Suasana di sekitar tempat itu hening, hanya ada suara desau angin yang sesekali menyapa dan memainkan helaian rambut mereka yang kontras, merah dan raven. Dua sosok yang sedang berdiri berhadapan di bawah pohon ek besar itu saling bungkam. Sosok berambut merah yang beberapa saat lalu terisak sepertinya masih betah menyembunyikan wajahnya di bahu si raven yang sejak tadi melingkarkan kedua lengannya di sepanjang bahunya.
Setelah beberapa saat tidak ada lagi suara isakan dari sosok yang tengah didekapnya, si raven memutuskan untuk membuka suaranya, "Sudah baikan?"
Gadis itu mengangguk kecil.
Perlahan kedua lengan milik si raven diturunkan, meskipun sebenarnya ia sama sekali tidak merasa keberatan jika harus terus merengkuh pundak kecil itu. Mereka masih diam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Si gadis mengarahkan pandangan ke bawah sambil menyeka air mata yang mulai mengering di pipinya, tak menyadari bahwa sepasang iris obsidian itu terus menatap semua hal yang dilakukannya.
Gadis itu mendongak perlahan, berusaha menatap ke dalam matanya.
"Aku tidak tahu bahwa ternyata kau bisa bersikap baik."
Si raven mendengus "Tentu saja kau tidak tahu, selama ini aku hanyalah manusia dingin berwajah datar di matamu."
Si gadis tertawa kecil, "Siapa suruh kau terus memasang ekspresi seperti itu."
Lagi-lagi si raven mendengus.
"Ekspresimu yang sekarang lebih bagus dilihat, aku suka." Sambungnya.
"Aku tahu, aku memang tampan." Sahut si raven memuji dirinya sendiri.
Si gadis tersenyum geli sedangkan si raven tersenyum simpul.
"Terima kasih." Ucapan gadis di depannya membuat si raven menautkan alis.
"Untuk apa?" Tanya si raven.
"Karena sudah membuatku merasa lebih baik," jawab si gadis "dan maaf karena sudah menyebabkan kemejamu basah."
Si raven melirik ke bahu kirinya, bagian yang basah membentuk bulatan tak beraturan tepat di atas pundaknya.
"Berapa harganya? Ahh, pasti pakaian pangeran keluarga Uchiha sangat mahal." Si gadis bergumam berpura-pura sedih.
"Benar." Si raven menimpali "Kau tidak akan mampu menggantinya dengan merek yang sama."
"Lalu apa yang harus kulakukan?" Tanya si gadis.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan?" si raven membalikkan pertanyaan si gadis.
"Aku bisa menjadi temanmu kalau kau mau."
Jawaban si gadis membuat si raven terdiam. Keheningan tiba-tiba mengisi ruang diantara mereka. Angin yang bertiup kembali memainkan helai rambut si gadis.
"Bagaimana? Apakah kau mau menjadi temanku?" sebuah tangan terulur ke depan si raven.
"Kenapa aku harus mau?" si raven terlihat masih enggan menyambut uluran tangan tersebut.
"Karena kau akan menjadi orang pertama yang menjadi temanku."
"Kau berbicara seolah-olah kau tidak memiliki teman satupun."
"Aku memang tidak punya teman satupun. Tidak pernah."
Ada nada sedih yang terselip di kata-katanya. Si raven terlihat tidak percaya dengan tanggapan gadis didepannya. Dia merasa aneh dengan jawaban si gadis. Obsidian miliknya menatap dengan pandangan menyelidik, berusaha mencari setitik kebohongan yang mungkin saja ada di dalam iris sewarna ruby tersebut. Mana ada seseorang yang tidak pernah memiliki teman seumur hidupnya?
Baiklah, si raven akui ia memang merupakan anti-sosial, tapi setidaknya ia memiliki beberapa orang terdekat yang bisa ia percaya. Dia memiliki Uchiha Itachi, kakaknya satu-satunya yang selalu ada setiap kali dibutuhkan. Ada pula Utakata dan Sai, sahabatnya sejak kecil karena orang tua mereka adalah teman dekat. Mereka memang tidak sempurna dan cenderung aneh karena memiliki hobi yang tak wajar, tapi si raven tahu bahwa mereka bisa ia tempati untuk bergantung dan menyayanginya seperti saudara sendiri.
Sedangkan sosok di depannya saat ini mengatakan bahwa ia tidak memiliki satupun teman.
"Hei-hei, cepatlah. Tanganku mulai pegal." Si gadis menggoyang-goyangkan tangannya yang terulur.
"Aku tidak memintamu untuk terus mengulurkannya seperti itu."
Si gadis mendesah keras. "Astaga, ya sudah kalau begitu."
Tangan yang terulur tadi hampir saja diturunkan si pemilik ketika tangan pucat milik si raven dengan cepat menyambutnya.
"Aku juga tidak bilang kalau aku tidak mau." Si raven berujar lagi.
Si gadis memutar bola matanya bosan.
"Berarti sekarang kita teman?" Tanya si gadis
"Hn." jawab si raven
"Aku boleh menyapamu dan memanggilmu setiap kali kita bertemu?"
"Hn."
"Kau akan berhenti dan menoleh ketika kupanggil kan?"
"Hn." jawabnya lagi dengan gumaman yang sama.
"Dan kau akan tersenyum balik padaku?"
"Tidak." Kali ini jawabannya berbeda.
"Eehhh? Kenapa?" si gadis memekik.
"Aku tidak suka tersenyum."
"Tapi itu yang dilakukan orang-orang ketika bertemu dengan teman mereka."
"Itu tidak berlaku untukku."
"Kenapa tidak?"
"Karena aku adalah Uchiha," ada nada angkuh yang terselip dalam suaranya. "dan seorang Uchiha tidak akan tersenyum pada setiap orang dengan gampangnya."
"Tapi aku temanmu sejak hari ini."
"Lalu?"
"Sesama teman harus saling melempar senyum."
"Kenapa harus?" kini giliran si raven yang terus bertanya.
"Setidaknya itu menjadi tanda bahwa kau senang menjadi temanku."
Si raven tidak segera menjawab. Alisnya yang terukir sempurna terlihat saling bertaut karena berpikir.
"Kita lihat saja nanti."
Si raven menjawab sambil melangkahkan kakinya menjauhi si gadis.
"Kau mau kemana?"
"Pulang." Jawab si raven tanpa menoleh atau menghentikan langkah kakinya.
"Hei, Uchiha Sasuke!" panggilan yang datang dari belakangnya membuatnya berhenti dan menggerakkan sedikit kepalanya kesamping, tanda bahwa ia mendengarkan.
"Hati-hati di jalan…" ucap si gadis sambil melambaikan tangan dengan semangat disertai senyum lebar.
Apa yang si gadis ucapkan mau tidak mau membuat si raven mendengus geli, meskipun tindakan si gadis terlihat agak kekanakan, tapi si raven tetap membalas ucapan gadis tersebut.
"Hn." gumamnya dengan kaki yang kembali melangkah meninggalkan taman itu. Ada seulas senyum manis yang tercipta di kedua sudut bibirnya meskipun alasan munculnya senyum indah itu tidak melihatnya.
.
.
.
Goodbye, Tears ©
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Hai, semuaaaa! _ *teriak pake toa*
Senangnya bisa sapa kalian lagi di chap ini.
Maaf lagi karena updatenya molor terus, padahal niat awal Night itu rentang chap satu dengan chap berikutnya itu maksimal sepuluh hari, tapi ternyata tidak bisa direalisasikan, hiks.
Sekali lagi maaf yaaa, kalian mau kan maafin Night? Ntar Night kasih cipok deh! #gubrak
Oh iya, makasih juga buat kalian yang sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca dan mengikuti alur fict yang aneh ini. Semua review, follow, dan fave dari kalian sangat berarti buat Night. Maaf Night nggak bisa balas satu persatu review kalian, tapi sungguh! Review dari kalian Night baca semua koq…
Sekali lagi, TERIMA KASIH
Dan
Selamat Membaca!
With love, Nightingale
.
Sepasang iris ruby-nya menatap kertas karton berbentuk persegi panjang berwarna ungu lembut ditangannya. Sebuah undangan pesta ulang tahun dari keluarga Hyuuga. Sekali lagi ia membaca tulisan yang tertera di undangan tersebut.
Hyuuga Hinata, teman sekelasnya namun tidak pernah-lebih tepatnya belum pernah sampai hari ini-bicara dengannya. Dirinya bukanlah gadis yang pandai bergaul dan Hinata sendiri adalah sosok yang cukup pendiam dan sangat pemalu. Hal itu membuat mereka tidak bisa berkomunikasi selayaknya teman-teman kelasnya yang lain.
Gadis indigo itu menghampirinya ketika ia sedang merapikan buku-buku ke dalam tas ransel miliknya. Dengan kepala yang menunduk dan ucapan yang terbata-bata gadis itu menyapanya dan menyerahkan undangan dengan sampul yang bertuliskan namanya.
"A-aku akan sangat se-senang kalau Karin bersedia datang." Ucap Hinata setelah undangan itu berpindah ke tangan Karin.
Karin merasa agak aneh karena ia juga diundang padahal bukan Hinata yang berulang tahun, melainkan adiknya, Hyuuga Hanabi yang bersekolah di SMP Athena.
Ha-ah…
Tapi sebenarnya Karin merasa sangat senang telah diundang, itu berarti Hinata menganggapnya sebagai salah satu bagian dari kelas mereka. Setidaknya gadis itu masih sadar bahwa mereka sekelas meskipun ia tidak pernah mengajaknya bicara. Hanya saja Karin tidak berani jika ia harus datang sendiri ke pesta itu. Apalagi ini adalah pesta putri bungsu Keluarga Hyuuga, salah satu keluarga terpandang di Konoha selain Uchiha, sudah dapat dipastikan bahwa pesta itu pasti sangat meriah, dan seorang Karin tidak pernah merasa percaya diri berada di tengah-tengah pesta.
Hal itu pulalah yang membuatnya tetap hidup sampai sekarang, karena jika saja waktu itu dirinya ikut ke pesta itu bersama orang tua Karin dan orang tua Naruto, mungkin saja ia juga mati dalam kecelakaan itu. Karin juga masih ingat waktu itu Naruto tidak pergi karena Karin menolak untuk ikut, sehingga Naruto lebih memilih untuk tinggal di rumah menemani Karin bermain rumah-rumahan dan boneka di kamar Naruto sampai mereka berdua jatuh tertidur dikelilingi mainan-mainan mereka. Dan ketika Karin terjaga, semua mimpi buruknya dimulai.
Itu adalah alasan pertama.
Alasan kedua adalah Karin tidak suka pesta. Pesta berarti pakaian formal, pakaian formal berarti gaun, gaun berarti make-up dan sepatu high-heels. Dan dari semua itu hal yang paling Karin benci adalah tiga hal terakhir. Gaun, make-up, dan high-heels. Karin tidak memiliki sehelaipun baju pesta ataupun rok di lemari pakaiannya, kecuali rok seragam sekolah tentu saja. Ia lebih suka memakai celana berbahan jeans atau katun. Alas kakinya pun sama, rak sepatunya hanya diisi oleh sepatu kets, tidak ada high-heels atau sepatu balet.
Kadang Karin berandai-andai setiap orang boleh memakai pakaian biasa datang ke pesta. Tidak harus memakai gaun yang terlihat rumit atau rias wajah yang tebal. Cukup dengan celana jeans dan kemeja saja. Namun hal itu tidak mungkin terjadi kecuali Karin sendirilah yang menjadi orang pertama yang mengadakan pesta seperti itu.
Satu-satunya hal pada dirinya yang mencerminkan sifat feminin hanyalah rambut merahnya yang panjang, itupun karena Naruto pernah mengancamnya akan membakar seluruh sepatu kets kesayangannya jika sampai Karin memotong rambutnya.
"Aku sangat menyukai rambutmu, mengingatkanku pada ibu. Kalian berdua sama-sama memiliki rambut yang indah."
Ucap Naruto ketika Karin bertanya mengenai alasan kenapa Naruto melarangnya memotong rambut waktu itu. Dan sejak saat itu Karin berjanji dalam hati tidak akan pernah memotong pendek rambutnya.
Itu memang benar, karena seluruh anggota keluarga Uzumaki memiliki ciri khas rambut berwarna merah menyala, begitupun dengan bibi Kushina. Bibi Kushina adalah kakak dari ibu Karin sendiri, sehingga dia dan Naruto adalah sepupu.
KLEK.
Suara pintu yang dibuka mengalihkan tatapannya. Sosok yang sejak tadi ditunggunya sudah datang. Ia segera berdiri dari kursi yang tadi didudukinya, meninggalkan dapur dan menuju ruang tengah.
"Kakak sudah pulang?" tanyanya berusaha memulai percakapan.
"Ya." Sudah ia duga, Naruto pasti masih mendiamkannya sampai sekarang.
Ha-ah…
Sosok itu berjalan melewatinya begitu saja, seolah eksistensinya disana tidak berarti apa-apa. Ia terus berjalan menuju tangga yang menghubungkan lantai satu dengan kamar mereka berdua yang berseberangan.
"Kakak."
Langkah kaki Naruto berhenti di anak tangga ke lima, ia menoleh namun tidak menatap ke wajah Karin. Mencari suatu hal lain yang agak menarik untuk di tatap asal bukan wajah pemilik sepasamg iris ruby yang baru saja memanggilnya.
"Teman kelasku mengadakan pesta ulang tahun besok malam, dan aku diundang, jadi—"
"Kau boleh pergi." Naruto kembali menaiki anak tangga yang tersisa setelah memberikan izin pada Karin.
"Bukan begitu, Kak…"
Satu anak tangga lagi yang tersisa dan kaki Naruto akan menjejak lantai.
"Diundangan tertulis bahwa para tamu diperbolehkan membawa pasangan," Karin berkata cepat sebelum Naruto melangkah kembali. "Aku tidak punya teman yang bisa kuajak tapi aku juga tidak mau datang sendirian, jadi aku mau kakak datang ke pesta itu bersamaku."
"Kakak tidak bisa, hari itu kakak sudah ada janji dengan seseorang."
Naruto melangkah memasuki kamarnya dan menutup pintu dengan suara bedebum pelan, meninggalkan Karin berdiri termangu menatap anak tangga tempat Naruto tadi berdiri.
Naruto menolak permintaannya, hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Selama ini Naruto selalu mengabulkan apapun keinginan Karin, meski hal itu kadang membuat Naruto berada dalam kesulitan. Namun sekarang hal itu sepertinya tidak berlaku lagi.
Karin yakin, jika Naruto terus bersikap dingin seperti itu padanya, ia pasti tidak akan bisa untuk tersenyum lagi.
Ode to a Nightingale
Pintu itu tertutup dengan suara dan dikunci dari dalam.
Ha-ah…
Bagian belakang tubuhnya ia sandarkan ke pintu yang tadi ditutupnya. Perlahan-lahan lututnya tertekuk dan tubuh jangkungnya merosot hingga terduduk di lantai yang dingin. Iris safirnya yang biasanya memantulkan cahaya langit kini terlihat diselimuti awan kelabu yang suram. Bibir tipisnya terkatup rapat dengan rahang wajah yang mengeras. Berusaha menahan berbagai macam letupan emosi yang hampir saja keluar.
Ia harus segera menghapus berbagai macam emosi tersebut agar semuanya bisa kembali seperti sedia kala.
Tapi, mampukah ia?
Setiap kali matanya bertemu pandang dengan iris ruby milik Karin, perasaan aneh itu selalu saja muncul dan menimbulkan keinginan dalam hatinya untuk melakukan berbagai macam hal yang tak pernah ia lakukan pada siapapun. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, dan menghabiskan waktu berusaha memahami gejolak itu membuatnya hampir gila.
Tidak boleh. Itu tidak boleh dilakukannya.
Dia tidak boleh melupakan status yang mengikat mereka sejak mereka lahir. Ia sudah berjanji di depan kubur kedua orang tuanya dan orang tua gadis itu bahwa ia akan selalu melindungi gadis itu apapun yang terjadi. Menjadikan kebahagiaan gadis itu sebagai prioritas utama dan alasannya berada disini sampai sekarang. Takdir telah menggariskan bahwa sosok itu adalah satu-satunya manusia yang harus dijaganya, sekaligus satu-satunya hal yang tidak boleh dimilikinya
.
Suasana ruangan yang tadinya gaduh berubah tenang ketika seseorang—seorang perempuan berpakaian seragam khusus tenaga pengajar— memasuki kelas itu. Beberapa siswa yang tadinya sibuk berlalu lalang sambil membawa buku dan pena segera kembali ke tempat duduknya masing-masing.
"Selamat pagi anak-anak." Sosok itu menyapa sambil berjalan ke tengah ke ruangan.
"Selamat pagi, Bu." Seluruh siswa SMP itu menjawab dengan kompak.
"Seperti janji saya minggu lalu, karangan tentang tujuan hidup kalian harus dikumpul hari ini dan dibacakan di depan kelas."
Suara bisik-bisik di antara para siswa segera terdengar.
Salah satu siswa laki-laki yang duduk di barisan depan paling ujung sebelah kanan segera berdiri dan mengambil tugas seluruh teman-temannya untuk dikumpul di meja guru mereka.
Satu persatu siswa berdiri di depan kelas dan membacakan karangan mereka. Tak sedikit yang menjadi bahan tertawaan teman-temannya karena karangan yang dibacakan kadang terlalu mengada-ngada atau sangat sederhana.
"Namikaze Naruto."
Nama yang disebut oleh guru mereka untuk membacakan karangannya segera membuat seluruh siswa di ruangan itu terdiam. Beberapa siswa perempuan terlihat bersemangat untuk mendengarkan karangan siswa itu.
Namikaze Naruto, siswa kelas VII.1. Ketua kelas sekaligus presiden sekolah dan kapten klub basket di sekolahnya. Siswa pertama yang bisa menjadi presiden sekolah meski masih kelas satu. Ia juga juara pertama lomba karate tingkat antar kota dan juara satu lomba olimpiade matematika se-Konoha.
Dia adalah siswa yang sangat terkenal hingga sekolah lain. Dan di sekolahnya sendiri Naruto adalah seorang idola yang sangat dipuja oleh siswa perempuan dan dikagumi oleh teman-teman laki-lakinya.
"Silahkan baca karanganmu, Namikaze." Guru tersebut memberi izin.
Naruto mengangguk sebagai jawaban kepada guru tersebut. Pandangannya kemudian beralih ke seluruh teman-temannya yang menatap Naruto dengan antusias tinggi untuk mendengar karangannya.
"Setiap hal yang terjadi di dunia ini terjadi karena sebuah alasan." Naruto memulai membaca. "Pelangi yang muncul setelah hujan, biji yang tumbuh menjadi tunas, ulat yang berubah menjadi kupu-kupu, atau dedaunan yang jatuh ketika musin gugur." Suaranya stabil dan tenang.
Bagaikan sebuah sihir, atmosfir ruangan itu terasa begitu magis disaat yang hanya terdengar hanyalah suara bariton Naruto.
"Lalu apa tujuan kita lahir di dunia ini?" Naruto bertanya pada seluruh penghuni ruangan itu. "Hal itu tentu saja tergantung pada diri kita sendiri. Akan jadi apa kita nantinya ditentukan oleh langkah yang akan kita tapaki saat ini."
Naruto berhenti sejenak. Kedua tangannya yang memegang kertas di depannya diturunkan, menggantung pasrah di kedua sisi tubuhnya dengan salah satu tangan yang memegang kertas itu.
"Beberapa waktu yang lalu aku sudah menemukan tujuan itu. Alasan yang membawaku menyusuri sebuah jalan hingga sekarang dan berdiri disini."
Naruto kembali berhenti sejenak.
"Alasan itu adalah seseorang. Seseorang yang sangat penting dan sangat istimewa. Ia begitu rapuh dan ringkih, sehingga harus ada seseorang yang akan selalu bersamanya, menjaga dan memastikan bahwa ia baik-baik saja melewati hari dengan tetap tersenyum dan bahagia."
Membayangkan wajah tersenyum sosok itu membuat sudut-sudut bibir Naruto terangkat.
"Tapi bukan alasan tadi yang membuatku ingin menjadi pelindung sosok itu. Alasanku adalah karena melihatnya bahagia adalah kebahagiaanku juga. Dan mengetahui bahwa ia bisa tersenyum karena apa yang kulakukan membuat semua hal itu setimpal."
"Mungkin ini terdengar terlalu melankolis, tapi sungguh. Terus berada disisinya sampai nanti merupakan cita-cita dan tujuan hidupku sekarang, hingga selamanya. Selesai."
Suara tepuk tangan seketika memenuhi ruangan kelas tersebut. Bahkan ada beberapa siswa perempuan mengelap sudut mata mereka yang basah, membuat Naruto heran sendiri. Menurutnya karangan yang dibuatnya biasa-biasa saja, bahkan sebenarnya terlalu singkat.
"Gadis itu sangat beruntung karena memiliki pelindung sepertimu, Namikaze Naruto."
Sang guru memberikan komentar ketika Naruto meletakkan kertas yang tadi dibacanya di meja perempuan itu.
Untuk sejenak Naruto tersenyum lebar mendengar pujian gurunya, namun mendadak ekspresinya berubah karena menyadari sesuatu.
"Dari mana ibu tahu jika orang yang saya maksud itu perempuan?" Tanya Naruto dengan mimik wajah terkejut sekaligus penasaran.
Perempuan itu tersenyum simpul.
"Ibu adalah seorang perempuan Naruto, tentu saja ibu bisa melihatnya dari matamu." Jawabnya.
Alis Naruto masih tertekuk, menandakan ia masih belum paham betul maksud ucapan gurunya.
"Satu-satunya hal yang bisa membuat seorang laki-laki di dunia ini bersedia menyerahkan seluruh hidupnya hanyalah perempuan." Lanjutnya. "Karena ketika laki-laki menemukan gadis yang pantas, mereka akan menjadikan gadis itu alasan dan tujuannya menjalani hidup. Mungkin sekarang kau masih bingung dengan penjelasan ibu, tapi nanti setelah kau dewasa kau pasti mengerti. Ibu harap kau tetap memegang janjimu sampai kapanpun, Naruto."
Dengan semangat Naruto mengangguk. "Tentu saja, Bu!"
.
Naruto masih ingat dengan jelas hari itu, bahkan kertas karangan yang dibacanya waktu itu tetap tersimpan rapi diantara buku-buku tua yang ada di atas meja belajarnya. Sampai sekarang pun ia masih menjaga apa yang diucapkannya di hadapan teman-teman dan guru SMP-nya waktu itu.
Setiap detik waktunya, setiap detak jantungnya, dan setiap tarikan nafasnya selalu tersemat janji untuk terus menjaga dan memastikan kebahagiaan gadis kecilnya. Tapi sejak beberapa hari terakhir sepasang iris ruby itu seolah kehilangan cahayanya.
Apa yang membuat gadis kecilnya itu sedih?
Apakah telah terjadi sesuatu di sekolahnya?
Atau mendung yang menaungi matanya itu karena sikapnya yang menjauh?
Naruto semakin serba salah dengan apa yang sebenarnya ia lakukan sekarang.
Ia mulai meragukan alasan sebenarnya mengapa ia manjauhi Karin.
Benarkah semua ini demi kebaikan gadis itu? Atau sebenarnya dia berusaha untuk menghindari kenyataan?
Bahwa perasaannya pada gadis kecilnya bukan lagi rasa sayang, melainkan sudah berubah menjadi sebuah emosi yang lebih rumit?
Naruto meremas helai rambutnya frustasi.
Kepalanya pusing, ia butuh segelas air putih yang bisa menjernihkan pikirannya.
Naruto bangkit dari posisi duduknya—sejak tadi ia duduk bersandar pada pintu dengan posisi memeluk kedua lutut—dan kembali membuka pintu yang tadi ditutupnya.
Namun hal yang dilihatnya ketika pintu itu terbuka membuat sepasang iris matanya melebar.
Karin, gadis kecilnya, berdiri di depan pintu kamarnya dengan kepala tertunduk dan sepasang tangan yang meremas ujung bajunya. Sepertinya gadis itu belum menyadari bahwa pintu di depannya telah dibuka dari dalam.
"Apa yang kau lakukan di depan kamarku?"
Suara itu kontan membuat gadis itu segera mendongakkan kepalanya. Iris ruby-nya bertemu pandang dengan safir milik Naruto.
Karin membuka belah bibirnya namun tidak ada satupun kata yang keluar.
"Kalau tidak ada yang ingin kau katakan aku pergi."
Naruto melangkahkan kakinya menuju tangga namun sebuah tarikan di bagian belakang pakaiannya membuatnya berhenti.
"Jangan berbalik!" Karin berucap setengah memekik ketika melihat Naruto berniat memutar tubuh menghadapnya.
"Ada yang ingin kukatakan tapi biarkan saja posisinya seperti ini." Katanya lagi.
Naruto bisa mendengar helaan nafas Karin.
Tekanan di belakangnya masih ada menandakan bahwa Karin tidak melepaskan genggamannya di baju Naruto.
"Aku tidak mengerti." Karin memulai. "Aku tidak tahu apa yang salah atau apa yang telah kulakukan sehingga Kakak…" kata-katanya terputus, berusaha menemukan kalimat yang tepat. "Se-sehingga Kakak menjauhiku." Suaranya terdengar goyah di telinga Naruto.
Naruto diam, tidak tahu harus menjawab apa sementara genggaman di bagian belakang bajunya terasa bergetar.
"A-Ada apa Kak?"
…
"A-Apakah aku sudah melakukan kesalahan sehingga Kakak tidak mau menatapku?"
…
"A-Aku minta maaf jika aku sudah menyakiti Kakak. A-aku sangat minta maaf." Karin menggigit bibir bawahnya, suatu hal yang refleks ia lakukan ketika mulai merasa kehilangan kontrol akan emosinya sendiri. "Kakak boleh memarahiku, berteriak di depanku, bahkan memukulku kalau Kakak mau," pandangan matanya mulai mengabur, genangan cairan bening mulai berkumpul di pelupuk matanya.
"Tapi aku mohon, hiks," isakan yang sejak tadi ditahannya akhirnya keluar, dan cairan bening itu jatuh kepipinya dengan cepat, membentuk anak sungai kecil disepanjang wajahnya. "A-aku mohon Kakak jangan mengacuhkanku seperti ini. A-aku tidak sanggup kalau kakak terus bersikap seolah-olah aku tidak ada. Dadaku terasa sesak dan sakit disaat bersamaan."
Mendengar gadis di belakangnya mengutarakan isi hatinya yang diselingi dengan suara isak tangis membuat hatinya berdesir pilu. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Berusaha setengah mati untuk tidak berbalik karena Karin melarangnya.
"A-Aku minta maaf. Hiks… sungguh, aku minta maaf Kak Naru… Maafkan aku, ma—…"
Ucapan Karin tidak bisa diselesaikan karena sesuatu yang lembut dan basah menyentuh permukaan bibirnya.
Naruto membungkam bibir Karin dengan bibirnya sendiri, ia membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan wajah Karin dan kedua tangannya masing-masing memegang sisi wajahnya. Iris ruby-nya membulat dan air matanya berhenti mengalir seketika. Tubuhnya menegang. Untuk sesaat ia lupa bagaimana caranya bernafas karena otaknya mengalami disfungsi secara tiba-tiba.
Ini kedua kalinya bibir tipis itu menyentuh bibirnya.
Naruto hanya menempelkan bibirnya. Namun sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik disekujur tubuhnya. Ia bahkan tetap berdiri kaku seperti patung meski Naruto sudah menarik kepalanya dan tangannya hingga sentuhan itu terputus.
Naruto tidak mengatakan apapun. Ia hanya menatap Karin sejenak kemudian beranjak dari sana, menuruni tangga dan menghampiri pintu dengan langkah-langkah lebar. Meninggalkan Karin yang masih tetap bertahan pada posisinya.
Ode to a Nightingale
"Kau melamun lagi."
Suara itu membuatnya berjengit kaget dan refleks menoleh ke arah suara dengan cepat. Seseorang berdiri tak juah dari tempatnya, kedua tangan yang tenggelam dalam saku celana dan menatap dengan pandangan datar seperti biasa. Harus Karin akui, meskipun sosok itu lebih sering memasang wajah datar dan memandang tajam pada setiap orang, tapi entah kenapa hal itu tidak sedikitpun mengurangi keindahan yang ada padanya.
"Senang bertemu denganmu juga." Jawab Karin sarkastis sambil tersenyum masam.
"Hn."
Sasuke melangkah mendekat kearah Karin dan duduk di sebelah gadis itu.
"Apakah kau akan pergi?"
Suara Sasuke terdengar setelah beberapa saat tidak ada yang dikatakan oleh gadis disebelahnya.
"Kemana?"
"Ke pesta ulang tahun keluarga Hyuuga." Jawab Sasuke.
"Kau juga diundang rupanya." Karin bergumam pada dirinya sendiri. Tangannya mencabuti rumput yang tumbuh di sekitar kakinya.
"Seluruh staf, pengajar, dan siswa di sekolah ini diundang." Sasuke menanggapi gumaman Karin.
"Apa?" Tanya Karin tidak percaya. Perhatiannya seratus persen tertuju pada Sasuke sekarang.
Ia tidak menyangka bahwa mereka akan mengadakan pesta sebesar itu.
Pesta besar yang pasti akan sangat meriah. Pikir Karin.
Memikirkan berada di tengah-tengah keramaian seperti itu dengan mengenakan gaun membuat perut Karin terasa melilit.
"Ugh. Aku rasa aku tidak usah pergi saja." Gumamnya lagi.
Toh, pestanya tidak akan dibatalkan jika Karin tidak memenuhi undangan itu. Hinata juga pasti tidak akan menyadari ketidakhadirannya diantara ratusan-atau bahkan ribuan mungkin?-tamu yang datang.
Kali ini Sasuke tidak menanggapinya. Ia terlihat tidak setuju jika gadis itu tidak akan datang. Ia sebenarnya juga memiliki pemikiran yang sama, hanya saja Kakaknya memaksa Sasuke untuk menemaninya datang, dan ia tidak pernah bisa menolak permintaan sang kakak.
"Bagaimana kalau—"
"Ahh!" Karin tiba-tiba berdiri membuat Sasuke tidak bisa menyelesaikan ucapannya. "
"Kelasku sudah masuk!" pekik gadis itu. "Aku harus segera kembali ke kelas. Sampai jumpa, Sasuke!"
Sasuke menatap kepergian gadis itu dengan perasaan sedikit kesal. Padahal tadi ia berniat mengajak Karin untuk pergi ke pesta itu bersamanya, namun belum sempat niatnya tersampaikan gadis itu sudah pergi.
Menyebalkan. Dan seorang Uchiha Sasuke benci dihiraukan. Tapi hanya sebatas itu, karena pada dasarnya ia tidak marah pada Karin. Ia cuma kesal saja.
Dengan satu tarikan cepat Sasuke segera bangkit dan beranjak dari taman itu. Tujuannya kesana hanya untuk bisa berbicara dengan Karin, dank arena gadis itu sudah tidak disini maka Sasuke merasa tidak ada alasan lain baginya untuk tetap disana.
Mereka berdua sama sekali tidak menyadari bahwa ada beberapa pasang mata terus mengawasi mereka sejak tadi.
.
Karin berjalan menyusuri koridor menuju gerbang sekolahnya sendirian. Matanya mengamati tiap kelas yang sebagian sudah kosong. Hari ini tidak ada satupun guru yang masuk untuk mengajar, alasannya adalah karena sedang dilakukan perombakan besar-besaran.
Pihak sekolah mengumumkan bahwa sistem belajar-mengajar di Athena Private School akan di rubah. Jika sebelumnya guru yang datang ke tiap kelas untuk mengajar, maka nanti siswa yang akan mendatangi ruangan guru mata pelajaran mereka.
Setiap guru mendapat satu ruangan untuk mereka tempati mengajar setiap harinya. Jadi mereka hanya perlu menunggu para siswa yang memiliki jadwal di mata pelajarannya masuk dan kwemudian memberikan materi. Hal ini bertujuan untuk mempermudah guru dalam proses pemberian materi karena di setiap ruangan akan disediakan semua hal yang mungkin diperlukan ketika mengajar untuk semua jenjang kelas. Selain itu juga bertujuan untuk mengurangi kesenjangan sosial yang terjadi antara kelas satu, dua, dan tiga. Selama ini jarang ada siswa yang berteman dengan yang berbeda angkatan dengan mereka.
Hal ini terjadi karena seluruh siswa kelas satu di kumpulkan dalam satu gedung, begitupun dengan kelas dua dan tiga yang memiliki gedung masing-masing. Sehingga siswa kelas satu tidak berteman dengan senior karena mereka tidak pernah menginjakkan kaki mereka disana, hal serupa terjadi dengan siswa kelas dua dan tiga. Alasan mereka sederhana, karena mereka tidak punya urusan gedung kelas lain.
Hal itulah yang akan dirubah. Seluruh siswa disetiap angkatan akan pernah menginjak seluruh gedung sekolah dengan sistem belajar seperti itu. Setiap lantai akan diisi dengan guru mata pelajaran yang sama, entah yang mengajar di kelas satu, dua, atau tiga. Dengan begitu diharapkan siswa bisa berteman meskipun mereka berbeda angkatan dikarenakan mereka sering bertemu.
Banyak siswa yang menyetujui perubahan sistem tersebut, meskipun yang bersikap apatis juga tidak sedikit. Namun Karin sama sekali tidak merasa keberatan akan hal itu. Toh, belajar dimanapun tidak akan ada bedanya bagi Karin.
Hanya saja ada satu hal yang Karin tidak mengerti. Perubahan sistem ini merupakan permintaan dari pemilik sekolah, Uchiha Fugaku. Entah kenapa Karin merasa hal ini ada hubungannya dengan Sasuke yang beberapa waktu lalu meminta untuk dipandu mengelilingi sekolah. Apakah mungkin sebenarnya ini ide Sasuke? Sepertinya Karin perlu memastikan hal itu sendiri, ia akan bertanya nanti.
Hari ini Karin memutuskan untuk pulang naik bus saja ketika melihat langit belum berubah warna. Sekolah sudah bubar sejak tadi, hanya saja ia masih tinggal di kelas untuk membaca buku. Ketika ia memutuskan untuk berhenti hari ternyata sudah sore.
Tinggal beberapa langkah lagi maka Karin akan melewati gerbang sekolahnya, namun segera terhenti karena empat orang perempuan yang-mungkin kelas dua atau tiga-juga memakai seragam APS tiba-tiba berdiri di depan Karin, berusaha menghalagi jalan gadis itu.
"Permisi, aku mau lewat." Pinta Karin sopan.
"Apakah kau Uzumaki Karin?" gadis yang berdiri tepat dihadapan Karin bertanya.
"Iya, benar." Jawab Karin sekenanya.
"Ada hal yang ingin kami katakan padamu." Gadis yang beridiri di sebelah yang menanyakan nama Karin juga ikut bicara.
"Jauhi Sasuke." Gadis yang pertama bicara melanjutkan ucapan temannya.
"Apa?" Karin merasa ia sepertinya salah dengar.
"Aku bilang kami ingin kau menjauhi Uchiha Sasuke." Kali ini suara gadis itu naik satu oktaf.
Karin mengerutkan alis bingung, sama sekali tidak memiliki gagasan tentang maksud mereka.
"Atas dasar apa kalian melarangku dekat dengan Sasuke?"
"Tentu saja! Sasuke adalah pangeran sekolah kita, dan tidak boleh ada yang berusaha mendekatinya, apalagi anak kelas satu sepertimu."
Gadis itu memandang Karin dari kepala hingga ujung sepatu seperti ingin menguliti Karin hidup-hidup.
"Aku tidak mau." Jawab Karin tegas. Berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski sebenarnya dalam hati ia mulai gelisah.
"Wow, kau punya nyali juga ya?" tanyanya dengan nada main-main.
"Dia perlu diberi pelajaran." Yang lain menanggapi.
Dengan gerakan kepala gadis yang sejak tadi bicara memberi isyarat kepada ketiga temannya untuk bertindak. Dua diantara mereka menghampiri Karin kemudian memegang kedua lengannya, menahan Karin agar tidak bisa melarikan diri. Mereka menyeret Karin ke area parkir khusus mobil kemudian mengurungnya disudut tembok.
"Apa mau kalian? Minggir!"
Karin membentak, ia berusaha menyelinap diantara orang-orang itu, tapi dua tangan dengan cepat mendorong bahunya sehingga punggungnya kembali membentur tembok dibelakangya. Karin meringis kecil merasakan nyeri yang menjalari bagian belakang tubuhnya karena didorong terlalu keras.
"Kau mungkin tidak tahu masalah ini karena kau siswa baru, tapi peraturan di sekolah ini adalah Uchiha Sasuke adalah milik seluruh siswa perempuan kelas tiga, jadi sebagai junior tidak boleh ada yang dekat dengannya!"
"Siapa yang membuat peraturan konyol seperti itu? Nenek kalian?"
Karin menahan diri untuktidak memutar bola mata. Yang benar saja? Sejak kapan si wajah datar itu menjadi property milik siswi kelas tiga?
What the fuck?!
"Heh, berani sekali kau menghina nenek kami!" mata mereka berkilat marah.
"Tahan dia!" perempuan yang sepertinya adalah ketua mereka kembali memberikan perintah. Sementara temannya memegangi tangan Karin, ketua kelompok itu membuka sleting tas yang dipakainya dan mengambil sesuatu-entah-apa di dalam.
Mata Karin melebar melihat benda yang di pegang gadis itu, terlihat berkilau ketika cahaya matahari yang mulai memerah menyentuh permukaannya.
Benda itu adalah gunting, sebuah gunting yang terlihat sangat tajam. Keringat dingin mengalir di pelipis kirinya. Ia merasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi padanya.
"Aku suka dengan rambut merahmu, dan itu membuatku iri." Sebelah tangan si ketua yang tidak memegang gunting terulur dan menyentuh helaian surai merah Karin yang tergerai pasrah.
Karin tidak menggubris ucapan gadis itu, dalam hati ia mulai semakin takut. Ia melirik ke sekitar area parkir berusaha menemukan seseorang-barangkali tukang sapu atau pak satpam-yang mungkin saja lewat dan bisa menolongnya.
Tapi nihil.
Tidak ada siapaun disana selain dirinya dan sekumpulan gadis gila itu. Karin semakin ketakutan, apalagi gadis yang memegang gunting itu sedang menyeringai kejam sambil menatap gunting dan rambut Karin bergantian.
"Ada apa? Kau takut?" Tanya gadis itu dengan nada ringan, seolah sedang menanyakan keadaan cuaca. "Tenang saja, aku tidak akan memotong semuanya, aku hanya akan mengambil sedikit saja." Ia memberi penekanan pada kata 'sedikit' yang diucapkannya.
Gadis itu memegang rambut Karin dengan tangan kiri sedang tangan kanannya memegang gunting. Karin refleks menutup matanya, tak kuasa melihat bagaimana rambutnya yang selama ini dipanjangkan harus digunting oleh mereka. Sejak tadi ia ingin berteriak meminta tolong, tapi entah kenapa ia seolah kehilangan kekuatan untuk berteriak. Seperti ada gumpalan besar yang menyumbat tenggorokannya.
Seseorang, tolong aku! Dia memohon dalam hati.
Rambutnya sudah berada diantara celah gunting itu, dan hanya tinggal mempertemukan kedua ujungnya maka rambut Karin akan terpotong sempurna. Gadis itu sudah akan melakukannya, hingga—
"Hei."
—suara seseorang terdengar, dan menginterupsi apa yang baru saja akan ia lakukan.
Keempat gadis itu segera berbalik, dua diantaranya segera melepas pegangannya pada lengan Karin. Si ketua juga melepaskan tangannya dari rambut Karin, sedangkan tangannya yang lain ia taruh di belakangnya, berusaha menyembunyikan gunting tadi dari pandangan orang itu.
Karin yang merasakan tangannya sudah tidak tahan lagi membuka matanya sedikit demi sedikit. Heran juga karena sejak tadi tidak kunjung merasakan rambutnya dipotong.
Perlahan kelopak matanya terbuka, menampilkan iris semerah ruby yang menatap takut-takut. Setelah mengerjapkan mata beberapa kali, barulah ia bisa melihat dengan jelas.
Dibalik kaca mata yang dipakainya, iris ruby-nya melebar melihat seseorang yang sedang berdiri tak jauh darinya. Ekspresi orang itu terlihat datar, tidak menyiratkan emosi apapun. Bibirnya meloloskan sebuah nama dengan suara bergetar.
"K-Kak Naru..." lirihnya.
Naruto melangkahkan kaki mendekat, berdiri tepat dihadapan gadis yang tadi hampir saja melakukan sesuatu ke Karin. Gadis itu baru saja hendak pergi dari sana, namun salah tangan Naruto segera mencengkeram lengan kanannya dengan erat. Terlalu erat sebenarnya karena dari ekspresi gadis itu ia terlihat kesakitan. Sementara ketiga rekannya segera melarikan diri dari sana.
Naruto menunduk agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah gadis itu. Dengan iris safir yang menatap tepat ke dalam bola matanya, Naruto bertanya,
"Apa yang baru saja ingin kau lakukan padanya?"
"Ti-tidak ada." Gadis itu menjawab dengan suara terbata.
"Benarkah? Lalu ini—" tangan kiri Naruto meraih gunting yang disembunyikan di belakangnya kemudian merebutnya paksa. "—apa?"
"I-itu…" dia kehabisan kata-kata, kini giliran gadis itu yang sekarang berkeringat dingin.
"Kau ingin memotong rambutnya?" Tanya Naruto lagi. Dia menggerakkan benda itu seolah ada sesuatu yang sedang diguntingnya.
Matanya tiba-tiba menyorot tajam dan rahangnya mengeras. "Berani sekali kau menakuti gadisku," ucapannya terdengar seperti desisan. "Kau beruntung karena aku mendapatimu sebelum kau sempat melakukan sesuatu padanya. Karena jika kau menyakitinya sedikit saja, akan kupastikan wajah cantikmu ini hilang hingga kau tidak akan lagi memiliki keberanian walau hanya untuk menatap wajahmu di cermin."
Gadis itu hanya diam dengan bibir bergetar serta mata yang mulai berkaca-kaca saking ketakutannya.
"Aku peringatkan, jangan pernah berani untuk menganggunya lagi jika kau dan teman-temanmu masih ingin pergi ke sekolah sambil memamerkan kecantikan kalian. Karena aku dengan senang hati akan menghancurkannya jika sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya. Apa kau mengerti?"
Gadis itu mengangguk berkali-kali dengan cepat. Tidak bisa mengeluarkan suara untuk bicara.
"Bagus, sekarang menyingkirlah dari hadapanku dan jangan pernah coba-coba untuk muncul lagi."
Begitu pegangan Naruto pada lengannya terlepas, gadis itu segera berlari dengan cepat meninggalkan area parkir dan tidak pernah menoleh kebelakang sedikitpun.
Naruto menyisir rambut pirangnya dengan jemari tangan, kemudian menghembuskan nafas pelan.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Naruto ketika Karin masih berdiri di tempatnya tanpa mengatakan atau melakukan apapun.
"Karin?" Naruto memanggilnya dengan suara pelan. Kedua tangannya memegang bahu gadis itu. rasa cemas mulai menghinggapi hatinya.
"Apa kau baik-ba—"
"Ya." Jawab Karin cepat. "Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku." Ucapnya dengan tersenyum lebar.
Naruto tertegun menatap wajah gadis itu. Bibirnya tersenyum sangat lebar, namun matanya menunjukkan sebaliknya. Naruto menghela nafas lagi, kali ini dengan suara keras. Lengannya meraih tubuh Karin dan mendekapnya.
"Kalau kau ingin menangis, menangis saja. Jangan menahannya."
Tubuh yang berada di dalam dekapannya perlahan-lahan bergetar, dan sedetik kemudian gadis itu menangis dengan suara keras. Tangannya menggenggam bagian belakang jaket Naruto dengan erat.
"Kak Naru..." Karin menyebut nama Naruto disela-sela isak tangisnya. Berusaha menyampaikan perasaannya yang berkecamuk ketika melihat Naruto melangkah menghampiri gadis-gadis itu dan menolongnya. Kaget, tak percaya, lega, dan senang bercampur jadi satu di dalam hatinya.
"Kak Naruto…" Karin tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika saja Naruto tidak datang dan menghentikan tindakan empat gadis itu.
"Sudahlah. Tidak apa-apa, mereka tidak akan mengganggumu lagi." Naruto menumpukan dagunya di atas kepala Karin, sementara tangannya mengusap rambut gadis itu berulang-ulang.
Sekarang Karin semakin yakin bahwa Naruto memanglah malaikat yang diutus untuk melindunginya. Karena sudah tak terhitung berapa kali Naruto melakukan hal ini. Selalu berada disamping Karin setiap kali dirinya membutuhkan seseorang.
Ia percaya, Naruto akan selalu melindunginya sampai kapanpun. Selalu menjaganya sampai mereka berdua mati, karena Naruto sudah berjanji,—
"Kau tenang saja. Kakak akan selalu melindungimu dan terus bersamamu. Selama-lamanya."
—dan Karin akan tetap menggantungkan seluruh hidupnya pada janji itu.
"Kakak janji."
TBC
.
.
.
Nggak ada curcol panjang lebar kali ini, mata Night udah ngantuk banget. Di tempat Night sekarang sudah jam 12am lewat. Setelah update chap 4 ini Night mau bobo. Hoam~ *nguap selebar-lebarnya*
Tapi sebelum beranjak dari depan laptop, sekarang Night ingin mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Adha 1435 H
untuk seluruh umat muslim di FFN.
Selamat makan daging kurban ya, semua! ,
And the last but not least,
Review dooooong! ^ ^
With love, Nightingale.
