Note : Terima kasih banyak untuk semua pereview luar biasa yang sudah meluangkan waktunya mereview di Chapter 3, baik member maupun guest : Watchfang, Beatrixmalf, Bunga Sakura, Tinkebot, Hikari Meiko Eunjo, Natacchi, dan Ashimie. Semoga chapter empat ini bisa memuaskan para reviewer di atas dan para fans Sevmione. Enjoy it. ^0^

Balada Ramuan Cinta Satu Malam

By Opal Chalice

Chapter 4

"Maaf, kami datang tanpa diundang," ucap Lucius, membuka obrolan. Ia dan istrinya, Lady Cara duduk berdampingan di sofa empuk panjang. Sofa itu sendiri ukurannya cukup besar dan bisa menampung empat orang, namun pasangan suami istri itu duduk berdampingan sangat rapat, seolah enggan terpisah satu jengkal saja. "Tapi ini adalah masalah yang sangat penting."

Severus duduk di sofa yang berhadapan dengan pasutri Malfoy dan Hermione memilih untuk berdiri di samping suaminya. Ekspresi wanita itu tampak tidak senang saat bertanya, "Aku yakin kau tadi bilang putriku sedang bersama cucumu?"

"Rose Weasley…" kali ini Lady Cara yang menjawab. "…terlihat sedang berkeliaran dengan Scorpius di Knockturn Alley. Saling bergandengan tangan. Kemudian mereka masuk ke toko Borgin & Burkes untuk membeli obat kuat. Dan terakhir, mereka berdua terlihat berciuman mesra sebelum berpisah."

"Tapi itu tidak mungkin!" bantah Hermione cepat. "Rose belum pernah pergi ke Knockturn Alley. Dia tidak mungkin pacaran dengan Scorpius Malfoy tanpa memberitahu aku, ibunya sendiri. Lalu membeli obat kuat? Untuk apa? Aku yakin April Mop sudah berlalu, dan lelucon kalian ini sama sekali tidak lucu!"

Severus menggenggam tangan halus istrinya, berusaha menentramkannya. "Kalau boleh bertanya, dari mana kalian tahu semua ini?"

"Ini karena Scorpius menggunakan tagihan atas namaku. Sebenarnya aku tak terlalu mempermasalahkan, karena aku sering membiarkan cucuku itu melakukannya. Tapi kali ini aku tak bisa diam saja mengetahui cucuku membeli ramuan bernama Epimedium Sagittatum."

Kening Severus berkerut mendengar nama ramuan itu. "Ramuan Cinta Satu Malam?"

"Silahkan periksa sendiri kalau kau tak percaya." Lucius mengibaskan tongkat sihirnya, membuat selembar perkamen terbang dari dalam saku jubahnya dan mendarat di atas telapak tangan Severus. "Itu adalah tagihan dari Borgin & Burkes yang baru saja kuterima sekitar sepuluh menit yang lalu. Untung saja hari ini adalah hari pembukuan, dan Cara punya mata yang sangat awas terhadap pengeluaran-pengeluaran yang tidak rasional."

Lady Cara hanya tersenyum tipis mendengar pujian dari suaminya. Mantan sekretaris pribadi Lucius ini adalah seorang wanita cantik berambut pirang emas sebahu dan bertubuh sintal. Meski sekarang dia sudah menjadi seorang Lady, ia masih belum bisa melepaskan pekerjaannya sebagai sekretaris untuk suaminya sendiri.

Dengan cermat, Severus membaca perkamen berisi tagihan beberapa barang yang dibeli Lucius di Borgin & Burkes. Beberapa jimat—baik pembawa keberuntungan maupun penangkal marabahaya, benda antik terkutuk dari Afrika, dan yang terakhir—baru saja dibeli beberapa menit lalu, Epimedium Sagittatum atau Ramuan Cinta Satu Malam.

"Aku bisa baca kalau memang benar ramuan itu dibeli atas namamu, Lord Malfoy. Tapi aku tak melihat darimana kau bisa membuktikan putriku yang membelinya," tanya Hermione yang membaca melewati pundak suaminya. "Bahkan mengklaim putriku berciuman dengan Scorpius. Tidak masuk akal."

"Soal itu, mungkin kita bisa menanyai Mr Borgin sendiri secara langsung," tantang Lady Cara. Ekspresinya tenang, tapi kilau aneh di matanya menyiratkan pertanda buruk. "Gadis berambut merah, keriting lebat menyerupai semak, punya bintik-bintik di sekitar hidung dan bermata biru cerah. Scorpius mengenalkannya sebagai Miss Weasley kepada Mr Borgin. Aku tak ingat Miss Weasley mana yang cocok dengan deskripsi itu kecuali putrimu, Lady Snape."

Perasaan Hermione semakin memburuk ketika mendapati senyum mencibir di bibir merah Lady Cara. Wanita yang tampil anggun dengan mengenakan gaun burgundy berbahan sutra itu mengibaskan tangannya dan membuat beberapa lembar kertas beterbangan dari dalam evening bag mewahnya.

Jantung Hermione nyaris copot dari rongga dadanya saat menyadari kalau yang beterbangan dan melayang-layang di hadapan mereka adalah beberapa foto putrinya dengan Scorpius Malfoy. Ada yang memperlihatkan mereka bergandengan tangan. Ada pula yang memperlihatkan mereka saling berpelukan dan mendekatkan wajah satu sama lain. Foto di dunia sihir bisa bergerak-gerak, dan inilah yang membuat kejadian yang tertangkap di dalam foto-foto itu mengerikan di mata Hermione.

"Cukup!" Refleks, Hermione mencabut tongkatnya sendiri dan merapal mantra incendio berulang kali. Dalam hitungan detik, semua foto tadi terbakar dan berubah menjadi abu.

Baik Lucius maupun istrinya tidak tampak terkejut. Mereka bahkan saling melemparkan kode rahasia lewat tatapan mata mereka.

"Bisa saja itu foto palsu," tukas Hermione gusar. "Tak akan kubiarkan seorang pun mempermalukan putriku."

"Foto itu asli. Aku bahkan mendapatkannya langsung dari sumberku di Daily Prophet. Rencananya foto itu akan dipasang di kolom infotainment. Edisi Koran sore." Lady Cara mengangkat tangan kirinya dan mencermati arlojinya yang ditaburi berlian. "Yang selagi kita berbincang ini, beritanya akan siap dicetak sekitar satu jam lagi."

"Dan kau bisa berhubungan dengan sumbermu ini dengan cara apa?" kedua mata Severus menyipit curiga.

Lucius menjawab dengan nada bangga, "Cara adalah wanita yang punya banyak relasi dan mampu dimanfaatkannya baik-baik. Punya narasumber dari Daily Prophet adalah kartu as yang bagus dalam dunia politik. Kami bisa mencari tahu berita apa saja yang akan dimuat, bahkan sebelum korannya sendiri dicetak."

Ya. Istri yang punya banyak manfaat. Bertambah satu lagi alasan masuk akal kenapa Lucius Malfoy cepat-cepat menikahi Cara Mason, batin Severus.

Dulu, sebelum dinikahi Lucius, Cara sempat berhubungan dekat dengan Severus. Meski belum menjurus ke arah yang lebih serius, Cara menunjukkan ketertarikannya kepada sang potion master secara terang-terangan. Sayangnya, Severus tidak membalas perasaan Cara. Di saat yang sama Hermione baru saja kehilangan Ron untuk selama-lamanya. Logika yang bermain di kepala Severus adalah, ketimbang meladeni wanita yang tidak jelas apa niat dan tujuannya, lebih baik ia memanfaatkan situasi untuk merebut kembali hati Hermione.

Logika Severus ini terbukti tepat di kemudian hari. Ternyata, selain cantik, mempesona, dan cerdas (mungkin lebih tepatnya licik) Cara Mason adalah wanita yang sangat berbahaya. Bukan hanya dia mahir sihir hitam dan tahu banyak soal kutuk-mengutuk, Cara juga punya banyak sumber yang dapat ia manfaatkan semudah menjentikkan jari. Dengan dukungan sumber-sumber ini, Cara mampu mengatur konspirasi demi konspirasi seapik memandu sebuah orkestra. Rekayasa sejarah hidup Lucius adalah salah satunya.

Mungkin bagi Lucius, menikahi Cara Mason adalah pilihan paling brilian yang pernah ia buat. Tidak seperti Narcissa yang bagus sebagai istri trophy dan hanya bisa menghambur-hamburkan uang, Cara mampu membuktikan diri sebagai pengatur strategi politik yang handal. Untuk memenangkan pemilihan Menteri Sihir, Lucius tentu sangat membutuhkan bantuannya.

"Kalau boleh jujur, kedatangan kami sebenarnya bukan untuk mempermalukan putri kalian, Lord dan Lady Snape," ujar Lady Cara semanis mungkin. "Kami justru ingin menawarkan sesuatu untuk menyelamatkan reputasi putri kalian."

"Reputasi Rose? Apa yang sebenarnya sedang kau bicarakan?" tuntut Hermione.

Sepasang mata biru Cara terbelalak. Pura-pura kaget, asumsi Hermione jengkel.

"Lady Snape, aku tahu kau wanita yang sangat cerdas. Menurutmu apa yang akan kau pikirkan jika membaca judul berita utama yang menuliskan nama Rose, Scorpius dan obat kuat dalam satu kalimat? Aku yakin ini tidak akan baik untuk masa depannya. Publik sihir Inggris akan menganggap putrimu gadis mura… bukan gadis baik-baik."

Darah Hermione mendidih, yakin betul kalau yang sebenarnya ingin diucapkan Cara tentang Rose tadi adalah gadis murahan. Wanita iblis ini, Lady Cara Mason-Malfoy... lidah wanita itu benar-benar berduri.

"Rose gadis baik-baik. Siapapun yang berani mengatakan sebaliknya, maka ia harus berhadapan denganku dalam sebuah duel," kata Severus kalem, tapi dalam. Kedua mata kelamnya menyiratkan sebuah tantangan dan kesan tersirat kalau ia akan mengutuk habis siapa saja yang berani mengganggu putri tirinya itu. Orang waras mana pun mustahil berani melakukannya jika masih ingin hidup.

Cara menanggapi ancaman ini dengan senyum misterius dan kilau aneh di mata biru terangnya.

"Di sisi lain," ucap Lucius, bersikap seolah tak mendengarkan tantangan Severus. "Scorpius, cucuku, juga punya reputasi yang harus kulindungi. Membeli obat kuat bersama seorang gadis akan menjadi sebuah aib. Demi jenggot putih Merlin, aku yakin seratus persen dia tidak butuh obat kuat untuk meladeni gadis manapun."

"Kalau aku jadi kalian, Lord Malfoy dan Lady Cara, aku akan hati-hati. Karena kalian baru saja berseloroh dan memberi kesan bahwa putriku adalah gadis gampangan." Hermione bangkit dari posisi duduknya, merogoh saku jubahnya untuk mencari tongkat sihirnya.

"Tentu tidak, Lady Snape. Yang dimaksud suamiku bukan itu," sergah Cara cepat-cepat. Menyadari tensi yang begitu tinggi di ruangan itu, ia pun mengalihkan pembicaraan. "Oh, my… semua obrolan ini membuatku jadi haus. Boleh aku minta teh, Lady Snape?"

Hermione menampilkan senyum manis meski hatinya sedang membara. "Tentu, Lady Malfoy. Aku akan memanggil peri rumahku untuk membuatkannya. Ah, tapi mungkin sebaiknya aku sendiri yang membuatnya. Untuk orang-orang seperti kalian, sudah sepantasnya aku melakukan sesuatu yang lebih."

Cara, yang menyadari frase 'orang-orang seperti kalian' diucapkan dengan nada setajam pedang Gryffindor oleh Hermione, hanya mengulum senyum tak berdosa sambil berkata, "Terima kasih, Lady Snape. Kau baik sekali."

Menahan amarah yang mulai melahap semua akal sehatnya, Hermione bergegas keluar ruangan. Ia sempat mengatur nafas selama beberapa menit demi kesehatan mentalnya, sebelum kemudian pergi ke dapur.

"Blinky!"

Terdengar bunyi pop pelan dan muncul seorang peri rumah bermata biru bening di hadapan Hermione.

Blinky adalah peri rumah yang muncul di depan pintu rumah mereka sekitar tiga bulan yang lalu dan menawarkan jasa. Untuk ukuran seorang peri rumah, Blinky masih sangat muda, tapi sudah cukup usia untuk bekerja. Hermione sempat menolak lamaran kerja Blinky, sebelum akhirnya Severus berhasil membujuknya dengan alasan dalam beberapa bulan ke depan, mereka akan sangat sibuk dan butuh bantuan. Tipikal Hermione, Blinky pun menerima gaji bulanan, hari libur, dan cuti tahunan.

Blinky membungkuk rendah sebelum bertanya, "Ada yang bisa Blinky bantu, Madam Snape?"

"Ya. Kau bisa membantuku mencarikan sesuatu yang mengerikan, Blinky," ujar Hermione sembari mulai merebus air dan menata cangkirnya yang paling mahal di atas baki. "Aku butuh sesuatu untuk dicampurkan ke dalam teh ini nanti. Sesuatu seperti upil Basilisk, iler Troll, atau ompol naga."

"Hermione," tegur Severus dari ambang pintu. Ekspresinya tidak setuju ketika ia berjalan mendekati istrinya dan memeluk Hermione dari belakang. "Love, Cara sudah membentengi Lucius dengan jimat penolak sial. Jika kau memasukkan sesuatu yang mematikan seperti itu, pasti akan cepat ketahuan. Jangan masukkan yang aneh-aneh ke dalam teh itu."

Hermione mendelik marah ke suaminya, namun Severus hanya menyeringai tipis dan berujar, "Masukkan saja garam yang banyak."

Tertawa kecil mendengar ini, Hermione mengalungkan kedua lengannya di leher Severus dan mencium seringai licik di bibir tipis pria itu. "Oh, Severus. Kurasa aku tahu kenapa aku sangat mencintaimu. Kau pria luar biasa."

Membalas ciuman istrinya, Severus mengusap-usap punggung Hermione yang tegang. Ia membisikkan kalimat-kalimat penentram di telinga wanita itu. Bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa ia akan melakukan segalanya demi melindungi reputasi Rose. Bahwa mereka berdua sudah membesarkan Rose dengan sebaik-baiknya untuk menjadi gadis yang hebat.

"Lucius dan Cara. Kurasa mereka berdua bukan manusia, Sev. Mereka ogre yang berpakaian seperti manusia. Datang mengganggu tanpa diundang, lalu berkata hal yang tidak-tidak, dan menghina putri kita seolah kita tak becus membesarkan Rose. Aku tak bisa menerimanya."

Putri kita. Ucapan Hermione ini membawa kehangatan di hati Severus. Ya. Menjadi ayah Rose, membesarkan dan mendidik gadis itu sejak umurnya masih lima tahun, Severus tak bisa mencegah perasaan sayangnya tumbuh. Ia pun menganggap Rose sebagai putri kandungnya, yang secara tak beruntung terlahir dari benih yang disemai oleh sel Ronald Weasley.

"Aku yakin mereka punya motif tertentu, wife. Lucius tahu betul kalau dia butuh dukungan beberapa orang penting untuk memenangkan pemilihan umum. Salah satunya aku dan kau. Rose, dengan kita sebagai orangtuanya, tak sengaja terbawa-bawa ke dalam keruwetan ini karena berada di waktu dan tempat yang salah. Cara sangat pintar memanfaatkan situasi, harus kuakui itu."

"Lady Cara… Aku tak bisa tahan dengan cobra betina itu," keluh Hermione, memejamkan mata menikmati belaian Severus di punggungnya. "Dia jauh lebih parah dari Narcissa. Bukan cuma borjuis, dia juga seduktif dan punya sejuta akal bulus. Jujur, aku tak suka melihat caranya menatapmu, husband. Sepertinya dia masih menyimpan rasa kepadamu."

Melihat sorot cemas dan cemburu di mata istrinya, Severus mengecup lembut kening wanita itu. "Cara hanya tak suka dikalahkan, my dear. Dia wanita yang terbiasa mendapatkan semua yang ia inginkan. Dia ambisius, haus rasa hormat, dan punya sisi gelap dalam dirinya. Dulu, saat ia mendekatiku, Cara berpikir kami berdua cocok satu sama lain. Tapi dia salah. Dia lebih cocok untuk Lucius. Bahkan, dia lebih seperti versi wanita dari seorang Lucius Malfoy. Duduk berdempetan seperti itu, mereka persis kembar siam."

Hermione mendengus geli. "Untungnya Scorpius tidak separah kakek dan nenek tirinya. Itu menurutku sih. Bocah laki-laki itu tetap saja seorang Malfoy, arogan, licik, dan playboy."

Kedua tangan Severus bergerak membelai perut Hermione yang masih datar. "Setengah dari darah yang mengalir di tubuh Scorpius adalah darah Greengrass, keluarga penyihir darah murni yang bersih dari skandal. Setengahnya lagi, yang dialiri gen-gen negatif, adalah darah keluarga ayahnya. Scorpius bocah yang baik. Setidaknya, cukup baik untuk ukuran seorang keturunan Malfoy."

"Menurutmu dia pantas untuk Rose?" tanya Hermione, ada ketakutan yang tak bisa disembunyikan dalam nada suaranya. "Severus… Rose kita sudah besar. Aku tak pernah sadar kemana saja waktu mengalir. Tanpa terasa sudah lima belas tahun berlalu dan dia sudah sebesar itu. Padahal rasanya baru kemarin aku masih menimangnya di pelukanku. Dia masih bayi. Sangat mungil dan sangat cantik."

Severus menghapus airmata yang menetes dari mata Hermione dengan membubuhi ciuman di sudut mata itu. Lidahnya mengecap rasa asin dan hangat. Juga rasa cinta kasih seorang ibu kepada putrinya.

Ya, ucapan Hermione ada benarnya. Waktu berjalan begitu cepat, seolah menghilang bersama tiupan angin. Meski demikian, pertemuan pertamanya dengan Rose masih segar dalam ingatan Severus. Rose kecil yang cantik dan pemberani seperti ibunya itu pertama kali ditemui Severus saat gadis itu masih berumur lima tahun. Dua tahun setelah kematian Ronald Weasley.

Ketika itu Severus datang untuk memenuhi janji makan malamnya dengan Hermione. Menjanda selama dua tahun, wanita itu sudah siap membuka hatinya dan ini adalah kencan pertama mereka. Meski begitu, Severus memilih tidak mengenakan tuksedo. Ia mengenakan pakaian kebesarannya selama ini. Jubah hitam dengan ekor berkibar dan kancing yang berderet dari pangkal leher sampai ke pertengahan paha.

Dengan penampilan seseram itu, Rose yang kebetulan membukakan pintu, seharusnya ketakutan dan lari untuk bersembunyi di balik rok ibunya. Tapi rupanya tidak. Balita itu justru diam dan memperhatikan tubuh Severus yang tinggi menjulang di hadapannya. Tanpa takut. Yang muncul di wajah mungil dan polos seorang Rose Weasley adalah rasa ingin tahu yang sangat besar.

"Capa ya?" kata balita itu, cadel. Ia menatap Severus dengan bola matanya yang jernih dan bulat besar. "Olang apa pampil?"

Suara tawa kecil lolos dari bibir Hermione. Wanita itu hanya diam menonton interaksi putrinya dengan Severus. Saat Severus mengangkat salah satu alisnya, meminta bantuan secara non-verbal kepadanya, Hermione mengangkat kedua bahunya dan menggeleng. Maksudnya jelas, hadapi dulu putriku, baru kencani aku.

"Vampir, Rosie. Bukan pampil," koreksi Hermione lembut, seraya membelai rambut keriting putrinya.

"Aku bukan vampir," jawab Severus kaku.

Saat Severus melotot tajam ke arah balita tak berdosa itu, Rose justru balas menatapnya sambil menghisap ibu jarinya. Tak lama kemudian, ia tersenyum, memperlihatkan gigi depannya yang mirip kelinci dan berkata, "Aku tahu om olang kok. Pampil lebih ganteng dali Om. Aku baca di buku judulnya Toilet. Pampilnya namanya Etwat Kulum."

"Apa yang harus kita lakukan, Severus?" suara Hermione membuyarkan lamunan suaminya. "Rosie sudah mulai kenal lawan jenis. Oh, astaga! Aku harus memberinya sex education. Lalu mengenalkannya dengan alat kontrasepsi dan organ reproduksi. Aku harus melakukan semua itu sebelum terlambat. Atau jangan-jangan dia sudah…"

"Hermione, hush…"

"Dia sudah bisa berciuman dengan anak laki-laki, Severus…"

"Hush…"

Untunglah Severus berhasil menenangkan istrinya yang panik dengan cara mendekapnya. Tubuh Hermione kini meleleh dalam pelukannya, memasrahkan diri.

"Aku ibu yang buruk… sampai-sampai tidak tahu putrinya sendiri sudah mulai berpacaran…"

"Tidak. Itu tidak benar, Love. Kau ibu yang hebat, aku tahu itu." Severus kembali mengusap-usap punggung istrinya. "Kalau ada yang perlu disalahkan, mungkin orang itu adalah aku. Aku terlalu sibuk bekerja dan bereksperimen di lab, dan hanya punya sedikit waktu untuk keluargaku. Seharusnya aku lebih banyak di rumah dan berjaga di depan pintu untuk mengutuk bocah laki-laki mana pun yang berani menyentuh putri kita. Tak peduli apakah bocah itu Scorpius atau siapalah."

"Err… ehem…"

Secara kompak, Hermione dan Severus memalingkan wajah ke arah suara deheman itu, dan mendapati Rose berdiri di sana. Kening gadis itu berkerut, kebingungan. "Father? Mum? Apa kalian sedang membicarakan putri kalian yang lain? Karena setahuku, cuma aku satu-satunya anak perempuan yang tinggal di rumah ini dan aku masih jomblo."

"Jomblo?" Giliran kening Severus yang berkerut.

"Itu bahasa gaul, Sev. Artinya belum punya pacar," jawab Hermione, melepaskan diri dari pelukan suaminya dan berbalik menghadap putrinya. "Rose Molly Weasley, dari mana saja kau?"

Belum sempat gadis berambut merah itu menjawab, mendadak muncul seorang bocah laki-laki, juga berambut merah, jangkung untuk ukuran anak berusia tiga belas tahun, dan punya bintik-bintik di wajahnya. Hugo Weasley. "Mum, Father, kenapa ada Lord dan Lady Malfoy di ruang keluarga kita? Dan kenapa wajah mereka seram sekali, seperti siap mematukku begitu aku keluar dari perapian?"

"Lord dan Lady Malfoy?" Rose terkesiap. "Orangtua Scorpius di sini?"

"Bukan orangtua Scorpius, tapi kakek dan nenek tirinya," jawab Severus datar. "Sekarang coba jelaskan, apa ucapan mereka benar, Rose, kalau kau dan Scorpius baru saja membeli obat kuat di Knockturn Alley, kemudian kalian berciuman?"

"Rosie ciuman dengan Scorpius? Yek!" Hugo hampir melompat saking kagetnya. Gerakan tiba-tiba ini membuat sesuatu yang disembunyikan di balik punggungnya terjatuh dengan bunyi berkelontangan.

"Apa itu, Hugo?" tuntut Hermione, tahu kalau Hugo selalu membawa sesuatu yang aneh-aneh setiap kali pulang dari toko mainan pamannya.

"Bukan apa-apa, Mum." Hugo buru-buru memungut kaleng-kaleng yang jatuh berserakan di lantai dapur dengan bantuan Blinky si peri rumah. "Hanya upil Basilisk, iler Troll dan ompol naga. Om George berpikir Bom Kotoran sudah out of date. Jadi kami ingin bereksperimen. Tahun baru sudah dekat dan Petasan Kotoran sepertinya seru juga. Bayangkan kalau meledak di langit dan menghujani orang-orang di bawahnya."

Severus hanya bisa geleng-geleng kepala. Hugo sepertinya mewarisi gen jahil dari si kembar Weasley, dan seolah gen warisannya belum cukup mengancam perdamaian dunia, George sepertinya berancang-ancang ingin mendaftarkan Hugo sebagai pewaris tunggal Weasley Wizard Wheezes. Toko mainan itu kini sudah berkembang besar menjadi sebuah Department Store dengan banyak cabang di seluruh Inggris.

Ekspresi Hermione lain lagi. Wanita itu mendadak tersenyum cerah. "Upil Basilisk, iler Troll dan ompol naga? Kebetulan sekali. Blinky, tolong bawa kemari tehnya!"

"Hermione!" tegur Severus, tahu apa niat istrinya.

"Blinky sudah menambahkan garam sebanyak dua sendok ke masing-masing cangkir, Madam," ujar Blinky seraya mengangkat baki berisi dua cangkir teh untuk Lucius dan Cara. "Apa sudah bisa dihidangkan ke tamu?"

"Tambahkan dua sendok garam lagi," kata Hermione gemas, mengurungkan niatnya meracuni pasutri Malfoy setelah Severus melotot galak. "Lalu hidangkan ke mereka."

Blinky menjalankan instruksi majikannya dengan patuh. Lalu ia bertanya apa ada lagi yang bisa ia bantu sebelum menghilang dengan bunyi pop pelan setelah Hermione menggeleng dan mengucapkan terima kasih.

"Rose, kau mau kemana? Aku tak ingat kau sudah menjawab pertanyaanku tadi," ucap Severus dengan nada tajam dan dalam yang bisa membuat siswa tingkat tujuh terkencing-kencing di celana karena takut. "Apa benar semua yang dikatakan Lucius kepadaku?"

Oh oh…

Bersambung ke Chapter Berikutnya…

Reviews makes me happy! ^0^