"Yamamoto," Takeshi menoleh atas panggilan Tsuna, "Sepertinya mereka mengincarku, jadi kau tidak perlu ikut campur dalam masalah ini."

Tanpa melihat wajah Tsuna pun, yang kini sudah berjalan mendahuluinya, Takeshi tahu bahwa temannya itu sudah dalam mode serius. Indikasi tersebut juga dibuktikan dengan adanya sepasang sarung tangan yang kini sudah terpakai di kedua tangannya.

Namun sebagai temannya, Takeshi tidak akan membiarkan Tsuna bertindak ceroboh semaunya. Jadi karena itu Takeshi memutuskan untuk ikut andil dalam pertarungan yang jika dilihat memang sudah berat sebelah kalau dikategorikan dalam hal jumlah, oleh karena itu tanpa ragu lagi Takeshi mensejejerkan posisinya dengan Tsuna yang tadi sempat berada dua langkah di depannya.

"Yare-yare, kaupikir aku akan menurut begitu saja pada perintahmu?" sahut Takeshi. Membuat Tsuna menoleh ke arah kiri, "Dilihat dari manapun kau sudah kalah dalam soal jumlah, Bos! Jadi jangan terlalu memaksakan diri."

Melihat bagaimana Takeshi sedang mengeluarkan pedang bambu andalannya dari wadah yang ia pegang, Tsuna dipaksa harus membuang nafas pelan karena tak bisa mencegah sifat kepala batu milik Takeshi. "Terserah kau saja."

Di sisi lain, Kiba harus mempertajam sorot matanya karena ada satu lagi orang yang ikut dalam urusan balas dendam ini. Dirinya mungkin tahu kalau sosok yang memiliki jilatan api di dahinya itu tanpa memakai senjatapun bisa menjadi sangat berbahaya, tapi menilik kalau satu orang baru yang ikut bergabung hanya memakai sebuah pedang bambu sebagai senjata? Kiba sukses dibuat heran.

"Aku tidak ingin mengulur waktu lagi, cepat segera kita selesaikan urusan ini." Deklarasi yang Tsuna ucapkan menjadi sebuah awal dari pertarungan yang memang berat sebelah.

Disclaim: Aku hanya minjam karakternya para [Pakar Ternama]

Peringatan: ooc, typo, Ngenes!Tsuna, Jomblo!Tsuna, dll.

Ringkasan: Tsunayoshi Sawada. Seorang calon bos mafia yang di juluki sebagai Decimo, dengan terpaksa melakukan sebuah pelatihan individu atas suruhan sang Arcoballeno, Reborn. Dan dia kini hidup sendiri di sebuah apartemen, hanya dengan bermodalkan Nekad.

~o~

Bagian 4: Kejutan Tak Terduga!

Sebagai seorang iblis yang memiliki peran Knight, Kiba adalah orang sangat berpotensi untuk menyudutkan lawannya pada serangan pertama. Kemampuan kecepatan superior yang tak dimiliki oleh bidak lain membuatnya paham betul bagaimana cara membunuh makhuk lain tanpa mereka sadari.

Jadi, saat Kiba selesai mencabut pedang dari sarungnya dan melemparnya sembarangan sampai menyentuh tanah, sosoknya sudah menghilang dalam kilatan bayangan kalau hanya dilihat dengan mata telanjang.

Namun kemampuan superior seperti itu hanya akan menjadi kemampuan yang tidak berguna di mata orang yang memiliki kemampuan kelas tinggi seperti Chou-Cokkan (Intuition Hyper), karena secepat apapun kecepatan gerak musuh, jika masih bisa dideteksi hawa keberadaan nafsu membunuhnya, menghentikan serangan hanyalah masalah waktu.

Karena itulah, saat Kiba berniat menusuk kepala targetnya dari belakang, langkahnya sudah terlebih dahulu tertebak oleh sebuah reflek konstan yang membuat Kiba terkejut. Remaja pirang yang mengambil peranan knight dari Peerage Rias Gremory terpaksa harus dibuat terseret kebelakang sambil meringis kesakitan karena satu pukulan sukses bersarang di perutnya, yang bahkan membuatnya merasa malu dari semua itu adalah karena pedangnya yang berhasil dilucuti saat ia terkena pukulan tadi.

Tsuna terus menatap datar Kiba yang kini berjongkok dan menapakkan kedua telapak tangannya ke tanah, kerutan di dahinya kian mendalam tatkala dia mulai diserang oleh sebuah firasat buruk. Karena itulah, Tsuna mulai menyiapkan sebuah pertahanan ganda dengan pedang yang sempat berhasil ia lucuti.

Dulu mungkin ia hanya memakai sarung tangan pemberian Reborn itu sebagai satu-satunya senjata khusus yang hanya bisa ia pakai seorang, namun hampir enam bulan yang lalu saat Tsuna dan kelompoknya masuk ke salah satu ruangan pelatihan uji coba pertahanan hidup, dia merasa kalau memakai sarung tangan saja tidaklah cukup, karena itulah dua hari kemudian Tsuna meminta Lal Mich untuk mengajarinya menguasai berbagai macam senjata material.

Melihat itu kemarahan Kiba karena sudah dipermalukan untuk yang kesekian kalinya bertambah besar. Dengan sebuah tatapan tajam dan sebuah gertakan gigi, Kiba menggeram. "Sword Birth."

Suara dentingan besi yang memekakkan telinga yang diciptakan dari puluhan pedang yang keluar dari dalam tanah membuat keteguhan hati Tsuna goyah sejenak. Namun semua itu menghilang saat sebuah punggung menutupi arah pandangnya.

"Serahkan ini padaku," Takeshi mengangkat pedang kayunya yang kini sudah menjadi samurai, "Shigure Souen Ryu."

Disaat yang bersamaan setelah Takeshi menancapkan pedangnya ke tanah, sebuah ledakan sumber air yang tidak diketahui asal usulnya langsung menutupi tempat dimana ia dan Tsuna berada. Kiba berhasil dibuat terbelalak, namun remaja Iblis itu tak lantas menghentikan serangannya karena yang ia tahu bahwa kedua musuhnya masih berada di dalam tembok air itu.

Buncahan air tersebut menghilang saat jurus Kiba berhasil menerobos tembok air buatan itu, dan itu membuat Kiba tersenyum... sebelum pada akhirnya kedua targetnya masih berdiri tegap di tempat mereka semula. Senyum terkembang di bibir Kiba menghilang, matanya yang tadi terpicing senang kini kembali dibuat tak percaya.

"Bagaimana bisa?!"

"Tsuna, sepertinya aku yang akan melawan dia." Ucap Takeshi dengan mengambil dua langkah ke depan ke arah Kiba, "Karena aku tahu bahwa akulah yang pantas menjadi lawannya."

"Kau yakin?" tanya Tsuna sambil melirik ke arah sahabatnya itu, dan saat melihat sebuah anggukan dari kepala Takeshi, Tsuna berbalik. "Baiklah, kuserahkan padamu." Dan saat arah pandangnya jatuh ke arah depan, Tsuna harus menahan diri agar tidak mendesah saat melihat empat orang lain yang salah satunya menjadi otak dari semua hal menyusahkan ini.

Namun bukanlah Rias yang menjadi objek pandangan Tsuna, tetapi gadis bertubuh kecil berambut keperakan yang terlihat suka ngemil setiap kali Tsuna mencuri pandangan, gadis yang bernama Koneko Toujou. "Baru satu hari aku sekolah, kau sudah berhasil membuatku susah, Toujou-san."

Koneko tidak sedikitpun merubah ekspresi, "Jujur saja, tidak sulit untuk mencarimu."

"Dasar stalker."

"Hei, berani-beraninya kau mengatai Koneko-chan seperti itu!" Issei berteriak lantang dengan mengambil satu langkah maju, "Apakah kau tidak tahu kalau dia maskot sekolah ini?!"

Mata Tsuna teralih ke Issei, "Bisakah kaudiam? Aku tidak sedang bicara padamu."

"Brengse –!"

Ucapan Issei tak terselesaikan ketika matanya menangkap kalau Koneko sudah terlebih dahulu meloncat untuk menerjang Tsuna. Pemuda berambut jabrik yang kini memiliki sebuah jilatan api di dahinya itu hanya mendongak tanpa berpindah dari tempatnya, dan pada waktu yang tepat Tsuna dapat mudahnya menghindari pukulan Koneko dengan hanya memiringkan badannya.

Plok! Plok!

Baru saja Tsuna ingin bergerak dari tempatnya, suara tepukan tangan membuatnya membatalkan niatnya itu, hanya untuk melihat dua gadis berkacamata yang tengah berjalan dari kejauhan menuju ke arahnya.

"Ada apa ini sebenarnya?" pertanyaan Sona langsung ditujukan pada satu-satunya makhluk yang memiliki rambut merah diantara semua orang disana. "...Rias?"

"So-Sona...?!" Rias hanya bisa berkeringat dingin saat ditatap sebegitu tajam oleh mata yang dilapisi oleh lensa kacamata itu, "A-Aku bisa menjelaskan." Rias hanya bisa terkekeh gugup setelahnya.

~o~

"Oh, jadi hanya karena harga dirimu tercoreng, kau jadi melakukan hal tidak berguna seperti itu?" Sona membetulkan kacamatanya yang sedikit merosot, "Kemana otak cerdasmu yang biasanya?"

Rias hanya bisa tertunduk, "Ma-Maafkan aku."

Sona mendengus pelan sebagai tanggapan, kemudian dia beralih menatap kedua remaja yang menduduki dua tingkatan kelas dibawahnya. "Dan kalian," Ucapan itu terhenti ketika mata dengan sorot tajam milik pemuda berambut jabrik yang masih terdapat jilatan api di dahinya itu balas menatap, entah kenapa keteguhan hati Sona menjadi sedikit goyah. "Sebenarnya, siapa kalian berdua ini?"

"Kauberkata kalau kau adalah Ketua OSIS di Sekolah ini? Dan dengan itu, harusnya kau sudah tahu jawabannya hanya dengan melihat seragam yang kupakai." Tsuna bersidekap. "Dan bisakah aku dan temanku pergi dari sini? Jujur saja, aku capek."

Sona baru saja membukan mulut dan berniat untuk buka suara lagi, sebelum akhirnya apa yang ingin dia lakukan telah didahului oleh gadis yang menjadi tangan kanannya. "Aku tidak akan mengijinkan kalian pergi sebelum Takeshi menjawab pertanyaanku." Tsubaki bersidekap. "Sebagai Ketua dari klub Kendo, aku ingin menggunakan hak tersebut untuk mendapatkan sebuah kejujuran. Takeshi, sebenarnya kau ini makhluk apa?"

Dijejali pertanyaan seperti itu, mau tak mau Tsuna harus dibuat bingung olehnya. "Apa maksudmu?" setelah bertanya, Tsuna menolehkan kepalanya ke arah kiri, hanya demi mendapati kalau Takeshi juga sama-sama tidak mengerti akan maksud dari pertanyaan yang ditujukan Tsubaki.

"Sebenarnya, di dalam ruangan ini kecuali kalian berdua, seluruhnya adalah Iblis." Alih-alih Tsubaki, Rias adalah orang yang menjawab pertanyaan Tsuna. "Sebetulnya aku tahu kalau kalian berdua adalah manusia, tapi dengan api yang berada di dahimu itu, aku jadi ragu dengan perspektifku sendiri."

Tsuna terdiam. Matanya kini teralih untuk bergerak melihat wajah-wajah yang sama sekali tak ia kenal tertuju padanya, "Yamamoto, sepertinya kita berada dalam situasi yang tidak tepat."

Bahkan setelah Takeshi mendengar kata Iblis dari ucapan Rias, dia sudah bersiap untuk menerima skenario terburuk yang akan terjadi setelahnya. Karena itulah, saat sahabat jabriknya sudah mengambil keputusan, dia telah bersiap dengan pedang bambunya yang sudah berada pada posisi bertarung.

"Jadi, bagaimana?" Takeshi melirik sahabatnya sejenak.

"Kita kabur."

Dengan sangat cepat, Takeshi merogoh saku celananya. Tak sampai dua detik ledakan sinar menyilaukan mata layaknya flashbang, membuat semua Iblis remaja yang berada di ruangan itu menutup mata secara reflek. Dan saat mereka membuka mata lagi (meskipun masih berada dalam keadaan blur), mereka tak lagi menemukan kedua sosok manusia yang tadi berdiri beberapa meter di depan mereka.

"Bagaimana mereka menurutmu, Kaichou?" Tsubaki bertanya.

Sona tersenyum tipis, "Kuakui, mereka cukup menarik."

~o~

"Ck, tak kusangka di dunia ini tak hanya manusia saja yang memijakkan kaki di bumi ini, tapi makhluk seperti iblispun juga." Tsuna mendesah. Dan dari raut wajahnya terlihat jelas sekali kerutan dimana dia sedang berpikir, tak jauh beda dengan Takeshi yang sedang duduk di depannya.

"Boss, sepertinya makhluk semacam iblispun memang bisa ada di bumi ini, menilik dari monster-monster yang pernah kita hadapi." Chrome yang datang dengan membawa sebuah nampan, langsung menimpali perkataan remaja yang menjadi calon pemimpin Vongola tersebut.

"Yah, mungkin bagi monster itu memang bisa. Tapi ini iblis! Makhluk gaib yang datang langsung dari Neraka, bukan seperti jin atau roh gentayangan." Tsuna mendesah kembali.

"Lalu, bagaimana cara kita menyikapi mereka besok?" tanya Takeshi.

Tsuna terdiam. Menatap dalam-dalam cangkir teh buatan Chrome yang masih beruap, setelah beberapa menit terhanyut dalam keheningan, akhirnya Tsuna mulai menyesap teh yang disuguhkan padanya itu.

"Dari sini aku akan memperjelas semua tujuanku. Aku pergi dari Namimori dan datang kesini atas suruhan Reborn, tak lebih dan tak kurang. Dan tujuan aku datang kemari adalah melatih kemandirian diri selama aku bersekolah di kota Kuoh ini, dan itu berarti sampai tiga tahun kedepan." Tsuna berdiri. "Itu berarti tujuanku hidup di kota ini merupakan sebuah misi, dan jika aku gagal dalam misi ini maka, aku akan diseret Reborn ke Italia dan akan dinobatkan langsung menjadi Bos dari Vongola pada hari itu juga. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi.

"Berarti besok kita akan masuk sekolah seperti biasa, melakukan hal seperti biasa, dan menganggap kalau eksistensi para makhluk dari Neraka itu tidak pernah ada!"

"Baiklah, sudah diputuskan!" Taksehi berdiri dari kursinya, "Besok aku akan menganggap kalau mereka tidak pernah ada. Aku pamit dulu, selamat malam."

Setelah melihat kepergian Takeshi yang sudah menghilang dibalik pintu, Chrome menatap Tsuna lagi. "Boss, aku mendapatkan sebuah kiriman dari Reborn-san tadi siang." Gadis yang memakai satu penutup mata itu memberikan sebuah bungkusan yang lumayan besar kepada Tsuna, "A-Aku belum membukanya, soalnya aku masih ragu apakah itu memang dikirim oleh Reborn-san atau bukan."

Tsuna menerima bungkusan berbentuk persegi panjang itu, dan dengan teliti dia melihat tulisan tangan latin yang tertera di pojok bungkusan. Tsuna tersenyum melihat kelakuan Reborn yang masih belum berubah, dan setelahnya dia menatap kembali Chrome. "Tidak apa-apa, ini benar-benar kiriman dari Reborn. Bolehkah aku membukanya?"

Chrome menarik kursi yang tadi dipakai Takeshi mendekat ke arah Tsuna, "Tentu saja,Boss."

"Baiklah, coba kita lihat! Dan kuharap ini bukan sebuah jebakan." Tsuna meletakkan bungkusan itu ke meja, setelahnya dia merobek-robek kertas yang menjadi pelapis bungkusan itu. "Apa ini?" sebuah amplop berwarna coklat tipis menarik perhatian Tsuna saat benda itu jatuh ke meja, dia benar-benar terkejut saat diketahui kalau isi dari amplop tersebut adalah uang.

Mata Tsuna langsung bersinar, "Wah! Dengan jumlah seperti ini, kita bisa bertahan selama tiga bulan!" kegembiraan Tsuna langsung pupus saat dilihatnya sebuah kotak berwarna putih, "Apa lagi ini?" saat dibukanya kotak itu, ternyata isinya adalah sebuah seragam perempuan khas Akademi Kuoh dan secarik surat, tanpa membuang waktu lagi Tsuna membaca surat tersebut.

To: Dame-Tsuna

Mungkin kau merasa bingung setelah melihat kiriman seragam perempuan ini, karena itulah aku akan menjelaskan apa tujuanku mengirim benda ini.
Mulai besok, Chrome akan menjadi tanggunganmu di Sekolah! Kau harus melindungi dia agar tidak diganggu oleh siswa lain, mengerti?
Dan lagi, itu juga salah satu ujianmu dalam tes kali ini. Kau harus bisa mengatasinya, dan jangan membuat satu kesalahan, jika tidak aku akan menghampirimu dan menyeretmu ke Italia.

Baiklah, hanya itu saja. Chiao...

Tsuna kembali menutup lembaran kertas itu, dan kemudian menatap Chrome yang berada di sisi kanannya. "Kau sudah tahu sendiri 'kan soal surat ini?"

Satu mata Chrome yang lebar mulai berkaca-kaca, "TIDAAAKK... AKU TIDAK MAU SEKOLAH!"

To be Continued...