Chapter 4

Nozomi

"sepertinya umi chan tidak suka denganmu elichi, ketus gitu" ucap ku pada eli sambil menunjuk umi yang berlalu. Kami baru selesai dari kafe, dimana tadi aku kokuhaku untuk yang ke 10 kalinya. Andaikata eli menolak ku lagi tadi, itu akan menjadi kokuhaku ku yang terakhir dan aku akan memendam perasaan ku terhadapnya. Tapi takdir berkata lain, aku tak bisa menebak apa yang dipikirkan eli hingga akhirnya dia menerimaku dan mulai malam ini kami resmi sebagai "lover".

"hm.. kayaknya" eli nyengir dan menghabiskan potongan terakhir dari ice ream nya "yuk pulang" ajaknya.

Aku mengikutinya saat dia mulai menggemgam tanganku. "ngomong ngomong elichi, kenapa habis dari kafe kita ke sana?" aku arahkan telunjukku pada mini market tempat kami bertemu umi tadi.

" hm..lagi pengen ice cream aja"

"kan ada di café juga"

"beda lah, aku maunya yang kayak tadi"

"ho…"

Setelah itu aku tak menyelidikinya lagi, memang ku rasa agak aneh setelah ngobrol sebentar di café eli langsung mengajak ku untuk ke mini market, setelah itu bukannya langsung pulang, malah ngobrol sambil berdiri di depan mini market tadi. Selama aku bersamanya, ini baru kali pertama terjadi.

"dan elichi, karna tadi kamu langsung ajak aku kesana, aku bahkan tak tau alasanmu kenapa akhirnya menerimaku"

Eli menghentikan langkahnya, aku ambil posisi tepat disampaingnya setelah tadi kelihatannya aku hanya ditarik eli. "ah, itu. Aku rasa aku akan memberikanmu kesempatan, itu saja" lalu kami mulai berjalan beriringan dan pelan. Mungkin saat saat begini akan pas dipakai buat ngobrol santai.

"makasih. Aku akan pergunakan kesempatan ini untuk bener bener menarik perhatianmu"

"hm.."

Dan setelah itu kami hanya membahas hal hal kecil soal OSIS atau soal teman teman di kelas, tanpa terasa kami sampai di apartemenku.

"ah, udah sampai. Makasih elichi, udah mau nganterin"

"g buruk buat tugas pertamaku sebagai…" eli menggantung kalimatnya, semburat pink mulai tampak dari pipinya, aku tau apa sambungan dari kalimatnya tapi aku sengaja menunggunya untuk mengucapkannya, elichi sangat imut saat dia malu seperti ini. "yah, kamu tau sendiri lah" lanjutnya. Aku kecewa dia tak menyelesaikan kalimatnya dengan benar, tapi ya sudahlah.

"mou,, elichi" hanya itu yang bisa kukatakan sebagai bentuk kekecewaan, eli hanya nyengir.

"mata ashita ne" eli melambaikan tangannya pada ku dan berlalu.

"mata ashita"

Bagaimana aku harus mendeskripsikan eli, aku sudah jatuh hati padanya sejak kelas 1 SMA, dia tak seperti gadis lainnya yang akan berkumpul, tertawa atau ngerumpi bersama teman teman dikelasnya. Eli lebih suka dan nyaman dengan kesendiriannya. Saat itu aku berpikir kalau dia memang keren. Dikelas atau di luar kelas eli sebenarnya terkenal, gadis lain mengatakan kalau mereka sulit untuk tetap menjaga omongan tetap lancar dengan eli, eli seperti susah didekati dan bak barang eksklusif. Banyak yang ingin menjadi temannya, tapi tak satupun yang mampu tahan dengan attitudenya yang tertutup dan bicara ala kadarnya. Walau ramah, tapi kalau ngomong g nyambung juga pasti g nyaman kan.

Saat yang lain menyerah dengannya, aku terus mendekatinya sampai akhirnya eli mulai terbuka kepadaku. Dia mulai mengeluhkan kenapa dia susah sekali untuk berteman walau dia sebenarnya ingin, mengeluhkan kemampuannya menghafal kanji yang masih urakan, secara dia baru pindah dari rusia ke jepang beberapa bulan ini. Ternyata eli adalah ras campuran walau hanya 25% dari dirinya yang merupakan darah rusia. Yah, sebenarnya juga udah tampak dari postur tubuh dan ciri fisiknya sih, hehe.

Awalnya yang aku merasa penasaran dengannya, perasaan itu mulai berkembang menjadi cinta. Saat aku menyadarinya aku langsung mengutarakannya kepada eli.

"elichi, aku rasa aku mencintaimu"

"eh, apaan sih nozomi, ga lucu" tentu saja dia pikir aku becanda karna sifat asliku juga suka becanda.

"aku serius, elichi" ku ambil tangannya untuk ku tempelkan di dada ku.

Semburat pink memenuhi pipinya, saat dia sadar tangannya di dadaku dia langsung menariknya "apa yang kamu lakukan nozomi?"

"habisnya kamu g percaya" aku nyengir jahil padanya yang udah merah padam.

Ntah berapa lama kami terdiam, aku ingin menunggu jawabannya dan memutuskan untuk menahan diri untuk menjahilinya.

"nozomi" akhirnya dia bicara walau lagi lagi ada jeda, wajahnya masih terlihat malu malu. "maaf, tapi aku rasa aku ga merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan" jawabnya kemudian.

Rasanya kecewa sekali mendengarkan itu dari mulutnya. Yah, apa yang aku harapkan sebenarnya, aku baru mengenalnya beberapa bulan, terlalu awal untukku melangkah ke arah ini. Aku tau itu. Ku paksakan seutas sneyum padanya "sekarang mungkin belum, bukankah aku punya kesempatan?"

Eli tak menjawabnya. "tapi kokuhau ini ga membuat hubungan pertemanan kita berakhir kan?" ucapnya kemudian, dia masih belum mau menatapku.

"hm, tentu saja. Aku masih belum mau jauh jauh dari kamu" balasku yang ternyata bikin eli tambah malu.

"mou, nozomi, berhenti merayuku"

"maaf, maaf"

Semakin aku mengnalnya, eli semakin tumbuh jadi gadis yang cool dan idaman para senpai dan kouhai. Attitudenya yang awalnya pendiam dan senyuman hangat tak lepas dari wajahnya berubah, eli menjadi gadis jahil yang suka memberikan tatapan nakal kepada para fansnya sehingga fansnya bisa pingsan ditempat dengan pesonanya. aku terkadang berpikir, apa dia belajar merayu dariku yang emang suka merayunya setiap saat?. Kalau benar begitu aku akan sangat merasa bersalah.

Walapun eli berubah tapi tidak seutuhnya, sifat malu malunya masih ada walau tak lagi mendominasi. Perubahan itu juga berlaku dalam kasus kokuhaku ku. Satu dua atau kokuhaku ke tiga dia masih malu malu menanggapi kokuhaku ku dan masih tergagap. Selanjutnya, aku dibikin kaget karna dia mneggoda ku balik. Apa apaan ini?

"elichi, aku mencintaimu" posisinya sekarang aku ada di atap, selesai makan siang dan mau turun kekelas.

Eli menatapku dengan tatapan menggodanya "nozomi, kamu pantang menyerah sekali" dia mengambil langkah mendekatiku, aku dibuat mundur sampai punggungku menyentuh tembok.

"elichi" agar tidak terintimidasi oleh kelakukannya aku mencoba memberikan senyumannku yang biasa aku pakai untuk menggodanya.

Eli makin mendekat dan berkata tepat di kupingku perlahan "aku masih belum merasakan hal yang sama" lalu eli menuruni tangga meninggalkan ku.

Apa apain itu, untuk pertama kalinya jantungnya benar benar akan copot karna ulahnya. Sial, aku tak lagi bisa mendominasinya kalau keadaannya begini.

Kokuhaku berikut berikutnya bener bener menjadi ajang olahraga jantung, pergerakan eli benar benar tak tertebak hingga aku merasa kalah saat selesai kokuhaku padanya, belum lagi perasaan sedih campur kecewa karna jawaban yang dilontarkannya selalu sama "aku masih belum merasakan hal yang sama"

Aku ingat kokuhaku yang ke tujuh, itu terjadi saat eli dan aku sudah menjabat sebagai seitou kaicho dan fuku kaicho dan itu terjadi di ruang OSIS saat petang menjelang malam. Kami sibuk mengurus rapat gabungan klub dan ahirnya pulang larut.

"elichi, aku mencintaimu"

"lagi?" eli masih sibuk dengan kertas kertas dimejanya

"mau bagaimana lagi, rasa itu g pernah hilang" aku melangkah berhadapan dengan meja OSIS

"tapi kamu sudah tau jawabanku" eli masih tidak mau menatapku dan lebih perhatian pada tumpukan kertasnya, membuat ku sedikit jengkel.

"kalau begitu, buat kali ini berbeda" pintaku.

"kalau itu artinya aku harus menerimamu kali ini, maaf aku ga bisa" jleb, perkataan itu emang tak mengenakkan hati, apa dia sadar apa yang dia katakana padaku?

"kiss me" aku ga mau menyerah kali ini, setidakny aku mendapatkan sesuatu.

"hah?" setelah sekian lama sibuk dengan kertas kertasnya, eli akhirnya mengarahkan perhatiannya padaku.

"kamu tau, berapa sakitnya kamu tolak aku, dan ini yang ketujuh kalinya. Setidaknya berikan aku reward" desakku

"hah?" eli benar benar terlihat bingung dengan ulahku

"kiss me" desakku lagi.

"ini bodoh" dia kembali tak memperhatianku dan mulai mengemasi barangnya untu segear pulang.

"kiss me" apa yang terjadi padaku aku juga tak tau pasti, yang aku tau aku mengingankan itu darinya, dan sebenarnya aku juga g terlalu berharap, bahkan aku sangat yakin eli tidak akan melaukannya. Setidaknya aku ingin lihat apa respon darinya.

Setelah mengemas barangnya, eli menyandang tasnya dan mendekatiku, aku yang tertunduk tak sadar kalau eli begitu dekat dan memegang daguku dengan tangan kanannya. Membuatku tersentak, otakku masih belum sadar apa yang terjadi, sedetik kemudian aku merasakan sensasi yang lembut di bibirku, hanya sedetik dan lepas begitu saja. Yang dilakukan eli membuat perutku merasakan sensasi aneh.

"elichi" ku pegang bibirku masih shock

"puas? Ayo pulang"

Setelah itu kami pulang dan tak berbicara satu patah katapun sampai akhirnya kami berpisah dan mengucapkan "mata ashita". Sampai dirumah baru aku benar benar sadar apa yang terjadi di ruang OSIS. Oh God, my first kiss, eli sudah mengambilnya.

Yah, setalah bertahun tahun mengaguminya, akhirnya eli mau menerimaku walau aku rasa dia masih belum seutuhnya mencintaiku. Sejak malam kami jadian aku sudah sangat bertekad akan membuatnya balik mencintaiku, bahkan sampai tahap cinta mati.

"malam yang indah" kulangkahkan kakiku masuk ke apartemenku, malam ini sepertinya akan mimpi indah, hehe