CHAPTER IV

"ENEMIES"


Para kru Ptolemaios Stardust masih melakukan rapat tentang unit seperti gundam yang menyerang berbagai tempat di dunia. Ruangan pertemuan itu hening, raut wajah mereka tegang dengan hasil kesimpulan yang telah didapatkan.

"Benar…" Sumeragi memecah keheningan. "Bisa dipastikan kalau mereka datang ke Bumi memang mencari 'sesuatu'," matanya menatap Allelujah dengan serius.

"Tapi… mereka mencari apa?" tanya Feldt.

Semua terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Feldt. Pertanyaan yang juga sama terlintas di pikiran mereka, rasa penasaran dan bingung terlukis disetiap wajah mereka. Yang jelas jawabannya hanya diketahui oleh pihak "musuh", mereka hanya bisa memberikan sebutan seperti itu pada unit gundam yang menghancurkan banyak kota dan membuat kekacauan di penjuru dunia, Gundam Musuh.

"Aaahhh…" Lockon mendesah dalam dengan kesal, "semakin dipikirkan semakin tidak jelas jawabannya," ia mengepalkan tangannya dan memukul pelan kearah dahinya, matanya memicing dan tertunduk. "Sampai akhirnya aku memikirkan saat menghadapi mereka pada serangan kedua di Azadistan," tambah Lockon dengan geram.

Semua orang menatap Lockon yang kelihatan frustasi. Setsuna memutar tubuhnya untuk menghadap pria berambut hazel itu, ingin mendengar apa yang ada dalam pikirannya.

"Memangnya apa yang kau pikirkan, Lockon?" tanya Tieria menanggapi ucapan Lockon dengan serius, segala pemikiran harus didengar dengan baik dari setiap kru, setidaknya dapat membantu mereka yang terombang-ambing dalam ketidakpastian, meskipun itu masih status dugaan.

Lockon mendongakkan kepalanya memandang monitor, ia berkecak pinggang sembari menggamit dagunya, "Apakah kalian tidak merasakannya Tieria, Allelujah? Saat kita menghadang gundam musuh itu di Azadistan dan menghantam mereka, bala bantuan mereka tidak berusaha menjatuhkan kita. Tapi malah pergi menuju Istana Azadistan, anehnya setelah tiba disana mereka tidak memulai serangan, namun mengubah jalur menuju padang pasir," mengalihkan pandangannya dari monitor pada teman-temannya. "Aku mengejarnya—mengira mereka akan menghancurkan sesuatu di padang pasir. Ketika aku melihat gundam musuh itu terbang dibalik bukit-bukit pasir kemudian menghilang dari monitorku dan disaat yang sama tombak cahaya tiba-tiba muncul dari sana. Dan saat aku periksa… mereka menghilang, aneh 'kan?"

Tieria terhentak mendengar penjelasan Lockon, kemudian tatapannya berubah tajam, dengan kesal dan meninggi Tieria berkata, "Kenapa kau tidak melaporkan hal itu sebelumnya?"

"Maaf, aku kira itu tidak penting," ucap Lockon santai sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Tieria hampir berteriak dengan keras, "Itu penting!" ia mengangkat tangannya dan menunjuk kearah Lockon, "Tidak bisakah kau melaporkan semua kejadian yang terjadi di lapangan dengan terperinci? Setiap momen yang ada sangat penting dan tidak boleh tertinggal satupun!"

"Aku pikir tanpa aku laporkan pun, Veda akan mengetahuinya dan kau selalu memeriksa semua data-data yang didapatkan olehnya, terutama keadaan diarena tempur," jawab Lockon dengan cepat.

Tieria tercegat dengan pengakuan Lockon, kebingungan menyelimuti pikirannya. "Veda tidak pernah memiliki data tentang itu," ucap Tieria pelan, "kalau pun ada, kita pasti sudah membahasnya jauh-jauh hari."

"Kenapa bisa begitu, Tieria?" tanya Setsuna, melirik pria bermata ungu itu dan menangkap kebingungan yang terpancar dari matanya yang bening.

"Entahlah, aku tidak tahu," jawab Tieria tertunduk melihat lantai kapal, "Veda apa kau memiliki data tentang peristiwa yang dikatakan Lockon?" mendongak dan melihat kearah monitor.

Veda dengan cepat merespon pertanyaan Tieria, mengganti slide dengan panel kotak yang bertuliskan negatif di dalamnya dan berkedip-kedip. Seluruh kru tidak percaya dengan jawaban Veda. Kenapa otak raksasa itu tidak memiliki data yang di katakan Lockon? Dia seharusnya mengetahui seluruh data-data dan informasi-informasi rahasia maupun umum yang terjadi di dunia, bahkan untuk kejadian yang benar-benar menyita perhatian mereka, tentang unit-unit yang bisa dikatakan mengancam kedamaian dunia.

Tieria menatap Lockon dengan tatapan menuduh bahwa Lockon berbohong dengan laporannya.

"Jangan lancang!" Lockon membalas tatapan Tieria dengan suara malas, ia bersedekap tanda tidak terima dengan kecurigaan Tieria. "Kau bilang semua laporan dilapangan harus terperinci, dan aku sudah mengatakan tentang semua yang aku lihat, meskipun aku terlambat mengatakannya. Kau pikir aku akan terus 'bercanda' dengan segala hal bahkan untuk sesuatu yang sangat serius, seperti adanya sebuah acaman yang akan mengusik kedamaian dunia," membuka lebar lengannya.

"Tentu tidak! Aku tidak menolerir 'kebercandaanmu' dalam keadaan apapun," jawab Tieria datar dan tajam, "dan pastinya itu adalah sebuah 'kebohongan', tentunya!"

"Aku tidak berbohong, Tieria! Itu bukan gayaku dan bercanda adalah karakterku, serta tolong jangan mengutip kebercandaanku adalah kebohongan! Arti sebenarnya adalah kurang keseriusan dan santai," balas Lockon

"Tentu saja… terlalu santai hingga melupakan hal-hal yang penting," Allelujah nimbrung dangan cepat, ia melirik Lockon dengan datar dan tenang disela-sela helaian rambut hitamnya.

"Oh… terima kasih telah memperjelasnya, Allelujah," ucap Tieria puas dengan perkataan pria bermata abu-abu cerah itu. Yang membuat Tieria kagum karena ucapannya yang "tembak langsung", tapi sama sekali tidak ada nada sarkasme dalam perkataannya.

Lockon memutar bola matanya, "Bagus sekali, Allelujah," ejeknya.

Kru yang lain hanya bisa mendengar dan tersenyum maklum dengan percakapan singkat itu.

Setsuna tersenyum berdengus dan menatap Lockon dengan tenang, "Kenapa hal yang kau saksikan itu tidak ada dalam data Veda, Lockon?"

"Kau salah tanya, Setsuna, tanyakan pastinya pada Tieria," salah satu tangan Lockon yang bersedekap menunjuk kearah Tieria, "dia yang paling 'akrab' dengan komputer itu."

Setsuna menatap Lockon dengan datar, tidak ada tatapan penuh pertanyaan dan menuntut jawaban, ia hanya mengalihkan pandangannya sembari menggamit dagunya. "Aku rasa Tieria sudah menjawab pertanyaan itu tadi, jadi aku pikir kau tahu jawabannya…"

"Aku tidak pernah 'kencan' dengan Veda…" putus Lockon sarkasis, hampir membuat setengah kru tertawa dengan istilah Lockon mengenai koneksi Tieria dengan Veda, dan mereka menahannya mati-matian—tidak mau memperlihatkan ledakkan emosi mereka. Dan pria bermata dan berambut ungu itu sekarang menatap Lockon dengan geram serta menahan amarahnya yang telah disulut Lockon dengan mudahnya, ingin ia meletakkan jari-jarinya dileher Lockon dan mencekiknya hingga membuatnya tidak bisa bernafas.

Kembali mata berwarna jingga kemerahan itu melirik Lockon, "Hmm… begitu ya," Setsuna sama sekali tidak terusik dengan istilah yang dipakai Lockon. "Apakah mereka memiliki teknologi yang lebih tinggi sehingga dapat mengelabuhi Veda?" ucapnya serius.

"Aku rasa…" Allelujah angkat bicara dengan suara stabil, mengingat ia sedikit terpancing dengan tingkah Lockon, "bagaimana cara menjelaskannya dengan baik, dan memulainya dari mana, ya," menggaruk belakang telinganya dengan jari telunjuk sembari memandang lantai kapal. "Aku merasa kita telah meninggalkan sebuah 'poin' yang penting dan perlu dibahas lagi, selain dari laporan Lockon yang terlambat."

"Apa yang mengganggu pikiranmu, Allelujah?" tanya Lockon dengan datar, ia bergeming ketika Allelujah mengucapkan kata terlambat dengan tekanan dan seolah mengerasinya.

"Aku tidak bermaksud untuk begitu, Lockon, mengingat aku juga melakukan hal yang sama," pengakuan Allelujah mendapat tatapan bingung dari semua kru, "aku meminta data dari Veda mengenai laporan komando tertinggi ESF yang diserang di Yupiter, dalam laporan itu ia mengatakan bahwa armada asing itu tertangkap oleh radar sebelum melakukan penyerangan. Apa tidak aneh, mereka mengetahui ada 'sesuatu' yang mendekati mereka, namun tiba-tiba mendapat serangan sebelum memastikannya, mereka tidak menyebutkannya dengan detail di laporan. Tapi detail tentang menghilangnya armada itu membuatku tertarik dan berpikir keras."

"Aku sudah membaca laporan itu," ucap Lockon dan Sumeragi serempak menciptakan keheningan diruangan itu sesaat.

Tieria menatap ketiga orang itu dengan datar, serat dengan tuntutan yang harus dipatuhi. Sepertinya ia harus menegaskan ke semua kru yang dipilih dan direkutnya untuk membagi segala pemikiran mereka dalam menghadapi masalah ini dan yang sangat menguras otak. Terutama hasil pemikiran dan analisis mereka, "Aku juga sudah membaca laporannya, tolong katakan! Apa pendapat kalian mengenai itu?"

"Mereka memiliki GN Drive yang menghasilkan GN Particle yang berbeda dengan gundam Meisters," ucap Sumeragi menatap Tieria serius.

Hasilnya diluar dugaan Tieria dan terdiam dengan analisis Sumeragi.

"Sial…" Lockon mengumpat dengan geram, mengigit kuku ibu jarinya, "aku ingin mendapatkan hasil pemeriksaan GN Perticle merah mereka yang berbeda dengan punya mobile suit ESF dari tim teknisi, kalau begini tidak akan cukup dengan hanya memikirkan teknik kamuflase. Bagaimana bisa mereka menghilang dengan sekejap, dan muncul lagi dengan tiba-tiba?"

Setsuna mengerti situasi yang terjadi dari penjelasan yang ada. "Apa isi laporan itu sebenarnya?"

"Serangan itu dilaporkan terjadi dengan frontal dan brutal, tidak ada peringatan awalnya, sampai satuan ESF mendapatkan pastinya bahwa mereka diserang tepat digaris pertahanan mereka sendiri," jawab Allelujah, ia menatap Setsuna dengan serius, "pertanyaannya, kenapa gundam musuh itu bisa tertangkap di radar beberapa saat sebelum serangan diluncurkan? Kemudian menghilang dan muncul kembali dengan cara yang sama."

"Tapi diawal Sumeragi-san mengatakan bahwa mereka tidak tertangkap oleh radar," tegas Setsuna.

"Memang benar…" jawab Sumeragi, dengan segera Setsuna mengalihkan pandangannya dari Allelujah kepada wanita berambut merah tua itu. "Rincian dari semua laporan itu adalah disaat serangan kejutan pertama. ESF benar-benar tidak menangkap pergerakan diradar mereka dengan misi utama untuk patroli di Yupiter, jadi… ketika serangan kejutan itu datang, mereka benar-benar dikagetkan ketika peringatan diradar memberitahu mereka dan tidak menyempatkan diri untuk memastikan akan 'sesuatu' yang mendekat. Komando tertinggi ESF berpendapat kalau gundam musuh itu sudah ada didekat pertahanan mereka sebelum mereka muncul diradar. Setengah dari pasukan ESF dan bala bantuannya disapu habis, kemudian titik-titik diradar menunjukkan posisi setiap gundam musuh yang telah menghilang dengan serempak," Sumeragi mendesah dengan dalam, alisnya bertaut dalam dengan ekspresi yang tampak berpikir keras.

"Bahkan wujud mereka tidak tertangkap di monitor setelah serangan, kalau mereka benar-benar menggunakan GN Drive seharusnya gundam musuh itu tampak di monitor," tambah Lockon, "serangan kedua juga begitu…"

"Iya tentu saja, tapi ada jeda antara serangan pertama dengan serangan kedua ketika bala bantuan ESF yang kedua datang, lalu gundam musuh itu muncul kembali, menghancurkan satuan federasi dan menghilang lagi seperti asap," kata Allelujah.

"Perkiraanku adalah kemungkinan keberadaan mereka tidak jauh dari satuan federasi dan tidak terlihat," tambah Sumeragi.

"Aku mengerti sekarang," ucap Setsuna, "jadi… yang menjadi pikiran kalian adalah mereka bisa mengatur keberadaan mereka tanpa dideteksi dan berkamuflase?!" Setsuna menatap tajam kearah Sumeragi, Lockon, dan Allelujah. "Itulah kenapa kalian mengatakan kalau GN Drive mereka menghasilkan GN Particle yang berbeda dengan gundam kita, berdasarkan pemeriksaan tim teknisi tentang 'perbedaan' mencolok diantara keduanya."

"GN Particle yang dimiliki Celestial Being adalah yang dapat merusak radar, saluran komunikasi dan elektronik, tapi tetap dapat terlihat di monitor. Walaupun gundam kita memiliki sistem kamuflase eksternal, itu hanya digunakan untuk bersembunyi, tidak pernah dipakai untuk pertarungan," jelas Tieria.

Feldt mengernyitkan matanya, "Tapi bagaimana dengan Gundam Emas itu? Dia muncul dengan GN Drive yang menghasilkan partikel dengan skala besar seperti sayap, ukuran yang besar untuk menghasilkan dorongan besar hingga melesat dengan cepat."

"Masalahnya adalah Gundam Emas itu tidak meninggalkan partikel-nya diarea lokasi, tidak tahu kenapa bisa begitu," kata Lockon, rahangnya mengeras ketika mengatakannya. "Tapi dalam laporan itu, alat komunikasi mereka terganggu ketika Gundam Emas itu datang."

Sumeragi dan Allelujah terdiam dengan raut wajah serius, tahu akan dugaan Lockon selanjutnya karena mereka juga berpikiran seperti itu.

"Tapi…" Allelujah berbicara pelan, "partikel gundam musuh itu tidak merusak radar dan komunikasi ketika mereka menampakkan diri mereka saat menyerang, sehingga pesan dari Komando ESF dapat dikirim ke Bumi dan mengirimkan bala bantuan ke Yupiter."

"Eh… kau juga berpikiran seperti itu, Allelujah?" kata Lockon tersenyum kagum kepada pria bermata abu-abu cerah itu.

"Kenapa bisa begitu?" Tieria sedikit meninggi, "maksudmu GN Particle mereka bisa merusak radar dan dapat juga digunakan untuk tidak merusak komunikasi dan radar?! Sebenarnya siapa mereka?! Itu bukan GN Particle lagi, meskipun secara objektifnya mereka sama."

"Menghadapi 'musuh' yang tidak diketahui seperti ini sangatlah mengerikan dari pada musuh yang telah kita ketahui." Sumeragi mengepal tangannya, "tidak ada cara lain untuk mengetahui siapa 'mereka' selain dari data-data yang sedikit itu," ia menatap monitor dan berbicara dengan nada suara yang tenang, "meskipun kita pikirkan lebih lanjut, yang ada hanya menimbulkan pertanyaan baru yang pada akhirnya membingungkan kita. Itu sangat menyulitkan kita untuk mengambil keputusan dalam bertindak."

Setsuna hanya tersenyum tipis, "Aku rasa… itu sudah cukup hebat karena kalian bisa mengetahui mereka hanya dengan beberapa tindakan yang mereka lakukan," raut wajahnya berubah serius, "yang pastinya mereka telah meneror pendunduk, walaupun mereka bertujuan untuk mencari 'sesuatu'. Itu tidak bisa ditolerir dan harus dihentikan!"

Lockon tersenyum berdengus, "Apakah kau akan mengendarai Gundam-mu sekali lagi, Setsuna?"

"Untuk kejadian seperti ini! Tentu saja!" tegas Setsuna, ia membalikan badannya dan menatap Lockon.

Lockon sedikit bergeser dari posisinya—menyandarkan punggungnya ke dinding kapal, bersedekap dengan mantap sembari membalas pandangan Setsuna. "Ya… tentu saja," ucapnya pelan terkesan tidak yakin, ia menengadah melihat langit-langit kapal dan kembali melihat Setsuna. Bola mata birunya mengkilat tajam, "Mari kita bicara tentang suatu hal, Setsuna!"

Semua kru menatap Lockon dalam diam. Lockon memberikan aura yang kurang nyaman dalam suaranya yang serius, tenang, dan menekan.

"Mengenai apa itu?" tanya Setsuna, bola mata jingga kemerahannya berkilat lembut.

"Mengenai Putri Marina," jawab Lockon tegas.


To Be Continued...