Break the Ice
·
·
Naruto © Mashashi Kishimoto
·
Break the Ice
·
Genre : Romance, Hurt/Comfort
·
Disclaimer : This story is original comes from my mind
·
Rated : T
·
Sakura
·
Summary : "Jangan dekat-dekat dia nanti kau membeku" / "Sakura Haruno sudah mati" / "Brengsek!" / Sasuke, murid pindahan dari Oto tertarik pada gadis yang disebut Manusia Es yang sebangku dengannya. Sayangnya, gadis itu sudah kehilangan hatinya sejak lama.
·
·
Create the Ice
Autumn
Monday, September 20, 2010
Haruno's Mansion, Sunagakure
After school
Sakura memarkirkan Bugatti baby blue kesayangannya di bagasi mansion mewah yang sudah ditempatinya selama hampir tiga tahun belakangan. Rambutnya yang panjang sebahu bergoyang-goyang ketika gadis itu berjalan sambil bersiul-siul memasuki rumahnya. Rok seragam sekolahnya yang berwarna merah tua bermotif kotak-kotak bergoyang ketika ia berjalan memasuki rumah. Ketika Sakura membuka pintu, rumahnya tampak sepi. Ayahnya belum pulang dari perusahaan karena ini masih sekitar jam dua siang.
"Tadaima!" seru Sakura riang. Tidak ada jawaban dari dalam.
Sakura meletakkan tasnya sembarangan di atas sofa warna coklat kayu dan berjalan menaiki tangga, mencari sang ibu. Benar saja dugaan Sakura, ibunya, Mebuki Haruno sedang duduk bersandar di kursi di ruang keluarga sambil menonton drama di televisi besar di depannya. Ia langsung memeluk ibunya itu, bermaksud mengagetkan Mebuki.
Sang ibu ternyata sedang tertidur tenang, tapi bukan itu yang membuat Sakura kaget. Ibunya, Mebuki Haruno, sedang tertidur dengan jejak air mata di kedua pipinya sambil menggenggam sebuah foto.
Foto ayahnya, berjalan memasuki apartemen mewah bersama seorang wanita berambut coklat tua yang dikenalnya sebagai Rin Uchiha.
Mebuki bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya ketika Sakura masih belum bisa mengatasi kekagetannya. Gadis itu buru-buru mengusap dahi sang ibu pelan sambil menangis. Hatinya mendadak pilu ketika memikirkan rasa sakit yang hinggap di hati sang ibu.
Rin Uchiha adalah sekretaris baru ayahnya yang bekerja di Haruno Grup sejak enam bulan yang lalu. Wanita itu beberapa kali datang ke rumahnya atas undangan sang ibu mengingat Rin adalah kouhai mereka sewaktu universitas dulu. Secara keseluruhan, Rin Uchiha adalah orang berpendidikan, terlihat dari gerak-gerik dan tutur katanya. Tapi Sakura tidak pernah menyukai wanita itu, entah kenapa.
Dan sekarang feeling Sakura terbukti benar.
"Kaa-san..." lirih Sakura. Gadis itu jatuh terduduk sambil memeluk lututnya, mengisak pelan nyaris tanpa suara. Dadanya sesak, pikirannya dipenuhi umpatan dan cacian untuk ayahnya yang tega berselingkuh.
Tangan Sakura meraih iPhone biru muda miliknya, berusaha menjaga agar tidak gemetaran. Sesekali, gadis itu mengisak pelan sambil berusaha menekan speed dial ketiga di ponselnya. Ino Yamanaka, hanya nama gadis itu yang terlintas dalam pikirannya.
"Moshi-moshi, Jidat?"ucap suara di sebrang telepon setelah beberapa detik yang terdengar hanya nada sambung.
"I-Ino..." lirih Sakura.
"Jidat, kau kenapa?" tanya Ino cemas. Ia yang tadinya berniat bersantai sambil me-menicure pedicure kuku-kukunya langsung memasang wajah serius sambil menghentikan kegiatannya.
"Ino...kurasa...keluargaku akan hancur..." isak Sakura.
"Apa maksudmu, Jidat?" suara Ino terdengar sangat panik. "Jelaskan yang benar!"
"Ayahku...Ino..." isak Sakura, tangisannya makin kuat. Tepat ketika ia akan membuka mulut, Mebuki membuka matanya. Sakura mematikan teleponnya dengan gerakan cepat dan menghapus air matanya.
"Sakura?" lirih Mebuki. Sedetik kemudian wanita itu tersenyum hangat. Senyum hangat yang tampak menyedihkan di mata Sakura. Ia tahu ibunya memendam kesedihan yang amat mendalam di balik senyum hangatnya itu.
Sakura langsung menerjang Mebuki dengan pelukan sambil menangis tersedu-sedu. Ia berharap bisa menyalurkan kekuatan lewat pelukannya. Mebuki tersentak pelan sebelum menyadari kalau anak perempuannya tampaknya sudah melihat foto yang tadi ditangisinya. Tangan wanita cantik itu melingkari bahu Sakura, ikut memberikan kekuatan pada anak gadisnya. Ah, hari ini begitu berat bagi mereka berdua.
"Kaa-san, itu...Rin Uchiha, kan?" tanya Sakura disela tangisnya. Wajahnya ia benamkan di sela leher kiri Mebuki. Ibunya mengangguk.
"Kenapa Tou-san tega sekali padamu, Kaa-san?" isak Sakura.
"Mungkin Tou-san bosan pada Kaa-san, Sakura. Dia hanya butuh waktu untuk bersenang-senang" kata Mebuki sambil menahan tangisnya. Ia tahu kalau Kizashi bukan orang yang akan semudah itu mengkhianati kepercayaannya.
Tentu saja sebelum Rin Uchiha datang.
Sejak pertunangan antara Mebuki dan Kizashi diumumkan lewat media dan ditayangkan secara besar-besaran di TV, banyak orang yang iri pada pasangan itu. Kizashi yang tampan, cerdas dan kaya bersanding dengan Mebuki, wanita yang anggun dan berkelas. Terlebih, mereka berdua adalah pewaris tunggal dari keluarga masing-masing. Bangsawan Senju dan Haruno. Rencananya, kedua orang itu akan menikah dua bulan setelah pertunangan mereka dan akan digelar selama tiga hari di tiga tempat berbeda.
Rin Uchiha adalah satu dari banyak orang yang iri pada kebersamaan pasangan Kizashi-Mebuki. Saat itu, Rin masih berstatus sebagai mahasiswi Fakultas Bisnis dan Menejemen di Universitas Konoha, delapan tahun di bawah Kizashi dan lima tahun terpaut lebih muda dari Mebuki. Wanita keturunan Uchiha itu memang sudah lama memendam obsesi besar untuk memiliki Kizashi Haruno. Sayangnya, sang pewaris Haruno sudah lama dijodohkan dengan putri keluarga Senju.
Mebuki bukannya tidak tahu kalau Kizashi mempunyai ketertarikan khusus pada Rin. Mebuki berkali-kali berkata pada Kizashi kalau laki-laki itu boleh membatalkan pertunangan mereka jika ia memang mencintai wanita lain, tapi Kizashi malah menolak. Ia berkali-kali meyakinkan Mebuki kalau hanya wanita itu yang dicintainya.
Dan Mebuki percaya.
Beberapa tahun setelah kelahiran Sakura, Mebuki divonis tidak bisa lagi memiliki anak. Ia begitu terpukul saat itu mengingat Kizashi sangat menginginkan anak laki-laki untuk menggantikannya kelak sebagai presiden direktur Haruno Grup. Saat itu Kizashi memeluknya dan meyakinkan Mebuki kalau dia sama sekali tidak masalah dengan itu. Kizashi mulai mengajari Sakura berbagai pelajaran mengenai bisnis sejak gadis itu kelas empat sh gakk .
Tapi tentu saja, ada yang berbeda dengan Kizashi.
Beberapa bulan setelah mereka pindah ke Sunagakure demi mengurusi cabang perusahaan mereka yang baru dibangun, Mebuki menerima kabar kalau Rin bekerja di perusahaan sebagai sekretaris. Wanita itu berusaha menyembunyikan kecemasannya, tapi ia memiliki firasat yang buruk ketika Kizashi menawarkan padanya untuk mengundang Rin ke rumah mereka.
"Semoga saja..." gumam Mebuki penuh keraguan.
Winter
Wednesday, February 16, 2010
Parking Place, Sunagakure Gakkuen for Junior Students
Sunagakure, Japan
7.00 AM
Suasana Sunagakure Gakkuen pagi itu tampak biasa saja, seperti hari-hari biasanya. Perbedaan justru tampak pada wajah gadis bersurai pink yang baru saja selesai memarkirkan Bugatti Veyron miliknya di lahan parkir sekolah. Sakura, nama gadis itu, berjalan diiringi tatapan kagum dan memuja banyak sekali siswa Sunagakure Gakkuen. Prestasinya sebagai satu dari lima siswa terpintar di sekolah dan merupakan keturunan keluarga Haruno dan Senju sekaligus cukup membuatnya menjadi siswi terpopuler di Suna.
Sakura melemparkan senyum sapa pada beberapa siswa yang dilewatinya. Gadis itu membuka lokernya, mengambil beberapa buah buku sebelum akhirnya berjalan ke arah kelasnya. Mathematic class, di lantai satu. Sakura berjalan terus, tak sadar kalau ia sudah mengabaikan sapaan beberapa murid. Pikirannya melayang-layang, memikirkan keadaan keluarganya selama beberapa bulan terakhir.
Malam itu, Sakura yang tidak bisa tidur memutuskan untuk turun ke lantai satu, berniat mengambil segelas air dingin di lemari pendingin di dapur. Ia berusaha tidak menimbulkan suara ketika menuruni tangga rumahnya yang bergaya Mediterania. Gadis itu terperangah ketika ditemukannya sang ibu—Mebuki Haruno—tertidur di sofa masih berbalutkan pakaian tidurnya. Ia hampir saja membangunka ibunya kalau tak didengarnya suara-suara gaduh dari luar rumahnya.
"Tadaima~" seru suara berat dan dalam khas Kizashi Haruno. Emerald Sakura terbelalak, gadis itu memandang ayahnya dengan tatapan tidak percaya. Kizashi pulang dalam keadaan berantakan. Kemeja putihnya sudah acak-acakan, dua kancingnya terbuka, dasinya menggantung di kedua sisi lehernya dan wajahnya merah sempurna. Ya, dia mabuk.
Yang lebih menyakitkan lagi adalah keberadaan Rin Uchiha disampingnya, dengan keadaan yang sama berantakannya.
Sakura merasa matanya panas, hatinya mendadak seperti ditikam ribuan pisau. Ayahnya, ayah yang selama ini dibanggakannya, dicintainya, terang-terangan membawa wanita lain ke rumahnya. Dan yang lebih buruk...ibunya ada disana, terbangun dari tidurnya karena terganggu dengan suara berisik barusan, menatap suami tercintanya dengan tatapan terluka.
"Heh, kau! Cepat siapkan kamar!" bentak Kizashi pada Mebuki, laki-laki itu seratus persen mabuk. Tangan kanannya mengacung-acungkan botol bir sambil cegukan sesekali.
"Kizashi...kau..." air mata Mebuki meluncur begitu saja di kedua sisi wajahnya. Ia tak percaya Kizashi berani membawa Rin dengan penampilan tidak-layak-dilihat ke rumah mereka.
"Berisik! Cepat!" Kizashi memotong ucapan Mebuki tidak sabar. Di sampingnya, Rin Uchiha menyeringai puas. Apalagi setelah melihat tatapan Mebuki yang tampak terluka.
Mebuki menurut, ia berjalan menaiki tangga, dan segera menyiapkan kamar tamu. Sakura sendiri menggigit bibirnya kuat-kuat sampai berdarah, menahan isakan yang akan keluar. Gadis itu merosot di lantai, memeluk kedua lututnya. Tidak ada yang lebih buruk dari memergoki ayahnya membawa wanita lain ke rumah, tempat dia dan ibunya menunggu pria itu pulang.
Sakura membuang nafasnya, mencoba menghilangkan kesesakan yang tiba-tiba melandanya. Ia berjalan memasuki kelas, mencoba ceria seperti biasa. Rasanya berat, harus berpura-pura biasa saja padahal banyak sekali hal yang sudah terjadi. Setelah kejadian itu, sang ibu tampak sudah terlalu lelah dengan kelakuan Kizashi yang semakin menjadi. Pertengkaran selalu saja terjadi, kadang malah karena dipicu hal-hal sepele. Sakura lelah, ia ingin pergi dari sana, melarikan diri bersama ibunya, kemana saja asal tidak bertemu pria yang selama ini dianggap ayah olehnya itu.
Sakura terduduk di balik pintu kamarnya. Kedua tangannya menutup telinga, seolah tak ingin mendengar apapun, termasuk teriakan-teriakan di balik pintu. Ayahnya baru saja pulang ke rumah padahal jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Mebuki tidak tinggal diam begitu Kizashi menghardiknya saat wanita itu mencoba melakukan tugasnya sebagai seorang istri, membawa pakaian Kizashi dan menyiapkan makanan.
"Tidak perlu!" bentak Kizashi kasar. Ditatapnya wanita yang selama hampir dua puluh tahun menjadi istrinya itu dengan tatapan malas.
"Biar aku siapkan makanan..." kata Mebuki lemah. Ia berusaha tidak menangis di depan suaminya dengan cara mengepalkan tangannya erat-erat.
"Aku sudah makan" potong Kizashi cepat.
"Kalau begitu biar aku..."
"Diam, Mebuki!" bentak Kizashi. Telinganya seolah pegal mendengar suara Mebuki.
Air mata Mebuki lagi-lagi mengalir membasahi pipinya. Ia terisak pelan sementara Kizashi masih memandang wanita itu dengan tatapan malasnya.
"Sudah cukup!" bentak Mebuki. "Aku tahu kau habis jalan-jalan dengan wanita jalang itu!"
"Jaga bicaramu!"
"Oh ya?! Lalu apa yang harus kukatakan tentang dia? Calon nyonya kedua Haruno, begitu?!
Kizashi menatap Mebuki geram.
"Brengsek, kau, Kizashi! Kau kira aku ini apa?! Mainan?!"
"Salahmu sendiri, tidak semenarik dia!"
"Apa kau bilang?!"
Dan pertengkaran terus saja terjadi tanpa ada tanda-tanda akan berhenti. Sakura memasangkan headset di telinganya, menyetel lagu keras-keras, berharap dia tuli saja daripada harus mendengar orangtuanya bertengkar.
"Sakura?" Sakura tertarik dari alam bawah sadarnya ketika suara Gaara Sabaku memasuki indera pendengarannya.
"Gaara?" Sakura bergumam pelan. "Ada apa?"
Gaara menggeleng, laki-laki bertattoo 'Ai' itu memandang Sakura dengan tatapan selidik. Ia tak pernah melihat Sakura melamun begitu lama. Padahal Gaara sudah duduk di sampingnya selama setengah jam, tapi gadis itu masih saja asyik dengan kegiatan melamunnya.
"Ada apa, Sakura? Kau tampak tidak terlalu baik hari ini" kata Gaara. Sakura tersenyum tipis, merasa lega kalau ada yang masih mencemaskannya.
"Aku tidak apa-apa, Gaara" kata Sakura, mencoba sebisa mungkin terdengar baik-baik saja.
Gaara mengangguk mengerti. Ia berdeham sebentar, merasa gugup.
"Soal yang kemarin itu, aku serius, Sakura. Tolong kau pertimbagkan dulu" kata Gaara dengan raut serius. Sakura menunduk.
Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Gaara Sabaku adalah most wanted di sekolah mereka. Putra bungsu pemimpin Suna yang juga adalah kandidat kuat penerus ayahnya itu bahkan sampai jadi urutan pertama di Most Wanted Guys that All Women Wants di majalah sekolah mereka yang terbit tiap bulan.
Dan Gaara sudah jadi urutan pertama sejak dia masuk Sunagakure Gakkuen.
Hampir semua siswa di Sunagakure ingin jadi pacar Gaara. Semua orang tua ingin anaknya kelak akan bersanding dengan Gaara. Intinya, Gaara adalah idola semua orang di Suna. Dan tentu saja, tidak ada yang berani untuk lebih dari sekedar berharap mengingat laki-laki berambut merah itu selalu menempel dengan gadis berambut pink.
Sakura Haruno. Pewaris tunggal Haruno Group. Cantik, cerdas, anggun, baik dan kaya. Sungguh pasangan yang membuat iri semua orang.
Sakura tidak tahu harus berkata apa saat Gaara menariknya—menyeret, lebih tepatnya—ke belakang gedung olahraga, tepat di dekat semak dan pepohonan, menjauhi laki-laki berambut hitam yang dikenalnya sebagai Menma Namikaze.
Saat itulah, laki-laki berambut merah itu mengeluarkan semuanya.
Diawali dengan cacian, lalu dibalas cacian lagi oleh Sakura, lalu dengan nada membentak, Gaara mengungkapkan perasaannya. Sungguh jauh dari kata romantis. Ia sudah cukup sabar selama ini, melihat Sakura jadi objek tatapan memuja hampir semua laki-laki di Sunagakure Gakkuen, melihat gadis itu dekat-dekat dengan kakak sepupunya, melihat gadis itu tampak gelagapan saat menghadapi pernyataan cinta Menma tadi. Ugh, Gaara merasa ia bodoh sekali karena terus memendam perasaannya selama ini.
"Aa" jawab Sakura, gugup. Ia tidak tahu harus berkata apa. Melihat keseriusan di wajah Gaara, gadis itu blushing tak karuan.
Thursday, February 17, 2010
Haruno's Mansion, Sunagakure, Japan
8.30 PM
Terulang lagi, suara teriakan, lemparan dan bunyi barang-barang pecah, suara tangisan dan bentakan kembali masuk ke telinga Sakura. Gadis itu ingin mengingatkan keberadaannya, pengikat di antara mereka berdua. Sakura ingin berteriak pada ayahnya, tukang selingkuh itu, kalau dia tak seharusnya selalu pulang malam dan terang-terangan berkencan sementara ibunya menunggu dengan cemas di rumah. Ia ingin berteriak pada ibunya, berkata kalau tidak seharusnya dia terus menunggu pria brengsek seperti Kizashi Haruno.
Tapi Sakura tidak bisa.
"Cukup! Aku muak padamu!" bentak Kizashi, amarahnya meledak. Tangan pria itu melayang, menghantam keras pipi wanita yang selama ini mendampinginya dalam suka maupun duka, menyisakan sebuah bekas memerah di pipi wanita itu.
"Siapakan dirimu, aku akan memberimu surat perceraian kita!" teriak Kizashi sebelum ia menghilang di balik pintu.
Mebuki menangis, tangisan pilu yang selalu wanita itu keluarkan selama beberapa bulan belakangan. Demi apapun, gadis itu ingin sekali menghancurkan wanita itu—juga ayahnya sekaligus.
End of Winter
Friday, March 4, 2011
Haruno's Mansion, Sunagakure
7.00 AM
Sakura memandang kembali rumah yang sudah ditempatinya selama tiga tahun belakangan. Mansion bergaya mediterania itu dirancang khusus oleh Hidan Aburame, sahabat dekat ayah Sakura. Barang-barang di dalamnya sendiri merupakan hasil tangan-tangan cantik ibunya. Furniture a la Spanyol, Perancis dan Mediterania dipadukan dalam sebuah harmoni cantik yang membuat rumahnya tampak unik dan nyaman.
Ia menghela nafas, rasanya ingin menangis. Hari ini, perceraian kedua orangtuanya sudah diresmikan. Mebuki tidak menangis, tapi Sakura tahu wanita itu diam-diam menyimpan kesedihannya dan menumpahkan semuanya dalam tangisan setiap malam. Emosinya menggelegak, darahnya mendidih, ia ingin sekali menghancurkan semua orang yang membuat sosok lembut itu terpuruk. Entah itu ayahnya, atau wanita biadab yang seenaknya saja merusak kebahagiaan keluarganya.
Rin Uchiha.
Uchiha, nama terpandang yang sudah dikenal dengan baik oleh semua kalangan masyarakat di Jepang. Keluarga bangsawan yang juga pemilik Uchiha Grup, sebuah grup bisnis yang hampir mencakup semua bidang. Uchiha adalah saingan yang cukup berat di pasar saham. Saham mereka berharga mahal, nyaris tidak pernah turun dan selalu diperhitungkan oleh para investor asing maupun lokal.
Sakura mendecih. Katanya keluarga bangsawan, tapi mereka bisa punya anggota keluarga macam Rin.
"Sakura, tidak bisakah kau tinggal disini?" tanya Mebuki, membelai kepala Sakura dengan lembut.
"Aku tidak bisa, Kaa-san. Aku tidak bisa diam saja" jawab Sakura. Ia memejamkan mata, merasakan sentuhan lembut wanita itu.
"Tidak apa-apa, Nak. Biarkan saja..." desah Mebuki. Hatinya berat sekali saat pengadilan mengesahkan perceraiannya tadi siang. Ditambah, anaknya semata wayang memilih untuk ikut sang ayah dibanding dirinya.
"Aku tidak akan membiarkan wanita itu, dan keturunannya mengambil sepeserpun hartaku. Tidak setelah apa yang dia perbuat padamu..." jawab Sakura. Mata emerald miliknya menatap Mebuki yakin.
Mebuki mendesah berat. Gadis ini...dialah yang sudah menciptakan Sakura di depannya. Sosok dengan dendam di kedua iris matanya yang biasanya bening. Sosok hangat yang tampak berbeda.
"Jaga dirimu, Kaa-san. Aku mencintaimu.." kata Sakura. Gadis itu menghambur ke dalam pelukan Mebuki, menghirup dalam-dalam aroma mawar yang keluar dari wanita itu. Ingin rasanya ia lari bersama ibunya, menjalani kehidupan bahagia berdua, saling menyangga, mendukung.
Tapi kepergiannya akan membuat wanita itu menang. Biarlah, ia pendam rindu untuk ibunya ini selamanya. Sampai waktunya tiba, ketika dua orang brengsek yang sudah menghancurkan hidup sang ibu hancur di tangannya. Ya, Sakura Haruno sudah terlahir kembali.
Saturday, March 5, 2011
Haruno's Mansion, Konohagakure, Japan
9.00 AM
"Nah, Sakura. Ini ibumu yang baru" kata Kizashi dengan wajah berseri.
Sakura berdiri tenang. Di hadapannya, seorang wanita berambut coklat sebahu memandangnya dengan tatapan menilai. Kedua mata mereka bersiborok. Emerald dan caramel. Rin memasang senyum palsu andalannya meski matanya menyorot Sakura dengan tatapan tidak suka.
"Halo, Sakura. Namaku Rin, Rin Haruno" kata wanita itu sambil tersenyum.
"..." Sakura diam saja.
"Sakura!" tegur Kizashi.
"Dia pasti sudah tahu namaku" dengus Sakura. "Dimana kamarku?"
Rin menggeram pelan, tampak kesal karena dikacangi. Kizashi menghela nafas, anaknya pasti masih sedih selepas perceraiannya dengan Mebuki, pikirnya. Sakura mungkin butuh waktu.
Cih, munafik kau, Kizashi.
Monday, March 7, 2011
Konoha Gakkuen for Junior Students
Literature Class
8.00 AM
"Nah anak-anak, kenalkan, teman baru kalian. Pindahan dari Sunagakure. Berteman baik dengannya, ya!" kata guru sastra berkacamata hitam di samping Sakura.
"Sakura" kata Sakura singkat. Matanya menangkap keterkejutan gadis berabut blonde yang duduk di meja kedua dari depan. Ino Yamanaka. Sakura hanya melirik gadis itu sekilas sebelum kembali menatap lurus.
"Hanya Sakura?" tanya laki-laki bertato segitiga di kedua pipinya.
"Hn," jawab Sakura.
Sakura. Murid pindahan dari Suna. Tidak ada yang tahu siapa dia, dari keluarga mana bahkan sekolahnya sebelumnya. Gadis itu senang menyendiri. Tidak ada yang berani menegurnya kecuali Ino Yamanaka yang mengaku teman Sakura sejak kecil. Tatapannya tajam, ucapannya juga. Disamping itu semua, Sakura adalah siswi berprestasi. Mewakili sekolah dalam olimpiade biologi padahal baru saja pindah selama tiga bulan.
Hanya sebatas itu, yang diketahui dan berhasil dikorek semua orang di Konoha.
Autumn
Thursday, September 22, 2011
Haruno's Private Funeral
Mebuki Haruno's Graveyard
Sakura memandang nisan di depannya sambil menangis dalam diam. Matanya menatap kosong sambil terus memproduksi air mata. Gadis itu memegang nisan ibunya dengan tangan yang bergetar. Sudah sejam sejak pemakaman dilaksanakan dan ia masih tak ingin beranjak dari tempatnya semula.
"Sakura...ayo kita pulang..." ajak Kizashi, tak sanggup melihat anaknya yang tampak menyedihkan.
"Semua ini karena kau..." desis Sakura pelan.
"Sakura..."
"KALAU KAU TAK TINGGALKAN IBU DEMI WANITA ITU, TIDAK AKAN BEGINI JADINYA!" teriak Sakura keras. Peduli setan dengan orang-orang yang memandangnya.
Kizashi memandang Sakura marah. "Jaga bicaramu!"
"PEMBUNUH!" teriak Sakura marah. Air matanya mengucur deras, ia berteriak seperti kesetanan. Kizashi memandang anak perempuannya dengan tatapan terluka. Sakura benar. Semua kesalahannya. Berselingkuh, menyakiti Mebuki, membuat wanita itu menangis, bahkan menamparnya. Semuanya salah Kizashi.
Sakura menunduk, ibunya pergi, meninggalkannya. Padahal sebelumnya ibunya begitu ceria, begitu lembut dan bersemangat, bagaimana bisa tiba-tiba dia menderita kanker rahim? Bagaimana bisa wanita itu menyembunyikan penyakitnya selama ini dari dirinya? Kenapa dia begitu tega meninggalkan wanita itu sendirian?
Tapi bukankah sudah terlalu terlambat untuk menyesali semuanya?
"KAU AKAN MENYESAL! PEMBUNUH!" teriak Sakura lost control. Gadis itu memeluk nisan ibunya, tersedu-sedu.
"Harusnya aku bersamamu, Kaa-san..." isaknya. "Harusnya kutemani kau...Kaa-san..."
"Maafkan aku, Mebuki" gumam Kizashi menyesal. Air matanya meluncur begitu saja.
"Maafmu tak akan membawa ibuku kembali!" Sakura mendorong ayahnya menjauh. "Tinggalkan aku, Haruno-san.."
Hati Kizashi begitu tertohok mendengar Sakura memanggilnya dengan panggilan formal. Ia ingin menyentuh Sakura, menenangkan anaknya itu, tapi tangannya ditepis kasar. Pria itu tak bisa marah, karena semua ini salahnya. Kesakitan yang ditimpakannya pada Mebuki dan Sakura sungguh tak termaafkan.
Kizashi berjalan menjauhi nisan mantan istrinya, menjauhi Sakura. Membiarkan gadis itu menenangkan diri. Semua akan kembali seperti semula. Sakura hanya butuh waktu, pikirnya.
Munafik sekali.
-to be continued-
Yosh! akhirnya update lagiii~ khukhukhu~
Terima kasih untuk yang masih setia menemani aku dalam suka maupun duka /PLAK
Makasih untuk reviewnya. setiap pagi selalu aku buka lewat HP cuma buat ngecek udah ada berapa yg review :") senang sekali pada suka sama Sakura disini. Maaf kalau dia agak OOC hehe, aku sekali-sekali pengen bikin FF dimana Sasuke yang ngejar-ngejar, jangan Sakura mulu! untuk yang bilang Sakura terlalu dingin, maaf ya hehe memang gitu wataknya. nanti dia akan meleleh kok, seperti judulnya hihihihi
BALASAN REVIEW :
: Saku bilang makasih hehe iya untung bukan kamu, jadi kamu gak gantung diri u,u
KuroNeko10 : Emm, kayaknyaa...enggak deh hehe soalnya aku kurang dapet feel ItaSaku-nya. jadi untuk sementara Sasu-Saku dulu saja :) makasih sudah baca ^^
.1 : NAH! kamu persis banget pemikirannya sama aku hehe agak geregetan juga sih lihat Sakura selalu ngejar-ngejar Sasuke /KZL/ hohoh berhubung Itachi itu sayang banget sama Sasuke...kayaknya nggak, deh :p
hanazono yuri : sudah dilanjut ya! makasih udah baca ^^
suket alang alang : wah coba tanya ke Rinnya deh hehehe disini nggak ada kali, gimana dong? u,u
fachan desu : berasa lagi di demo, ya? XD
fdestyalove : wahaha makasih yak XD duh punya pembaca setia :"v kayaknya sebatas kakak-adek aja deh. dia tuh kan ngidam banget punya adik cewek (berhubung Sasukenya kaya batu kalo diajak ngomong)
caesarpuspita: kayaknya endingnya masih jauh deh XD ditunggu saja, ya! :)
mii-chanchan2 dan Guest : sudah yaa ^^
applesky : jangan diinjek. kan Saku yang pengen nginjek hehe hmm...kayaknya nggak, deh. Itachi bukan tipe Kakak makan adik, sih XD
NakoCherry : hehe iyaaaa sankyuu~
segitu aja dulu yaa hehe untuk yang kurang puas dengan chapter ini, nanti perlahan-lahan akan dibahas di chapter selanjutnya. keep reading, guys! ^^
