Headset

-A Vocaloid Story-

Disclaimer :

Crypton, Yamaha, Internet, dll.

Genre:

Friendship, Romance

Rated:

T

Warning:

OOC, typo yang bertebaran, penggunaan bahasa yang

aneh, Gaje deh!


Sekarang aku berada di kamarku. Kalian mau tahu apa yang sedang kulakukan?

Biasanya kalau sedang hari libur seperti ini aku belum bangun, jadi aku bangun lebih pagi dari biasanya. Kalian tahu lah alasannya. Sekarang aku sedang berdiri didepan cermin, memandangi penampilanku sendiri. Entah kenapa, aku juga bingung kenapa aku berbuat hal konyol seperti ini.

Aku kan hanya ingin mengerjakan sebuah tugas dirumah si bodoh itu. Kenapa aku harus merasa gugup?! Aku sekarang mengenakan kaos lengan panjang berwarna kuning dilapisi jaket sebahu berwarna hijau dan celana training berwarna abu-abu. Menurut kalian itu jelek? Maaf saja, aku memang tidak pandai memilih-milih busana. Aku hanya mengenakan apa yang ada, tidak peduli dengan hal yang bernama 'keserasian'

Sekarang sudah jam setengah delapan, sebaiknya aku bergegas. Rumah Mikuo itu ternyata tidak begitu jauh dari rumahku, hanya berbeda satu atau dua komplek dari rumahku. Itu menguntungkanku sih, aku jadi tidak perlu menggunakan kendaraan umum, cukup berjalan saja. Hitung-hitung irit.

Cukup basa-basinya, waktunya pergi.

.

.

.

Kediaman Hatsune

Emm…

Sepertinya aku tidak salah tempat.

Sekarang aku berada didepan rumah besar bertingkat dua, sekarang baru jam delapan lebih empatpuluh lima menit, terlalu cepat limabelas menit.

Tanpa banyak *coret*cingcong*coret* basa-basi, kutekan bel yang berada di samping pintu rumah tersebut.

TINGTONG

Tak lama setelah aku menekan bel, terdengar suara langkah yang terdengar seperti sedang terburu-buru.

CKLAK

Pintu terbuka.

Yang keluar bukan Mikuo, melainkan seorang perempuan yang kutaksir masih SMP. Dari pengamatanku sih sepertinya dia adiknya Mikuo.

"Ano… Siapa ya?" Ucapnya kebingungan.

"Apa benar disini kediaman Hatsune Mikuo?" Jawabku formal.

"Iya benar, memangnya kenap… Eeeh?! Ti-Tidak mungkin" Dia menjawabku dan juga histeris disaat yang bersamaan.

Sebelum aku dapat berkata apapun dia melengos kedalam dan berteriak.

"KAA –SAAAN! MIKUO –NII TERNYATA PUNYA TEMAN CEWEEEK!" Ucap perempuan tersebut tak kalah keras dari speaker yang dipakai buat kampanye.

Jujur. Aku bingung dengan respon yang sebegitu hebohnya.

"Miku, jangan berteriak-teriak begitu! Berisik tahu!" Ucap seorang wanita muda kepada perempuan tadi yang sekarang kita ketahui bernama Miku. Sekarang kutebak, ini pasti Ibunya Mikuo.

"Aduh maaf ya, kelakuan anak Bibi memang kadang-kadang lebih gila dari orang gila, silahkan masuk" Ucap orang yang kutebak sebagai Ibunya Mikuo.

"Ah… Terima Kasih" Ucapku lalu memasuki rumah tersebut.

Setelah itu, aku dipersilahkan duduk dan diberi beberapa camilan dan teh.

"Kau pasti temannya Mikuo ya? Bibi Ibunya" Benar kan? Dia memang ibunya Mikuo.

"Begitulah" Jawabku singkat namun sopan, aku tidak mau dicap orang yang acuh dalam keadaan seperti ini.

"Pantas saja kemarin sepulang sekolah Mikuo langsung membereskan kamarnya" Ucap Ibu Mikuo santai.

"Nee~ Nee –san siapanya Mikuo –nii?" Tanya adik Mikuo, Miku.

Pertanyaan macam apa itu?!

"Ehh… Ka-Kami cuma teman sekelas kok" Jawabku gugup. Kenapa aku gugup?! Bodoh!

"Oh iya, ngomong-ngomong namamu siapa?" Sekarang giliran Ibunya yang bertanya.

"Oh… Maaf, namaku Kagamine Lenka" Jawabku

Aku pun di 'interogasi' oleh Ibu dan bahkan Adiknya Mikuo. Sebenarnya aku merasa risih jika menghadapi yang seperti ini, tapi apa boleh buat.

"Permisi" Ucap seseorang sambil membuka pintu. "Bibi, apakah aku boleh masuk?"

"Kau kan sudah masuk Kagene –kun" Jawab Ibu Mikuo sweatdropped.

Nice Timing Rei!

"Hehehe… Lho Kau sudah disini rupanya Lenka?" Ucap Rei santai.

Aku tidak menjawabnya, tidak perlu.

"Kagene –nii, dia ini temanmu juga ya?" Tanya Miku kepada Rei, nampaknya mereka sudah saling kenal.

"Begitulah" Jawab Rei singkat "Mikuonya?"

"What?" Sahut seseorang dari arah tangga, itu Mikuo.

"Eh… Orangnya datang" Ucap Miku. "Ohayou Nii –san"

"Ohayou…" Jawab Mikuo sambil berjalan kemudian duduk di sofa tempat kami mengobrol.

"Mikuo, kenapa kau tidak bilang kalau ada teman-temanmu datang? Kaa –san kan belum sempat masak!" Omel Ibunya kepada Mikuo.

"Kaa –san, kenapa Kaa –san tidak menyuruh mereka masuk ke kamarku saja?" Bukannya menjawab pertanyaan Ibunya dia malah balik bertanya.

"Haah~ Kau ini, setidaknya sapa dulu deh teman mu itu!" Kata Ibunya sedikit jengkel. Dasar Mikuo kurang ajar!

"Yo" Sapa Mikuo kepadaku dan Rei.

Sepertinya dia memang baru bangun.

"Kau tidur jam berapa semalam?" Tanya Rei.

"Semalam? Maaf, aku baru tidur pagi ini" Jawab Mikuo malas.

"Eh… Ngomong-ngomong kalian mau ngapain sih?" Tanya Miku penasaran.

"Ini urusan orang dewasa, anak kecil tidak perlu ikut campur" Jawab Mikuo meledek.

"Aku ini sudah besar tahu!" Protes Miku.

"Tidak ada orang dewasa yang tidur sekamar dengan kakanya, satu kasur lagi"

Ha-Hah!? Aku gak salah dengar?! Mereka tidur bareng?! Tidak Kusangka!

"Di-Diam!" Miku sepertinya kehabisan kata-kata. Jadi memang benar.

"Dan kalian, terutama kau Lenka. Jangan berpikiran yang macam-macam!" Ucap Mikuo tajam.

"Kalau aku sih sudah tahu hahaha" Tawa Rei datar.

Aku diam.

Speechless deh pokoknya.

"Hei Mikuo, nanti Kaa –san ingin pergi dengan Miku, kau jaga rumah ya" Ibu Mikuo buka suara.

"Iyalah Kaa –san, ngapain juga aku keluar rumah segala, kita kan ngerjain tugas dirumah. Lagian aku juga malas kalau keluar rumah" Jawab Mikuo santai. Sepertinya Ibu Mikuo sudah sangat mengerti dengan sifat anaknya ini.

"Ohh Yaudah" Ibu Mikuo pun pergi ke belakang. "Temanmu suruh masuk saja ke kamarmu sana".

"Memang itu tujuanku" Jawab Mikuo. "Oh ya. Sementara aku jaga rumah, Kaa –san jaga Miku ya! Anak kecil kalo diajak jalan-jalan biasanya suka keluyuran gak jelas hahaha".

"Nii –san! Bisakah kau diam?!" Miku sepertinya sudah pada puncak amarahnya.

"Iya iya" Jawab Mikuo enteng.

Sepertinya hubungan Kakak-Adik mereka tidak begitu buruk.

"Lebih baik kita ke kamarku sekarang Rei, Lenka" Ajaknya.

"Begitulah"

"Hnn…"

.

.

.

.

Takjub.

Itu kesanku ketika memasuki ruangan yang disebut kamar ini. Kalau orang biasanya bilang 'Kamarku ada di lantai dua', tapi ini beda. Yang ini disebutnya 'Lantai dua itu kamarku'. Pantas saja Mikuo menyebut ini 'Istana' nya. Jelas saja, kamar berukura meter ini cukup –tidak… terlalu luas untuk satu orang! Ehm… ralat lagi, mereka kan tidur sekamar. Isinya? Cukup rapih walaupun ada satu sudut yang terlihat paling berantakan. Di sudut itu terdapat kursi besar dan meja beserta komputernya, kurasa itulah tempat Mikuo menjalani keseharian. Ditambah lagi, terdapat kamar mandi di kamar ini. Benar-benar 'istana' deh.

Jujur, ini membuatku sedikit iri. Bukan karena apa, tapi ini kan dapat membuat segalanya menjadi praktis. Lihat saja! Bahkan disini ada Kulkas dan kompor kecil! Dia pasti memang benar-benar tidak pernah keluar kamarnya kalau memang benar-benar tidak ada perlu.

"Well… Welcome in my palace" Ucap Mikuo seperti pelayan yang ada dalam film-film.

"Waah… Ternyata kau memang benar-benar merapihkannya ya kemarin?" Tanya Rei jahil.

"Begitulah" Jawab Mikuo datar. "Ngomong-ngomong kalian mau minum apa?"

"Kau masih punya hot chocolate?" Tanya Rei meminta.

"Masih, Kau mau itu?" Mikuo balik bertanya. Rei mengangguk. "Lalu kau apa?" Tanyanya kepadaku.

"Aku sama saja" Jawabku.

"Baiklah" Ucapnya lalu beranjak menuju sebuah meja kecil di sebelah kulkas. Di meja tersebut terdapat dispenser, beberapa gelas dan barang-barang lainnya.

"Kau benar-benar tidak pernah keluar kamar ya?" Tanyaku

"Selain bersekolah? Tidak" Jawabnya santai.

"Lalu darimana kau dapat barang-barang ini?" Tanyaku lagi. Sepertinya aku akan berganti mengintrograsinya.

"Aku menyuruh Miku"

"Adikmu mau saja disuruh-suruh dengan orang sepertimu"

"Aku membuat perjanjian dengannya"

"Ooh… Begitu"

"Hei Mikuo, apa tidak apa-apa kau tidur sekamar dengan adikmu itu? Bahaya tahu! Satu kasur lagi!" Ini bukan aku, melainkan Rei.

"Kan sudah kubilang jangan berpikir yang macam-macam! Lagian aku itu selalu tidur lebih dulu daripada Miku" Jawabnya sambil membuat minuman.

Oh iya, aku penasaran dengan pola hidupnya.

"Lalu, pola hidupmu itu seperti apa?" Tanyaku.

"Entahlah, rumit kalau dijelaskan" Jawabnya enggan.

"Jelaskan saja, dia akan mengerti kok. Dia kan pintar, tidak sepertimu hahaha" Ledek Rei.

"Sialan kau!" Umpatnya kesal. "Baiklah, begini…"

Dia mulai menjelaskan.

"Jadi… Jam Dua sepulang sekolah aku langsung pulang kerumah, sesampai dirumah aku mandi dan makan sampai kira-kira Jam Tiga, lalu tidur sampai jam Sembilan. Setelah itu, aku makan malam, belajar dan mengerjakan tugas sampai jam Duabelas. Sisanya aku berkutat dengan komputerku, kalau benar-benar sibuk biasanya sampai pagi, tapi kalau tidak begitu sibuk paling hanya sampai Jam Empat, lalu tidur lagi kalau sempat. Kemudian Jam Lima aku mandi, menyiapkan buku dan sarapan. Dan yang terakhir, berangkat ke sekolah pada jam Enam. Selesai" Jelasnya panjang-lebar.

"Oh ya, dan jika kalian masih berpikiran yang tidak-tidak, akan kutambah sedikit lagi. Miku itu baru tidur sekitar Jam Sembilan atau Sepuluh, jadi saat dia tidur aku baru bangun. Tapi tidak menentu juga sih" Tambahnya.

"Iya iya" Balas Rei santai.

Hebat. Manajemen waktunya bagus, berbeda denganku yang tidak begitu teratur. Jadi dia menukar waktu malam dan siangnya seperti itu. Tapi tetap saja itu tidak sehat!

"Kau melakukan rutinitas seperti itu sejak kapan?" Tanyaku.

"Umm… Mungkin sekitar dua tahun lalu" Dua tahun lalu? Berarti sejak dia kelas tiga SMP.

"Hebat juga kau, bisa mengatur waktu seperti itu. Itu tidak mempengaruhi kesehatanmu?" Tanyaku lagi.

"Terimakasih atas pujianmu" Katanya sambil tersenyum tipis sembari memberi hot chocolate kepadaku dan Rei. "Awalnya aku sempat sakit, tapi itu tidak lama. Sekarang aku juga sudah terbiasa, paling hanya sedikit mengantuk saja kalau di sekolah"

"Sedikit katamu? Kau itu hampir setiap siang tidur tahu!" Kali ini Rei membuka suara.

"Haha… Memang sih, biasanya aku membawa kopi kalengan seperti ini ke sekolah agar tidak mengantuk. Sebelumnya aku malah pernah membawa kafein, tapi akhir-akhir ini aku sudah berhenti menggunakannya" Terangnya sambil sedikit-sedikit meminum kopinya itu.

Tidak kusangka dia sudah pada tahap 'obat-obatan'.

"Kau kan tahu menggunakan obat-obatan itu hanya akan membuat penyakit" Ucapku menasihati.

"Tadi kan kubilang aku sudah mulai berhenti menggunakannya. Sebenarnya Miku sih yang menyuruhku berhenti, dia kalo udah marah bawel soalnya hehe" Ucapnya sambil sedikit tertawa.

Jadi begini ya kehidupan seorang Hatsune Mikuo. Aku berhasil mengetahuinya.

"Tapi kau tumben hari ini banyak bicara. Kerasukan apaan kau? Hahaha" Ledek Mikuo. Dasar! Kau harusnya merasa beruntung sudah kuajak berbicara banyak!

"Berisik!" Ucapku sewot.

"Sebenarnya malah bagus lho! Kalian jadi bisa bersosialisasi sesama makhluk hidup, tidak seperti biasanya. Hahaha" Ledek Rei.

"Memangnya seburuk itukah aku?" Tanya Mikuo kesal. Aku juga kesal sih.

"Tidak begitu sih, tapi yah… Begitulah hahaha" Dasar gak jelas! "Daripada itu, lebih baik kita berdiskusi untuk karya ilmiah kita"

"Cih, mengalihkan topik" Umpatku.

"Hahaha… Yasudah tunggu sebentar" Ucap Mikuo lalu menghabiskan kopi miliknya.

"Eh? Kau mau kemana?" Tanya Rei.

"Mau mandi, aku tidak mau kalian protes kebauan oleh bau badanku yang seperti bau surga hahaha" Jawabnya tertawa dan langsung berlari kecil menuju kamar mandinya.

"The F*ck!? Pantas saja aku mencium bau tidak sedap! Aku tidak mau masuk surga jika seperti itu" Ucap Rei mencak-mencak sendiri.

Dan sekarang aku berada diantara dua orang idiot.

"Eh Lenka! Jangan menatapku seperti itu dong! Aku tadi pagi mandi! Sumpah!" Ucap Rei membela dirinya. Aku hanya tersenyum melihat reaksinya itu.

Memiliki teman itu enak ya…

To Be Continued

Wahaha... Nyaris aja gak saya update nih chapter wkwkwk. Mumpung udah berbulan-bulan gak update, saya akan sedikit merubah jalan cerita aslinya (padahal yang asli aja saya belom dapet :p)

Yaudah, see you next chap!

Jaa~