- OuO-

For IroSami Week

August 24, Prompt: Honor

- OuO-

Disclaimer :

Bukan punya saya, kalo punya saya, IroSami langsung saya bikin canon /shot

Warnings:

Jane Austen AU, dan berbagai hal absurd lainnya yang mungkin muncul di one-shot ini. :O

- OuO-

Si gadis yang rambutnya bagaikan langit malam itu terus memacu kuda kesayangannya, menembus hutan yang memiliki banyak pohon-pohon oak besar dan semak di sana dan di sini. Ranting-ranting yang ada di tanah diinjak sang kuda tanpa ampun, membuatnya hancur seketika terbelah dua. Kuda berwarna cokelat dan bersurai hitam itu kini melompat, menghindari sebuah batang pohon yang besar, dan mendarat dengan selamat, pemiliknya sendiri sempat terguncang sesaat, tapi berhasil menyeimbangkan tubuhnya dengan sempurna. Sang majikan yang bernama lengkap Asami Sato, tengah berpikir tentang malam debutnya, saat untuk pertama kalinya dia akan diperkenalkan kepada khalayak umum, dan kemudian berdansa, dan oh, di mana para pria akan meliriknya dan menilai apakah dia perempuan yang pantas baik dari sifat maupun dari kekayaan dan tentu saja, dari status kebangsawanannya. Asami merasa mual sendiri saat membayangkannya, tapi dia sangat berharap dia bisa melakukannya dengan baik.

Hari ini Asami berusaha melakukan hal-hal yang ia sukai –berkuda, berjalan-jalan di hutan sendirian, berlatih pedang— untuk terakhir kalinya. Karena ia tahu, setelah malam debut, mata semua orang akan tertuju padanya, terutama para Countess –nyonya rumah, alias para ibu yang nantinya akan menjadi mertuanya. Mereka akan menilai dirinya, semua mata itu akan menilai.

Asami menutup mata untuk sesaat, berharap dengan menutup mata beberapa detik bisa menghilangkan pikirannya mengenai malam debut, bayangan mata yang menilai, pesta dansa, gadis-gadis seusianya yang juga melakukan malam debut di pesta yang sama. Dalam keheningan sesaat, Asami kembali membuka matanya, telinganya mendengar sesuatu yang tidak biasa, seharusnya dia hanya mendengar daun-daun yang bergemerisik karena angin, ranting-ranting yang patah karena terinjak kaki kuda miliknya, dan tentu saja derap Harper –itu nama kuda miliknya. Lalu, kenapa ada derap kuda lain? Asami bisa membedakan antara derap kuda miliknya dengan derap kuda lain, dia positif kalau ada pengendara lain selain dirinya, tapi siapa? Pembawa pesankah? Tidak, Asami merasa itu tidak mungkin karena tidak ada satu pun yang ia tahu pernah melewati hutan ini, apakah orang tersesat? Tapi kenapa orang yang tersesat memacu kudanya, bukankah seharusnya langkah mereka tak teratur karena tak yakin dengan wilayah yang mereka injak?

Asami menarik tali kekang Harper, menyuruhnya untuk berhenti sesaat, menunggu, dan melihat siapa yang masuk ke dalam hutan. Si gadis pemilik bermata hijau ini memincingkan matanya, dari jauh dia melihat sebuah siluet hitam, pendengarannya yang tajam memang benar, itu adalah sebuah kuda berwarna hitam sempurna, tapi dia tidak dapat melihat penunggangnya dengan jelas. Tapi akhirnya terlihat, si kuda hitam berhenti dan melambat, mungkinkah karena si penunggangnya melihat Asami yang berhenti? Semoga saja, karena Asami penasaran dan ingin mencoba berbicara dengannya.

Akhirnya Asami melihat si penunggang, rambutnya hitam, dia terlihat lebih tua dari pada Asami, baju miliknya terlihat bagus, dan jelaslah bahwa dia merupakan bangsawan, tapi Asami merasa belum pernah melihatnya di sekitar tempat ia tinggal. Apa dia dari ibu kota? Dan datang karena pesta dansa penting yang akan diadakan di Manor milik Duke Tenzin dua hari lagi itu? Ugh- banyak sekali yang ingin ditanyakan Asami pada sang pria.

"Selamat pagi Nona." Ternyata si pria menyapa Asami terlebih dahulu.

Asami mengangguk, "Selamat pagi Tuan," hening untuk sesaat, hanya ada nyanyian dari burung-burung yang menyisi kesunyian di antara si gadis dan si pria, Asami segera membuka mulut, "kalau boleh tahu, apa yang sedang Tuan lakukan di sini?"

Alis milik si pria bertautan saat mendengar pertanyaan Asami, "Maaf? Harusnya aku yang bertanya begitu pada Nona. Nona sendiri berkuda pagi-pagi di hutan dan sendirian."

"Aku hanya ingin sedikit bersenang-senang, dan aku sudah sering melakukannya Tuan. Aku bisa mejaga diriku sendiri, tapi terima kasih atas perhatianmu." Asami merasa agak tersinggung mendengarnya, tapi tentu saja dia tidak bisa menunjukkannya.

Jantung Asami berdegup sedikit lebih cepat saat melihat pria yang ada di hadapannya tersenyum sambil berkata, "Kau pemberani sekali Nona. Kalau kau tak keberatan, apa kau mau menemaniku berkuda?"

"Akan jadi kehormatan bagiku Tuan," Asami mengangguk kecil, tali kekang Harper ditariknya sedikit, dan mereka berdua berkuda berdampingan. Terbersit dalam pikiran Asami kenapa dia mau saja diajak berkuda dengan pria yang ada di sampingnya, dia sama sekali tidak kenal dengannya, dan bahkan baru bertemu beberapa detik lalu. Tapi dia punya firasat kalau orang ini adalah orang yang baik, dia seperti punya aura yang berbeda –apa itu karena dia terlihat begitu dewasa? Tapi ayah Asami tidak punya aura seperti itu—, dan matanya yang berwarna emas terlihat sangat istimewa baginya.

Akhirnya, si pria kembali angkat bicara, "Aku belum menanyakan namamu Nona. Siapa namamu?"

Asami menjawab dengan mantap, "Sato, Asami Sato. Namu sendiri siapa Tuan?"

Si pria terlihat tidak begitu nyaman saat ditanyakan namanya, "Iroh." Dia nyaris berbisik saat mengucapkannya, tapi Asami tetap bisa mendengarnya dengan cukup jelas.

"Oh, namamu sama seperti Jenderal yang terkenal itu ya. Aku sering membaca kisah tentang dirinya di buku-buku. Kupikir dia orang yang hebat," Asami tersenyum ,sinar mata kekaguman terlihat di mata hijaunya. Iroh terlihat agak lega setelah mendengarnya, entah mengapa, pria yang satu ini jadi makin terlihat misterius di mata Asami,"lalu, Tuan Iroh, sepertinya aku tidak pernah melihatmu di sini, apa kau dari ibu kota?"

Kali ini lesung pipit Iroh terlihat jelas, tanda dia tersenyum lebar, "Ya, aku berasal dari sana. Aku di sini untuk menghadiri pesta yang diadakan oleh Duke Tenzin. Dan aku juga bersama kolegaku."

Asami berubah agak murung mendengarnya, pesta itu adalah hal yang tidak ingin ia ingat, "Ah, ya pesta itu."

Iroh yang melihat Asami segera bertanya, raut mukanya terlihat prihatin, "Kau sepertinya terlihat tidak begitu antusias dengan pesta ini."

"Itu karena pesta itu akan jadi malam debutku, dan aku… agak sedikit gugup." Asami menyibak rambutnya sedikit ke belakang.

Iroh terdiam, dia menggaruk pipinya, "Aku tidak tahu menahu soal malam debut, karena aku ini laki-laki, tapi kupikir kau tidak perlu cemas."

"Terima kasih." Asami tersenyum kecil mendengarnya, tapi itu tidak terlalu menghilangkan kecemasannya.

Iroh akhirnya segera mencari topik lain, berharap Asami setidaknya bisa melupakan sebentar soal pesta dansa dan malam debutnya itu, mereka mebicarakan tentang kuda kesayangan mereka –dan itu membuat Asami tahu, ternyata kuda milik Iroh bernama Mae; tentang buku-buku yang mereka baca – Ini membuat Iroh tahu kalau Asami tidak begitu banyak membaca buku bernuansa romansa, tapi membaca buku-buku tentang kebudayaan, ekonomi, dan pengetahuan; tentang hobi mereka masing-masing; apakh mereka pengendali atau bukan –Asami jadi tahu Iroh adalah pengendali api, dan Iroh tahu kalau Asami bukanlah pengendali; yah, singkatnya, dalam puluhan menit pembicaraan mereka, mereka mengetahui satu sama lain dengan begitu dekat, tak sadar puluhan menit sebelumnya mereka hanya orang asing di mata satu sama lain. Tapi, ada pertemuan, pasti juga akan ada perpisahan, keduanya entah kenapa merasa enggan, tapi matahari sudah semakin meninggi, menunjukkan waktu sudah semakin siang.

"Terima kasih sudah menemaniku Nona Sato."

Asami sedikit berharap lain kali dia dapat bertemu dengan Iroh, "Tentu, senang bisa bertemu denganmu Tuan Iroh."

Tanpa sadar, Iroh menepuk lengan Asami, namun segera dia menarik tangannya, "Ah, tunggu, Nona Sato, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Ya?" Asami menunggu pertanyaan apa yang akan diajukan Iroh.

"Apa kau mau berdansa denganku saat di pesta nanti?" Wajah Iroh terlihat agak memerah saat menanyakannya.

Wajah Asami sendiri tak kalah merah dari wajah Iroh, "Aku… itu-" Asami menegak ludahnya, "Aku akan sangat senang sekali, suatu kehormatan bagiku bisa berdansa denganmu."

"Justru aku yang merasa terhormat bisa mengajakmu berdansa." Iroh tertawa, wajah Asami kali ini benar-benar panas dibuatnya.

.

Asami mendesah, pikirannya masih tertuju pada si pemilik mata berwarna emas tersebut. Kedua tangannya menyentuh pipinya, dan dia masih dapat merasakan panas yang ia rasakan tiap mengingat pria bernama Iroh itu. Hatinya masih berdegup tidak karuan, tidak konstan, ini hampir sama ketika dia berlari, hanya saja dia tidak lelah secara fisik. Dan ada saat di mana Iroh menyentuh lengannya untuk sesaat. Ya Tuhan, sepertinya Asami Sato benar-benar menyukai pria yang baru saja ditemuinya itu.

"Asami." Ucapan ayahnya membangunkan Asami dari lamunannya.

"Ya Ayah?" Asami mencoba menjawab semanis mungkin, berharap ayahnya tidak tahu kalau dia berkuda ke tempat yang jauh, terutama hutan tadi, karena sudah berkali-kali ayahnya melarangnya.

"Apa tadi kau berkuda lagi?" Dari balik kacamatanya, Hiroshi Sato memandang putrinya dengan tajam.

"Ya, aku ingin sedikit bersenang-senang, tak apa kan?"

Ayahnya menghela napas, "Percuma Ayah melarang, kau pasti akan melakukannya. Yang lebih penting, ada berita besar yang tersebar di wilayah ini mengenai pesta dansa di Manor Duke Tenzin!"

"Berita apa?" Asami sebenarnya tidak begitu tertarik, tapi ayahnya terlihat begitu bersemangat, jadi dia berusaha mendengarkan ucapannya dengan baik.

"Yang aku dengar, Pangeran Iroh akan hadir di sana."

Telinga Asami serasa berdengung mendengarnya, salah dengarkah ia? Asami segera bertanya untuk memastikan, "Ayah bilang, 'Pangeran Iroh'?"

Ayahnya mengangguk dengan bersemangat, kacamatanya menjadi agak longgar karenanya, "Ya, kau tidak salah dengar Nona."

"Ayah, aku pikir, sebaiknya aku membaca buku di perpustakaan, ada beberapa hal yang ingin kucari tahu."

"Oh, baiklah."

Dengan terburu-buru, Asami berlari kecil menuju perpustakaan, gaunnya ditarik sedikit agar tidak menghalangi langkahnya. Segera setelah dia sampai, Asami menjatuhkan diri pada kursi yang pertama kali ia lihat. Asami menggigit bibir, dicarinya buku yang menyangkut tentang Negara Api, buku paling terbaru,, dia ingat ia baru saja membacanya kemarin sore. Asami mengobrak-abrik meja di mana ia biasa menaruh buku bacaan yang belum ia selesaikan, sebuah buku hard cover berwarna merah marun telah ditemukannya di tengah tumpukan buku lain yang berwarna cokelat, hijau, maupun biru tua. Halaman-halaman pertama memliki silsilah keluarga kerajaan.

Pada Halaman empat, Asami melihatnya, sebuah pohon keluarga dengan ilustrasi pohon yang indah, dia melihat Raja Zuko, salah satu raja yang terkenal, dengan saudarinya, Azula, lalu dari Raja Zuko turun ke Raja yang sekarang, dan dari Raja yang sekarang, turun ke Pangeran, Pangeran ini bernama Iroh, tahun lahirnya pun tidak begitu jauh dari yang Asami bayangkan, hanya berbeda beberapa tahun dengannya. Sekitar tujuh tahun. Semuanya begitu cocok. Asami menutup buku yang dibacanya, tidak ingin melihatnya lagi. Berbisik pada dirinya sendiri, Asami berkata, "Pangeran Iroh mengajakku berdansa," perut Asami semakin mual membayangkannya, "ini terlalu terhormat."

Fin.

- OuO-

Yush, selesai sudah IroSami Week 2012~ XDb
"Honor" adalah yang paling panjang dan yang paling saya niat buat bikin, tertarik bikin sekuelnya, tapi saya harus ngerjain proyek lain, hafffuuuu-

Sekedar curcol, saya selalu pengen bikin penpik dengan Jane Austen / Regency AU, tapi karena belum nemu fandom yang cocok, saya tinggalkan dulu idenya, ah, tapi akhirnya ketemu, dengan main pair IroSami. ; w ;

ah, saya baru sadar, ternyata saya kelupaan Prompt tentang "Family" yang harusnya buat tanggal 22, jadi ternyata saya ngelompat ya... /sigh
Yush, mari kita membuat prompt terakhir!

RnR please?