25 Days in December
Disclaimer :Vocaloid, Yamaha
Warning! Typo dimana-mana, Bahasa berantakan, EYD kacau…
.
.
Well… \(^w^)/
.
.
Happy Reading!
4th December
"Gumi.."
Gumi mencoba membuka kedua matanya, ia mendapati Yuuma tengah duduk disampingnya. Kali ini ia tengah tertidur diatas sofa ruang tamunya. Ia melihat kesekelilingnya, ia juga mendapati dua anak kecil berumur 7 dan 6 tahun yang tengah tertidur disampingnya.
"Gumi. Lagi-lagi kau tertidur saat bermain game."
"Yu-Yuuma.. Kau datang lagi.."
Yuuma tersenyum pada Gumi. Ia lalu menatap dua anak kecil yang berada disamping Gumi. Ia tampak begitu senang melihat kedua anak kecil itu. Ia lalu mengusap pelan dahi anak laki-laki berumur 7 tahun itu. Anak itu tampak sedikit gemuk. Sedangkan anak berumur 6 tahun itu tampak memeluk kakak laki-lakinya. Dia gadis kecil yang sangat imut.
"Mereka datang kemari?"
"Iya.. mereka sudah ada dirumah saat aku pulang. Ibu bilang bibi sedang bekerja keluar negeri, jadi Kii-kun dan Nii-chan akan tinggal disini.."
"Hmmm.. mereka tambah besar ya sejak 1 tahun yang lalu.."
"Iya. Hmm.. Yuuma, kenapa kau tidak pernah cerita padaku?"
Yuuma menatap heran ke arah Gumi. Gumi hanya menundukan kepalanya. ia teringat pada apa yag dikatakan oleh Kiyoteru-senpai padanya kemarin. Ia sangat ingat betul, bahkan ia juga bisa membayangkan setiap kejadian yang diceritakan oleh Kiyoteru padanya.
Kemarin di warung ramen
"Sebenarnya, saat pertandingan berlangsung Aku hanya menunduk lesu. Aku sama sekali tidak percaya diri."
Kiyoteru tersenyum sambil menatap mangkuk ramennya yang hampir kosong. Gumi menatap dengan sungguh-sungguh, ia sangat ingin mendengar cerita akan kekasihnya, Yuuma.
"Aku hampir saja menyerah. Belum lagi saat aku melihat seorang yang sangat keren, ia memiliki rambut merah muda yang begitu mencolok. Dan dia juga mengenakan kacamata sama sepertiku."
Gumi tersenyum senang, ia masih ingat saat ia memaksa Yuuma untuk mengikuti kontes itu. Bahkan ia sendiri yang memilihkan pakaian yang harus dipakai oleh Yuuma. Ia ingat betapa kerennya kekasihnya saat itu.
"ya, dia memang keren.." guman Gumi.
"Heh? Kau barusan mengatakan sesuatu, Gumi?"
"Aa.. Iie, nandemonai.. lalu apa yang terjadi Ou-senpai.."
"Oh, itu. Kami berdua selalu lolos disetiap pertandingan. Ia begitu hebat dan keren, dia lebih pantas mendapat gelar Pangeran Sekolah daripada aku. Tapi tiba-tiba saat pertandingan basket ia mengatakan sesuatu yang sangat aneh."
Gumi terdiam. Ia sangat ingat kalau Yuuma sangat ahli dalam permainan basket. Ia juga tidak pernah mau mengalah pada siapapun dalam hal bermain bola basket. Gumi sendiri juga pernah bermain bersama Yuuma, tapi ia sama sekali tidak mengalah padanya. Dan Gumi merasa penasaran karena Yuuma kalah telak saat pertandingan basket itu.
"Ia sebenarnya lebih mampu daripada aku, tapi ia terlihat tidak ingin menang saat melawanku. Ah, ramenku hampir habis. Bibi! Aku pesan satu lagi!" Kiyoteru mengangkat tangan kanannya.
"Baik, Kiyoteru-kun!"
"Terima kasih, Bi! Oh iya sampai mana tadi certaku, Gumi?" Kiyoteru menoleh kearah Gumi.
"Yuuma tidak ingin menang melawanmu, senpai.." jawab Gumi pelan.
"Ah, iya. Saat bermain ia banyak bercerita padaku. Ia bercerita mengenai kekasihnya. Ia selalu berkata sambil tersenyum lebar padaku.."
'kekasihku itu orang yang sangat baik, ia tidak pernah bisa menolak sesuatu. Dia juga tidak pandai mengekspresikan perasaannya, ia akan selalu tersenyum. Tidak peduli apa yang ia rasakan, ia pasti akan tersenyum. Makanya aku tidak ingin ia terluka. Kalau Aku menjadi pangeran sekolah dia akan kerepotan. Senpai! Tolong kalahkan aku ya?!'
Bahkan Gumi dapat membayangkan wajah Yuuma yang tengah tersenyum lebar pada Kiyoteru. Wajah Yuuma yang basah karena keringat saat bermain bola basket dengan Kiyoteru-senpai, wajah itu tampak begitu bersinar dengan terangnya dibayangan Gumi.
"Ahaha.. bahkan aku teringat pada kalimat terakhir yang ia ucapkan padaku.." Kiyoteru tertawa senang.
'Dia itu gadis yang sangat manis, dia juga ceroboh tapi ia selalu berusaha. Senpai! jangan sampai kau jatuh cinta padanya ya?!'
"Aku jadi penasaran seperti apa gadis itu. Dan aku jadi ingin memiliki seorang gadis seperti yang diceritakan oleh Yuuma."
Tiba-tiba bibi penjual ramen mendatangi Kiyoteru dan juga Gumi. Beliau membawakan sebuah mangkuk berisikan ramen baru untuk Kiyoteru.
"Kiyoteru-kun. Ini ramenmu, oh iya aku menambahankan sedikit daging! Oke!" bibi penjual ramen berbisik pelan.
"Oh bibi! Arigatou Gozaimas! Ittadakimasu!" Kiyotru kembali menyantap makanannya.
"Oh iya Gumi. Setelah aku bertekad seperti itu, akhirnya aku bertemu denganmu. Aku pikir kau sangat mirip dengan gadis yang diceritakan oleh Yuuma. Aku jadi sangat menyukaimu. Kau itu..."
Wajah Kiyoteru tampak memerah. Sesekali ia melirik kearah Gumi, ia terlihat begitu gugup.
"Kau itu walau sedikit ceroboh tapi kau selalu berusaha. Kau juga selalu tampak ceria walau kau tengah sedih, dan kau membuatku jadi ingin selalu berada didekatmu untuk melindungimu.."
Gumi terkejut mendengar ucapan Kiyoteru. Kedua matanya terbuka sangat lebar, ia sangat tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Kiyoteru padanya. Tidak terasa suara hujan telah lama berhenti, dan langit sudah tampak sedikit terang.
Gumi meletakan sumpitnya. Ia bangkit dari tempat duduknya sambil menunduk. Kiyoteru menatap heran ke arah Gumi yang tengah tersenyum senang saat itu.
"Gu-gumi?"
"Kiyoteru-senpai.. Arigatou nee.."
"Eh? Gu-gumi, ke-kenapa?"
"Tapi senpai.. Aku rasa kau telah menyukai kekasih orang yang baru saja kau ceritakan tadi.."
"Ja-ja-jangan-jangan kau itu..." Kiyoteru tergagap.
"Hmm.. Kalau begitu aku permisi dulu senpai.. mata ashita.."
Gumi membungkuk kepada Kiyoteru. Ia berjalan keluar dari warung ramen itu. Ia melihat wajah Kiyoteru yang masih tampak syok karena ucapan Gumi barusan. Bahkan Kiyoteru tidak membalas salam Gumi padanya.
"Yuuma.. jadi kau sengaja mengalah demi aku?" guman Gumi senang.
Drap! Drap! Drap!
Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki orang yeng tengah berlari. Sesekali langkah itu terdengar begitu aneh karena menginjak kubangan air yang ada dijalan. Bahkan ia mencipratkan air itu kemana-mana.
"Pi-Piko..." Guman Gumi.
"Gu-Gumi-san?!"
Piko tampak terkejut. Ia mempercepat larinya. Ia berlari mendekati warung ramen ibunya, atau lebih tepatnya ia menghampiri Gumi yang sedang berdiri tepat di depan pintu warungnya.
"Apa yang kau lakukan disini, Gumi-san?"
"Pi-piko-kun? Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini?"
"Oh, i-ini rumahku.."
"E-eh?"
Dengan wajah merona Piko menunjuk warung ramen dihadapannya. Ia terlihat sedikit kacau dengan pakaiannya yang basah karena hujan. Sesekali ia tampak berusaha merapikan rambutnya.
"A-a.. Aku akan pu-pulang sekarang.."
"Eh? Ka-kau sudah mau pulang? I-ini masih gerimis lo.."
"Tidak apa.. Ini sudah sore, Ibuku pasti khawatir. Aku per.."
Belum sempat Gumi melangkah, Piko sudah menahan tangan Gumi. Gumi merasakan tangan Piko yang dingin karena kehujanan. Piko menatap Gumi dengan tatapan khawatir, ia lalu masuk kedalam warung dan mengambil sesuatu dari dalam tanpa melepaskan pegangannya dari tangan Gumi.
"Pa-pakailah ini. Jangan sampai kau sakit karena kehujanan."
Piko tersenyum senang. Wajahynya merona merah saat ia menyerahkan payung merah miliknya pada Gumi. Sesekali ia menggosok-gosokan jari telunjuknya dilubang hidungnnya.
"Pi-piko-kun?"
"Sudahlah.. Daripada kau menunggu hujan reda disini, kau bilang ibumu akan khawatir."
"A-arigatou gozaimasu.." Gumi membungkuk.
Gumi lalu menggunakan payung Piko dan berjalan menjauh dari warung ramen itu. Gumi sama sekali tidak berbalik untuk menatap Piko sedikitpun. Ia tidak menghiraukan Piko yang melambaikan tangannya dari kejauhan. Yang ia inginkan hanyalah segera pulang dan melepas semua beban pikirannya.
"Yuuma ini semua salahmu.. kalau kau tidak cerita hal aneh-aneh pada Kiyoteru-senpai mungkin dia tidak akan pernah menyatakan perasaannya padaku.." Gerutu Gumi.
"Oh.. Aku memang tidak menceritakannya padamu Gumi. Tidak masalah kan? Itu artinya Kekasihku ini tidak kalah populernya dengan Miku ataupun Luka.."
Yuuma mencubit kedua pipi Gumi. Ia tampak tersenyum senang. Ia benar-benar terlihat begitu hidup dimata Gumi. Gumi tidak ingin bangun untuk saat ini, ia masih ingin menikmati saat-saat dimana ia bisa bersama Yuuma walau itu hanya dalam mimpinya.
"Gumi.. Kau masih test kan? Kenapa kau tidak belajar?"
"Memangnya aku pernah belajar? Lagian besok hanya sastra jepang kan.."
"Kalau begitu mau ikut aku sebentar?"
"Eh?"
Yuuma tersenyum manis pada Gumi. Ia menggandeng tangan Gumi dan membawa Gumi bersamanya menuju teras rumah Gumi. Yuuma meminta Gumi untuk duduk disampingnya dilatar teras tersebut. Yuuma duduk sambil menatap langit malam yang tampak begitu indah. Langit gelap yang berhiaskan ratusan juta bintang dilangit.
"Gumi.. Apa kau suka bintang?" Yuuma masih menatap langit.
"Hmmm.. Aku sangat suka.. memangnya kenapa Yuuma?"
"Tapi bintang hanya terlihat disaat langit gelap loo.."
"Bukan kah itu wajar? Kan kalau langit terang cahanya mereka kalah dari matahari.."
Gumi menatap heran kearah Yuuma. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Yuuma. Yuuma bahkan tidak menatap Gumi sama sekali. Ia masih tersenyum sambil menatap langit. Tatap mata Yuuma terlihat begitu sedih, entah apa yang ada dipikiriannya.
"Hmmm.. apa boleh buat, kalau begitu maukah kau menunjuk satu bintang untukku, Gumi?" Yuuma tersenyum manis sambil menatap Gumi.
"Eh? U-untuk apa?"
"Untuk kamu, Gumi. Aku akan melakukan apapun untukmu, bahkan aku bisa menjadi bintang jika itu untuk dirimu.."
"Yuuma, tapi aku tidak ingin kau menjadi bintang! Aku hanya ingin ka..."
Gumi berhenti bicara. Yuuma sudah mendekap bibir Gumi dengan menggunakan bibirnya sendiri. Bahkan Gumi dapat melihat wajah malaikat Yuuma yang tengah menciumnya itu. Ia menutup kedua matanya, dan Gumi pun mengikuti Yuuma.
"Sekarang bangunlah.. Kau harus segera memulai harimu, Gumi.."
"Eh? Yuuma? Yuuma.."
Kedua mata Gumi terbuka. Ia menatap ke sekeliling. Ia mendapati kedua sepupunya masih tertidur pulas disisinya. Ia lalu membelai pelan kepala kedua sepupunya itu. Gumi menyentuh bibirnya, ia merasa kecupan hangat dari Yuuma dalam mimpinya itu benar-benar seperti nyata.
"A-aku akan berusaha, Yuuma.." batin Gumi.
"Kii-kun? Nii-chan? Ayo bangun ini sudah pagi. Sebaiknya kalian kembali tidur dikamar kalian saja.."
Kedua anak kecil itu sama sekali tidak menghiraukan Gumi. Mereka malah saling berpelukan satu sama lain. Hawa disekitar mereka terasa begitu dingin, bahkan Gumi juga merasa sangat kedinginan. Ia segera berjalan kesebuah ruangan dan ia kembali sambil membawa sebuah selimut tebal dan hangat.
"Huh.. hari ini dingin sekali.."
Gumi meninggalkan kedua sepupunya disofa ruang tamu. Ia segera kembali ke kamarnya dan mandi. Selesai mandi ia segera menyiapkan buku-buku yang ia perlukan untuk materi test nya nanti. Tidak lupa ia menggunakan syalnya. Ia menatap jam dindingnya.
"Huh.. Udah jam 6.. Aku rasa masih sempat jika harus mengembalikannya.." pikir Gumi.
Ia berjalan menuruni tangga rumahnya, ia lalu berjalan menuju dapur. Ia meletakkan tasnya di salah satu kursi didekatnya. Ia mulai mengenakan celemek dan ia mengikat rambutnya yang sudah mulai panjang. Ia mulai memasak sesuatu yang cukup banya untuknya dan juga orang-orang dirumahnya sarapan. Selesai masak ia menghidangkan semuanya di meja makan. Ia menutup semua makanan untuk Ibu dan sepupu-sepupunya dengan plastik. Ia makan seorang diri dengan cepat dan ia segera mencuci piringnya.
"Loh? Gumi kau sudah mau berangkat?"
"O-okaa-san? Ee.. aku akan segera berangkat. Aku sudah membuatkan sarapan untukmu ibu."
"Ohh iya ini uang sakumu.. sudah tinggalkan saja piringmu, nanti biar ibu yang bereskan."
"Hai.. Kalau begitu aku berangkat.."
Gumi meletakkan cuciannya. Ia segera melepas celemek dan ia mengambil tasnya dan bersiap berangkat sekolah. Ia mengenakan sepatunya sambil berdiri, tidak lupa ia membawa payung merah milik Piko yang dipinjamkan padanya kemarin.
"Ittekimasu!"
"Hati-hati Gumi.. Jangan lupa nanti langsung pulang ya.."
"Hai!"
Gumi sedikit berlari. Ia harus pergi kerumah Piko dulu sebelum ia berangkat sekolah. Ia tidak mau jika Miku salah paham padanya jika ia menyerahkan payung Piko di sekolah. Gumi berlari sambil menghindari kubangan air yang cukup banyak dijalan, tentu saja kemarin hujan begitu lama dan sedikit deras.
Dari kejauhan Gumi melihat sosok yang sangat dikenalinya. Sosok berambut merah dengan syal merah yang menggantuing dilehernya. Ia sama sekali tidak menyangka ia bisa bertemu dengan orang itu sepagi ini, biasanya ia baru berangkat 5 menit sebelum jam pelajaran dimulai. Gumi melambaikan tangannya.
"A-Akaito-kun!" Teriak Gumi.
"Gu-gumi.."
"Akaito-kun, tunggu aku!"
Akaito sudah berhenti berjalan. Ia sedikit terkejut mendapati Gumi yang belari kearahnya sambil membawa sebuah payung merah ditangannya. Padahal Akaito sudah bertekad untuk tidak menemui Gumi untuk beberapa saat.
"A-apa yang kau lakukan?" Akaito sedikit bingung.
"Huh? Ti-tidak ada. Aku sama sekali tidak melihatmu kemarin, kau masuk kan?"
"I-iya tentu saja. A-aku tidak mau melewatkan test satu haripun, Gumi.."
Gumi tampak berusaha mengatur nafasnya. Ia terlihat sedikit kelelahan karena berlari. Yang membuat Akaito bingug adalah kenapa Gumi membawa sebuah payung merah sekarang. Memang langit terlihat mendung, tapi itu bukan berarti akan hujan saat ini kan?
"Gumi kenapa kau bawa payung?"
"Oh.. Aku ingin mengembaikannya pada Piko. Kenapa, Akaito-kun?"
Mendengar nama Piko disebut membuat Akaito menjadi sedikit kesal. Ia sama sekali tidak menyukai Piko sedikit pun. Ia sudah tidak menyukai Piko sejak pertama kali ia bertemu dengan Piko, saat Piko memperkenalkan dirinya pada Gumi diacara karaoke waktu itu.
"Oh, begitu.." jawab Akaito lemah.
"Kau kenapa, Akaito-kun?"
"Iie.. Betsuni.."
Mereka kembali berjalan bersamaan. Gumi tampak begitu ceria, Akaito sangat tahu bagaimana sifat Gumi. Entah ia senang ataupun sedih ia akan selalu berusaha untuk tetap tersenyum, bahkan saat sakitpun ia akan menyembunyikan rasa sakitnya itu dari orang lain.
"A-akaito-kun..."
"Hmm? Nanika?"
"A-apa menurutmu aku bisa menyatukan mereka?"
"Eh? Ma-maksudmu?"
Akaito kebingungan dengan pernyataan Gumi. Ia sama sekali tidak mengerti tentang hal yang sedang dibahas oleh Gumi saat ini. Apa yang sebenarnya ingin disatukan oleh Gumi pun Akaito tidak mengerti. Ia tampak kebingungan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Gu-gumi-chan.. A-aku tidak mengerti maksudmu.."
"Piko.. dan Miku.."
"He?"
"Akaito-kun! Kurasa Miku menyukai Piko! Kemarin seharusnya aku duduk dengan Piko, tapi Miku memintaku untuk tukar tempat duduk. Apa aku salah menyimpulkan?"
Gumi menatap Akaito dengan tatapan yang sedikit aneh. Ia benar-benar terlihat kebingungan. Akaito menepuk kedua pundak Gumi, ia berusaha menenangkan Gumi untuk sesaat.
"Tenang Gumi-chah! Aku berusaha untuk mencerna ucapanmu. Jadi menurutmu 'Miku menyukai Piko', seperti itu?"
"I-iya.."
"Haah... Syukurlah.." desah Akaito.
"Eh? Apa maksudmu, Akaito-kun?"
"Ah.. Iie, nandemonai.. Jadi kau ingin mendekatkan mereka?"
Gumi tampak sedikit berpikir. Dalam hati Akaito merasa sangat senang dan sedikit tenang, karena itu artinya Piko tidak akan menjadi 'ancaman' besar bagi Akaito saat ini. Akaito melirik ke arah payung yang dibawa oleh Gumi, ia lalu menarik payung itu perlahan dari tangan Gumi.
"A-akaito-kun?"
"Gumi-chan! Kau bisa menggunakan ini untuk mendekatkan mereka berdua."
"Ba-bagaimana caranya?"
"Ajaklah Miku untuk mengembalikannya saat pulang nanti." Akaito mengerling pada Gumi.
"Eh?"
"Sudahlah, ayo kita berangkat.."
Akaito dan Gumi berjalan bersamaan. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, bahkan Gumi hanya mengikuti Akaito kemana ia menariknya. Gumi bahkan dapat melihat senyuman Akaito yang terus mengembang di wajahnya.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Gumi bahkan sudah keluar dari ruang kelasnya sejak 15 menit yang lalu. Ia merasa sedikit bebas setelah mengerjakan soal-soal sastra Jepang yang membuatnya pusing tujuh keliling. Bahkan ia tidak sempat memperhatikan Piko ataupun Miku. Ia terlalu fokus pada soal-soal itu, dan kini ia sudh keluar dari ruang kelas dengan perasaan yang lega dan juga pusing.
"Gumi-chan!"
Gumi menoleh kearah suara itu. Ia mendapati Gakupo tengah melambai kearahnya. Ia sedang berdiri besama Akaito didepan ruang kelas mereka. Gakupo lantas menarik Akaito mendekati Gumi. Gumi berjalan mendekati kedua orang itu sambil tersenyum senang.
"Gakupo-kun! Akaito-kun!"
"Gumi-chan, bagaimana soal-soalnya?" Gakupo tersenyum penuh arti.
"Ga-gakupo-kun.. Bisakah kau tidak membahasnya.."
"Hahaha... Sepertinya kalian berdua sama saja ya.."
"Yamero!"
Gakupo tampak mengacak-acak rambut Akaito sambil tertawa senang. Akaito berusaha melepaskan tangan Gakupo dari kepalanya. Gumi yang melihat tingkah kedua temannya itu hanya bisa tertawa sambil menutupi mulutnya.
"Gumi-san! Ah, Gakupo-kun, Akaito-kun.."
"Yo, Piko!" Gakupo melambaikan tangannya.
"Pi-piko-kun? Na-nanika?"
Gumi tampak sedikit terkejut. Ia sama sekali tidak menduga jika Piko akan menyapanya disaat seperti ini. Akaito terlihat sedikit kesal pada Piko. Ia hanya mengalihkan pandangannya dari Piko. Ia berusaha keras mengacuhkan Piko.
"Anoo.. Etto.." Piko tampak gugup.
Tiba-tiba Miku terlihat berjalan melewati Piko begitu saja. Gumi segera memanggil Miku dan berlari mendekatinya. Gumi membisikan sesuatu ditelinga Miku hingga membuat wajah Miku merah, semerah tomat matang.
Gumi dan Miku berbalik mendekati Piko. Gumi terlihat begitu ceria, ia tersenyum lebar pada Piko. Piko dan Gakupo tampak sedikit bingung saat melihat Gumi yang tersenyum senang sedangkan Miku tampak menunduk dengan wajah memerah.
"Piko-kun, aku ingin mengembalikan payungmu."
"Eh?" Piko terkejut, wajahnya tampak memerah.
"Tapi aku ingin makan ramen di warung ibumu lagi, bolehkan aku mengajak Miku?"
"Heehh? Gumi-chan, kau hanya membawa Miku bersamamu? Bagaimana denganku dan Akaito-chan?"
"Berhenti memanggilku seperti itu, Baka Gakupo!"
Akaito memukul pelan kepala Gakupo. Wajahnya tampak sedikit merona karena Gakupo memanggilnya dengan sebutan '-chan' tadi. Gumi dan Miku tertawa bersamaan.
"Hmm.. Ta-tapi aku tidak bisa mentraktir kalian loh.." Piko tersenyum masam.
"Tidak apa. Kami bisa bayar sendiri-sendiri." Akaito tampak kesal mendengar ucapan Piko barusan.
Gakupo yang berada didekat mereka merasakan hawa membunuh dari keduanya. Ia bahkan dapat melihat ada percikan api dari kedua mata Piko dan Akaito. Seolah keduanya saling mengalirkan listrik dari kedua mata mereka. Bahkan rasanya petir bergemuruh dibelakang kedua orang itu.
"A-akaito.. Pi-piko.." Gakupo tampak bingung.
"Eh? Nanika Gakupo-kun?"
"Tidak ada apa-apa. Ayo, kita makan ramen bersama Gumi-chan"
Akaito mengalihan pandangannya dari Piko. Ia lalu tersenyum pada Gumi seolah tidak ada apapun yahg terjadi. Gakupo merasa sedikit tenang, ia bahkan menghela nafas panjang.
"Gumi-chan, good job." Gakupo berbisik pelan.
Piko, Gakupo dan Akaito berjalan melewati Gumi dan Miku. Miku dan Gumi saling memandang, mereka berdua tampak kebingungan dengan apa yang barusan dikatakan oleh Gakupo pada Gumi.
"Gumi-chan, apa yang telah kau lakukan?"
"A-aku tidak tau.. memang apa yang sudah kulakukan?"
Gumi menggelengkan kepalanya pelan. Ia dan Miku menyusul Akaito, Piko dan Gakupo yang telah berjalan jauh didepan mereka berdua. Ia masih saja memikirkan apa yang barusan dikatan oleh Gakupo padanya. Ia benar-benar tidak mengerti itu.
"Tadaima..." Piko membuka pintu warungnya.
"Okaeri.. Piko kau sud.. Eh? Kau mengajak teman-temanmu? Loh, Gumi-chan kau datang lagi?"
Ibu Piko berjalan mendekati Piko dan teman-temannya. Mereka adalah Gumi, Akaito, Miku dan Gakupo. Mereka berempat membungkuk dalam pada Ibu Piko.
"Maaf merepotkan, bi.." Gumi tersenyum simpul.
"Ah.. tidak apa, loh kau tidak bersama Kiyoteru-kun?"
"Ibu sudahlah.. Kenapa kau selalu membahas Kiyoteru-senpai sih? Sudahlah bu, teman-temanku ingin makan ramen disini. Aku akan segera membuatnya."
"Tunggu, kau ajak saja mereka ke kamarmu, nanti ibu yang.."
Belum sempat Ibu Piko menyelesaikan kalimatnya, Akaito sudah menyelanya. Ia bahkan tersenyum sangat manis pada Ibu Piko.
"Maaf, Bi.. lebih baik kami makan diwarung saja."
"Tidak apa, kalian bisa makan di kam.."
"Tidak perlu, Bi. Kalau di kamar anak bibi nanti kami jadi tidak membayarnya. Biarkan kami makan disini saja."
Akaito tersenyum dengan manisnya. Semua orang bahkan bisa melihat puluhan bunga mawar bermekaran disekeliling Akaito. Ia tampak begitu menawan dan bersinar layaknya bintang. Para tamu wanita di warung ramen itu juga tampaknya terpukau pada senyuman Akaito.
"Ba-baiklah, silahkan duduk.. Akan segera bibi siapkan.. ramen kalian.." Ibu Piko berjalan sempoyongan seperti orang yang sedang mabuk.
"I-ibu.."
"Piko, bukankah lebih baik kau bantu ibumu?"
Akaito dan Piko kembali saling menatap. Dan Gakupo kembali merasakan hawa pertengkaran hebat diantara mereka berdua. Piko segera berbalik dan berjalan menuju dapur tanpa membalas Akaito dengan sepatah kata pun.
Gumi, Akaito, Gakupo dan Miku segera menempati sebuah meja kosong yang cukup untuk 6 orang. Mereka berempat duduk saling berhadapan. Miku tampak takjub melihat pemandangan warung ramen yang terasa sangat hangat itu, bahkan wajahnya semakin merona saja sejak tadi.
15 menit kemudian, Piko datang bersama Ibunya sambil membawa beberapa mangkuk ramen. Piko membawa 3 mangkuk dan Ibu Piko membawa 2 mangkuk. Piko memberikan mangkuk yang dibawanya pada Akaito dan juga Gakupo, sedangkan Ibu Piko memberikan ramen yang dibawanya pada Gumi dan Miku.
Akaito sedikit terkejut saat melihat ramen yang diberikan oleh Piko padanya. Ramen itu terlihat lebih merah daripada ramen milik Gakupo ataupun yang lainnya. Bahkan aromanya tercium begitu berbeda.
"Ada apa, A-ka-ito-kun?" Piko berkata dengan nada menggoda.
"Iie, betsuni.."
"Semoga lidahmu terbakar setelah ini.." batin Piko.
Akaito hanya melirik tajam ke arah Piko. Ia merasa makanan untuknya telah dicampur dengan sesuatu.
"Ini terlalu mencurigakan.." Batin Akaito.
"Ittadakimasu!"
Gakupo, Gumi dan Mikiu sudah mulai makan. Wajah mereka tampak berseri-seri. Mereka begitu menikmati ramen yang dihidangkan oleh Ibu Piko barusan. Ramen itu begitu nikmat, bahkan air mata mereka bertiga sudah mengalir sejak pertama mereka makan.
"Kau tidak makan, Akaito-kun?" tanya Piko seraya duduk di samping Akaito.
"Huh? Bukan urusanmu, ittadakimasu.."
Akaito segera melahap ramen yang ada dihadapannya. Benar saja, Akaito merasa sedikit kepedasan. Ia merasakan rasa lain yang tidak berasal dari ramen itu, ia merasa pernah merasakan rasa pedas yang khas itu. Ia lalu teringat akan makanan kesukaannya, Habanero Pepper.
Piko menatap Akaito dengan tatapan yang seolah mengatakan 'Bagaimana rasanya, Akaito..' dan benar saja, baru sebentar Akaito sudah berkeringat cukup banyak. Ia makan sambil sesekali menyeka keringatnya. Piko sama sekali tidak mempedulikan Akaito, ia hanya melanjutkan makannya. Namun Gumi, Gakupo dan Miku hanya menatap heran kearah Akaito. Mereka tidak menyangka jika Akaito sampai segitunya saat makan ramen.
"A-Akaito-kun? Daijoubu dayo?" Gumi tampak cemas.
"Oh? Iya, Aku baik-baik saja.. Kenapa, Gumi-chan?"
"Hounto desu ka? Keringatmu banyak sekali.."
Gumi menyeka keringat Akaito dengan tissu yang dibawanya. Wajah Akaito langsung memerah saat Gumi melakukannya. Ia tidak menyangka jika Gumi akan seperhatian itu padanya. Piko melirik kearah Akaito yang berada disampingnya, ia sama sekali tidak menyangka jika yag dilakukannya malah menguntungkan Akaito.
"Huh? Kenapa malah jadi begini? Dan kenapa aku melakukan hal seperti itu pada Akaito? Memangnya dia sainganku apa? Huh, aku tidak mengerti.." batin Piko.
Piko hanya meneruskan makannya dengan wajah kesal. Ia merasa panas di dalam dadanya, ia merasa sangat kesal melihat Gumi begitu perhatian pada Akaito. Tapi disaat yang bersamaan Piko merasa bingung, kenapa ia harus merasa kesal pada Akaito dan kenapa ia begitu ingin mengalahkan Akaito agar Gumi memperhatikannya. Ia pun tidak tahu.
Langit tampak semakin gelap. Tidak terasa malam telah tiba, Gumi dan lainnya pun memutuskan untuk pulang. Piko hanya bisa tersenyum masam sambil melambaikan tangannya saat Gumi dan Akaito pulang bersama.
Piko kembali masuk kedalam rumahnya dengan wajah lesu. Ia sama sekali tidak bertenaga, rasanya seluruh tenaganya terkuras habis hanya untuk meladeni Akaito seharian ini. Ibu Piko tampak sedikit khawatir melihat anaknya seperti itu.
"Piko? Kau kenapa?"
"Oh, Ibu.. Aku tidak apa, Aku hanya ingin mandi dan istirahat.."
"Kau kurang sehat? Ya sudah, sebentar lagi ibu juga akan menutup toko. Kau istirahat saja."
"Iya, Bu.."
Piko berjalan sempoyongan menuju kamar mandi didekat kamarnya. Ia lalu melepaskan seluruh pakaian dan ia mulai membersihkan badannya. Setelah bersih ia berendam di air hangat yang telah disiapkan oleh adik perempuannya. Ia berendam sambil menatap langit-langit.
"Aku ini.. kenapa ya.." desah Piko.
"Kenapa aku jadi jahat seperti itu pada Akaito? Toh dia tidak menggangguku.."
"Tapi kenapa aku jadi kesal padanya saat ia di dekat Gumi?"
Piko tampak berbicara seorang diri didalam kamar mandi. Ia menatap langit-langit kamar mandinya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia terlalu pusing untuk memikirkan apa yang terjadi padanya.
SRAAAK!
Seseorang membuka pintu kamar mandi itu. Orang itu adalah adik perempuan Piko, Ia terlihat seperti Piko hanya saja rambutnya lebih panjang dan ia adalah seorang gadis. Ia hanya mengenakan selembar handuk untuk menutupi tubuhnya. Ia terlihat begitu terkejut mendapati kakak laki-lakinya tengah berendam di dalam bak mandi yang ia siapkan.
"O-o-onii-chan!" Wajah adik Piko memerah, ia bicara sambil tergagap.
"Eh, Rana.. Kenapa kau masuk ke sini?"
"O-O-ONII-CHAN! Kenapa kau mandi?! Aku menyiapkan air itu untukku sendiri tahu?!"
Rana berteriak sangat keras. Bahkan Rana melempari Piko dengan menggunakan barang-barang yang ada didekatnya. Entah itu ember ataupun sikat dan gayung sekalipun. Ia merasa sangat kesal pada kakaknya apa lagi Piko seenaknya menggunakan air hangat yang ia siapkan.
"A-au.. aa.. Ra-rana, hentikan.. Baiklah kakak akan keluar.. berhenti dong.."
Piko melindungi dirinya dengan menggunakan tangannya. Ia juga berusaha untuk bangkit dari posisinya yang tengah berendam saat ini. Melihat Piko berdiri, Rana lalu berbalik sambil berteriak dan menutup pintu kamar mandi dengan kerasnya.
"He-hentai! Kau ingin aku melihatnya apa?! Baka Onii-chan!"
"Eh? Memang apa yang bisa dilihatnya?" Piko sedikit bingung.
"Hah? Kau masih bertanya apa yang bisa kulihat?! Onii-chan, Aku sudah kelas 2 SMP! Jangan perlakukan aku seperti dulu lagi!"
Piko dapat mendengar suara Rana dari luar kamar mandi. dari nada bicaranya saja Piko sudah tahu jika adik perempuannya satu-satunya itu sedang kesal padanya. Piko lalu hanya mengangkat bahu dan kembali membenamkan dirinya kedalam air hangat.
"Gomen, Rana. Besok akan kakak belikan kue kesukaanmu.." batin Piko.
Piko terlarut dalam kenikmatan air hangat ang ia gunakan untuk berendam. Ia jadi merasa mengantuk dan iapun memejamkan kedua matanya. Ia teringat akan senyuman Gumi, tawa Gumi bahkan tangisan Gumi. Hanya bayangan wajah Gumi yang tergambar dipikirannya saat ini.
"Uh? Kenapa aku memikirkanmu, Gumi-san? Belum lagi ini..." batin Piko.
Ia memegangi dadanya. Jantungnya terasa berdebar begitu cepat seakan berpacu dalam sebuah balapan kuda. Ia tidak mampu mengendalikan perasaannya saat ini. Ia hanya bisa memikirkan Gumi, Gumi dan hanya Gumi.
"Debaran jantungku semakin gila saat aku memikirkanmu, Gumi-san.." guman Piko.
"A-aku ingin segera bertemu denganmu, Gumi-san."
"Gimi-san.. Gumi-san.. Gumi.."
Piko terus-terusan menggumankan nama Gumi. Pikirannya benar-benar dipenuhi oleh Gumi seorang saat ini. Ditengah dinginnya malam, langit bahkan terlihat sangat mendung. Piko tidak bisa melihat bintang-bintang yang biasanya menghiasi langit malam dari jendela kamar mandinya.
To be Continue
Jangan Lupa Reviewnya ya... xD
