A/N: Terima Kasih banyak atas Review kalian… Maaf kalo baru bisa lanjut sekarang... karena Author kering ide. Masih tahan? Tenang, ini Episode terakhir kok! Well, Enjoy the Ending~! Sengaja aku buat episode ini sebagai Episode terpanjang. Oh iya, Jawaban yang benar adalah Loro Jong- eh maksud saya Anna Lemouri! (Tunggu! Anna jadi orang Jawa?) Selamat buat yang jawabannya bener! *digetokin pake wajan ama pembaca + dicincang Anna pake parang (bukan Katana karena statusnya Orang Jawa)* Oh iya, sudah deket-deket Valentine, jadi gak apa-apa kan kalo ada adegan romantis-nya?


Disclaimer: Mana Khemia series © GUST & NISA

Aku cuma menambahkan bumbu buatanku yang super ancur dan pastinya gak enak kalo dibuat untuk masakan (?).

Warning: AU, OOC, Ancur, dll.

Note: Tulisan Underline + Italic itu isi SMS, Bold itu berbicara lewat telepon, Italic itu pukiran karakter (yang ini mah udah pada tau semua.).


Rozelle & Richmond buru-buru menuju Workshop Ulrika. Disana mereka menemukan Chloe yang tepar karena kena amukan Enna.

"CHLOE~!" Teriak Richmond. Mereka pun menghampiri Chloe yang tepar.
"uuhh..." Panik Uryu. Rozelle memeriksa nadi di tangannya Chloe

"Masih hidup! Richmond! Bantu aku gendong dia ke Infirmary!" Perintah Rozelle. Richmond langsung menggendong Chloe dan langsung ngacir ke Infirmary tanpa mempedulikan Rozelle.

"WOY! TUNGGU!" teriak Rozelle cemberut karena ditinggal.


Di Infirmary...

Zokka memeriksa Chloe. Setelah selesai, dia menoleh kepada Richmond & Rozelle.

"Dia hanya shock... tenang saja, tidak begitu parah... mungkin akan cepat sadar..." Ucap Zokka. Richmond langsung mengingat masa lalunya dengan Chloe. Dulu, Chloe adalah cewek yang sering sakit-sakitan. Tapi semuanya berubah ketika dia 'menyeret' Chloe dan kondisi Chloe berangsur-angsur membaik. Mengingat masa lalunya, Richmond hanya bisa membisu melihat sahabatnya beristirahat disitu, walaupun sebenarnya dia sedih. Rozelle pun beranjak dari tempatnya dan menuju keluar Infirmary.

"Mau kemana kau?" tanya Richmond.

"Aku harus menenangkan Enna & Nona Lily. Kau jaga Chloe saja... hubungi aku jika dia sudah sadar." Perintah Rozelle sambil membuka pintu masuk Infirmary dan berjalan keluar ruangan itu.


Sementara di luar...

Lily & Enna masih adu bacot nonstop. Yun yang duduk di bangku panjang mengusap-usap bekas tamparan bolak-balik Lily di kedua pipinya (tangannya Lily gak kepanasan tuh?), sedangkan Goto yang ada disampingnya Yun udah kayak mayat hidup karena ditembaki Enna.

"Mereka masih saja bertengkar..." Ujar Rozelle sambil menghela nafas. Perlahan-lahan dia mendekati Master-nya yang sedang adu bacot itu.

"Nona Lily. Ini Infirmary! Ada orang sakit jangan berteng-" Belum selesai berbicara, Lily langsung membentak Rozelle.

"Diam kau! Ini bukan urusanmu!" Bentak Lily. Tapi begitu mereka sadar, Lily langsung kaget, begitu juga dengan Enna.

"Ya... dan kalian sudah menimbulkan banyak korban. Yun, Goto, Et, Chloe, Whim, mereka semua sudah menderita karena pertengkaran kalian berdua. Tolong gak usah berantem lagi!" Nasihat Rozelle. Lily & Enna langsung menyadari hal itu & mereka saling meminta maaf. Sementara itu, BB Javelin milik Raze (Hah? Raze punya BB?) berdering. Dan ada SMS masuk di Hapenya.

"Rozelle! Cepat ke kamarnya Chloe! Dia sudah sadar!" Begitulah isi SMS-nya. Tertera nomor Ulrika disitu. Tiba-tiba sang Author terjun ke ceritanya.


"Pause!" Ucap Author sambil menekan tombol Pause di remote yang dia pegang. 'Dunia-nya' langsung berhenti secara tiba-tiba. Author pun mulai membacakan Breaking News. *Author dilempari koran se-gudang*

"Pemirsa, karena ini humor, dan sudah ada Transceiver alias Walkie Talkie di zaman MK2, maka yang pasti telepon sudah ada lah! Dan untuk menambah 'Kecanggihan' pada zaman itu, Hape saya adakan. Sekian dan terima kasih." Ucap Author sambil mengakhiri Breaking News-nya. Kemudian Author mengeluarkan remote-nya.

"Play!". 'Dunia-nya' kembali bergerak.


"Oohh... akhirnya dia sadar..." Pikir Rozelle sambil mengambil langkah menuju kamar Chloe. Setelah sampai di kamarnya. Chloe langsung memanggil Rozelle.

"Rozelle... kamu sudah bawa bahannya...?" Tanya Chloe denngan suara lemah.

"Ya, sudah ada [Cursed Pear], [Sugarplum Dust], & [Ghost Fruit]" Jawab Rozelle singkat. Chloe tersenyum mendengar hal itu.

"Baiklah... tapi... karena dokternya bilang... aku harus istirahat selama beberapa jam... jadi... aku suruh Richmond dan kamu yang melakukannya..."

"Apa? Kok aku? Aku 'kan gak tahu apa-apa dengan kutuk- eh maksudmu manteramu!" Heran Richmond.

"Aku meninggalkan bukunya di Workshop... buku itu adalah Diabolos... Baca saja bukunya untuk membuat bahan penawarnya..." Perintah Chloe. "Nah... semoga berhasil..." lanjutnya sambil menutup matanya karena merasa ngantuk.

"Dia sudah tidur." Kata Rozelle singkat.

"Ya, oh ayo kita ke workshop-ku!" ajak Richmond. Rozelle pun mengangguk.


Di Wokshop-nya Ulrika...

Mereka mencari buku yang dimaksud Chloe tadi, sampai mengubah workshop menjadi perpustakaan saking banyaknya buku Mantera-nya Chloe yang disimpan di Workshop. Setelah 1 jam mencari buku itu, Richmond baru menemukannya.

"Hei! Rozelle! Ini bukunya!" Panggil Richmond. "Hm... bukunya seram juga sih..." Gumannya setelah melihat sampul buku itu yang ada mata iblisnya.

"Jangan menilai buku dari sampulnya." nasihat Rozelle. Dia membuka buku itu dan mencari resep untuk membuat penawarnya.

"Ini dia! Penawar Genderswitch Incantation. Pertama potong [Cursed Pear] kecil-kecil membentuk dadu. Masukkan [Ghost Fruit] ke Blender bersama dengan Masako, Saori saos tiram, kecap Bango, bulu ayam, dll. Lalu blender campuran [Ghost Fruit] sampai mengental. Tuang adonan [Ghost Fruit] ini sebagai sausnya [Cursed Pear] yang telah dipotong-potong. Taburkan [Sugarplum Dust] untuk menambah rasa manis. Sajikan." Papar Rozelle sambil membaca buku itu. Mereka pun terdiam, bisu selama 10 menit.

"INI RESEP APA SIH?" Tanya mereka berdua kompak.

"Masa resep Dessert ada disini? Udah gitu bahannya gak nyambung semua..." Heran Rozelle.

"Ini acara masak atau mau bikin penawar... Udah gitu ini seperti resepnya masakan dari seorang ibu yang paling payah dalam memasak..." ujar Richmond.

"Jangan bayangkan rasanya..." kata Rozelle yang merasa ingin muntah ketika membaca resepnya. Mereka berdua pun Sweatdrop begitu melihat resepnya.

"Ya sudah... kita buat saja ala Alchemy..." Usul Richmond.

"Okelah kalo begitu." angguk Rozelle. "Tapi kamu yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan."

"Apa? Aku lagi? Baiklah... kita pakai cara manual..." Keluh Richmond sambil menghela nafas. Tapi ketika itu juga seorang wanita berambut hitam, berbadan seksi (dimohon otaknya jangan ngeres!), dan kelihatannya seorang Mana mampir di Workshop Ulrika.

"Oh, permisi." Ucap wanita itu sambil mengetuk pintu. Richmond mengenal suara wanita ini dan membuka pintu workshop-nya. Ya, dia adalah Tetri, pelayan Light Mana, Salah satu Raja Mana.

"Tetri? Ngapain kamu kesini?" Tanya Richmond.

"Sepertinya kalian sedang membuat sesuatu. Maaf jika saya mengganggu..." Ucap Tetri sopan. Richmond langsung menarik Tetri ke dalam.

"Ada apa ini?" heran Tetri. Richmond menjelaskan kejadian yang menimpanya. Dimulai dari dia & Raze menjadi korban kutukan Chloe, pencarian bahan-bahan penawar, nyasar ke Jawa dan bertemu si pemain gamelan bishonen bernama Reicher, sampai dia bertemu Tetri disini. Tetri hanya mengangguk-anggukkan kepala saja.

"Aku mengerti, jadi kamu sebenarnya Ulrika... Oh, dan... siapakah dia?" Tunjuk Tetri kepada Rozelle.

"Rozellevania Meitzen, akulah Raze yang disebut Richmond tadi." Ucapnya dingin karena dari dulu dia membenci Mana. Tetri hanya bisa diam mendengar ucapannya yang dingin.

"Temanmu dingin banget." Respon Tetri kepada Richmond.

"Yah, dia memang tidak suka dengan Mana... padahal dia calon 'papa'-nya Uryu..." celetuk Richmond.

"Uuhh....? uuhh!" Uryu bingung dengan apa yang dikatakan 'mama'-nya.

"Oh iya, hati-hati dengan pedangnya, dan juga jaga mulutmu jika berbicara dengannya."

"Hei! Aku tidak seseram itu!" Bantah Rozelle. "Sudahlah, Tetri, apakah kamu mau membantu kami membuat penawar kutukan yang menimpa kami?" Tanyanya.

"Baiklah, dengan senang hati." Ucapnya sambil tersenyum. Mereka langsung menyiapkan bahan-bahan untuk membuat penawarnya sesuai dengan resep yang sesungguhnya (yang dibacakan Rozelle tadi tuh 'resep sesat'-nya Author yang diselipin di bukunya Chloe *Author dicincang tanpa ampun ama Rozelle*). Sementara mereka menyiapkan bahan penawarnya, mari kita lihat anggota workshop lainnya.


"Enna! Aku udah dibuat babak belur ama kamu... kamu jahat banget..." tangis Et.

"Maaf kak... tapi si gadis-kaya-raya-nan-manja itu yang memulainya." Cibir Enna

"Oh, mau ngajak berantem lagi?" tantang Lily.

"Aku yang mau melawan kamu!" seru Et sambil mengeluarkan cakramnya. Lily langsung menunjukkan wajah pucat pasi mengingat dia & Whim dihajar habis-habisan oleh Et sampai mereka masuk Infirmary ketika mereka bertengkar memperebutkan Raze.

"Kenapa? Kamu sakit?" Tanya Et heran melihat wajah Lily yang pucat.

"Nggak... aku... gak mau tubuhku remuk karena bertarung denganmu..." Jawab Lily. Et memasukkan cakramnya kembali, bersamaan dengan datangnya Pepperoni, Yun, & Puniyo.

"Kemana Goto?" Tanya Enna. Mereka membisu setelah mendengar pertanyaan Enna.

"Punini, punipuni."

"Adikku mengatakan, 'Goto ada di Infirmary, bersama dengan Chloe'." Ucap Puni Jiro.

"Oh, aku merasa kasihan dengan Goto & Chloe." Tutur Lily sambil menundukkan wajahnya. "Bagaimana jika kita ke Infirmary, melihat kondisi mereka?" Tanya Lily.

"Jangan! Chloe & Goto sedang istirahat... mungkin lebih baik jika kita ke Workshop kami dulu..." Tawar Enna. Mereka semua langsung setuju


Sesampainya di teras Workshop, mereka mendengar percakapan samar-samar dari arah Workshop Ulrika. Lily, Et, Enna, Yun, Pepperoni, Puniyo & saudaranya menguping dari pintu.

"Tetri, kau yakin mau memblender [Ghost Fruit] ini?" Tanya Rozelle.

"Ya, karena jika [Ghost Fruit] diblender, hantu yang berdiam di buah ini akan keluar dan kita bisa menyuruh hantunya untuk mengolah buah ini." Tutur Tetri. Para pendengar di luar langsung merinding.

"Mati aku... aku nggak mau Workshop-ku ada hantunya..." kata Lily merinding.

"Untung sebentar lagi kita akan lulus..." Lega Enna

"T-Tapi, Enna... bagaimana jika hantu itu memilih untuk menghantui kita?" Tanya Et ketakutan.

"Itu urusan kakak!" celetuk Enna. Et hanya bisa membisu mendengarnya.

"Hei! Jangan berisik! Coba dengarkan percakapan di dalam." perintah Lily. Mereka pun kembali menguping seperti biasa. Di dalam, begitu Tetri menghancurkan buah itu, muncul sesosok hantu yang anehnya, cantik, imut, tidak menyeramkan, dan membawa Teddy Bear. Hantu itu berambut silver keunguan dan bermata ungu.

"Oh, Halo~!" Sapa hantu itu dengan suara yang imut. "Aku Pamela Ibis, Salam kenal~!" ucapnya memperkenalkan diri sambil tersenyum. Rozelle & Richmond langsung kalang kabut melihat hantu ini. (Maklum, mereka belum terbiasa dengan Pamela.)

"HIYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~! HANTUUUUUUUUUUUUUUU~!" Teriak mereka bersamaan. Di luar, mereka sudah menjauh dari pintu karena takut jika mereka kena dobrak pintunya. Dan benar saja, Rozelle & Richmond mendobrak pintunya dan langsung membelok ke Workshopnya Raze.

"Pasti hantunya sudah keluar..." gumam Yun.

"Puninini niiiii!" perintah Puniyo.

"Cepat masuk Workshop kami!"

Mereka pun masuk ke Workshopnya Raze.


Di Workshopnya Raze...

"Apa yang kalian lakukan, sampai-sampai mengeluarkan hantu seperti itu?" tanya Lily. Richmond menjelaskan semuanya ke Lily. Setelah Richmond menjelaskan semuanya, Tetri mengetuk pintu Workshop. Lily langsung menyambutnya dan mempersilahkan Mana itu masuk.

"Maafkan saya, tapi saya rasa hantu itu tidak berbahaya kok. Dia memang sudah berdiam di Al-Revis selama bertahun-tahun, dan 10 tahun yang lalu dia disegel di buah [Ghost Fruit] oleh salah satu guru disini..." Papar Tetri. Pamela muncul mendadak di belakang para Alchemist itu.

"WAAAA-!" Teriak mereka. Tapi begitu melihat ekspresi Pamela yang mojok di sudut ruangan sambil memeluk Teddy Bearnya, mereka langsung merasa iba. Ditambah lagi Pamela menangis, yang membuat mereka tidak tahan untuk menolongnya. Rozelle & Richmond mendekati hantu itu untuk menenangkannya.

"Jangan nangis... maafkan kami... kami tidak bermaksud menyakitimu..." Kata Richmond sopan. Pamela berhenti menangis. Kemudian menceritakan masa lalunya.

"Kalian tahu, setelah Al-Revis jatuh, seorang guru dari sana menyegel diriku di sebuah pohon yang tumbuh di Fruitful Hill. Pohon itu adalah pohon dari [Ghost Fruit]. Sudah 10 tahun aku didiamkan disana. Dan kemudian, Rozelle & Richmond menyelamatkan aku. Aku seharusnya berterimakasih kepada kalian juga kepada Mana itu karena sudah membebaskan aku. Ada yang bisa kubantu?" Mendengar kalimat akhir yang diucapkan Pamela, Richmond memohon untuk membantunya membuat penawar kutukan Chloe. Pamela menerima tawaran itu dan mulai membantu mereka ber-10 membuat bahan penawarnya itu. 10 menit kemudiah, ramuan penawar itu sudah selesai dibuat.

"Akhirnya selesai juga~!" Ucap Lily lega.

"Ya, tentu saja~! Karena Mantera (Incantation) itu keahlianku~!" Sahut Pamela.

"Aku harap Chloe bisa melihat ramuan buatan kami ini..." gumam Richmond. Tiba-tiba, Hape BB miliknya berbunyi. Dan ada SMS dari Chloe.

"Tuan Richmond, Chloe ingin menemui anda. Dia jugamenyuruh kaian untuk membawa ramuannya jika kalian sudah selesai membuatnya. Zokka" Begitulah isi SMS dari Dr. Zokka itu. Mereka semua menuju ke Infirmary.


Di Infirmary...

Chloe & Goto sudah dapat membuka matanya. Mereka terkejut melihat teman-temannya menghampiri mereka, bersamaan dengan Tetri & Pamela. Goto langsung sembuh secara tiba-tiba begitu melihat Pamela. Ya, seorang Animal Suit Playboy yang cukup abnormal *author ditendang Goto*.

"Oohh... halo... siapa dirimu, wahai gadis cantik?" Tanya Goto kepada Pamela sambil mengeluarkan Charming aura-nya.

"Hm... sepertinya kamu salah satu orang yang tidak takut denganku..." ucap Pamela pelan. "Aku Pamela Ibis. Salam kenal~!"

"Ooh, Namaku Goto. Dan untuk apa saya takut kepada hantu cantik sepertimu?" Tanya Goto. Mereka berdua berbincang-bincang seperti layaknya sahabat karib yang sudah lama tidak berjumpa. Sementara sisanya melihat kondisi Chloe. Richmond meminta Chloe cepat-cepat mengadakan 'upacara' penghilangan efek dari mantera itu.

"Jadi kamu menyuruhku untuk mengadakan upacara pemusnahan manteraku ini? Padahal aku sedang sakit..." Tanggap Chloe. Puniyo langsung mengeluarkan Puni Cureheal untuk menyembuhkan Chloe.

"Terima kasih, Puniyo." Kata Chloe. "Baiklah, kita pergi ke Workshop-nya Raze. Soalnya aku menggunakan Genderswitch Incantation di Workshop Ulrika." Ajak Chloe.

"Bagaimana dengan 2 Lovey-dovey itu?" Tanya Et sambil menunjuk Goto & Pamela yang sedang bercengkerama.

"Biarkan saja mereka, jangan ganggu dating mereka..." Tanggap Chloe sambil turun dari ranjangnya. Mereka semua keluar dari Infirmary kecuali Goto & Pamela. 1 menit kemudian, Lovey-dovey itu menyadari bahwa mereka telah ditinggal oleh teman-teman mereka.

"Pamela, maukah kamu ikut denganku?" Tanya Goto dengan suaranya yang khas.

"Oh, baiklah." Jawab pamela tersenyum. Mereka pergi ke Workshop Raze bersama.


Di Workshop Raze...

Rozelle & Richmond sudah dipersiapkan di Pelaminan. Mereka sudah dimandiin pake bunga, di-make-up, dilulurin (emangnya Spa?), dll. Setelah itu, Chloe langsung menyemproti mereka dengan ramuan itu.

"Kalian akan melihat efeknya besok." Kata Chloe. Semua yang disitu berharap agar besok mereka menjadi normal.

"Yah, aku sudah menciptakan Mantera baru. Udah gitu korbannya Raze lagi... pas banegt ama Ulrika... Hihihi..." Pikirnya disertai dengan tawa kecil. Semuanya hanya melongo melihatnya.

"Hei! Kalian ngapain?" Tanya Chloe yang melihat ekspresi mereka.

"Nggak... bukan apa-apa... Oh, saya permisi dulu. Maaf sudah merepotkan..." Ujar Tetri sopan.

"Nggak... kamilah yang harus mengatakan itu. Terima kasih ya, Tetri~!" Ujar Lily.

"Oh iya, saya punya 1 permintaan. Saya kangen sama Uryu. Boleh saya menyentuhnya, sekali ini saja." pinta Tetri. Uryu langsung mendekati Tetri. Tetri pun membelai Uryu.

"Ohh... semoga kamu cepat tumbuh ya~! Dan kalian. Sebagai orang tuanya, jaga baik-baik Uryu ya~!" Ujarnya sambil memberi senyum ke Richmond & Rozelle. "Ngomong-ngomong, saya permisi dulu. Mau pamit.". Tetri beranjak keluar dari Workshop.

"Kalian semua, jika kangen denganku, aku selalu berdiam di Perpustakaan. Jadi, sering-seringlah pergi ke perpustakaan... aku pergi dulu~! Dan Goto, mungkin suatu saat kita akan bertemu lagi." Kata Pamela.

"Oh, itu sudah pasti, Pamela" Ucap Goto dengan suara yang 'macho'. Pamela langsung meninggalkan Workshop itu.

"Rozelle. Aku tau, kamu memilih dia daripada aku... oleh karena itu, selamat. Kamu sudah resmi jadi pacarnya." Kata Lily. "Nanti pas lulus kamu sudah merdeka, dan aku mungkin akan dijodohkan ortuku... jadi, tidak mungkin kamu untukku..."

"Apa? Kok mendadak gini? Darimana kamu tahu?" bingung Rozelle.

"Serapat-rapatnya kalian menutup rahasia kalian, suatu saat pasti akan terbuka." Ujar Pepperoni. "Yun yang memberitahu kami."

"Oh... sepertinya dia harus dihukum..." Ujar Rozelle sambil men-death-glare ke arah Yun. Dia juga sudah mencabuti pedangnya dan aura membunuh sudah mengelilinginya.

"Mati aku... Raze kan Mana Slayer..." Kata Yun pucat. Dia sudah menyiapkan Start untuk lari jarak jauh. Ketika Rozelle mengubah pedangnya menjadi Sword of Light, Yun lari kalang kabut.

"TOLONG~!" teriaknya. Rozelle mengejarnya dari belakang. Mereka sudah seperti Tom & Jerry, kejar-kejaran melulu. Richmond dkk tertawa melihatnya. Ketika Rozelle mendapatkan Yun, tiba-tiba muncul wallpaper Puni entah darimana datangnya. Setelah 'penyiksaan' Yun selesai, wallpaper Puni itupun diambil oleh sang Author dan tampaklah Yun menggunakan seragam para Maid karena Rozelle tahu dia benci Maid. Mereka menikmati hari-hari terakhir Rozelle & Richmond berada di samping mereka.


Esok harinya, Mereka sudah kembali ke wujud semula. Rozelle kembali menjadi Raze, sedangkan Richmond kembali menjadi Ulrika. Mereka dan teman-teman mereka melakukan kegiatan seperti biasa sebagai seorang pelajar. Belajar di kelas, dapat tugas, menerima pekerjaan, dll.


Tanggal 14 Februari... pagi hari di kamar Raze...

Ketika Raze baru selesai merapikan dirinya, Raze melihat bayangan Rozelle di cermin.

"Raze... sebaiknya, kamu terima saja dia. Toh, Richmond, bagian dari Ulrika juga suka denganku, yang merupakan bagian dari dirimu..." Kata Rozelle. Raze menyentuh cermin itu, berusaha memegang tangan Rozelle. Rozelle pun melakukan hal yang sama. Mereka saling menatap satu sama lain.

"Yakinlah, walaupun aku sudah tidak ada, tapi aku tetap menjadi bagian dari dirimu... Counterpart-mu. Aku yakin Ulrika juga sedang berbicara dengan Richmond di kamarnya... Kau sudah menghabiskan waktu 3 hari bersamanya. Dan kamu juga menyadari, bahwa kamu suka sama dia." sambung Rozelle. Perlahan-lahan Rozelle menghilang dari pandangan Raze. Raze masih membisu dengan apa yang dikatakan Counterpart-nya itu, sampai-sampai Enna mengetuk pintu kamarnya.

"Kak Raze~! Cepat! Pak Flay nanti ngamuk kalo kamu telat!" Sergah Enna. Raze langsung sadar dari lamunannya, bergegas menyiapkan semua peralatannya, dan keluar dari kamarnya.

"Maaf membuatmu menunggu, Enna." Ucap Raze.

"Tidak apa-apa... Cuma kakakku mungkin sudah ngedumel gara-gara nungguin kita di luar asrama." Ucap Enna. Raze & Enna berjalan keluar asrama. Di luar asrama laki-laki mereka menemui Puniyo & Et.

"Puninini!"

"Adikku mengatakan 'Kamu telat!'."

"Maaf... soalnya aku ngantuk banget, jadi bangunnya agak kesingangan..." Kata Raze Innocent.

"Pasti kamu main game" celoteh Et

"Nggaklah! Hey! Kita bisa dimarahin VP itu nanti jika kita telat. Et! Ayo ke kelas!" Perintah Raze.

"Um... ok, Puniyo, kamu ke kelas bareng Enna ya~!"

Akhirnya mereka berempat menuju ke kelas mereka masing-masing. Raze & Et ke Combat Dept, sedangkan Puniyo & Enna ke General Studies.


Pada saat yang sama, Di Kamar Ulrika...

Ulrika yang barusan berdandan juga menemui Richmond di cermin.

"Ulrika, jadilah gadis yang baik... kamu sudah mengutarakan perasaanmu kepadanya melewati aku. Yah, walau bagaimanapun juga, aku adalah bagian dari dirimu." Ujarnya. Ulrika hanya menundukkan kepalanya. Dia menyesal telah memanggil Raze 'Jerktown', padahal dialah cowok yang dia sukai, bahkan Lily menyerah untuk membiarkan Ulrika memilikinya. Ulrika sudah menghabiskan waktu 3 hari dengannya. Yah, mungkin orang mengira Raze & Ulrika tidak akan pernah akur, tapi, semuanya sudah berubah. Setahun dia lewati di sekolah Al-Revis ini bersama dengan teman-temannya, bahkan musuhnya yang sekarang menjadi temannya. Ulrika menyentuh cermin itu, dan tangannya memegang tangan bayangan Richmond.

"Nanti malam, ajak Raze untuk berduaan di Rooftop. Aku akan menampakkan diriku & Rozelle disana. Tapi itu hanya sebagai memori kalian..." Ujarnya sambil menghilang perlahan-lahan. Dari luar, Lily sudah mengetuk pintu selama berkali-kali. Lily masih saja menggunakan julukan yang diberikannya kepada Ulrika

"Country Bumpkin! Cepatlah keluar!" Seru Lily. Ulrika menyiapkan semua peralatannya dengan terburu-buru, kemudian dia keluar dari kamarnya.

"Kamu telat! Kamu pikir Raze bakalan suka sama wanita yang telat sepertimu?" Ujar Lily.

"Maaf... soalnya aku agak telat bangunnya... dan hey! Berhenti memanggilku dengan julukan itu!"

"Ya sudah, tidak apa-apa... Chloe sudah duluan ke kelas, ayo kita kesana bareng! Tapi, sebelum itu, maafkan aku telah memanggilmu Country Bumpkin" ajak Lily. Ulrika menerima tawaran Lily dengan senang hati. Merekapun berjalan menuju ke kelas mereka, Alchemy department. Merekapun melewati kehidupan seorang pelajar seperti biasa.


Malam harinya...

Semuanya sudah terlelap. Raze melangkahkan kakinya menuju Rooftop. Disana ia melihat Ulrika yang sedang duduk di bangku panjang sambil menatapi langit yang menurunkan saljunya. Raze menghampiri Ulrika dan duduk disampingnya.

"Ulrika? Belum tidur?" Tanya Raze.

"Aku gak bisa tidur. Aku ingin melihat Richmond & Rozelle sekali lagi..." jawab Ulrika sambil terus memandangi langit. Walaupun disana dinginnya menusuk tulang, mereka tetap merasakan kehangatan.

"Raze, itu mereka~!" Tunjuk Ulrika. Mereka melihat Rozelle & Richmond yang hampir ciuman. Kemudian mereka berbalik.

"Raze... Jaga baik-baik Ulrika & Uryu... karena, suatu saat kamu akan menjadi suaminya dan ayahnya Uryu..." Nasihat Rozelle.

"Dan Ulrika, tolong perlakukan Raze sebaik-baiknya. Memang dia mantan butler, tapi bukan berarti dia akan jadi pembantumu." Nasihat Richmond.

"Oh iya, Raze. Katakan 'itu' kepada Ulrika. Ulrika sudah menunggunya sejak dia mengucapkan 'itu' kepadamu." Perintah Rozelle. Raze langsung menoleh ke Ulrika.

"Ulrika, aku tahu, kamu sudah menunggu ini lama sekali. Aku juga suka kamu." Ucapnya. Pipi Ulrika pun memerah. Akhirnya Mereka saling berpelukan.

"oh iya, kami pergi dulu... Selamat tinggal..." kata Richmond.

"Hei, tung-" belum selesai berbicara, Mereka sudah menghilang.

"Raze..."

"Ulrika..."

"Ehehe... harusnya aku memberikan cokelat untukmu hari ini... tapi..." kata Ulrika sambil memberikan bungkusan berwarna biru muda ke Raze. "Yah, karena sepertinya kamu suka warna biru, maka bungkusanya aku beri warna biru."

"Terima kasih, Ulrika." Kata Raze tersipu. Raze juga memberikan kalung dengan liontin berbentuk Gergo (?) kepada Ulrika.

"Wow~! Gantungan hape Gergo~! Darimana ini?" tanya Ulrika.

"Rahasia." Jawab Raze singkat. Mereka kembali memegang tangan mereka. Perlahan mendekatkan bibir mereka satu sama lain. Dekat... lebih dekat... makin dekat... dan akhirnya mereka berhasil melakukan First Kiss mereka. Mereka melakukannya selama 1 menit. Setelah itu, Mereka menikmati malam yang indah itu.


The End.


Yah, maaf. Endingnya sangat kacau! Oh, bentar... kok sudah ada Pamela Ibis disini? Dan Masa Ulrika suka Gergo? Ah, biarin, yang penting ceritanya sudah selesai. Lagipula juga aku baca di profilnya Ulrika dia suka 'Stuffed Animals'. Oh, buat kalian yang kangen dengan Reicher sang pemain gamelan Shota, saya akan menyediakan adegan kesehariannya. (Note: untuk kali ini aku pake bahasa Indonesia saja, males translate ke Jawa... yang jelas ini terjemahannya, bukan aslinya. =)))


Reicher sedang bertarung dengan gadis berambut biru muda di halaman belakang rumah mereka. Keduanya menggunakan keris sebagai senjata mereka. Tenang, ini cuma latihan kok, jadi jangan bayangkan Reicher mau membunuh dia atau wanita itu mau membunuh Reicher. Setelah beberapa jam, wanita itu muncul sebagai pemenangnya.

"Aku kalah, Anna..." Reicher mengaku. Dia masih belum bisa bangkit dari tempatnya jatuh.

"Oh, jadi tugas rumah tangga kamu yang harus menyelesaikannya. Cepat sana!" Perintah wanita yang bernama Anna itu. "atau kamu akan tau akibatnya." Sambungnya disertai dengan death-glare. Mereka berdua memang mengadakan tradisi seperti itu. Siapa yang menang, dia diperlakukan seperti bangsawan, sedangkan yang kalah jadi budaknya. Selama ini, Reicher hanya menang 5x dalam 15 pertarungan melawan Anna.

"Jadi budak lagi..." Keluh Reicher sambil menghela nafasnya. Dia harus memasak untuk hari ini, mencuci baju, mencuci piring, menyapu rumah, mengepel lantai, dan setumpuk pekerjaan rumah tangga lainnya.

End of Reicher's story.


Nah, begitulah kesehariannya...

Reicher: Author! Kenapa Anna jadi memperlakukanku seperti babu sih?

Author: lho? Aku kan cuma melihat apa keseharianmu!

Reicher: Nasib... nasib...

Author: Ulrika, kalo sudah berumah tangga dengan Raze jangan jadi kayak Anna gini ya.

Ulrika: Aku harap begitu... selama dia tidak menyakiti Uryu.

Author: Raze, kamu juga. Jangan jadi Suami-suami takut istri kalo udah kawin.

Raze: Mana mungkin!

Author: Ok. Cerita berakhir. Aku tunggu Review dari kalian, dan Raze. Aku ada hadiah untukmu.

Raze: Apa ini? Parang?

Author: iya, Parang of Light, Sodaranya Keris of Light.

Raze: ....

Reicher: wow, ada sodaranya Keris of Light!

Author: Kalian ini gak tau terima kasih...

Ulrika: nanti apa lagi nih temuannya...

Author: Udah! Gak usah banyak komentar! Yang penting, ehem. *ngubah bajunya menjadi baju pembaca berita & backgroundnya jadi seperti background di acara berita* Pemirsa. Karena cerita sudah selesai, maka tidak ada chapter selanjutnya untuk cerita ini. Oleh karena itu, saya akan menunggu Review dari pembaca sekalian. Sekian dan terima kasih. *suasana kembali seperti semula* Oh iya, kalo punya saran yang membangun, utarakan saja lewat Review. Dagh~! Oh iya, Gergo © GUST & NISA. *ngacir entah kemana*

All: *kompak* Author yang aneh...