Chap 4
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, kini waktu hanya tersisa dua minggu lagi bagi baekhyun untuk memutuskan pilihannya. Selama dua minggu terakhir ini chanyeol terus berusaha membujuk baekhyun untuk memikirkan kembali keputusannya. Ia tahu bahwa kekasihnya itu tidak suka jika chanyeol terus menerus membahas tentang transformasinya, tapi bagaimanapun chanyeol harus bisa meyakinkan kekasihnya bahwa keputusan yang diambilnya nanti adalah keputusan yang terbaik bagi baekhyun sendiri.
Selama dua minggu ini berkali – kali chanyeol bertemu dengan ibu baekhyun, tentu saja tanpa sepengetahuan baekhyun. Apa yang diinginkan nyonya byun masih tetap sama, yaitu meminta chanyeol untuk terus membujuk putrinya. Bahkan ia tak sungkan – sungkan berlutut dan memohon kepada chanyeol. bukannya chanyeol tak berusaha selama ini, hanya saja baekhyun masih cukup keras kepala.
Pertama kali chanyeol membujuk baekhyun, usahanya berakhir dengan sia – sia. Bukan keberhasilan yang ia dapatkan, justru usahanya itu berakhir dengan pertengkaran diantara mereka. Dan terakhir kali chanyeol membujuk baekhyun adalah dua hari yang lalu, tak ada pertengkaran yang terjadi namun baekhyun lebih memilih untuk diam. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan baekhyun, apakah ia benar – benar memikirkan keputusannya atau hanya berpura – pura tak mendengar apa yang chanyeol katakan.
Chanyeol berharap, semoga saja baekhyun sedikit demi sedikit mulai merubah pikirannya. Ia tak bisa terus – terusan melihat ibu baekhyun terus meminta dan memohon padanya, jujur saja itu membuatnya tak nyaman seperti sekarang ini.
" Chanyeol bagaimana, apa kau berhasil membujuk putriku ? " tanyanya penuh harap.
Chanyeol menggeleng pelan " maafkan aku eommoni ", ia tidak ingin membuat nyonya byun berharap banyak padanya.
Nyonya byun menghela nafas berat, sepertinya usaha membujuk baekhyun lewat chanyeol tidak berhasil. jika seperti ini ia yang harus turun tangan sendiri untuk membujuk putrinya dan jalan satu – satunya adalah menceritakan tentang seorin, kakak baekhyun. Sebenarnya ia tidak ingin menceritakan tentang seorin kepada baekhyun, karena itu akan membuka luka lama baginya. Tapi sekarang mau tak mau ia harus menceritakan kepada putri bungsunya tersebut. ia tak mungkin membiarkan baekhyun bertindak gegabah dan yang terpenting ia tak akan membiarkan lagi kehilangan putrinya.
Terkadang rasa penyesalan muncul di dalam hati nyonya byun, jika saja ia memilih tinggal dengan kelompoknya mungkin keadaan tidak akan seperti ini. Mungkin saja saat ini, ia masih bisa berkumpul lengkap dengan seo rin putri sulungnya. Keputusannya untuk keluar dari kelompok ternyata harus dibayar mahal dengan kehilangan salah satu putrinya.
.
.
.
Tok…tok…tok
nyonya byun mengetuk pintu kamar baekhyun " baekhyun,apa kau sudah tidur ? " tanya nya dari luar pintu, namun tak ada jawaban. Dengan perlahan nyonya byun membuka pintu kamar baekhyun, nuansa putih tampak begitu dominan dikamar putrinya tersebut walaupun warna – warna pastel juga terdapat untuk menambah kesan feminim di kamar tersebut. Selera baekhyun memang sangat berbeda dengan seo rin, ujar nyonya byun dalam hati.
" eomma… " baekhyun baru saja keluar dari kamar mandi
Nyonya byun tersenyum ke arah putrinya, ia menepuk tempat di sebelahnya menyuruh baekhyun untuk duduk disana.
" eomma siapa dia ? " tanya baekhyun, matanya tertuju pada foto yang di genggaman eommanya. Dalam foto tersebut tampak seorang gadis cantik tengah tersenyum dengan memeluk sang eomma
" Baekhyun mau kah kau melakukan apapun untuk eomma sayang ? "
Baekhyun mengerutkan keningnya, ia cukup heran dengan pertanyaan yang terucap dari bibir eommanya, tidak biasanya eommanya bersikap seperti ini. Tanpa diminta pun baekhyun pasti akan melakukan segalanya untuk eomma dan keluarganya.
" tentu saja, tanpa eomma minta pun aku akan melakukannya " dengan penuh keyakinan ia menjawab pertanyaan eommanya tersebut, senyum terpatri di wajahnya.
" Ikutlah dengan chanyeol, dia akan menjagamu dengan baik "
" eomma… " ucapnya lirih
" kau lihat gadis yang ada di foto ini ? dia adalah kakakmu,byun seo rin "
Baekhyun terdiam, dia baru tahu jika ternyata ia mempunyai seorang kakak, mengapa ibunya menyembunyikan soal ini padanya. Membuat baekhyun selama ini berpikir bahwa dia adalah anak keluarga byun satu – satunya. berbagai pertanyaan muncul di benaknya ia kembali mengamati foto tersebut. Memperhatikan setiap lekuk wajah seo rin yang tersenyum riang, pantas saja wajahnya begitu mirip dengan ibunya, ia tak menyangka jika gadis di foto tersebut adalah kakaknya.
" eonnie begitu cantik eomma, aku ingin bertemu dengannya " ujarnya seraya tersenyum ke arah ibunya.
Sebisa mungkin nyonya byun menahan air matanya untuk tidak keluar " Dia sudah meninggal baekhyun "
Baekhyun kembali terdiam, bukan karena ia bingung tapi ia terlalu syok atas jawaban dari ibunya.
" baekhyun aku mohon dengarkan eomma…." kali ini air mata sudah jatuh di pipinya, dengan susah payah ia kembali melanjutkan ucapannya, ia menceritakan semua tentang seo rin kepada baekhyun, ia tak ingin menutup – nutupi lagi sesuatu dari putrinya tersebut. Baekhyun hanya diam menyimak dan mendengarkan apa yang eommanya ceritakan.
" maafkan eomma " ucap nyonya byun sambil terisak
" tidak eomma, jangan meminta maaf " air mata meluncur begitu saja dari mata indah milik baekhyun
" jika saja eomma dan appamu tidak meninggalkan kelompok, mungkin tidak akan seperti ini "
" tidak eomma, aku mohon jangan berkata seperti itu " baekhyun menepuk pelan punggung ibunya, berusaha menenangkannya yang kini tengah menangis sesenggukan.
" kau sudah tahu bahwa kakakmu meninggal saat melakukan transformasinya karena ia mengambil keputusan yang salah,aku mohon ikutlah bersama chanyeol dia akan menjagamu baekhyun. Tak akan aku biarkan lagi kehilangan putriku, eomma mohon " tangan nyonya byun mengenggam erat tangan putrinya.
Nyonya byun harus menunggu cukup lama untuk mendengar jawaban putrinya, karena baekhyun hanya terdiam " aku takut eomma…" ucapnya pelan
Ia cukup mengerti ketakutan putrinya tersebut, ia juga mengalami ketakutan yang sama dulu. Tapi berbeda dengan baekhyun ia tak harus meninggalkan keluarganya ketika melakukan transfrormasi terakhirnya.
Nyonya byun menepuk pelan pipi putrinya tersebut, mencoba menyalurkan kehangatan dan kenyamanan.
" eomma bagaimana jika aku benar – benar melupakanmu dan appa, aku sungguh – sungguh tak ingin melupakan kalian. Bagaimana jika nanti aku menyerang kalian ? " air mata semakin keluar deras dari mata baekhyun
Nyonya byun tersenyum ke arah putrinya " kau tak akan melupakan eomma dan appa baekhyun, karena, kami akan selalu ada disini " nyonya byun menunjuk hati baekhyun " kau mau kan melakukan apapun untuk eomma ? "
Baekhyun mengangguk, ia tak ingin mengecewakan ibunya. Cerita tentang seo rin ternyata cukup ampuh membuat baekhyun untuk merubah keputusannya.
" berjanjilah kau akan ikut dengan chanyeol dan kelompoknya ? "
" aku berjanji eomma " ujar baekhyun, mendekap erat tubuh eommanya seolah – olah ia tak akan bertemu lagi esok hari.
Tanpa mereka sadari seorang pria memperhatikan obrolan anak dan ibu tersebut, ia tersenyum menyeringai, tidak… lebih tepatnya senyum kemenangan terpatri di wajah tampan tersebut
" cih … benar – benar memuakan, tapi aku berterima kasih padamu baekhyun kau membuat rencanaku semakin berjalan lancar "
Matanya yang semula cokelat kini berubah, menjadi warna merah menyala
" Permainan akan segera dimulai park chanyeol "
To be Continue
.
.
.
