Yaha! Saya datang kembali!

Terimakasih buat undine-yaha sudah saya balas lewat PM.

Buat yang nggak login :

DarkAngelYouichi : Memang tuh, Akachi sukanya godain mbak Isabel terus. Saya juga suka lagunya^^

Semoga saja di chapter ini sudah tiada typo dan kesalahan istilah lagi #ngarep#

Chapter ini akan sedikit bahasa musiknya, jadi saya harap anda tetap menikmati fic ini^^.

Di chapter ini akan ada beberapa lirik yang kuterjemahkan dari yang aslinya, bagi yang tidak berminat baca, silakan di skip tidak apa – apa^^.

. . .

Isabel And The Red Guitar

Chapter 4 : Debut THE BLOOD

By : Hikari Kou Minami

Disclaimer : Eyeshield 21 by Yuusuke Murata & Riichiro Inagaki

Isabel Harvard dan OC lainnya milik saya seorang!

Rating : Teen

Genre : Romance, Tragedy

Warning : AU story, GaJe (so pasti!), abal, misstypo (maybe), time and place set yang membingungkan dan terkesan nggak mungkin, OOC (maybe), nggak ada hubungannya sama sekali dengan American Football, alur cerita yang aneh bin ajib, khayalan tingkat tinggi, dan hal – hal nista yang biasa dibuat oleh author newbie di setiap fandom.

And last, if you don't like this fic, don't read and review even flame at me!

Please, click on 'Back' button if you don't want to continue this fan fiction, I don't forbid you

Disclaimer Song : Without Words by Park Shin Hye (or 9th STREET, whatever), Still/As Ever (Before) by ANJELL

Message : I hope all of you like this

Don't like don't read

=XXX=

Setelah mengirimkan lagu ciptaan Akaba, mereka lalu mulai melakukan latihan akan lagu itu selain mereka juga latihan dengan lagunya Isabel. Setiap hari, setiap waktu, melodi-melodi musik mengalun dari gedung tua itu. Membuat gedung itu terasa lebih hidup, karena sebelumnya gedung itu sudah nampak usang dan tak terawat serta terlihat mati. Dengan musik yang dialunkan oleh para pemuda dan pemudi itu, gedung itu menjadi lebih hidup.

Musik memang ajaib. Dia bisa membuat sesuatu menjadi lebih hidup. Dia bisa membuat orang menceritakan isi hatinya yang terdalam. Dia bisa membuat orang mengekspresikan apa yang sedang dirasakan orang lain maupun dirinya. Dia bisa membuat orang bernostalgia. Dia bisa membuat orang terhanyut dalam khayalan mereka. Dia bisa menenangkan seseorang yang sedang menangis. Dan bahkan mungkin, membuat orang lebih sakit.

=XXX=

Los Angeles, 17.30, December 18th, 2010

Tiga buah mobil hitam mewah terparkir di depan gedung tua itu. Seseorang pria paruh baya dengan dandanan rapi tengah berdiri bersama beberapa orang yang mengenakan pakaian serba hitam—pengawalnya. Mungkin pria paruh baya itu adalah direktur perusahaan rekaman The Blood.

Pintu pun terbuka, keluarlah beberapa anak muda yang juga sudah berdandan rapi meski kasual. Watt dengan shirt kotak-kotak dan dalaman t-shirt hijau lumut dan celana jeans hitam serta sneakers. Felica dengan dress merah selutut dilengkapi dengan bolero jeans berwarna biru tua serta sepasang sepatu high heel. Kevin menggunakan shirt hitam dan jeans hitam serta pantofel hitam. Akaba menggunakan jaket jeans merah dan kaus merah serta jeans hitam pula serta sepatu hitamnya. Dan Isabel, mengenakan jaket hitam dan tank top merah, rok pendek jeans biru dengan legging hitam serta sepatu boots merah.

Peralatan mereka pun juga sudah dibawa lengkap, kecuali Felica dan Watt. Kevin sudah membawa bassnya sendiri, Akaba dan Isabel juga sudah membawa gitar mereka sendiri, dan jika diperhatikan gitar mereka kembar.

"Mr. Caraway, anda sudah datang rupanya. Kami baru saja bersiap-siap." sapa Watt sambil tersenyum lebar. Rick Caraway, atau biasa disapa Mr. Caraway adalah direktur perusahaan rekaman mereka sekaligus orang yang mendorong mereka untuk segera debut.

"Ya. Saya ingin menjemput kalian segera menuju Los Angeles Art Building. Kalian sudah siap dengan lagu kedua kalian, bukan?" tanya Mr. Caraway.

"Tentu saja, Mr. Caraway!" jawab Watt semangat.

"Baguslah! Sekarang kalian masuk mobil dan kita akan segera berangkat ke Los Angeles Art Building." ucap Mr. Caraway menyudahi pembicaraan itu. Watt dan Felica menaiki mobil yang pertama bersama Mr. Caraway, sedangkan Kevin, Akaba dan Isabel menaiki mobil kedua bersama seorang supir. Pengawal-pengawal Mr. Caraway menaiki mobil ketiga. Ketiga mobil hitam itupun lalu segera meluncur cepat di jalanan malam itu. Menuju panggung pertama The Blood, Hall of Los Angeles Art Building.

=XXX=

Hall of Los Angeles Art Building, 18.30, December 18th, 2010

Mereka lalu tiba di sebuah gedung yang terlihat mewah. "Los Angeles Art Building" tertera dengan lampu-lampu berwarna-warni yang berkerlap-kerlip. Ketiga mobil berwarna hitam itupun berhenti di depan pintu masuk gedung itu. Mereka lalu turun.

"Nah, akan kutunjukkan Hall-nya." kata Mr. Caraway sambil berjalan ke arah depan, mendahului mereka. Kelima remaja itu mengikuti langkah sang direktur.

Setelah beberapa menit kemudian, mereka lalu sampai di sebuah aula tertutup yang kini tengah terbuka pintunya. Tulisan "Welcome To The Julia Schwarz 15th Anniversary Concert" tertera di samping pintu itu.

"Julia Schwarz?" gumam Akaba bingung. Sepertinya ia tidak begitu mengenal nama penyanyi itu.

"Seorang pianis sekaligus penyanyi yang mengaransemen dan menyanyikan lagunya sendiri. Ia sudah sangat terkenal di Los Angeles." jelas Isabel yang berada di sisi belakang lelaki itu.

"Oh." Akaba menanggapi.

"Nah, disinilah kalian akan mempersembahkan debut kalian yang pertama!" ucap Mr. Caraway senang. Mereka memandang aula itu tak percaya.

Aula itu begitu luas dan indah. Beberapa kursi ditata apik memenuhi ruangan yang berinterior merah gelap dan putih itu. Pencahayaan panggung pun begitu menarik dipandang. Lampu berlian indah menyala menerangi ruangan itu. Panggungnya pun begitu mewah dengan hiasan berbagai kertas berwarna-warni dan beberapa property background serta sebuah tirai merah yang terulur ke bawah. Beberapa penonton pun sudah mulai memasuki aula. How wonderful debut it is!

"Kita akan melakukan debut kita disini?" tanya Felica setengah tak percaya setengah kagum. Matanya berbinar-binar senang. "Ini bukan mimpi kan?"

"Bukan, Fel! Kita benar-benar melakukan debut disini!" kata Watt gembira. Felica pun tersenyum senang. Begitu juga yang lain, tersenyum senang bahwa mereka akan debut disana. Di panggung yang mewah itu.

"Sekarang kalian ke belakang panggung dulu. 1 jam lagi acara akan dimulai. Kalian persiapkan diri dahulu selama 2 jam. Kalian akan tampil tepat pada pukul 20.00." kata Mr. Caraway sambil mengajak kelima remaja itu pergi menuju back stage.

Sesampainya di belakang panggung, mereka lalu menuju wardrobe untuk sekiranya merias diri mereka sebelum mereka tampil dan sedikit memperbaiki baju mereka, jikalau ada yang robeklah atau kotor.

"Nah, aku tinggal dulu kalian disini. Jika acara sudah dimulai kalian segera pergi ke aula." perintah Mr. Caraway kepada kelima remaja itu sambil meninggalkan mereka. Mereka pun duduk di kursi di wardrobe khusus The Blood.

"Aku tak sabar lagi untuk segera beraksi dalam debut kita!" pekik Watt senang. Semua hanya tersenyum senang, meski dalam hati mereka melodi kebahagiaan teralun dengan sangat indah dan keras. Felica melihat jam tangan mungil yang terpasang manis di pergelangan tangannya.

"Hei, konser akan dimulai!" katanya kemudian sambil beranjak dari kursinya. Keempat orang lainnya pun juga ikut beranjak. Mereka akan melihat dulu penampilan Julia Schwarz di panggung. Menjelang pukul 20.00, mereka akan segera menuju backstage.

Hall of Los Angeles Art Building, 19.00, December 18th, 2010

Para personil The Blood berjalan menuju kursi dimana Mr. Caraway duduk. Mereka pun langsung duduk di tempat duduk mereka. Beberapa kameramen bersiap di depan panggung untuk menyorot setiap aksi sang penyanyi. Pengarah acara mengarahkan beberapa pegawainya.

Sebuah musik pembuka pun terdengar. Tirai merah tadi membuka perlahan dan terlihat sesosok wanita anggun dalam balutan busana gaun berwarna merah menyala yang membuat ia sangat cantik malam itu. Ia tengah duduk di depan sebuah grand piano berwarna putih. Musik pun berhenti.

"Itu dia, Julia Schwarz." gumam Isabel kemudian.

"Cantik seperti biasanya." komentar Watt.

"Serta anggun, itu yang kusuka." kata Felica kemudian. Sementara Kevin tak berkomentar apapun. Akaba jadi tahu, bahwa semua teman personilnya begitu mengagumi sang penyanyi, Julia Schwarz.

Julia lalu menekan tuts piano itu perlahan. Ia lalu menggerakkan jari-jemari untuk menekan tuts-tuts piano itu dengan lembut. Tuts-tuts itu lalu berdenting menciptakan sebuah melodi indah di setiap dentingannya.

Julia menghentikan tangannya. Ia kini membuka mulutnya dan mengeluarkan suara emasnya. Sebuah senandung lirih terdengar. Dia pun melanjutkan permainan pianonya bersamaan dengan senandung lirihnya pula. Suara yang merdu dan indah. Suara itu mampu menghanyutkan para penonton disana. Tak berkedip memandang sang penyanyi.

Detik demi detik, lagu itu mulai mencapai akhir. Tuts berhenti bergerak. Adu jari dan tuts sudah tak terlihat. Lagu selesai. Julia berdiri di depan dan membungkuk sopan.

"Terima kasih untuk seluruh undangan maupun penonton yang sudah bersedia datang di konser lima belas tahunnya saya berkiprah dalam dunia musik. Saya ucapkan terima kasih. Selamat menikmati acara ini." kata Julia dengan tersenyum disusul dengan tepuk tangan para penonton.

Julia pun keluar panggung dan beberapa menit kemudian keluar kembali dengan gaun yang berwarna lain, biru. Lalu ia melakukan aksi panggungnya. Beberapa lagu pun keluar dan juga ada pula dari sebuah penyanyi lain yang menyanyikan lagu Julia.

Menjelang pukul 20.00, tepatnya pukul 19.45, Julia mengganti gaunnya dengan gaun merah yang tadi dan memainkan lagu yang merupakan hits terbesarnya. Liriknya begitu indah tapi juga menyedihkan. Lagu yang bisa menghanyutkan lagi para pendengarnya, personil The Blood pun juga, mereka seakan terbawa entah kemana. Tapi mereka tak akan terlalu terhanyut, karena setelah lagu ini, The Blood akan melakukan debut.

"Hei, kalian harus ke backstage! Persiapan!" perintah Mr. Caraway menyadari jam akan menunjukkan angka 8.

"Baik!" jawab mereka sambil beranjak dari tempat duduk menuju backstage.

"Penampilan yang sangat menawan sekali, Nona Julia Schwarz! Lagu "Eyes On Me"[1] ciptaan anda begitu indah dan bagus sekali! Saya suka mendengar lagu itu sejak anda pertama kali mempopulerkannya!" puji sang MC acara itu. Julia hanya tersenyum lembut. "Sekarang, anda dapat beristirahat terlebih dahulu." kata sang MC kemudian. Julia lalu turun panggung.

Suara sang MC pun terdengar menggema kembali. Tempo detakan jantung tiap personil The Blood semakin cepat. 'Inilah saatnya!' batin mereka kompak.

"Selanjutnya, kita persembahkan sebuah band baru dan akan melakukan debut mereka disini. Band yang baru saja dibentuk dan telah menelurkan dua single. Kita sambut mereka, THE BLOOD!"

=XXX=

Hall of Los Angeles Art Building, 20.00, December 18th, 2010

Giliran mereka tampil pun tiba. Tepat pukul 20.00. Riuh tepuk tangan penonton menarik mereka bangkit dari duduk mereka. Satu persatu dari mereka, lalu berjalan keluar menuju panggung yang cukup mewah. Mereka lalu mempersiapkan diri di posisi mereka masing-masing. Dengan bantuan mekanik disana, Watt mencoba mengetes sound drumnya, Kevin, Akaba dan Isabel mencoba mengetes sound juga serta amplify buat Akaba. Setelah dirasa pas dan tidak ada gangguan, Isabel lalu mencoba mikenya. Oke.

"Kami, The Blood Band, akan mempersembahkan dua buah lagu ciptaan kami. Yang pertama ada Without Words dan yang kedua adalah Still As Before. Karena ini adalah debut pertama kami, kami harap anda menikmatinya. Kami akan mempersembahkan lagu pertama, Without Words." kata Isabel menutup perkenalan bandnya.

Watt memukulkan stik drumnya tiga kali. Setelah ketuka ketiga, Akaba lalu memetik gitar dengan Alternate Picking. Isabel pun menyanyikan lirik lagu ciptaannya itu.

Aku tak akan melakukan itu

Aku akan berpura-pura seolah tak tahu

Seperti aku tak melihatnya, sepeti aku tak dapat melihatnya

Aku tak akan memandangmu di tempat pertama

Aku akan melarikan diri

Aku akan berpura-pura seolah aku tak mendengar

Seperti aku tak mendengarnya, seperti aku tak dapat mendengarnya

Aku tak akan mendengar cintamu di tempat pertama

Tanpa sebuah kata, kau membuatku tahu apa itu cinta

Tanpa sebuah kata, kau memberiku cintamu

Membuatku mengisi diriku dengan setiap nafasmu

Lalu kau melarikan diri

Tanpa sebuah kata, cinta meninggalkanku

Tanpa sebuah kata, cinta membuangku

Bertanya-tanya apakah yang dikatakan selanjutnya

Bibirku terkejut

Keluar tanpa sebuah kata

Mengapa sangat terluka?

Mengapa selalu terluka?

Kecuali kenyataan bahwa aku tak dapat melihatmu lagi

Dan bahwa kau tak disini lagi

Sebaliknya, itu akan menjadi sama saja seperti sebelumnya

Tanpa sebuah kata, kau membuatku tahu apa itu cinta

Tanpa sebuah kata, kau memberiku cintamu

Membuatku mengisi diriku dengan setiap nafasmu

Lalu kau melarikan diri

Tanpa sebuah kata, cinta meninggalkanku

Tanpa sebuah kata, cinta membuangku

Bertanya-tanya apakah yang dikatakan selanjutnya

Bibirku terkejut

Tanpa sebuah kata, cinta meninggalkanku

Tanpa sebuah kata, hatiku terluka

Tanpa sebuah kata, aku menunggu cinta

Tanpa sebuah kata, cinta melukaiku

Aku telah menjadi transparan

Aku telah menjadi bodoh

Dan ku menangis melihat langit

Tanpa sebuah kata, perpisahan menemukanku

Tanpa sebuah kata, akhir mendatangiku

Alat hatiku tersentak untuk memaksamu pergi

Dengan tanpa disangka-sangka

Keluar tanpa sebuah kata

Tanpa sebuah kata, cinta muncul

Tanpa sebuah kata, cinta menghilang

Seperti demam yang kupunya, mungkin semua yang kulakukan melukai untuk sementara

Karena pada akhirnya, hal yang membekas hanyalah luka

Lagu ditutup dengan petikan senar gitar Akaba. Riuh tepuk tangan penonton pun segera menyeruak dari dalam aula itu membuat suatu melodi penutup lain yang terdengar indah di telinga para personil The Blood itu. Membuat seutas garis melengkung ke bawah di wajah mereka. Ternyata mereka berhasil!

Isabel melirik ke arah Akaba. "Laguku diterima oleh mereka dengan baik. Mungkin, aku yang akan menang taruhan," desisnya pelan.

"Fuu.. kita lihat saja dulu." kata Akaba tenang sambil membenarkan letak kacamatanya. Isabel hanya mendecak melihat sikap tenang Akaba. Meski jujur, sebenarnya ia suka jika lagu Akaba juga ikut berhasil, tapi gengsi mengalahkannya. Ia senang jika lagu-lagu band itu dapat diterima oleh para pendengar.

"Ehm, lagu berikutnya adalah Still As Before. Kami harap anda sekalian juga bisa menikmati lagu tersebut." ucap Isabel kemudian.

Watt pun lalu melakukan hal sama. Tapi kini berbeda, Akaba memainkan lagu ini langsung tanpa Alternate Picking dan kali ini keyboard sedikit unjuk nada pada bagian bridge menuju reffrain, bahkan Akaba menjadi back vocal nanti di reffrain dan bridge. Isabel pun lalu menyanyikan lirik lagu itu begitu memasuki intro.

Aku tak berpikir itu cinta

Aku katakan pada diriku itu bukanlah cinta

Aku menipu diriku, tapi hatiku tetap memanggil namamu

Aku ambil satu langkah ke arahmu

Menepismu satu langkah

Setiap waktu, kau tumbuh di hatiku

Aku harus sangat mencintaimu

Harus sangat menunggumu

Walaupun sangat terluka

Sepertinya hatiku tak dapat membiarkanmu pergi

Aku pikir harus ada satu cinta

Aku tak berpikir hatiku akan berubah cinta yang telah kujaga untumu

Sekarang dapat kukatakan padamu

Mata hangatmu

Cinta hangatmu

Terbang lebih jauh, tapi kau masih tumbuh di hatiku

Aku harus sangat mencintaimu

Harus sangat menunggumu

Walaupun sangat terluka

Sepertinya hatiku tak dapat membiarkanmu pergi

Aku pikir harus ada satu cinta

Aku tak berpikir hatiku akan berubah cinta yang telah kujaga untumu

Sekarang dapat kukatakan padamu

Aku mencintaimu

Terkadang cinta, pada saat menangis

Walaupun itu sulit

Aku mencintaimu (aku mencintaimu)

Aku mencintaimu (aku mencintaimu)

Aku hanya butuh engkau disisiku

'

Aku mungkin masih mencintaimu

Aku mungkin mash menunggumu

Otakku mungkin sudah bodoh

Tapi hatiku tak dapat dibosohi

Aku pikir hanya ada satu cinta

Aku tak berpikir hatiku akan berubah

Cinta yang kujaga untukmu

Akhirnya sekarang dapat kukatakan padamu

Aku mencintaimu~

Lagu ditutup dengan petikan gitar -dengan amplify- milik Akaba dan Isabel. Entah, mereka dapat berduet dengan baik di lagu ini. Riuh melodi tepuk tangan kembali terdengar, hampir sama dengan lagu milik Isabel tadi. Sepertinya lagu ini juga diterima oleh pendengar! Sekali lagi mereka sukses! Bukan, debut mereka SUKSES besar!

"Terima kasih." ucap Isabel kepada para penonton sebelum mereka turun dari panggung beserta yang lain. Mereka pun turun dari panggung dan menuju ke tempat wardrobe, dimana mereka beristirahat.

Setelah mereka sampai, mereka langsung diberi tepuk tangan keras dari Mr. Caraway.

"Bravo! Bravo! Kalian hebat sekali tadi! Good Job!" puji Mr. Caraway.

"Terima kasih, Mr. Caraway!" balas Watt sambil mengangguk. Mereka pun tersenyum senang.

"Nanti, setelah konser, kalian boleh kembali pulang. Aku akan mengabari kalian bagaimana debut kalian tadi. Tapi, kalau menurutku, debut kalian hebat!" kata Mr. Caraway kemudian. "Kalau begitu, aku permisi dulu! Kalian istirahat terlebih dahulu saja!" kata Mr. Caraway sambil pergi menuju depan panggung lagi, menyaksikan sang penyanyi utama menyanyikan lagunya yang lain.

"Semoga saja kita mendapat respon yang baik dan kita akan terkenal! Yey!" teriak Watt kencang sekali.

"Watt, suara fortississimomu dapat membuat nenek-nenek di luar gedung ini mendengar dengan jelas apa yang kau teriakan!" ucap keempat orang itu kompak sambil menutup telinga mereka dengan tangan. Watt hanya terdiam melihat kekompakkan mereka.

"Kalian kompak sekali ya," kata Watt tanpa suaranya yang mengerikan bagi telinga tadi.

=XXX=

Some days later...

Isabel's House, December 30th, 2008

*A/N : yang di Italic dan Underline adalah perkataan dalam telepon*

Telepon di ruangan bawah gedung itu berdering kencang. Membuat sebuah nada menyebalkan di telinga sang pendengar yang sengaja mendengar ataupun tak sengaja mendengar. Seorang gadis berambut merah ke arah pink menuruni tangga rumah itu dengan tergesa. Tujuannya tidak lain adalah untuk mengangkat telepon itu. Ia lalu segera ke meja dimana sang telepon berada. Dia kemudian mengangkat gagangnya dan menerimanya.

"Halo," sapa gadis itu—Felica.

"Ah, nona keyboardis ya?" tanya suara di seberang telepon.

"Iya. Ini Mr. Caraway ya?" tanya gadis itu balik.

"Iya. Ini masalah debut kalian." kata Mr. Caraway.

"Ada apa dengan debut kami?" tanya Felica khawatir.

"Begini, debut kalian..."

"Sungguhkah itu?" nada suara Felica berubah riang. "Baiklah! Saya akan segera mengabari teman-teman saya! Terima kasih, Mr. Caraway!" kata Felica sambil menutup telepon dan meletakkan gagang telepon itu kembali. Ia segera berlari ke atas. Berita besar!

=XXX=

Saat Watt, Kevin dan Akaba tengah mencoba instrumen masing-masing, minus Isabel yang tengah asyik memandangi langit dari jendelanya, menikmati angin sepoi yang menerpa wajah cantiknya, Felica datang membuka pintu dengan nafas terengah dan raut wajah senang.

"Fel, kau kenapa?" tanya Watt heran. Ia lalu segera menghampiri Felica.

"Hah.. hah.. tadi.. tadi itu.. hah.. telepon dari... Mr. Caraway... hah.. tentang debut.. kita..hah.. hah..." kata Felica di sela-sela nafasnya. Mereka langsung terkejut dan berjalan ke arah Felica.

"Sungguhkah itu, Fel?" tanya Isabel memastikan. Felica mengangguk pelan sambil masih tersengal-sengal.

"Fuh.. lalu, bagaimana kata Mr. Caraway?" tanya Akaba.

"Mr. Caraway bilang : Debut kalian benar-benar sukses! Lagu kalian langsung diminta sehari setelah konser itu! Keduanya sekaligus! Dan esoknya, lagu itu diupload ke web dan diperdengarkan ke radio-radio di seluruh Los Angeles! Serta lagu itu menjadi hits dan sering direquest oleh para pendengar! Begitu!" kata Felica dengan semangat 45.

"Benarkah? Yey! Kita akan menjadi terkenal!" pekik Watt senang.

"Dan lagu yang paling banyak mendapat sukses adalah Still As Before, menang tipis sekali dari Without Words," kata Felica menambahkan. Isabel tersentak mendengar itu. Sementara Akaba tersenyum tipis mendengar itu. Apakah itu berarti, ia kalah dalam taruhan? Pikir Isabel. Dia harus berkencan dengan sang perebut posisi itu?

"Yang penting kita sukses! Bagaimana kalau kita rayakan ini besok pukul 21.00 di atap gedung ini? Gimana? Sambil melempar kembang api, kan malam tahun baru. Gimana?" usul Watt kemudian. Mereka pun mengangguk setuju dengan penuh senyum—minus Isabel.

"Fuu... ternyata aku yang menang ya, Nona Isabel," goda Akaba.

"Huh! Baiklah, baiklah! Aku mengerti! Aku akan tepati janjiku! Kalau begitu, kapan kita mulainya?" tanya Isabel sambil berkacak pinggang.

"Fuh, besok di Lifestream Playpark, pukul 08.00. Kutunggu di depan gerbang." jawab Akaba kemudian.

"Baiklah, pokoknya jangan sampai pukul 21.00, atau mereka akan membunuhmu!" kata Isabel menyepakati itu.

"Oke!" kata Akaba sambil tersenyum penuh kemenangan. Sementara Isabel memasang raut wajah kesal. Sedangkan tiga lainnya hanya tersenyum senang mendengar kabar menggembirakan itu. Kabar menggembirakan di penghujung tahun dan akan dimulai pada awal tahun. Semoga band The Blood akan bersinar di tahun 2009!

To Be Continued

[1] Lagu di Final Fantasy VIII. Lagu cinta yang bagus banget dan keren, saya suka. Karena sang penyanyi disini (Julia Schwarz) terinspirasi dari salah satu karakter yang membawakan lagu ini di seri Final Fantasy VIII yang juga mempunyai nama yang sama(Julia Heartily).

Huuaaah! Akhirnya, selesai juga chapter ini! Gomenasai minna-san, saya sedikit telat dari biasanya*biasanya juga telat*. Saya sebenarnya nulis chapter ini hanya 3 hari saja, tapi pas saya mau mulai niat mengetik chapter ini, saya malah sakit T_T, jadi saya menelantarkan dulu sementara, sembuhin sakit dulu baru ngetik *curcol mode : ON!*. Tapi syukurlah sudah sembuh^^.

Selain itu pas mau publish, malah pulsa abis dan modem saya, biasa, ngambek! Padahal udah selesai pas malam tahun baru!

Oh ya, bagi yang punya mp3 lagu di atas bisa sekalian diputar pas baca chapter ini^^. Habisnya pas saya mengetik cerita ini, saya juga mendengarkan kedua lagu itu.

Beberapa nama tempat disini dipastikan FIKSI alias saya yang mengarang tempat itu.

Yap, chapter besok semoga aja lebih kerasa unsur romancenya!*ngarep*

Review masih saya tunggu, baik itu kritik, saran, anonymous ataupun flame (yang ada alasannya).

Akhir kata, REVIEW AND HAPPY NEW YEAR 2011!