Somi keluar dari mobil dengan gembira, meninggalkan teman-temannya disana sementara dia berlari-lari kecil menghampiri Kai yang sudah menunggunya, pria itu bersandar pada mobilnya, berdiri tegak dengan senyum tipis saat Somi dengan wajah berserinya berdiri didepannya.

"Kau menunggu lama?" Kai menggeleng lalu membiarkan Somi masuk kedalam mobilnya. Gadis itu, dengan segala ketidaktahuannya hanya menurut. Perasaannya terlampau bahagia karna pria yang selama ini dia kejar mengajaknya pergi berkencan. Demi Tuhan! Apakah ini balasan setelah dia mengerjai Kyungsoo tadi? kkk.

"Kita akan berkencan kemana?" Somi yang tidak menyadari keadaan bertanya dengan semangat, dalam bayangannya Kai akan mengajaknya ke kota dan mereka akan makan siang romantis, melakukan adegan manis atau pergi jalan-jalan sambil bergandengan tangan. Betapa menyenangkannya. Kai membaca fikiran gadis tersebut dan tersenyum tipis, membiarkan Somi menikmati sisa waktunya.

"Kesuatu tempat, kau akan menyukainya nanti." Jawabnya pendek.

Somi menjadi bersemangat mendengarnya. Gadis itu bahkan tidak curiga saat mobil menepi dipinggiran hutan dan Kai mengajaknya keluar. Fikirnya lelaki itu akan mengajaknya kebukit atau sebuah tempat indah untuk menyatakan cinta. Tapi sayang sekali, iris mata Kai sudah berubah menjadi merah darah, dan taring tajam itu menghiasi sudut bibirnya, menatap terakhir kali pada sosok Somi yang malang.

Teriakan nyaring adalah suara terakhir Somi sebelum gadis itu benar-benar menjadi makanannya. Kai mendesis, mengusap sudut bibirnya yang kotor oleh darah. Pria yang masih dalam mode vampirenya itu mendecih. Perasaannya sedikit membaik karna tidak akan ada lagi orang yang membully Kyungsoo. Dan entah kenapa itu menyenangkan. Kai tidak tahu kenapa dia harus melakukan ini, tapi dia sudah berjanji.

Semilir angin melewatinya dan Kai seolah mendapat panggilan dari Sehun yang sudah menunggu, menikmati empat makanan lagi yang tadi Somi tinggalkan.


Title : Blood, Sweat & Tears (눈물): SOULMATE.

Cast :

KaiSoo.

And onother EXO couple, Nuest, SVT.

GS/Gender Switch, Fantasy, Vampire!AU.

.

.

.

Happy reading!

Don't read if you not like!

No plagiat! No ctrl c + ctrl v!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Wonu membolak-balik surat pemberian Mingyu ditangannya beberapa kali, dan dia mendengus karna merasa sangat bodoh. Ini surat baru yang dia dapatkan siang tadi dilokernya. Masih dengan amplop manis bergambar bunga sakura.

'Aku menunggumu ditaman sekolah setelah club music berakhir.'

Ini konyol! Haruskah dia datang dan menemui pria itu? Bagaimana jika Mingyu hanya mempermainkannya? Ah tapi, pria itu terlihat benar-benar menyukainya. Dan Wonu merasa malu sendiri dengan perasaannya. Dahulu, sebelum Suho menemukannya, dia sekarat dalam usia muda ditangan orang yang dia cintai. Itu cerita lama yang menyakitkan dan Wonu tidak mau mengingatnya. Makadari itu, dia lebih suka memasang wajah datarnya untuk menipu semua orang meski di dalam Kim Familly, dia tetaplah si bungsu yang manis.

Tapi bagaimanapun, dia juga perempuan dan masih menyisakan beberapa perasaan manusianya sampai sekarang. Dan itu cukup untuk membuatnya peka pada Mingyu. Tunggu, apa dia jatuh cinta untuk yang kedua kalinya?

Tidak!

Gadis emo itu menggeleng-geleng tidak percaya. Menatap sekali lagi surat dari Mingyu sebelum seseorang datang dan merebutnya. Sehun berdiri didekatnya, membaca surat tersebut dengan alis mengernyit dalam.

"Oppa!" Kesal Wonu dengan pipi mengembung. "Kembalikan!" Pintanya, namun Sehun menghindar dari Wonu.

"Apa ini? Surat ajakan untuk bertemu?" Sehun melirik adik bungsunya dan dia mulai menggodanya habis-habisan sampai Wonu merasa kesal dan mengadu pada Luhan yang baru datang.

"Eonni!"

"Ada apa?" Luhan merebut surat ditangan Sehun dan membacanya cepat, sebelum melirik pada Wonu yang sepertinya meminta bantuannya untuk melawan Sehun. Sayangnya, ucapan Luhan membuat Wonu semakin kesal saja.

"Wah, dizaman yang sudah modern ini dia masih menggunakan surat? Ckckck." Luhan menggeleng prihatin dengan sengaja, mengikuti pasangannya untuk menggoda si bungsu. Wonu mendengus, pasangan ini memang sangat menyebalkan, dia merebut surat Mingyu dari tangan Luhan dan segera berlalu, membuat si pirang Luhan terkekeh senang.

"Wonu sudah besar ya."

.

.

.

Hari ini kembali diadakan pratikum gabungan, dan seperti biasa, kelas akan dibagi menjadi dua dan bergabung dengan kelas lain. Kyungsoo tidak terlambat lagi seperti waktu lalu, gadis itu bahkan sudah duduk manis dikursinya, menunggu teman satu kelompoknya datang.

Semua orang sudah datang dan dengan sabar Kyungsoo menunggu, sampai orang itu datang, berjalan diurutan terakhir dan menarik lirikan genit dari beberapa siswi. Sungguh mempesona. Kai tersenyum tipis mendekati Kyungsoo yang sepertinya menunggu namun mencoba mengelak dengan pura-pura fokus pada bukunya.

"Hei." Kai meletakkan tasnya dan duduk disebelah Kyungsoo, tersenyum pada gadis tersebut. Kai sudah mencium aroma Kyungsoo beberapa kali, dan kabar baik karna dia perlahan mulai membiasakan diri, mengendalikan nafsu besarnya pada darah gadis ini.

"Hai." Balas Kyungsoo. Kai meliriknya, gadis ini terlihat manis dengan sebuah bando pulkadot yang terpasang imut dikepalanya, menggemaskan. Wajahnya mengingatkan Kai pada sosok anak-anak sekolah dasar yang letak sekolahnya tak terlalu jauh dari sini. Merasa diperhatikan, Kyungsoo menoleh dan mengerutkan dahi. Refleks dia mencium rambut dan lengan bajunya.

"Apa aku bau?" Tanyanya dengan raut polos bercampur khawatirnya. Pasalnya dia takut kejadian seperti waktu itu terulang, dia sudah memakai parfum bayi yang wangi kok, apa ini mengganggu Kai atau terlalu mencolok?

Kai tersenyum tipis sambil menggeleng merasakan kekhawatiran gadis disampingnya itu, tubuhnya maju kedepan dan refleks Kyungsoo sedikit mundur karna kaget.

"A–apa yang–"

"Kau wangi Kyungsoo. Hm, aku menyukai aromamu yang seperti ini. Manis, seperti bayi." Guman Kai pelan dan sadar tidak sadar Kyungsoo merona dibuatnya, dia memalingkan muka dan Kai terkekeh. Kyungsoo benar-benar menggemaskan sekali.

Guru biologi mereka lantas memasuki kelas dan Kai diam-diam tersenyum tipis melihat Kyungsoo yang masih malu-malu. Kali ini mereka meneliti sel epidermis bawang merah. Itu berjalan lancar karna Kyungsoo tidak sendiri, Kai mengambil bagian lebih banyak, dia meletakkan irisan tipis bawang merah diatas meja preparat, lalu memutar lensa okuler sampai epidermis bawang merah tersebut terlihat jelas, dan Kyungsoo akan mencatatnya dengan senang hati.

"Kau tahu banyak," Komentar Kyungsoo saat mereka lebih dahulu selesai dari kelompok lain. Kai hanya tersenyum tipis, sekali lagi mencuri pandang pada Kyungsoo. Entahlah, dia hanya merasa tidak pernah bosan menatap wajah manis itu lamat-lamat.

Bagaimana ini?

Apakah dia sanggup menjadikan gadis semanis ini menjadi yang kesekian?

Perasaan apakah yang bergejolak dihatinya ini?

.

.

.

Kyungsoo mengirim pesan pada Kris setengah jam sebelum bel pulang berbunyi, mengatakan bahwa dia akan mengikuti club sekolah. Karna Kyungsoo suka bernyanyi, maka dia mengikuti Baekhyun, Rose dan Junhoe ke club music. Dan menyenangkan karna Kyungsoo bertemu dengan Minhyun dan satu temannya, Baekho. Ah, salah satu Kim Familly juga ada disana, si pirang Luhan ternyata juga salah satu anggota.

"Dia juga ikut?"

"Siapa?" Tanya Baekhyun dengan suara pelannya. Pelatih sudah datang dan memberikan beberapa materi kecil sebelum mereka berlatih diiringi piano.

"Dia, Luhan." Bisik Kyungsoo dengan pandangan mengarah pada Luhan yang duduk berjarak cukup jauh dari tempat mereka duduk. Baekhyun membulatkan bibir dan mengangguk.

"Dia punya suara yang bagus." Kyungsoo hanya mengangguk kecil, dan dia takjub saat pelatih menunjuk Luhan pertama kali untuk menunjukkan pitchnya. Wah, itu nyaris sempurna. Tanpa sadar Kyungsoo bertepuk tangan dan Luhan yang pura-pura tidak peduli tersenyum tipis. Tentu, dia bisa merasakan aroma menonjol Kyungsoo atau tatapannya yang sarat akan penasaran. Kyungsoo si gadis kesekian Kai. Hm, tidak menyangka dia akan menemui gadis itu disini, berada dalam satu club pula. Luhan jadi ingin mendekatinya.

Saat sesi latihan berakhir, Luhan yang beranjak pulang dengan sengaja menabrak Kyungsoo yang hendak meninggalkan ruangan.

"Ah, maaf."

Kyungsoo mendongak dan matanya yang seperti burung hantu itu membulat saat melihatnya. Menggemaskan sekali.

"Um, ti–tidak apa."

"Kau murid baru ya? Aku baru melihatmu."

Kyungsoo mengangguk sebagai jawaban, gadis manis itu lalu membungkuk pelan.

"Namaku Do Kyungsoo."

"Aku Luhan, saudara Kai."

Tanpa diberitahupun, Kyungsoo sudah tahu dari Mingyu saat pertama kali dia masuk kesekolah ini, lagipula, dia adalah bagian Kim Familly yang terkenal. Ternyata jika dipandang sedekat ini, si pirang ini benar-benar cantik. Kulitnya yang putih pucat nampak kontras dengan bibir cherry serta rambut mencoloknya. Kyungsoo kagum padanya.

"Kau cantik." Guman Kyungsoo pelan tanpa sadar.

"Kau bicara sesuatu?"

"Eh? Tidak kok." Kyungsoo menggeleng kecil, dia lalu berpamitan padanya dan beranjak pergi bersama temannya yang bernama Baekhyun. Luhan tentu mendengar gumanan Kyungsoo meski dia pura-pura bertanya. Gadis itu tersenyum tipis. Sayang sekali jika gadis semanis Kyungsoo harus berakhir menjadi makanan Kai.

.

.

.

Hari berikutnya, Kyungsoo menemui Minhyun dikelasnya untuk mengembalikan jaket yang waktu lalu Kyungsoo pakai saat Somi-cs membullynya. Kyungsoo sudah mencucinya bersih dan dia sekaligus ingin mengucapkan terimakasih. Jadi gadis itu meninggalkan makan siangnya bersama Baekhyun dan menunggu sampai pria itu menemukannya.

"Hei.."

"Hei Minhyun. Aku ingin mengembalikan jaketmu." Kyungsoo segera menyerahkan papper bagnya kearah Minhyun, pria itu melirik sekilas dan menemukan aroma sabun yang wangi, Kyungsoo mencucinya dengan baik.

"Oh, terimakasih."

"Tidak, aku yang harusnya berterimakasih. Bagaimana jika aku mentraktirmu makan siang?" Minhyun terlihat berfikir, namun akhirnya dia mengangguk mengiyakan. Keduanya lantas memesan makan siang dan duduk berdua dimeja yang posisinya tidak terlalu jauh dari meja Kim Familly berada. Sekilas Kyungsoo melirik keluarga itu dan menemukan raut wajah Kai yang sedikit berbeda, ada apa dengannya?

Tapi dia hanya mengangkat bahu, kali ini Kyungsoo hanya memesan ramen dan jus jeruk, karna sarapan nasi goreng buatan Mommynya tadi pagi membuatnya masih cukup kenyang.

"Kau betah disini?"

"Ya. Disini cukup menyenangkan."

"Syukurlah." Guman Minhyun sebelum kembali bertanya. "Bagaimana kabar Ayahmu?"

"Baik." Kyungsoo menelan juntaian ramennya, lalu mendongak menatap Minhyun curiga.

"Apa?"

"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan kabar daddyku?"

"Tidak. Hanya saja dia cukup tampan untuk ukuran seorang polisi."

Meski alasannya cukup aneh, namun Kyungsoo tersenyum.

"Daddyku memang tampan!" Bangga Kyungsoo dan Minhyun hanya tertawa. Pria itu sudah meghabiskan makanannya dan tengah mengunyah kentang goreng, memandang Kyungsoo lekat-lekat dan menikmati raut wajahnya yang sangat manis saat berbicara.

"Ibumu pasti cantik." Kyungsoo mengangguk mengiyakan, dia lalu mulai menceritakan tentang orang tuanya dengan bangga pada Minhyun yang mendengarkan dengan baik.

"Hm, pantas saja. Ayahmu tampan, Ibumu juga cantik."

"Huh? Apa hubungannya?"

"Kau terlahir manis dan cantik."

Kyungsoo terdiam dan berkedip dua kali sebelum tertawa, memukul lengan Minhyun dengan sumpitnya.

"YA! Jangan berlebihan."

"Sungguh, aku tidak bohong kok." Kyungsoo merasa malu, namun perasaannya biasa saja, karna sungguh dia menganggap itu adalah pujian Minhyun sebagai temannya saja. Mereka kembali bercanda berdua, mengabaikan aura hitam dari meja sebrang mereka.

"Hei, ada apa dengan wajahmu itu?" Luhan yang tengah mengaduk-ngaduk ice creamnya memandang kearah Kai dengan heran. Hei hei hei, semenjak mendudukkan dirinya disini, wajah lelaki itu terlihat kesal, auranya juga berbeda. Luhan lalu membawa arah matanya kearah pandang Kai dan menyeringai menemukan penyebab Kai terlihat kesal.

"Kau cemburu pada pria itu ya?"

Kai dan saudaranya yang lain menatap Luhan yang tengah tersenyum penuh arti. Gadis itu menumpukan dagu runcingnya diatas dua telapak tangannya, memandang Kai jahil.

"Kyungsoo itu hanya akan menjadi makananmu nanti, kenapa harus merasa cemburu?"

"Siapa yang kau sebut cemburu Luhan?" Tanya Kai terlihat tersinggung, dia melirik ke meja Kyungsoo dan menemukan gadis itu tengah bertukar nomor ponsel dengan pria itu, Hwang Minhyun. Sial!

"Kau. Kau cemburu kan?" Luhan semakin gencar menggodanya sementara saudara yang lain hanya terdiam, terlalu malas membuat Kai merasa marah atau kesal, dia akan sulit dikendalikan jika sudah marah.

"Luhan." Sehun berdecak memperingati pasangannya, membuat gadis pirang itu terkikik.

"Ya ya, maaf. Aku hanya gemas kenapa Kai tidak mau mengaku jika dia cemburu."

"Luhan." Kai meremas kaleng cola ditangannya dengan kekuatan penuh, membuat kaleng minuman tak bersalah itu remuk dan isinya tumpah diatas meja. Kai lalu bangkit berdiri dengan wajah datarnya, meninggalkan meja begitu saja keluar dari kantin, mengundang perhatian beberapa murid disana, termasuk Kyungsoo dan Minhyun. Gadis bermata bulat itu jadi heran sendiri, Kai sepertinya sedang dalam mood yang buruk.

"Apa kau mengenal Kai?" Kyungsoo mengalihkan perhatiannya dari pintu masuk kantin dan menatap Minhyun.

"Semua orang disini mengenalnya bukan?"

"Aku tahu. Maksudku dirimu."

"Um ya, dia teman satu kelompokku di lab."

"Kalian dekat?" Kyungsoo terdiam, gadis itu terlihat berfikir. Apa mereka dekat? Hm untuk saat ini bisa dibilang iya, bisa dibilang tidak.

"Tidak terlalu." Guman Kyungsoo meneguk habis jusnya sementara Minhyun menatapnya lekat.

"Begitu ya." Gumannya pelan lalu membawa pandang kearah meja Kim Familly.

"Kai oppa terlihat sangat marah, apa ada hubungannya dengan gadis itu?" Tanya Wonu.

"Tentu saja, dia merasa cemburu tahu. Haha, kurasa dia jatuh cinta pada Kyungsoo."

"Apa? Tidak mungkin, secepat itu?" Ucap Wonu tidak percaya.

"Kau juga. Kau bisa secepat itu menyukai si pria primitif."

"Siapa yang eonni sebut pria primitif?"

"Pria yang mengirimkan surat padamu itu."

"YA! Eonni." Seru Wonu kesal. Luhan hanya tertawa senang karna sukses menggoda Kai dan Wonu. Sementara Chanyeol seperti biasa tidak akan banyak bicara, dia hanya diam dan menyimak obrolan saudara-saudaranya.

"Asal kau tahu ya Wonu sayang, jika kau memang jatuh cinta pada seseorang, itu hanya butuh waktu satu detik saja untuk mengakuinya. Makadari itu, cepat temui si Mingkyu dan pacaran dengannya, dari pada kau terus-terusan menjadi single."

"Eonni, namanya Mingyu bukan Mingkyu! Dan aku tidak mencintainya." Kesal Wonu.

"Ya terserahlah. Sehun, ayo kita pergi saja." Luhan beranjak pergi menggandeng Sehun, meninggalkan Wonu yang menggembang-kempiskan pipinya kesal. Dia menatap Chanyeol dan hendak merengek padanya, namun pria itu berdiri dan beranjak pergi, membuat Wonu menatapnya bingung.

"Oppa?"

"Aku kekelas duluan." Wonu menatap kakak tertuanya tidak mengerti, namun dia merasakan jika ada sesuatu yang aneh pada Chanyeol. Sesuatu yang Chanyeol sembunyikan. Tapi apa itu? Wonu bisa merasakannya, namun belum bisa memastikan apa itu. Dia lantas terdiam, kembali memikirkan kata-kata Luhan.

Apa dia menyukai Mingyu? Mustahil. Mereka bahkan belum pernah bertemu. Tapi sungguh, Wonu sangat tersentuh dengan surat-surat yang pria itu berikan padanya. Sial!

.

.

.

Kyungsoo tidak yakin apakah pilihannya masuk kekelas dansa itu benar, pasalnya dia tidak terlalu pandai menari. Tapi melihat Zizi yang sangat pandai berdansa dengan Kris, memotivasi Kyungsoo untuk belajar. Makadari itu dia putuskan untuk mendaftar.

Bel pulang sekolah berbunyi, Kyungsoo segera bergegas menyimpan peralatan belajarnya karna dia akan masuk kelas dansa untuk pertama kalinya sementara Baekhyun berlatih hakpido.

Kyungsoo berdiri didepan pintu kelas dansa dengan ragu, dia hanya tidak yakin dia bisa melakukannya. Gadis itu meremas kedua tangannya yang saling tertaut, hal yang selalu dia lakukan jika sedang bingung. Lalu sebuah tepukan dipundaknya membuat gadis itu terkaget dan berbalik kebelakang, membulatkan mata menemukan sosok Kai berdiri didepannya.

"E–eh, Kai. Apa yang–"

"Apa yang kau lakukan didepan pintu Kyungsoo?"

"A–aku akan masuk tapi..tapi aku hanya sedikit ragu."

"Ragu?" Kai menaikkan sebelah alisnya, menatap Kyungsoo lekat.

"Apa kau mendaftar kelas dansa?" Gadis manis itu mengangguk. Kai tersenyum tipis dibuatnya, akhirnya perasaan kesalnya tadi sudah berangsur menghilang dengan perlahan. Hanya dengan melihat Kyungsoo didepannya. Sial!

"Jika begitu kenapa tidak masuk?"

"Kan sudah kubilang, aku ragu tahu."

"Ini pertama kalinya?"

"Iya."

"Jika kau masih ragu, pulang saja."

"Tapi aku ingin bisa berdansa." Ucap Kyungsoo setengah kesal sambil mengembungkan pipinya.

"Kau ini lucu." Kai menggeleng-geleng.

"Kau sendiri apa yang kau lakukan disini?" Tanya Kyungsoo balik.

"Aku?" Kai menunjuk dirinya sendiri dan si gadis mengangguk. "Kau tidak tahu ya, tapi club ini adalah milikku." Ucapnya dengan seringaian.

"Apa?" Kyungsoo membulatkan matanya kaget dan itu sangat menggemaskan. Kai bahkan harus mengacak rambut gadis itu saking gemasnya.

Deg!

Uh, kenapa Kyungsoo harus berdebar dengan perlakuan manis Kai?

"Kenapa? Kau kaget ya? Ayo masuk."

"Eh tapi–" Kai mendorong pintu dibelakang tubuh Kyungsoo, lalu menggandeng gadis itu masuk, membuat semua pasang mata yang berisi mayoritas perempuan memandang kearah mereka dengan kaget. Kai menggandeng perempuan? Situasi macam apa ini? Beberapa orang langsung berbisik sambil memandang Kyungsoo terang-terangan, membuat Kyungsoo tidak nyaman dan Kai menyadarinya. Lelaki itu lantas berdehem mencoba meredakan suasana yang mendadak berubah, dia lantas mengenalkan Kyungsoo sebagai anggota baru dan memulai latihan mereka.

Kyungsoo merasa kikuk, pasalnya semua wanita yang ada disana menatap tidak suka padanya. Ah, apa mereka mengikuti kelas dansa hanya karna club ini milik Kai? Hah dasar! Mereka melakukan pemanasan, diikuti latihan dasar sebelum melakukan gerakan secara berpasangan. Kyungsoo menggaruk pipinya yang tidak gatal. Huaa, Mommy, dia tidak punya pasangan.

"Mau mencobanya denganku?"

Kyungsoo mendongak dan menemukan Kai berdiri didepannya, gadis itu menjadi kikuk lagi, memperhatikan tatapan tidak nyaman yang diterimanya. Namun seolah tidak peduli, Kai segera menarik Kyungsoo mendekat kearahnya, membuat gadis itu kaget bukan main.

"Aku tidak bisa."

"Aku akan mengajarimu." Bisiknya. Musik diputar menggunakan pengeras suara, beberapa yang sudah berpasangan memulai dansa mereka diiringi tatapan iri pada Kyungsoo yang sukses berdansa bersama Kai, padahal setiap sesi latihan Kai tidak pernah turun tangan atau mengajak salah satu siswi untuk berdansa bersamanya, karna dia hanya akan duduk dan memperhatikan. Dan lihat! Anak baru itu beruntung sekali!

"Santai saja Soo. Apakah ini yang pertama?"

"Ya. Dan uh, aku benar-benar tidak bisa berdansa.." Kai terkekeh mendengar suara Kyungsoo yang lebih terdengar seperti rengekan tersebut. Pria itu lalu menyuruh Kyungsoo untuk mengalungkan kedua lengannya kelehernya, yang dilakukan dengan malu-malu oleh Kyungsoo. Posisi mereka sangat dekat, membuat Kyungsoo gugup dan wajahnya memerah karna Kai memeluk pinggangnya. Ah mommy!

"Ikuti hitunganku, satu untuk maju dan dua untuk mundur. Okay?" Kyungsoo mengangguk dengan patuh, wajah gadis itu gugup dan menegang dalam waktu bersamaan. Dia mengikuti instruksi Kai dengan baik.

"Satu." Dia bergerak maju sementara Kai mundur. Tanpa sadar tangannya meremat seragam Kai karna grogi.

"Dua dua," Kyungsoo mundur kebelakang dua kali.

"Hei, kenapa menunduk?"

"Eh?" Kyungsoo berhenti lantas mendongak. "Aku hanya memperhatikan apakah kakiku melangkah dengan benar." Ucapnya lucu.

"Tidak Kyungsoo, kau harus merasakannya, jangan memaksakannya dan buat dirimu terbiasa. Tatap mataku." Kyungsoo mengedip dua kali, menatap tepat kearah bola mata Kai yang berwarna hitam pekat, mata yang indah. Kyungsoo malu, tapi dia tetap berusaha dan akhirnya dia bergerak sesuai intruksi dari Kai.

Music ballad yang mengalum seolah menjadi background yang sangat tepat, sejenak keduanya menikmati iringan music dengan gerakan seirama meski gerakan Kyungsoo masih terkesan sangat kaku. Kai terus menatap Kyungsoo yang sekali-kali melirik kearah lain, gadis ini malu. Entah untuk apa pria itu tersenyum dan menahan nafas dalam-dalam. Berada sedekat ini dengan Kyungsoo, membuat aromanya yang manis merasuk bebas keindra penciumannya, namun Kai mulai terbiasa dan bisa mengendalikannya pelan-pelan.

"Sat–"

Bruk!

Kyungsoo bergerak maju terlalu cepat, membuat tubuhnya menabrak tepat kedada Kai yang bidang, itu keras dan berotot.

"Maaf." Kyungsoo melepaskan kedua lengannya dengan wajah terbakar malu seperti kepiting rebus, dia menunduk dalam-dalam sambil menggigit bibirnya sendiri. Demi apapun, Kyungsoo sangat malu sekali, rasanya dia ingin agar bumi menelannya dan dia segera pergi dari hadapan Kai. Dia sungguh malu, berdekatan dengan posisi ekstrim seperti ini merusak kinerja jantungnya.

Kai begitu wangi, wangi pria yang maskulin dan kokoh.

Sementara Kai, tersenyum tipis, menepuk sekali kepala Kyungsoo.

"Tidak apa, kau akan bisa jika banyak berlatih lagi."

Tak lama, latihan berakhir dan Kyungsoo bisa bernafas dengan lega, gadis itu segera merapikan isi tasnya lantas pergi dengan terburu. Dia hanya tidak tahan dengan tatapan para wanita yang mengintimidasi padanya.

Wajahnya masih memerah dan jantungnya tetap berdebar.

Berada sedekat itu dengan Kai, sangat berbahaya.

Tapi perasaan apa ini dihatinya?

.

.

.

Mingyu berjalan dengan tidak yakin menuju taman sekolah, membawa sebuket kecil bunga mawar merah ditangannya. Sesuai seperti surat yang dia tulis untuk Wonu, hari ini mereka punya janji bertemu setelah club music berakhir. Yah, meski sebenarnya Mingyu yang membuat janji dan tidak yakin apakah Wonu akan datang atau tidak. Tapi Mingyu berkeyakinan untuk menunggu sampai Wonu datang.

Lelaki itu berada sekitar empat meter dari arah taman, pandangannya berpendar dan dia nyaris jantungan karna menemukan sosok Wonu duduk dikursi taman dibawah pohon besar, sedang membaca buku. Mingyu tidak yakin apakah gadis itu berada disana karna ajakannya atau karna tidak sengaja, yang jelas Mingyu merasa senang sekali. Setelah menarik nafas panjang-panjang, pria itu melangkah mendekat dan duduk tepat disebelah gadis tersebut.

Sial, jantungnya nyaris copot saja.

"Hai." Sapanya. Tidak ada balasan atau pergerakan apapun dari Wonu, gadis itu masih fokus membaca dengan raut wajah datarnya, seolah tidak menyadari ada Mingyu didekatnya. Mingyu menjadi salah tingkah, menggaruk belakang kepalanya dengan kikuk dan mencoba mengajak gadis datar namun cantik ini untuk berkomunikasi.

"Kau sudah lama disini?"

"Hm."

Meski hanya sebuah gumanan, namun Mingyu sudah senang karna setidaknya Wonu merespon perkataannya.

"Ini untukmu." Wonu melirik buket bunga yang Mingyu bawa, tidak berniat menerimanya sampai Mingyu meletakkan itu dipangkuannya, Wonu tersentak kecil. Ada sedikit rasa malu, namun dia berhasil menutupinya dengan baik, ini pertama kali ada seseorang yang memberikannya bunga mawar. Setelahnya mereka hanya terdiam, Wonu yang menunggu sementara Mingyu sedang berusaha menyusun kata-katanya. Sial, padahal da sudah berlatih sebelum datang kesini tadi.

"Eum, sebelumnya terimakasih. Mungkin kau sudah membaca surat-surat dariku, namaku Mingyu. Omong-omong aku selalu memperhatikanmu saat kau duduk dikantin bersama saudara-saudaramu."

"Aku tahu." Balas Wonu cepat dan Mingyu terkejut kecil.

"Aku orang yang mengajakmu bertemu setelah club music berakhir. Beruntung sekali bisa bersamamu disini." Wonu kemudian menutup bukunya, menghela nafas karna Mingyu sebagai lelaki terlalu kaku sekali, Wonu tidak suka. Bukan tidak suka dengan Mingyu, namun tidak suka karna situasi ini membuatnya tidak nyaman, membuatnya merasa malu. Sial! Dia sendiri bahkan tidak tahu kenapa dia harus repot-repot datang kemari menerima ajakan pria ini, ck.

Gadis itu lalu menulis sesuatu disecarik kertas yang sebelumnya dia sobek, menatap Mingyu yang menatapnya tidak mengerti.

Plak!

Buku cukup tebal itu melayang tepat kekepala Mingyu karna sipemilik dengan sengaja melakukan itu. Mingyu mengaduh sambil mengusap kepalanya yang berdenyut akibat pukulan itu, dia menatap bingung Wonu yang sudah berdiri dengan wajah sebal.

"Hubungi aku setelah kau merasa siap dan yakin." Sambil mengucapkan itu, Wonu melemparkan kertas itu kepada Mingyu dan berlalu pergi, tanpa sadar ikut serta membawa bunganya. Mingyu menatap kepergian Wonu tidak mengerti, namun saat dia mengetahui tulisan disecarik kertas itu adalah nomor ponsel Wonu, pria itu berteriak dengan tidak jelasnya, apalagi, Wonu membawa serta bunga darinya.

"YES!"

.

.

.

"Jadi kau mendapat nomor ponselnya?" Mingyu mengangguk semangat sementara Baekhyun memukul kepalanya sekali karna ikut senang.

"Woah, kau beruntung sekali, padahal ada banyak pria yang mendekatinya, kenapa dia malah memberikan nomor ponselnya pada pria konyol sepertimu?"

"Hei, aku tidak begitu. Buktinya saja aku mendapatkan nomor ponselnya. Bukankah ini keren?" Mingyu menaik-turunkan alisnya pada Baekhyun yang hanya mendengus semantara Kyungsoo hanya tersenyum. Saat ini jam kosong karna guru bahasa inggris mereka sedang mengadakan rapat. Diluar hujan jadi mereka memutuskan untuk tetap tinggal dikelas dan bercerita. Tentu saja hari ini Mingu yang bercerita bahwa dia berhasil mendapatkan nomor ponsel Wonu.

"Lalu, apa kau sudah menghubunginya?" Tanya Kyungsoo sambil bertopang dagu.

"Yee?"

"Kau sudah mengirim pesan padanya?"

"Um, belum."

"Bodoh!" Baekhyun kembali memukul kepalanya dan Mingyu mengaduh tidak terima. Mengatakan alasan tidak masuk akal kenapa dia belum menghubungi Wonu dan tentu saja Baekhyun dengan jahil terus-terusan mengatainya. Kyungsoo hanya tersenyum, membawa pandangannya kearah jendela, menatap hujan yang turun.

Kira-kira Kai sedang apa ya?

Eh, kenapa dia jadi memikirkan lelaki itu? Kyungsoo malu sendiri dibuatnya, setelah kelas dansa kemarin, Kyungsoo memang sedikit menghindar dari Kai karna dia masih merasa malu. Getaran ponsel menyadarkannya, ada sebuah pesan masuk dan Kyungsoo nyaris memekik menemukan Kai mengirim pesan padanya.

Aduh, sial.

From : Kai

To : Kyungsoo

'Sedang apa?'

.

.

.

Ini penghujung musim, membuat hujan turun cukup deras dalam beberapa hari. Termasuk hari ini, Baekhyun menawarkan akan mengantar Kyungsoo pulang, namun gadis itu menolak dengan alasan Kris akan menjemputnya.

Lapangan menjadi licin dan semua murid yang akan pulang berjalan dengan hati-hati agar tidak terpeleset. Hujan sudah mulai reda, menyisakan gerimis-gerimis kecil. Kyungsoo menaikkan tudung jaketnya, menyumpal kedua telinganya dengan headset sementara kakinya terus melangkah melewati lapangan menuju gerbang depan. Posisi area parkir memang melewati lapangan, sehingga ada banyak lalu lalang kendaraan yang lewat disekitarnya. Sekilas, Kyungsoo bisa melihat Kai berada diparkiran dan sedang bersandar dimobil merahnya, namun Kyungsoo menunduk cepat, dia berjalan menepi, tidak ingin mengambil resiko ditabrak, dia hanya ingin cepat sampai karna cuaca lumayan dingin.

Sebuah mobil keluar dari area parkir, melaju dengan terburu karna entah si pengemudi sedang terdesak pergi kesuatu tempat atau bagaimana. Ban mobil bergesekan dengan lapangan yang licin, membuat mobil kehilangan kendali dan tergelincir, melaju cepat menuju sosok Kyungsoo yang sedang tidak sadar dalam bahaya. Suara klakson yang nyaring membuat Kyungsoo berhenti dan menoleh, membulatkan mata saat badan mobil menghampirinya cepat. Gadis itu mematung dan menutup mata dengan teriakan keras, sampai sebuah debuman keras terdengar. Kyungsoo terjatuh dan dia fikir dirinya sudah tertabrak, namun dirinya baik-baik saja. Dia mendongak perlahan dan menemukan sesorang tengah menahan mobil tersebut, sampai bagain mobil yang disentuhnya menjadi penyok. Detik berikutnya saat Kyungsoo mengedip, tidak ada siapapun disana, kosong. Semua orang mendatanginya. Kyungsoo tidak yakin, namun dia seperti mengenal siapa yang menahan mobil tersebut, sebelum semuanya gelap dan dia pingsan.

.

.

.

.

.

Tbc.

.

.

.

.

.


Q : Minhyun werewolf ya?

A : Tidak tahu XDD

Q : Kenapa tidak ada yang curiga sama hilangnya cewe yang habis kencan sama Kai?

A : Nanti akan terjawab di chapter depan ya.

Okay!

Terimakasih semuanya. Dituggu koreksiannya ya^^

See u next chapter!

Love ya^^