Chapter 4: Hangeng

Kupeluk anak perempuan kesayanganku erat, "Bagaimana jika sesuatu menimpamu dalam perjalanmu ke sini tadi, Mei Lin?"

"Sorry, Papa…" Mei Lin bilang dalam bahasa China.

Kuhela nafasku dan kubelai kepalanya, "Sudahlah, tidak apa-apa. Yang penting jangan membuatku khawatir lagi, janji?"

Dia mengangguk dengan semangat. Kuturunkan dia dari gendonganku dan kuambil kembali buku-bukuku dari Sungmin. Dia menengadahkan wajah kecilnya kepada Siwon dan berkata, "Papa, aku tidak mengenal paman ini!"

Mata Siwon melebar mendengarnya. Aku berjongkok dan menepuk punggung Mei Lin, "Yah, Mei Lin! Dia seorang murid! Kau tidak boleh memanggilnya Paman, kau harus memanggilnya dengan sebutan Oppa!"

Mei Lin membelalakan matanya dengan lucu dan merengek, "Maaf, Oppa…kau sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari Papa, kupikir kau juga guru seperti Papa…"

Siwon tersenyum dan berjongkok di hadapan Mei Lin, "Tidak apa, Mei Lin."

Mei Lin tersenyum dan memeluk lehernya, Siwon terlihat kaget dengannya.

"Eh? Hey, Mei Lin!" Aku berseru, "Kau tidak boleh seperti itu!"

"Bukan masalah, Hyung." Siwon tertawa kecil dan berdiri, menggendong Mei Lin dengan tangannya.

"Maaf, Siwon." Aku menghela nafas, "Dia memang terlalu cepat dekat dengan orang-orang."

Sebagai jawaban, Siwon hanya tertawa.

"Oh, ya. Apa kalian mau datang ke rumahku? Aku akan memasak untuk kalian semua." Kutawari murid-muridku, "Dan Kyuhyun, kenapa kau tidak ikut juga? Seperti biasa, aku butuh bantuanmu untuk memeriksa lembar jawaban murid-murid."

"Yah, Hyung! Kenapa mengajak dia?" Sungmin merengek.

Aku hanya tertawa mendengarnya. Sebenarnya aku tahu hubungan buruknya dengan Kyuhyun, tapi aku benar-benar butuh kemampuan bahasa China Kyuhyun untuk membantuku.

"Maaf, Minnie. Tapi aku benar-benar membutuhkan bantuannya. Dia satu-satunnya murid yang mendapat nilai sempurna dalam ulangan bahasa China. Jadi, dia harus membantuku."

Sungmin cemberut dan melipat tangannya, matanya mendelik ke arah Kyuhyun, "Bila dia ikut, aku tidak akan. Tapi nanti antarkan nasi goreng Beijing-mu, ya Hyung?"

Aku mengangguk, "Iya, iya. Akan kubawakan nanti. Leeteuk? Kangin? Bagaimana dengan kalian?"

Leeteuk membungkuk dengan sopan, "Maaf, Hyung. Tapi aku harus mengurus beruang besar di sebelahku ini. Dia sedang sakit."

"Yah, Teukie! Aku bukan beruang!" Kangin cemberut mendengar perkataan Leeteuk.

"Baiklah, hati-hati, ya? Ayo, Kyuhyun. Oh, Siwon, apa kau akan ikut?"

Murid bertubuh tegap dan tinggi itu mengangguk, "Karena aku teman sekamar Kyuhyun, kurasa aku ikut. Maaf merepotkan."

"Mei Lin, ayo sini. Aku akan menggendongmu." Aku berkata pada anakku, yang masih betah berada di dalam dekapan Siwon.

"Tidak mau. Aku mau Siwon Oppa yang menggendongku."

"Mei Lin!"

Siwon hanya tertawa, "Tidak apa-apa, Hyung. Mei Lin tidak berat, kok."

Wajahku merona karena malu, kupelototi Mei Lin yang memainkan rambut hitam Siwon dengan polosnya.

Biasanya dia tidak pernah seperti ini. Dia tidak pernah mau digendong oleh orang yang baru kenal sebelumnya. Mei Lin, kau memalukan papa-mu.

###

"Akhirnya!" Kyuhyun meluruskan punggungnya.

Kumasukan semua kertas-kertas itu ke dalam map besar, "Terima kasih, Kyuhyun. Kau benar-benar membantuku."

Anak laki-laki berambut cokelat tua itu tersenyum, "Sama-sama, Hyung."

Aku berdiri dan melihat Mei Lin yang sedang asyik bermain dengan Siwon. Kenapa dia berlaku seperti ini? Biasanya dia tidak pernah secepat ini dekat dengan orang lain. Aku sedikit cemburu pada Siwon.

"Apa kalian lapar?" Kutanya mereka, "Ini waktunya makan malam. Aku akan memasak untuk kalian."

"Iya, Hyung. Aku lumayan lapar." Kyuhyun cepat-cepat mengangguk.

Aku tersenyum melihatnya dan berpaling ke arah Siwon, "Bagaimana denganmu, Siwon? Apa kau juga ingin makan?"

Siwon mengangguk malu-malu, "Bila tidak merepotkanmu, Hyung."

"Tentu saja tidak." Aku menjawab dan berjalan menuju dapurku untuk menyiapkan makanan.

"Maaf. Aku hanya bisa menyediakan nasi goreng." Kataku kepada mereka dan meletakan piring-piring penuh dengan nasi goreng panas di atasnya.

"Tapi nasi goreng Beijing-mu berharga semangkuk penuh kaviar, Hyung!" Kyuhyun berseru, "Siwon, sekali saja kau mencoba nasi goreng Beijing buatan Hangeng Hyung, kau akan kecanduan."

Aku tertawa dan menyikut Kyuhyun, "Kau terlalu berlebihan, Kyuhyun!"

Siwon melihat sekeiling rumahku. Dan saat matanya berhenti kepadaku, dia bertanya, "Hyung, di mana istrimu? Aku ingin menyapanya."

Tubuhku membeku, sendok Kyuhyun terhenti di udara.

"Eh…Siwon…" Kyuhyun berbisik.

"Tidak apa-apa, Kyuhyun." Aku potong perkataan Kyuhyun. Kupandangi Mei Lin yang sedang memakan nasi gorengnya dengan lahap di pangkuanku dan kupalingkan wajahku ke arah Siwon, "Mei Lin tidak mempunyai ibu, Siwon."

Siwon berhenti menyuap dan membungkuk dalam-dalam, "Ma-maaf, Hyung…Aku tidak mengetahuinya…"

Aku memberinya senyuman terbaikku dan mengangkat sendokku, "Ayo mulai makan sebelum makanannya jadi dingin."

###

Siwon dan Kyuhyun pulang setelah selesai makan. Setelah mengucapkan sampai jumpa kepada mereka, kugendong anak perempuanku yang sudah terlelap dan membaringkannya di kasur.

Kupandangi wajah mungilnya dan kubelai rambut halusnya. Dan kenangan itu kembali datang…

Aku dan Fei, ibu Mei Lin, bertemu di sebuah halte bis di Shanghai. Saat itu sudah sangan larut malam dan hujan deras sedang turun. Aku lupa membawa payungku sebelum berangkat sebelumnya, padahal aku sudah menonton ramalan cuaca hari itu. Seluruh tubuhku basah karena berlari menuju halte itu tanpa perlindungan. Kurasakan tubuhku menggigil kedinginan.

Wanita itu sedang duduk di kursi halte, sendirian, membaca buku. Dia melihat jam tangannya dan menghela nafas panjang. Aku tidak dapat memalingkan wajahku darinya. Wanita itu begitu cantik dan ramping. Bola mata dan rambutnya berwarna hitam pekat. Satu kata untuknya, sempurna.

Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Dia berdiri dan mengangkatnya. Kulihat dia mendengarkan siapapun yang meneleponnya dalam diam. Tanpa diduga, dia membanting kembali telepon genggamnya ke dalam tasnya dan menangis tanpa suara. Dia mengembangkan payung berwarna biru langitnya yang sedari tadi ada di sampingnya dan memandanginya dengan ekspresi yang tak dapat diungkapkan.

Tiba-tiba dia memalingkan wajahnya padaku dan menghampiriku. Kurasakan wajahku memanas walaupun tubuhku dingin dan mengalihkan pandanganku darinya.

"Kau tidak membawa payung, bukan?" Dia bertanya padaku.

Aku cepat-cepat menggelengkan kepalaku dan dia memberiku senyum cantiknya sebagai balasan. Wanita itu meletakkan payung biru langitnya di sebelah kakiku.

"Aku sedang tidak ingin menggunakannya. Terlalu banyak kenangan dari mantan kekasihku bersama payung itu. Silahkan pakai saja."

Sebelum dia melangkah terlalu jauh, kutarik tangannya.

"Namaku Hangeng!" Seruku.

Dia melihatku dengan kaget sebelum tawa merdunya meledak, "Namaku Fei."

Lalu kulepas tangannya, tidak kulepas pandanganku darinya sampai dia menghilang di bawah hujan deras.

Dua tahun setelah pertemuan itu, entah itu takdir atau bukan, kami berdiri di hadapan altar dan pendeta, berjanji akan hidup berdampingan sampai akhir hayat. Itu adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku. Dan dalam tahun pertama pernikahan kami, dia melahirkan Mei Lin kecil, membuat kebahagiaan kami semakin lengkap. Keluarga kami sangat sempurna, sangat indah.

Hari itu datang dengan tanpa diduga. Seperti biasa, aku sampai di rumah kecil kami di Beijing. Hari itu adalah hari peringatan tiga tahun pernikahan kami. Aku memasuki rumah dengan Mei Lin di tangan kananku dan sebuah box kue di tangan kiriku. Tapi kutemukan rumah kami kosong. Kucari jejak-jejak kalau Fei ada, tapi yang kutemukan hanya kehampaan. Kubuka lemari baju kami dan tak dapat kutemukan baju-bajunya. Tak ada sedikit pun jejak bahwa dia pernah tinggal di rumah itu, bahkan tak ada surat atau apapun. Yang ada hanya kekosongan.

Tapi, hilangnya payung berwarna biru langit dari tempatnya menjawab semua pertanyaan yang bercampur aduk di benakku. Dia kembali kepada mantan kekasihnya, meninggalkanku dan Mei Lin yang masih kecil.

Kubuka mataku perlahan dan merasakan air mata mengalir di pipiku. Kuusap air mataku dan kupandangi malaikat kecilku yang masih terlelap tidur.

"Biarkan saja ibumu meninggalkan kita," bisikku, "Biarkan saja orang-orang menganggap dia telah tiada. Tapi, papa tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian, Mei Lin. Papa akan selalu ada di sampingmu. Karena hanya kaulah satu-satunya cahaya hidupku, Malaikat Kecilku…"


A/N: PENDEK LAGI! *bow* maafkan aku pemirsa~ aku harap ga ada yang kecewa

dan dan dan, astaga ripiunya lumayan banyak. aku cuma bisa bilang makasih banyak! tambah semangat deh!

fighting~~