Our New Life : Dark Blood New Generation
.
(Hunter X New Generation)
.
Story by : Mercyblue
.
--
Genre : Family/Romance
Rated : T
Character : Kurapika Kuruta, Luna Kuruta (OC), Their Fams
Disclaimer : Yoshihiro Togashi
--
.
Chapter II : Happiness (Part II)
.
--
.
- Ruang tunggu Rumah Sakit Suku Kuruta -
.
"Apa semua akan baik-baik saja?" Yutaka tampak mondar mandir di depan pintu kamar bersalin sambil terus menggumamkan pertanyaan yang sama.
.
"Suamiku, tenanglah. Duduk dan bersikaplah seperti putramu yang tetap tenang di sana." Sanae berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiri suaminya.
.
"Bagaimana aku bisa tenang? Sudah hampir 2 jam mereka di dalam dan belum ada kabar mengenai kondisi putri dan cucuku?" jawab Yutaka panik.
.
"Ayah, dia wanita yang kuat. Aku yakin dia bisa melaluinya." Kurapika tersenyum paksa berusaha menyembunyikan perasaan cemas di hatinya saat ini. Keringat dingin yang membasahi wajahnya menunjukkan bahwa sebenarnya ia juga merasa ketakutan terjadi hal buruk pada istri dan calon bayinya. "Dia, yang selama 20 tahun, bisa menahan rasa sakit karena efek Dark Blood, tak mungkin kalah oleh hal ini," lanjutnya, sekaligus meyakinkan dirinya sendiri. Sanae dan Yutaka saling memandang. Mereka menghampiri pria berambut pirang itu, Sanae memeluk Kurapika sementara Yutaka menepuk punggung putranya itu beberapa kali. Mereka saling menguatkan dalam diam.
.
Sekitar 10 menit kemudian,
.
"Kurapika, ada yang harus kubicarakan denganmu." Seorang dokter berkacamata, keluar dari ruang bersalin Luna. Kurapika segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri dokter muda itu.
.
"Leorio, bagaimana keadaan istri dan anakku?" tanya Kurapika cemas.
.
"Mereka baik-baik saja saat ini, jangan khawatir. Sayangnya, meski kontraksi yang dialami istrimu sudah berjalan lebih dari dua jam, saat ini dia baru melewati tahap pembukaan delapan. Hanya saja..." penjelasan Leorio terhenti ketika pintu ruangan tiba2 terbuka.
.
Lynn, sahabat Luna, menghampiri Leorio, ia membisikkan sesuatu ke telinga suaminya itu. Leorio terkejut, "Aku mengerti, siapkan semuanya sekarang juga. Aku segera kembali," ucap Leorio. "Kurapika, ikut denganku sekarang." Ia mengalihkan pandangannya pada sahabatnya, Kurapika mengangguk. Mereka berdua berjalan tergesa-gesa.
.
"Kita tak bisa menundanya lagi. Istrimu pendarahan, kita ke ruang persediaan darah di depan," ujar Leorio sambil berjalan lebih cepat.
.
"Golongan darah Luna termasuk langka, AB rhesus positif." Kurapika menambahkan. "Apa di sini persediaannya tersedia?" tanyanya cemas.
.
"Aku sudah berjanji padamu, Kawan. Aku sudah menyiapkan segalanya, jadi tenang saja." Leorio tersenyum.
.
"Aku berhutang budi padamu, Leorio," ucap Kurapika lega.
.
"Tak perlu sungkan, seandainya istrimu tidak mengusir rentenir-rentenir itu dari sini dengan membayar semua hutang yang ditimbulkan para penipu di perusahaanku itu. Pasti sekarang hidupku dan Lynn sudah hancur." Leorio menoleh pada sahabatnya. "Akulah yang seharusnya berhutang budi pada kalian. Jangan sebut aku Hunter Medis jika tak bisa menyelamatkan istri dan anakmu."
.
- Ruang bersalin Rumah Sakit Suku Kuruta -
.
"Luna bertahanlah sedikit lagi, jalan lahirnya hampir terbuka maksimal," Lynn memberi semangat.
.
"Aku mencoba Lynn. Ukh haah haah," sahutnya lemah. Ia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Tenaganya benar-benar habis saat ini, sudah 4 jam sejak rasa sakit dan ngilu itu menyerang tubuhnya tanpa kenal ampun. "Lynn," panggilnya. "Kurapika... Suamiku, dia di mana?"
.
"Dia bersama Leorio, menuju ruang persediaan darah. Mereka akan segera kemari," Lynn menggenggam tangan Luna yang basah oleh keringat.
.
"A-pa pendarahannya parah?" tanyanya dengan suara bergetar. Lynn menggeleng pelan dilanjutkan senyum paksa tergambar di bibirnya. Ia merasa tidak tega melihat sahabatnya menderita seperti itu. Seiring darah yang mengalir semakin deras dari bagian bawah tubuh sahabatnya, genggaman tangan Luna mulai melemah, wajahnya semakin memucat.
.
"Apapun yang terjadi, selamatkan anak ini. Berjanjilah padaku, selamatkan dia sekalipun itu harus mengorbankan nyawaku." Luna mendekatkan wajahnya ke wajah sahabatnya itu.
.
"Jangan bicara begitu, kau kuat. Kalian berdua pasti selamat. Yakinlah pada dirimu sendiri," hardik Lynn pada sahabatnya yang kini sedang tergolek lemah itu.
.
Pandangan Luna mulai bias, kepalanya berkunang-kunang. Daya tahan tubuhnya untuk menahan rasa sakit kontraksi itu sudah sampai pada batasnya. Matanya yang setengah terbuka menerawang ke atas dengan tatapan kosong, perlahan ia mulai menutup matanya.
.
"Tidak, Luna. Jangan tutup matamu, tetaplah terjaga!" Lynn mulai panik, ia mengguncangkan tubuh sahabatnya itu, lalu menepuk-nepuk pipinya untuk membuatnya tetap terjaga. Denyut jantung Luna mulai melemah.
.
- Luna POV -
.
Aku tak tahan lagi. Rasa sakit ini terus mendesakku agar aku menyerah saja. Aku tahu, aku harus kuat demi bayiku. Tapi aku lelah sekali, beberapa menit saja, biarkan aku menutup mataku dan beristirahat, 5 menit saja.
.
Pandangan mataku mulai kabur, kepalaku terasa pusing. Perutku terasa nyeri, pinggangku terasa berat sekali seperti hendak jatuh dari tempatnya saat ini. Masing-masing bagian tubuhku serasa ingin saling melepaskan diri. Bagian bawah tubuhku, jalan lahir bagi bayiku seolah robek dan terkoyak, rasanya nyeri, perih dan seperti terbakar. Seluruh cairan di tubuhku bagai tersedot keluar. Perlahan aku mulai memejamkan mataku.
.
"Sebentar saja-" pikirku saat ini.
.
"Sayang, kau dengar aku? Bangunlah, jangan tinggalkan aku. Bagilah rasa sakitmu padaku. Kita berjuang bersama."
.
Suara lembut itu, membangunkanku. Benarkah itu dia? Orang yang paling kusayangi di dunia ini, suamiku? Mungkin aku harus melihat wajahnya sebelum aku beristirahat, aku harus menyampaikan padanya bahwa aku hanya akan tertidur sebentar agar dia tidak cemas.
.
Meskipun berat, aku berusaha membuka mataku. Memfokuskan pandanganku pada satu titik, saat itulah perlahan kesadaranku kembali.
.
"Dia bangun. Leorio, Lynn, dia sudah sadar," suamiku terlihat lega, ia mengusap air mata yang turun membasahi pipinya lalu memeluk tubuhku.
.
"Kukira kau takkan bangun, Sayang. Aku takut sekali." Suamiku mencium keningku. Seketika aku menyadari, seandainya aku tak berusaha membuka mata, mungkin aku takkan bangun lagi untuk kedua kalinya. Tertidur selamanya. Aku hampir membunuh diriku sendiri dan bayi yang ada di kandunganku. Aku terisak. "Maafkan aku."
.
"Luna, sudah waktunya. Bersiaplah untuk mendorong sesuai petunjukku,"ucap Lynn padaku. Aku mengangguk.
.
"A-ku a-kan berjuang demi bayi-ku," sahutku pelan.
.
"Tarik nafas 1... 2... 3..." Lynn memberiku perintah, aku mengikuti petunjuknya."Sekarang dorong sekuat yang kau bisa," lanjutnya.
.
"Nggghhh..." Sekuat mungkin aku mendorong bayiku. Aku mencengkeram tangan suamiku yang menggegamku. Sakit dan nyeri di bagian bawahku semakin bertambah saat aku berusaha mendorong bayiku keluar. Aku merasakan bayiku juga berusaha untuk keluar dari rahimku. Ia perlahan bergerak menuruni jalan lahir yang ada di dalam tubuhku. Sekali lagi bagian bawah tubuhku serasa terbakar.
.
"Haaah haaah haaah," Nafasku kembali tersengal. Aku mencoba kembali mengatur nafasku.
.
"Bagus, Luna. Sekali lagi. Aku bisa melihat kepalanya sekarang," sahut Lynn.
.
"Sayang, kau kuat. Berjuanglah sedikit lagi, sebentar lagi bayi kita akan lahir." Suamiku turut memberi semangat padaku.
.
"Nggghhh..." Aku mendorong bayiku lagi. Aku bisa merasakan kepala kecilnya hampir keluar. Bagian bawahku terasa sobek, perih dan terbakar. Sedikit lagi, batinku. Dorong sedikit lagi. "Mhhh..." Aku berupaya keras, namun nafasku yang kembali tersengal menghentikan upayaku.
.
"Sedikit lagi, Luna. Hampir keluar, bayimu hampir keluar." Lynn kembali memberiku semangat.
.
Aku menatap wajah suamiku, ia membalas tatapanku dengan mencium tanganku yang sedang menggenggam tangannya, seolah berkata, "Ayo, Sayang. Kau akan menjadi seorang ibu sebentar lagi."
.
Aku menarik nafas panjang lalu...
"Ngghhh..." Aku kembali mendorong sekuat tenaga. Aku merasakan ada benda kecil keluar dari bagian bawah tubuhku.
.
- Ruang tunggu Rumah Sakit Suku Kuruta -
.
"Oee oee oee," tangisan bayi memecah keheningan ruang tunggu tempat Sanae dan Yutaka duduk dengan perasaan cemas dan khawatir.
.
"Cucuku sudah lahir." Yutaka berdiri dari tempat duduknya. Reflek, ia memeluk istrinya yang saat ini juga berdiri di sampingnya. Sanae mengusap air mata di sudut matanya dan merasa sangat bahagia.
.
- Chapter II : Happiness (Part II) End -
