Camaraderie

Disclaimer: Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.

Characters: Akashi Seijuuro, Furihata Kouki. Genre: Friendship/Humor. Rating: K+. Other notes: kumpulan ficlet.

(Si Chihuahua takut pada Si Singa, Singa tampak tak peduli. Tapi siapa bilang, tak akan terjadi suatu hal pun di antara keduanya?)


Ada salah satu restoran di Tokyo yang berubah wujud setiap tanggal 14 April, dan itu selalu terjadi selama lima tahun ini. Sudah seperti sebuah tradisi untuk mereka, dan pengunjungnya semakin banyak setiap tahun pada tanggal tersebut, membuat mereka berencana untuk terus mempertahankan kebiasaan ini sampai bertahun-tahun ke depan. Malah, sudah menjadi seperti ciri khas mereka.

Karena alasan itulah, Fukuda mengajak Furihata dan Kawahara untuk ikut meramaikan restoran itu, pada tanggal tersebut.

Tunggu, kenapa harus 14 April?


"Ada apa, sih, dengan 14 April?" Furihata bertanya ketika mereka sudah hampir tiba di restoran. Fukuda sama sekali tidak mau memberi tahu alasannya padanya saat mengajak dia kemarin.

"Hm, begini," sepertinya Fukuda akhirnya mau jujur, "14 April itu adalah hari para jomblo. Namanya Black Day. Di Korea, ada tradisi seperti ini, dimana para lajang berkumpul dengan memakai baju hitam dan makan mie hitam."

Furihata akhirnya tahu mengapa Fukuda mendesaknya untuk memakai kaos hitam hari ini.

"Pemilik restoran ini adalah orang Korea, jadi ..." Fukuda pun berbalik menghadap kedua sahabatnya. "Kita akan ikut merayakan Black Day, karena kita adalah para single bahagia!" ucapnya sambil mengacungkan tangan tinggi-tinggi.

Furihata dan Kawaraha melongo.

Oke, sepertinya mereka berdua terjebak di keantusiasan Fukuda akan sebuah hari di pertengahan April, sebuah hari yang mana mereka (dipaksa) merayakan pendeklarasian status kesepian mereka dalam sebuah peringatan yang diisi dengan acara makan mie diskonan di sebuah restoran khusus.


Furihata sama sekali tidak membenci Fukuda dan rencananya, bahkan ketika dia tahu perayaan apa yang dia hadiri atas desakan Fukuda itu. Lumayan, dia jadi bisa mencicipi mie yang baru untuknya, yang katanya sangat enak dan harganya murah.

Terlebih lagi, semua orang yang datang ke restoran semuanya memakai baju hitam, pertanda bahwa mereka merayakan hari yang sama dan punya status seperti Furihata juga. Furihata senang, ternyata bukan cuma dirinya yang belum sukses menggaet perempuan dan belum merasakan indahnya kisah-kasih SMA. Banyak teman senasib!

Tapi rasa senangnya berakhir ketika Fukuda dan Kawahara meninggalkannya di meja yang berbeda, karena mereka berdua bertemu dengan kawan lama mereka, dan dia tertinggal sendirian di satu-satunya meja yang kosong.

Meja yang lain telah penuh, Furihata sendirian. Dia merasa makin menyedihkan. Sudah berstatus jomblo, sendirian di meja pula. Forever alone level expert. Level 1000.

Rasa senangnya benar-benar menjelma jadi rasa takut dan merinding ketika sadar siapa yang datang dan (terpaksa) bergabung di mejanya, karena dia baru datang dan meja lain penuh.

Dia ingin menyenggol Fukuda di meja sebelah, dan berteriak, "Oi! Keluarkan aku dari sini! Aku tidak mau dikutuk! Oi!"

Tapi sayangnya, itu tinggal rencana, karena baginya bergerak pun susah. Ia merasa diintimidasi walau tidak sedang ditatap—karena aura orang yang duduk di hadapannya pun sudah berasa seperti menyiksanya.

Siapa lagi kalau bukan Akashi Seijuuro.

Tapi di atas semua itu, Furihata bertanya-tanya. Akashi bahkan datang dengan pakaian hitam. Berarti ...

... dia memang sengaja untuk datang merayakan Black Day di sini?

Oh Tuhan! Andaikan Furihata adalah wartawan dan tidak punya rasa ketakutan khusus pada Akashi, dijamin hal ini sudah akan jadi headline dari majalah remaja terkenal, dan pamor Akashi akan mengalahkan Kise yang notabene sebagai model penghias sampul depan!

Tapi sayangnya, walau sudah sekian kali bertemu dengan Akashi, dia tetap tidak bisa berbicara dengan baik padanya, apalagi menjadikan hal itu sebagai pengisi rubrik di sebuah majalah!

Furihata hanya bisa menunduk sambil berharap kaca di belakangnya akan pecah dengan sendirinya, kemudian dia bisa kabur dengan mudah. Atau ada meteor yang jatuh tiba-tiba di luar, terjadi kehebohan, dan dia bisa kabur. Ya Tuhan, permohonannya tak wajar.

Akashi masih diam di hadapannya, tangan terlipat dan mata terpejam. Furihata menghabiskan waktu dengan menunduk dan menyesal. (Menyesal mengapa dia mau menuruti Fukuda.)

Sampai seorang pelayan datang menanyakan pesanan, Furihata masih diam. Akashi menyebutkan dengan lancar pesanannya.

"Sebutkan pesananmu, Kouki."

Furihata syok setengah mati. Apa? Akashi? Memanggilnya? Oke, yang lebih parah lagi: Akashi memanggil nama kecilnya! Sial, mimpi apa dia semalam? Ini keuntungan atau sebuah awal dari petaka baru? Ya Tuhan, Furihata menciut. Dia terperangah sambil memandang Akashi.

"M-mie ..." sebut Furihata gemetar. Mata Akashi terbuka, memperlihatkan sepasang manik beda warna, membuat Furihata merasa terancam kalau dia tidak segera menyebutkan pesanan. Ah, mungkin hanya dianya yang terlalu parno. "Dan j-jus jeruk ..."

Pelayan itu pun berlalu.

"Jangan ceritakan ini pada banyak orang."

Furihata belum sanggup berkata-kata. Rasa takutnya sudah mulai menyurut, karena dia sudah mulai agak terbiasa, dan rasa tak sanggupnya ini lebih kepada rasa bingung yang merajalela sampai membisukannya.

"K-kenapa ...?"

"Seseorang mengajakku ke sini tapi dia mengingkari janjinya."

Furihata menghembuskan napas, menenangkan diri. Bagus, usahanya berhasil.

Ternyata Akashi jomblo juga, pikir Furihata. Padahal, kualifikasi Akashi sangat jauh di atas rata-rata, apalagi jika dibandingkan dengan dirinya yang aduh-apalah-dia-ini-selain-pemain-basket-biasa-yang-bahkan-bukan-starter.

Hei, ternyata Akashi senasib dengan dirinya!

Akhirnya Furihata berani tertawa, menertawakan Akashi, meski hanya dalam hati.

"Kapan terakhir kali kau punya pacar?"

Seperti melihat ledakan kembang api di langit yang tengah berhujan lebat dan berbonus badai, Furihata sama sekali tak memperhitungkan bahwa Akashi akan menanyakan hal ini. Ah, tensi sudah sedikit berkurang, ternyata.

(Ternyata, dua laki-laki yang senasib bisa lebih mudah nyambung, ya.)

"Aku ... baru sekali punya pacar ... i-itu ... waktu aku kelas 2 SMP ..." Furihata masih terbata. Belum terbiasa, rasa takut masih tersisa karena dua mata Akashi masih kelihatan menakutkan baginya. "Kau?"

Seakan mempertaruhkan nyawa menanyakan itu. Sedetik kemudian, Furihata menyesal.

"Aku belum pernah punya pacar."

Muka Furihata merah dan pipinya menggembung.

(Beruntung, Akashi tak membicarakan apapun lagi selama mereka makan, hingga dia tak perlu repot-repot menahan itu sementara berkewajiban menjawab kalimat Akashi.)


Muka merah dan pipi yang menggembung itu harus ditahan Furihata sampai dia pulang, sampai dia berpisah kereta dengan Fukuda dan Kawahara karena dua laki-laki itu masih ingin jalan-jalan dengan kawan lama mereka.

Ketika di kereta, tawa Furihata menyembur. Peduli amat kalau dia dikatai gila, yang penting dia bisa merasa lega karena sakit menahan tawa dari di restoran tadi.

Ternyata masih ada poin dimana dia menang dari Akashi.

"Pfffft—Akashi—" Furihata tertawa lagi ketika dia memandang kaca kereta yang seolah menjadi layar pemutaran kembali momen dimana Akashi mengakui bahwa dia telah menyandang predikat jomblo semur hidupnya.

(Kali ini, Furihata merasa bahwa dia lebih jahat dari Akashi karena aksi penertawaan ini. Oh Dear God ...)


A/N: cie akashi ngga pernah pacaran cie jomblo seumur hidup (digunting)