Warning! Mature Content!
Happy reading guy's~
...
...
Sudah hampir seminggu Sehun tinggal di apartemen Jongin. Dan selama itu pula Jongin tak pergi 'bekerja' ia terlalu takut meninggalkan Sehun di apartemennya mengingat pesan Yoomi tempo hari yang mengatakan jika Sehun memiliki gangguan psikis. Bukannya Jongin tidak percaya anaknya, tapi ia takut saat Sehun merasakan sakit ia tidak berada di sampingnya.
Ini sudah kesekian kalinya Jongin mengumpat karena pesan berisi kata-kata kotor yang ia dapatkan dari Kris. Bukanya ia benci dan jijik mendapat pesan seperti itu justru ia semakin bernafsu untuk disetubuhi oleh Kris, ia ingin sekali pergi keluar dari apartemennya dan menuju hotel dengan Kris, tapi sialnya perasaannya sebagai seorang 'ayah' sangat khawatir terhadap keadaan sang anak.
Karena Jongin sudah sangat panas akan gairah, ia segera menghubungi Kris dan mengajaknya untuk bertemu. Persetan dengan rasa khawatirnya tentang Sehun toh anaknya itu sudah dewasa.
Jongin meraih mantelnya dan bergegas pergi menuju tempat yang telah diberitahukan oleh Kris lewat telpon tadi.
Jongin berjalan dengan mengendap-endap seperti maling yang takut akan ketahuan oleh pemilik rumah. Ia berjalan dengan perlahan dan hati-hati agar tak menimbulkan sedikitpun suara, namun usahanya sia-sia tepat dihadapannya Sehun tengah berdiri sambil menatapnya tajam. Jongin menelan salivanya kasar, entah mengapa tatapan Sehun membuatnya menciut. Tapi, jika dipikir-pikir kenapa ia harus takut dengan Sehun? Sehun kan anaknya seharusnya Jongin harus terlihat lebih menakutkan dibanding Sehun.
Untuk meredakan rasa takutnya Jongin sedikit berdehem. Ia merenggangkan otot tangannya seolah-olah tengah melakukan gerakan senam. Dan hal itu sukses membuat Jongin terlihat seperti orang bodoh dihadapan anaknya sendiri.
"Kau ingin pergi?". Ah, rasanya Jongin ingin terjun bebas ke jurang saat mendengar suara berat Sehun. Sehun membuatnya semakin mabuk hanya karena suara berat yang ia lontarkan, andai saja suara Sehun adalah video rekaman maka Jongin akan senantiasa mendengarkan suara Sehun berulang-ulang.
"Ukhm.. Ya.. Temanku mengajak bertemu untuk membahas pekerjaan". Jongin mengeluarkan alibinya tidak mungkin kan dia mengatakan dengan terang-terangan "Aku ingin pergi ke hotel untuk mengoral penis dan bersetubuh dengan klienku". Hell, Jongin tak ingin wibawanya jatuh didepan anaknya sendiri.
"Memangnya apa pekerjaanmu? Aku tak pernah melihatmu berkutat dengan komputer ataupun berkas-berkas seperti yang mom lakukan setiap hari". Satu hal yang Jongin tau dari ucapan Sehun barusan. Sehun masih enggan memanggilnya dengan sebutan Daddy ataupun Appa.
Rasa sakit memang ada, tapi Jongin tak ingin membahas tentang rasa sakit hatinya dulu. Ia harus menjawab pertanyaan Sehun tentang pekerjaannya kan?. Tidak mungkin Jongin mengatakan dengan jujur tentang pekerjaannya seperti.
"Pekerjaanku sangat mudah, cukup mengangkang di hadapan klienku. Dan saat mereka menghujamkan penis mereka maka aku harus mendesah, dan dengan itu mereka memberikan aku banyak uang. Mudah kan?". Jika Jongin benar-benar mengatakan itu kepada Sehun sama saja dengan ia membunuh dirinya sendiri.
"Ah.. Aku hanya bekerja s-sebagai em.. Bartender hehe". Jongin menggaruk tengkuknya, menurut Jongin sekarang suasana yang menyelimuti mereka sangat awkward. Bagaimana tidak? Jongin masih tetap berdiri di tempatnya dan Sehun masih menatapnya, seolah-olah tengah memastikan ucapan yang Jongin katakan benar atau tidak.
"Oh begitu, tolong bawakan sesuatu saat pulang nanti. Aku ingin memakan sesuatu". Senyuman lembut bak anak kecil terukir Indah di wajah Sehun. Jongin menjadi kikuk karena senyuman itu, akhirnya ia hanya mengangguk dan melenggang pergi dari hadapan Sehun, tapi sebelum itu ia mengucapkan sebuah kalimat yang membuat senyum Sehun semakin melebar.
"Mulai besok kau sudah mulai Sekolah di sekolah barumu Sehun-ah". Dan setelah itu ia benar-benar pergi dari hadapan Sehun.
.
.
_Daddy Is My Sex Partner_
.
.
Jongin tiba di apartemen pada malam hari dengan penampilan yang berbeda dari tadi siang saat ia pergi, sekarang ia hanya memakai celana jeans kemeja kebesaran dan sebuah jaket yang melekat pada tubuhnya. Tubuh Jongin terasa letih, kepalanya sedikit pusing. Kris benar-benar menghajarnya dengan brutal hari ini, sepertinya Kris benar-benar membalaskan dendam padanya setelah sekian lama mereka tak 'menyatu'.
Jongin membawa dua kantong plastik besar berisi snack ke dapur dengan langkah yang terseok.
Pandangannya menelusuri seluruh sudut ruang tengah apartemennya namun nihil tak ada tanda-tanda kehidupan manusia disana. 'Kemana Sehun dan Taemin hyung?'. Batin Jongin bertanya.
Dan pertanyaannya itu terjawab saat suara pintu terbuka, tepatnya pintu kamar Sehun. Dan munculah Sehun dari dalam kamar itu.
"Kau baru pulang?". Suara khas bangun tidur masuk ke Indra pendengaran Jongin, itu Sehun. Sehun tengah berdiri satu meter darinya dengan wajah bantal miliknya. Tapi, entah mengapa Sehun terlihat Sexy dimata Jongin.
"Y-ya, em.. Pesananmu ada di dapur. Aku membeli banyak agar kau dapat memilih". Sial, Jongin gugup didepan anaknya sendiri.
Sehun berjalan ke arah Jongin. Tatapannya tajam, Jongin sedikit bergidik saat Sehun sudah benar-benar berada di hadapannya, mereka hanya berjarak beberapa centi, bahkan Jongin dapat merasakan deru nafas Sehun menyapu permukaan wajahnya.
"Ini hanya hidungku atau kau memang bau sperma?". Ucapan dingin itu sukses menohok hulu hatinya. Nafasnya tercekat, ia bingung harus menjawab apa. Salahnya juga kenapa sebelum pulang tidak membersihkan dirinya terlebih dahulu.
"A-aku.. Eng.. Aku...". Blank, itu lah isi pikiran Jongin. Ntah bagaimana ia harus menjawab Sehun, lidahnya kelu ditambah lagi dengan tatapan Sehun yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya dan tentu saja hal itu sukses membuat Jongin merasa terpojok.
Jongin semakin panik, keringat mengucur deras dikeningnya.
"Aku hanya bercanda appa". Sehun terseyum, Jongin ingin menenggelamkan diri rasanya saat mendengar Sehun memanggilnya dengan sebutan 'appa'. "Wajahmu sangat lucu". Sehun terkekeh geli di depan wajah Jongin, kekehannya membuat jantung Jongin berdebar. Terlebih saat Sehun terkekeh dengan wajah yang tampan dan memperlihatkan gigi taringnya.
Deg.. Deg.. Deg..
Jatung Jongin terus berdebar dengan keras, semburat merah melekat manis dipipinya. Ini pertama kalinya ia merasa tersipu hanya karena tawa seseorang, padahal biasanya Kris selalu mengucapkan kata-kata romantis tapi hal itu tak dapat membuat Jongin menjadi seperti ini.
Sehun melenggang pergi begitu saja menuju dapur setelah memberikan smirk dan wink ke arah Jongin. 'Keparat! Aku ereksi'. Jongin mengumpat pelan ketika Sehun benar-benar pergi dari hadapannya.
.
.
_Daddy Is My Sex Partner_
.
.
Hari ini adalah hari pertama Sehun masuk ke Sekolah barunya, dan tentu saja sebagai ayah yang baik Jongin akan mengantar anaknya ke sekolah untuk pertama kali.
Jongin dengan tergesa menyiapkan semua perlengkapannya untuk mengantar Sehun. Seharusnya Sehun lah yang tengah sibuk mempersiapkan peralatan sekolahnya bukan Jongin. Hah.. Maklumlah ini pertama kakinya Jongin mengurus anaknya untuk pergi ke sekolah.
Jongin berjalan ke arah pintu kamar Sehun. Tangannya terulur untuk mengetuk pintu kamar Sehun.
"Engh.. Aku hanya memastikan, kau sudah selesai? Aku tak ingin kau terlambat di hari pertama kau pergi ke sekolah lagi, S-Sehun-ah"Jongin merutuki dirinya sendiri karena kalimat yang ia ucapkan selalu saja terbata, bukankah seharusnya nada bicaranya menjadi gagah saat di hadapan anaknya?
"Tunggulah di basement aku sebentar lagi selesai". Sehun sedikit berteriak dari dalam kamarnya, tanpa di suruh dua kali Jongin mulai berjalan ke luar dari apartemennya. Jika dipikir-pikir kenapa Jongin selaku menuruti perkataan dan perintah Sehun? Jongin menurut begitu saja bak seorang maid yang patuh pada majikannya.
Jongin kembali berjalan menuju pintu, saat tangannya hampir menyentuh knop pintu Jongin terkejut karena secara tiba-tiba pintu itu terbuka dengan sendirinya. Horor itu lah kata yang melekat pada pikiran Jongin sekarang.
Jongin semakin terkejut saat melihat sosok manusia yang masuk kedalam apartemennya dengan keadaan yang sangat kacau. Belum lagi dengan racauan yang keluar dari bibirnya.
"Apa yang kau lakukan disini?!". Jongin memekik dengan suara nyaringnya, untung saja ia tidak berteriak seperti perempuan yang sedang diperkosa.
Sosok itu mendekat ke arah Jongin, ia menangis dan tertawa terbahak-bahak dan setelahnya ia menangis lagi.
"Hey Byun? Ada apa denganmu? Kau mabuk?". Baekhyun hanya menggeleng, ia tersenyum kecut dan akhirnya terisak lagi.
"A-aku.. Membencinya J-jongin! Dia tega padaku! Setelah menyetubuhiku semalaman ia malah pergi kencan dengan kekasihnya.. Hiks...Biadab!!". Baekhyun berteriak di hadapan Jongin, seolah-olah Jongin adalah alasan ia menjadi seperti ini.
"Siapa yang kau maksud baek? Lebih baik kau duduk dulu". Jongin memapah Baekhyun ke arah Sofa, setelah mendudukan Baekhyun dengan nyaman Jongin pergi ke dapur dan mengambil air minum untuk Baekhyun.
"Ini, minumlah. Tenangkan dirimu dulu Baek". Jongin mengusap punggung Baekhyun, ia merasa iba dengan Baekhyun. Walau kadang Baekhyun itu menyebalkan dan sangat aneh tapi Baekhyun lah orang yang membantunya hidup hingga sekarang. Bahkan sangking dekatnya mereka, Jongin tak lagi memanggil Baekhyun dengan sebutan Hyung. Tidak sopan? Biarkan saja.
"Si Park itu, biadab! Ku fikir selama ini ia suka padaku bahkan aku memberikan 'service' dengan cuma-cuma kepadanya karena aku mengaggap semua perlakuan manisnya selama ini adalah wujut rasa sukanya padaku. Tapi, hiks tadi pagi setelah kami bergumul semalaman ia pergi begitu saja meninggalkanku hanya untuk pergi kencan dengan kekasihnya Hiks.. BAJINGAN!". Baekhyun sedikit berteriak di akhir kalimatnya, sedangkan Jongin hanya terdiam. Ia bingung harus melakukan apa, toh selama ini ia tak pernah membawa perasaan ke dalam pekerjaannya. Karena Jongin tak dapat melakukan apa-apa, ia hanya dapat mengusap punggung Baekhyun agar Baekhyun merasa sedikit lebih baik.
Suara pintu terbuka menginterupsi Jongin dan Baekhyun, secara bersamaan mereka menoleh ke arah Sumber suara. Disana Sehun tengah berdiri dengan seragam yang melekat pada tubuhnya dan tas yang berada di punggungnya.
Mereka hanya melemparkan tatapan berarti. Sehun dan Baekhyun saling melempar tatapan bertanya karena sebelumnya mereka belum pernah bertemu. Sedangkan Jongin melemparkan tatapan heran karena style Sehun pada hari ini berbeda dari kemarin-kemarin. Kacamata bertengger di hidung bangirnya, seragam yang dimasukan ke dalam celana dan jangan lupakan rambut yang klimis dan disisir ke arah kiri, bukankah pelampilan itu membuat Sehun terlihat aneh?.
.
.
_Daddy Is My Sex Partner_
.
.
Setelah memperkenalkan Sehun dengan Baekhyun, dan menenangkan Baekhyun akhirnya Jongin mengantar Sehun pergi ke Sekolahnya.
Sepanjang perjalanan hanya suara mesin mobil yang berpasasan dengan mereka saja yang mengisi keheningan di antar mereka. Jongin kembali melirik penampilan Sehun dengan ekor matanya, dimana sosok Sehun yang semalam? Yang mampu membuatnya berdebar hanya karena tatapan mematikannya? Dan kemana perginya tatapan itu, kenapa sekarang hanya tatapan sendu yang terpancar dari manik mata Sehun?. Kira-kira itulah pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi melintas di pikiran Jongin.
"Ck! Penampilan nerdnya membuatku muak!. Aku tak menyangka jika benihku dulu berubah menjadi pria menyedihkan seperti Sehun". Jongin memandangi penampilan Sehun yang tidak sesuai dengan prediksinya, ia fikir anaknya akan terlihat gagah dan tampan. Namun, yang dihadapannya malah pria berkaca mata dengan baju seragam yang dimasukan dan rambut klimis miliknya menambah kesan nerd pada diri Sehun.
"Bisakah kau merubah penampilanmu Sehun?". Jongin berucap tegas kepada Sehun selayaknya seorang ayah yang gagah.
"Apa aku terlihat menjijikan? Jika iya, kenapa kau terima aku diasuh olehmu saat mom datang padamu? Seharusnya kau tolak saja dulu, setidaknya aku masih bisa tinggal di rumah grandma". Hening, setelah Sehun berkata dengan jelas dan menyakitkan untuk Jongin akhirnya suasana Hening menyelimuti mereka.
Tiba-tiba perkataan Yoomi tempo hari terlintas dikepalanya tentang kondisi psikis Sehun. Apakah ini ada hubungannya dengan kondisi psikis Sehun? Atau hanya perasaan Jongin saja? Sepertinya Jongin harus mempertanyakan hal ini kepada Yoomi secepatnya.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc.
Ok, Jangan lupa Review ya :
