Desclaimer : Tite Kubo laaah, sapa lagi.

Atas saran dari readers, ni fict naik rated jadi M! ya ampun, otak saia mesum banget yak, masak gw naikin rated 2 fict gw sekaligus. Ckckck, bener-bener butuh dicuci nih otak gw #plaak# dan yeah, mungkin pairnya bisa ganti jadi GrimmIchi. Tapi jika suatu saat ganti lagi, juga gak tahu =_= berhubung author tergila2 ma kedua pair ini Bwahahahah *dihajar readers karena plin plan*

Maksih banyak bwt Kenshin Liorre, aku bls lewat PM hehehe

# Bwt Hoshi yukinua : hooh, ini aku pindah ke M XD he? Sama? Oh, mungkin karena pendiskripsiannya ya...oke, lain kali aku persingkat biar gak terkesan sama. Makasih read reviewnya :D

#Hoshi yukinua : Iya ini aku naikin ke M and pair mungkin berubah *author plin plan* makasih banyak read reviewnya yea...:D *saia jg pervert kok* #plaaak

Chapter 4 : Sight

.

.

.

Suara erangan lirih terdengar dari salah satu kamar hotel. Seorang pemuda bersurai orange tergolek tidak berdaya di sebuah ranjang double bed dengan seorang pemuda bersurai hitam di atas tubuhnya.

"B-Byakuya…" panggil pemuda bersurai orange itu. "Su-sudah cukup…aku sudah sangat lelah…hahh…hahh…"

"Just one more time, Ichigo." Jawab pemuda yang dipanggil Byakuya sambil terus menciumi leher kekasihnya yang sudah penuh dengan kissmark.

"Ta-tapi, aku sudah tidak punya tenaga lagi."

"Ini hukuman karena kau selingkuh dengan si kepala biru itu!" dengus Byakuya dan tak menghentikan aktivitasnya.

"Ghh…aku tidak selingkuh! Dia yang memaksa membantuku mengeluarkan hasratku! Lagipula…waktu itu yang terbayang olehku juga wajahmu kok." Elak Ichigo.

"Kalau begitu sekarang aku yang membantumu menyelesaikan hasratmu."

"I-iya…ta-tapi aku sudah lelah. Kau pikir sudah beapa jam kita melakukannya huh!"

"Cih! Kau menyebalkan." Umpat Byakuya lalu bangkit dari tubuh Ichigo dan duduk bersandar di kepala ranjang. Membelai miliknya sendiri yang sudah cukup tegang. Melihat itu, mau tak mau membuat Ichigo meneguk ludah berat. Biar dilihat berapa kalipun,Ichigo akan tetap tergoda melihat kejantanan kekasihnya itu.

Tanpa meminta persetujuan, Ichigo langsung meraup kejantanan Byakuya ke dalam mulutnya. Membuat Byakuya menyeringai senang.

"Kau nakal, Ichi." Ujar Byakuya lalu mengelus punggung Ichigo, memberikan rangsangan lagi pada tubuh pemuda bersurai orange itu, jemarinya terus bergerak ke belakang, meremas bokong kenyal Ichigo dan berniat memasuki lubangnya dengan jari, tapi tiba-tiba…

Kriing…kriing…kriiing…

Suara handphone Byakuya membuat Byakuya menggeram kesal sementara Ichigo menyeringai.

"Cepat angkat, Bya-ku-ya…" goda Ichigo. Sepertinya ingin balas dendam akan tempo hari saat Ichigo diharuskan menahan desahannya karena Byakuya mengangkat sedang telfon. Dan kali ini keadaannya berbalik bukan?

Byakuya meraih HPnya di atas meja kecil samping ranjang dan mengangkat telfon dengan Ichigo yang tetap mengulum kejantanannya.

"Moshi-moshi…"

"Byakuya, kau dimana sekarang?" Tanya sebuah suara di ujung telfon.

"Umm…memangnya ada apa, Tou-sama?" Byakuya menggigit pelan telunjuknya, sekedar supaya tidak mendesis nikmat saat Ichigo sengaja mempercepat kulumannya.

"Apa Rukia ada bersamamu? Hisana bilang dia tidak pulang sejak kemarin."

"Yeah, dia bersama-…Ughh…dia bersamaku." Dipelototinya Ichigo yang memberikan gigitan pelan di penisnya, sementara Ichigo menyeringai senang.

"…" Soujun terdiam sejenak. "Kau…kenapa?" selidiknya.

"Um…tidak. Aku Cuma…Aghh…" kali ini Ichigo meremas kuat kejantanan Byakuya, dan Byakuya sekali lagi melayangkan deathglare nya pada Ichigo yang hanya disambut cengiran lebar dari Ichigo.

"Ehm…sepertinya aku mengganggu." Ucap Soujun dengan nada menggoda, bisa mengira-ngira apa yang tengah dilakukan putranya, meski tidak akan menyangka siapa yang sedang melakukan ini bersamanya.

"Tou-Tou-sama…tidak seperti yang…"

"Sudahlah Byakuya, yeah…sudahlah. Baik-baik disana. Jangan lupa pengamannya." Ledek Soujun sebelum akhirnya menutup telfon.

"I-chi-gooo!" raung Byakuya. "Kau harus dihukum!" ujarnya lalu mendorong tubuh Ichigo menjadi terlentang, sementara Ichigo hanya bisa tertawa puas.

~ OoooOoooO ~

Byakuya mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Ia hanya memakai jeans hitam panjang, sementara tubuh bagian atasnya ia biarkan tak tertutup apapun. Ia mengambil HPnya untuk kemudian menelfon seseorang, ia sempat melirik pintu kamar mandi yang tertutup dimana terdengar suara shower dari sana, tempat dimana kekasihnya tengah membersihkan diri.

Klek…

Terdengar suara telfon diangkat, tapi tidak ada suara yang menyapa.

"Rukia…?" heran Byakuya.

"…" tetap diam.

"Rukia, kau disana?"

"…"

"Hei…"

"Kau dimana?" Tanya Rukia dingin. Byakuya mengernyit heran, tumben Rukia memakai kata'kau' untuk memanggilnya, biasanya dia cerewet dengan memanggilnya 'Byakunn-chan' atau panggilan aneh lainnya. "Tou-san menelfon dan mengatakan apa yang dia dengar dari Soujun-sama."

"Ung…hotel Friar kamar no. 2053." Jawab Byakuya yang mengerti apa yang Rukia bicarakan.

Tuut…tutt…tutt…

Tiba-tiba sambungan diputus secara sepihak. Membuat Byakuya lagi-lagi mengernyit heran.

"Ada apa dengannya?"

Sekitar 15 menit kemudian, pintu kamar hotel Byakuya diketuk. Sepertinya Rukia sudah tiba, tapi hebatnya, Ichigo belum keluar dari kamar mandi. Byakuya segera membukakan pintu, tanpa peduli kalau dia masih bertelanjang dada. Dan benar saja gadis mungil itu ada disana.

Tanpa izin, Rukia melangkah masuk.

"Apa saja yang kau katakan pada Tou-san mu." Tanya Rukia dingin, terus melangkah maju sehingga Byakuya mundur beberapa langkah hingga menabrak ranjang.

"Biar kutebak. Kau keberatan aku mengatakan aku sedang bercinta denganmu karena kau masih virgin?" balas Byakuya.

"Bukan itu masalahnya!"

"Lalu apa?"

"Aku benci kau mengatakan itu tapi kau sama sekali tak menyentuhku!"

Mata Byakuya membulat.

"Kau tunanganku, tapi kau malah bersama orang lain dan mengatakan pada semuanya kalau kau bersamaku." Mata Rukia terpejam erat, beberapa bulir air mata menuruni pipi mungilnya.

"Rukia…" tangan Byakuya terulur untuk mengusap air mata Rukia, tapi segera ditampik oleh gadis mungil itu.

"Sentuh aku, Byakuya. Sama seperti kau menyentuh Ichigo!" Rukia mendorong Byakuya hingga terduduk di ranjang, lalu menumpukan salah satu lututnya di ranjang, tepat di depan selangkangan Byakuya dan sengaja menggesekkannya. Rukia mencondongkan tubuhnya ke depan, sehingga Byakuya terpaksa menopang tubuhnya dengan kedua siku.

"Rukia, bukankah kau sendiri yang mengatakan aku boleh bersama Ichigo?" ujar Byakuya.

"Ya, itu dulu, pada awalnya, karena aku menyukai yaoi. Tapi lalu aku sadar kalau aku ternyata menyukaimu, bahkan sejak awal pertemuan kita. Aku menyukaimu, Byakuya." Rukia mendekatkan wajahnya ke wajah Byakuya, air mata masih menghiasi kedua manic violetnya. Melihat itu, mau tak mau Byakuya tidak menghindar saat Rukia menempelkan bibirnya ke bibir dinginnya.

Byakuya hanya diam, tak membalas pagutan lembut Rukia, ia juga tak membuka mulutnya supaya Rukia bisa bermain dengan lidahnya. Hingga Rukia melepas pagutan itu dan menatap Byakuya dengan alis berkerut.

"Lihat? Menciumku saja kau tidak mau, bagaimana bisa kau bilang kalau kau sedang bercinta denganku!" sentak Rukia.

"…" Byakuya tak bisa menjawab apapun, suasana hening untuk beberapa saat dan hanya isakan Rukia yang terdengar.

"Rukia…" akhirnya Byakuya buka suara. "Carilah orang lain, jangan aku."

"Bagaimana bisa aku mencari orang lain! Kau tunanganku!" seru Rukia.

"Kalau kita sama-sama punya orang lain yang dicintai, kedua orang tua kita pasti setuju kalau pertunangan kita batal."

"Tapi aku tidak mau pertunangan ini batal!" seru Rukia yang lagi-lagi membuat Byakuya tercengang. "Sudah kubilang aku menyukaimu, dan aku mau pertunangan ini dilanjutkan hingga kita menikah."

"Tapi aku tidak mau." Tandas Byakuya dan mencengkeram lengan Rukia lalu mendorongnya turun dari ranjang. "Aku tidak memiliki perasaan apapun padamu, Rukia."

"Kalau begitu akan kubuat kau jatuh cinta padaku!" Rukia mendorong tubuh Byakuya sampai terbaring ke ranjang, lalu menciumnya dengan ganas. Tapi Byakuya segera menghentikannya.

"Rukia, hentikan!" Byakuya mendorong tubuh Rukia dari tubuhnya. "Aku tidak-…" ucapan Byakuya terhenti saat tanpa sengaja matanya melihat pintu kamar mandi setengah terbuka dan Ichigo berdiri disana dengan tampang terkejut.

"I-Ichigo…" Byakuya segera bangkit, berniat menghampiri Ichigo saat pintu kamar mandi kembali tertutup, tapi Rukia memeluknya dari belakang.

"Jangan! Jangan temui Ichigo lagi, sekarang kau sedang bersamaku Byakuya."

"Rukia!" bentak Byakuya.

"Wah…wah…" tiba-tiba pintu hotel terbuka dan dua orang muncul dari sana. "Apa kami mengganggu?"

"Tou-sama…" Byakuya terbelalak melihat ayahnya dan ayah Rukia lah yang muncul.

"Belum menikah saja sudah semesra ini." Senyum Ukitake. Tak ada yang bisa Byakuya katakan untuk menyanggah ucapan mereka, apalagi dengan kondisinya yang bertelanjang dada seperti ini.

"Ah, Rukia-chan. Kalau kau ingin bermesraan dengan Byakuya, kenapa memanggil kami kesini? Bukannya malah mengganggu?" Tanya Soujun.

Mata Byakuya kembali melebar, lalu memandang sengit ke arah Rukia.

"Iya, soalnya aku ingin kalian melihat kami bermesraan hehehehe" cengir Rukia. "Kami serasi kan? Rasanya aku ingin cepat menikah saja dengan Byakkun-chan."

Soujun tertawa senang mendengar itu. "Ya, sebentar lagi kau lulus SMA kan? Bagaimana kalau menikah setelah kelulusan itu. Lalu kau masuk ke universitas yang sama dengan suamimu itu."

"Iya, aku sangat setuju." Senyum Rukia, tanpa mempedulikan Byakuya yang masih menatap murka padanya.

"Nah, ayo pulang. Apa kalian masih mau disini hm?" Tanya Ukitake.

"Kami juga sudah mau pulang. Iya kan, Byakunn?" Rukia menatap Byakuya.

"Aku masih mau disini." Ucap Byakuya sedikit menggeram menahan amarahnya.

"Ah, Byakunn. Kau bilang akan menemaniku belanja hari ini. Sudah cepat sana pakai bajumu."

"Sudahlah Byakuya, turuti saja. Bukankah kalian sudah puas semalaman bermain eh?" goda Soujun.

Mau tak mau, Byakuya mengikuti scenario yang dibuat Rukia. Meski baginya sangat berat meninggalkan Ichigo.

Yang Byakuya lakukan sekarang hanyalah berharap semoga tadi Ichigo mendengar pembicaraannya dengan Rukia yang menyatakan kalau Byakuya tidak ingin menikah dengan Rukia, melainkan Rukia lah yang memaksanya. Meski kalau dipikir lagi, Ichigo pasti tidak akan mendengarnya karena kamar hotel pastilah berperedam, apalagi ditambah suara shower yang dinyalakan Ichigo.

~ OoooOoooO ~

Pemuda bersurai biru itu berdiri bersandar pada mobilnya sambil mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke lantai. Bosan. Ia lalu menghela nafas panjang dan mulai mengomel.

"Jadi kau datang kesini Cuma untuk diam dengan muka cemberut huh!" omelnya pada sosok berambut orange yang duduk di pintu mobil yang terbuka di hadapannya.

"Heeeeh…" sosok berambut orange itu juga menghela nafas. "Aku sendiri tidak tahu kenapa aku datang kesini."

"Ghh…dengar Ichigo Kurosaki, kalu kau memang tidak ada perlu disini sebaiknya kau pergi! Aku mau bermain dengan mobil-mobilku!" omel si surai biru.

"Dan kau juga dengar Grimmjow Jeagerjacquez! Kalau mau main dengan mobilmu main saja sana. Biarkan aku disini selama aku belum tahu mau pergi kemana!" omel balik pemuda bersurai orange itu.

"Tapi mobilku sedang kau duduki, bodoooh!"

"Bukannya mobilmu yang sedang kau sandari itu!"

"Aku mau memodif keduanya! Menggabungkan komponen-komponen mesin dari mobil ini dan itu!"

"Huuuh…" Ichigo hanya mengeluh kecil dengan wajah tetap tertunduk, membuat Grimmjow lagi-lagi menghela nafas.

"Kau sedang ada masalah dengan pasangan slasher mu itu?" Tanya Grimmjow.

Ichigo mengangguk lemah, membuat Grimmjow mengerutkan alisnya sambil mendesis kesal.

"Lalu apa hubungannya denganku?" gerutu Grimmjow yang sialnya didengar oleh Ichigo.

"Sudah kubilang aku juga tidak tahu kenapa aku datang kesini!" cemberut Ichigo. Grimmjow tak menjawab lagi, lalu melirik lutut Ichigo.

"Bagaimana dengan lukamu?" Grimmjow mengalihkan pembicaraan, lalu menghampiri Ichigo dan berjongkok di hadapannya.

"Sudah sembuh kok." Jawab Ichigo ketus, membuat Grimmjow tambah kesal saja.

"Tch, sepertinya kau sedang benar-benar bad mood ya. Ayo ikut!" paksa Grimmjow dan menyeret Ichigo memasuki mobilnya yang sudah selesai di modif.

"Ma-mau apa kau?" Tanya Ichigo horror.

"Menghilangkan bad mood mu." Jawab Grimmjow sambil membanting pintu setelah ia duduk di belakang kemudi. Dia langsung menginjak gas dan meninggalkan bengkel sekaligus tempat modifnya itu.

"Gyaaaa pelankan mobilmuuu…" jerit Ichigo ketakutan karena Grimmjow melajukan mobil jauh di atas kecepatan rata-rata.

"Berisik. Nanti kita ketinggalan sesuatu yang menarik." Seringai Grimmjow yang membuat Ichigo makin merinding. "Kencangkan saja safety belt mu."

Ichigo menurut, lalu mulai mencoba membiasakan diri dengan kecepatan ini. Meski bagaimanapun dia tidak akan terbiasa saat Grimmjow tetap menyalip dengan kecepatan tinggi meski jalanan padat. Berkali-kali mereka nyaris bertubrukan dengan mobil yang berlawanan arah, tapi entah bagaimana Grimmjow tetap bisa meloloskan diri.

"K-kau gila." Komentar Ichigo saat baru saja Grimmjow berjalan zig-zag menerobos kepadatan jalanan.

"Pertunjukan utamanya baru akan dimulai, Ichigo." Seringai Grimmjow.

"Eh?" tak mau bertanya lebih lanjut, Ichigo kembali melihat ke depan dan sedikit mengernyitkan dahi saat mobil-mobil di depan menurunkan kecepatan dan berhenti. Tapi hanya sesaat, ia lalu membelalakkan mata saat melihat jalanan di depan yang ternyata adalah jembatan, mulai terangkat naik. Sepertinya akan ada kapal besar yang melewati sungai tersebut sehingga jalan harus dibuka dulu.

"G-Grimm, berhenti!" jerit Ichigo karena Grimmjow malah menambah kecepatan.

"Heh, pegangan yang kuat, Berry. Kita akan terbang." Seringai Grimmjow. Grimmjow menaikkan kecepatan hingga maksimal, melewati jembatan yang mulai bergerak vertical.

"Gyaaaaaaaaa…!" jerit Ichigo saat mobil akhirnya lepas landas, lepas dari jalanan aspal dan menapaki udara. Sedangkan Grimmjow malah menyeringai senang meski tetap focus pada pendaratannya.

Bruuukkk…!

Mobil terbanting saat akhirnya menapaki aspal di seberang, tapi Ichigo belum bisa menarik nafas lega. Pastinya karena begitu sampai di seberang, jalanan sudah berdiri semakin vertical nyaris 75 derajat, yang artinya mobil Grimmjow bisa saja terjun bebas dan terbanting ke dataran di bawahnya.

"Gyaaaaa kita akan matiiii…" jerit Ichigo, tapi entah bagaimana tak memejamkan mata, lalu dengan effect slow motion, matanya terbelalak saat mobil Grimmjow melompat dari bidang vertical itu, melayang melewati beberapa mobil yang berjajar rapi karena menunggu jembatan kembali rata, dan mendarat dengan bantingan keras di jalanan horizon. Lalu tanpa jeda kembali berjalan ngebut meninggalkan jembatan itu.

"Gyahahahahaha…" Grimmjow tertawa setan, sedangkan Ichigo masih bertampang shock, seakan tidak percaya kalau dirinya masih hidup. "Gyahahahaha kau lihat tadi Berry, aku hebat kan?"

Ichigo masih diam, lalu menoleh ke arah Grimmjow dengan gerakan kaku. "Ta-tadi…" ujar Ichigo terbata.

"Hn…?"

"Ta-tadi kita…"

"…?"

"Gyaaaa tadi kita terbaaaangg…!" seru Ichigo dan tertawa dengan riangnya. Melihat itu Grimmjow sedikit tercengang. Manis. Kata itulah yang terbesit di benaknya. "Hahahaha tadi itu hebat sekali. Kita terbang. Kau hebat Grimm." Tawa Ichigo, tanpa sadar kalau Grimmjow masih terpana dengan senyumannya. "Hei, dari mana kau punya kenekatan seperti itu?" Tanya Ichigo sambil menepuk lengan Grimmjow, sehingga Grimmjow sadar dari lamunannya.

"Aku ini penggila sesuatu ber adrenalin tinggi." Ujar Grimmjow dan tetap melajukan mobilnya, kali ini dengan kecepatan sedang.

"Apa kau pernah gagal saat gila-gilaan seperti ini?"

"Hn…seingatku belum."

"Waah, benarkah? Kalau begitu lain kali ajak aku lagi ya…hehehe." Cengir Ichigo yang lagi-lagi membuat Grimmjow tercengang.

"Hmph!" Grimmjow memalingkan wajahnya yang terasa memanas. Ia lalu menepikan mobilnya di tepi jalan yang cukup sepi karena lajur satu arah.

"Aku haus." Ujar Grimmjow sambil keluar dari mobil, cukup menjelaskan kenapa ia menghentikan mobilnya. Ichigo keluar mengikuti Grimmjow, tapi Cuma berdiri berpegangan pada pagar pembatas jalan sambil menatap pemandangan kosong di hadapannya yang berujung ke laut, sementara Grimmjow membeli minuman di mesin penjual otomatis di seberang jalan.

"Ini." Grimmjow menyodorkan sekaleng minuman pada Ichigo setelah ia kembali.

"Terimakasih." Ichigo menerima minuman itu dan meminumnya sambil kembali menatap pemandangan. Suasana hening untuk beberapa saat.

"Grimm…terimakasih ya. Sepertinya sekarang aku tahu kenapa aku datang kepadamu saat aku bad mood." Ichigo menatap Grimmjow. "Karena aku tahu bad moodku akan hilang dengan sifat keras kepalamu itu." Cengir Ichigo.

"Chee, jadi kau butuh teman berdebat, eh?" balas Grimmjow.

"Ya, kurasa begitu. Berdebat denganmu membuat kepalaku ringan karena puas ngomel-ngomel. Apalagi dengan memacu adrenalin seperti tadi. Rasanya semua masalahku hilang sudah."

"…" Grimmjow terdiam sejenak, lalu membawa tubuhnya mendekati Ichigo. "Kalau begitu…datanglah padaku, kapanpun kau mau." Dan tanpa sadar bibir Grimmjow telah menempel di bibir Ichigo.

Mata Ichigo terbelalak, bahkan sampai Grimmjow melepas kecupannya. Grimmjow menatap lurus ke mata Ichigo, perlahan jarinya bergerak untuk membelai bibir Ichigo, dan detik berikutnya, ia sudah kembali mencium bibir Ichigo. Dan kali ini dengan pagutan yang cukup ganas, sampai Ichigo mengerang tertahan yang membuat Grimmjow makin bernafsu karenanya.

Grimmjow menahan belakang kepala Ichigo untuk memperdalam ciuman, sementara entah sadar atau tidak, Ichigo mencengkeram dada Grimmjow dengan erat, seakan ia menikmati ciuman itu.

Ciuman mereka terhenti saat sebuah mobil berhenti di dekat mereka, kaca mobil terbuka dan menampakkan seseorang yang membuat Ichigo terbelalak.

"Hai Ichi-chan, waah…sedang berkencan ya." Ucap gadis di dalam mobil itu—Rukia—dengan riangnya. Tapi bukan itu yang membuat Ichigo terpaku, melainkan sosok lain di belakang kemudi. "Aku dan Byakunn-chan juga sedang kencan lho…" lanjut Rukia.

Ichigo membeku menatap Byakuya yang menatapnya balik dengan tampang penuh amarah.

"Bya-ku-ya…" ucap Ichigo terbata saat mobil yang dinaiki Byakuya berjalan menjauh dengan Rukia melambai riang dan Byakuya yang seolah tak mau melihatnya lagi. "Aaargh!" jerit Ichigo frustasi sambil memegangi kepalanya.

"Sudahlah, untuk apa kau memikirkan orang semacam itu." Mata Ichigo terbelalak saat Grimmjow mengurung tubuhnya diantara mobil dan tubuh Grimmjow. "Yang perlu kau pikirkan saat ini hanyalah…aku!" dan Grimmjow mengakhiri ucapannya dengan kembali menawan bibir Ichigo dengan bibirnya.

~ To be Continue ~

.

.

I wow, beneran jadi GrimmIchi =,.=" *sweatdrop sendiri* padahal belum ada keterangannya kenapa Grimm jadi begitu ama Ichi *sigh* di chapter depan deeh…

Mind to Review this ga-je fict?