Title: The Sweet Hostage
Cast:
-Kim Ryeowook / Wookie
-Kim Yesung and other
Genre: Romance, Crime
Disclaimer: Semua cast milik Tuhan, orangtua nya dan SMEnt. Fict ini merupakan remake dari novek karya Nesti Mindha. Saya cuma mengubah beberapa saja.
Summary: Ryeowook patah hati ketika tahu kekasihnya tidur dengan dosen genit di kampusnya. Untuk balas dendam, Ryeowook mengobrak-abrik rumah dosennya. Namun, aksi Ryeowook direkan oleh pria menyeramkan. Pria itu mengancam akan menyebarkan video itu kalau Ryeowook tak mau membantunya.
Warning: Genderswitch, Typho(s) bertebaran. Don't Like Don't Read, ok?
~YeWook~
"Tak perlu khawatir. Kepala anda tidak mengalami gegar otak. Hanya saja perbannya harus rajin diganti dan jangan sampai lupa minum obat." Dokter wanita itu tersenyum memandang kami, sebelum pergi ia berpesan, "Saya akan menuliskan resep obatnya, nanti anda tinggal menebusnya di apotek. Semoga cepat sembuh." Setelah menuliskan nama-nama obat yang tak kumengerti, dokter itu menyerahkan resep padaku.
Suster yang mungkin seumuran denganku juga beranjak pergi setelah mengikat perban. Lelaki brewok itu memeriksa kepalanya dengan satu tangan lalu menarik ujung bibirnya. Kurasa ia sedang tersenyum.
"Terima kasih sudah mempercayaiku."
"Hanya sementara. Aku tak tahan melihat darah. Lain kali kalau berubah pikiran, aku langsung melaporkanmu ke polisi." Aku melirik tangan kananku yang masih digenggamnya. "Heh, bisakah kau melepaskannya sekarang?"
Dia tertawa pelan. Perlu kucatat. Dia tergolong penjahat yang suka tersenyum dan cukup sopan karena sering mengucapkan terima kasih. Dia patut diberi penghargaan oleh dewan penjahat sebagai penjahat paling tahu terima kasih, kalau ada sih.
"Kurasa tidak. Aku takut jika kulepaskan kau akan berubah pikiran dan lari ketakutan meninggalkanku." Ia justru mempererat genggamannya.
Bingung antara marah dan malu, aku membuang muka. "Heh, aku cuma tak mau orang yang melihat kita bakal berpikir tentang hub..." Aku tergagap dan hampir keceplosan mengatakan 'Hubungan Kita'. Rasanya kata itu terlalu romantis, padahal aku sedang dalam keadaan dramatis dan kritis.
Alis lebat yang menaungi mata berkantong hitam itu terangkat.
Kurang ajar sekali penjahat ini. Dia sudah membuatku serbasalah dan panas-dingin. "Dengar! Aku tidak ingin orang menatap aneh pada kita berdua. Kepalamu dan ini..." Kualihkan tatapanku pada tangannya yang menggenggam tanganku lalu ke sekeliling ruang UGD yang dipenuhi banyak orang. Selain menunggu anggota keluarga, tampaknya mereka melirik penuh minat pada kami. Tentunya bukan karena aku, tapi penjahat ini yang tampangnya memang menakutkan bagi mata manusia normal.
"Terserah mereka."
Bagus! Penjahat ini mempunyai kharisma aneh yang bisa membuatku pasrah, tak bisa melawannya. Harua kuakui, tangannya tak terlalu panas. Sikapnya juga tak sekasar penjahat di film laga yang kubayangkan. Tangannya agak dingin tapi menyenangkan di kulitku. Oke, terserah pikiran orang. Lagipula aku sudah putus dengan Changmin, jadi tak perlu khawatir tentang statusku. Tapi apa aku masih waras jika ge-er karena seorang penjahat? Mumpung masih di rumah sakit, mungkin ada baiknya aku memeriksakan diri ke ahli jiwa.
Aku terselamatkan oleh suster yang datang menanyakan apakah aku sudah menebus obat. Aku menggeleng lalu cepat-cepat beranjak. Tatapan si brewok memelas, memohon ikut. Persis tatapan anak anjing. Tapi aku cuek, aku harus segera membereskan biaya administrasi dan menebus obat.
Dia tersenyum, rasa lega terpancar di matanya saat aku kembali lalu membantunya berjalan ke mobil hijauku. Kepalanya memang diperban dan rambut hitam yang berantakan itu sedikit menggumpal karena sisa darah, tapi sebenarnya dia bisa berjalan sendiri tanpa menggandengku.
Ryeowook, kau harus tahan. Kau sendiri yang memutuskan untuk percaya pada perkataan orang ini. Jadi jangan merasa canggung saat orang di sekelilingmu memandang aneh, karena yeoja semanis dirimu bergandengan dengan pria brewok berperban yang menyeramkan.
Kugeleng-gelengkan kepalaku berharap suara di kepalaku menghilang. Beberapa saat yang lalu aku sangat ingin membuat kepala penjahat ini pecah berantakan agar aku bisa kabur menyelamatkan diri. Coba lihat sekarang! Aku malah duduk konyol di sampingnya. Benar-benar hebat kau, Ryeowook!
"Kau baik-baik saja, Ryeowook?" Lelaki brewok itu sudah duduk di sampingku. Tubuhnya condong ke arahku dengan tatapan prihatin. "Wajahmu pucat."
Aku gelagapan, berusaha menjauhinya. "Eh, aku baik-ba... Aduh.. Bagaimana bisa baik-baik saja kalau bersama penjahat?" Aku mendengus dan mulai menjalankan mobil. Dia terkekeh. "Heh, ini tidak lucu tahu! Ini menyangkut hidup-matiku. Aku masih penasaran darimana kau tahu namaku. Aku tak menuliskannya di dahiku kan? Hingga kau bisa langsung menyebutkannya keras-keras."
Suara tawanya tertelan melihat kekesalanku.
"Eommaku suka sekali dengan program tv yang kau bawakan, jadi secara tidak langsung melihatmu. Apalagi eommamu artis dan produser hebat, sedangkan appamu anggota pemerintahan yang cukup terpandang. Mereka orang yang sering disorot kamera dan kau pun tak luput dari sorotan. Makanya aku langsung mengenalimu saat kau keluar dari rumah gelap itu."
"Wah, ternyata kau penjahat yang gila berita artis," cibirku. Perlahan aku menyadari rona merah hangat yang menjalari pipiku.
Kontrak kerjaku sebagai host salah satu program TV sudah berakhir bulan lalu. Sebenarnya mereka menawariku perpanjangan kontrak namun kutolak. Popularitas eomma di dunia artis dan wajahku yang kata orang lumayan manis, membuatku banyak menerima tawaran untuk memandu acara televisi. Sudah lama eomma merayuku agar mengikuti jejaknya, tapi sebagian jiwa pemberontakku lebih menyukai bisnis daripada bidang hiburan. Aku mewarisi sifat appa untuk yang satu ini. Jadi tiga tahun lalu kuputuskan untuk memulai kuliah jurusan bisnis.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Heh, aku kan sudah membantumu bersembunyi. Sebagai balas budi, berikan rekaman video itu padaku."
Dia hanya mengulum senyumnya tanpa berkata apapun.
"Oke! Baiklah, simpan saja rekaman itu baik-baik. Jangan sampai aku mencurinya," sindirku.
"Bolehkah aku tahu nomor rekeningmu?" tanyanya mengabaikan ucapanku.
Aku hampir menabrak mobik kalau saja tak segera mengerem. "Heh, brewok! Kau sudah mengancamku, memaksa tinggal di apartemenku dan sekarang kau ingin merampokku?"
Dia tertawa terbahak. "Ya Tuhan, kau benar-benar menganggapku penjahat ya?" katanya sambil mengusap matanya yang berair. "Dompetku dicuri, semua kartu ATM dan kartu kreditku hilang. Aku tak punya uang sekarang, jadi aku ingin pinjam rekeningmu untuk mentransfer uangku."
"Ooo..." desahku lega. "Oke."
Kami berhenti di parkiran salah satu mall yang ramai pengunjung dan berjalan ke arah ATM. Tentu saja, dengan tanganku yang tetap digandengnya. Sepertinya ia tak ingin ambil resiko aku kabur di tempat seramai ini. Ah, masa bodoh dengan tatapan ingin tahu orang lain, apalagi melihat perban di kepala pria ini. Mereka pasti mengira aku yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga dan pria ini adalah korbannya. Secara teknis sih iya, tapi faktanya berlawanan. Oh, bukan kekerasan dalam rumah tangga, melainkan kekerasan dalam apartemen.
Beberapa menit lalu setelah aku memberitahukan nomor rekeningku, kami berhenti di sebuah telepon box karena ia ingin menelpon seseorang. Sebenarnya ia ingin meminjam teleponku. Tapi tentu saja itu tak bisa kupenuhi mengingat ponselku masih berserakan di lantai kamarku. Keluar dari telepon box, ia bilang rekannya sudah mentransfer sejumlah uang ke rekeningku. Aku agak ragu.. yang ia maksud rekannya itu benar-benar rekan dalam arti sesungguhnya atau jangan-jangan pemasok dana para teroris dan mafia? Ah, tidak. Aku tak mau memikirkannya. Kasihan kepalaku, bisa-bisa meledak karena memikirkan ulah penjahat ini.
Aku memasukkan kartu ATM, mengetik password dan memilih menu cek saldo. Sedetik kemudian mataku melebar. Aku masih ingat berapa saldoku sebelumnya dan sekarang bertambah puluhan juta.
Dia menarik beberapa juta saja dari mesin ATM.
"Aku tahu kalau kau bukan sembarang penjahat. Tapi kalau kau sekaya itu, kenapa tak kabur ke luar negeri saja?"Aku menantang matanya. Mata itu hanya memandangku sekilas lalu membuang muka dengan menghela napas berat.
Setelah mengambil uang dan mengantonginya, dia menarikku keluar dari ATM dan menyeretku memasuki mall. Aku bisa merasakan tubuhnya menegang, hingga akhirnya ia bersuara, "Karena jika tak bisa menangkapku, mereka pasti mengincar keluarga dan rekanku. Jadi, kalau aku lapor polisi atau kabur ke luar negeri, aku khawatir mereka akan menyelakai keluargaku unuk memancingku keluar. Tapi untuk saat ini, mereka tahu aku masih di negara ini dan tutup mulut, jadi mereka tak butuh keluargaku. Mereka hanya perlu menangkapku hidup-hidup atau langsung membunuhku."
Hentakan tangannya agak kasar saat memaksaku nail eskalator. Aku bergidik. Dia memang kerap tersenyum, tapi sosoknya tetap menyeramkan.
Saat berdiri di eskalator ia memelankan suaranya, menjaga agar orang-orang di sekitar kami tak ikut mendengar. "Mereka memata-matai keluarga dan teman-temanku, jadi aku tak bisa berhubungan langsung dengan mereka. Aku juga tak bisa banyak meminta pertolongan karena akan sangat membahayakan nyawa keluargaku," lanjutnya.
Ya, tidak membahayakan nyawa mereka, tapi nyawaku, orang yang tak ada sangkut pautnya denganmu.
Sepertinya ia bisa membaca isi pikiranku, "Tidak dengan dirimu, Wook. Malam itu mereka tak melihatmu. Lagipula mereka mengira kau laki-laki."
"Semoga begitu."
Tanganku digenggamnya erat, seperti hendak menyalurkan semangat atau mengungkapkan permohonan. Aku harus bagaimana? Aku terlanjut terperosok terlalu dalam.
"Aku harus belanja. Apartemenmu dipenuhi barang-barang wanita. Aku tak mau menjadi banci karena itu."
Tawaku meledak, tak bisa kutahan. Orang di depan kami sampai menoleh ke arahku. Lucu sekali membayangkan banci bertampang brewok. Memakai tank top ketat, bukannya memperlihatkan lekuk tubuh tapi otot di lengan dan kaki beserta bulu kakinya. Bisakah ia memakai high heels? Hahaha
"Akhirnya aku bisa menyaksikan senyum cantikmu secara live."
Tawaku langsung surut. Berganti mendelik sok kesal padanya.
Dia cuek mengulum senyum dan menarikku masuk ke department store ke bagian pakaian pria. Tak seperti Changmin yang selalu berlama-lama dan kebingungan untuk memilih satu kaus saja, si brewok ini langsung mengambil pakaian yang menurutnya menarik tanpa meributkan warna atau model apa yang cocok dipakainya. Ia juga tak mencoba semua pakaian, hanya mengira-mengira ukurannya saja. Wajahku sempat merona menahan malu dan minta agar ia melepaskanku sejenak saat ia menghampiri bagian pakaian dalam pria.
Setelah uruaan pakaian selesai, dia kembali menyeretku ke toko sepatu. Dia membeli sepasang sandal dan sepatu kets. Sebenarnya aku agak heran melihat ia membeli sepatu lagi, seingatku dia sudah punya sepatu pantofel yang dipakainya saat para mafia mengejarnya. Tapi apa mungkin ia berencana jalan-jalan dengan sepatu kets barunya sebagai buronan? Ah, masa bodohlah. Diam-diam aku suka sepatu pilihannya; keren, tidak mencolok dan kelihatan nyaman dipakai.
Setelah itu kami berpindah ke lantai berikutnya, hypermarket. Kali ini ia membeli barang-barang kebutuhan pribadinya; cologne, sikat gigi, dan aftershave. Aku tak berkomentar saat ia memasukkan buah-buahan seperti apel dan jeruk ke dalam keranjang serta beberapa makanan kaleng. Tapi saat ia mengambil daging, berbagai macam sayuran, bumbu masak, dan bahan mentah lain yang tak kutahu namanya, aku melongo.
"Heh, apa kau akan memakan semuanya mentah-mentah?" semburku.
Dia tergelak. "Wook, kau tak pernah melihat lelaki memasak?" tanyanya. "Dapur apartemenmu cukup lengkap, kau mengizinkanku memakainya kan?"
Aku mengangguk cepat menutupi rasa maluku. Lelaki bisa memasak? Tentu saja itu mengejutkanku, karena aku sendiri tak bisa memasak. Sedangkan dapur apartemen itu tak pernah dipakai selain ketika teman-temanku yang memakainya ketika mereka menginap di sana.
Aku menyuruhnya bergegas dan mengajaknya ke restoran fast food karena aku sudah kelaparan. Tapi selain itu aku juga takut semakin lama wajahku semakin memerah kalau dia mengolokku karena tak bisa masak. Tanpa banyak bicara, dia mengikuti pesananku. Jadi kupesan dua paket ayam berukuran besar. Kasihan juga membayangkannya dua hari tak makan. Segarang apapun penjahat, aku yakin mereka pasti butuh makan.
"Heh, kalah kau mau kau boleh tambah lagi," tawarku saat ia menyedot habis minumannya. Seperti dugaanku, dia benar-benar penjahat yang kelaparan.
"Daripada kau memanggilku 'heh' terus, bagaimana kalau kuberitahu saja namaku. Aku penasaran, mengapa sampai saat ini kau tak menanyakan namaku?" Dia memandangku penuh percaya diri, membuatku tak berkutik selain menebar rona merah dan hangat di wajahku.
Aku menghindari tatapan mata gelapnya yang cenderung menguasaiku. Kucoba mengontrol emosi dan bernapas dengan tenang. "Hm, kurasa lebih baik aku tak tahu. Lagipula, memanggilmu 'heh' menyenangkan kok. Lebih keren." Tapi dalam hati aku berkata, Tidak! Aku tak perlu tahu namamu. Keadaan seperti ini saja sudab berbahaya bagiku, apalagi kalau aku tahu lebih jauh.
"Kau takut kan?"
"Tidak. Aku tak takut."
"Kau merasa terancam kalau tahu namaku kan?"
"Tidak!"
"Iya. Kau takut, Ryeowook!"
"Tidak.."
"Kau takut mereka akan mencarimu..."
"Tidak..."
"... lalu membunuhmu."
"Aku tidak..."
"Namaku Yesung."
"Aku tidak takut!"
"Yesung."
"Aku tak takut, Yesung."
"Akhirnya..." Dia terkekeh puas menatap mataku yang melotot marah dan kedua tanganku mencengkeram tepi meja kuat-kuat. Diambilnya minumanku dan disedotnya dengan tampang tak berdosa.
Aku memang merasa lebih aman jika tak tahu namanya, makanya aku tak pernah menanyakannya. Tapi penjahat ini cukup pintar untuk tahu isi kepalaku. Sekarang, satu beban bertambah di pundakku. Kini aku tahu nama buronan brewok ini. Namanya Yesung.
"Sekarang kau tak ingin tahu sekalian asal-usul dan keluargaku?" lanjutnya.
Aku beranjak. Kursiku berderit nyaring saat aku berdiri dan menenteng kantong belanjaan di Yesung sialan itu. Aku melangkah meninggalkannya dengan perasaan sebal. Tapi tak butuh waktu lama, langkah lebarnya sudah menjajariku dan kembali mencekal tangannya.
"Maafkan aku, Wook. Aku hanya kesal kau tak peduli pada namaku."
"Sekarang kau sudah puas kan, Yesung?" desisku.
"Tentu." Senyumnya melebar dan dia meremas lembut tanganku.
Heran deh, makhluk ini tahu tidak sih kalau aku lagi nyindir dan marah? Kok tampangnya malah tenang begini? Dasar, makhluk idiot!
Kami berdua akan berbelok ke arah eskalator saat berpapasan dengan tiga lelaki berpakaian modis. Tanpa sadar aku menghentikan langkahku. Aku mengenal lelaki yang berjalan di tengah meskipun ia memakai kacamata gelap. Orang mungkin melihat dia aneh dan justru norak karena di dalan mall ini tak ada lampu sesilau matahari yang bisa merusak matanya. Tapi aku tahu alasannya. Bukan karena dia sakit mata, tapi karena ia terlalu parno akan dikenali orang-orang atau diserbu para penggemar. Yesung menarik lenganku, tapi tatapannya menjadi bingung saat melihat tubuhku menegang. Lelaki itu melihatku.
"Chagi?" Changmin berjalan cepat menghampiriku, tak menggubris Yunho dan Yoochun yang tertinggal di belakangnya.
Ah, Changmin memang selalu terlihat fresh dan tampan. Rambutnya tersisir rapi membingkai wajahnya yang oval. Entah butuh waktu berapa lama dia mengusapkan gel untuk menata rambutnya serapi itu. Setelan kasual yang dia kenakan biasanya selalu bisa membuatku panas dingin penuh cinta padanya, tapi heran perasaan itu benar-benar lenyap sekarang. Sial sekali aku bertemu dengannya. Seharusnya aku ingat, kalau sedang tak ada jadwal manggung, dia sering ke distro milik Yoochun, teman bandnya, yang berada di mall ini. Tak perlu heran untuk apa. Mantan kekasihku itu memang suka sekali berbelanja, lebih gila belanja daripada aku. Alasannya ya untuk menjaga penampilan yang merupakan hadiah untuk penggemarnya. Kenapa aku dulu sangat mendukung prinsipnya? Pasti otakku sudah dicuci!
Kacamata norak itu dilepasnya. Dia berdiri tepat di hadapanku, bergantian menatapku dan Yesung dengan sepasang mata cokelat gelapnya yang menyipit marah.
"Siapa dia, chagi? Jangan bilang kau memutuskanku untuk pria tua mengerikan ini," dengusku.
Tak sulit mengenali api cemburu di mata cokelat Changmin. Dia beradu pandang dengan Yesung, mungkin menilai pria mirip ahjussi di depannya ini dengan segala pikiran dan prasangka konyolnya. Sebaliknya Yesung hanya cuek, memasang wajah bosan dan masa bodoh yang jelas menyulut kegeraman Changmin.
"Min, kita sudah sepakat kan? Kita putus karena kau selingkuh. Jangan melempar masalah padaku." Tangan Yesung masih menggandengku, jadi kutarik dia sebelum Changmin menggila.
Aku terlambat.
"Eh, jangan sentuh kekasihku!" Dengan kasar Changmin menarik lengan Yesung sehingga cekalan Yesung pada tanganku terlepas. Tubuh Yesung tersentak ke samping dan kantong belanjaannya jatuh. Beberapa orang mulai memandang ingin tahu. Yunho dan Yoochun bertatapan bingung bercampur takut.
"Changmin, cukup! Ini tempat umum, jangan cari masalah di sini. Aku ingin kita putus baik-baik. Jangan campuri urusanku lagi, oke?"
Dengan langkah cepat, Changmin sudah berada di depanku dan berusaha kembali menarikku, "Aku tak mau putus, Wookie. Kita harus bicara."
"Tidak mau!"
Changmin tak peduli, dia terus menyeretku.
"Changmin, lepaskan! Aku tak mau lagi berbicara denganmu." Aku tak malu saat orang-orang melihatku mulai berkaca-kaca. Ini bukan tangisan, aku hanya kesakitan karena lelaki brengsek ini tak mau melepas tanganku. Aku memaki dalam hati karena kejadian ini mirip adegan kacangan dalam drama. "Lepaskan, Changmin!"
"Kau tak dengar dia tak mau pergi denganmu?" Tangan Yesung menahan bahu Changmin, langkah kami berhenti. Tatapan garang Yesung membuat Changmin melepaskan cengkeramannya. Aku segara bersembunyi di belakang tubuh Yesung.
Changmin berbalik. Kedua tangannya mencengkeram dan menarik kerah kemeja Yesung. Tampak jelas ia menahan takut melihat aura garang Yesung. "Memangnya kau siapa, hah? Ryeowook milikku. Mengerti?"
Sebenarnya aku tak mau ada perkelahian, apalagi di mall seramai ini. Tapi kalau bisa melihat wajah Changmin babak belur, boleh juga. Aku milik Changmin? Gila! Jangan-jangan ia juga berencana meniduriku? Lalu memamerkan videonya kepada teman bahkan penggemarnya, agar semua mengelu-elukannya karena berhasil menaklukkan hati seorang Ryeowook. Dasar lelaki bajingan!
Tangan Yesung terangkat, gantian dia yang mencekal tangan Changmin, kini kerah bajunya terbebas. Sudut mulut Yesung tertarik ke atas, dia mendesis. "Lalu kau pikir kau siapa?" Dengan sekali dorong, Yesung sukses membuat Changmin terjerembab di lantai. Buru-buru Yunho dan Yoochun membantu Changmin berdiri dan menahannya agar tak balin menyerang Yesung.
Setelah memunguti tas belanjaan, Yesung menggandengku meninggalkan Changmin dan kerumunan orang. Ketika eskalator bergerak turun, masih kulihat wajah tampan Changmin menekuk marah tak karuan, pada Yesung dan padaku.
xXxXx
Kantong plastik putih berisi obat kuletakkan di samping belanjaan Yesung yang tergeletak di meja depan TV. Kami sama-sama membisu dan bersikap kikuk sepanjang perjalanan pulang. Bukan salah Yesung sih, aku justru senang dia telah membuat Changmin kalah telak menanggung malu seperti tadi. Hanya saja aku masih kesal berat pada Changmin. Yesung muncul sambil membawa segelas air putih untukku.
"Jadi, dia vokalis band yang digosipkan sebagai kekasihmu?"
Kutenggak habis air yang disodorkan Yesung. "Bukan gosip sih. Sampai minggu lalu dia masih kekasihku. Tapi beberapa hari ini sudah tidak lagi, dia selingkuh."
"Kau masih menyukainya, Wook?"
Kucoba beradu mata dengannya cukup lama, tapi sebelum kalah aku segera bangkit dari kursiku.
"Aku mau pulang. Jangan hubungi aku kalau tak ada keadaan darurat." Kuhindari pandanganku dari sepasang mata itu. Setelah bergeming cukup lama, kupaksakan mulutku membuka. "Maaf soal luka di kepalamu itu."
Yesung tersenyum sekilas sambil membuntuti langkahku. Aku berhenti di depan apartemen, membelakanginya. "Terima kasih, kau menyelamatkanku dari Changmin."
Dan aku melangkah pergi sebelum sempat mendengar kata-kata Yesung.
TBC
I'm back..
Yang nyuruh yesung cukuran, sori ya.. yesung lagi belum mood cukuran tuh wkwk
Buat changmin dan jessica biased, sori ya kalau aku menistakan mereka di sini (bow)
Makasih buat: .16 , dirakyu, FikaClouds, Cloudsomnia88, MidnightPandaDragon1728, Guest, meidi96, paprika pumpkin, UyunElfRyeowook, oneheartforsuju, Hanazawa Kay, Myryeongku, Heldamagnae, , Sweety Yeollie, Kim Anna, R'Rin4869, adeismaya
Sori kalau ada kesalahan nama..
Makasih juga buat yang ngefav dan follow ff ini.
sempetin baca ff ku yang lainnya ya.. (promosi)
See You..
