GOTTA GET UP AND TRY

Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, Oh (Park Chanyeol), Bae Irene, Lee Taeyong, Jung Jaehyun

Genre : Romance/Hurt/Comfort

Pairing : Crack!Chankai, Hunkai

Note : Penulis asli cerita ini a.k.a qeith4n sudah memberikan izin saya untuk me-remake cerita ini, jadi ini bukan plagiat atau semacamnya. Judul yang digunakan sama dengan judul cerita aslinya di Wattpad. Di cerita ini, Chanyeol dan Jaehyun berperan sebagai saudara dari Sehun jadi saya merubah marga mereka menjadi Oh hanya untuk kepentingan cerita ini. Terima kasih ^^

Jongin's POV

Aku masih heran dengan kemampuan manipulatif Sehun padaku, bagaimana aku menuruti titahnya untuk membatalkan perjalanan yang sudah kurencanakan. Bagaimana bisa aku menerima ajakan langkahnya untuk mengikuti Taeyong dan Jaehyun.

Semua serba cepat, aku bahkan rasanya belum berkedip saat tiba-tiba menyadari bahwa sekarang aku sedang duduk di dalam mobil Jaehyun dan bukan di dalam pesawat.

Aku dan Sehun duduk di kursi belakang Lexus yang nyaman, sementara Jaehyun menyetir dengan santai sambil sesekali disuapi keripik kentang oleh Taeyong. Melihat kemesraan mereka aku jadi bisa menduga role posisi mereka. Jaehyun meski bertubuh tak se-macho Taeyong, dengan tampangnya yang baby face itu kelihatan TOP yang dominan. Taeyong memang tak kelihatan melambai, tapi sikapnya manis sekali pada Jaehyun walau tadi kelihatan pundung.

"Sehun hyung nggak jetlag kan?" Taeyong menoleh ke arah Sehun yang sedang menyandarkan kepalanya.

"Belum terasa Tae," Sehun menjawab sambil menoleh padaku.

Matanya tenang dan dalam. Aku terhipnotis oleh tatapannya yang teduh itu. Membuat dadaku kembali berdesir aneh. Membuat perutku bergolak tak karuan.

"Bagaimana kabar teman-teman?" tanyanya sambil melipat tangan kirinya di bawah telinganya dengan santai. "Aku lost contact saat kehilangan ponselku di stadium bola. Jadi aku benar-benar tidak punya satupun nomor kecuali yang aku hafal."

"Termasuk nomorku?"

"Kau pengecualian," Sehun tersenyum misterius. "Aku menyimpannya di sini." Dia menunjuk keningnya.

Lagi-lagi dadaku berdesir aneh. Aku pengecualian untuk apa? Pengecualian yang tak dilupakan. Pengecualian yang diistimewakan. Bahwa sebetulnya kami berada di dalam gelembung rasa yang sama? Tapi kenapa aku tak pernah melihat tanda-tanda apapun. Kenapa dia tak pernah memberikan sinyal yang jelas, kecuali saat ini. Jelas sekali dia menaruh minat padaku. Namun aku tak ingin menuai harapan kosong untuk hatiku yang sedang kacau ini.

"Kenapa tidak pernah memberi kabar lagi?" tanyaku ragu.

"Well, siapa yang berhenti kasih kabar?" Tau-tau kau tak pernah membalas lagi pesanku atau menjawab telponku."

Aku mengernyitkan alisku heran. Rasanya aku selalu membalas semua pesan dan telponnya.

"Aku selalu membalas," sergahku. "Kapan tepatnya aku tak membalas telpon dan pesanmu?"

"Mungkin sekitar satu tahun aku di US."

Otakku berpikir cepat. Satu tahun setelah Sehun di US, berarti setengah tahun sebelum aku lulus kuliah. Kilasan peristiwa itu bagai slide film yang berputar cepat. Memorable yang jadi pengungkapan jati diriku yang sebenarnya di hadapan keluargaku. Wajah Kris, boyfriend pertamaku yang dihajar anak buah Papa terekam samar. Teriakan marah Papa. Tangisan Mama dan adikku.

Aku memilih Kris saat itu, mengabaikan semua permohonan Mama, mengabaikan Mark yang memegang lenganku erat-erat dengan kedua tangannya dan mata sembab penuh air mata. Aku dibutakan oleh emosi saat itu, hingga ucapan pelan Papa yang mengancam takkan lagi mengakui aku sebagai anaknya, apabila aku keluar dari rumah saat itu untuk mengikuti Kris, makin membutakan logikaku.

Kris membawa motor dengan kecepatan tinggi. Mencoba menghindari kejaran anak buah Papa. Papa mengusir tapi tetap menyuruh anak buahnya untuk mengejar kami. Naas baginya tau-tau ada mobil yang tiba-tiba saja memotong jalur kami. Kris tak bisa menguasai keadaan, dengan kecepatan yang masih tinggi, kami menghantam mobil itu. Aku yang ada diboncengan terpelanting membentur sebatang pohon di pinggir jalan. Kris sendiri sampai terpental ke belakang mobil itu. Dia tak pernah sadar kembali. Aku sendiri baru membuka mata di hari kedua di rumah sakit.

Itu adalah hari terburuk dalam hidupku. Kehilangan Kris. Kehilangan keluarga.

"Aku juga kehilangan ponselku," sahutku saat melihat Sahun yang masih menunggu jawabku.

"I see," Sehun mengangguk maklum.

"Ya, Mom?"

Jaehyun menempelkan handsfree ke telinganya. Ada telepon masuk rupanya. Sehun memutuskan tatapannya padaku. Matanya beralih pada adiknya.

"On the way, Mom. Baru keluar dari bandara, agak macet lho ini. Oh, Daddy sudah nunggu? Nggak tau jam berapa sampai sana. Aku usahakan cepat sampai. Oke bye, Mom."

"Kenapa, Jae?" tanya Sehun.

"Kita langsung ke Busan hyung," sahun Jaehyun. "Dad nyuruh kita ke sana, yang lain sudah dikabari kata Mommy."

"Yah, aku bolos kuliah lagi dong, Yang." Celetuk Taeyong.

"Hari ini aja, besok kita balik pagi-pagi."

"Bisa kena blacklist Park Saem lagi nih."

"Memang kanapa, Tae?" Sehun yang bertanya. Matanya mulai satu karena kantuk.

"Aku lupa hyung, kalo siang ini ada test," Taeyong nyengir dengan polosnya.

"Yang," Jaehyun menggeram marah. "Berapa kali aku mesti ngomong buat aktifin reminder ponsel kamu itu? Apa perlu aku juga yang handle jadwal kuliah kamu? Heran aku, apa-apa kok mesti aku yang ingetin."

"Lho, siapa yang nyeret-nyeret aku tadi ya?"

"Kenapa kamu nggak ngomong kalau ada test sih?"

"Hallo, Mr. Jenius, siapa yang nggak mau denger alasan aku tadi pagi?" sindir Taeyong tajam. Aku menatap pertengkaran pasangan itu sambil mengulum senyum yang tak bisa kutahan. Pertengkaran yang menurutku malah lucu. Mereka jadi terlihat sangan cute. Aku jadi lupa kalau aku sendiri sedang punya masalah.

"Jadi, kamu keberatan ikut aku?"

"Emang siapa yang bilang begitu? Apa aku bilang keberatan jemput Sehun hyung. Udahlah, nanti aku ikut susulan aja."

"Bisa tidak pertengkaran kalian ditunda dulu?" tanya Sehun pelan mendengar namanya disebut-sebut. "Sepertinya aku mulai jetlag."

Taeyong langsung terdiam. Dia melipat kedua tangannya dengan kesal. Jaehyun sendiri masih mengomel dengan suara pelan dan tak terdengar jelas di telingaku.

"Aku tidur sebentar ya Jong," Sehun malah memutar tubuhnya sampai menghadapku.

"Ya sudah, tidurlah."

"Kau tidak keberatankan pergi ke Busan bersamaku?"

"Aku masih disebelahmu kan?"

Aku sendiri masih heran kenapa aku menuruti kemauan Sehun yang ternyata akan ke Busan ini daripada pergi ke Peru seperti yang kurencanakan semula. Aku seperti tersihir melihat mata misteriusnya.

Sehun mengangkat sebelah kakinya sampai menekuk di kursi mobil. Ujung lututnya secara tak sengaja menyentuh paha luarku, di luar perkiraanku, seakan ada aliran listrik statis yang menjalar dari lutut itu, mengaliri tubuhku yang mendadak beku. Aku gugup seketika, tak ingin menyinggung perasaan Sehun bila aku menarik pahaku menjauh darinya.

Rupanya Sehun merasakan hal yang sama. Karena dia membuka matanya kembali. Memandang ke dalam mataku yang membuatku terkesiap oleh percik-percik keinginan yang jelas-jelas terbaca.

Aku pura-pura mengalihkan pandanganku ke samping, pura-pura memangdang ke luar jendela mobil, mencoba menenangkan gemuruh yang menggila di dadaku. Berharap Sehun melanjutkan tidurnya daripada mengirim sinyal yang seterang matahari itu.

Tiba-tiba terdengar lantunan instrumen musik Pink mengalum pelan dan dinamis yang dipasang dengan volume sedang dari ponsel Jaehyun, mungkin dia takut menggangu tidur hyungnya.

"Pasti deh kamu begini setiap kali kita berantem," keluh Taeyong di kursi depan sana.

"Ini buat ngademin kepala kamu yang lagi berasap itu." Sahut Jaehyun kalem.

"Dan itu akibat ulah siapa?"

"I love you too," jawaban yang sangat pintar.

"Kamu nggak adil, Yang, mainin lagu kita buat ngalahin aku."

"Apa berhasil?"

"Cheater," desis Taeyong pura-pura kesal.

Jaehyun tersenyum amat manis, penuh daya pikat. Aku saja sampai meleleh melihatnya apalagi Taeyong, dia malah sudah ikut menyanyi dengan suaranya yang ternyata nge-bass itu, bersahut-sahutan dengan suara sopran Jaehyun. Duet mereka terdengar enak dan pas sekali, alih-alih tidur Sehun malah memandangi mereka dengan alis bertaut heran.

Ever wonder about what he's doing?
How it all turned to lies?
Sometimes I think that it's better to never ask why

Where there is desire
There is gonna be a flame
Where there is a flame
Someone's bound to get burned
But just because it burns
Doesn't mean you're gonna die
You've gotta get up and try, and try, and try
Gotta get up and try, and try, and try
You gotta get up and try, and try, and try

Funny how the heart can be deceiving
More than just a couple times
Why do we fall in love so easy?
Even when it's not right

Where there is desire
There is gonna be a flame
Where there is a flame
Someone's bound to get burned

But just because it burns
Doesn't mean you're gonna die
You've gotta get up and try, and try, and try
Gotta get up and try, and try, and try
You gotta get up and try, and try, and try

Ever worry that it might be ruined
And does it make you wanna cry?
When you're out there doing what you're doing
Are you just getting by?
Tell me are you just getting by, by, by?

Where there is desire
There is gonna be a flame
Where there is a flame
Someone's bound to get burned

But just because it burns
Doesn't mean you're gonna die
You've gotta get up and try, and try, and try
Gotta get up and try, and try, and try
You gotta get up and try, and try, and try

Kenapa lagunya seperti menyindirku ya?

"Jadi disumpal lagu ini saja, Taeyong bisa langsung jinak ya, Jae?" tanya Sehun begitu mereka tertawa di akhir lagu.

"Mostly, hyung."

"Itu karena dia adorable aja." Taeyong mengelak cepat.

Jaehyun melempar senyum maut lagi ke arah kekasihnya, yang dibalas oleh Taeyong dengan kecupan singkat di pipinya. Masih ditambah dengan usapan-usapan sayang di telinga Jaehyun.

Aku sedikit malu melihat kemesraan mereka. Mau tak mau aku jadi teringat dengan Chanyeol, baik aku maupun Chanyeol jarang mengumbar kemesraan bila sedang berduaan, apalagi coming out di depan umum. Chanyeol memang terkenal player di dunia pelangi kami, tapi dalam kehidupan personality public dia hanya dikenal sebagai CEO kharismatik yang angkuh, mungkin Chanyeol tak ingin orang lain tahu kelakuan bejatnya, kenapa aku jadi sinis begini sekarang bila ingat pengkianatannya.

"Hey, are you okay?"

Aku tergagap kaget. Menoleh pada Sehun yang menatap dengan pandangan yang meluluhkan hatiku, tersenyum sekilas padanya. Tak ingin membongkar rahasia kelamku pada orang yang pernah kupuja bertahun-tahun yang lalu.

"Apapun itu, kau bisa menceritakannya padaku," Sehun tersenyum menenangkan. "Jangan kau pendam sendiri. Kau bisa bersandar di pundakku. Aku bersedia jadi apapun untukmu."

Kau takkan bersedia jadi apapun untukku kalau kau tahu sebenarnya tentangku, pikirku gamang. Tunggu dulu, bersedia jadi apapun? Apa dia baru saja melempar umpan padaku? Apa maksudnya dia juga...? Aku mengalihkan pandanganku ke depan kembali, tak ingin mengasumsikan apapun ucapan Sehun. Aku tak mau meletakkan secawan asa di atas hati yang sedang luluh lantak berantakan. Tapi setidaknya aku bisa berterima kasih pada Sehun karena dia telah berusaha menghiburku.

"Okay, thanks."

"Nanti saja terima kasihnya, kalau kau sudah cerita apa yang membuatmu ingin lari dari sini. Tapi sekarang aku mau tidur dulu. Bangunkan aku kalau di depan perang lagi ya."

Kami sampai di Busan hampir jam 3 sore, setidaknya aku takkan bosan berada di sini. View-nya benar-benar memanjakan mataku. Menyejukkan hatiku yang sedang panas. Sepanjang yang kulihat hanya biru dimana-mana. Aku jadi kangen dengan rumah pedesaanku yang ada di Jeju.

Rumah yang dituju Jaehyun, betul-betul rumah mewah yang besar dan luas sekali. Kontur bangunan yang mirip istana kerajaan dengan atap seperti kubah-kubah Persia sangat memikat. Rumahnya hanya satu lantai tapi terdiri dari beberapa bangunan yang saling terhubung. Halaman depannya luas dengan air mancur di sisi kiri taman yang penuh tanaman hias. Di car port sudah ada empat mobil terparkir rapi.

"Aku bawa koper ke pavilliun saja ya," Jaehyun dan Taeyong sibuk menurunkan bawaanku dan Sehun dari bagasi mobil. "Biar Jongin hyung nggak sungkan-sungkan."

"Yah, aku juga pikir begitu." Sahut Sehun. "Kau tidak keberatan kan, Jong?"

"Ya, tentu saja tidak," aku mengangguk.

"Kita tidur di situ juga, Yang?" tanya Taeyong pada Jaehyun.

"Iyalah. Aku kan pengen bebas bergerak."

"Huh. Kode, Tae." Sehun meledek adiknya. "Kode keras."

Mata abu-abu pekat Sehun berkilat nakal, sikapnya yang terang-terangan menggoda Taeyong dengan alis yang digerakkan naik turun.

Aku memilih pura-pura melihat ponselku. Dari bandara tadi aku men-silent ponsel, karena tak ingin mengangkat telepon dari Taemin lagi. Aku ingin melupakan melupakan urusan kantor untuk beberapa hari ini. Pria itu pasti kelimpungan, tapi aku yakin dia pasti bisa mengatasinya.

Sejak aku mengirim email permohonan maaf pada Tuan Song karena tidak bisa menemuinya dengan alasan ada keperluan mendadak yang tak bisa kuceritakan, inbox emailku langsung kebanjiran pesan dari Chanyeol, aku langsung menghapus tanpa mau repot-repot lagi membaca. Dia seperti anak kecil yang kehilangan mainannya saja, satu kata terselip untuk meminta maaf padaku saja tidak. Rupanya dia tidak berpikir bahwa perbuatannya sudah membuat hatiku sakit dan terluka. That arrogant bastard.

Sikap posesif-nya itu pasti hanya kamuflase saja. Untuk membentengi aku dari perbuatan nistanya. Dia pasti ketakutan aku membalas perbuatannya itu. Selingkuh dibalas dengan selingkuh. Jelas aku tidak akan serendah itu. Dia sudah berkali-kali selingkuh dariku, tapi aku masih saja memaafkannya. Masih saja setia padanya. Masih saja menerimanya kembali.

Tapi untuk kali ini, aku tak bisa lagi memaafkannya, aku tak mau mengulangi kebodohan yang sama. Dia sudah selingkuh dengan orang yang selama ini kusebut sahabat. Mereka tahu persis kedudukan mereka di hati dan hidupku, namun dengan mudahnya mereka menghancurkan itu dalam sekejab.

Dadaku mendingin dengan rasa nyeri lagi. bahkan setelah empat hari, rasa sakitnya masih saja terasa. Bayangan mereka yang menempel ketat tak bisa kulenyapkan dari pikiranku. Ini seperti menuang larutan cuka asin di atas luka yang masih basah. Perih sekali.

Kali ini aku betul-betul mematikan ponselku.

TO BE CONTINUED