Hola Minna. Gaktahu kenapa saya pengen ada sekuelnya gini ya?
SEKUEL FROM 'PRICKLY ROSE'
DISCLAIMER : TITE KUBO.
WARNING : OOC, AU, GAJE, MISSTYPO (maaf kalau ada kekurangan pengetikan)
RATE : M (for safe)
ATTENTION : Fic ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan atau kemiripan situasi dan cerita dengan fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun itu tidak disengaja.
.
.
.
Tak lama setelah Rukia mendapat penjelasan singkat dari salah satu adik Ichigo yang berambut hitam itu, akhirnya Ibu dan Ayah Ichigo keluar juga bersama dengan adiknya yang satu lagi. Yang berambut pirang itu. Mereka masih tampak kikuk menyapa Rukia, terkecuali gadis berambut pirang itu. Sepertinya dialah yang tampak baik-baik saja dan menerima Rukia. Ibu Ichigo juga gadis berambut hitam itu masih memandang datar pada Rukia. Tanpa ekspresi. Sedangkan Ayah Ichigo, tampak begitu atraktif bahkan selalu tersenyum lebar dan memperlakukan Rukia seperti anak sendiri. Pria itu bahkan bersikap seolah-olah Rukia adalah anaknya sendiri. Bahkan tanpa ragu menyuruh Rukia untuk menginap semalam di rumah Ichigo. Tentu saja Rukia senang. Paling tidak masih ada orang yang memperlakukannya dengan normal.
Rukia tahu betul situasi di rumah ini. Mereka―terutama Ibunya Ichigo―pasti masih terlalu sulit menerima Rukia. Kenyataan bahwa wajahnya begitu mirip dengan wanita yang tidak disetujui olehnya bersama Ichigo. Ibu mana yang sanggup seperti ini? Mungkin jika Rukia ada di posisi Ibu Ichigo, mungkin Rukia sendiri akan langsung menolak pernikahan tiba-tiba ini. Apalagi... yah seperti itulah.
Rukia diijinkan menggunakan kamar Yuzu―si gadis berambut pirang itu―untuk tidur malam ini. Yuzu tampak begitu senang bicara pada Rukia. Bahkan terang-terangan bilang kalau Yuzu sudah lama ingin punya kakak perempuan. Dan akhirnya terwujud. Karena selama ini Karin―kembarannya, si gadis berambut hitam―selalu di luar rumah dan berada di kampus untuk urusan klubnya. Tidak pernah pulang kecuali jika belum malam. Tapi Yuzu juga menyayangi Karin dan Ichigo. Rukia tahu, Yuzu mungkin adalah gadis rumahan yang jarang keluar. Makanya kontak dengan keluarga amat sangat berharga untuk Yuzu.
Ketika beranjak malam, Rukia membantu Yuzu membuat makan malam. Meskipun sudah dilarang oleh Ayah dan Yuzu, Rukia tetap membantu. Bahkan Rukia ingin diperlakukan biasa saja. Tidak ingin dianggap istimewa atau apa. Apalagi setelah mereka tahu bahwa Rukia adalah adik dari Kuchiki Byakuya, sang Presdir dari Kuchiki Corp yang terkenal itu. Tapi... walaupun begitu, dengan tingkah Ayah Ichigo yang menyenangkan, Rukia tak merasa canggung sedikitpun. Meskipun... kadang tingkah Ayah Ichigo yang berlebihan nyaris membuat Rukia jantungan. Tapi cukup menyenangkan. Rukia suka suasana seperti ini. Ramai dan menyenangkan. Mengingat dia selama hidupnya, tidak pernah merasa begini ramai. Ada Ayah, Ibu, adik... semuanya terasa lengkap. Mungkin pilihan Rukia untuk menikah dengan Ichigo tidaklah salah. Dia bisa mendapatkan apa yang selama ini belum pernah dirasakannya. Kehangatan keluarga.
Tapi sepertinya... walaupun Yuzu dan Ayah Ichigo tampak menerima kehadiran Rukia, dan Karin tampak bersikap biasa saja, Rukia masih bisa menerimanya. Tapi... Ibunya. Yang masih memandang kaku pada Rukia dan enggan bicara banyak pada Rukia. Itulah yang sampai sekarang ini masih jadi pikiran Rukia. Bagaimana caranya selama satu malam ini dia bisa dekat dengan Ibunya Ichigo?
.
.
*KIN*
.
.
"Hah? Menikah? Serius? Kau yang tidak ada kabar selama 3 tahun ini mau menikah? Menyusul Ishida ya?" ledek Keigo sambil melirik jahil pada Ishida yang sekarang duduk di sebelah Ichigo. Mereka... Ichigo, Ishida, Keigo dan Mizuiro sedang berkumpul di sebuah klub malam. Begitu tiba dan setelah meninggalkan Rukia di rumahnya, dia langsung mengontak sahabat SMP-nya ini. Berhubung semuanya ada di Karakura, kecuali Chad, karena setahun lalu, pria besar berkulit gelap itu tiba-tiba pindah ke Meksiko untuk jadi pegulat tangguh. Ichigo sendiri tidak menyangka akan berita itu. Pria baik-baik seperti Chad mau jadi pegulat? Rasanya aneh saja.
Dan kini, setelah teman-temannya pulang dari kerja masing-masing, Ichigo mengajak mereka untuk minum bersama. Makanya mereka ke klub dan duduk berjejer di sebuah bar di klub itu. Sepertinya Ichigo terlalu to the point. Apalagi setelah melihat ekspresi kaget dan terkejut dari mereka semua. Tapi memang itulah tujuannya. Dia tidak mau bertele-tele.
"Pernikahanmu ini terlalu tiba-tiba ya? Ada apa? Apa kau... melakukan sesuatu?" tanya Ishida hati-hati. Perlu di ketahui, mereka semua, termasuk Tatsuki, Orihime dan Chad, tahu kondisi Ichigo setelah ditinggal pergi oleh Yukia. apalagi kenyataan bahwa Ichigo sendiri sudah berjanji tidak akan pernah lagi menyentuh wanita manapun. Ichigo tiga tahun lalu hingga sekarang masih seperti orang yang enggan hidup dan bersikap seolah-olah ingin segera mati saja. Dan sekarang menyampaikan berita mengejutkan? Siapa yang tidak kaget coba? Bahkan nenek-nenek yang mendengar ini pasti langsung kena serangan jantung!
"Aku tidak melakukan apapun. Yah... seperti yang kalian bilang. Hidup normal. Hanya itu." Jawab Ichigo sambil menggoyangkan gelas martini-nya.
"Hidup normal bukan berarti sembarangan menikahi wanita lain Ichigo. Memangnya wanita yang mau kau nikahi itu tahu masa lalumu?" tanya Mizuiro pula.
"Mungkin dia tidak tahu karena melihat ketampanan pria orange ini." Sindir Keigo.
"Dia tahu." Jawab Ichigo singkat.
"Hah? Dia tahu? Lalu kau... maksudku... lalu dia biasa saja? Wah... wanita seperti apa dia itu?" sambung Ishida.
Ichigo memanggil bartender bar itu dengan isyarat untuk meminta martini lagi. Sedangkan teman-temannya masih sibuk menerka-nerka apa yang kali ini dilakukan oleh sahabat mereka ini. Ichigo paham mereka pasti penasaran. Tapi lebih baik tidak diberitahu detil. Karena mereka pasti akan lebih kaget lagi melihat siapa wanita itu.
"Apa kau benar-benar sudah bisa melupakan Yukia, makanya kau... mau menikah dengan wanita itu?" tanya Ishida lagi. Dia begitu penasaran dengan berita heboh ini.
"Tidak. Tidak ada sedetikpun aku melupakan Yukia."
"Kau benar-benar gila! Bagaimana mungkin kau mau menikah dan tidak melupakan wanita di masa lalumu? Apa kau tidak memikirkan wanita yang akan kau nikahi itu? Kemana sih akal sehatmu!" ujar Keigo marah. Sebenarnya Keigo bukanlah orang yang mengerti situasi seperti ini. Tapi rasanya dia ingin marah saja.
"Kalau kau menikah, kau sudah mengkhianati dua wanita sekaligus tahu." Timpal Mizuiro.
Ichigo menegak habis martini-nya dan mulai turun dari kursi bar itu. Lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja bar itu.
"Hari ini biar aku traktir. Kalau tanggalnya sudah ditetapkan aku akan menghubungi kalian lagi. Pernikahannya akan diadakan di Tokyo. Jadi kuharap kalian semua datang. Karena aku ingin kalian melihat pernikahanku." Jelas Ichigo lalu benar-benar beranjak pergi.
Tiga orang yang tertinggal di meja bar itu mendengus geli. Orang itu... sungguh sulit dipercaya.
Sedangkan Ichigo? Bukannya dia tidak menyadari apa maksud dari mereka itu. Meskipun mereka tidak mengerti wanita, tapi jika dilihat dari sudut pandang umum, wanita mana saja mungkin akan berpikir ratusan kali untuk menikah dengan pria yang masih terikat masa lalu dengan kekasihnya. Apalagi belum bisa melupakannya 100 persen. Pasti dia adalah wanita bodoh.
Tapi mau bagaimana lagi? Masa dia terang-terangan bilang kalau dia dan wanita itu―Rukia―hanya bertaruh selama 3 bulan untuk membuat Ichigo lupa wanita masa lalunya. Sudah pasti siapa saja yang mendengarnya akan membunuh Ichigo. Tidakkah itu sama saja dengan mempermainkan pernikahan sakral dan suci itu? Pernikahan adalah ritual sakral dan suci yang mengikat janji sehidup semati di hadapan Tuhan dan semua orang. Jadi... apakah dengan pernikahan taruhan selama 3 bulan ini, mereka menganggap remeh pernikahan? Tentu saja! Bahkan mereka sudah mempermainkan Tuhan. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau tidak begini, mungkin selamanya Ichigo akan terpuruk dan tidak akan pernah melepas Yukia. memang tidak mau melepasnya. Tapi untuk hidup normal, inilah yang harus dia lakukan. Sebenarnya Ichigo sendiri sudah berada dalam dilema besar. Dia tidak ingin mengkhianati siapapun, tapi dia juga ingin hidup normal kembali. Dia selalu mimpi buruk bila terus menerus mengingat Yukia. mimpi... tentang ketidakmampuannya menjaga wanita paling berarti di hidupnya.
Dan itu sudah cukup mengganggunya selama ini. Makanya berkali-kali dia berusaha untuk melupakannya dengan bunuh diri. Hah? Terdengar konyol'kan? Tentu saja. Siapapun yang mendengar pasti akan bilang konyol. Ichigo juga tahu sekeras apa Renji, sahabatnya itu memulihkan dirinya. Tapi tidak pernah berhasil juga.
Ichigo menghentikan mobilnya tepat didepan rumahnya. Mungkin dia terlalu malam pulangnya. Bagaimana mungkin mereka bisa pulang ke Tokyo semalam ini? Dan apa yang dilakukan oleh wanita itu? Apakah dia sudah bisa beradaptasi dengan keluarganya? Jujur saja, maksudnya Ichigo meninggalkan Rukia agar wanita itu paham situasi di rumahnya dan berpikir dua kali untuk melanjutkan semua ini. Ichigo tidak mau kalau wanita itu hanya setengah-setengah saja. Kalau dia memang berusaha untuk Ichigo, tentu saja dia harus berusaha sepenuhnya. Dan Ichigo ingin melihat seberapa hebat dia bisa meyakinkan Ibu dan Ayahnya. Juga dua adik kembarnya itu. Mungkin Yuzu dan Ayahnya adalah orang termudah. Tapi bagaimana dengan sisanya?
"Tadai―"
"Aduhh!"
Ichigo terkejut mendengar suara gaduh itu. Ini sudah malam? Apalagi yang mereka lakukan? Apakah itu suara Yuzu?
Perlahan Ichigo mengintip ke arah ruang tamu. Tidak ada orang. Lalu bergerak menuju ruang makannya. Dia atas meja sudah terhidang berbagai macam makanan. Lalu kemana orangnya?
"Ahh Rukia-nee pelan saja. Lihat jadi terluka'kan?"
"Apa? Apa yang terjadi pada Rukia-chanku?"
"Sembarangan! Apanya yang Rukia-chanku?"
"Ahh Karin... jangan begitu dong. Rukia-chan 'kan memang akan jadi Kurosaki. Kau harus hati-hati ya..."
"Tou-chan... jangan mengomel saja, ambilkan plester dong..."
"Tidak apa Yuzu. Ini Cuma luka kecil saja."
"Jangan! Tidak boleh begitu Rukia-chanku. Aku akan mengambilkan plester untukmu sayang~~"
"Aku panggil Kaa-san dulu, kalian―oh... Ichi-nii sudah pulang?"
Ichigo masih terpaku di depan pintu dapur melihat kehebohan di dapur itu. Karin yang sedari tadi mengawasi bergegas akan memanggil Ibunya. Tapi berhenti melihat Ichigo yang berdiri di depan pintu tanpa ekspresi.
Yuzu yang membantu Rukia membersihkan luka kecil di jarinya. Sepertinya Rukia baru saja terluka karena pisau. Apalagi Yuzu dan Rukia memakai celemek dapurnya. Ayahnya bertingkah aneh seperti biasa. Bertingkah berlebihan sambil mengacak-acak kotak obat di dapur. Sudah Ichigo duga. Rukia terlalu mudah membaur dengan Ayah dan Yuzu.
"Ichi-nii mau makan malam?" tawar Karin lagi. Sepertinya Yuzu dan Rukia juga Ayahnya yang bodoh itu masih sibuk mengurusi luka Rukia.
"Tidak usah. Aku sudah makan di luar. Kalian duluan saja. Aku akan naik ke kamarku." Jelas Ichigo sambil berbalik menuju lantai dua. Kamarnya.
"Ichi-nii. Oyaji bilang, menginap saja semalam. Rukia-nee juga sudah setuju kok." Celetuk Karin. Mendengar kata-kata itu, Ichigo Cuma mengangguk ringan lalu tetap bergerak naik ke kamarnya.
Sebenarnya Rukia melihat Ichigo yang sudah pulang. Tapi wajahnya saat itu sedang tidak bagus. Dan Rukia juga ragu untuk menyapanya. Apakah... karena sesuatu terjadi?
.
.
*KIN*
.
.
"Mana Ichigo?" tanya Masaki setelah tiba di meja makan mereka. Wanita berambut orange panjang bergelombang ini mengedarkan pandangan mencari putra satu-satunya itu.
"Ichi-nii tidak mau makan. Katanya dia sudah makan." Timpal Karin.
"Biar aku panggil,"
"Yuzu... kau duduk saja. Kau'kan sudah memasak, biar Rukia-chan yang memanggilnya. Rukia-chan, kamar Ichigo ada di lantai dua. Kau panggil dia untuk makan. Walau sudah kenyang, dia harus duduk di sini dengan keluarganya 'kan?" jelas Isshin. Rukia jadi aneh. Tadi sikap calon Ayah mertuanya ini begitu konyol dan menggelikan. Lalu setelah Ibu Ichigo tiba, dia jadi bersikap santai. Rukia hanya mengangguk patuh dan menuju lantai dua. Begitu sampai di puncak tangga, Rukia sudah melihat pintu di samping tangga ini. Ragu. Rukia ragu apakah Ichigo mau membuka'kan pintu untuknya. Apalagi sejak tadi dia dan Ibunya belum bicara banyak. Rukia sudah mengangkat tangannya untuk mengetuk kamar itu. Tapi tidak jadi dan bertingkah bingung. Bagaimana? Diketuk? Tidak?
Cklek.
"Huwaa!"
Rukia jatuh terduduk karena kaget pintu itu terbuka tiba-tiba. Pantatnya terasa sakit karena mendarat di lantai kayu itu. Rukia mengeluh sakit sambil mengelus pantatnya sendiri dan mendongak melihat pelaku sial itu. Ichigo berdiri menjulang didepannya tanpa ekspresi.
"Kalau wanita jatuh, sebagai seorang pria kau harusnya membantunya berdiri'kan? Bukannya memandangi begitu!" rutuk Rukia.
"Apa yang kau lakukan di depan kamarku?" tanya Ichigo datar sambil bersedekap dada. Rukia mendengus.
"Sepertinya kau tidak mau membantuku ya! Dasar gunung es Antartika!" rutuk Rukia lagi lalu berdiri sendiri dengan susah payah.
"Otou―tidak... Oji-san menyuruhku untuk memanggilmu makan malam. Katanya meskipun kau tidak lapar, paling tidak kau harus ada di meja makan. Berhentilah bertindak kekanakan begitu." Nasihat Rukia.
"Apa? Siapa yang kekanakan?"
"Kau! Aku tahu kenapa kau tidak mau makan bersama. Menghindari Kaa-sanmu'kan?"
"Darimana kau tahu?" tanya Ichigo penasaran. Karena seingatnya dia belum cerita soal Ichigo yang malas bertemu Ibunya itu pada Rukia.
"Sebagai seorang wanita yang akan menikah denganmu, aku harus tahu apa saja yang terjadi padamu 'kan? Sudahlah. Kenapa harus keras kepala begitu? Turun saja. Kaa-sanmu pasti ingin melihatmu'kan? Memangnya kau tidak rindu dengan Kaa-sanmu?"
"Kau tidak perlu ikut campur masalahku. Yang akan menikah denganmu itu aku, bukan Kaa-san. Jadi tidak perlu repot-repot memikirkan hal itu. Aku akan tidur jadi kau turun saja."
Ichigo akan segera menutup pintu kamarnya, lalu Rukia cepat-cepat menghalangi pintu itu agar tidak tertutup. Tapi yang ada malah tangan mungil Rukia terjepit di pintu itu.
"Aduhh!" jerit Rukia. Meskipun dia tidak mau menjerit, tapi tiba-tiba saja mulutnya langsung bersuara. Ichigo kaget karena pintunya terbuka lagi. Begitu membuka pintu itu lagi, dia sudah melihat Rukia yang meringis memegangi tangannya yang memerah karena terjepit pintu kamarnya.
"Apa yang kau lakukan bodoh!" bentak Ichigo sambil melihat tangan Rukia yang memerah karena terjepit itu. Rukia masih meringis bahkan nyaris menangis. Tahu sendiri'kan sakitnya terjepit pintu itu bagaimana? Rukia berusaha menggoyangkan tangannya yang sempat kaku karena terjepit itu. Ichigo juga menarik pelan tangan Rukia yang memerah itu dan meniupnya. Lalu memijat jari-jarinya pelan supaya tidak kaku lagi. Rukia yang awalnya mau menangis jadi tersenyum geli. Kenapa Ichigo bisa sepanik itu ya?
"Kenapa kau tertawa? Tanganmu bisa putus kalau tadi aku menutup kuat pintunya! Kau ini kenapa sih selalu bertindak nekat!" bentak Ichigo lagi. Kali ini wajahnya marah pada Rukia. Tapi dia senang melihat Ichigo yang marah padanya. Ini lebih baik daripada Ichigo yang berwajah datar padanya.
"Tidak apa. Kalau harus begini terus juga tidak apa. Asal kau memperhatikanku." Jawab Rukia singkat. Mungkin itu adalah jawaban polos dari seorang gadis yang benar-benar mencintai Ichigo.
"Dasar bodoh!" keluh Ichigo lagi.
"Karena kau sudah menjepit tanganku kau harus bertanggungjawab! Atau aku akan melaporkannya pada Oji-san! Kau tidak tahu'kan kalau Oji-san sangat menyayangiku sekarang?"
"Apa?"
Dan Ichigo sepertinya menyesal mengenalkan Rukia pada Ayahnya yang berlebihan itu.
Akhirnya, Ichigo menurut saja begitu Rukia menarik Ichigo untuk turun ke lantai bawah dengan sebelah tangannya yang tidak terjepit tadi. Tapi yang Ichigo lihat lagi, sebelah tangan Rukia yang menariknya itu ada plester di jarinya. Apakah ini... luka tadi?
Semua orang yang ada di meja makan itu tidak percaya dengan Rukia yang berhasil membawa Ichigo turun untuk makan malam. Bahkan Masaki terlihat kaget karena wanita ini dengan santainya menyuruh Ichigo duduk dan makan. Ditambah lagi Ichigo tampak menurut meskipun kelihatannya enggan untuk melakukannya.
.
.
*KIN*
.
.
Setelah makan malam tadi, Rukia masih membantu Yuzu membereskan sisa makan malam. Tapi Ichigo langsung melarangnya dan menyuruhnya langsung tidur. Rukia merengut kesal. Tapi dengan nekat langsung membantu Yuzu mencuci piring. Tapi lagi-lagi tangannya yang bekas kena jepit tadi langsung bereaksi. Ichigo sadar itu lalu menarik Rukia masuk ke kamar untuk tidur. Masaki dan Isshin yang melihat itu jadi bingung sekaligus lega. Ichigo tidak sedingin sebelumnya. Dan Karin yang walau tidak memberikan reaksi apapun atas ulah calon anggota baru di keluarganya itu nampak sedikit tenang. Karena Rukia, bisa jadi harapannya untuk memperbaiki hubungan Ichigo dan Ibunya. Meski kelihatannya masih cukup sulit.
Rukia masih duduk di atas kasurnya dengan selimut di tubuhnya. Tadi waktu makan malam, Ichigo sudah sedikit menghiraukan Ibunya. Menjawab seadanya setiap pertanyaan Ibunya. Meski Ichigo masih enggan menatap Ibunya. Dan itu juga dari paksaan Rukia yang terus menendang kaki Ichigo di bawah meja makan kalau Ichigo diam saja begitu Ibunya bertanya padanya. Sekarang apalagi yang bisa Rukia lakukan?
Hari sudah begitu larut. Tapi Rukia belum bisa tidur. Mungkin karena ini bukan rumahnya yang biasa. Dan dia belum bisa tidur di kasur yang tidak biasa dia tiduri. Rukia memang begitu. Buktinya selama di Eropa dia selalu homesick dan selalu insomnia. Tapi begitu pulang ke rumahnya dia jadi cepat tidur. Rukia memutuskan untuk keluar dari kamarnya sejenak untuk minum.
Tapi begitu sampai di ruang keluarga yang gelap, Rukia bisa melihat lampu kecil yang menyala di ruang keluarga itu. Ada seseorang yang tengah duduk di sofa. Rukia nyaris berteriak kaget. Tapi begitu menyadari siapa orang itu, Rukia langsung lega.
Dia... Ibunya Ichigo.
Rukia berusaha untuk tidak membuat gaduh apapun. Mungkin Ibunya ingin menyendiri dulu. Sebaiknya Rukia kembali ke―
"Kuchiki ya?" sapa seseorang. Rukia berhenti bergerak dan perlahan berbalik ke belakang. Ibunya Ichigo... memanggilnya tadi? Wanita paruh baya itu tersenyum lembut pada Rukia dan mengajak Rukia duduk di dekatnya. Rukia bingung. Kenapa tiba-tiba?
Tapi dengan patuh, Rukia mengikuti perintahnya dan duduk tak jauh dari wanita cantik ini. Suasananya jadi canggung sekali.
"Maaf... apa aku... mengganggu Anda?" tanya Rukia kikuk tanpa berani mengangkat wajahnya. Bagaimana kalau dia kena marah karena seenaknya mengganggu orang?
"Tidak. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Apa? Ada yang ingin dibicarakan? Apakah... Ibu Ichigo tidak suka pada Rukia?
"Maaf kalau aku tidak menyambutmu dengan baik tadi. Mungkin ketika melihatmu pertama kali, aku langsung membayangkan wanita itu muncul lagi di depanku. Tapi aku sadar, kau dan wanita itu... dua orang yang berbeda. Karena wanita itu... aku masih bersalah pada Ichigo."
Rukia mendengarkan dengan patuh apa yang dikatakan oleh wanita ini.
"Apa kau pernah mendengar nama seorang wanita yaitu... Ashiya Yukia? dia wanita yang mirip denganmu."
"Iya... aku pernah dengar. Dan... aku tahu siapa wanita itu."
"Ketika tahu Ichigo menjalin hubungan dengan wanita seperti itu... seorang pelacur... aku menentangnya habis-habisan. Ibu mana yang sanggup melihat putranya bersama wanita rendah seperti itu. Kupikir, Ichigo hanya main-main saja dan menganggapnya hiburan semata. Tapi melihat kesungguhan dari anak itu untuk hidup bersama wanita itu, rasanya aku ingin mati saja. Bahkan Ichigo terang-terangan lebih memilih wanita itu dari Ibunya dan tanpa ragu untuk pergi dari keluarga ini selama-lamanya. Sejak itulah aku merasa Ichigo tidak lagi seperti Ichigo yang kukenal. Dia dibutakan oleh wanita itu. Dan aku sangat membenci wanita yang sudah berani membuat anakku membuang Ibunya."
"Tapi... karena aku tak kunjung memberikan restu pada mereka, wanita itu berusaha untuk meyakinkan Ichigo untuk meminta restu padaku. Bahkan ketika aku sakit parah, Ichigo tidak akan datang kalau bukan karena wanita itu yang memintanya menjengukku. Tapi aku tak menyangka akhir wanita itu begitu tragis. Ichigo menyalahkanku dan tidak mau bertemu denganku lagi semenjak kematian wanita itu. Dia benci padaku karena terlambat memberikan restu. Di satu sisi aku senang Ichigo akhirnya berpisah dari wanita itu. Tapi di sisi lain, aku juga kasihan karena hidup Ichigo jauh lebih berantakan tanpa wanita itu. Dia tidak pernah pulang. Bersikap dingin dan tidak peduli lagi padaku. Jujur saja, aku sungguh merasa bersalah. Tapi tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf pada putraku."
Masaki menarik nafas panjang dan menahan sesak di dadanya. Ditambah lagi, aliran air yang jatuh dari matanya. Rukia tahu sesulit apa Ibunya untuk meminta maaf pada Ichigo. Rukia merasa simpati.
"Dan ketika kau datang, aku jadi merasa sedikit tenang. Karena sudah ada orang yang bisa membantu Ichigo melupakan wanita itu dan membuat Ichigo bersikap seperti biasanya. Meskipun dia belum begitu terbiasa denganku. Aku sudah melihat bahwa sekarang... kaulah orang yang Ichigo percaya. Rukia... sebagai Ibu... aku sungguh berharap kau mau membantu Ichigo kapanpun saat dia butuh. Tolong jaga Ichigo ya. Saat ini, aku hanya percaya padamu untuk menjaga dan mengurus Ichigo. Tolong jangan biarkan dia terpuruk lagi. Kalau dia jatuh, tolong bantu dia ya. Karena bagiku... Ichigo adalah anak yang paling berarti untukku. Karena dia adalah satu-satunya anak laki-laki yang kumiliki. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau tidak ada Ichigo."
"Anda tenang saja. Aku janji akan mematuhi semua permintaan Anda. Aku akan menjaga Ichigo sebisaku." Jawab Rukia sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih. Kau tidak perlu bersikap formal padaku. Biasa saja. Kudengar... kau tidak punya orangtua?" tanya Masaki perlahan. Memang Rukia sudah sedikit menceritakan hidupnya pada Yuzu. Mengenai keluarganya juga.
"Ya... mereka... sudah lama meninggal. Bahkan aku tidak pernah lihat seperti apa mereka."
"Kalau begitu... kau tidak keberatan'kan memanggilku 'Kaa-san'?"
Rukia terbelalak lebar. Apa ini artinya... dia sudah direstui? Terlalu mendadak.
"Kenapa? Kau... tidak suka?" tanya Masaki bingung.
"Ahh! Bukan begitu... tapi... ini terlalu... aku tidak menyangka Anda akan meminta hal seperti itu. Aku sungguh senang. Senang sekali. Kaa-san... boleh kupanggil begitu?"
"Tentu saja. Kau boleh memanggilku begitu kapanpun kau inginkan."
.
.
*KIN*
.
.
Setelah sarapan bersama pagi ini, dan lagi-lagi Rukia memaksa Ichigo untuk turun. Awalnya sulit karena Ichigo tidak mau menurut, tapi Rukia kembali mengungkit masalah tangannya yang terjepit tadi malam.
Setelah pembicaraan singkat semalam, Rukia jadi lebih dekat dengan Ibunya Ichigo. Awal melihat hal itu, semua anggota keluarga Kurosaki jadi bertanya-tanya. Apalagi Ichigo. Bagaimana bisa dalam semalam, Rukia bisa membuat Ibunya begitu dekat dengannya? Bahkan... Kaa-san? Rukia memanggil Ibunya begitu?
Diam-diam Ichigo mengakui dalam hatinya. Wanita ini... memang punya kemampuan untuk disukai oleh semua orang. Yang belum terlihat sekarang adalah Karin. Dia masih bersikap biasa saja. Tidak menunjukkan tanda-tanda dia suka atau benci pada Rukia. Dia hanya menerima saja.
Setelah sarapan, Rukia dan Ichigo pamit pulang. Masaki juga mengantar mereka lalu memeluk Rukia sejenak. Ayahnya kembali bersikap berlebihan. Terakhir kalinya, Rukia menginjak kaki Ichigo untuk memberikan salam perpisahan dan sekaligus memanggil Masaki Kaa-san seperti biasa. Cara itu memang berhasil, tapi Ichigo mendelik sinis pada Rukia karena kesal. Tapi sepertinya wanita itu biasa saja.
"Bagaimana caranya sampai Kaa-san begitu perhatian padamu? Apa yang kau lakukan padanya?" akhirnya Ichigo penasaran juga ingin bertanya pada wanita mungil yang duduk di sebelah kursinya ini. Rukia tersenyum lebar.
"Ada saja. Ini'kan urusan wanita. Kau tidak perlu cemas lagi. Ibumu... sudah merestui kita."
"Yah... andai saja dia lakukan itu 3 tahun yang lalu." Gumam Ichigo.
"Apa?"
"Ayo kita pulang. Mungkin Kakakmu sudah cemas setengah mati padamu. Sejak tadi dia menelponku bertanya kapan kau pulang."
"Nii-sama? Kenapa menelponmu?" tanya Rukia bingung.
"Katanya ponselmu tidak bisa dihubungi."
Ahh! Celaka! Rukia lupa ponselnya habis baterai dan dia lupa mengisinya. Pasti ada banyak pesan dan panggilan yang gagal masuk ke dalam ponselnya.
.
.
*KIN*
.
.
Pernikahan mereka diputuskan untuk dilangsungkan minggu depan. Memang cepat dan mendadak sih, tapi Rukia tidak ingin menunda terlalu lama. Dia takut Ichigo nanti berubah pikiran. Sampai sekarang saja, laki-laki itu nampak tidak terlalu peduli pada segala urusan pernikahan mereka. Memang direncanakan tidak ingin membuat pesta yang besar, dan itu adalah permintaan pribadi Rukia. Dia ingin pernikahan sederhana yang dihadiri oleh kerabat dan teman dekat. Menurutnya pesta yang mewah dan megah itu bukan sesuatu yang patut dilakukan. Apa bedanya pernikahan yang mewah dan megah dengan pernikahan sederhana? Bukankah sama-sama menikah dan menjadi pasangan suami istri yang sah? Walaupun Rukia tahu kakaknya punya kemampuan untuk melakukan itu. Tapi... semua pengeluaran pernikahan ini adalah uang berdua dari Ichigo dan Rukia. Dia ingin pernikahan ini hasil dari uang mereka tanpa tergantung orang lain. Meskipun... Byakuya nampaknya masih membantu diam-diam.
Setelah menyebar undangan, mem-booking aula pernikahan, dan katering, semuanya sudah selesai. Tinggal pakaian pengantin. Rukia tidak ingin yang terlalu heboh. Cukup gaun yang sederhana saja. Meskipun ini pernikahan yang pertama, tapi dia tidak ingin heboh. Mungkin karena pada dasarnya, Rukia adalah wanita yang sederhana dan tidak suka hal mencolok. Sudah jelas dia meminta Yumichika yang merancang gaunnya nanti. Dan Yumichika memberika gaunnya nanti Cuma-Cuma saja. Katanya sih hitung-hitung kado pernikahan darinya. Rukia tahu, Yumichika juga adalah orang yang menentang pernikahan ini sama seperti kakaknya. Tapi Yumichika hanya berharap yang terbaik untuk sahabatnya ini.
Ichigo masih tetap sibuk pada pekerjaannya. Seolah-olah pernikahan ini sama sekali tidak penting. Dia menyerahkan semuanya pada Rukia. Rukia akui, memang ini adalah pernikahan yang dia inginkan. Tapi'kan paling tidak Ichigo bisa membantu Rukia juga.
"Jadi... dia lebih mementingkan pekerjaan daripada pernikahan kalian yang tinggal seminggu ini? Wah! Pria kejam!" rutuk Yumichika yang sudah memberikan beberapa desain kreasinya itu pada Rukia untuk dipilih kemudian baru di kerjakan nanti. Karena yang akan membuatnya Yumichika langsung, jadi hanya perlu waktu 3 hari saja. Rukia sekarang sedang duduk di sofa dalam ruangan pribadi Yumichika di butiknya. Tidak ada yang sesuai dengan keinginannya. Bukannya tidak bagus sih. Semuanya bagus dan sesuai seleranya. Tapi entah kenapa Rukia kurang sreg saja.
"Dia'kan GM. Nii-sama juga yang memberikannya pekerjaan begitu banyak. Apa boleh buat." Ujar Rukia.
"GM sih GM. Tapi yang namanya pernikahankan juga penting. Dasar... jadi kau mau yang mana? Sudah setengah jam lebih kau hanya melihatnya saja. Katakan kau ingin yang bagaimana? Nanti aku buatkan yang paling cantik."
"Aku suka semua desain-mu. Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Yumichika penasaran.
"Bisakah aku melihat gaun itu?"
"Hah? Gaun... gaun yang mana?"
"Yang Yukia kenakan waktu itu..."
Mata Yumichika langsung membulat tajam. Tidak percaya dengan pendengarannya barusan. Apa dia... barusan tuli mendadak atau bagaimana?
"Tunggu dulu. Rasanya aku tidak merekomendasikan gaun berdarah itu'kan?" tanya Yumichika untuk meyakinkan dirinya sendiri. Ataukah adik tingkatnya ini sudah gila atau bagaimana. Yang jelas Rukia memang gila!
"Kenapa? Kau bilang masih menyimpannya 'kan? Ayolah... aku mau lihat..." rengek Rukia.
"Kuchiki-chan... bisakah kau berpikir normal? Ada banyak desain gaunku yang seribu kali lebih bagus dari gaun berdarah itu."
"Aku suka... ekspresi Yukia yang memakai gaun itu. Dia terlihat begitu cantik mengenakan gaun itu. Makanya... mungkin aku juga akan terlihat cantik dengan gaun itu."
"Aku tahu kau gila dan nekad. Keras kepala dan sulit diatur. Kalau bukan karena sifatmu yang mengerikan itu, mana mungkin kau sampai di sini'kan? Baiklah... sesuai kemauanmu. Tunggu sebentar ya."
Yumichika bergerak menuju lemari besar di sudut ruangannya. Dan begitu dibuka, ada banyak sekali gaun-gaun limited edition miliknya disana. Dengan hati-hati, Yumichika menarik keluar satu gaun putih yang ditutupi oleh plastik bening besar. Gaunnya memang cantik. Rukia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama melihat gaun ini.
"Aku suka..."
"Astaga... kau pasti sudah gila sungguhan."
Dengan senyum lebar, Rukia mengelus gaun putih itu. Dia tidak ragu lagi.
.
.
*KIN*
.
.
Hari pernikahanpun tiba. Ichigo sudah bersiap dengan tuksedo putihnya. Rukia mau mengurusi semua urusan pernikahan konyol ini. Tapi dengan syarat untuk Ichigo, agar Ichigo sendiri yang membelikan sepasang cincin pernikahannya. Ichigo tidak bisa menolaknya. Di ruang ganti pengantin pria, Ichigo membuka kotak sedang berwarna merah marun dengan desain beludru yang memuat dua cincin itu. Satu cincin sederhana dengan berlian kecil di tengahnya. Dan tentunya ini cincin untuk pria. Satu lagi... cincin wanita dengan satu berlian besar di sana. Cincinnya memang sederhana. Ichigo tidak tahu apakah Rukia suka cincin sederhana ini. Tapi menurut pegawai toko perhiasan ini, cincin pernikahan memang harus yang sederhana seperti ini agar mencolok. Biasanya cincin sederhana dipakai untuk orang yang sudah menikah. Ichigo menghembuskan nafas panjang.
"Waw... lihat pengantin kita ini. Kenapa diam bung? Tidak menyambut tamu?" ledek Renji yang masuk tiba-tiba ke dalam ruang ganti Ichigo.
"Yah... aku baru mau menyambut tamu. Apa keluargaku sudah tiba?"
"Sudah. Mereka sudah menyambut tamu bersama Presdir. Wah... kau gagah ya. Tidak menyangka akhirnya menikah juga. Hei... itu cincin?" tunjuk Renji.
"Ya..."
"Ichigo... ingatlah. Setelah kau dan Rukia mengenakan cincin ini, kalian adalah sepasang suami istri yang akan mengikat janji sehidup semati. Di hadapan Tuhan, kalian akan berjanji untuk saling mencintai dan menjaga satu sama lain. Kalau kau masih ragu dengan pernikahan ini, lebih baik hentikan saja. Masih belum terlambat. Ini lebih baik daripada nantinya kau akan menyakiti Rukia saja dengan bayang masa lalumu." Nasihat Renji.
Apa yang dikatakan Renji benar. Dia bisa saja kabur untuk menghentikan pernikahan ini. Tapi kalau dia sendiri tidak yakin, dia tentunya tidak akan membeli cincin ini'kan?
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku tahu pilihanku. Ayo keluar. Kita sambut tamu."
.
.
*KIN*
.
.
"Wajahmu aneh tahu! Jangan begitu. Aku jadi gugup melihatmu begitu. Bagaimana kalau kau tiba-tiba jatuh ke depan nanti?" rutuk Yumichika karena wajah Rukia terus tegang dan gugup setengah mati. Tangannya yang memegang buket mawar putih terus gemetar. Seharusnya dia bahagia'kan? Sudah sejauh ini kenapa dia gugup?
Yumichika masih sibuk membetulkan gaun putih Rukia. Penampilan Rukia begitu anggun. Rambutnya digelung tinggi dan menyisakan poni dan anak rambut di dekat telinganya. Mahkota kecil menghiasi gelung rambutnya dengan penutup kepala yang terurai panjang. Tampilan Rukia begitu sederhana, tapi percayalah... dia adalah pengantin wanita tercantik yang pernah Yumichika lihat.
"Apa... kau sudah lihat Ichigo?" tanya Rukia.
"Tenang saja. Pangeranmu itu seratus kali lebih tampan dari biasanya. Hhh... aku bisa jatuh cinta lagi padanya." Kata Yumichika. Wajah Rukia langsung memerah. Tampan? Biasa saja Ichigo tampan, bagaimana kalau dia... mengenakan tuksedo putih?
"Permisi... apakah pengantin wanita sudah siap?" tanya petugas pernikahan sambil mengetuk pintu ruang ganti Rukia dari luar.
"Ya! Sudah siap kok." Teriak Yumichika.
"Nah. Kalau kau ragu, kau bisa mundur sekarang. Belum terlambat kok. Aku bisa membawamu kabur sekarang."
"Kenapa kau bicara begitu?" tanya Rukia bingung.
"Setelah kau dan Ichigo mengenakan cincin ini, kalian adalah sepasang suami istri yang akan mengikat janji sehidup semati. Di hadapan Tuhan, kalian akan berjanji untuk saling mencintai dan menjaga satu sama lain. Kalau kau masih ragu dengan pernikahan ini, lebih baik hentikan saja. Masih belum terlambat. Ini lebih baik daripada nantinya kau akan menyakiti dirimu saja dengan bayang masa lalu Ichigo." Jelas Yumichika.
"Tidak. Kalau aku mau berhenti, pasti aku lakukan sebelum aku mengenakan gaun ini."
"Keras kepala." Sindir Yumichika.
"Rukia-chan apa kau sudah siap?"
Ayah Ichigo membuka pintu dan menyembulkan kepalanya untuk mengintip Rukia. Rukia tersenyum lembut dan Yumichika menunduk dan menyampaikan salam pada Ayahnya Ichigo. Acaranya sudah akan dimulai dan Rukia diminta untuk keluar.
Isshin mengelus puncak kepala Rukia dan tersenyum lembut sambil menasehatinya segala macam. Untuk sabar pada Ichigo dan menjaga Ichigo kapanpun. Rukia mengangguk patuh. Yumichika sudah keluar semenjak Ayah Ichigo bicara pada Rukia. Setelah bicara panjang lebar, akhirnya Isshin menyodorkan lengannya untuk mengantar Rukia menuju aula. Tanpa ragu, Rukia menerimanya.
.
.
*KIN*
.
.
"Hei... dia ini... mirip Yukia'kan?" tanya Keigo bingung begitu melihat foto pra wedding di aula itu. Teman-teman SMP Ichigo datang. Ada Keigo, Ishida dan Orihime, Tatsuki, dan Mizuiro.
"Bukan mirip. Sama persis! Apa yang dipikirkan orang itu? Pantas saja ingin langsung menikah secepatnya!" rutuk Tatsuki.
"Tapi... itu pasti bukan Yukia-chan'kan?" timpal Orihime.
"Ya. Itu pasti. Sebenarnya ada apa dengan pernikahan ini." Gumam Ishida.
"Jangan kacaukan dulu pikiran kalian soal ini. Nanti kita tanyakan yang sebenarnya pada Ichigo." Sela Mizuiro.
Karena mereka sekarang sedang duduk di aula pernikahan. Ichigo sudah berdiri di depan menunggu pengantin wanitanya tiba. Wajah Ichigo tidak terlihat seperti orang yang mau menikah. Yuzu dan Karin juga Ibunya sudah tiba dan duduk di bangku depan. Sedangkan Byakuya duduk di depan juga di sisi lain bersama Renji dan Yumichika.
Begitu diumumkan bahwa pengantin wanita akan segera tiba, Ichigo bersiap menyambutnya. Tapi... begitu melihat Ayahnya menggandeng masuk Rukia, mata Ichigo terbelalak. Gaun itu...
Ichigo masih belum pulih dari kagetnya melihat Rukia berjalan dengan gaun itu. Bahkan setelah dekat, Ichigo baru bisa melihat Rukia yang berdiri tepat di sampingnya.
"Maaf ya, jadi mengingatkanmu pada Yukia. tapi... aku ingin memakai gaun ini agar aku terlihat bahagia seperti Yukia yang bahagia memakai gaun ini dulu. Tidak apa-apa'kan?" ujar Rukia begitu berhadapan dengan Ichigo di depan aula itu.
Lalu bagaimana caranya Ichigo melupakan Yukia? kalau wanita terus menerus mengingatkannya pada Yukia?
.
.
*KIN*
.
.
Setelah mengucapkan janji sehidup semati dan memasang cincin, dan Rukia suka sekali dengan cincin pilihan Ichigo. Dan setelah menerima ucapan selamat dari tamu undangan, Ichigo dan Rukia pergi ke suatu ruang untuk foto pernikahan mereka nanti.
Ichigo masih tampak canggung dengan Rukia sekarang. Rukia mengerti itu. Pasti tidak enak rasanya.
"Maaf. Apakah pengantin prianya bisa lebih berekspresi? Inikan foto pernikahan jadi kalau bisa... lebih bereskpresi." Pinta fotografer itu.
Rukia yang duduk di sofa langsung menoleh ke belakang tempat Ichigo berdiri di belakangnya. Yah. Wajahnya memang datar dan tanpa ekspresi. Begitu fotografer itu menghitung satu dua tiga, fotografer itu kembali berhenti mengambil gambar karena Ichigo seolah tak peduli tentang itu.
Rukia yang mengerti hal itu segera berdiri di depan Ichigo.
"Kau mau bilang pada semua orang yang melihat foto kita mengira kau terpaksa menikah denganku ya?" rutuk Rukia kecil berusaha untuk tidak didengar fotografer itu.
"Aku sudah tersenyum."
"Apanya yang tersenyum? Lebih bahagia dong. Kau seperti tengah menyesal menikah denganku tahu!"
"Lalu... apa kau bahagia menikah denganku?"
"Tentu! Kenapa tidak bahagia?"
"Kau berjanji untuk membuatku melupakan Yukia, tapi kau malah memakai gaun ini untuk menikah denganku? Tidakkah kau pikir ini lucu?"
"Aku sudah katakan alasannya tadi. Aku ingin bahagia seperti Yukia yang bahagia memakai gaun ini. Memang salah? Aku memang ingin membantumu melupakan Yukia, tapi aku juga ingin kau ingat bagaimana ekspresi Yukia yang memakai gaun ini. Agar kau tidak menyesal menikah denganku."
Ichigo mendengus geli mendengar jawaban konyol itu.
Rukia berjinjit untuk melingkarkan tangannya ke leher Ichigo. Tentu saja pria itu kaget luar biasa. Tanpa diduga, Rukia mengecup bibir tipis Ichigo. Rukia mengecupnya pelan sambil memejamkan matanya sejenak. Lalu tak lama Rukia melepaskan kecupan itu dan menatap Ichigo sambil tersenyum lebar. Lucu sekali melihat pria orange ini berubah kaku karena kaget.
"Nah suamiku. Tersenyumlah. Kau tidak mau melihat foto pernikahanmu yang seperti wajah manusia purba 'kan?"
Rukia menarik pipi tirus Ichigo dengan kedua tangan mungilnya untuk membuat Ichigo tersenyum. Akhirnya Ichigo berusaha tersenyum lembut pada wanita ini.
Tersenyum lembut pada isterinya kini.
.
.
*KIN*
.
.
"Aku akan kembali ke Jepang. Mungkin juga aku sudah bisa bekerja di perusahaan Nii-san. Pasti banyak orang yang merindukan kehadiranku'kan?" setelah memutuskan hubungan di ponselnya.
Wanita berambut ungu itu menatap keluar jendela apartemennya. Sudah tiga tahun dia tidak pulang. Memberikan kesempatan seseorang untuk menyendiri adalah pilihannya. Jadi dia berharap 'orang' itu sudah melupakan masa lalunya. Tidak masalah 'orang' itu belum bisa melupakan masa lalunya, wanita berambut ungu ini akan kembali membuat 'orang' itu jadi miliknya lagi. Jadwal penerbangan yang dia dapat adalah besok. mungkin lusa sudah tiba di Jepang. karena kebetulan dia mengambil penerbangan terakhir.
"Ichigo... aku merindukanmu."
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Maaf senpai... lama ya? hehehehehee
Tiba-tiba saya kehilangan mood untuk menulis (lagi). hari ini saya usahakan buat update semua fic saya. jadi kesannya ngebut ya? hehehe gak papa deh. sebelumnya saya sedikit kesal karena gaya tulisan saya kacau dan amburadul. sempet juga kepikiran untuk hapus semua fic saya dan ganti yang baru. tapi kalo di hapus semua mungkin banyak senpai yang bingung dengan tingkah konyol saya ya? hehehe
banyak senpai yang protes karena tulisan jelek ini. hehehe saya ngerti sepenuhnya dan menerima dengan lapang dada karena sepertinya saya belum punya bakat sebagai penulis hebat. heheehe tapi saya akan tetap berusaha kok. saya harap, senpai bisa memberikan saya dukungan selalu dengan memberikan masukan melalui review. apapun yang senpai kritikan buat saya pasti saya terima kok. karena sejujurnya review dari senpai sangat berarti buat saya. jangan cuma dibaca ya senpai. tapi direview. hehehe biar saya tahu kemana bagusnya tulisan ini.
ok cukup cincong dari saya. mulai chap depan udah ada masalah yang muncul. apalagi saya udah siap dengan kemunculan Senna.. wkwkwk akhirnya bakal datang tuh cewek ya.. udah ditungguin loh... saya mau masukin tokoh pria kedua. bagusnya siapa ya? mengingat saya selalu pake Ulquiorra atau Kaien. sebenernya sih pengen yang lain. tapi gak tahu deh kenapa saya cuma bisa cocok sama 2 orang itu. heheheh
ok deh balas review...
Leory Agrimony : makasih udah review senpai... chap depan ya kehidupan mereka udah nikah. hehehee review lagi yaa.
nenk rukiakate : makasih udah review nenk... aduh,,, jadi malu deh cerita kacau gini dibilang bagus. wkwkwkwk makasih dukungannya nenk, buat saya, nenk itu reviewer paling kutunggu hehehe...
Shirayuki Umi : makasih udah review senpai... hmm semoga gak beneran jadi cerita sedih ya... heheheh
Zanpaku nee : makasih udah review senpai ... Masaki udah yakin nih sama Rukia... wkwkkw
Voidy : makasih udah review senpai... hhehehe udah saya duga senpai bakal marah sama saya karena kacaunya tulisan chap sebelumnya. hehehe apakah ini tambah kacau? sebenernya saya malu publish tulisan kacau, tapi saya juga pengen update. heheheh jadi dilema ya?
chadeschan : makasih udah review senpai ... gak papa kok. saya biasa manggil senpai sama reviewer saya. biar lebih menghormati. hehehe makasih udah di fav... astaga saya malu banget ada yang fav cerita kacau ini... hehehe gimana chap ini? tersentuh gak? heheh
d3rin : makasih udah review senpai... hohohoh saya juga gak bakal pernah setuju tuh ama ide gila ini. heheeheheh ooo tenang senpai, chap depan si antagonis siap mengacau. hehehe
ichigo4rukia : makasih udah review senpai... gak papa senpai, saya sendiri mengakui bahwa chap kembarin luar biasa hancur. saya sampai mau hapus aja deh daripada ngerusak mata... hehehe chap depan ya acara kawinnya... hehehe
Bad Girl : makasih udah review senpai... hehehe iya saya usahakan chap depan deh... hehehe ini chap nikah, chap depan kawin... hehehe *plaked* Senna? tuh banyak rupanya penggemar Senna ini ya? hehehe chap depan dia siap mengacau kok... hehe
Wakamiya Hikaru : makasih udah review senpai... heheh iya senpai, saya ganti jadi Yukia. soalnya kalo ada dua Rukia kayaknya gak enak. karena ini cerota baru dengan latar belakang Prickly Rose. maaf kalo aneh ya? hehehe
Dewi Anggara Manis : hehehe makasih udah review senpai... iya saya kalo jadi Rukia mending pulang daripada digituin. hehehe nih udah update... review lagi yaa
ruki miyu : makasih udah review senpai hehehe iya emang membingungkan ya? heheh mau gimana lagi senpai? nih ciri author kehabisan ide. hehehe review lagi yaaa.
Purple and Blue : hehe makasih udah review senpai chap depan bakal ada kawinan kok... hehehe review lagi yaa...
udah selesai kan?
nah yang udah baca wajib banget review... itu adalah penghargaan terbesar dan sesuatu yang bisa bikin semangat saya buat update cepet... hehe
Jaa Nee!
