Cast :
Sasuke 26 tahun
Naruto 16 tahun

Other cast :
Gaara 16 tahun
Neji 17 tahun
Kyuubi 20 tahun
and many more

Disclamier : MK's SasuNaru

Summary : [Chapter 4] "Baik sensei". Naruto melemparkan senyuman sumringah hingga memperlihatkan deretan giginya. Senyuman yang benar-benar menawan dan manis. 'benar-benar nggak salah' batin Sasuke mengeluarkan sedikit seringainya yang tak sadari oleh Naruto. [SasukexNaruto]

Chapter 4 : Kidnapper?

'sama. Tapi berbeda' batin Naruto masih kalut dengan rasa bingungnya.

"ada apa dengan ekspresimu itu?" laki-laki tersebut mendekati Naruto sambal membawa nampan.

Naruto terlihat ingin menjauh dari laki-laki tersebut, namun apa yang ia bisa lakukan, kakinya dirantai dan terikat dengan ujung ranjang tersebut. laki-laki tersebut dapat melihat ketakutan dari wajah Naruto.

'apa aku membuat kesalahan?' batin Naruto mulai merasa keringat dingin membasahi tubuhnya.

"bangunlah, jangan tidur terus dobe" laki-laki tersebut menarik meja yang berjarak cukup jauh dari ranjang Naruto dna meletakkan nampan tersebut diatasnya.

Naruto masih diam tak mau menjawab sapaan laki-laki yang memanggilnya 'dobe'. Mulutnya masih tak mau terbuka dihadapan laki-laki tersebut.

"makan ini"

Laki-laki dengan kulit pucatnya mengambil sepiring nasi goreng dan siap-siap akan menyuapi Naruto.

'sudah 4 bulan aku tidak makan ramen' batin Naruto memandang sepiring nasi goreng tersebut.

Laki-laki tersebut melihat raut wajah ekspresi Naruto dan menghela nafas.

"haruskah aku membelikanmu ramen?"

Ia meletakkan kembali piring tersebut diatas nampan. Mata Naruto membulat dan ia menatap penuh keterkejutan laki-laki tersebut. Naruto merasa, apakah laki-laki ini bisa mendengarkan isi hatinya?.

"Ramen apa yang kau mau?" lanjutnya.

"be.. be.. benarka? Ka.. kau akan membelikanku ramen?"

Sungguh. Kalimat terbata yang keluar dari mulut Naruto ini justru membuat laki-laki tersebut sedikit lega. Akhirnya ia mau berbicara dengannya. Tanpa menjawab dengan kata-kata, laki-laki ini mengangguk pelan.

"a.. aku mau ramen ichiraku, ttebayo~"

Wajah Naruto terlihat sedikit berbinar menyebutkan ramen kesukaan Naruto. Laki-laki di hadapannya mengambil ponsel dari saku jaketnya dan …

"Sai, belikan 2 ramen ichiraku sekarang"

Hanya mengeluarkan satu kalimat, laki-laki tersebut bangkit untuk menjauhkan meja dari ranjang Naruto. Ia mengambil segelas susu putih dan menyodorkan kepada Naruto.

"minumlah ini dulu"

Dengan gerak pelan dan sedikit menahan takut, Naruto mengambil susu tersebut yang terlihat dan terasa masih hangat. Naruto meminum perlahan susu tersebut.

"Jeruk?"

Naruto memberikan tatapan heran dan terkejut akan rasa susu tersebut. susu tersbeut rasa jeruk, rasa kesukaan Naruto.

"iya, aku sengaja membelikannya untukmu. Aku tau kau sangat suka dengan jeruk"

Dengan sigap dan rona merah di wajahnya Naruto meneguk segelas susu tersebut tanpa menyisakannya sedikitpun.

'dia tau aku suka ramen? Dia tau aku suka jeruk?' batin Naruto mulai bertanya-tanya sambal menyembunyikan wajahnya di balik gelas tersbeut.

'tapi kenapa dia tidak memberikanku sejak 4 bulan yang lalu'

(-_-)Naruto masih berpikiran speerti orang yang aneh. Kenapa ia berpikiran seperti itu. Jika laki-laki tersebut memang bisa membaca pikirannya, pasti laki-laki tersebut akan tertawa lepas.

Naruto memberikan gelas kosong kepada laki-laki yang sedari tadi menyaksikan Naruto meminum susu jeruk tersebut. terlihat sisa susu di atas bibir Naruto. Tangan kanan laki-lkai tersebut mengambil tissue dan membersihkan sisa susu tersebut.

Naruto sedikit tersentak dan terkejut dengan perlakuan laki-laki yang selama ini menyiksa dan memperkosanya tiap malam. Apa laki-laki ini memiliki kepribadian ganda?

Baru saja Naruto masih berkutat untuk berpikir, seseorang dengan jas hitam masuk. Aroma ramen yang dibawa laki-laki tersebut tercium oleh Naruto.

"Ramen" terlihat binar bahagia dari wajah Naruto.

"ini tuan. Sekalian saya letakkan dalam mangkuk" ia menyerahkan 2 mangkuk ramen yang berada di atas nampan dan meletakkannya dia ats meja tepat nampan berisi nasi goreng berada.

"bawa nasi goreng ini"

"baik tuan muda"

Laki-laki tersebut keluar membawa nampang dan hilang dari ruangan tersbeut. Naruto terlihat tidak sabar memakan ramen kesukaannya.

"makanlah"

Ia meletakkan meja kecil dan ramen dengan segelas jus jeruk di hadapan Naruto.

"itadakiamas~"

Naruto dengan lahap memakan ramen tersebut. lahap dan bahagia. 4 bulan tidak dapat merasakan ramen rasanya bisa memakannya kembali memberikan kesenangan tersendiri buat Naruto. Naruto bahkan mulai lupa akan lebam yang masih menyisa di wajah dan sekujur tubuhnya.

Laki-laki dengan wajah stoic nya itu memandang lekat Naruto yang masih asik memakan ramennya. Matanya memandang seluruh tubuh Naruto. Wajahnya, hingan badan dan kakinya. Matanya memandang dalam dan membidik sehingga membuat Naruto menyadari kalau laki-laki tersebut tengah memandangnya.

'apakah setelah aku mendapatkan ramen ini, dia akan melakukan hal *itu* lagi padaku?'

Kini Naruto terlihat berpikir, memang terlihat tidak seperti Naruto yang biasanya. Naruto berhenti memakan ramennya dan menunduk menatapi sisa ramen di hadapannya. Laki-laki tersebut kaget dengan sikap Naruto yang mendadak berhenti.

"ada apa?"

"…"

"kau tak ingin makan ramen kesukaanmu?"

"…."

"…."

"apakah.. setelah aku memakan ramen ini kau akan.."

"memperkosamu?" laki-laki tersebut langsung melanjutkan pertanyaan Naruto.

Naruto terkejut dan menatap takut laki-laki dihadapannya. Wajah laki-laki tersebut mendekat kea rah Naruto. Jika Naruto melakukan hal yang salah lagi, maka Naruto akan disiksa kembali. Naruto mencoba menjauh perlahan saat wajah laki-laki tersebut sedikit mendekat.

"makanlah. Aku tidak akan melakukan itu"

Tangannya mengelap beberapa tetes kuah ramen yang menempel di bibir Naruto dan mulai menjauh dari hadapan Naruto.

"benarkah?"

Laki-laki tersebut mengangguk pelan. Dengan lega Naruto kembali memakan ramennya tanpa mencoba berpikir kembali apa yang sebenarnya akan terjadi selanjutnya.

"otsukaresamadeshita~"

Naruto terlihat bahagia setelah menghabisakan 2 mangkuk ramen kesukaannya. Laki-laki tersebut mengambil mangkuk kosong tersebut dan meletakkannya jauh di meja sebelumnya.

"kalau lelah, tidur saja"

Laki-laki tersebut bangkit dan membawa nampang berisi mangkuk kosong.

"Sasuke~"

Laki-laki tersebut menghentikan langkah pertamanya yang hendak menjauhi ranjang Naruto. Dengan masih memasang wajah tak percaya laki-laki tersebut memandang Naruto. Terlihat sedikit rona merah di wajah Naruto.

"Arigatou, sasuke-sensei"

Laki-laki tersebut meletakkan kembali nampannya dan mendekati Naruto.

'apa aku membuat kesalahan lagi?' batin Naruto mulai kalut melihat laki-laki yang ia panggil sasuke tersebut mendekatinya.

"A-no…"

CHUUPPP~

Laki-laki tersebut mencium sekilas bibir Naruto yang masih terasa ramen. Naruto terkejut atas perlakuan laki-laki tersebut.

"pertama kalinya kamu memanggil namaku lagi"

"eh?" Naruto memiringkan kepalanya menahan bingung.

"pertama sejak kejadian kau pertama kali kubawa ke sini"

Naruto terdiam dan sedikit rona di wajahnya terlihat.

"jangan panggil aku dengan sebutan sensei, dobe"

Tangannya mengelus halus wajah Naruto. Naruto terlalu nyaman dengan perlakuan Sasuke (laki-laki selama ini adalah sasuke).

"kalo teme?"

Laki-laki tersebut menghela nafasnya. Ia mencium kening Naruto singkat namun benar-benar penuh perasaan.

"terserahmu, dobe"

"Maaf~.."

Sasuke berbisik pelan di kuping kiri Naruto. Naruto membelalakkan matanya mendengarkan bisiakan Sasuke dengan nada paraunya.

"untuk apa?"

"untuk semua"

Naruto mengerti. Sasuke meminta maaf untuk semua yang terjadi atas dirinya selama 4 bulan ini. Naruto bisa merasakan kalao laki-laki ini memeluk Naruto dengan erat.

"Aku.." Naruto mendorong tubuh Sasuke melepaskan pelukannya.

"tak apa. Aku mengerti" tangan sasuke mengacak pelan surai blonde.

Sasuke berjalan meninggalkan Naruto sendirian dan mengumci kembali pintu ruangan tersebut setelah diirnya menhilang di balik pintu ruangan.

Naru's Memory on

"selamat pagi, perkenalkan nama saya Uchiha Sasuke. Saya akan menggantikan posisi Kakashi –sensei untuk sementara sebagai guru matematika kalian"

Semua mata para gadis berbinar saat menatap pancaran dan tatapn Sasuke-sensei. Para laki-laki hanya diam dna mengangguk, mereka merasa tidak heran dengan kelakuan para cewek di sekolah mereka saat melihat laki-laki berkarisma seperti sasuke-sensei.

Naruto bener-bener mulai merasa takut. Bagaimna kalau nilai matematikanya semakin jelek karena insiden sebelumnya. Narutopun tak berani mnatap guru baru di depannya.

"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dan buat anda Sasuke, saya mohon kerja samanya"

"Terima kasih Iruka-san"

Iruka sensei keluar kelas dan Sasuke langsung memulai pelajaran yang terakhir kali disampaikan oleh Kakashi-sensei beberapa hari yang lalu.

Beberapa hari kemudian.

"Naruto, sepulang sekolah temui saya di ruang guru" Sasuke mendekati Naruto yang melangkah keluar kelas.

"baiklah Sasuke-sensei"

'Aduh, apa ini insiden beberapa hari yang lalu?' batin Naruto gemetar.

"kenapa Sasuke-sensei memanggilmu?" Shikamaru mengejutkan Naruto yang masih ketakutan memandang Sasuke-sensei yang berjalan di koridor.

"Hah? Aku nggak tau. Mungkin kah ini ada hubungannya dengan…." Pikiran Naruto kalut.

"Baka! Jangan menyangkutkan dengan insiden itu. Toh, Sasuke-sensei juga bilang dia nggak masalah dengan insiden itu" Gaara mengetuk pelan kepala Naruto.

Naruto mengelur kepalanya yang sedikit terasa sakit. Naruto menpautkan bibirnya mencoba menebak dan menerka apa yang sebenarnya akan terjadi pada dirinya.

~Sepulang sekolah~

Naruto dengan tangan gematar memegang knop pintu ruangan guru. Terdengar sepi di dalamnya, jelas saja sepi. Naruto mengulur waktu untuk mengumpulkan keberanian menghadapi sensei-nya itu. Ia tau selama pelajaran Sasuke-sensei Naruto terlihat tidak tenang dan kalut, seakan akan terjadi sesuatu.

Tok~ Tok~ Tok~

Oke, Naruto memulainya dengan mengetuk daun pintu tersebut.

"Masuklah Naruto. Untuk apa kau berdiri di depan pintu terus"

Suara dari dalam benar-benar tau. Bagaimana ia bisa sadar dan tau kalau Naruto sedang berdiri di depan pintu dna bagaimana ia tau ternyata yang sedang berdiir itu adalah Naruto.

Naruto membuka daun pintu dan ia bisa melihat ruangan yang penuh meja itu kini hanya di huni oleh Sasuke-sensei. Guru yang lainnya telah pulang beberapa saat yang lalu.

"duduklah"

"ada apa sensei memanggil saya kemari?" Naruto mempautkan jemari-jemari tangannya.

"aku hanya ingin bertanya padamu, kenapa nilai matemtikamu itu selalu jelek?" ia menunjukkan beberapa nilai matematika yang diperolah Naruto.

'Hah? Apa Cuma gara-gara ini?' batin Naruto geram.

"meskipun Cuma ini tapi ini berpengaruh pada nilaimu nanti"

"Eh?" Naruto benar-benar terkejut.

Apa sensei dihadapannya ini dapat mebaca pikirannya?

"Begini saja, setiap hari senin dan rabu kau harus ikut pelajaran tambahan denganku di kelas setelah pulang sekolah"

"Tapi sensei, saya ada latihan dengan tim basket setiap senin" Naruto mengingat jadwal latihan rutinnya menuju pertandingan antar sekolah yang selalu ditunggunya.

"Huft!" Sasuke menghela nafas.

"Apa basket lebih penting dari nilai matematikamu?"

"Eto~ keduanya sama penting buatku" Naruto tertunduk karena merasa putus asa memberikan pilihan.

"Baiklah, kalau begitu kau mengikuti pelajaran tambahan denganku Selasa dan Rabu setelah pulang sekolah. Bagaimana?"

"Baik sensei"

Naruto melemparkan senyuman sumringah hingga memperlihatkan deretan giginya. Senyuman yang benar-benar menawan dan manis.

'benar-benar nggak salah' batin Sasuke mengeluarkan sedikit seringainya yang tak sadari oleh Naruto.

Naru's Memory off

Di kediaman Naruto terlihat seorang wanita paruh baya terlihat murung, badannya kurus seperti sudah mati. Pikirannya seperti terfokus pada satu objek yaitu foto laki-laki blonde dengan senyuman lebar yang tak lain adalah putra bungsunya Naruto yang telah menghilang 4 bulan. Mendengar kabar putranya meninggal karena kecelakaan ia maish tidak percaya sampai akhirnya ia bisa melihat secara langsung mayat putranya. Polisi sudah mengatakan kalau Naruto sudah meninggal karena ditemukan beberapa barang milik Naruto tepat di lokasi kejadian. Sudah 1 bulan polisi menyelidiki kasus Naruto namun tak mendapatkan hasil sampai akhirnya polisi memastikan kalau Naruto sudah meninggal.

Pukulan keras bagi hati Kushina mendengar kematian putra bungsu. Putra yang sellau bermanja dengannya dan selalu bisa membuatnya bahagia meski diirnya tak didampingi Minato almarhum suaminya. Ia hanya mengurung diri di kamar.

Kyuubi paham betul bagaimana kesedihan yang tengah menimpa ibunya itu. Setiap hari ia mencoba mengurus ibunya. Memandikannya, memakaikan baju, memberi makan. Ia mencoba membuat ibunya bisa mneerima kepergian Naruto. Sebenarnya ia juga masih merasa tidak percaya atau kematian adik satu-satunya itu, namun penyelidikan yang polisi lakukan terlihat tak memberikan hasil dan menggambarkan kalau adiknya itu masih hidup.

"Kaa-san, .." kyuubi hanya bisa melihat ibunya benar-benar seperti orang mati. Ia hanya bisa mngawasi dari balik pintu.

"Naru, lihatlah bagaimana sedihnya kaa-san saat ini. Kenapa kamu pergi dengan cara seperti ini? Kami-sama, jika Naru benar-benar tiada, setidaknya tunjukkanlah mayatnya dihadapn kami agar kami bisa mlihat wajahnya untuk terakhir kali. Jika ternyata ia memang masih hidup kembalikanlah dia dalam keluarga ini. Aku benar-benar nggak sanggup melihat keterpurukan kaa-san"

Kyuubi menutup mata dan mengatupkan tangannya. Air matanya seidkit mengalir membasahi wajahnya. Laki-laki menangis? Oh ini sudah diluar batas kesanggupan kyuubi menahannya.

"Laki-laki kok nangis?"

Kyuubi bisa merasakan sebuah tangan yang hangat menghapus air mata dan mengelus halus pipinya. Kyuubi dengan sedikit sesegukan membuka mata dan melihat sosok di hadapnnya.

"Itachi?"

"Berhentilah menangis" ia mengapus kembali sisa tetesan air mata kyubi dan menangkupkan wajah kyuubi.

"Jika dirimu sedih siapa yang akan menghibur kaa-san mu?"

Itachi mengelus surai merah kyuubi. Kyuubi mengerutkan dahinya dan memandang tajam Itachi.

"kenapa?" itachi bingung dengan ekspresi kyuubi.

"Bagaimana kau bisa masuk?"

"Tentu saja hanya membuka pintu aku langsung masuk" jawab itachi.

"tapi pintunya kan sudah aku kunci?"

"oh itu, aku kan punya duplikat kunci rumahmu"

Kyuubi membulatkan matanya.

"DASAR KERIPUTTT! Sejak kapan kau punya kunci duplikatnya?"

"Sejak awal. Sejak kita bertemu dan kau tak sengaja menjatuhkan kunci rumahmu. Lalu aku langsung membuat duplikatnya, siapa tau aku bisa - " dengan santai Itachi menjawab tanpa rasa bersalah.

"KERIPUT MESUMM"

Kyuubi berjalan cepat meninggalkan Itachi yang tersenyum sambal mengikuti langkah cepat Kyuubi.

Naru's Memory On

"Yattaa~~~~~~!"

"Naruto, suaramu berisik sekali" gaar mendengus kesal mendengar teriakan Naruto yang menggema di siang hari.

"Ne gaara, liat. Nilai matematikaku 96" Naruto menunjukkan lembar ujian di hadpaan wajah gaara.

"EEHHHHH?"

Gaara memandang tak percaya nilai Naruto yang bahkan lebih tinggi darinya. Neji , shikamaru, kiba, lee juga turut terkejut melihat hasil yang didapat Naruto.

"Bagaimana bisa kau punya nilai matematika sebagus itu?" Neji memandang berulang lembaran hasil ulangan Matematika milik Naruto.

"Iya, padahal kau kan bodoh soal pelajaran matematika" Gaara turut mengomnetari dengan sakartis.

"Hey! Emang apa yang salah kalu nilai matematikaku lebih tinggi dari kalian?" Naruto mempautkan bibirnya menahan kesal.

"Bukan begitu. Selama ini kami tau kau itu lemah pada matematika, dank au setiap ulangan tidak akan pernah mencapai nilai 60" jawab Kiba.

"Iya, dan sekarang kau bisa dapat nilai yang bahkan mengalahkan nilai gaara yang selalu mendapatkan nilai tertinggi pada matematika" lanjut Shikamaru.

"contekan seperti apa yang kau pake?" Lee mendekatkan wajahnya.

"Heh! Enak tidak mencontek, aku mngeerjakannya sendiri"

Semuanya menatap tak percaya pada Naruto. Naruto menghela nafas merasa bosan dengan kecurigaan teman-temannya.

"Aku mengikuti bimbingan khusus dari Sasuke-sensei"

"HEH?"

"Dia bilang jika aku tidak bisa memperbaiki nilai matematikaku maka aku tidak akan bisa naik kelas. Jadi dia memberikan pelajaran tambahan untukku" jelas Naruto.

"Kenapa hanya dirimu?" gaar kembali memberikan tampang curiga.

"Gaara, kau tau kan. Di kelas ini hanya Naruto yang benar-benar sulit mencapai nilai 60 pada pelajaran matematika" jawab Neji.

Naruto memandang kesal atas jawaban Neji. Terlihat menyindir dan mngejek dalam kalimatnya.

~Sepulang sekolah~

Naruto benar-benar bingung mencari buku catetan miliknya. Catatan matematika selama ia dibimbing oleh Sasuke-sensei. Sekolah sudah mulai sepi, ia masih mengobrak abrik laci meja, loker untuk mencari catatannya.

"Aduh, dimana catatan itu. Aku benar-benar lelah mencarinya"

Naruto sudah merasa putus asa, jika ia terus emncarinya mungkin ia akan disekolah hingga larut malam. Naruto mengambil tasnya dan melangkah menuju gerbang sekolah. Terlihat petang akan datang.

Tiba-tiba sebuah mobil sporty berhenti tepat di depan Naruto, dan berhasil membuat Naruto terkejut. Naruto melihat seseorang keluar dari mobil. Badannya besar dan tegap seperti seorang bodyguard.

"Apakah anda bernama Naruto?"

"iya"

Terdengar suara angin melewati keduanya. Keduanya mendadak hening.

"Permisi"

Naruto mencoba berjalan kembali melewati laki-laki tersebut. namun sebuah tangan menarik lengan Naruto. Naruto hendak berteriak, namun mulutnya di hadang oleh sebuah sapu tangan dan tangan laki-laki yang tak dikenal olehnya.

'Apa ini? Kaa-san! Kyuu-nii-'

Semuanya terasa gelap, ia tak bis amerasakan apa-apa lagi.

Naruto mengerjab mencoba membuka matanya. Berat? Tentu saja saat ini matanya terasa sangat berat untuk terbuka. Ia mencoba memandangi kondisi di sekitarnya. Naruto langsung bangkit dari posisi baring dan duduk. Ia kembali memandangi sekitar.

Ruangan? Kamar? Ini bukan kamar miliknya. Dan ia yakin ini juga bukan di rumahnya. Ruangan ini terlalu mewah untuk rumah Naruto. Dimana ia sebenarnya? Kenapa ia bisa berada di sini?

"Hah?"

Naruto mengingat kejadian sebelumnya. ia bertemu dengan laki-laki tak dikenal kemudia membekapnya dengan sapu tangan yang sudah diberikan obat bius. Di culik? Penculikan? Ya, Naruto yakin dirinya kini di culik.

"Ternyata kau sudah bangun?"

Mata Naruto membulat tak percaya melihat seseorang yang muncul dari pintu ruangan tersebut.

"Maaf aku membawamu dengan cara yang tidak menyenangkan"

Langkahnya pelan mendekati Naruto.

"Sasuke-sensei?"

"Kenapa? Kau terkejut?" wajah stoicnya benar-benar menyebalkan.

"Aku ada dimana?"

"aku tidak bisa mengatakan kau ada dimana, tapi yang jelas sekarang kau ada ditempat dimana tidak ada yang mengganggu kita berdua"

Kini Sasuke sudah berada di hadapan Naruto. Naruto mencoba mundur dari wajah Sasuke.

"Kenapa Sasuke-sensei membawaku kemari?"

"Kenapa? Kenapa kau harus tanya kenapa?"

Naruto tak mengerti dengan ucapan sensei-nya.

"tentu saja Karena kau itu milikku"

"Maksud sensei?"

Sasuke tanpa berpikir panjang langsung menyerang leher jenjang milik Naruto. Ia menhisap, menjilat dan menggigit sehingga menimbulkan kissmark.

"Ahhh~"

Perlakuan Sasuke berhasil membuat Naruto mendesah. Naruto mencoba mendorong tubuh Sasuke.

"Sensei, jangan~"

"…"

To Be Continue

Makasih ya yang udah mau review. Map baru bisa ngelanjutinnya, soalnya sibuk kuliah dan latihan seminggu kemarin. Map yang ini nggak bisa ngasih lemon dulu ^^ mungkin chapter selanjutnya mau nyoba BSDM tapi karena saya nggak jago mungkin ntar nggak bakalan aseem xD

Nah buat chapter ini jangan lupa review ya^^ terima kasih