Matahari bersinar cerah disiang itu, jarum jam bergulir semakin cepat hingga menunjuk ke angka 12.35, udara berhembus menerbangkan bau harum dari bunga-bunga yang bermekaran. Siang yang cerah mengawali langkah seorang lelaki manis, namja bernama Yesung tersebut menarik napas panjang sebelum melangkahkan kedua kakinya memasuki rumah sakit.

Kim Yesung sengaja datang kerumah sakit siang ini. Dia ingin memberikan 'sedikit' kejutan untuk calon suaminya, yaitu datang ketempat ini dan mengajak Kyuhyun makan siang bersama. Sederhana memang, namun bagi Kyuhyun yang jarang makan siang bersama Yesung pasti akan merasa sangat senang, dan bagi Yesung ini tentu seperti hal yang baru.

Tidak sulit bagi Yesung untuk mencari ruang kerja Kyuhyun, ia sudah pernah kesini sebelumnya. Dan sesampainya didepan pintu, langkah Yesung terhenti, bukannya segera masuk, bersikap manis dan mengajak Kyuhyun makan sesuai rencananya. Tapi ia malah berhenti, mematung ketika melihat Kyuhyun tidak sendiri disana, melainkan ada seorang gadis asing, duduk bersebelahan dengan tunangannya.

"Apa kau mencintai Yesung?" Suara gadis itu terdengar. Yesung memilih diam, ingin mendengar apa jawaban Kyuhyun. "Dia namja yang manis. Aku yakin siapapun pasti akan dengan mudah jatuh cinta padanya," Yesung merasakan pipinya memerah. Ia ingin segera pergi dari tempat itu, namun kakinya terasa beku.

"Hanya saja. Aku memikirkan hal yang sama setiap hari, ketika melihatnya tertawa, tersenyum, atau ekspresi apapun yang muncul diwajahnya, apakah kelak aku akan bosan memandanginya? Apakah perasaanku akan berkurang? Sebab, sesuatu yang terlalu sering dilihat, dipandangi, dan ditemui pasti akan cepat membuat bosan. Tapi sampai saat ini aku belum tahu. Sebab sedikitpun aku belum merasa bosan memandanginya, aku selalu ingin bertemu dengannya. Dan ketika aku terbangun dari tidur, yang ingin aku lihat adalah wajahnya." Kyuhyun diam sejenak, dipandanginya gadis didepannya lalu tersenyum tulus.

"Jika aku bisa menikahi Yesung, itu artinya aku akan hidup dengan orang yang sama selama sisa hidupku. Aku akan bertemu dengan wajah yang sama setiap saat, setiap aku bangun tidur, pulang kerja, sampai tidur kembali. Mungkin bagi sebagian orang itu terasa membosankan," Jeda. Kyuhyun menarik napasnya, matanya terlihat sangat menikmati suasana sekarang, ia hanya ingin Seohyun tahu, seberapa besar cintanya pada Yesung.

"Tapi menurutku itu terlihat sangat menakjubkan, menyaksikan orang yang kita cintai menua bersama kita, tumbuh bersama kita. Itu, sangat menyenangkanan. Kami akan mempunyai anak, mengantar mereka kesekolah, piknik ketika akhir pekan. Menyaksikan mereka tumbuh besar sampai mereka hidup dengan keluarga mereka masing-masing kelak, kemudian didalam rumah itu, hanya ada aku dan Yesung, menyisakan kami berdua seperti semula. Bukankah itu terlihat sangat menyengkan, Seohyun-ah?" Seohyun mengangguk kecil.

"Ketika suatu saat Yesung sakit, aku akan merawatnya dengan baik, memandikannya, menggantikan pakaiannya, menyuapinya. Ketika kami tua, kulit kami akan mengeriput, tapi kami masih akan berpandangan dengan pandangan yang sama, saling mencintai. Yesung akan tetap menjadi namja termanis dimataku. Dan aku tetap akan mencintainya seperti sekarang," Tanpa sadar airmata Kyuhyun menetes membayangkan semua itu. Meski begitu Kyuhyun tetap tersenyum lebar dan melanjutkan curahan hatinya.

"Ketika itu, aku akan banyak berdoa, jika kematian akan datang, aku harap Yesung yang pergi duluan. Aku tidak ingin dia merasakan sakitnya hidup sendiri, aku tidak ingin dia terus menangis karena kepergianku. Lalu setelah Yesung pergi, aku akan meminta kepada Tuhan agar segera mempertemukan kami. Kemudian, aku akan memohon sekali lagi agar dikehidupan selanjutnya kami kembali menjadi suami-istri."

Yesung mendesah, dia memutuskan pergi menjauhi ruangan Kyuhyun.

"Cintamu padanya sangat besar Tuan Cho! Dan aku berdoa semoga Yesung segera membuka hatinya untukmu. Aku berharap yang terbaik untuk kalian berdua," Seohyun menepuk pundak Kyuhyun. Lelaki itu hanya mengangguk kecil.

Yesung berdiri didepan pintu rumah sakit, mengeluarkan ponselnya dan menekan salah satu nama dikontak. Tidak lama kemudian dia mendengar nada terkejut disuara itu.

"Eung.. Apa kau sedang sibuk?" Yesung menggigit bibirnya. "Baiklah. Aku akan kesana. Tidak.. Tidak.. Aku yakin kau banyak urusan, aku saja yang kesana."

"Kyuhyun~ Aniya. Aku sedang dijalan, ah! Didepan rumah sakit." Yesung meremas ujung kemejanya. "Ye, tunggu aku diruanganmu." Lalu memasukan kembali ponselnya kedalam saku celana.

Yesung merasa seperti orang bodoh. Kenapa dia menjauhi ruangan Kyuhyun, seharusnya tadi dia masuk saja tanpa mempedulikan apa yang dibicarakan Kyuhyun bersama gadis itu.

Kini ia berdiri ditempat yang sama, didepan ruangan Kyuhyun, namun pintunya tertutup. Tok.. Tok.. Tok "Kyu!?"

Klek Lelaki yang lebih tinggi darinya itu berdiri didepannya, dengan senyuman miring yang lebih bisa disebut seringaian. "Aku senang kau datang." Tangan Kyuhyun terulur mengusap kepala Yesung. "Apa kau sibuk?"

"Tidak. Sama sekali tidak. Ada apa?" Yesung menghela napas. "Aku ingin makan siang bersamamu,"

"Baiklah. Aku akan mengajakmu ketempat terbaik, tunggu sebentar." Kyuhyun masuk kembali kedalam ruangannya untuk melepas jubah putih hingga hanya menyisakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda. "Kajja," Tanpa basa-basi ia menggenggam tangan Yesung, menariknya tak sabaran menuju tempat parkir.

Sesampainya disana mereka berdua masuk kedalam mobil Kyuhyun, memakai sabuk pengaman lalu Kyuhyun mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah sakit. Yesung menyandarkan kepalanya pada kaca mobil, pemandangan diluar sana jauh lebih membuatnya tak cepat bosan karena gedung-gedung disana berganti dengan cepat.

Tak ada pembicaraan. Yang terdengar hanya deru mesin mobil yang mendahului mereka. Yesung tak tahu akan dibawa dimana, namun dia memutuskan tidak bertanya karena akhirnya dia juga akan tahu kemana mereka akan sampai.

Rintik hujan mulai menutupi kaca mobil, Yesung menegakkan tubuhnya dan menatap langit yang tiba-tiba berubah mendung, rintik kecil tadi berubah menjadi besar hingga membuat kaca mobil berembun. "Kenapa akhir-akhir ini cuaca sangat mudah berubah? Padahal tadi cerah. Lalu, kenapa sakarang hujan?" Ucap Yesung tanpa sadar. Kyuhyun tersenyum tipis.

"Yah!?" Yesung menengok pada Kyuhyun, diam sebentar sebelum bertanya. "Ada apa?"

"Bensinnya!" Mobil mereka berhenti dipinggir jalan. "Sial! Bensinnya habis. Pom bensin masih sangat jauh dari sini!" Umpat Kyuhyun lagi, ia memukul stir mobil. "Mana diluar hujan lagi!" Serunya lagi tak terima.

"Apa kau benci hujan?" Yesung bertanya hati-hati. "Sama sekali tidak. Malah sebaliknya, kau sendiri?"

"Aku sangat membenci hujan. Itu membuatku tidak bisa pergi kemana-mana, hujan selalu membuatku lapar, membuatku merasa kedinginan, dan berbagai alasan lainnya yang membuatku tidak menyukai hujan." Kyuhyun terkekeh kecil. "Apa sekarang kau lapar?" Yesung mengangguk malu.

"Maaf. Ini karena kecerobohanku,"

"Tidak apa-apa." Hening sesaat, suasana seperti ini membuat Kyuhyun salah tingkah. Bagaimana bisa? Mereka jelas-jelas jarang berduaan, terlibat dalam sebuah percakapan.

Ia tahu Yesung benci hujan, ia tahu semua tentang Yesung. Tapi sepertinya, Yesung tidak mengetahui tentang dirinya.

"Apa kau kedinginan?" Yesung mengangguk. "Sedikit,"

"Bisa kau pindah kebelakang? Disana ada selimut," Kyuhyun menatap Yesung sejenak sebelum kemudian ia pindah duduk kejok belakang, mengeluarkan selimut berwarna hijau dari dalam tas miliknya. Tidak lama kemudian Yesung mengikuti hal yang sama, walau sedikit ragu tapi karena kedinginan dia duduk didekat Kyuhyun, bahkan tangan Yesung bersentuhan dengan tangan Kyuhyun.

Setelah menyelimuti Yesung, Kyuhyun menarik namja itu kedalam pelukannya. "Apa masih dingin?" Dapat ia rasakan Yesung menggeleng.

"Yesung. Apa kau tahu, bagian tubuhmu yang sangat aku sukai?" Ah~ apa-apaan Kyuhyun ini? Baru saja ia bersikap manis padanya, malah sudah mengatakan hal yang aneh. Apa? Bagian tubuh? Yang Kyuhyun suka? Aih! Membayangkan yang mana bagian tubuh dirinya yang disukai Kyuhyun membuat Yesung berpikiran yang tidak-tidak. "A-apa?"

"Paru-parumu. Karena paru-parumu yang bisa membuatku terus melihatmu bernapas. Juga jantungmu, karena jantungmu yang bisa membuatmu hidup. Detak jantungmu adalah musik terbaik yang pernah aku dengar," Yesung hampir tertawa, ia pikir Kyuhyun mencoba merayunya.

Tidak lama setelah mengatakan itu, Kyuhyun merasakan kepala Yesung terjatuh dipundaknya. Matanya melirik kearah Yesung, namja itu sudah tertidur. Mungkin karena kata-katanya barusan yang kelewat membosankan hingga Yesung yang mendengarnya tertidur.

Disaat bersamamu aku bahkan tidak bisa membedakan yang mana tangis, yang mana tawa, yang mana senang yang mana sedih, yang mana bahagia dan yang mana luka. Aku sungguh tidak bisa membedakannya, sebab, rasa cintaku jauh lebih besar daripada rasa sakit yang kau berikan.

Ketika seperti ini, aku sungguh menyukaimu, aku sangat menyukaimu meski yang kau lakukan hanya bernapas, aku sungguh sangat menyukainya. Aku menyukai setiap tarikan napasmu, bahumu akan bergerak mengikuti tarikan napas pemiliknya.

Dan tiba-tiba aku terpikir, bagaimana jika suatu saat bahu itu berhenti? "Apa yang terjadi padaku jika suatu saat bahu itu tak lagi bergerak?"

Aku sungguh tidak bisa membayangkannya.

.

~All My Heart~

.

Sudah 2 jam berlalu, hujan diluar sana sudah berhenti sejak 20 menit yang lalu, langit yang tadinya kelabu sudah digantikan dengan sinar matahari. Kyuhyun tetap tidak bergerak, membiarkan Yesung memakai bahunya sebagai sandaran tidur. Ia sama sekali merasa tak apa meski dia harus menerima rasa kram dan sakit dilehernya, selama 2 jam itu Kyuhyun sama sekali tidak membuat gerakan yang dirasa akan membangunkan tidur Yesung, ia tidak mau jika Yesung merasa tidak nyaman, dan sebagai balasannya, lehernya tidak bisa digerakkan.

"Ugh!" Yesung menggeliat perlahan, kedua mata sipitnya mengerjab-erjab lucu sambil mengamati keadaan diluar mobil. "Hujannya sudah berhenti!?" Serunya setengah bertanya, ia menarik kepalanya dari bahu Kyuhyun. Kemudian baru menyadari bahwa bantal yang ia pakai tidur adalah pundak Cho Kyuhyun.

"Ya Tuhan! Kyuhyun, berapa lama aku tidur?" Kyuhyun tidak menjawab, melainkan hanya memberikan senyuman khasnya. "Argh!" Kyuhyun memekik ketika menggerakkan lehernya kekiri dan kekanan. Suara gemeretak tulang terdengar mengilukan ditelinga Yesung.

"Astaga! Mianhae. Seharusnya kau membangunkanku, atau setidaknya menyandarkanku dijok, bukannya dibahumu. Pasti sakit," Yesung mengigiti kuku dijarinya. "Tidak apa. Mana bisa aku membangunkanmu," Kyuhyun menarik tangan Yesung menjauh dari bibir, menyuruh lelaki itu berhenti mengigiti kukunya sendiri.

"Kau bisa tunggu sebentar!? Aku akan membeli bensin dulu," Yesung menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau sendiri,"

"Yesung, apa kau mau bermalam disini?" Kyuhyun tersenyum tipis, mengusap kepala Yesung sebelum menciumnya. "Tunggu sebentar. 20 menit," Yakinnya. Kali ini Yesung mengangguk tanpa suara.

.

~All My Heart~

.

"Kau harus menikahiku! Bagaimana bisa kau menciumku seperti itu?" Lelaki kecil itu memekik sambil menangis, menatap kearahnya dengan mata yang menyiratkan kemarahan sekaligus kesedihan.

"A-apa? Itu tidak mungkin! Maafkan aku Yesung, aku tidak sengaja," Salah seorang lelaki kecil yang lain berusaha menenangkan Kim Yesung, namja yang tanpa sengaja ia cium. Beberapa kali ia melirik kearah arlojinya, wajahnya nampak semakin kuatir.

"Baiklah! Aku akan menikahimu. Aku janji."

"Arrrggh~" Namja itu memegangi kepalanya, tiba-tiba saja kakinya terasa lemas. Prang tidak lama kemudian terjatuh kelantai, sama halnya degan gelas yang dia pegang, terjatuh kelantai dan pecah.

"SIWON!?" Pria yang tadi tiduran diatas sofa sambil membaca majalah langsung berlari menghampiri lelaki bernama Siwon, membantunya untuk berdiri kemudian mendudukannya ditempat sebelumnya yang menjadi tempatnya bersantai.

"Gwenchana?" Tanya Lee Dong Hae sembari menyentuhkan telapak tangannya kekening Siwon. "Kepalaku sakit," Choi Siwon memejamkan matanya sejenak.

Apa yang barusan masuk kepikirannya? Ia sama sekali tidak mengingat bahwa ia pernah mengucapkan janji seperti itu. Dan, siapa anak bernama Yesung? Kalau tidak salah, Yesung mengatakan kalau dirinya mencium Yesung?

Lee Dong Hae mengigit jarinya takut. Bagaimana jika Siwon mengingat sebagian kenangannya yang hilang lalu bertanya yang aneh-aneh! Aih! Lee Donghae sungguh tak bisa membayangkannya dan akan menjawab apa ia nanti? Sudah tahu ia tidak dapat berbohong.

Sekitar 2 hari yang lalu, setelah Siwon keluar dari rumah sakit, Mr. Choi menyuruhnya untuk membawa Siwon ketempat asing, menjaga lelaki itu untuk sementara waktu, membantu Siwon mengingat siapa dirinya dan Mr. Choi melarang Donghae mengatakan siapa itu Yesung karena suatu alasan yang Donghae juga tentu mengetahuinya.

Tujuan dan alasan kenapa Mr. Choi melakukan ini adalah karena ingin merahasiakannya dari perusahaan, sebab, Siwon adalah pewaris yang sebentar lagi akan menjadi CEO diperusahaan itu. Bagaimana jadinya jika pegawai, direktur, manager, dan beberapa orang yang sudah menanamkan sahamnya tahu jika Siwon tidak mengingat apapun, bahkan menulis dan menghapal nama bendapun masih lebih bagus anak SD, pasti mereka semua akan merasa 'aneh'. Jadi, untuk sementara waktu Mr. Choi mengatakan pada mereka semua jika Siwon sedang berlibur keluar negeri selama beberapa bulan.

Dan, Mr. Choi mempercayakan Siwon pada Donghae untuk memulihkan ingatakan Siwon tentang hal yang penting saja, seperti siapa dirinya, dan perusahaan. Mempercayakan Siwon pada Donghae untuk mengajarkan kembali caranya menulis, menghitung, dan menghapalkan nama-nama benda. Ah! Donghae merasa seperti Guru anak TK saja.

"A-apa kau mengingat sesuatu?" Siwon menarik napas dalam, membuka matanya lalu duduk menghadap Donghae. "Apa aku pernah berjanji dengan anak bernama.." Walau ragu tapi Siwon tetap mengatakannya seperti gumamam. "Yesung!?"

"Ye-Yesung!? Um.. Molla, nama itu terdengar asing," Donghae berusaha bersikap sesantai mungkin. "Terkadang, manusia yang tengah lupa ingatan menciptakan sendiri ingatannya. Aku menyebutnya, ingatan buatan." Siwon menatap Donghae serius.

"Kau benar, mungkin itu hanya bualan pikiranku. Seharusnya aku tidak membaca novel lagi," Tawa Siwon terdengar hambar. Rasanya ada yang ganjil, ia merasa jelas-jelas Donghae seperti menutupi sesuatu darinya, berbohong tentang ingatannya.

"Oh ya! Aku mau jalan-jalan, kulihat diujung jalan sana ada pantai."

"Mau kutemani? Aku takut kau kenapa-napa," Dengan sigap Donghae berdiri. "Tidak perlu. Sekalian aku mau mengingat-ingat benda dipantai. Eh! Apa aku bisa berenang?"

"Pabbo! Jangan menyentuh air jika masih ingin hidup!" Siwon terkekeh kecil melihat raut panik diwajah orang yang dia anggap Hyung tersebut. "Arraseo,"

.

~All My Heart~

.

"Kyu, hari ini aku mau jalan-jalan." Yesung meletakan segelas kopi yang masih mengepulkan asap diatas meja depan Kyuhyun. "Aku akan menemanimu!" Jawab Kyuhyun semangat. Apakah Yesung mengajaknya jalan-jalan?

"A-aniya! Aku mau pergi sendiri, bertemu temanku." Tentu saja Yesung menyadari perubahan ekpresi yang ada diwajah Kyuhyun. "Begitukah!? Ah~ Baiklah. Hati-hati dijalan ne!" Kyuhyun berusaha tersenyum walau yang ada wajahnya terlihat sedih sekarang.

"Ne," Jawab Yesung singkat. "Yesung," Yang dipanggil menoleh pada Kyuhyun, menatapnya dalam diam. "Saranghae. Aku sangat mencintaimu." Tanpa menjawab perasaan Kyuhyun barusan, Yesung segera keluar.

Lagi-lagi yang bisa Kyuhyun lakukan hanyalah tersenyum –hambar. Ini memang jauh lebih baik daripada sebelumnya, setidaknya Yesung sudah mau berbicara dengannya, makan siang bersamanya, dan tinggal dirumahnya. Dia akan tetap berusaha membuat Yesung memiliki perasaan yang dia rasakan, ia akan melakukan berbagai cara agar itu terjadi.

Kata-kata yang ingin aku dengar dan aku pinta darimu hanya satu. Yaitu "Aku juga mencintaimu"

Kau tahu? Hal terpenting dalam hidupku adalah melihat tawa dan senyumanmu, yang terpenting adalah membuatmu bahagia. Meskipun dengan membuatmu bahagia aku harus terluka, aku rela.

.

~All My Heart~

.

Bau asin air laut menyeruak saat Kim Yesung membuka pintu mobilnya. Kakinya terasa tenggelam diputihnya pasir pantai. Dari sini ia dapat melihat ombak yang bergulung menghantam karang.

Ia tersenyum tipis, sudah sangat lama rasanya saat terakhir kali ia menyentuh pasir disini. Yesung ingat, setiap musim panas biasanya dia akan kepantai ini untuk sekadar membuat istana pasir dan berenang.

Ya! Sebenarnya Yesung bukan ingin bertemu dengan temannya seperti apa yang dia katakan pada Kyuhyun, melainkan ia hanya ingin kesini sendirian, melepas rasa rindu pada desa dimana dia menghabiskan masa kecilnya.

Yesung memutuskan untuk berjalan dibibir pantai setelah melepas sepatunya, membiarkan kedua kakinya diterpa air yang terasa dingin. Tak lama ia berjalan, Yesung melihat sekumpulan anak kecil tengah membuat istana pasir.

"Kim Yeosang? Kim Yeosang itu apa Oppa?" Dia menangkap suara anak perempuan berusia 6 Tahun sedang berbicara sambil menunjuk keatas pasir, dipasir itu tertulis 'Kim Yeosang' menggunakan huruf hangeul.

Yesung mencoba menajamkan pendengarannya, dia sangat penasaran siapa lelaki yang berada diantara anak-anak kecil itu. "Bukan. Itu Kim Yesung, bukan Kim Yeosang." Ralat namja yang membelakangi Yesung. "He~ Bagaimana mungkin tulisan ini Kim Yeosang Oppa?" Tawa anak kecil itu meledak.

"Pabboya! Kami saja sudah bisa membaca dan menulis hangeul," Ledek anak lelaki yang lain. "Tapi, bukannya tulisan Kim Yesung begini?" Tanya lelaki itu kebingungan. "Bodoh! Oppa bodoh!" Ucap anak perempuan sambil tertawa.

"Ya! Kalian berdua, cepat kesini, eomma punya cokelat," Yesung menatap pada seorang wanita setengah abad yang mengayun-ayunkan cokelat pada kedua anak tadi. "Yeay!" Ucap mereka kegirangan dan berlari meninggalkan si lelaki.

"Yesung? Bukannya tulisannya begini?" Tanyanya pada diri sendiri. Yesung semakin dibuat penasaran, siapakah sosok lelaki itu? Akhirnya dia memilih mengambil tempat disebelah lelaki itu dan menuliskan Kim Yesung menggunakan huruf hangeul yang benar.

"Ah! Matta! Sebenarnya aku tahu, tapi aku lupa." Akunya. Dia menatap kesamping dan, hening. "Si-won?" Gagap Yesung. Lelaki itu ikut memandangnya.

Dia –seseorang yang dipanggil Siwon- menatap tepat kedalam mata Yesung.

Ada yang hilang.

Keningnya berkerut samar. Ia tahu ada yang hilang, dan tentu saja ia menyadari itu dengan jelas. Hanya saja, ia tidak tahu apa yang hilang itu. Dan apakah sesuatu yang hilang itu penting atau tidak? Dan ketika menatap mata lelaki didepannya ini, ia seolah menemukan sesuatu yang hilang itu. Bagian dari dirinya mengatakan jika sesuatu yang hilang itu sangat berharga untuknya.

Siwon menatap Yesung tanpa berkedip. Ini aneh, Siwon merasakan dia tidak dapat mengalihkan pandangannya. Ia terus menatap orang didepannya. Aneh sekali, otaknya jelas tidak mengenal orang itu, ia sama sekali tidak mengingat lelaki itu. Tapi kenapa hatinya berkata lain?

Kenapa hatinya berkata seolah, dia sangat merindukan lelaki itu?

"Aku janji! Simpan jam ini. Kelak, ketika kita besar, aku akan dengan mudah mengenalimu karena jam ini. Jadi, simpan baik-baik!"

"Yak! Begitukah caramu menyambut suami yang baru datang?"

"Siwon, aku malu."

Ingatan-ingatan itu berganti secara cepat seperti kaset tua yang rusak. Siwon memegangi kepalanya. "Siwon? Gwenchana?" Yesung menahan tubuh lelaki itu agar tak jatuh kepasir.

Siwon merasakan keanehan yang lain ketikan kedua tangan kecil Yesung menyentuh tubuhnya. Kenapa dia merasa sangat merindukan sentuhan itu?

"Siwon? Kau kenapa?" Yesung semakin panik karena Siwon tidak menjawabnya. "A-apa aku mengenalmu?" Yesung membeku. Dia lupa jika Siwon mengalami amnesia.

"Ah! Aku ingat. Kau orang yang waktu itu dirumah sakit`kan? Kenapa kau menangis?" Siwon memejamkan matanya sejenak, mungkin karena kepalanya masih sedikit terasa sakit. "Siapa namamu?" Tanya Siwon lagi.

Yesung masih tidak bisa menjawab. "SIWON!?" Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil. Tidak lama kemudian seorang lelaki menghampiri mereka.

"Siapa kau?" Donghae mendorong Yesung hingga membuat namja itu terduduk dipasir. "Apa dia melakukan sesuatu padamu?" Siwon menggeleng. "Kepalaku sakit," Gumamnya lemah. "Baiklah. Kajja kita pulang."

Mereka berdua pergi menjauhi Yesung. Namja itu masih diam, airmatanya menetes tanpa ia sadari.

To Be Continue