Warning !: peringatan sebelum membaca fic ini.
Fic ini mengandung unsur Boys Love dan juga normal. Jadi bila tidak menyukai hal-hal yang berada di dalam fic ini lebih baik tidak meneruskan. Tentu anda sudah pintar untuk memahami warning ini, kan?
Disclaimer : Masashi Kishimoto
"Pase de Deux"
Created by Kanon1010
-Parte 4-
...
Di lain tempat, tepatnya di Inggris. Seorang pria dengan suite formalnya, berjalan dengan gaya wibawanya. Tak seorangpun bisa memungkiri ketampanan wajahnya. Dia yang merupakan kakak kandung dari Sasuke, Itachi Uchiha namanya.
Dia berjuang seorang diri di London menjadi seorang intel demi mencari tau penyebab kematian kedua orang tuannya. Kalau bukan berkat keluarga Sabaku, mungkin Itachi tidak akan bisa mencapai posisi tertinggi di negara kerjaan Inggris tersebut.
"Good morning, sir."
"Hn, morning."
Beberapa sapaan hanya dibalasnya singkat atau hanya sekedar anggukan kepala. Sampai di depan ruangannya, Itachi segera duduk dan melihat laporan beberapa investigasi yang berada di atas mejanya. Matanya tertumbuk pada folder file berwarna merah, dan ia tau betul itu merupakan laporan dari hasil penyelidikannya selama ini.
Itachi langsung menelpon asistennya, "Jessie, buy one ticket to Japan tomorrow. I'll come to there in morning."
"Only you sir? Without other team?"
"Yes, and please don't tell anyone, do you understand?"
"Yes sir."
"Thank you Jessie." Itachi menutup teleponnya dan mulai mengambil beberapa file dan persenjataan untuk berjaga-jaga. Tak lupa ia harus mengirim pesan pada seseorang di Jepang sana.
'Paman Sabaku, besok lusa aku tiba di Jepang. Aku mendapat titik cerah disana.'
...
...
Tinggalkan sejenak Uchiha Itachi yang penuh misteri, kembali pada kembar Namikaze yang sedang berada di kamarnya masing-masing. Naruko sedang menghapal partitiur dari Rachmaninoff yang akan dimainkannya besok. Meskipun lagu yang akan ia mainkan sudah berada diluar kepala karena terlalu sering dimainkan, namun tak membuat Naruko bersantai-santai. Buktinya ia masih menandai bagian partitur yang mana nadanya harus naik dan agak soft.
Tok...tok...tok...
"Masuk." Ucap Naruko dari dalam kamar.
Tampak Naruto sang kembaran muncul dari balik pintu. Ia melihat Naruko yang berada di balkon sedang duduk di sofa, di tangannya sudah ada buku partitur dan pensil, rambutnya di gulung keatas dengan asal, tak lupa kacamata minus berframe hitam sudah manis bertengger di hidungnya.
"Ruko, apa kau sibuk?" Naruto duduk di kursi sebelah Naruko.
"Hm? Tidak, ada apa?" Naruko meletakan partitur diatas meja dan menatap Naruto dengan intens.
"Tidak, hanya ingin mengajakmu jalan saja. Aku bosan di rumah, dan latihan pun libur selama dua hari sedangkan kau melarang aku latihan." Tanpa sadar Naruto mempoutkan bibirnya , merajuk seperti anak kecil.
Naruko tertawa pelan melihat tingkah Naruto. "Maaf ya, aku sedang berlatih besok ada resital. Ada kuliah pagi besok?" Naruto menggeleng, "Seperti biasa, datang menonton resitalku ya."
"Tentu saja! Karya siapa yang akan kau bawakan besok?"
"Rachmaninoff dan Chopin. Besok Gaara dan Sasuke juga tampil." Ucap Naruko yang membuat Naruto bersemu tanpa sadar ketika mendengar salah satu nama itu disebutkan. Dan Naruko menyadari hal itu.
"Alat musik apa yang dibawakan mereka?"
"Sasuke bermain Cello dan Gaara flute." Naruto mengangguk-angguk kepalanya. "Oh ya Naru, kemarin aku lupa ada titipan dari Tsunade-san untukmu tunggu sebentar."
Naruko berjalan kedalam dan membawa dua buah CD dan memberikannya pada Naruto. "Kedua kaset itu adalah rekaman pertunjukan Swan lake dan ada juga video khusus latihan untuk odile. Kemarin Tsunade-san lupa memberikannya padamu."
"Benarkah terima kasih Ruko. Tapi aku masih ragu, apa aku pantas menjadi Odile? Selama ini belum ada seorang pria yang menjadi Odile." Naruto tertunduk lemah. "Jujur aku kurang percaya diri."
Naruko memutar matanya malas, lalu menyentil dahi adiknya lumayan kencang hingga menimbulkan bercak merah. Naruto hanya bisa mengusap bekas perihnya, dan merengut kesal dengan kebiasaan jelek kembarannya itu.
"Mau sampai kapan kau tidak percaya diri begitu? Bukankah ini salah satu impian kita? Ini tantangan untukmu Naruto, gak semua orang bisa dapat kesempatan kaya kita. Oh please mau sampai kapan kau bisa percaya diri? Percayalah pada dirimu sendiri." Ceramah Naruko yang bisa dibilang itu bukan ceramah yang satu dua kali ia katakan pada Naruto.
Cukup sering ia memberi ceramah dadakan pada kembarannya itu. Soal yang dipermasalahkan juga sama saja, kurang percaya diri Naruto. Naruko tau bahwa dibalik sifat cerianya Naruto, ia kadang suka memandang Naruko dengan iri dan berharap bisa seperti dirinya. Padahal buat Naruko malah ia ingin bisa bersifat ceria dan gampang punya teman, bukan seperti dia yang cukup sulit membuka diri untuk orang lain.
Mengenal Gaara dan Sasuke itu juga hanya karena mereka bertiga pernah dalam satu grup untuk mengerjakan tugas. Gaara dan Sasuke semula memandang Naruko sebagai gadis yang suka tebar pesona dan genit sama seperti gadis-gadis bodoh lainnya, ternyata berbeda dengan Naruko yang mereka kenal. Walaupun sifat tebar pesona dan genitnya memang ada, tetapi Naruko itu cerdas, licik dan memiliki kesan sebagai ratu yang tak sembarangan bisa disentuh.
"Iya..iya aku sudah hapal isi ceramah mu itu." Balas Naruto dengan mempoutkan bibirnya, membuat Naruko mencubit pipi yang lumayan tembem itu.
"Hentikan Naruko! Ini sakit tau!"
"Makanya hilangkan kebiasaan suka mempoutkan bibirmu itu, kaya anak kecil. Bagaimana kau bisa mendapatkan pacar jika masih kekanakan seperti itu, ditambah tidak percaya diri. Yang ada mereka kabur duluan." Naruko berdiri mengambil partitur yang tadi dia tinggalkan dan kembali duduk ke samping Naruto.
"Memangnya kamu sendiri punya?" tanya Naruto penasaran. Sebenarnya apa yang barusan dikatakan Naruko sedikit membuatnya ingat pada kejadian sewaktu mereka masih duduk di bangku SMP.
Saat itu Naruto menyukai seorang kakak kelas. Naruto dan kakak kelas itu cukup dekat, karena mereka berdua berada dalam satu eskul yang sama. Naruto berniat menyatakan rasa sukanya, namun kenyataan pahit ia terima ketika ia tau bahwa kakak kelas itu menyukai kembarannya. Pupuslah harapan Naruto.
Naruko tidak pernah tebar pesona pada setiap lelaki, namun tanpa ia sadari para lelaki memberi perhatian penuh padanya dan bila ia mau tanpa susah-susah ia bisa tinggal tunjuk siapa yang ingin dijadikannya kekasih. Tapi kembali lagi, seorang Naruko tak mudah membuka benteng pertahanan dirinya.
"Hmm... kalau aku bilang aku lagi suka seseorang bagaimana?" kerlingan jahil Naruko berikan pada kembarannya yang tampak terkejut itu.
"Siapa! siapa! baru kali ini kau bisa tertarik pada seseorang. Katakan padaku who's the lucky man? I know him?"
"Yup, you know him very well brother." Naruko mengangguk pasti.
"I think i know him. Are you sure?" suara Naruto terdengar sedikit lirih. Nampaknya ia bisa menebak siapa orang yang disukai Naruko.
"Aku tau kau juga menyukainya, Naruto." Ucapan Naruko membuat Naruto kaget. "Karena itu, sebelum lebih jauh aku cuma mau bilang. Apa kau benar-benar menyukainya atau hanya kagum? Jika kau benar-benar menyukainya... cobalah merebutnya dariku."
Naruko keluar dari kamarnya dengan senyum yang masih terpatri jelas. meninggalkan Naruto yang agak shock dengan pernyataan kembarannya itu.
"Kali ini, maaf Naruko aku akan berjuang."
Naruto keluar dari kamar Naruko menuju ke taman belakang rumah. Duduk di ayunan yang menggantung di pohon besar yang sudah berdiri tegak disana bahkan sebelum si kembar terlahir.
Naruto mengayunkan ayunannya menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah sambil melamun berpikir. Ia sangat tau sifat kembarannya itu seperti apa. Pemikiran Naruko itu lebih rumit dan susah ditebak, dibandingkan dengan Naruto yang lebih mudah ditebak.
"Jika apa yang dipikirkan olehku benar berarti yang disukai Naruko itu..."
"Siapa yang disukai Naruko?"
Eh? Naruto menoleh ke arah samping dan ... "Hwaaaa, kau mengagetkan ku Gaara." Naruto mengelus-ngelus dadanya dan mendapati wajah Gaara yang terlalu dekat dengannya.
"Jadi siapa yang disukai oleh Naruko?" tanya Gaara lagi namun sudah memundurkan wajahnya dari wajah Naruto.
"Siapa aja boleh, heheheh. Ada apa Gaara kesini? Mencari Naruko?"
Gaara tersenyum tipis, "Aku hanya menemani Sasuke kesini. Katanya ia ingin bertemu denganmu."
Sasuke muncul dari belakang Gaara dengan wajah datar seperti biasanya. Dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku. Kalau saja Naruto sama seperti para pemuja Sasuke di kampus mungkin ia akan berteriak dengan 7 oktaf karena kegirangan Sasuke menghampirinya.
Sayangnya itu tidak mungkin terjadi.
"Ada apa mencariku?"
"Kata Naruko kemarin ia diberikan kaset oleh Tsunade-san, aku ingin melihatnya." Ucap Sasuke dengan arogan, tak menyadari bahwa Naruto sudah memasang muka sebal.
"Tapi aku belum melihatnya, baru saja Naruko memberinya padaku. Bukankah kalian berdua ada resital juga bersama Naruko? Kenapa kalian tidak latihan?"
"Bukan urusanmu do-be." Balas Sasuke dengan penekanan di kata dobenya.
"Apa katamu Te-me?!"
Tiba-tiba Naruko datang sambil membawa nampan yang berisi minuman dan beberapa cemilan.
"Ada apa ini Naru? Aku dengar dari seorang pelayan kalian datang, yasudah sekalian saja aku bawakan minuman." Naruko meletakkan nampan tersebut di meja yang memang ada di tengah taman lalu berjalan menghampiri ketiganya.
"Si Uchiha itu tuh! Dia mau mengambil CD yang dari Tsunade-san." Adu Naruto pada Naruko yang duduk disampingnya dengan nada manja.
Naruko memandangi Sasuke yang duduk diseberangnya. "Apa kau perlu sekali CD itu Sasuke?"
"Hn."
"Tapi Naruto juga harus mempelajari isinya. Hmmm... bagaimana kalau kalian melihatnya bersama-sama? Sekalian kalian saling belajar bagaimana?" saran Naruko yang diangguki oleh Gaara.
"Nggak mau!" Naruto langsung menolak dengan menyilangkan kedua tangannya di depan wajah Naruko. "Nanti aku tidak bisa berkonsentrasi belajarnya. Setelah aku selesai akan kuberikan."
"Dasar dobe."
"Apa kau T-E-M-E!"
Naruko memijit keningnya yang agak pening mendengar suara Naruto yang kencang dan agak memekakkan telinga. "Sudahlah kalian berdua! Lagipula Naruto, bukankah lebih baik jika kau menonton dengan Sasuke, peran Sasuke yang pangeran akan memudahkan kalian membangun chemistry? Secara hanya kalian berdua yang chemistrynya belum terlalu dapat, ya kan?"
Naruto menunduk membenarkan perkataan kembarannya. Jujur ia melupakan satu hal penting tersebut. Dia lupa kalau dia harus membangun chemistry dengan Sasuke. Akhirnya Naruto menyerah lalu berdiri menarik lengan Sasuke.
"Hn?" Sasuke memandanginya dengan bingung.
"Ayo ke kamarku, kita nonton sama-sama. Mau tidak?"
Wajah Naruto merona dengan nada suara yang pelan dan bibir yang terpout sempurna. Ia membuang gengsinya demi pertunjukan kali ini, dan jika ingin penampilannya sempurna ia harus menjalin kerja sama dengan Sasuke.
Sejenak Sasuke terpaku dengan ekpresi Naruto dan berdiri menyusul Naruto yang berjalan terlebih dahulu di depannya.
"Terpesona? Huh Gaara?" Naruko menyesap teh di tea cup yang dibawanya tadi.
"Apa maksudmu?" Gaara menatap Naruko dengan bingung. Namun Naruko sedikit memberikan seringai yang membuat Gaara langsung mengerti maksud perkataan Naruko. "Mungkin, sedikit." Balas Gaara.
"Kau tau kan aku tak akan melepaskanmu Gaara. Meskipun untuk kembaranku sendiri." Naruko menatap jade Gaara secara langsung, membuat Gaara terpana, dan terperanjat kaget bersamaan.
"Hn, aku tau, tapi masih ada kesempatan juga untuknya." Masih menatap Naruko, Gaara melihat gadis itu dengan tenang menyesap minumannya secara anggun dan berkelas. Sungguh Namikaze Naruko kadang membuat Gaara menggila tanpa disadarinya.
Kembar Namikaze memang menarik, sang pangeran disodorkan dua angsa yang menawan. Namun pada akhirnya hanya satu angsa yang akan berubah menjadi seorang putri dan yang lainnya menjadi seekor bebek.
...
Di dalam kamar Naruto, tampak Sasuke duduk manis di sofa yang menghadap tv memperhatikan adegan-adegan dalam CD yang diputarkan Naruto. Ia mengingat di otaknya step by step tokoh yang memerankan pangeran Siegfred. Lain Sasuke lain pula Naruto, bukannya ia memperhatikan tokoh Odile ia malah memperhatikan Sasuke.
"Hentikan tatapan bodohmu itu dobe." Sasuke membuka suara membuyarkan pandangan Naruto.
"Kenapa? Seperti kata Naruko, aku harus membangun chemistry denganmu. Meskipun scene kita nanti tidak banyak setidaknya aku ingin membuat scene bagianku begitu berkesan." Penjelasan Naruto membuat Sasuke terdiam sejenak kemudian menghembuskan napasnya.
"Bodoh."
"Menyebalkan kau teme." Sasuke menegak minuman yang disediakan Naruto. "Tapi... kalau dilihat-lihat kau tampan juga ya."
Brushhh...
Uhukk.. hukk.. uhuk...
"Sasuke kau tak apa-apa? Haduh kau ini ceroboh sekali teme. Minum seperti itu saja sampai tersedak." Naruto membantu menepuk punggung Sasuke.
"Grrrr ini semua karena ucapan bodohmu itu dobe!"
"HEEEHHH?! Ucapan yang mana? Jangan melimpahkan kesalahan padaku dong." Naruto melipat kedua tangannya di dada, menatap Sasuke garang.
"Sudahlah, aku mau pulang saja. Sudah cukup menontonnya." Sasuke beranjak berdiri lalu keluar kembali pulang.
"Dasar aneh."
...
...
Hari berganti tanpa terasa, 2 hari berlalu setelah resital Naruko. Seperti biasa kembarannya Naruto itu mendapatkan nilai tertinggi di dalam resitalnya. Tak heran kadang Naruko juga disebut sebagai pianis bertangan dingin. Naruto suka berpikir sebenarnya apa yang tidak bisa dilakukan oleh Naruko?
Mereka kembar, identik malah, hanya perbedaan di gender saja. Tapi Naruto merasa seperti ada jembatan panjang yang memisahkan mereka, sangat jauh dan sulit dijangkau.
Seperti saat ini, bohong jika Naruto tidak terpesona melihat tarian Naruko. Kadang ia berkhayal, jika ia juga wanita apa ia akan semenawan Naruko?
Apa ia akan sesempurna Naruko?
Scene Naruko selesai, tepuk tangan diberikan sangat meriah pada para pemain dan pengajar. Saat ini sedang dilakukan gladi bersih yang pertama, latihan langsung di panggung dengan semua pemain utama dan pemain pendukung.
Sekarang saatnya pase de deux antara Sasuke dan Naruko. Masih di act 2 awal pertemuan pangeran dan sang angsa. Pangeran yang diam-diam meperhatikan segerombolan angsa menari (termasuk Naruko di dalamnya) muncul dan membuat para angsa terkejut.
Act 2 mulai berakhir, mulai memasuki act ke 3 saatnya Naruto muncul. Diawali dengan beberapa pemain pendukung yang menari berpasangan seakan-akan berada di ballroom dansa, dimana disudut Sasuke sebagai pangeran berdiri dengan wajah kebingungan mencari keberadaan seseorang yang ditunggunya. Munculah Naruto bersama Gaara, dengan digandeng Gaara menuntun Naruto menuju ke arah Sasuke.
Seketika pemain pendukung lainnya memberi ruang untuk ke tiga pemeran utama itu. Sasuke memulai pase de deux nya dengan Naruto. Tarian Naruto bisa dibilang begitu kuat dan menggairahkan, membuat Sasuke sebenarnya agak kewalahan, karena ini cuma latihan tetapi dia benar-benar serius.
Hingga pada sampai tahap melakukan 32 putaran, pemain yang lain termasuk Naruko dan para pelatih menahan napas sambil menghitung putaran Naruto, hingga di putaran ke 20 Naruto terjatuh.
"Naruto!" teriak Naruko paling kencang dan langsung menghampiri kembarannya itu. "Mana yang sakit?"
Naruto hanya meringis mengurut pergelangan kakinya yang sedikit nyeri. "Tidak apa-apa kok." Balasnya dengan senyum yang agak dipaksakan, ia merasa tak enak jika mengatakan yang sebenarnya.
"BOHONG! Sudah kubilang kan! Jangan memaksakan diri Bodoh! Kau tau kakimu itu hidupmu. Kita pulang sekarang!" Naruko menelpon supirnya untuk menyiapkan mobil.
"Naruko aku tidak apa-apa, lebih baik kau lanjutkan latihan, kasihan yang lainnya." Naruto memandang pemain lainnya tidak enak.
"Naruto kami tidak apa-apa kok, benar kata Naruko, lebih baik kau pulang sekarang. Mencegah supaya tidak terjadi apa-apa dengan kakimu. Lagipula kita bisa pulang cepat hehehe." Celetuk salah seorang dari mereka, membuat riuh tawa lainnya.
"Kalau begitu maaf ya sudah membuat repot." Naruto dipapah oleh Gaara dan Sasuke di kanan dan kirinya, sedangkan Naruko mengambil barang-barang mereka berdua dan berjalan duluan menuju mobil dengan rawut wajah cemas.
Bagaimanapun sifat Naruko yang agak arogan, tetap saja ia sebenarnya paling protektif pada kembarannya itu dibanding kedua orang tuanya.
"Thanks ya kalian udah bantuin. Kita balik duluan." Naruko berkata pada Sasuke dan Gaara dari balik jendela mobil, sedangkan Naruto meringis kesakitan disebelahnya dan hanya menundukkan kepalanya sedikit.
"Pak, kita ke rumah sakit dulu." Perintah Naruko.
"Baik nona."
Mobil si kembar Namikaze berjalan meninggalkan asap dan menghilang dibalik tikungan. Gaara mulai berbalik badan hendak masuk kedalam namun dipandanginya Sasuke yang masih memperhatikan jalanan itu.
"Sasuke."
Sasuke menoleh ke arah Gaara dan mengikuti Gaara kembali ke dalam sanggar. Sasuke, mengikuti seseorang yang dianggapnya sebagai tuan itu dengan diam. Bagaimanapun juga baginya perkataan itu seperti perintah mutlak baginya.
Setelah pulang dari rumah sakit, Naruto berbaring di ranjangnya lelah bukan karena sakitnya yang ternyata hanya terkilir biasa, namun lelah karena mendengar ceramah dari kedua wanita di rumah ini, siapa lagi kalau bukan Naruko dan ibunya.
Sudah sepanjang jalan Naruko mengomel mengenai betapa cerobohnya dirinya, tentang nasehat yang dia berikan untuk Naruto yang tak di dengarkan. Ketika pulang smapai di rumah ibunya pun menceramahi hal yang sama. Untunglah ayahnya segera pulang dan menyingkirkan kedua wanita Namikaze itu, membiarkan Naruto istirahat.
Dokter cuma berkata ia harus istirahat 2 sampai 3 hari untuk menghilangkan rasa nyerinya setelah itu ia boleh menari lagi.
"Ini efek gugup makanya aku bisa terjatuh seperti tadi, tapi kuakui si Sasuke itu memang memiliki aura pangeran lebih kuat dari Gaara tapi ia tampak lebih cocok seperti pangeran kegelapan, pas saja disandingkan dengan Odile. Eehhh! Mikir apa aku ini!" monolog Naruto lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut
Krieettttt...
"Naruto, sudah tidur?" Naruko muncul dari balik pintu dengan menggunakan piyama dan sebuah boneka di pelukannya. Itu boneka kesayangan Naruko sejak umur 12 karena itu hadiah pertama dari Naruto untuknya waktu itu. Boneka berbentuk rubah berekor sembila itu menjadi teman tidur Naruko setiap hari, tanpa boneka itu Naruko tidak bisa tidur.
"Kyuubi itu pengganti Naruto kalau ia tak mau tidur denganku!" jelas Naruko kala itu.
"Ada Ruko-chan, masuklah aku belum tidur. Tapi dengan syarat tidak ada ceramah lagi." Naruko mengangguk patuh lalu langsung naik ke atas tempat tidur Naruto dan merebahkan dirinya disamping Naruto.
"Aku nginep sini ya." Pintanya dengan memelas. Naruto terkekeh pelan, melihat kembarannya yang bersikap manja seperti anak umur belasan, padahal ia sudah beranjak dewasa. "Aku masih khawatir denganmu. Bagaimana jika kamu..."
"Shhhtttt." Naruto memotong ucapan Naruko yang pasti akan berpikiran negatif. "Look i'm fine, don't worry. Kamu denger sendiri apa kata dokter tadi. Lusa aku juga sudah bisa menari lagi, aku gak akan biarin kamu sendirian menguasai panggung itu."
"Iya iya, kamu gak boleh biarin aku sendiri yang menguasainya, harus si kembar Namikaze yang menguasai, karena itu panggung kita dan pertunjukan yang sangat kita nantikan sejak dulu." Naruko berbaring menghadap Naruto dengan Kyuubi dipelukannya.
"Makanya jangan mikir negatif, sekarang tidur besok kamu ada kuliah kan?" Naruko mengangguk.
"Naruto, tolong nyanyikan lagu seperti biasanya ya supaya aku tidur cepat." Pinta Naruko dengan manis dan mulai memejamkan matanya. Naruko selalu menyukai nyanyian Naruto, suara Naruto begitu bagus dan pas dalam menyanyikan lagu apa saja, terutama yang bertempo slow dan bergenre jazz.
"Dasar kau ini." Naruto mulai mengambil napas dan bernyanyi lagu kesukaan Naruko, yaitu Lullaby of birdland.
Lullaby of birdland ~ that's what i always hear, when you sigh...~
Never in my wordland could there be word te revel ~ i a phrase how i feel...
Lullaby of birdland kiss me sweet and we'll go flying high in birdland, high in sky up above all because we're in love...~
Naruto melihat ke arah Naruko yang sudah tertidur dengan tenang. Ia memperbaiki selimut Naruko hingga menutupi pundaknya dan ikut tertidur di sampingnya menghadap wajah Naruko. Ia merasa kembali ke masa kanak-kanak saat ini. Ada benarnya juga sebuah kata-kata yang sering ia lihat, bahwa menjadi dewasa kadang tidak menyenangkan.
...
Hari berhanti tanpa terasa, pagi menjelang dengan cahaya matahari yang menembus sela-sela ventilasi di kamar Naruto. Membangunkan Naruto dari tidurnya yang nyenyak, saat menoleh kesamping sosok Naruko sudah tidak ada disampingnya padahal Naruko itu bukan morning person jika tak ada hal penting yang mengharuskan ia bangun.
"Sudah bangun Naruto, sarapanmu akan dibawakan pelayan ke kamar." Ucap Naruko begitu mendapati kembarannya sudah bangun.
"Tidak perlu seperti itu, aku bisa turun ke bawah." Tapi ia malah mendapatkan pelototan dari kembarannya itu. "Baiklah aku duduk diam saja, tapi ke kamar mandi boleh kan?"
"Tentu saja, kau harus mandi setelah kamu mandi, sudah ada sarapan disini. Aku harus pergi dulu dan langsung ke kampus sekalian mengabari fakultasmu agar kamu dapat ijin bukan alpa, nanti ibu yang menjagamu." Jelas Naruko sambil mengecek ponselnya.
"Kamu mau kemana?"
"Ada urusan sama Gaara dan Sasuke sebentar. Mungkin nanti sore mereka akan kesini. Kalau gitu aku pergi ya." Pamit Naruko dengan senyum manisnya.
"Hati-hati Ruko-chan!" Naruko mengangguk dan melambaikan tangannya. Naruto mendesah, ia begitu penasaran dengan kehidupan ketiganya. Seperti ada yang disembunyikan. Dulu sebelum Naruto begitu kenal keduanya, ia juga sering mendapati Naruko pergi bersama mereka dan sekarang Naruto juga ingin masuk ke dunia mereka.
...
"Jam berapa kedatangannya?" tanya Naruko pada Gaara.
"Seharusnya sudah mendarat sekitar 5 menit lalu, mungkin sedang menunggu bagasi." Jawab Gaara yang berdiri tenang di pintu kedatangan. Ketiganya sedang menunggu kedatangan seseorang. Sasuke paling enggan diajak ke bandara, baginya tak penting orang itu kembali atau tidak.
"Itu dia!" ucap Naruko sambil menunjuk ke sosok pria dewasa dengan coat dark bluenya dan sebuah koper yang ditarik.
"I'm home." Ucap pria itu.
Gaara tersenyum dan membalas jabatan tangan pria itu, dan setelah itu tanpa aba-aba pria itu memeluk Naruko setelah melepas jabatan tangan Gaara.
"Let me go! Ughh kau masih saja menyebalkan." Gerutu Naruko dan langsung Sasuke memisahkan keduanya.
"Dan kau masih saja bermulut pedas Naruko. Hai adikku, miss me?"
"In your dream. Kalian masih mau disini sampai subuh atau pulang?" tanya Sasuke dengan rawut wajah yang kesal.
"Kali ini aku setuju dengan Sasuke." Naruko langsung menggandeng lengan Sasuke yang tak ditolak oleh pemuda itu. Lagipula Sasuke sudah hapal dengan Naruko hingga ia menerima saja perlakuan dari Naruko.
"Dasar tsundere, kakaknya pulang bukannya disambut. Gaara, bisakah antarkan aku langsung ke kantor paman Sabaku?" pinta Uchiha Itachi yang merupakan kakak kandung Sasuke.
"Hm, ayah juga sudah menanyakan sejak tadi. Apa ada hal penting hingga kau langsung terbang ke Jepang tanpa memberitahu jauh-jauh hari seperti biasa?" tanya Gaara yang berjalan disamping Itachi, sedangkan Sasuka dan Naruko berjalan di depan mereka.
"Bisa dibilang mungkin kabar bagus, nanti kuceritakan saja."
"Baiklah."
...
To Be Continue
...
Pojokan Kanon1010 :
MAAF BANGET! MAAF DENGAN SANGAT *BOW*
Kanon kan janji updatenya sekitar bulan mei, malah molor 2 bulan :'( bukan maksud gak mau nepatin janji, Cuma ternyata pas balik dari luar ternyata bukan akhir april malah mei, setelah balik ke indo kanon kena jetlag dan gak konsen buat nerusin. Eh gak lama kemudian adek kanon masuk rumah sakit, terus habis adek kanon sembuh gak lama kemudian mamah kanon yang masuk rumah sakit.
Jadi maaf ya sangat molor sekaliiiii...dan maaf juga namanya gak kanon sebut satu persatu, tapi kanon baca review kalian kok. Dan kalau mau ngobrol sama kanon bisa PM aja, kanon usahain dibalas cepat karena PM kalian masuk notif email. Heheheh.
Cukup panjang gak?
Sebenarnya di fic ini, kanon mau lebih fokus ke si kembar Namikaze ini, jadi bisa dibilang romancenya agak kurang, gak terlalu lovey dovey banget. Dan tamat diberapa chapter? Kanon gak bisa pastiin, tapi yang pasti gak lebih 10 kayanya.
Kalau mau yg fluffy bisa baca fic kanon yang "Cafe apollon" *promosi* hahahahahhahahahha
See you next chapter lah ...
Kiss and hug from kanon... have a nice read.
