Aku tengah berjalan menelusuri sebuah lorong gelap yang seakan tidak memiliki ujung. Ditemani dengan sebuah senter kecil bercahaya kuning redup, aku terus berjalan ke depan tanpa melihat ke arah belakang.
Senter tersebut memang tidak sepenuhnya membantuku, tapi setidaknya itu sudah cukup daripada aku harus menyentuh kaca besar di setiap sisi yang mengapit lorong ini. Debu dan sarang laba-laba memenuhi permukaan kaca tersebut, menyebabkan aku tidak bisa melihat apa yang ada di balik kaca tersebut saat ku arahkan cahaya senter kesana.
Drap drap drap drap
Aku berhenti melangkah saat mendengar suara kaki yang berlari dari arah kanan ku. Saat ku arahkan senter ke arah suara tersebut, aku tidak melihat apapun. Itu kosong dang hanya terdapat dinding tua yang sudah di tumbuhi oleh lumut.
Setelah memastikan bahwa tidak ada apa-apa, aku kembali melanjutkan perjalanan. Namun aku kembali berhenti. Di tempat gelap seperti ini, dimana aku tidak bisa melihat apapun tanpa bantuan senter, aku melihat sesuatu di balik salah satu kaca.
Sepasang titik merah menyala yang seperti menghadap pada tempatku. Ku perhatikan baik-baik titik tersebut, sampai akhirnya aku sadar bahwa itu bukanlah titik berwarna merah biasa. Itu adalah sepasang mata merah menyala sedang menatap ke arahku, sambil tersenyum menunjukkan gigi-giginya yang mirip dengan gigi hiu.
Aku langsung berlari ketakutan saat sosok tersebut mencoba mendobrak kaca yang menghalangi tempatku berdiri dengan tempatnya di dalam sana. Jantungku memompa darah dengan cepat, membuatku merasa kalau ia berdetak tepat di dalam telingaku karena suara detakannya yang begitu kuat. Senter yang ku pegang terjatuh saat aku melihat senyum sosok mengerikan tersebut. Dan sekarang, aku benar-benar tidak bisa melihat apapun.
Kakiku terus melangkah dengan cepat. Tak menghiraukan lelah yang mendera, juga nafas yang terputus-putus. Aku terus berlari menuju ujung dari lorong ini. Air mataku mulai mengalir. Aku begitu ketakutan, dan tak tahu harus berbuat apa selain terus berlari dan berlari.
TAK TAK TAK
Aku hampir terjatuh ketika beberapa sosok menyeramkan lainnya mulai muncul dari arah kanan dan kiriku. Mereka mengetuk-ngetuk kaca dengan kuat—mencoba menghancurkan kaca tersebut. Air mataku mengalir semakin deras. Dapat ku lihat mata mereka yang semakin menyala ketika melihatku. Aku kembali berlari. Ku tulikan pendengaranku dari suara-suara ketukan pada kaca yang semakin lama semakin kuat.
Entah sudah berapa lama aku berlari, yang pasti kakiku mulai pegal dan tenagaku sedikit demi sedikit berkurang, membuatku tidak bisa berlari dengan cepat. Sempat ingin berhenti sejenak untuk mengambil nafas, namun suara seperti orang yang merangkak membuatku melangkahkan kakiku semakin cepat.
Di ujung sana, dapat ku lihat cahaya berwarna putih. Apa itu pintu keluarnya? Benarkah itu pintunya? Bagaimana kalau itu cuma halusinasiku saja? Berbagai pertanyaan muncul di benakku. Membuatku sedikit ragu untuk terus melangkah kesana.
Tap tap tap
Suara itu membuatku memutuskan untuk menuju kearah cahaya tersebut. Sedikit lagi aku mencapai cahaya tersebut. Sedikit lagi. Dan akhirnya aku sampai di sana.
"Hosh hosh"
Aku menumpukan tangan pada lutut. Ku hirup oksigen sebanyak-banyaknya seperti seseorang yang rakus akan sesuatu. Jantungku masih berdetak dengan sangat kencang.
Puk
Aku menoleh kearah seseorang yang menepuk pundakku. Ia menyodorkan sebotol air dan langsung aku habiskan dalam beberapa detik saja.
"Sial! Aku tidak tahu kalau rumah hantu ini lebih menyeramkan dan menegangkan dari yang lainnya!"
"Sudah aku katakan bahwa kau takkan sanggup melewati rumah hantu ini, Baekhyun."
"Hei! Aku bahkan tidak menjerit saat berada di dalam sana! Sudahlah, yang penting aku berhasil menyelesaikan tantangan darimu."
"Baiklah-baiklah, dua voucher makan dan senjata baru untuk game mu."
"YEAY! Kau yang terbaik! Aku mencintaimu Chanyeol!"
Is this one year for faux? kkkkk Thank you for liking, following, and reviewing this story! And i'm sorry, i can't reply review y'all, i'm so sorry. And yeah, happy halloween!
