan dalam formulir ini." Dengan kasar pegawai melemparkan formulirnya dan Kyungsoo yang sedang gugup karena wawancara terkejut dengan sikapnya yang buruk.
"Terima kasih."
Kyungsoo memilih untuk duduk disamping seorang pria kecokelatan. Mungkin orang itu juga datang untuk tujuan yang sama sepertinya. Sebenarnya lebih dari 10 orang yang menunggu di luar dengan Kyungsoo untuk wawancara.
"Suzy, kau sudah sarapan?" Rekannya bertanya ke pegawai yang kasar dan mereka mengobrol sebentar.
Geez, dia orang Korea. Kenapa dia harus mewarnai rambutnya? Asia harus bangga dengan rambut hitamnya dan keindahan alami lebih baik daripada operasi plastik.
"Do Kyungsoo."
Kyungsoo terkejut setelah namanya dipanggil. Dia memeluk file birunya dengan erat didadanya dan bangkit dari tempat duduknya. Seorang wanita di akhir 30-an menemaninya ke ruang meeting.
Sebelum ia memasuki ruang meeting, Kyungsoo melihat dirinya melalui kaca dipintu. Semua orang di kota kelahirannya iri dengan kecantikannya meskipun ia seorang laki-laki. Dia mewarisi gen dari kecantikan ibunya yang diklaim sebagai salah satu wanita tercantik di didesa tahun lalu. Puas, ia mendorong pintu perlahan, dengan tenang.
"Selamat pagi." Kyungsoo menyapa pewawancara yang sibuk membahas sesuatu di antara mereka. Ada tiga pewawancara di ruang rapat yang kursi berlawanan dan menghadap dia. Salah satu pewawancara tidak terlihat jelas oleh Kyungsoo karena orang itu sibuk memeriksa sesuatu di laptop-nya.
"Selamat pagi. Silahkan duduk," Jawab pria kekar dengan kulit gelapnya yang duduk di sebelah kanan dengan Lee Jaejin tertera diname tag nya.
"Perkenalkan dirimu," instruksi seorang pria tinggi yang duduk di sisi kiri. Kyungsoo bisa melihat nama Song Seunghyun diname tag nya yang disematkan pada mantelnya.
"Nama saya Do Kyungsoo. Saya lulus dari University of Warwick, Inggris."
Setelah Kyungsoo memperkenalkan diri, pria yang sibuk membaca sesuatu di laptop sebelumnya telah menutup laptopnya.
Oh My God Sun.
Keduanya Kyungsoo dan pria itu berbagi tatapan yang sama. Kyungsoo mulai berkeringat dan dia menggenggam telapak tangannya, memohon lebih banyak kekuatan untuk menghadapi keadaan yang tak terduga ini.
Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana aku tidak menyadari bahwa ini adalah perusahaannya. For God Sake, KJ Corporation adalah milik Kai dan karena Kai dan Kyungsoo tidak pernah memiliki hubungan yang baik, jadi pekerjaan yang kosong sebagai eksekutif bukan milik Kyungsoo. Meskipun ia mampu melewati wawancara dan mendapatkan pekerjaan eksekutif, tapi bekerja di bawah Kai adalah sesuatu yang tidak ia harapkan.
Kyungsoo berpura-pura tenang tapi insting playboy Kai tahu bahwa Kyungsoo sedang gugup.
"Kyungsoo ... dunia sangat kecil," Kai berkata dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Dia adalah teman sekelasku dulu di Inggris, guys," jelas Kai terhadap asistennya di sebelah kiri dan kanan.
"Coba aku lihat resume mu."
Tanpa kata-kata lagi, Kyungsoo memberikan file biru gelapnya untuk Kai. Jujur, Kyungsoo ingin melarikan diri dari suasana yang merusak leher ini dan mencari lowongan lain dari perusahaan lain yang tidak ada hubungannya dengan The Kims. Apa pun setidaknya dia jauh dari Kai.
Sementara mereka berada di universitas sebelumnya, Kai tanpa perasaan menggunakannya untuk melakukan setiap tugasnya dan apa yang bisa diharapkannya jika ia bekerja di bawah Kai?
Kyungsoo tidak bisa duduk dengan nyaman lagi. Dia perlu bernapas diudara tanpa kehadiran Kai.
"Wow! Result mu sangat baik, aku tidak menyadari hal itu," kata Kai dan Kyungsoo menampilkan senyum palsu.
"Ah, maafkan saya Kim Jongin ssi."
Kai mendorong kepalanya sedikit untuk melihat kecemasan Kyungsoo di depannya. Kyungsoo memanggil Kai secara formal karena ia tahu ia harus bersikap profesional.
"Ya ..." jawab Kai, tak lama.
Kyungsoo batuk untuk menarik perhatian setiap orang untuk apa yang akan ia katakan.
"Wawancara ini untuk posisi eksekutif, kan?" Tanya Kyungsoo untuk menjamin konfirmasi.
Dahinya berkerut karena bingung dengan apa yang Kyungsoo tanyakan adalah fakta yang jelas. Dia bersandar kembali ke kursinya.
"Apakah kau tidak pernah berniat untuk membaca surat yang perusahaan kirimkan kepadamu?" Tanya Kai blak-blakan dan Kyungsoo bisa mengatakan bahwa pria cerewet ini seperti pukulan baginya.
"Ah, jadi itu disebutkan dalam surat juga. Saya minta maaf Kim Jongin ssi, saya tidak sadar tentang hal itu sementara saya membaca suratnya. Oh, tiba-tiba saya merasa seperti saya tidak cocok untuk pekerjaan ini. Maafkan saya untuk mengambil waktu Anda, Kim Jongin ssi. Senang bertemu kalian semua." Pada saat yang sama, Kyungsoo meraih kembali berkas biru tua dan tersenyum tulus pada Kai sebelum dia pergi.
Keduanya Lee Jaejin dan Song Seunghyun, asisten Kai saling menatap, bingung, mungkin.
Kai menghela napas dalam-dalam sambil melirik Kyungsoo yang kini berjalan kearah pintu, untuk keluar dari ruang meeting.
"Jika kamu berpikir pekerjaan ini tidak cocok untukmu ceritakan, pekerjaan apa yang kau cari, Soo?" Kyungsoo sedikit tersentak oleh pertanyaan yang diajukan Kai.
Dalam hati, Kyungsoo mengutuk. Dia bertanya-tanya mengapa Kai tidak melihat petunjuk bahwa ia tidak ingin bekerja di bawahnya. Mendesah. Dia membalikan tubuhnya untuk menghadap orang yang diam-diam ia cintai untuk waktu yang lama.
"Kim Jongin ssi, sebenarnya ... saya ... arghh ... argh ... Saya pikir saya datang untuk pekerjaan sekretaris." Kai yang mendengarnya menatapnya tidak percaya. Sebenarnya itu adalah alasan Kyungsoo untuk kabur dari sana tanpa pikiran apa yang mungkin terjadi pada menit berikutnya.
"Apa? Kau melamar pekerjaan sekretaris meskipun result mu yang sangat baik dan kau adalah seorang Sarjana dibidang Administrasi Bisnis. Apa kau yakin?" Tanya Kai berulang kali ketika melihat Kyungsoo berdiri seperti patung.
Perlahan-lahan, Kyungsoo mengutuk dirinya sendiri dan Kai yang menyadari bahwa ia bergumam pada dirinya sendiri, bertanya kepadanya, "Apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mendengar. "
"Ini bukan apa-apa. Saya katakan, jika tidak ada lowongan untuk pekerjaan sekretaris tidak apa-apa. Saya lebih baik pergi."
Kyungsoo hendak menyentuh kenop pintu, tapi Kai menghentikannya dengan kata-katanya, "Siapa bilang perusahaan ini tidak memiliki lowongan untuk pekerjaan sekretaris. Apakah kau serius menjadi sekretaris? "
Kyungsoo mulai merasa pusing. Dia perlu bernapas udara segar jadi dia hanya mengangguk dengan apa pun yang Kai katakan tanpa berpikir sebelum memutuskannya. Kai tersenyum manis kepadanya sebelum ia menekan interkom.
"Jia, bisa tolong mempersiapkanku surat tawaran sebagai sekretaris untuk Do Kyungsoo ssi sesegera mungkin,"
Kyungsoo menjatuhkan rahangnya, tak percaya dengan apa yang telah terjadi.
"Jadi Soo selamat datang di KJ Corporation. Mudah-mudahan kita mampu menjadi partner yang hebat,"
Kemudian, Kai berdiri dan menunjukkan tangannya untuk bersalaman. Kyungsoo yang tercengang menjawab dengan jabat tangan pendek.
Dingin. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan tangan yang membalas jabat tangannya.
