Pagi yang tenang di kediaman Rokudo-Hibari. Seperti biasa, Mukuro akan menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya tercinta, dan Hibari akan muncul dari arah kamar, dengan langkah yang diseret dan ekspresi yang tampak kusut. Seperti biasa pula, Mukuro akan mulai menggoda suaminya, dan Hibari Kyoya tidak membuat keributan berarti, dengan kalem, ia akan mulai melempari pria bersurai biru dihadapannya dengan piring bekas makan. Sebaliknya, dengan tenang sang korban piring hanya akan memberikan sebuah seringai manis –yang langsung mendapat bonus deathglare- dan mulai beranjak untuk mencuci piring-piring tersebut.

Tapi ada yang aneh hari ini, suasana aneh dengan atmosfir canggung dan dingin, cukup aneh hingga membuat sang skylark bertanya-tanya dalam hati.

Kenapa Mukuro kelihatan kalem sekali?


The Marriage

Chapter Four : Maybe , Maybe This is Love

Disclaimer: belongs to Amano Akira-sensei

Pairing: 6918

Rating: Forever T

Warning: OOC, AU, Shonen-ai

Don't like? silahkan tekan tombol back *wink


Hibari ingin bertanya, sumpah, mulutnya terasa gatal ingin bertanya mengapa Si Mesum diam saja hari ini, tapi karena harga dirinya yang selangit tidak mengizinkan, ia malah mulai berspekulasi sendiri, menerka-nerka, mungkin dia sakit gigi, atau ia lupa bagaimana caranya menggunakan mulut, ya pasti begitu, Hibari mengangguk pelan dalam diam. Mukuro, yang sejak tadi merasa diperhatikan, menoleh perlahan, ia tersenyum tipis, tipis sekali. Sebenarnya, Mukuro sedang menggunakan terapi diam, ia berharap, jika dia diam saja, mungkin Hibari akan mulai mengajaknya bicara. Ia ingin hibari membuka dirinya, karena itulah tujuan sebenarnya dari pernikahan ini. Namun, agaknya Hibari mulai merasa bosan diacuhkan, karenanya ia beranjak meninggalkan ruang makan. Sialnya, baru saja selangkah ia berdiri, kakinya yang tidak dalam keadaan fokus membuatnya tergelincir. Hibari merasa cukup yakin kalau wajahnya yang sedang dalam perjalanan menuju lantai akan mendapatkan ciuman hangat dari permukaan keramik tersebut. Namun perkiraannya salah, sesuatu yang hangat menangkap tubuhnya. Terima kasih kepada Mukuro dan reflek-super miliknya, ia menangkap Hibari tepat waktu, tangan besarnya menghalangi kepala Hibari dari permukaan lantai. Posisi sekarang, Mukuro berada diatas Hibari, dengan satu lengan melingkar dibelakang kepala Hibari, dan yang satunya menahan berat tubuhnya agar tidak menimpa Hibari.

Damn.

Hibari Kyoya, 21 tahun, merasa seperti gadis dalam komik shoujo.


Mukuro berada dalam posisi awkward, awkward sekali, absurd, dan sederetan kata lainnya yang mirip. Pipinya terasa terbakar (dan ia melewatkan semburat merah tipis di pipi mulus Hibari), dan jantungnya, oh mungkin Hibari juga dapat mendengarnya. Tidak ada yang terlihat hendak bangkit dari posisi ehmmenjanjikanehm ini. Mukuro masih sibuk memikirkan bagaimana keadaan jantungnya. Di lain pihak, Hibari malah sibuk memandangi –mengagumi mata heterokrom milik Mukuro yang tampak tidak umum, Merah dan Biru. Hibari cukup sadar bahwa ia merasa mendengar suara degup jantung seseorang (miliknya, atau milik Mukuro, ia tidak terlalu yakin). Mereka cukup lama saling berpandangan hingga Mukuro berdehem, mengagetkan Hibari, dan berdiri perlahan. Butuh waktu beberapa saat untuk rona merah (rona merah terkutuk itu) muncul kembali di wajah Hibari. Mukuro mengulurkan tangan (ya, Hibari masih terlentang di bawah), tersenyum ringan saat menyadari Hibari hanya menatap wajahnya dengan pandangan bingung.

"Kau bisa masuk angin kalau tiduran di lantai begitu, Kyoya." Tersenyum tipis, menutupi kegugupan luar biasa yang membuat jantungnya masih berdebar keras.

Hibari Kyoya tidak menjawab, ia bangkit dan langsung meninggalkan Mukuro dan tangannya yang terulur.

Diluar kebiasaan, Mukuro tidak menggoda Hibari yang berlalu, ia menunduk, menutupi wajahnya yang serasa terbakar.

"Tadi itu, hampir." Ia menggeleng.


Hibari Kyoya berharap ia ditelan bumi. Kejadian tadi sungguh membuatnya hampir saja terkena serangan jantung. Ia masih mengingat bagaimana tubuhnya kelihatan pas sekali dalam pelukan Mukuro, ia masih mengingat wangi lotus yang agak samar dari lengan Mukuro, ia masih ingat dan ia berharap dirinya terbentur lalu hilang ingatan. Dirinya bukan anak kecil, tentu saja. Ia tahu apa yang ia rasakan –jantung berdebar, wajah memanas-, tapi ia menolak untuk mengerti. Ia tahu dengan jelas apa nama perasaan yang ia rasakan saat melihat Mukuro, perasaan bahagia, perasaan ingin memonopoli. Tapi ia sekuat tenaga menolak perasaaannya sendiri. Karena Hibari sadar betul bahwa pernikahan ini diatur ayahnya, jadi mungkin nanti tiba saatnya dimana ayahnya memintanya untuk berpisah, ia takut tak akan sanggup. Hibari menggeleng, menghilangkan segala pikiran fuwafuwa tentang Mukuro. Ia beranjak perlahan menuju kamar mandi (tadi dia kabur ke kamar setelah sadar dari Love attack Mukuro).

Perlahan, ia membasuh wajah tampannya dengan air dingin berkali-kali, bertujuan mendinginkan pikirannya. Baru saja ia hendak mengelap wajahnya, pintu kamar mandi terbuka perlahan, menampilkan sosok sempurna dengan wajah bengong. Hibari mengernyit, agak bingung karena biasanya ada seringai mesum menempel permanen disana.

"Ah." Wajahnya masih bengong, tampak linglung, sebenarnya. "Boleh aku menggunakan kamar mandi?"

Canggung. Super canggung.

Pemuda raven tersebut bergeser sedikit, berdehem pelan. "Silahkan saja."

"Terima kasih." Pintu menutup perlahan, Hibari menghela napas.


Hari itu suasana seluruh rumah diliputi atmosfir canggung, bukan jenis canggung yang menyebalkan, tapi jenis canggung yang membuatmu takut salah bicara pada kencan pertama. Atmosfir canggung dengan aura pink-pink suram. Canggung dengan beberapa lirikan penuh harap terhadap lawan bicara, akhirnya, sepanjang hari mereka hanya lirik-lirikan, bahkan Mukuro yang biasanya cerewet pun jadi pendiam.

Karena mulai tidak tahan dengan keadaan dimana yang terdengar hanya detik jarum jam dan beberapa tarikan napas pelan, Hibari hendak memulai percakapan. Baru saja ia membuka mulut, Mukuro sudah menoleh kearahnya duluan, mata bertemu. Sekilas bayangan tadi siang hinggap di antara mereka, membuat keduanya saling membuang muka dengan gugup.

"Ehm." Hibari berdehem, membuat Mukuro menoleh lagi padanya. "Malam ini kau tidur dikamar saja."

Hening. Tidak ada respon apapun kecuali mata Mukuro yang mengerjap heran.

"Maksudku." Sialan, wajahnya terasa panas. "Nanti kau sakit kalau terus tidur disana." Mukuro tersenyum. "Bu-bukannya aku khawatir. Aku hanya malas mengurus orang sakit." Hibari mengalihkan pandangan.

"Arigatou Kyoya." Mukuro tersenyum tulus.


Malamnya, mereka tidur berdampingan. Diluar perkiraan, Mukuro ternyata malah memasang bantal ditengah-tengah mereka. Ia hanya tersenyum, dan tanpa banyak bicara, langsung membalik tubuhnya. Hibari menatap punggungnya, menerka-nerka apa yang kira-kira akan ia lakukan saat dirinya terlelap.

"Oya, punggungku bisa berlubang kalau terus kau tatap seperti itu." Mukuro membalik badannya dan tersenyum.

"Tsk." Hibari menatapnya dingin. "Aku tahu, kau sama seperti yang lain."

Mukuro mengernyit, maksudnya? Sama apanya?

"Lakukan saja, silahkan." Hibari berbaring pasrah, Mukuro makin memandangnya heran, ah, rasanya ia mengerti.

"Tidak." Tolak Mukuro tegas. Hibari menoleh. "Aku tidak menyetujui pernikahan ini karena itu, Kyoya." Ia menatap Hibari, dalam kamar yang gelap, dan cahaya bulan yang memantul dalam iris merah dan biru miliknya. Ia serius, seserius saat ia menyetujui untuk menikah, seserius perasaannya. Hibari bisa merasakan ketulusan disana. "Aku.. Maaf." Ia tidak tahu kenapa dirinya meminta maaf, tidak ada yang salah, yang salah adalah perasaan yang mulai berkembang di hatinya, perasaan untuk Mukuro. Ia masih terus menerus menolak perasaannya sendiri.

Mukuro tersenyum. "Tidak ada yang salah Kyoya, kenapa kau harus minta maaf?"

Hibari membalik tubuhnya, menolak untuk menjawab. Sekali lagi Mukuro tersenyum, ia ikut membalik tubuhnya.

"Nanas."

"Ya, Kyoya?"

"Ayo pergi kencan, besok."


a/n: iya itu garing, klise pulak, maaf karena saya lagi WB #bows #cries dan saya sedang berjuang menyelesaikan ini dengan wangsit seadanya, saya berusaha untuk membuat readers tidak kecewa #kayakadayangbacaaja dan saya masih gugup buat bales review, antara seneng sama takut salah ngomong ._.

N-san : sudah saya update, dan Hibari akan membuka hatinya fufu trims sudah membaca :D #salaman

Little Otaku-san : terima kasih, tolong koreksi saya lagi jika saya ada kesalahan, terima kasih sudah membaca :D #bows

kyl-san : ehehe sudah saya update, terima kasih atas dukungannya :D