Hallo Minna (^_^)
Makasih ya udah bersedia review. Oh ya di chapter ini sama kaya kemaren, ceritanya dimulai dari flashback. Moga Fuuyu bisa cepet update terus, soalnya fic ini Fuuyu perkirain bisa lebih dari 10 chap. Kemaren Fuuyu sempet buntu ide banget buat bikin chapter yang sekarang.
Sekarang waktunya Fuuyu bales review dulu
- Erica719: Makasih ya Erica atas masukannya. Fuuyu minta maaf banget di chap kemaren sempat kacau banget penulisannya :( Fuuyu gak liat lagi hasil ketikannya. Makasih ya udah bersedia review (^_^) moga di chap ini gak ada kesalahan kaya kemaren.
- Shion-Hana: Good Question. Hehehehe. Kemungkinan masih beberapa chap lagi, soalnya sekarang lagi bahas flashbacknya Hinata dulu, jadi Madara belum muncul #masih nego harga, secara klan Uchiha itu honornya cukup tinggi(?) hehehe# Moga Shion-Hana masih bersedia stay tune ya di fic Fuuyu (^_^) sampe Om Madara muncul.
- Ulin Nuha: Makasih ya Ulin udah bersedia baca n review fic Fuuyu. Ceritanya cukup dramatis di chap kemaren, tapi diperkirakan chap depan lebih tragis lagi(?) hehehee. Moga di chap ini bisa rileks yaa (^_^)
- Uchiha Rhidani: Makasih ya udah bersedia review. Di fic ini Fuuyu memang bikin semuanya pada crack pair. Fuuyu lagi seneng pasangin Hinata ama Om Madara. Hehehe. Kalo Ino ama Kimimaro, sebenernya Fuuyu mulai ragu juga mau bikin pairnya. Mau kasih masukan pairnya Ino buat Fuuyu?
- Ade854: Makasih ya udah review fic Fuuyu :) Iya Ino nasibnya cukup tragis di chap kemaren, tapi Fuuyu usahain Ino gak tragis banget nanti hidupnya. Di chap ini Fuuyu mengulas kisahnya hinata. Sankyuu ya supportnya :) hehehe
Oh ya, kayanya pada kurang sreg ya ama pair Ino x kimimaro? Kalo gitu Fuuyu minta masukannya ya sama teman-teman, enaknya Ino dipasangin ama siapa selain Sai? Soalnya Fuuyu pengen bikin crack pair, tapi Fuuyu tetap menerima aspirasi dari teman-teman (^_^)
Terima kasih buat yang udah review dan kasih masukan buat Fuuyu. Semoga fic ini gak garing dan ngebosenin. Terima kasih juga buat yang udah follow dan favorite fic Fuuyu yang masih banyak kekurangan ini. Fuuyu terharu.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Main Pair: Ino Y x ?, Hinata H x Madara U, Sakura H x Sasori
Rate: M (for lemon)
Genre: Romance, Drama, Hurt/comfort
Warning: AU, Typo, OOC, Lemon Inside, Crack Pair. Sebaiknya yang membaca fic ini min. 17 th yaa. Kalau masih ada yang nekat, Fuuyu gak tanggung jawab lhoo...
Don't Like, Don't Read!
~~* Happy Reading *~~
GEISHA dan CINTA
Chapter 4: Lavender's life
Hinata POV
Perkenalkan, namaku Hinata Hyuga. Aku berada ditempat ini sekitar empat bulan setelah Ino-chan. Kedatanganku ketempat ini tidak beda jauh dengan ino-chan, bisa dibilang kisah kami memiliki kesamaan.
Keluargaku sebenarnya salah satu keluarga terhormat disini, tapi sekarang aku malah berada di tempat ini.
Bukan bermaksud sombong tapi siapa yang tak kenal dengan hyuga? Keluarga terhormat yang menjunjung tinggi adat dan tradisi serta salah satu pengusaha terbesar dikonoha.
Hyuga telah memulai bisnis sudah sejak dulu kala, ketika konoha masih menjadi desa kecil dan belum ramai seperti sekarang ini.
Tousanku, Hiashi Hyuga berasal dari keluarga inti dan merupakan pemimpin klan. Kami masih menganut sistem yang membagi keluarga berdasarkan inti dan cabang.
Hanya golongan dari inti yang bisa menjadi pemimpin, sedangkan golongan cabang hanya akan menjadi pengawal saja. Tidak adil memang tapi mau bagaimana lagi? Sudah ketentuan sejak zaman leluhur.
Tousan merupakan keturunan dari golongan inti begitupun kakek maupun buyutku. Entahlah, aku tidak begitu tertarik dengan silsilah keluarga yang rumit itu.
Aku memiliki seorang adik yang bernama Hanabi Hyuga. Sedangkan Kaasan, beliau telah berpulang pada Kami-sama setelah melahirkan Hanabi.
Sejak itu aku yang menggantikan tugas-tugas Kaasan seperti memasak, mengurus rumah bahkan, dan merawat Tousan serta Hanabi.
Tousanku mengawali bisnisnya dengan membuka peternakan. Tak menunggu waktu lama, menginjak usia 2 tahun, usaha keluarga kami berkembang pesat. Kami banyak mensupplai hasil ternak hingga ke berbagai kota.
Setelah itu Tousan membuka pabrik makanan dan minuman yang bahan-bahannya diambil dari peternakan kami sendiri. Dan kami pun menjadi pengusaha tersukses saat itu.
Ah, aku hampir lupa. Tousan memiliki saudara kembar, namanya Hizashi Hyuga. Pamanku memiliki seorang anak laki-laki yang usianya lebih tua satu tahun dariku, namanya Neji Hyuga.
Paman Hizashi dan Neji-Nii sangat baik kepadaku dan Hanabi. Kami sudah seperti anaknya sendiri. Selama ini pamanlah yang selalu membantu Tousan.
Tapi sejak 6 tahun yang lalu paman Hizashi dan Neji-Nii pindah ke Tokyo untuk memulai usahanya sendiri disana. Paman bilang tidak ingin terus bergantung dan menyusahkan Tousan, padahal Tousan sama sekali tidak merasa demikian.
Flash Back
Karena paman bersikeras ingin ke Tokyo, akhirnya Tousan dengan berat hati melepas kepergian mereka. Aku dan Hanabi pun merasakan hal yang sama, karena sejak kecil kami sudah menganggap Neji-Nii seperti kakak kandung kami.
Kami bersama-sama mengantar paman dan Neji-Nii ke bandara. Kami bergantian memeluk paman dan Neji-Nii. Ketika tiba giliranku memeluk Neji-Nii aku menagis di dada bidangnya, ia mengelus kepalaku dan mengecup keningku sambil menghapus air mataku.
"Sudah jangan bersedih Hinata-chan, aku kan hanya pergi ke Tokyo, bukan pergi ke alam baka. Hehehe" ucap Neji-Nii yang masih memelukku. Reflek aku pun memukul dadanya mendengar perkataannya yang ngelantur tersebut.
"Baka, jangan berkata seperti itu Neji-Nii. Kau malah membuatku cemas" ucapku yang masih enggan melepas pelukannya.
Mungkin orang-orang disana menganggap kami sepasang kekasih yang akan berpisah jauh. Tapi jika mereka juga lebih teliti melihat kami, kami memiliki sepasang bola mata yang sama. Dan juga ada Tousan serta paman disana.
Neji-Nii kembali mengecup keningku dan tersenyum manis kepadaku.
"Iya iya maaf. Sudah tidak perlu cemas begitu, kau kan bisa menghubungi ponselku kapan saja Hinata. Aku juga akan sering menghubungimu lewat telepon, email bahkan surat sekalipun.
Karena aku pasti akan merindukan adikku yang manis ini" Ucap Neji-Nii yang membuat lega dihatiku.
"Ne, Neji Nii-san, apa kau hanya akan merindukan Nee-chan? Apa aku tidak manis seperti Nee-chan?" ucap Hanabi yang berpura-pura merajuk sambil mengerucutkan bibirnya.
Kami pun tertawa mendengar perkataan Hanabi. Neji-Nii melepas pelukannya untukku, ia menghampiri Hanabi yang masih berwajah menggemaskan.
"Ah, maaf ya Hanabi. Aku juga pasti merindukanmu disana. Kau itu tidak manis Hanabi..." ucap Neji-Nii yang menggantungkan kalimatnya. Hanabi makin menggembungkan pipinya yang chubby.
Lalu Neji-Nii mengusap lembut kepala Hanabi dan melanjutkan perkataannya "Kau itu imut dan menggemaskan Hana-chan. Hehehe. Aku titip Hinata ya. Tolong jaga dia selama aku pergi" ucap Neji-Nii sambil tersenyum lembut pada Hanabi.
"Tenang saja Neji-Nii, aku pasti menjaga Nee-san ku yang cantik dan manis ini" ucap Hanabi dengan senyum lebarnya. Neji-Nii mengangguk dan kembali mengusap kepala Hanabi sambil tersenyum.
"Nah Hinata-chan, Hanabi-chan paman dan Neji harus check in dulu sebelum keberangkatan. Jaga diri kalian baik-baik ya, jaga juga ayah kalian.
Arigatou selama ini sudah membantu mengurusku dan Neji. Sampai Jumpa" ucap paman sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
Neji pun turut melambaikan tangannya, lalu mereka berjalan masuk kedalam bandara dan meninggalkan kami. Kami pun berbalik menuju ke tempat mobil diparkir, akan tetapi ada hal yang masih mengganjal dihatiku.
Segera aku pamit meninggalkan Hanabi dan Tousan. Aku berlari mengejar Neji-Nii yang masih berjalan hampir memasuki pintu masuk. Aku berteriak memanggil namanya. Ia terkejut melihatku yang berlari kearahnya.
Aku langsung memeluknya erat, ia hampir jatuh karena tidak siap dengan pelukanku yang tiba-tiba. Ia menatapku heran, tanpa aba-aba aku segera mencium bibirnya.
Terasa dingin, manis dan lembut dibibirku. Ia tampaknya masih syok dengan perbuatanku, aku tidak peduli. Aku masih menciumnya dan ia pun mulai mengikuti permainan bibirku.
Mulanya hanya lumatan lembut tapi lama-lama menjadi penuh nafsu dan mulai menuntut. Lidah Neji-Nii membelit lidahku, tangannya melingkar erat dipinggangku. Merasa mulai kekurangan oksigen, kami pun melepaskan diri.
Mata lavender kami saling bertemu, ia tersenyum manis sambil mengelus bibirku dengan ibu jarinya.
"Mengapa kau melakukan ini Hinata?" tanyanya yang masih tersenyum padaku.
"A-aku mencintaimu Nii-san. Gomen ne aku telah lancang menciummu" ujarku dengan malu-malu seraya menundukkan kepala. Neji-Nii mengangkat daguku, menatapku dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Aku juga mencintaimu Hinata, sangat mencintaimu. Tidak kusangka kau lebih berani dariku. Hehehe. Aku tidak menyesal kau merebut ciuman pertamaku" ucap Neji-Nii sambil mengelus pipiku.
Aku tersenyum bahagia, rasanya aliran darahku berdesir cepat ditubuhku. Tiba-tiba ponsel Neji-Nii berbunyi. Ia langsung menjawab panggilan tersebut.
"Ne, Hinata maaf aku harus segera berangkat. Barusan ayah yang menelponku. Susul aku di Tokyo Hinata. Aku akan selalu menunggumu disana. Sampai jumpa Hinata, Aishiteru" ucap Neji-Nii kembali berpamitan padaku sambil memelukku erat dan kembali mencium bibirku.
Setelah itu Neji-Nii mulai berjalan memasuki pintu masuk. Aku masih mematung disana. Merasakan kekosongan dari diriku. 'Iya, aku akan menyusulmu, tunggu aku Neji-Nii' ucapku mantap dalam hati.
Aku berjalan menuju tempat mobil Tousan diparkir. Mereka masih disana menungguku. Tousan tersenyum kepadaku, sedangkan Hanabi menatapku dengan seringaian yang aneh.
'Ada apa dengan mereka? Mereka tidak sedang kerasukan hantu iseng dibandara kan?' batinku aneh melihat sikap Tousan dan Hanabi. "Ciiiee... Ciieee.. Ada yang baru jadian ya?" ucap Hanabi yang masih menyeringai padaku.
"Sudah Hana-chan, jangan menggodanya. Kita akan membahasnya nanti dirumah" ucap Tousan sambil tersenyum dan memegang pundakku. Aku masih menatap heran pada mereka.
Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu. "Hanabi, jangan bilang..." ucapku sambil menatap terkejut pada mereka dan menutup mulut dengan kedua tangan. Hanabi terkikik, entah karena melihat ekspresiku atau mendengar kata-kataku.
"Sudah Hinata, ayo kita pulang. Nanti kau harus Ceritakan semuanya pada Tousan" ucap Tousan sambil memasuki mobil dan tunggu,,, sepertinya mataku melihat senyuman tepatnya seringaian yang sama seperti Hanabi beberapa detik lalu diwajah Tousan!
'Kami-sama,,, apa yang harus aku katakan nanti?' ujarku panik dalam hati.
Akhirnya sampai juga dirumah, aku sudah tidak sabar ingin segera merebahkan tubuhku dikasur. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan kepergian Neji-Nii.
Baru saja aku berjalan menuju kamar, Hanabi sudah berteriak memanggilku. "Nee-chan, Tousan menunggumu diruang keluarga". Aku mengiyakan dan segera menuju tempat Tousan menungguku.
Aku mengetuk pintu ruangan tersebut dan terdengar suara Tousan mempersilahkanku masuk. Didalam sudah ada Tousan dan Hanabi yang duduk dengan manisnya sambil tersenyum padaku.
"Ah, Hinata. Sini duduk disamping Tousan" ucap Tousan sambil menepuk kursi disampingnya. Aku pun menurut dan duduk disamping Tousan.
"Nah Hinata, sekarang ceritakan pada Tousan" ujar Tousan sambil tersenyum dan mengelus kepalaku. Aku tidak mengerti apa maksud Tousan. Melihat ekspresiku yang bingung, Tousan tersenyum.
"Ah sepertinya kau lupa ya Hinata? Hanabi coba jelaskan soal tadi" ucap Tousan.
"Ne, Nee-chan. Aku melihatmu dan Neji-Nii sedang berciuman dibandara tadi. Sepertinya Nee-chan sama sekali tidak menyadari kehadiranku ya? Hehehe" ujar Hanabi sambil tertawa padaku.
Aku menelan ludah, aku sangat malu jika harus mengakuinya didepan Tousan. Tapi sudah kepalang basah, mau tidak mau aku akan berkata jujur didepan mereka.
"A-Ano,,, E-Eto.. A-Aku aku sudah lama menyukai Neji-Nii Tousan. Maafkan aku" ucapku dalam satu tarikan nafas sambil menunduk, tak kuasa menatap seperti apa reaksi Tousan.
TBC
Akhirnya Fuuyu bisa update tentang Hinata. Maaf ya kalo chap ini rada garing. Tidak bosan2 Fuuyu minta review positifnya dari minna. Dan juga Fuuyu tidak menerima flame dalam bentuk apapun.
Kembali Fuuyu ingatkan soal siapa yang lebih enaknya jadi pair Ino selain Sai? Fuuyu tunggu ya responnya dari minna (^_^) Thank's 4 reading. Jaa~
