Perhatian: Seluruh cerita Hetalia yang ada di dalam fanfiction ini adalah murni fiksi dengan setting Alternate Universe di mana mereka tidak dianggap sebagai sebuah entitas Negara, melainkan sebagai individu yang memiliki kehidupan pribadi dan emosi layaknya manusia. Cerita ini tidak ada hubungannya dengan kisah Hetalia pada serial aslinya. Di dalamnya juga terdapat crack pairing Ger/Ukr atau Ludwig x Katyusha. Bila ada kesamaan nama atau tempat di dunia nyata, itu hanya kebetulan. Terima kasih atas perhatiannya. Selamat membaca.

Disclaimer: Hetalia – Hidekazu Himaruya

Pairing: Ger/Ukr

Genre: Drama/Family/Romance

Rating: T

604.080 detik

Chapter 3: Jam Pasir

Ludwig POV

Senin

16.30 sore

"Woi! Apa loe gak mikir kalo kerjasama ini bakalan ngerepotin kite? Itu East Bloc Energy lho!" tutur abangku yang masih meragukan rencana kerjasama yang akan perusahaan kami lakukan dengan perusahaan energi dari daerah timur tersebut.

"Mon ami, kita butuh pasokan energi baru segera, non? Apa kau juga tak khawatir bila perusahaan kita tidak bisa menyalurkan energi listrik lagi pada seluruh masyarakat? Dan bagaimana dengan kelangsungan industri di negara ini?" jawab pria berjanggut tipis yang berjalan tepat di sebelah kanan abangku.

"Arghh! Pusing! Gue sih masih ragu sama rencana ini, Pak Jenggot…jujur aja nih, kalo kite kerjasama sama mereka, mungkin kite bakal berurusan sama petugas departemen lingkungan hidup negara bagian ini. Males Gue!" ujar abangku sambil mengagaruk garuk kepalanya dengan kesal.

"Hon hon hon!" suara tawa pria berambut ikal sepundak yang berjalan di sebelahnya. "Kau ini terlalu khawatir sekali, Monsieur Albino" lanjutnya santai "Kalau sampai mereka menuntut kita ke Pengadilan, kau pasti yang pertama kali akan mereka seret ke Hotel Prodeo. Kangen sama 'rumah masa lalu' kan?" ujarnya sambil tertawa terkekeh kekeh.

"Buju buset dah! Sekate kate loe! Loe nyumpahin gue balik ke sel lagi, Kodok Bangkong?" ucap abangku kesal. "Loe temen gue apa musuh gue sih?" lanjut abangku yang masih marah dengan pernyataan Francis tadi sementara tangan kanannya berusaha menonjok wajah Francis.

Dengan sigap Francis menangkis tonjokan abangku dengan kedua tangannya. "Eits, maaf, mon ami…cuma bercanda kok, jangan marah" sahutnya dengan santai seolah bermain main dengan kepribadian abangku yang cukup temperamental.

Meski pernyataan Francis terdengar sangat menyinggung perasaan, abangku tetap saja tidak bisa benar benar marah padanya. Dari kejauhan kulihat sosok mereka berdua berjalan menyusuri koridor kantor dan saling bertukar tonjokan di wajah. Memang sekilas tampak seperti tonjokan biasa namun sebenarnya mereka hanya melakukannya dengan tidak sungguh sungguh…hanya bermain main dengan akrabnya layaknya dua orang anak kecil yang sedang bercanda dengan riangnya. Mungkin di dalam pikiran mereka, bermain main dengan bertindak sedikit kekanakan di luar ruang rapat adalah cara yang tepat untuk menghilangkan rasa stress usai rapat yang berlangsung sedari pagi sampai sore ini.

Aku yang berjalan sendirian di belakang mereka merasa sedikit kesepian. Diriku yang hanya bisa mengamati mereka jauh dari belakang menyaksikan betapa mereka tampak begitu ekspresif dan lepas dalam mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain. Sementara aku…aku merasa seperti sendirian. Aku merasa seperti hidup di alam yang berbeda dengan mereka. Mereka nampak begitu lepas, ceria dan penuh kegembiraan seolah tidak memiliki beban aturan dalam bersikap. Di lain pihak, aku…aku tidak bisa seperti mereka. Sejak dulu kakekku mendidikku untuk tidak bersikap casual pada orang lain bahkan terhadap temanku sendiri. Sekarang aku sering berpikir bahwa aku ini hanya pria yang membosankan yang hanya bisa bekerja tanpa bisa bersosialisasi layaknya mesin. Jujur saja, di lubuk hatiku yang terdalam, aku sangat iri pada abangku yang begitu ekspresif dan ceria.

Sejenak kulupakan segala pikiranku terhadap mereka berdua yang sudah berjalan lebih dahulu menjauh dariku. Kupandang langit yang berwarna jingga lembut dari jendela kaca gedung perusahaan yang lebar tak bertepi itu. Cahaya matahari sore yang terpantul di jendela terasa sangat hangat dan menenangkan jiwa. Aku berjalan sambil menatap awan sore dari ketinggian gedung di lantai 20 itu. Kurentangkan lengan tangan kananku ke arah langit tak bertepi tersebut seolah ingin menggapainya. 'Andai aku dapat terbang keluar dari gedung ini, mampukah diriku menggapai langit kebahagiaan dan melihat dunia luar dengan terlahir kembali menjadi diri yang baru?' tanyaku dalam hati.

Baru saja aku terlarut dalam lamunanku, tiba tiba kurasakan lengan kananku sedang dipeluk oleh seseorang. Aku terkejut dengan keberadaan dua lengan ramping yang memeluk lengan kiriku dengan sangat erat itu.

"Sedang apa Luddy? Apa kau begitu kesepian?" Tanya suara manja yang tidak lain adalah milik Mona adik dari Francis Bonnefoy.

Segera kupalingkan wajahku ke arahnya dan dengan paksa kulepaskan lengan kiriku yang membawa dokumen rapat dari pelukannya. "Ah…Nona Mona, maaf…aku tidak memperhatikan keberadaanmu. Kalau Nona sedang mencari Francis, saat ini dia sedang berjalan ke ruangannya bersama abangku" ucapku yang masih terkejut dan sedikit ketakutan atas tindakannya yang menurutku tidak sopan untuk dilakukan di ruang publik seperti ini. Karena aku tidak ingin menciptakan rumor tak sedap tentang hubungan kami, maka akupun buru buru menjaga jarak darinya dengan berdiri beberapa meter dari hadapannya.

"Ayolah Luddy…jangan kaku begitu, santai saja padaku" ujarnya dengan nada menggoda. Dia berjalan selangkah demi selangkah menuju ke arahku sambil melepaskan kacamatanya dan memperlihatkan bola matanya yang berwarna violet itu. Senyuman menggoda dan tatapan tajam dari kedua bola matanya itu benar benar seperti tatapan serigala yang kelaparan dan siap menerkam mangsanya sampai tak bersisa. Sedikit demi sedikit peluhku mengucur dari dahiku.

Entah kenapa aku merasa ketakutan seperti ini sampai sampai aku tak menyadari bahwa diriku sendiri sudah terpojok di sudut jendela tak bergerak menghadapi serangannya. Aku yang tak kuasa bergerak dari keterpojokkanku itu berusaha sebaik mungkin untuk memperingatkannya dengan sopan "Nona…tolong jaga sikap anda. Aku tak ingin orang lain melihat ki…"

"Ssshhh…" tiba tiba telunjuk kanannya ditempelkan di bibirku untuk menghentikan segala ucapanku. "Aku tak peduli apa kata orang lain…bahkan aku tak peduli apa anggapan kakakku dan abangmu" ucapnya santai dengan sedikit mendesah. Kurasakan tubuh kami saling bersentuhan sementara tangan kirinya menarik dasiku ke bawah dan leherku pun terpaksa menunduk sampai aku bisa merasakan desahan nafas wanita berambut cokelat gelap yang dikuncir kepang itu.

"Kau jahat! Kau bahkan tak menjawab teleponku tadi pagi. Aku tahu kau hanya malu malu saja pada seorang wanita yang mendekatimu…padahal sebenarnya kau ini kan…" desahnya pelan. Tiba tiba kurasakan bibirnya mendekati telinga kiriku dan berujar "aku tahu…kau maniak… porno, hm?"

Kata katanya barusan sungguh mengejutkanku. 'Bagaimana mungkin dia bisa mengetahui rahasia yang kusimpan selama ini dari orang lain!' pikirku panik. Seketika tubuhku bergetar, pikiranku kacau dan keringat dinginku mengucur di sekujur tubuhku. 'Apa kata orang jika mereka tahu aku sering menyimpan DVD porno di dalam lemari pakaian dan di laci meja kerjaku?' teriak hatiku yang ketakutan dengan keadaan ini. Aku akui aku benci pada wanita. Namun di lain pihak, hasratku sebagai lelaki dewasa tidak bisa kukendalikan dengan baik sampai detik ini meskipun aku sudah berusaha menutupinya dengan bersikap dingin pada siapa saja. Abangkupun sangat keheranan dengan keanehan perilaku seksualku ini yang sering disebut oleh para psikolog sebagai Voyeurism.

"Wajahmu terlihat begitu pucat, Luddy sayang" ujarnya berbisik. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke wajahku yang sudah sangat panik. "Aku tahu apa yang kau sembunyikan terutama DVD yang berisikan adegan…hmm…BDSM…nakal" Kulihat bibirnya memperlihatkan senyum kemenangan.

"Tidak seru kalau cuma ditonton saja. Bagaimana kalau kita segera mempraktekkannya? Enak lho" tanyanya dengan berani sementara pandangan matanya terlihat mengeksplorasi seluruh bagian tubuhku dengan tatapan penuh nafsu.

"Cukup! Cukup, Nona Bonnefoy! A…aku tidak i...ingin meneruskannya lagi" ucapku ketakutan. Sejenak kurasakan bahwa aku sudah kehilangan kontrol nafsuku, emosiku dan ketakutanku atas segala teror mental yang ia hujamkan padaku.

"Ahh…jangan bersikap munafik pada seorang wanita yang merelakan dirinya untuk menjadi milikmu, non?" ujarnya dengan tersenyum geli. "Hmm…bagaimana kalau aku menawarkan diri untuk mencucikan kemejamu yang tampak kotor ini, Luddy. Ayo lepaskan kemejamu" tak kusangka jari telunjuknya mengusap jejak noda noda minuman yang tumpah di kemejaku. Tak lama kemudian seluruh jemarinya mulai mengeksplorasi bagian kancing kemeja yang selama ini selalu kukancingkan dengan baik. Dadaku berdegup kencang, kurasakan pipiku memerah dan nafasku terengah engah. Ini keterlaluan! Aku sadar betul bahwa diriku sudah tidak bisa menahan emosi, hasrat dan ketakutanku.

BRAK Tiba tiba kedua tanganku dengan refleksnya segera mengehempaskan tubuhnya ke lantai.

"Kyaaaa!" teriak wanita itu yang jatuh tersungkur tepat di hadapanku. Aku sudah tak mempedulikan lagi kode etik perilaku seorang gentleman terhadap para wanita yang diajarkan kakekku kepadaku. Bagiku yang terpenting saat ini adalah segera menghindar dari seseorang yang berusaha memanfaatkanku untuk memenuhi nafsu birahinya. Akupun segera berlari menuju ke ruanganku di mana aku bisa menenangkan segala emosi dan pikiranku yang sempat dikacaukan olehnya. Entah sudah berapa banyak wanita dan pria yang berusaha menyerangku secara seksual sejak kecil. Hanya dengan berlari dari mereka atau menghajar merekalah aku bisa mempertahankan diriku yang ketakutan karena trauma yang sudah kutanggung sejak kecil ini.

"Luddy! Tunggu!" teriak Mona yang berusaha berlari mengejarku. Aku yang ketakutan semakin memacu kecepatan lariku sampai sampai aku tidak menyadari bahwa aku sudah melalui Francis dan abangku yang berjalan dengan santainya.

"Lud! Ngapain loe tiba tiba lari nyelonong aja? Ada apaan sih?" abangku berteriak kaget pada tingkahku yang pasti dianggapnya aneh ini. Namun, aku tetap tak berdaya bila ketakutanku mulai menjajah akal sehatku. Sehingga aku lebih memilih untuk menutup mulutku dan tidak membalas pertanyaannya.

Ketika aku sudah sampai di depan ruanganku, tiba tiba kulihat sesosok wanita muda berambut pirang terlhat sedang berdiri di depan pintu ruanganku sambil memegang kemejaku yang terlipat rapi serta sebuah amplop putih kecil di atasnya.

"Se…se…selamat sore Tu…Tuan Presiden Direktur" ujarnya dengan terbata bata.

"Huff…huff…ja, ada perlu apa?" jawabku dengan nafas terengah engah. Akupun segera menghentikan langkahku. 'Celaka! Ada wanita lagi!' pikirku kesal dalam hati. Aku yang masih ketakutan karena kejadian tadi masih belum ingin bertemu dengan siapapun hari ini termasuk wanita ini.

"Sa…saya…Katyusha…OB di perusahaan i…ini. Ma…maafkan atas kecerobohan saya tadi pagi" ucapnya kikuk sambil menyodorkan kemejaku yang telipat rapi dalam genggamannya. Kulihat dia tampak ketakutan, tubuhnya terlihat gemetaran termasuk buah dadanya yang begitu besar. Sementara wajahnya menunduk untuk menyembunyikan butiran air matanya yang jatuh.

"Oh…kau OB yang tadi pagi menabrakku ja?" ujarku dingin padanya. Aku tak menyangka dia begitu serius dan bertanggung jawab pada apa yang telah dilakukannya tadi pagi padaku. Padahal sebenarnya aku tidak begitu mempedulikan jas yang sudah ternoda itu sebab aku sendiri masih memiliki banyak jas mewah di dalam lemariku. "Kau boleh menyimpannya!" lanjutku datar sambil memegang gagang pintu masuk menuju ruanganku.

"Ta…tapi…Tuan…" sanggah wanita berbandana kuning itu. Dengan memelas dia berusaha menyerahkan kemeja itu kembali padaku.

"LUDDY!" kudengar suara teriakan histeris Mona memanggilku yang masih terus berlari mengejarku.

"Woi! Mona! Jangan gangguin adek gue!" teriak abangku yang berusaha menghentikan wanita itu.

'VERDAMNT!' umpatku dalam hati. "Sudahlah, aku buru buru! Nanti temui aku lagi nanti!" ujarku dengan terburu buru pada OB yang bernama Katyusha. Akupun segera memasuki ruanganku secepat kilat sebelum Mona menyerangku lagi.

BLAM suara pintu tertutup keras. Segera kukunci pintu itu dari dalam. Kutenangkan pikiran dan emosiku. Kutarik nafas pelan pelan agar rasa panikku segera hilang.

"Hei, Kraut! Sudah lama aku ingin berbicara empat mata denganmu" sahut suara Arthur Kirkland dari arah belakangku. Aku yang terkejut tak menyangka dia sudah ada di dalam ruanganku sebelum kehadiranku. Kupalingkan wajahku dan kudapati dia sedang duduk santai di balik meja kerjaku. 'Oh tidak, cukup sudah' keluhku dalam hati.

"Apa yang harus kita bicarakan lagi, Kirkland? Dan kenapa kau ada di dalam ruanganku tanpa seizinku" tanyaku ketus padanya. Kurasakan aura tak bersahabat dari sosoknya yang duduk di kursi kerjaku itu.

"Kau bertanya tentang apa masalahku? Haruskah aku mengingatkanmu tentang pembicaraan kita tadi pagi?" sahutnya dingin sambil memelototiku.

"Kurasa sudah jelas jawabannya, aku tidak akan memakai kewenanganku untuk mempengaruhi keputusan Rapat Umum Pemegang Saham. Apa perlu kutuliskan jawabanku pada selembar kertas?" jawabku dingin. Aku segera melangkah ke arah lemari yang ada di samping kiri meja kerjaku untuk meletakkan arsip dokumen rapatku tadi pagi.

"Kau!" teriaknya marah padaku. Kurasakan hentakan kakinya ke lantai dan kurasakan pula aura kemarahannya padaku meski saat ini aku sedang membelakanginya demi merapikan arsip dokumen rapatku.

"Apa kau tidak punya perasaan dan pertimbangan masuk akal sama sekali, Kraut?" tanyanya sinis. "Proposalku itu sangat menjanjikan dan jauh lebih baik daripada rencana yang diupayakan oleh Si Jenggot itu! Aku heran kenapa Rapat Umum Pemegang Saham lebih memihak Si Jenggot, termasuk kau!" ujarnya penuh emosi.

"Kirkland, aku sangat percaya bahwa kau adalah salah satu orang yang sangat mengenal diriku selain abangku selama kita bekerja di perusahaan ini" jawabku dengan penuh ketenangan. Kuhentikan kegiatanku untuk sementara dan kupalingkan pandanganku kepadanya. "Aku yakin kau mengenalku sebagai manusia yang amat sangat taat pada prosedur perusahaan kan?" lanjutku tegas. Aku yakin dia mengerti apa maksud perkataanku.

Kemudian dia segera bangkit dari duduknya dan menghampiriku. "Baik! Aku mengenalmu sebagai seseorang yang taat pada prosedur yang dibuat oleh perusahaan ini, tapi kau dan abangmu juga punya hak untuk memberikan suara dalam rapat ini sebagai salah satu pemegang saham kan?" ucapnya yang masih mempersoalkan kewenanganku. "Sebagai seorang partner lama yang setia, berikanlah suaramu dalam Rapat lusa nanti untuk kemenanganku, Kraut!" bujuknya.

"…" aku tak bisa menjawab satu patah katapun atas permintaannya itu. Sebenarnya aku sangat ingin sekali mendukung isi proposalnya yang kupikir juga sangat baik dan cukup menguntungkan. Akan tetapi, aku tidak bisa mengabaikan apa yang telah diputuskan oleh Rapat Umum Pemegang Saham. Aku sadar, meski aku memiliki ribuan jumlah suara, aku tetap tidak bisa mempengaruhi keputusan pihak lain yang memiliki kepentingannya masing masing dalam proyek ini. Inilah yang kusebut dengan politik tingkat tinggi internal perusahaan. Sejujurnya, aku tak menyukainya.

"Apa ini artinya kau menyutujui permintaanku?" tanyanya penuh harap.

"Maaf, Kirkland. Meski kami memiliki porsi saham terbesar, aku dan kakakku tetap tak bisa mempengaruhi kepentingan para pemegang saham lain dalam proyek ini…aku hanya ingin kau bisa menerima kenyataan ini" jawabku yang masih merasa bersalah karena tidak mampu untuk membantunya. Aku berusaha untuk menghidarinya dengan melangkah cepat menuju ke arah meja kerjaku yang saat ini penuh dengan tumpukan dokumen dokumen penting yang harus kutandatangani. Ketika aku duduk di kursi kerjaku dan mulai memeriksa seluruh dokumen tersebut, tiba tiba dia membanting sebuah stopmap berisikan proposalnya ke mejaku.

"Bacalah! Periksalah! Apa yang kurang dari proposal ini? Katakan padaku" perintahnya kesal.

"Baiklah…akan kubaca sekali lagi" jawabku tenang. "Tapi apa gunanya bagi diriku membaca proposalmu ini sekali lagi bila keputusan mereka tetap tidak bisa berubah?" lanjutku lagi.

"Sudahlah baca saja! Ambil kacamatmu dan baca isi proposal tersebut dengan seksama!" perintahnya dengan kesal.

"Kalau itu maumu…" sahutku tanpa ada keinginan sedikitpun untuk memprotes pria yang sangat keras kepala ini. Segera kupakai kacamata bacaku yang bening tanpa frame tersebut. Pada kulit stopmap itu tertulis sebuah judul proposal 'EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI GEOTHERMAL DI DAERAH RUSLAVILLE'.

"Ruslaville, bukankah itu sebuah desa kecil yang terletak berbatasan antara negara bagian kita dengan negara bagian Novograd kan?" tanyaku ingin tahu.

"Ya, benar. Populasi penduduknya mayoritas adalah suku Rusolav dan jumlah mereka sangat kecil. Pada umumnya mereka bekerja sebagai petani…kalau tidak salah daerah itu adalah penghasil bunga matahari yang sangat terkenal sejak jaman dahulu" jawabnya mantap. "Kau tertarik?" lanjutnya ingin tahu.

"Mendengar apa yang telah kau utarakan tadi tentang profil daerah ini, kurasa sangat kecil kemungkinan bagi daerah ini untuk bisa dijadikan sebagai pusat eksploitasi geothermal dan aku sama sekali belum pernah mendengar laporan dari para ahli bahwa desa ini memiliki potensi sumber daya alam yang menjanjikan semacam itu" jawabku logis.

"Apa maksudmu? Apa kau tidak tahu bahwa Profesor Edward Von Bock yang terkenal itu dari Fakultas Geologi Universitas Albion telah menerbitkan hasil risetnya tentang potensi tambang di daerah itu selama bertahun tahun?" ujarnya dengan meyakinkan. "Coba kau baca lagi proposal tersebut, di dalamnya ada hasil kutipan dari riset geothermal Prof Von Bock!" perintahnya sambil menunjuk nunjuk stopmap proposal itu.

Kubuka buka kembali halaman proposal itu. Memang benar aku sudah pernah membacanya namun aku sama sekali belum yakin pada isi dari hasil riset tersebut karena pihak pemerintah negara bagian Hetalinen belum pernah menerbitkan data secara resmi tentang potensi alam desa Ruslaville yang konon katanya merupakan tanah suci suku Rusolav.

TOK TOK TOK terdengar suara ketukan keras dari arah pintu kamar kerjaku. "Woi, Lud! Bukain pintu dong!" teriak abangku dari balik pintu.

"Apa kau mau aku membukakan pintunya, Kraut?" ujar Kirkland yang sepertinya risih dengan ketukan pintu dan teriakan abangku dari luar.

Aku tak menjawab, aku hanya memberikan anggukan kepala saja tanda persetujuanku. Seluruh perhatianku hanya tertuju pada isi riset yang dikutip dalam proposal tersebut. Pikiranku hanya terfokus pada tulisan Prof Von Bock yang sangat menarik terutama mengenai cadangan energi geothermal di daerah itu yang mencapai 80% dari total cadangan energi geothermal dunia. Aku sungguh takjub dengan isi hasil laporannya yang mencengangkan itu. Mungkin benar anggapan orang orang bahwa Arthur Kirkland memiliki insting yang tajam dalam industri pertambangan energi dunia.

"Hei Lud, ngapain loe beduaan sama si alis tebel ini di ruangan loe?" teriak abangku yang tiba tiba muncul tepat di hadapanku. Seketika konsentrasiku buyar karena kemunculannya.

"Uh…oh…maaf…aku sedang membaca proposal yang dibuat oleh Kirkland" sahutku kaget. "Kau lihat ini Bang" lanjutku sambil menunjukkan isi dari proposal Kirkland tentang hasil riset Prof Von Bock. "Di sini bisa kita lihat kalau potensi energi geothermal desa Ruslaville begitu besar. Bagaimana menurutmu, Bang?" ujarku sambil menyerahkan proposal tersebut pada abangku.

"Mon ami…bukankah kita sudah sepakat untuk menjalin kerjasama dengan East Bloc Energy dari negara bagian Novograd, non?" ucap Francis yang sepertinya kecewa dengan sikapku yang seolah memberikan kesempatan pada rivalnya Arthur Kirkland.

"JANGAN SOK IKUT CAMPUR, Bonnefoy! Aku ingin memperlihatkan betapa lebih baiknya proposalku dibandingkan rencanamu yang ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan penghasil polutan berbahaya seperti East Bloc Energy itu!" damprat pria berambut pirang acak acakan itu pada Francis.

"Hon hon hon!" tiba tiba Francis tertawa mengejek pada rivalnya. "Hmm…kurasa kau melakukan hal ini karena tak satupun para pemilik suara Rapat memihakmu kan?" ujarnya dengan nada menyindir.

Kirkland yang sangat kesal dengan ucapan rivalnya itu tiba tiba melayangkan tonjokkannya ke arah Francis yang sedang tertawa. "KAU! KURANG AJAR!" teriaknya kesal pada Francis.

Aku dan abangku yang melihat hal itu merasa sangat khawatir dan berusaha melerai perseteruan mereka. Namun tiba tiba terdengar suara pintu ruanganku yang dibuka paksa oleh seseorang. BRAK

"LUDDY! Huff…huff…huff" teriak suara Mona yang terengah engah karena berusaha mengejarku.

Abangku yang kesal dengan keberadaan Mona berusaha untuk mengusir wanita itu dari ruangan ini. "Ngapain loe maen masuk masuk ruang kerja orang tanpa permisi? Kan gue dah bilang, loe gak boleh masuk ruangan ini! Kemana telinga loe hah?" teriak abangku yang masih kesal padanya.

Namun Mona tak mempedulikan perkataan abangku. "Luddy, aku…aku…" ujar Mona yang berjalan menghampiriku dengan agresif. Tiba tiba bulu kudukku merinding, aku segera bangkit dari tempat dudukku dan berusaha untuk menghindar darinya yang menghampiriku.

Untungnya Francis sadar akan ketakutanku dan segera menghentikan langkah Mona dalam pelukannya. Kulihat Francis membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu. Mona yang tadinya mulai bertindak serampangan sejenak menjadi kalem dan menuruti keinginan kakaknya.

"Maaf mon ami, maafkan segala kejadian buruk hari ini dan adikku yang begitu merepotkan kalian" ujar Francis dengan sopan. "Kami permisi dulu, Beilschmidt. Sampai jumpa lagi nanti malam di Fleur's" lanjutnya sambil berjalan menuju ke araha pintu runganku. "Oh ya, Artie, Berjuanglah! Kuharap esok lusa kau bisa meraih kejutan…jadi asistenku dalam mega-proyek ini" goda Francis sambil mengerlingkan mata sebelah kanannya.

"DIAM KAU, Jenggot! Berhenti menyindirku!" teriak Kirkland penuh amarah sambil mengepalkan tinjunya pada Francis dan adiknya yang berjalan keluar dari ruanganku.

Tak lama setelah kepergian Francis, abangku mulai memberikan komentarnya pada proposal Kirkland. "Sorry banget, Alis Tebel. Walo gue baca isinya dengan detil, gue pikir proposal ini sama sekali gak bisa diterima" sesalnya sambil menaruh kembali proposal tersebut di atas meja.

"Apa maksudmu, Albino? Kupikir adikmu lebih pintar daripada dirimu yang sama sekali tidak mempedulikan hasil riset sehebat ini" sindir Kirkland.

"Gue akui gue lebih bego daripada adek gue. Tapi gue tau yang namanya prioritas dan yang namanya gak penting" sahut abangku dengan nada serius. Untuk pertama kalinya kulihat sorot mata abangku tampak begitu serius. Dia berjalan melangkah mendekati Arthur Kirkland yang masih belum mau menerima penolakan abangku.

"Jadi maksudmu isi proposalku tidak penting sama sekali?" ujar Kirkland penuh emosi.

Dengan tenang abangku meluruskan maksud ucapannya "Bukan gitu maksud gue. Gue pikir rencana loe ini baik buat jangka panjang, tapi buat jangka pendek gini kayaknya gak sesuai banget. Kite butuh energi secepatnya" ucapnya logis. Aku segera menangkap segala maksud ucapannya. Tak kusangka abangku yang selama ini yang tampak cuek sebenarnya memiliki pertimbangan yang tepat terutama mengenai kepentingan perusahaan dan permintaan masyarakat yang cukup mendesak.

"Justru itu! Kita membutuhkan pasokan energi untuk kepentingan jangka panjang! Kalian berdua ini hanya memiliki pandangan yang sempit! Apa ini karena pengaruh si Jenggot itu?" hardik Kirkland pada kami berdua.

Aku tidak tahan lagi, aku ingin sekali meluruskan pandangannya agar dia bisa mengerti maksud kami sebenarnya. Segera kuhampiri Kirkland dan kusampaikan segala sanggahanku atas tuduhannya "Maaf Kirkland, pertimbangan abangku tadi tidak ada sangkut pautnya dengan Francis" sanggahku tegas. "Apa kau sadar bahwa permitaan akan pasokan energi listrik beberapa tahun terakhir ini begitu besar terutama pada saat musim dingin?" tanyaku.

"Ya, aku tahu. Lalu apa hubungannya?" jawabnya kesal

"Kami mempertimbangkan masalah waktu. Cadangan energi listrik yang bisa diberikan prusahaan kita pada pelanggan baik perorangan maupun industri semakin sedikit. Kami berdua sangat khawatir bila sampai musim dingin tahun ini, kami masih belum bisa menyediakan pasokan listrik yang mencukupi kebutuhan mereka yang cukup banyak" ujarku tenang. "Perusahaan ini adalah perusahaan multinasional, kita tidak mungkin mempertaruhkan reputasi perusahaan ini pada hal yang belum pasti" imbuhku.

"Oleh karena itu, terlepas dari pengaruh kepentingan para pemegang saham lainnya dalam mega-proyek ini, abangku dan aku memilki pandangan yang sama untuk bekerja sama dengan East Bloc Energy Ltd dalam pengembangan dan penyediaan energi listrik yang mereka hasilkan dari tenaga nuklir" lanjutku.

"Bukankah pembangunan geothermal plant bisa dilaksanakan secepatnya sebelum musim dingin tahun ini?" sanggah Kirkland yang tetap kukuh pada pendiriannya.

"Kirkland, apa kau lupa dengan daerah yang kau incar ini? Desa Ruslaville adalah desa suci bagi suku Rusolav! Aku cukup khawatir akan konsekuensinya bila rencana ini tetap dilaksanakan!" tuturku meyakinkannya. "Lagipula pembangunan geothermal plant tidak bisa dilakukan secara terburu buru, butuh waktu yang cukup lama untuk mengukur analisis dampak lingkungannya" imbuhku lagi.

"Bah! 'Pertimbangan sosial dan dampak lingkungan' katamu?" ujarnya sinis padaku. "Lalu apa yang dilakukan oleh East Bloc Energy itu juga mempertimbangkan kedua aspek itu, Kraut?" sindirnya.

"…"aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Bukan rahasia lagi bahwa cara kerja East Bloc Energy Ltd sama sekali tidak memperhatikan analisis dampak lingkungan. Saat inipun mereka sedang digugat oleh pemerintah kota Moskowita dalam kasus pencemaran limbah nuklir di kota tersebut.

"Woi Alis Tebel! Masalah kayak itu gak usah loe pikirin! Kite udah mikirin jalan keluarnya kok! Loe gak usah sok tau!" tepis abangku dengan kesal. Aku sadar abangku juga meragukan kompetensi perusahaan itu sekaligus upaya kerjasama ini. Namun kami tidak bisa berbuat banyak dan dia lebih memilih untuk menutupi keraguan itu dari pihak yang menentangnya.

"Tch…kalian…kenapa kali ini kalian berseberangan pendapat denganku?" ucapnya kesal dan memandang kami berdua dengan geram. Kemudian dia berjalan menuju ke arah meja kerjaku dengan langkah perlahan. Kuperhatikan tangannya meraih sebuah hiasan berupa jam pasir tua yang berada di atas meja kerjaku.

"Kau tahu sejarah jam pasir ini?" tanyanya pelan pada kami berdua.

"Yang gue tau, tuh jam pasir punya kakek gue. Emang kenapa?" balas abangku kebingungan.

"Hmph, sungguh menyedihkan sekali" sahut Kirkland sinis. "Kuberitahukan pada kalian, ini adalah jam pasir milik kakekku yang kemudian dihadiahkan pada kakek kalian sebagai tanda persahabatan yang mereka jalin selama masa perang berlangsung" lanjutnya dengan serius.

"Itu kan dulu. So what gitu lho? " sahut abangku dengan cueknya.

"Apa? 'So what gitu lho' katamu?" geramnya kesal. "Apa kalian tidak pernah mengerti arti dari tulisan ini?" tanyanya dengan tidak sabar. Kulihat jari telunjuknya menunjuk pada tulisan kecil dalam huruf latin yang tertera di bagian dasar jam pasir tersebut.

'AETERNAM SACRO VINCULO' itulah bunyi tulisan itu. Sejenak aku merenungkan artinya dan kudapati arti harfiah dari frasa tersebut. "Aku tahu kemampuan bahasa latinku tidak begitu bagus, tapi kurasa arti dari tulisan itu adalah...'Ikatan Suci yang Kekal' kan? Jawabku dengan tidak yakin.

"Hmph, tepat! Memang itulah arti harfiahnya…tapi apa kalian sadar apa maksud kakekku memberikan benda semacam ini pada kakek kalian?" tanyanya kesal.

"Terus terang aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi kurasa hal itu ada hubungannya dengan pendirian perusahaan ini setelah perang" gumamku sambil memegangi daguku seperti seorang detektif yang sedang menganalisa suatu kasus.

"Kau benar, Kraut! Dulu perusahaan kakekmu ini sempat hampir bangkrut karena peperangan. Namun kakekku dengan baik hati membantu perusahaan keluarga kalian ini keluar dari kebangkrutan hingga seperti sekarang ini." Aku hanya bisa terdiam mendengarkan segala ceritanya tentang asal usul keberadaan perusahaan ini di masa lalu. 'Tidak mengherankan dia memiliki kepentingan besar dalam perusahaan ini' pikirku.

"Dan sebagai tanda kepercayaan dan persahabatan di antara mereka berdua, kakekku menghadiahkan jam pasir ini pada kakekmu ketika perusahaan ini sukses berdiri kembali" ujarnya. Sekilas kuperhatikan matanya menerawang jauh sedang mengingat masa lalu.

"Tapi sekarang apa yang kalian lakukan? Kalian sudah mengancurkan persahabatan mereka dengan keegoisan kalian! Kalian bahkan tidak mempertimbangkan keinginanku sama sekali! Kalian memang tidak tahu cara berterimakasih!" teriaknya pada kami. Kurasakan tatapan matanya penuh dengan perasaan kecewa dan amarah. Sementara tangan kirinya memegang jam pasir tersebut erat erat.

"Apa maksudmu Kirkland? Ini adalah masalah profesionalitas, bukan isu personal di antara keluarga kita! Tolong jangan campuradukkan kedua urusan ini! Kami tentu saja sangat berterimakasih atas bantuan keluargamu" ucapku jujur.

"Ah persetan dengan segala omong kosongmu itu, Kraut!" ujarnya dengan penuh kebencian. "Kalau begitu lupakan saja hubungan baik di antara keluarga kita dan pikirkan saja aspek profesionalitas. Aku tak akan meminta bantuan pada kalian lagi!" lanjutnya penuh amarah membara.

PRANG kulihat Kirkland baru saja membanting jam pasir yang terbuat dari Kristal tersebut hingga pecah berkeping keping. Aku dan abangku sama sama terkejut melihat pemandangan ini. 'Ya Tuhan! Apa dia sudah gila' pikirku keheranan.

Segera kuhampiri pecahan Kristal jam pasir tua itu dan kupunguti serpihan serpihannya. Sementara itu, aku menginjak pasirnya yang berceceran di lantai yang selama ini selalu kujaga kebersihannya. "Apa yang kau lakukan, Kirkland? Apa kau gila?" tanyaku kesal padanya.

"Loe mau cari gara gara nih ceritanya?" geram abangku yang masih tidak terima atas sikap pria beralis tebal itu hari ini.

Tiba tiba lampu lampu ruangan kerjaku berkedip berulang kali. Seluruh jendela ruanganku yang selama ini terutup rapat menjadi terbuka dan secara mengejutkan angin beritup keras menghantam seluruh perabotan yang ada di ruangan ini hingga jatuh berserakan. Kulindungi wajahku dari serangan angin tersebut dengan kedua lenganku. Sementara itu kulihat awan hitam pekat menyelimuti langit yang sedari tadi masih tampak begitu cerah.

"Gile! Sejak kapan ada badai kayak ginian? Gue gak bisa gerak, Lud!" teriak abangku yang tidak tahan dengan serangan badai ini.

"Ludwig Beilschmidt…" panggil suara yang tidak lain adalah milik Arthur Kirkland. Nada suaranya kali ini tidak meledak ledak seperti biasanya, sangat pelan dan tenang namun dingin dan menakutkan. Ketika kupalingkan pandanganku padanya, aku sangat terkejut mendapati sosoknya yang sama sekali tidak terkena sapuan angin badai barang sedikitpun!

"Ka…kau…bagaimana mungkin?" ucapku terkejut melihat keadaannya yang seolah terlindungi dari serangan angin badai ini.

Kirkland bergerak mendekatiku yang sedang berjongkok dibawahnya. Dari atas, matanya menatap wajahku dengan dingin. "Aku bersumpah…suatu hari aku pasti akan melihatmu menjadi kecil lemah tak berdaya dan menyesali sikapmu padaku hari ini" ujarnya tanpa emosi sedikitpun.

Kemudian pandangannya beralih ke arah abangku yang tidak bisa bergerak karena serangan angin badai yang begitu kuat. "Dan kau Gilbert Beilschmidt…suatu hari nanti aku pasti akan melihatmu memohon padaku" tuturnya dengan nada dingin. Sekilas nampak senyuman sinis menyungging di bibirnya.

"Apa apaan maksud loe? Gak bakal!" jawab abangku yang masih mempertahankan diri dari serangan angin tersebut.

Tak berapa lama kemudian sosok Arthur Kirkland sudah berada di dekat pintu ruanganku dan tersenyum dingin. "Sampai jumpa lagi Beilschmidt". Angin badai bertiup semakin kencang, aku tak bisa lagi melihat sosok Kirkland yang sepertinya sudah pergi meninggalkan kami.

Aku yang sedari tadi berjongkok di lantai dan berlindung dari serangan angin badai yang kencang, tiba tiba dikejutkan dengan butiran butiran pasir berwarna biru muda dari jam pasir kristal melayang berputar mengelilingiku. Putaran butiran pasir berwarna biru muda itu semakin kencang dan mengurungku dengan rapat.

Seketika kurasakan tubuhku perlahan lahan semakin menyusut sampai sampai aku merasa bahwa tubuhku telah tenggelam di dalam bajuku sendiri. Aku sangat panik dan kebingungan atas kejadian yang sangat tidak masuk akal ini. Aku meronta ronta ingin melepaskan diri dari dalam bajuku yang telah menyelimuti seluruh tubuh kecilku. Namun usahaku tidak berhasil dan hanya rasa letih yang kudapat. Aku sudah berteriak namun sepertinya tak ada satupun yang mendengar teriakanku.

Tiba tiba sekujur tubuhku terasa lemah dan kesadarankupun perlahan mulai menghilang. Aku sama sekali tidak bisa bergerak dan melihat apapun lagi. 'Apakah aku sudah mati?' Itulah pertanyaan yang keluar dari benakku sebelum aku kehilangan segalanya. Semuanya hanya ada kosong dan gelap.

Bersambung

Maaf kalo isi chapter 3 ini full of business and corporate issues ^^"