Violently Beautiful
Chapter 4—Godaan dan Jadwal
.
.
.
"Shizu-chan?"
Jantung Shizuo berhenti.
Syok, bahagia, kaget, dan berbagai macam perasaan kayak gado-gado menghantam Shizuo dengan kuat. Nickname yang begitu dirindukannya dulu akhirnya terdengar lagi. Sudah berapa lama dia tidak mendengar suara dan juga nama panggilan itu, Shizuo sudah kehilangan waktu. Dia ingin, ingin sekali, memeluk Izaya dan mencium wangi rambutnya—yang dia yakin sekali masih berwangi strawberry—lalu tidak akan melepaskannya lagi. Dia ingin sekali merasa tubuh itu lagi didalam genggamannya, hangat dan bernafas, tidak dingin dan tidak bergerak seperti dulu. Shizuo merindukan semuanya—momen dengan Izaya.
Izaya mengeryit ketika melihat berbagai macam perasaan melintas di mata dan ekspresi Shizuo. Syok, bahagia, kaget, sedih, penyesalan... hah?
Namie hanya menonton.
"Tadi kau memanggilku apa?" suara Shizuo pelan, seakan berbisik pada dirinya sendiri. Izaya hanya mendengar 'memanggilku apa?' karena tidak terlalu jelas. Izaya berkedip beberapa kali, dan dia terlihat seperti kucing yang kebingungan karena tuannya tidak kunjung memberinya makan. Shizuo hampir saja menjulurkan tangannya dan menghancurkan pekerjaan yang baru saja diterimanya ini karena memeluk CEO tanpa izin.
Syukur, Kadota datang sebagai penyelamat.
"Ini handuknya, Heiwajima-san." pria itu memberikan sebuah handuk lembut yang cukup besar kepada Shizuo. "Saya permisi dulu." dengan itu, Kadota pergi meninggalkan Namie, Shizuo dan Izaya bertiga.
"Jadi, Izaya, itu caramu memanggil orang yang baru saja kau temui?" tanya Namie. Aura nya seperti seorang Ibu yang memarahi anaknya karena kurang sopan didepan orang lain, dan Shizuo terkekeh pelan. Apalagi ketika melihat Izaya menggembungkan pipinya. Ternyata, Izaya tidak banyak berubah. Dia masih kutu yang dulu.
Shizuo mengalungkan handuk itu di lehernya dan mulai mengusap rambut pirangnya, mengeringkan mereka. Dia menonton bagaimana interaksi antara Namie dan Izaya. Namie seperti seorang Ibu saja, menurut pendapatnya. Dia tertawa kecil, apalagi ketika Izaya mencoba membantah dan mendapat tatapan tajam dari si sekretaris.
"Tapi, aku menyukai nama panggilan itu. Shizu-chan." ucap Izaya, mencoba membalas perkataan Namie. Wanita itu tampak akan mengigit Izaya kapan saja, jadi Shizuo dengan kalem berkata, "Aku nggak keberatan, kok."
"Apa?" mereka berdua berkata serempak.
"Aku bilang, aku nggak keberatan dipanggil Shizu-chan." kata Shizuo santai sambil mengusap-usap rambutnya.
Sekali kedip, dua kali kedip, sebelum Izaya tertawa hebat dan menunjuk kearah Namie. "Ha! Rasakan! Tuh, Shizu-chan aja nggak marah kan! Hahahaha!" Tawa pria itu dan Namie memukul kepalanya.
Shizuo tersenyum kecil.
"Shizu-chan, apa kau tidak kedinginan?" tanya Izaya saat mereka berada di dalam ruangan CEO. Shizuo menggeleng. Dia tidak merasa kedinginan. Dia hanya merasa tidak nyaman saja karena pakaiannya basah dan dia tak dapat menggantinya. Diluar masih hujan, walaupun sedikit lebih reda dan tidak tumpah seperti air terjun tadi.
"Aku minta maaf karena membuat lantaimu kotor," komentar Shizuo. Dia berdiri, tidak ingin duduk karena nanti pasti akan membuat sofa yang ada diruangan tersebut basah. Dan Shizuo tau harganya itu mahal, dilihat dari warna dan teksturnya.
"Ara~ tidak apa kok. Sebentar lagi Kadota akan datang dari butik Erika, jadinya kau bisa berganti baju~" ucap Izaya santai. Dia sedang bersandar di meja, menatap kearah lain—yang membuat Shizuo hampir tertawa adalah bagaimana Izaya berusaha keras agar tidak menatap tubuhnya.
"Oh," Shizuo mencoba taktik yang dulu sangat bekerja ke Izaya. Walaupun Izaya tidak mengingatnya, dia yakin sekali reaksinya akan sama. Izaya yang memerah hebat dan berteriak kepadanya 'jangan menunjukkan tubuh monstermu kepadaku, protozoa!'. "Tapi, kemeja ini sedikit mengangguku. Apa aku boleh melepasnya, Izaya-san?"
Izaya memerah, dan Shizuo hampir tertawa melihatnya. Hampir. Tuh, dia hanya tersenyum kecil saja kok, apalagi ketika Izaya dengan terbata-bata, "O-Oke. A-A-Aku akan men-menyelesaikan beberapa pekerjaan. Uhm, oke." lalu beranjak ke kursinya dan membuka laptop, sebelum mengetik dengan ganas.
Shizuo tertawa dalam hati. Apalagi ketika melihat Izaya benar-benar memerah hebat. Pria yang lebih tua 3 tahun itu berusaha menutup wajahnya yang memerah dengan menunduk ke laptop.
Karena merasa kasihan dengan Izaya yang tergoda, Shizuo hanya melepas tiga kancing atasnya saja. Cukup untuk memperlihatkan—walaupun tidak terlalu nampak—dadanya. Shizuo bisa mendengar Izaya membuat suara aneh, yang seperti seseorang ingin batuk tapi tertahan di tenggorokan.
Untuk menambah godaannya ke Izaya, dia lalu menyisir rambutnya yang masih cukup basah kebelakang dengan kelima jarinya. Reaksi Izaya sama seperti yang diprediksi olehnya—memerah bagaikan buah tomat, dan—
"Shizu-chan! Hentikan itu! Kau membuatku jealous karena ketampananmu! AAAAAA!"
Shizuo tertawa. Benar-benar tertawa. Tapi hanya berlangsung singkat saja, karena Izaya masih histeris.
"Oh, aku tampan?" Shizuo benar-benar merasa bahagia kali ini.
Izaya tidak repot-repot menyembunyikan rona merah di pipinya. "Ya! Sangat! Kenapa kau malahan berakhir menjadi bodyguardku, sih?! Bukannya kau seharusnya masuk ke agensi modelling?!" sahut pria itu, dan Shizuo harus menahan tawa puas yang ingin keluar.
"Aku sudah pernah didatangi agensi modelling, kok. Tapi nggak jadi model. Haha."
"Ya, karena kau tidak dapat mengontrol emosi dan kekuatanmu! Kalau saja kau menjadi model dan bukan Kasuka ya—ng... menggantikan..." Izaya terbelalak dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Apa? Apa yang dia katakan? Siapa Kasuka? Apa yang dia katakan? Emosi? Kekuatan? Kontrol? Apa—
Shizuo juga sama kagetnya, tapi Izaya bisa melihat sebuah harapan di mata coklat yang menatapnya itu. Izaya mengingatnya. Secara tak sadar. Dengan perlahan, Izaya menurunkan tangan dari mulut dan menatap Shizuo dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kaget dengan semua ucapannya.
"Menggantikan?" tanya Shizuo, berharap—sesuatu, apapun, apapun, agar Izaya melanjutkan ocehannya tadi. Agar Izaya mengingat semuanya.
"Uhm... mengganti...kan..." Izaya mengeryit dan menunduk, kebingungan.
Kadota menjadi penyelamat mereka. Lagi.
"Izaya-sama, Heiwajima-san," suara ketukan di pintu. Suara pria yang lembut dan menenangkan—Kadota. "Saya membawakan pakaian untuk Heiwajima-san."
"Ah, masuk saja, Dotachin." ucap Izaya, masih menunduk dan seakan berpikir sesuatu. Kadota masuk kedalam, dan memberikan Shizuo kemeja berwarna abu-abu dan celana kain berwarna hitam. Kadota menoleh kearah Izaya, dan dia sangat ingin bertanya ada apa. Tapi, Izaya hanya berkata dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Tunjukkan Shizuo toilet, atau ruangan untuk berganti baju, Kadota. Aku ingin berpikir sebentar."
Kalau Izaya meninggalkan nama panggilan dan menggunakan nama asli, itu berarti dia sedang serius atau ngamuk. Kadota tau yang terbaik, dan meminta Shizuo untuk mengikutinya. Mereka meninggalkan ruangan Izaya.
Shizuo tampak tidak tega, tapi yah...
Akhirnya dia mengikuti Kadota. Mereka dalam perjalanan menuju ruang staff, sebelum Kadota membuka percakapan.
"Shizuo-kun, bukan?"
Shizuo mengangguk. "Aah... Kyohei-san." pria pirang itu tersenyum lembut. "Baru menyadari kalau aku Shizuo?"
Kadota terkekeh, "Maaf. Kenapa kau mewarnai rambutmu pirang? Aku bahkan tidak mengenalmu. Kau berubah banyak, Shizuo-kun."
"Ah, ya. Kau taulah, Kyohei-san. Pubertas." Shizuo ikut terkekeh. "Kyohei-san bagaimana kabarnya? Dan kabar Togusa dan Walker?"
Kadota tersenyum lembut. "Mereka baik-baik saja. Walker dan Erika sudah menikah, loh."
"Aku tidak kaget sama sekali." balas Shizuo saat mereka berbelok kearah kanan untuk ke ruang staff.
Setelah sampai, Kadota meminta salah satu atasan—Kine—untuk mengantar Shizuo ke ruang ganti. Kine adalah pria cukup tinggi dengan kepala botak, tapi dia baik dan ekspresinya seperti pria tua yang menikmati hidup semasa muda. "Disini ruangannya." kata Kine sebelum meninggalkan Shizuo didepan pintu yang bertuliskan 'ruang ganti'.
Masuk kedalam, ruangan itu cukup kecil dan hanya muat maksimal untuk 2 orang. Shizuo berganti dengan mudah, dan wajahnya sedikit memerah ketika menemukan sebuah boxer antara baju dan celana.
Dia berganti baju dengan cepat, sebelum keluar membawa bajunya yang basah dan memerasnya di toilet kecil dekat gudang. Kadota datang dan memberikannya sebuah kantong kresek dan sendal biasa.
"Pepatah memang benar," komentar Kadota. Shizuo hanya mengangkat alis. Kadota lalu melanjutkan, "Orang ganteng kalau pakai apapun pasti tampak keren. Kaus sama celana itu bahkan nggak lebih dari 70 ribu, dan kamu malahan tambah ganteng, Shizuo."
Benar saja. Pakaian ini sedikit menunjukkan otot-otot Shizuo. "Oh," hanya itu komentar pria jangkung tersebut. "By the way, bagaimana Izaya?"
"Oh, dia baik-baik saja. Para OB sudah selesai membersihkan ruangannya. Masuk saja, dia sedang menyusun jadwalmu. Jadwalnya dengan jadwalmu disamakan. Dan besok, kalian akan membeli seragam khusus untukmu."
"Seragam khusus?"
Kadota mengangguk. "Seragam khusus."
Saat Shizuo masuk kedalam ruangan, dia sekilas melihat perban di tangan Izaya yang berada balik kemeja lengan panjang pria itu. Izaya memejamkan mata. Namie berada di ruangan, duduk di kursinya dan mengetik sesuatu, sebelum bangkit dan menghadap Shizuo. "Heiwajima-san." sapa wanita itu.
Shizuo mengangguk, sebagai sapaan tanpa ucapan.
"Izaya, bangun."
Izaya lalu membuka matanya dan mengucek-uceknya selama beberapa detik, dan Shizuo benar-benar harus menahan diri agar tidak membayangkan kalau Izaya itu kucing dan sedang membersihkan wajah. Eh. Dia baru saja membayangkannya. Sial.
"Baiklah, Shizu-chan!" Ah, nama panggilan tersebut balik lagi. Izaya bersikap seperti dia melupakan semua yang terjadi 30 menit yang lalu. "Besok, kita akan mencarikanmu baju~ aku yang akan memilih!"—entah kenapa firasat Shizuo tidak enak—"Lalu, keliling perusahaan bersama Kadota dan Aozaki-san, dan sedikit mendapatkan ceramahan dari Namie-san tentang pekerjaanku!"
Namie menatap tajam kearah Izaya dan pria itu tidak menggubrisnya sama sekali. Apalagi saat Izaya dengan santai menambahkan, "Oh, Namie itu Ratu Es. Kusarankan jangan terlalu dekat dengannya~ Nanti kau bisa beku, loh!"
Shizuo hanya menelan ludah saat tatapan Namie semakin tajam, seakan berharap Izaya akan jatuh pingsan atau apapun agar membuatnya diam.
Tanpa sadar, bunyi bel makan siang berbunyi. Izaya langsung berdiri dari kursinya sementara Namie mengeluarkan bento dari tasnya. Shizuo mengeryit bingung. Emangnya di perusahaan ada bel makan siang apa?
"Izaya selalu lupa untuk makan, jadi Shirou-san, Presiden Perusahaan, menetapkan jam makan siang ini. Agar anaknya makan dengan teratur dan juga para karyawan bisa beristirahat dengan tenang." ucap Namie seakan membaca pikiran Shizuo. "Ini juga salah satu pekerjaanmu sebagai bodyguard Izaya, Heiwajima-san. Kau harus menjaga pola makan Izaya dan juga menjaganya dari apapun yang menurutmu membahayakan."
Izaya mendengus. "Aku bukan anak bayi, Namie-san."
"Dan kau bersikap seperti bayi. Diam dan turuti apa kataku, aku tau yang terbaik untukmu."
Shizuo merasa kalau hubungan Izaya dan Namie itu lebih dekat dari yang dia kira. Tapi yang membuatnya merasa aneh adalah, Shizuo tidak merasakan rasa cemburu ataupun iri karena kedekatan antara Izaya dan Namie. Dia yakin sekali kalau Namie sudah berada disekitar Izaya cukup lama sehingga dapat mengetahui apa yang pria itu pikirkan dan tindakan Izaya selanjutnya.
Hubungan mereka bagaikan Ibu dan Anak. Shizuo yakin sekali kalau Namie Yagiri adalah kembaran hilang Kyouko Orihara. Well... kecuali sifat mereka.
"Heiwajima-san—"
"Shizuo saja."
"Shizuo-san." koreksi Namie. "Apa anda tidak membawa bekal atau apapun? Anda bisa pergi ke kafeteria. Izaya, ikut dengan Shizuo-san. Ootoro dan kopi tidak terlalu baik untuk kesehatanmu, dan makan 4 sehat 5 sempurna. Shizuo-san, jaga dia untukku."
Overprotektif sekali.
"Oh, halo, Shirou."
"Kichirou?" suara di ujung telepon berkata. "Ada apa? Tumben kau menelponku."
"Aku ingin memberi tahumu sesuatu—aku akan pulang ke Ikebukuro."
"...Oke."
"Oke? Hanya itu saja?"
"Memangnya aku harus apa, Kichirou?" suara disana menyahut dengan pelan. "Aku tau kau akan datang. Ingat, Kichirou. Kami sudah memaafkan kalian. Kalian diterima kembali di kehidupan kami. Memang, kami tidak akan pernah melupakan kejadian yang menimpa Izaya, tapi kau tetap sahabatku, dan jangan sedih. Aku dan Kyouko sudah memaafkan kalian, itu adalah hal yang tidak disengaja oleh anakmu. Dan juga, Izaya dan Shizuo sudah memiliki hubungan yang erat."
Kichirou Heiwajima tersenyum. "Aku juga yakin."
Lalu, Kichirou bisa mendengar Shirou mengaduh dan suara milik seorang wanita. Kichirou terkekeh ketika Shirou menjerit, "Duh! Sakit, Kyo—ah, jangan diambil!"
"Kichirou-san!~" suara riang. "Apa ada Namiko-san? Aku ingin berbicara padanya sebentar~!"
Kichirou terkekeh. "Kyouko-san, kalau kau berbicara dengan Namiko lewat telepon, aku yakin pulsaku akan habis setelah kalian berbincang."
"Eeh?"
Dan. "Kembalikan, Kyouko!"
Kichirou menggeleng-geleng. Inilah darimana Izaya mendapatkan sifatnya—orangtuanya saja seperti ini. Tapi walaupun begitu, kecantikan dan kebaikan hati Kyouko dan leadership serta kharisma Shirou diturunkan ke anak pertama mereka, Izaya.
"Maafkan aku, Kichirou. Kyouko sangat ingin bertemu dengan Namiko. Ah, kapan kalian berangkat? Dan haruskah kami menjemput kalian di bandara?:
"Besok." Kichirou melirik Namiko yang sedang membereskan pakaian, "Oh, tidak perlu. Aku ingin langsung ke hotel. Kami akan membooking hotel untuk sementara."
"Kalian bisa menginap sementara, kok."
"Tidak ingin menghancurkan rumah tanggamu, Shirou."
Dengusan. "Apa kau serius, Kichirou? Alasan itu terlalu absurd."
Kichirou terkekeh, sebelum berjalan kearah Namiko yang sedang melipat baju dengan senyuman di bibirnya ketika mendengar perkataan suaminya. "Tidak apa. Kami juga ingin bertemu dengan Shizuo, sebelum akhirnya bertemu dengan Izaya. Tak apa kan?"
"Kau berkata seolah kau tak pernah datang ke rumahku hanya untuk melihat Izaya. Tanpa undangan dan tanpa pemberitahuan."
"Haha, maaf."
Tapi, kedua orangtua tidak tau apa yang akan mereka dapatkan ketika bertemu kedua anak mereka.
A/N: Update super cepat. Saya edit beberapa bagian. Kan udah saya bilang, chapter 3 dan 4 dipotong XD. Saya ngedit chapter 3 dulu dan ngemotongnya, sebelum ngedit chapter 4. So, here you go!~ Maaf kalau ada typo-nya, beta-read saya lagi sakit jadinya kalau alurnya sedikit cepat atau ada beberapa yang salah, silahkan berikan kritik dan saran~
Review please! Karena review akan membuat saya semangat ngetik! *hearts*
