Aku tidak pernah membencimu. Aku hanya agak buruk dalam menunjukkan kalau aku sangat menyukaimu.
.
Aku putus asa karena kau sangat bodoh. Aku menyerah karena kau sangat bodoh. Dan, aku tidak jadi menyerah karena kupikir kau benar-benar bodoh, jadi aku harus lebih bersabar dan membuatmu bisa benar-benar melihat apa yang sedang terjadi disini.
.
.
.
THE OTHER SIDE OF THE DOOR
.
.
.
"Kalian mau menonton The Beauty Inside?"
Saat itu sudah jam makan siang, dan seperti biasa, Seulgi akan duduk di pojokan kafetaria menyantap nasi, bulgogi, telur goreng tahu dan acar bersama kedua sahabatnya sambil mengobrolkan hal-hal kecil yang mereka anggap menarik.
Seperti perilisan film romantis terbaru milik agensi Next Entertainment yang melibatkan seluruh artisnya—Han Hyo Joo, Park Seo Joon, Seo Kang Joon, Lee Hyun Woo, Lee Dong Wook, hingga Kim Joo Hyuk yang pernah menjadi anggota reality show Two Days One Night itu. Kebanyakan teman-teman kelas dua Seulgi sudah menonton pada hari pertama perilisannya, kemarin, kecuali beberapa orang yang belum sempat, tidak bisa sama sekali atau yang malas berdesak-desakkan untuk mendapatkan tiket masuk seperti Seulgi, Ji Ah, dan Eun Ji.
Banyaknya respon positif dan bagaimana para siswa membicarakannya di setiap waktu kosong yang mereka punya—di koridor, tangga, perpustakaan, kafetaria, hingga bahkan saat pelajaran sedang berlangsung di dalam kelas—membuat ketiga gadis itu akhirnya menjadi benar-benar penasaran saat ini.
Eun Ji mengangguk penuh semangat. "Haruskah kita pergi menontonnya sore ini? Tapi, harga tiketnya pasti masih sangat mahal…"
"Ya, tidak apa-apa kalau mahal! Sebanding untuk satu hiburan yang bagus." Ji Ah menyesap sedikit susu kotak mininya. "Kudengar Park Shin Hye Eonnie hanya muncul beberapa saat saja."
"Sungguh? Wah… Sayang sekali." Eun Ji menggembungkan pipinya sedih.
"Ueno Juri-san juga hanya muncul sebentar."
"Ueno Juri juga ada? Wah… Filmnya pasti benar-benar bagus! Kau sudah lihat sinopsisnya di internet?"
"Sudah." Ji Ah mengacungkan kedua ibu jarinya sebentar. "Karakter pemeran utama prianya selalu berganti-ganti saat ia bangun. Jadi laki-laki, perempuan, anak kecil, orang tua, dan di saat yang lain dia jatuh cinta pada Han Hyo Joo Eonnie."
"Berubah-ubah? Laki-lakinya mengidap Skizofrenia?"
Ji Ah menggeleng dengan gestur profesionalnya yang lucu. "Dia berubah secara fisik."
Mulut Eun Ji setengah membuka membentuk huruf O. "Daebak! Maksudmu jadi tua…yang benar-benar tua?"
"Iya!"
"Kita harus benar-benar menontonnya nanti sore." Eun Ji segera beralih pada Seulgi yang sedari tadi sibuk makan dengan tenang di sampingnya itu, menarik-narik lengannya penuh determinasi. "Kita pergi ke bioskop, oke? Kita pergi, ya? Kau mau, kan?"
Seulgi menghela napas samar, meletakkan sendoknya lalu mendongak menatap kedua sahabatnya itu bergantian dengan enggan. Demi apapun, dia hanya seorang gadis remaja biasa yang sangat ingin ke bioskop dan menonton sebuah film drama romantis, apalagi kalau dia bisa melihat Lee Dong Hwi dan Lee Jin Wook dengan gigi kelinci super imutnya untuk cuci mata.
Tapi, dia juga adalah gadis remaja yang sedang jatuh cinta—pada orang yang sangat salah—dan kebodohannya berharap ia bisa pergi ke bioskop dan menonton film drama romantis yang dimaksud bersama si wrong guy idiot itu.
Tapi, tidak akan ada kemungkinan bagus apapun yang akan menghampiri Seulgi seolah-olah dia baru saja menang jackpot, jadi dia berusaha untuk tidak bersinggungan dengan topik terhangat pekan ini. Setidaknya, tidak dengan Ji Ah dan Eun Ji. Walaupun lagi-lagi Seulgi tidak akan seberuntung itu—harapannya pupus dua kali, dan ia sadar kalau kedua sahabatnya itu pasti tetap akan membicarakannya bagaimanapun juga.
"Dia tidak akan pergi."
"Kenapa?" Eun Ji menatap Ji Ah terluka, butuh penjelasan. "Aku ingin menonton filmnya bertiga." Ia kembali beralih pada Seulgi yang sedang menunjukkan tampang masam. "Kumohon, Baek Seulgi… Kau mau, ya?"
"Dia sedang menunggu seseorang untuk mengajaknya." Ujar Ji Ah lagi, mewakili penolakan yang belum sempat Seulgi ucapkan secara langsung.
Eun Ji menunjukkan sedikit reaksi keterkejutan di wajahnya.
"A-Aku tidak menunggu siapa-siapa!" Bela Seulgi, tapi wajahnya yang memerah menunjukkan jawaban yang lain.
"Kau masih menyukai Min Yoongi? Dia bilang tidak peduli padamu!"
"Siapa yang, masih, menyukainya?" Seulgi masih mengelak dengan mode defensif penuh. "Aku juga sama tidak pedulinya seperti idiot itu. Masalahku sudah lama berakhir, tahu!"
Eun Ji dan Ji Ah saling lirik, lalu menyunggingkan senyum penuh arti yang dimata Seulgi hanya berarti satu. Kedua gadis menyebalkan itu sedang meledeknya.
Baiklah. Kalau itu adalah Seulgi yang masih mengomel karena keramahan pura-pura Yoongi pada Moon Jae Hee di kelas, karena lambaian sok kerennya pada para siswi kelas satu yang jadi semakin sering menonton permainan bola basket di gym, dan karena ketidakacuhan Yoongi yang selalu padanya, masalahnya memang tidak benar-benar berakhir.
Tapi juga tidak seburuk itu, kan? Seperti, dia mengamuk lalu menangis bersimbah air mata atau apa. Maksud Seulgi, dia selalu menghadapi situasi yang sama setiap hari sejak bertahun-tahun yang lalu, dan apa yang membedakan adalah kali ini dia melibatkan perasaannya makanya jadi lebih berat.
"Terserah." Seulgi menyesap habis isi susu kotaknya yang berukuran mini. "Kalian tidak akan mengerti."
"Lihat, Yoongi datang—"
"Astaga! Mana? Mana?" Seulgi segera merapikan rambutnya dan berdehem sebelum menoleh ke belakang. "Hai…"
"—tapi ternyata aku salah lihat." Eun Ji tersenyum jahil, dan diam-diam melakukan high five penuh kemenangan dengan Ji Ah di bawah meja. "Itu Park Chanyeol. HAI, PARK CHANYEOL!"
"Kau!" Seulgi mendelik tajam ke arah Eun Ji. Wajahnya benar-benar memerah saat ia harus berbalik lagi ke arah Chanyeol nyaris dua meter dari meja mereka dengan sikap tenang yang dibuat-buat. "Hai…"
Sosok jangkung Park Chanyeol sudah menyelesaikan makan siangnya lebih dulu dan berniat untuk meninggalkan kafetaria dengan cepat, karena ia hanya punya sepuluh menit untuk menyelesaikan tiga nomor terakhir PR sejarahnya sebelum bel masuk kelas berbunyi. Tapi panggilan dari Eun Ji menahannya, dan saat melihat ke arah asal suara, senyum lebar Chanyeol segera terkembang manis—tentu saja.
Ia melambai satu kali ke arah tiga gadis beda mood itu, lalu perhatiannya segera terpusat hanya untuk satu orang saja.
"Hai…"
"Hai." Seulgi sudah mengatakannya dua kali.
Chanyeol menggaruk-garuk tengkuknya sebentar, berpikir untuk mengatakan sesuatu—apa saja, tapi bukan hal konyol seperti, "Kau sedang makan siang." Yang bahkan bukan sebuah pertanyaan.
"Uh, ya."
"Oke." Chanyeol berpikir lagi, kali ini lebih keras. "Aku harus kembali ke kelas. Sampai nanti, ya?"
"Tunggu!" Tahan Seulgi cepat, dan raut merah di wajahnya belum juga menghilang. "Ikatan tali sepatumu yang sebelah terbuka."
Chanyeol menunduk, dan segera berjongkok untuk mengikat simpul kembali kedua tali sepatu kanannya. Saat berdiri lagi, Chanyeol menyunggingkan senyum manisnya yang paling lembut pada Seulgi sebagai isyarat terima kasih, lalu bergegas pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Seulgi menghela napas lega, segera membaringkan kepalanya di atas meja, sementara kedua gadis yang sedang bersamanya itu meledek kecanggungan yang sangat bernuansa drama diantara ia dan Park Chanyeol barusan.
Bukan sepenuhnya salahnya, kalau Park Chanyeol sampai kesulitan berkata-kata dan Ji Ah serta Eun Ji jadi tidak tahan karenanya.
"Apa-apaan itu tadi?"
"Itu apa?" Tanya Seulgi malas.
"Kau mulai memperhatikan pada Park Chanyeol, kan?" Tuduh Ji Ah.
"Jangan bodoh. Dari jarak sepuluh meter pun, aku pasti bisa melihat tali sepatunya yang terlepas kemana-mana." Seulgi mengangkat wajahnya menatap kedua sahabatnya itu dengan kening mengernyit. "Memangnya kalian tidak bisa melihatnya?"
"Lalu, kenapa wajahmu memerah begitu?"
"Bukankah itu karena kau gugup bertemu dengannya?"
"Karena kalian mengerjaiku!" Seulgi menegakkan tubuhnya, dan menjitak kepala kedua sahabatnya itu dengan sepenuh hati. "Karena kalian berteriak-teriak 'Itu Min Yoongi! Ini Min Yoongi!', aku jadi panik karena kupikir dia benar-benar datang. Konyol sekali."
"Ckckck… Idiot itu benar-benar membuatmu jatuh cinta." Simpul Ji Ah takjub. "Lebih baik kau segera melupakan suami tidak berperasaanmu itu, dan belajar menyukai Chanyeol. Dia pasti akan memperlakukanmu dengan sangat baik."
Lagi, saran yang sama seperti yang dikatakan oleh separuh dari belahan hati Seulgi yang rasional.
Dari sekian banyak hal yang Seulgi harapkan, Chanyeol yang selalu datang padanya. Setiap hari, tampan, dan tersenyum manis dengan kedua matanya yang bulat bersih dan berbinar terang.
Mau tidak mau, Seulgi jadi memikirkan hal itu lagi. Dan, Seulgi memang masih memiliki janji pada Chanyeol, bahwa dia akan memikirkan jawaban untuk ungkapan cinta Chanyeol beberapa hari yang lalu itu.
"Kita pergi menonton saja dan lupakan permasalahan cowok yang membingungkan ini." Saran Eun Ji menengahi, sekali lagi menyatakan niatnya tidak mau ketinggalan untuk bisa menjadi bagian utuh dari topik utama minggu ini di komunitas sekolah.
Lupakan ajakan kencan yang akan datang, atau yang ditunggu-tunggu tapi mustahil terjadi. Tidak usah ada degup-degup jantung yang tidak karuan, ataupun gelepar jutaan kupu-kupu.
Usus Seulgi terlalu sempit untuk dimasuki satu ekor, apalagi jutaan. Lebih baik dia pakai kotak kaca berukuran jumbo untuk menyimpan jenis-jenisnya yang langka lalu ia jual ke museum biologi. Menghasilkan uang. Sisanya adalah bersenang-senang dengan kedua sahabatnya, dan fokus pada pendidikannya di satu sisi.
Sempurna.
.
.
.
Begitu bel istirahat berbunyi keesokan harinya, salah seorang Hoobae dari kelas satu bertubuh kurus dengan wajah oval familiar menghampiri meja Min Yoongi dengan setengah berlari dan tersenyum lebar.
"Sehun-ah." Sapa Yoongi riang, baru saja selesai membereskan buku-bukunya.
Seulgi sedikit melirik ke depan sambil menajamkan penglihatan dan pendengarannya, tertarik.
"Anak-anak dari klub sepakbola mengajak kita bertanding basket, Sunbae. Kata Jong Dae, Sunbae harus ikut dalam tim kami. Sunbae bisa bergabung?"
Yoongi terkekeh, berpura-pura terdengar angkuh saat ia bicara. "Tentu saja! Ya, apa yang anak-anak sepakbola itu tahu tentang basket? Mereka mau memasukkan bola ke ring dengan kaki?"
Sehun ikut terkekeh.
Yoongi segera berdiri.
"Kau mau kemana?" Seulgi refleks ikut berdiri.
Yoongi menghela napas samar, menoleh ke belakang dengan enggan. "Ada apa?"
Seulgi meringis samar karena Yoongi begitu dingin, menggigit bibirnya menahan sedih. "Aku cuma bertanya. Bukan kejahatan, kan?"
Yoongi ikut-ikutan meringis. Dia bukannya sengaja menyakiti Seulgi begini dengan senang hati. "Ada apa?" Yoongi mencoba membuat dirinya terdengar sedikit lebih ramah.
"Kau tidak akan makan siang?"
"Nanti saja. Sudah, ya? Dah." Yoongi segera berbalik dan pergi—diikuti oleh Sehun dengan patuh, sebelum berdiri lebih lama di depan Seulgi membuatnya semakin terlihat seperti seorang pecundang yang bisanya hanya bersikap jahat saja.
Tapi begitu tiba di gym, Yoongi pikir dia bisa menyalurkan bakat buruknya itu pada orang lain yang lebih tepat. Si jangkung yang sedang mengobrol di seberang lapangan, yang sudah pasti adalah salah satu anggota dari klub basket juga.
Tidak akan separah adegan saling balas tinju dan dorongan di dalam drama-drama remaja televisi, tapi paling tidak bisa membantu Yoongi mengeluarkan sedikit kekesalannya dan agar Park Chanyeol itu bisa merasakannya. Bahwa Yoongi tidak menyukai cowok itu, terutama saat dia dan senyum lebarnya terus-menerus menempeli Seulgi.
Yoongi melonggarkan dasinya sedikit, memperhatikan Sehun dan salah seorang siswa dari tim sepakbola mengundi dengan koin, lalu mereka semua segera mengambil posisi masing-masing di lapangan.
Begitu Jeon Jungkook teman sekelas Sehun meniup peluit sebagai wasit, pertandingan segera dimulai. Yoongi mendapat operan dari Kim Jong Dae, dan segera mendribblenya ke arah ring lawan. Tanpa ragu menabrak Chanyeol yang menghadang hingga goyah. Sayangnya Yoongi belum bisa mencetak angka, karena lemparannya sedikit lebih rendah. Kali kedua dihadang Chanyeol, Yoongi kembali menabraknya kuat-kuat hingga nyaris jatuh lagi.
Jungkook menyatakannya sebagai pelanggaran, dan memberi Yoongi peringatan.
Beberapa pemain mulai mengeluhkan sikap Yoongi yang tidak biasanya itu.
Gantian Chanyeol yang mendapat bola dan segera berlari menyeberangi lapangan dengan gesit, Yoongi menghentikan pergerakan cowok itu dengan mendorongnya. Kali ini Park Chanyeol benar-benar jatuh, dengan suara berdebum saat tubuhnya limbung tertelungkup menghantam lantai.
Jungkook kembali meniup peluit, dan para pemain segera mengelilingi kedua orang beda ukuran fisik karena panjang kaki itu.
"Sunbae…"
"Chanyeol-ah!"
"Ya, Min Yoongi!" Tegur Choi Jun Hong yang sama saja jangkungnya dengan Park Chanyeol, membantu si rekan setim berdiri. "Apa-apaan kau ini?"
Yoongi hanya berdecih tidak suka—kesan malas dan meremehkan terpancar dengan jelas dari sorot mata dan raut wajahnya, berbalik dan meninggalkan lapangan tanpa mengatakan apa-apa
Bahkan sepotong kecil permintaan maaf, karena dia tidak merasa bersalah.
Chanyeol menggeram kesal, tidak suka dengan serangan kekanakan yang tidak pada tempatnya itu.
"Ya!" Chanyeol segera menyusul Yoongi, menarik kerah si pucat itu agar menatapnya dengan benar. "Apa masalahmu?"
"Kau." Sergah Yoongi dingin. Sepertinya emosinya juga sudah terpancing keluar seperti Park Chanyeol. "Kau pengganggu, dan aku membencimu. Senyummu memuakkan."
BUGH!
.
.
.
"Seulgi Sunbaenim! Gawat! Sunbae harus segera ke gym!"
"Ada apa?"
"Pacar dan teman Sunbae sedang berkelahi."
"Pacar?"
"Park Chanyeol Sunbae."
"Hah?"
"Dia berkelahi dengan Yoongi Sunbaenim. Cepatlah!"
.
.
.
Suasana gym begitu riuh dan panas saat Baek Seulgi tiba.
Ada satu lingkaran penuh antusiasme, dengan dua orang yang saling bergulat di tengahnya. Tubuh Yoongi memang kurus, dia juga lebih pendek dari Park Chanyeol. Tapi dia bisa melawan saat Chanyeol mendorongnya, dan melayangkan satu pukulan yang sedikit meleset di wajah Chanyeol.
Seulgi segera menyibak kerumunan itu dengan susah payah agar bisa tiba di bagian paling depan, dan kemarahannya muncul karena tahu-tahu saja adegan yang ia lihat itu tampak sangat bodoh dan kekanakan.
Seulgi menggeram marah.
"Hentikan!" Bentaknya, segera maju dan melerai perkelahian itu dengan menarik Yoongi menjauh sekuat tenaga. Mendorong si pucat dingin itu hingga jatuh terduduk.
Chanyeol sendiri berhenti karena melihat kemunculan tiba-tiba Seulgi di gym.
Dia tidak mau Seulgi membencinya karena sudah memukul Yoongi.
"Apa-apaan kalian berdua ini?" Bentak Seulgi lagi, gantian memperhatikan Yoongi dan Chanyeol sebelum memusatkan perhatiannya—amukannya—pada Yoongi seorang yang menatapnya dengan enggan. "Kau! Kenapa kau berkelahi dengan Park Chanyeol?"
"Kenapa? Aku tidak boleh memukul orang itu?"
"Orang itu?" Kedua mata Seulgi membulat tidak percaya. "Yang sopan, Min Yoongi."
"Kau membelanya sekarang?"
"Kau memukulnya! Segera minta maaf."
"Dia yang menyerangku duluan!"
"Karena kau menggangguku!" Sahut Chanyeol marah.
"Minta maaf!" Sela Seulgi lagi. Dia tidak mau Yoongi terlibat masalah apa-apa. "Kumohon…"
Yoongi terluka.
Hatinya. Harga dirinya. Mengumpulkan sisa-sisa dari itu semua, ia berdiri. Tapi, dia tidak berniat meminta maaf. Tidak akan, untuk Park Chanyeol.
"Min Yoongi…" Panggil Seulgi dengan sedikit siratan rasa bersalah dan putus asa dalam suaranya, berusaha menahan Yoongi agar tidak melangkah pergi.
Tapi, Yoongi akhirnya malah menghilang di balik pintu masuk gym.
Meninggalkan Seulgi dengan helaan napas beratnya sendirian.
"Aku minta maaf." Suara Chanyeol membuyarkan mendung gadis itu sebentar.
Seulgi segera berbalik, kembali merasa bersalah karena gurat memar di beberapa bagian wajah cowok itu. Dia benar-benar ingin balas memukul Yoongi, menghajarnya untuk perbuatan bodohnya hari ini dan mungkin sekalian dengan semua kebodohannya belakangan ini. Tapi, dia akan melakukannya nanti.
Setelah situasinya mendingin.
Seandainya dia tidak berdebat dengan Yoongi tadi…
"Aku antar ke ruang kesehatan, oke? Kita harus mengurus wajahmu dulu."
"Aku bisa pergi sendiri."
"Tidak apa-apa, Chanyeol-ah."
Chanyeol meringis pelan saat ia tersenyum. Ada bagian bibirnya yang sedikit pecah.
"Kau baik-baik saja?"
Chanyeol tersenyum lagi, kali ini lebih berhati-hati. "Mungkin seharusnya tadi aku main sepakbola saja."
.
.
.
Baek Seulgi tidak bisa tidur.
Sekarang sudah nyaris pukul sebelas malam, dan Seulgi frustasi karena ia bisa jadi makin susah bangun besok pagi kalau tidak terlelap sekarang juga.
Masalahnya, dia terus saja dihantui oleh Yoongi. Raut kemarahan cowok itu sebelum meninggalkan gym. Sorot kekecewaannya. Seulgi sudah melukai Yoongi, kan?
Yoongi segera meninggalkannya begitu kelas terakhir selesai, menghindari bertemu atau berada di dalam satu tempat yang sama dengan Seulgi sepanjang sisa hari ini di rumah, bahkan segera mengurung diri di kamar setelah makan malam ditemani omelan Nyonya Min. Mengunci pintunya, jadi Seulgi tidak bisa masuk.
Seulgi tidak mau Yoongi membencinya.
Memiliki perasaan tidak berbalas saja sudah sangat buruk bagi Seulgi. Cowok itu tidak boleh membencinya juga.
Seulgi mengerang putus asa, menyibak selimutnya dan memutuskan turun ke lantai bawah, mungkin untuk mengkonsumsi dua potong cokelat atau cemilan apa saja yang diharapkannya bisa mengalihkan stress di dalam tubuhnya ini dan membantunya saat ia mencoba tidur kembali nanti.
Seulgi menyalakan lampu dapur, membuka pintu kulkas dan matanya berbinar-binar melihat ada satu wadah es krim tiga rasa berukuran besar di dalam sana. Tapi, mungkin dia akan makan yoghurt atau keripik saja lalu minum segelas susu.
Es krimnya bisa menunggu besok.
Seulgi menutup pintu kulkas, beralih pada lemari dinding cokelat mengkilap yang berderet di sisi dapur seberang kulkas, mengambil satu kursi kayu besar berukir yang ada disana dan mulai membuka pintu lemari dari yang paling ujung. Mencari gelas untuk susu dan mangkuk untuk keripik, seperti bayi beruang jinak yang sudah terlatih mencari toples madu.
Seulgi baru akan membuka pintu lemari yang ketiga, saat ia dikejutkan dengan kemunculan Yoongi yang tanpa suara, tanpa aba-aba atau peringatan apa saja, membuka pintu lemari yang terjauh dari Seulgi dan menata satu gelas serta mangkuk kaca di atas meja keramik di tengah ruangan. Masih dengan raut wajah datarnya, Yoongi menghampiri Seulgi.
Gadis itu masih berdiri terpaku di atas kursinya. Super gugup, sampai ia takut membuat gerakan kecil apapun kecuali bernapas, tentu saja.
Yoongi mendongak untuk menatap lurus ke dalam mata teduh Seulgi.
Untuk sedetik yang lama itu, Yoongi kehilangan emosinya. Rasa terlukanya jadi tidak berarti apa-apa, jika dibandingkan dengan Seulgi. Egoisme pecundangnya seharusnya tidak boleh menang, jika itu adalah hasil dari melawan kegigihan Seulgi untuk menjaganya bersikap baik. Yoongi jadi merasa bersalah karena sudah membuat Seulgi sedih, dan ia berjanji tidak akan melakukannya lagi.
Hati Seulgi melembut dengan sendirinya. Kegugupannya hilang digantikan dengan perasaan sangat lega karena bisa melihat wajah datar Yoongi lagi. Itu lebih baik, daripada raut penuh kemarahan seperti yang Yoongi tunjukkan sebelumnya. Seulgi benci Yoongi yang pemarah dan berbuat onar. Betapa dia ingin…memeluk Min Yoongi. Karena Seulgi merindukannya.
Yoongi menjulurkan tangannya. "Ayo, turun."
"O-Oh." Seulgi memegang Yoongi, turun dari kursinya seperti yang diperintahkan. Dia tidak bisa memikirkan soal raut wajahnya yang pasti tampak merah padam, karena jarak tubuh mereka yang makin dekat, ataupun karena perlakuan halus mendadak dari Yoongi saat ini. Kontak fisik. Kontak fisik… "Kau terbangun?"
Yoongi menggeleng pelan. "Aku belum bisa tidur."
"Kenapa?"
"Wajahku berdenyut-denyut. Aku kemari mau mengambil ice pack."
Seulgi hendak berjalan menghampiri kulkas kembali, saat tersadar kalau Yoongi masih menggenggam tangannya. Yoongi tersentak, segera melepaskan Seulgi dan berjalan dengan cepat ke arah kulkas.
Sambil membuka pintunya, Yoongi menghela napas panjang sambil merutuki dirinya sendiri yang sudah bertingkah ceroboh. Kontak fisik… Ini berbeda. Dia harus tenang. Walaupun jantungnya sedang berdebar-debar tidak karuan, Yoongi harus tetap tenang. Dan, itulah yang Yoongi tunjukkan saat ia berbalik menghadap Seulgi dengan ice pack menekan bagian bawah mata kirinya. Wajah datar dan dinginnya yang biasa.
"Aku kembali ke kamar duluan. Cepat makan dan segera tidur juga."
"Tapi, Yoongi-ya…"
"Hm?"
"Biar aku yang mengompres lebammu. Sebagai permintaan maaf."
Yoongi langsung menjulurkan kantung es itu begitu saja, tidak berniat menahan diri dengan menolak karena gengsi. Dia masih ingin bicara dengan Seulgi. Bersama gadis itu.
Mereka duduk di atas meja keramik yang dingin.
"Auw!" Yoongi menjauhkan sebentar kepalanya dengan raut wajah sebal. "Pelan-pelan!"
"Maaf." Seulgi mengompres lagi, berusaha agar tidak terlalu menekan lebam Yoongi. "Memangnya, kenapa kau sampai bertengkar dengan Park Chanyeol?"
"Masalah hormon. Kau tidak akan menger—Auw!"
Seulgi menekan lebam Yoongi dengan sengaja.
"Jangan mengutip jawabanku, bodoh." Tegur Seulgi, gantian merasa kesal. "Besok kalian harus menerima hukuman dari kepala sekolah Kim karena ini."
"Biar saja."
"Kau!" Seulgi berhenti mengompres. "Kenapa kau bertingkah seperti anak kecil begini? Kau tidak mau peduli pada dirimu sendiri?"
"Kau pikir kau juga bukan anak-anak karena sudah menggantung angka tujuh belas di lehermu?"
"Setidaknya, aku adalah anak kecil yang tahu untuk meminta maaf."
"Oh, jadi semua ini tentang Park Chanyeol? Kenapa kau harus menjaga perasaan orang itu?"
"Min Yoongi!"
"Kau menyukainya?"
Seulgi terdiam.
Dan, Min Yoongi segera meringis dengan rasa sakit memenuhi hatinya. Jelas sekali bukan karena wajahnya yang berdenyut-denyut. Hatinya yang menyebabkan itu. Hatinya yang sedang mengalami luka memar dan lebamnya akan membuat Yoongi makin susah tidur.
"Kau menyukainya?"
"Chanyeol sangat baik, dan dia selalu memikirkan perasaan orang lain."
Yoongi turun dari meja dan berjalan meninggalkan dapur.
Seulgi segera ikut turun dari atas meja. "Min Yoongi…"
Yoongi berhenti di ambang pintu.
"Aku meninggalkan tiket nonton di laci meja belajarmu tadi sore untuk besok malam. Aku akan menunggumu." Kau harus datang. "Aku sudah mengantri susah-payah untuk mendapatkannya. Aku berdiri sangat lama, sampai kedua kakiku terasa pegal."
"Aku tidak bisa pergi."
"Pokoknya, aku akan menunggu"
Jangan. "Aku tidak akan datang." Tekan Yoongi. "Pergi saja dengan Park Chanyeol. Dia lebih membutuhkannya."
"Tidak mau!" Seulgi tidak bisa menahan suaranya yang bergetar. "Aku hanya mau menontonnya denganmu, dengan Min Yoongi, jadi aku akan menunggu sampai kau datang."
Mata Yoongi melebar.
Baek Seulgi… Kenapa gadis itu melakukan ini padanya?
"Terserah kalau begitu."
Tapi Yoongi berlalu lagi karena egoismenya kembali mengambil kendali, menghilang dari pandangan Seulgi dan membuatnya melanggar janji yang baru saja ia buat tentang tidak akan menyakiti Seulgi lagi dengan cara apapun.
Dia benar-benar brengsek.
.
.
.
"Kau gila!"
Begitu kata Eun Ji di ujung telepon, dan dengan rasa sedih Seulgi mengiyakannya.
"Dia akan datang."
"Dia tidak mau datang, Seulgi-ya! Sebaiknya kau segera telepon Park Chanyeol sekarang, biar dia saja yang datang."
Seulgi memperhatikan poster The Beauty Inside yang baru akan tayang dua jam lagi. "Tidak. Aku ingin bertaruh dengan keyakinanku sendiri."
"Jadi kau sendiri juga tidak yakin Min Yoongi akan datang kesana atau tidak, tapi malah bertingkah bodoh begitu? Astaga…"
Seulgi menghela napas panjang. "Dia harus datang…"
"Kalau dia tidak muncul-muncul juga, kau harus memberitahuku, oke? Aku akan menjemputmu, dan kita bisa pergi makan pancake. Kebetulan Oppaku sedang sakit, jadi aku bisa pakai mobilnya kapanpun aku mau."
"Aku mengerti. Terima kasih, Eun Ji-ya. Kau yang terbaik."
"Telepon aku!" Eun Ji memperingatkan sekali lagi, sebelum menutup teleponnya.
Seulgi kembali menghela napas panjang, dan memulai penantian penuh siksaannya itu. Berjam-jam.
Hingga pukul sembilan, Yoongi tidak juga muncul menampakkan batang hidungnya. Dia harus datang, kan?
Seulgi keluar dan berdiri agak jauh di depan pintu masuk gedung bioskop, terkejut karena baru menyadari hujan sedang turun dengan derasnya lalu kemudian tersenyum lega. Yoongi pasti datang. Dia hanya sedang tertahan sebentar oleh tumpahan air ini.
Tapi, hingga pukul sebelas Yoongi tidak juga nampak. Seulgi berharap cowok itu akan muncul dalam keadaan basah kuyup karena berusaha menembus hujan, tapi sepertinya usaha semacam itu tidak cukup penting untuk dilakukan. Yoongi bukannya terjebak hujan lalu memutuskan untuk kembali, tapi memang dia tidak pernah berniat meninggalkan rumah seperti yang sudah ia katakan pada Seulgi.
Seulgi termakan oleh kesedihannya, sakit hatinya, dan ia segera berjongkok memeluk lutut untuk menahan tangis.
Beginikah rasanya saat seseorang harus dipaksa untuk menyerah?
Sejahat ini?
Seulgi harus patah hati dengan cara seperti ini?
"Seulgi-ya…"
Seulgi mendongak, tidak terkejut jika yang berdiri di hadapannya sekarang adalah Park Chanyeol dengan payung hitamnya. Tersenyum, dengan raut wajah sedih penuh sayang.
Cowok itu selalu muncul dimana saja ketika Seulgi butuh seseorang. Menemani Seulgi sebelum gadis itu merasa kesepian. Menghiburnya sebelum ia menangis.
Melakukan segalanya untuk Seulgi, termasuk mencurahkan waktu dan tenaganya untuk selalu membuat Seulgi terkesan dengan hadiah-hadiah kecil dan ajakan-ajakan kencan yang sayangnya selalu Seulgi tolak itu.
Kenapa Seulgi masih tidak bisa melihatnya juga saat ini?
"Kau baik-baik saja?" Chanyeol ikut berjongkok di depan Seulgi, dan payungnya menaungi mereka berdua.
"Chanyeol-ah… Kenapa kau berada disini?"
Chanyeol tersenyum lagi, kali ini sedikit lebih ceria. "Kau tidak menjawab telepon Eun Ji, jadi dia menghubungiku."
"Ah, aku merepotkanmu lagi."
"Aku senang, kok." Chanyeol mengusap-usap kepala Seulgi dengan lembut. "Kau mau pulang?"
"Iya…" Seulgi jadi ingin menangis lagi. "Aku ingin pulang."
.
.
.
Min Yoongi terus memperhatikan potongan tiket bioskop itu dengan perasaan yang campur aduk.
Dia ingin sekali pergi.
Tapi, dia tidak boleh kesana dan mungkin saja mengacau lagi seperti kemarin malam. Lagipula, dia hanya akan merasa sakit hati karena terus-terusan berdiri di antara garis milik Chanyeol dan Seulgi.
Yoongi mendongak, memperhatikan jam dinding yang jarum pendeknya menunjuk ke angka sepuluh.
Seulgi pasti masih menunggunya.
Sendirian.
"Yoongi-ya…"Nyonya Min menuruni tangga, melewati foyer menuju ruang tengah tempat dimana Yoongi berada. "Mana Baek Seulgi?"
"Dia ke bioskop."
"Sendirian?"
"Eh, ya, kurasa."
"Min Yoongi! Kenapa kau membiarkannya pergi sendirian? Susul dia! Ini sudah malam!"
"Mungkin Ji Ah da Eun Ji ada disana, bu."
"Tetap saja kau harus menyusulnya!" Nyonya Min menjitak kepala Yoongi. "Kau tidak mengkhawatirkan Seulgi?"
Yoongi tertegun.
Ya, sudah pasti dia merasa khawatir yang menggunung mengingat Seulgi sendirian saja disana seperti orang bodoh. Seulgi tidak biasa meninggalkan rumah tanpa Yoongi, karena memang tidak pernah. Dan, seharusnya Yoongi sedang berada disana bersama gadis itu sekarang. Menemaninya nonton, menjaganya. Seulgi bilang hanya mau melakukannya dengan Yoongi, kan?
Yoongi bodoh sekali. Dia terus-terusan bodoh.
Apapun yang terjadi, Seulgi adalah prioritas utamanya. Dia tidak boleh menyakiti Seulgi lagi. Dia sudah berjanji, kan?
"Maaf, bu. Aku pergi sekarang." Yoongi berdiri mengantongi tiket itu.
Ia segera memakai jaket sebelum meninggalkan rumah, terkejut karena hujan sedang mengguyur dengan sangat deras dan angin dingin yang bertiup kencang cukup untuk membekukan tubuh seseorang.
Yoongi merutuk dalam hati, sambil kembali masuk secepat kilat untuk mengambil payung.
Apa Seulgi setidaknya memakai baju yang cukup hangat hari ini?
Yoongi bergegas menembus hujan, terus mengetuk-ngetukkan sol sepatunya dengan tidak sabar saat sudah duduk di dalam bus. Dia begitu gelisah, sampai-sampai bokongnya terasa panas dan ia ingin segera melompat sejauh mungkin langsung ke tempat Seulgi sekarang juga. Tapi, dia bukan manusia super, dan adrenalinnya berpacu makin dan semakin cepat saat bus yang ia tumpangi harus terhenti beberapa saat karena satu kemacetan akibat sebuah insiden kecelakaan kecil.
Yoongi marah dan mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Ingin bertindak, tapi terlalu gelisah sampai dia kalut. Bingung.
Seulgi harus menunggunya…
Yoongi akan sangat marah pada dirinya sendiri kalau Seulgi sudah tidak ada disana.
Yoongi nyaris melompat turun saat ia akhirnya tiba di depan halte dekat bioskop. Kembali menembus hujan, Yoongi yang tidak sabar untuk bertemu Seulgi harus menghadapi pecahan antusiasmenya dulu. Karena disana, di tempat Seulgi berjongkok sudah ada Chanyeol yang datang dengan mantap bersama payung hitamnya.
Yoongi menelan ludah, menelan kekecewaan dan pecahan senyumnya yang tersungging sejak ia meninggalkan bus tadi itu. Pahit sekali. Pedih.
Yoongi berbalik.
Dia sedang berdiri di garis antara Chanyeol dan Seulgi saat ini. Harusnya dia tahu kalau Seulgi tidak akan pernah sendirian, bahkan saat Yoongi tidak ada. Dia punya orang lain di sisinya, yang lebih baik dan pengertian.
Yoongi menghela napas berat, menelan ludah lagi dan melangkahkan kakinya yang gemetaran karena dingin dan basah itu untuk pergi.
Aku tidak pernah melihatmu sebagai lawan jenisku. Saat aku menyadari semuanya, aku sudah terlambat…
.
.
.
"Sampai disini saja." Baek Seulgi menyunggingkan senyum muramnya yang lemah, menoleh sebentar pada pagar besi rumahnya yang menjulang dengan tiang lampu besar di sisi kiri dan kanan.
Hujan masih mengguyur dengan deras, dan Seulgi benar-benar berterima kasih karena Park Chanyeol sudah meminjamkan jaketnya untuk Seulgi pakai.
"Masuklah." Chanyeol meraih satu tangan Seulgi yang dingin dan membuat gadis itu menggenggam payungnya, melirik pada jalan beton nyaris lima meter yang harus Seulgi tempuh agar bisa tiba di teras depan rumahnya di tengah guyuran hujan ini. "Pastikan kau segera berganti pakaian yang lebih hangat dan pakai selimut dengan benar saat tidur."
"Terima kasih. Bagaimana denganmu?"
"Tidak apa-apa. Aku belum mandi, jadi sekalian basah-basahan saja." Canda Chanyeol, dan ia senang melihat Seulgi tertawa pelan. "Masuklah. Sampai ketemu hari senin, oke?"
"Hati-hati. Terima kasih untuk malam ini."
Chanyeol mengedipkan sebelah matanya senang, sebelum berbalik dan segera berlari secepat kilat hingga menghilang dari jangkauan jarak pandang Seulgi yang dihalangi kabut dingin tipis dan tirai hujan.
Setelah Chanyeol sudah tidak kelihatan, perasaan sedih Seulgi menjalar naik lagi. Teringat dia sudah berada di depan rumahnya, dan saat masuk nanti dia mungkin saja menghadapi Yoongi yang masih terjaga dan akan menyakitinya lagi dengan ketidakpeduliannya.
Dia tidak percaya apa yang sudah terjadi malam ini, dan dia benci Min Yoongi.
Ah, dia hanya marah. Dia tidak bisa benar-benar membenci si pucat idiot kesayangannya itu, walaupun rasanya sangat sakit.
Payung Chanyeol jatuh dari genggamannya yang terkulai, dan Seulgi kembali berjongkok membenamkan wajah di atas kedua tangannya yang terlipat. Mulai sesenggukan sementara tubuhnya sudah basah kuyup. Lalu saat rasa dingin mulai membuatnya merasa benar-benar kesakitan, tangisan Seulgi bahkan jadi lebih keras lagi. Seperti anak kecil yang dimarahi karena menghilangkan permennya.
Yoongi kembali berada pada kebetulan itu. Tiba saat Chanyeol akan pulang, dan ia berbalik mematung di sisi pagar terjauh dari Seulgi. Tidak mau dilihat dan melihat gadis itu. Pegangan Yoongi pada gagang payung perlahan menguat, saat ia kemudian mendengarnya dengan sangat jelas. Isakan sedih Seulgi, yang berhasil menembus tebalnya dinding suara tumpahan hujan dan tiba di telinganya dengan kacau. Menyakiti hati Yoongi dengan pemahaman bahwa Seulgi sedang menangisi keras-keras luka yang ia buat.
Ia melukai Seulgi, si cerewet kesayangannya…
Tidak pernah ada hal yang berjalan dengan lancar untuk Yoongi, karena dia terus-terusan bertingkah egois dan kekanakan seperti ini.
Tidak bisa diterima. Tapi, Yoongi hanyalah pecundang tolol sejati yang cuma bisa menyalahkan dirinya sendiri sepanjang waktu, padahal ada banyak hal lain paling benar yang bisa ia lakukan. Segera berbalik dan memeluk Seulgi misalnya. Mungkin Yoongi tidak punya cukup keberanian untuk melakukan hal itu.
Dia akan menebusnya dengan membuat Seulgi tersenyum lagi.
.
.
.
Preview :
"Sini kugendong."
"Kau hanya boleh meminta padaku."
"Aku minta maaf."
"Seulgi-ya, aku akan menanyakannya lagi. Kau mau jadi pacarku?"
.
.
.
A/N : Sebenarnya bukan begini TBC-nya, tapi karena panjang, jadi dibagi dua aja. Kkkk. Terima kasih atas kemunculan mendadak Christal Alice si penulis favorit pairing NamJin ane sebagai pembaca dan mereview tulisan sederhana ini, sukses bikin ane termotivasi full dan senyum-senyum bangga sendiri kkkk. Buat reviewers lain, ane sangat mengapresiasinya, so, deeply thanks with lots of love. Keep waiting for this story till the end.
