A Beautiful Mistake

A Puella Magi Madoka Magica fanfiction

Puella Magi Madoka Magica © Magica Quartet

Chapter IV

Gratitude


"Oi. Kenapa kau mengikutiku?!"

"Habis, kau mau ke tempat si Tomoe kan? Tentu saja aku harus ikut! Kita kan anggota AAM!"

"Aku nggak mau mengurusimu waktu lawan Penyihir!"

"Eeh? Masa kau tega membiarkan warga sipil yang lemah ini?!"

"Kau sih, terlalu melibatkan diri!"

"Aku 'kan khawatir pada Madoka dan Hitomi!"

Dengan perdebatan dan teriakan yang sedemikian kencang, entah kenapa si merah dan si biru tidak membangunkan warga kota yang tengah nyenyak malam itu.

Setelah perbincangan bersama Homura tadi siang, "Aliansi Anti-Mami" atau AAM (Homura terus mengingatkan Sayaka kalau nama ini sungguh bodoh) secara resmi didirikan. Tujuan mereka jelas: mencegah Mami merekrut Madoka dan Hitomi. Untuk itu, mereka harus mengawasi Madoka dan Hitomi. Tapi, karena Homura dan Kyouko sibuk berburu Penyihir, maka Sayaka mengambil alih.

Ia pun bergerak cepat.

Malam itu, Sayaka pergi ke rumah Madoka (sudah siap alasan belajar bersama). Tapi, yang didapatinya hanya papa Madoka, Tomohisa Kaname, yang mengatakan kalau putrinya itu pergi ke rumah seorang senpai.

"Tomoe. Tentu saja..."

Setelah itu, Sayaka menuju kediaman keluarga Shizuki, tapi anak itu juga sedang keluar. Pelayannya tidak mengatakan ke mana sang ojousama pergi, tapi Sayaka sudah bisa mengambil kesimpulan.

"Mami Tomoe...!" Sayaka menggeram.

Tidak kapok juga si dada besar itu! Setelah didesak dan didebat habis, masih juga ngotot menyeret Madoka dan Hitomi! Ini membuat Sayaka amat marah, jadi ia berniat menyerbu apartemen Mami untuk menyampaikan pendapatnya (alamat itu didapatnya dari Homura)... tapi tentu saja apartemennya terkunci karena penghuninya keluar berburu Penyihir.

"Aku... memang bodoh."

Maka, Sayaka hanya bisa berjalan pulang dengan perasaan amat dongkol. Saat itulah ia bertemu dengan Kyouko, yang menertawai ceritanya. Tapi, si rambut merah salah ngomong bahwa ia bisa mendeteksi lokasi Mami...

Sehingga Sayaka pun ngotot mengikutinya, dan sampailah kita pada pertengkaran ini.

Kyouko, dengan kostum Puella Magi-nya; melawan Sayaka, yang memakai baju kasual. Perdebatan ini terlihat amat berat sebelah, seperti petani melawan ksatria bertombak (oke, mungkin itu perbandingan yang terlalu berlebihan), tapi Sayaka tak mau menyerah. Kyouko sendiri berulangkali hampir mengeluarkan tombaknya untuk membungkam si lawan bicara... tapi akhirnya ia menyerah.

Itu karena kekhawatiran Sayaka pada Madoka dan Hitomi, sungguh nyata. Kyouko tidak kenal 2 anak itu, tapi ia bisa memahami perasaan Sayaka. Bukankah dulu ia juga sempat terseret temponya Mami, menjadi sok pembela kebenaran? Akhir jalan itu mirip seperti neraka baginya... maka Kyouko mau mengerti.

"Aaaaah, baiklah, baiklah! Kau boleh ikut!" kata Kyouko, pasrah. Lagian, kalau sukses mencegah kontrak Madoka dan Hitomi, berarti menyingkirkan calon Puella Magi 'kan? Sebenarnya tak ada ruginya buatnya berbuat begitu.

Wajah Sayaka langsung bercahaya mendengar perkataan itu, Kyouko yakin matahari terbit lebih cepat. Senyuman anak itu memang begitu menyilaukan.

"Hm, pasta giginya bagus," pikir Kyouko.

"Terimakasih, Sakura! Besok kamu kutraktir deh, sebagai bayaran jasa bodyanguard hari ini!"

Dalam sekejap, Kyouko berlutut di depan Sayaka, dengan ekspresi khidmat. Ia menghunus tombak dan menancapkannya ke tanah, lalu berkata dengan amat serius, layaknya seorang ksatria yang bersumpah setia kepada seorang putri.

"Akan kulindungi kau sekuat tenaga, Sayaka!"

Sayaka mengangkat alisnya sejenak, lalu tertawa geli. Sifat cueknya Kyouko langsung hilang setelah bicara tentang makanan! Seperti bernegosiasi dengan anak kecil saja. Tapi...

"Hei! Siapa bilang kau boleh manggil aku begitu-?!"

...

Tempat itu adalah kompleks industri tua di pinggiran kota Mitakihara. Awan menutupi bulan sabit yang terbit di langit malam, menciptakan bayangan gelap yang menambah kesan suram dan mengerikan tempat itu. Di sana, tampak 2 gadis kecil yang semestinya ada di dalam rumah pada jam selarut ini... seorang berambut kuning yang memancarkan aura kepercayaan diri, dan seorang lagi berambut pink yang seperti tak ada istimewanya. Mereka berdiri di sebuah tempat lapang, dengan cahaya aneh berkelip-kelip di tengahnya.

Itu adalah pintu masuk Labirin Penyihir... tapi pendaran cahayanya tampak begitu lemah. Sepertinya, Penyihir di dalamnya sudah dikalahkan.

Mami bangkit dari posisi berlututnya, "Sepertinya kita terlambat, Kaname-san."

"H-haa... m-maaf, aku memperlambatmu, Mami-san," si rambut pink terengah-engah.

"Tak apa, tak apa," Mami memasukkan Soul Gem miliknya, dan kembali ke baju kasual. "Malahan, kita patut bersyukur karena Penyihirnya sudah kalah."

Madoka mengelus dadanya, ia tampak lega mendengar itu. Tapi Mami tidak merasakan hal yang sama, karena ia tak mengenal pemilik energi sihir yang merembes dari Labirin di depannya itu. Jelas, ada seorang Puella Magi baru di dalamnya... tapi, siapa?

Trang!

Bunyi logam beradu dengan lantai tiba-tiba terdengar, dan Mami secara reflek langsung berubah menjadi Puella Magi. Ia menoleh, dan...

"Cih, sudah kuduga kau ada di sini."

Suara dan wajah yang memunculkan perasaan nostalgia. Rambut merah seperti api, kostum Puella Magi yang berkobar, dan tombak itu... Mami seolah terkena serangan berupa kenangan yang menyerbu tiba-tiba. Ia hanya bisa menutup mulutnya yang membulat dengan sebelah tangan.

"S-Sakura-san?"

"Yo. Nggak ada ucapan selamat malam dariku buatmu, Mami," sapa Kyouko, sarkastik.

"Kenapa... sejak kapan kamu kembali?"

"'Kembali'? Peh," Kyouko mendecak. "Mitakihara bukan rumahku... tapi Kazamino, ingat?"

Mami tahu... tapi, perlukah si rambut merah mengingatkannya dengan nada bicara setajam itu? Memang beberapa bulan lalu, Kyouko yang tadinya anak didik Mami, berselisih dan kembali ke Kazamino. Sejak saat itu Mami tak pernah mendengar darinya lagi...

Sampai hari ini.

Tiba-tiba ia muncul kembali di kehidupan Mami begitu saja. Tapi, mendengar nada bicaranya, sepertinya ia masih kesal sama Mami.

"Kamu sehat-sehat saja ya, Sakura-san..." mungkin bukan saat yang tepat untuk hal sepele seperti itu, tapi jujur, hanya itu yang terpikir oleh Mami. Ia tampak lega, Kyouko masih hidup sampai sekarang, dan tidak meninggalkan tugasnya sebagai Puella Magi. "Sakura-"

Mami mencoba menyapanya lagi, tapi teriakan marah terdengar dari latar belakang. Tak lama, Sayaka muncul dengan kecepatan tinggi, sampai-sampai ia harus mengerem seperti di film kartun untuk berhenti. Tapi ia kepayahan, jadi berhenti untuk menarik napas. Kyouko bersiul, kagum si rambut biru bisa mengejarnya dengan tubuh manusia biasa seperti itu.

"H-hha... haa... oke," Sayaka menegakkan tubuhnya, dan mengabaikan pandangan gugup Madoka, menuding Mami. "Kau! Mami Tomoe! Kau menghasut Madoka lagi, ya?!"

Tentu saja yang dituduh tidak terima. "Tentu saja tidak," ia membusungkan dadanya, dan membalas dengan tak kalah judes, "Namun, beginikah caramu bermain, Miki?! Sampai menyeret Sakura-san segala?!"

"Aaah?!" Sayaka berteriak, kedua alisnya terangkat tinggi. Ia lalu berjalan mendekati Mami, berniat mengkonfrontasinya atas perkataan tadi, ketika...

BLARRRR!
Labirin di depan mereka meledak ke dalam, seperti balon yang udara di dalamnya tiba-tiba menyusut menjadi kehampaan. Mami dan Kyouko, mengabaikan perbincangan yang mulai panas tadi, segera bersiap dengan senjata masing-masing...

Sampai Labirin itu memuntahkan sesuatu yang berwarna hijau, seorang gadis dengan kostum Puella Magi dan Kyubey di dekatnya. Gadis itu berbincang dengan Kyubey tanpa mempedulikan kehadiran Sayaka dan yang lain, sampai si putih menoleh.

"Ah. Sudah kuduga, mereka di sini. Selamat malam, semuanya!" sapanya.

Perhatian Sayaka dan yang lain tidak pada Kyubey, tapi pada si hijau itu. Ia mengenakan gaun panjang, lengkap dengan sarung tangan yang menutupi lengannya bagaikan hendak menghadiri pesta, dan... pisau, tergenggam di kedua tangannya. Rambutnya berombak, senada dengan kostumnya.

"Ayo, Hitomi, ucapkan selamat malam juga buat mereka! Menurut tradisi negara ini, junior sepertimu harus menyapa para senior, kan?"

Hitomi Shizuki mengangkat wajahnya, dan berkata, "Malam yang indah, semuanya."

"?!"

Tak ada keraguan sedikitpun dalam perkataannya, bahkan ketika menatap wajah-wajah shock Sayaka dan Madoka (juga Mami). Ia seperti sudah menduga akan bertemu teman-temannya itu, dengan menyandang profesinya yang baru: seorang Puella Magi.

"Hi-Hitomi-chan?!" hanya Madoka yang bisa berkata-kata di tengah kesunyian mendadak itu.

"Ya. Ini aku, Madoka-san," Hitomi menundukkan badan dan mengangkat rok panjangnya, melakukan curtsey layaknya ia ada di sebuah pesta dansa. "Juga Sayaka-san dan Mami-san... lalu, hmm? Ada seorang yang tidak aku kenal."

Ia merujuk pada Kyouko, yang kini menatapnya tajam karena lagi-lagi dapat Puella Magi saingan. Hitomi mendekatinya dan menjulurkan tangan.

"Perkenalkan, namaku Hitomi Shizuki. Aku berharap kita bisa bekerjasama."

"Aku nggak berharap begitu," Kyouko mengabaikan ajakan itu. "Kau, tadi siang ada di kafe itu kan?"

"Kafe...?" Hitomi menyentuh bibir bawahnya, mencoba mengingat. Tadi siang... ia memang ada bersama Mami dan yang lain di kafe Arnage, berbincang (kalau tidak bisa dibilang berdebat keras) tentang Puella Magi. "Ah, benar. Memangnya-"

"Sakura-san, jangan bilang kalau tadi siang kamu menguping pembicaraan kita?" tanya Mami, sudah pulih dari shock-nya.

"Ah, itu nggak penting," si merah mengibaskan tangan. "Yang lebih penting. Kau, Shizuki kan? Apa kau nggak dengar apa yang dikatakan Homu? Tentang Puella Magi yang pasti berselisih karena berebut Soul Gem demi diri sendiri?"

"Ya, tentu saja, dan aku sudah siap," jawab Hitomi, tegas. Justru dari perbincangan tadi ia semakin mantap pada keputusannya menjadi Puella Magi demi menyembuhkan lengan Kyousuke. Ia tak terlalu peduli soal zombi dan Soul Gem, yang terpenting baginya adalah cowok itu. Hitomi meletakkan tangannya di dada, dan menatap kedua Puella Magi lain di depannya, "Aku takkan kalah dari Mami-san, Akemi-san, dan kamu juga. Mari kita bersaing dengan jujur."

Itulah kejadian beberapa saat sebelum Sayaka menelpon Homura dengan panik.

-xXxXx-

Pengalaman apapun yang Homura dapat dari loncatan waktunya, tak ada yang bisa mempersiapkannya untuk melakukan ini...

Yaitu, menghibur Sayaka Miki.

Kalau Madoka, mau berapa jam pun menemaninya curhat, Homura rela! Ia takkan pernah bosan mendengar suara Madoka yang manis itu, bagaikan musik di telinganya. Tapi, Sayaka? Musuh bebuyutan–yang di alur waktu ini bisa dibilang temannya? Yang diingat Homura adalah menasehati, atau mengomeli, atau memarahinya. Ia tak pernah sekalipun bicara akrab dengan Sayaka, mencobanya saja tak mau.

Jadi, kini ia kehabisan kata-kata, meskipun di seberang sana suaranya terdengar begitu basah.

"Homura... apa yang harus kulakukan? Beritahu aku, ne!"

"..." si pejalan waktu berpikir keras. Ia merasa ingin menendang dirinya sendiri... bisa-bisanya melupakan faktor Hitomi! Bukankah Sayaka, di alur waktu lain, jadi Penyihir juga karena si hijau itu juga? Saat ini, Sayaka masih manusia biasa... tapi jika saja ia sudah menjadi Puella Magi, Homura yakin si biru itu sudah dalam proses menjadi Penyihir.

Memang, sebegitu besarnya efek yang ditimbulkan seorang Hitomi Shizuki.

"Ya. Ini salahku karena mengabaikannya," pikir Homura. "Karena selama ini, Hitomi Shizuki tak pernah terlibat jauh. Ia bisa dibilang pemilik peran pembantu..."

Ia hanyalah seorang penonton dari samping panggung, yang entah kenapa bisa berinteraksi dengan para pemain utama dan mengacaukan dramanya. Sekarang, setelah ia terlibat langsung... efeknya sungguh besar.

Dari lompatan-lompatan waktu yang dilakukannya, Homura–mau tidak mau–mengenal baik para Puella Magi di Mitakihara ini.

Mami yang dewasa dan lebih bijak dari gadis seusianya, di balik itu menyimpan rasa kesepian yang teramat sangat; Kyouko yang rakus dan kasar, sebuah topeng yang dibuat untuk memendam tragedi yang ia pikir disebabkan olehnya; Sayaka yang optimis dan tegar demi orang lain, tapi menutupi kerapuhan dan keraguan jiwanya; dan Madoka, yang baik hati dan mulia bagaikan santa tak bercela, rela mengorbankan diri... karena ia merasa dirinya tak berharga.

Tapi, Hitomi Shizuki?

Yang diketahui Homura darinya adalah: "ia sahabat Madoka dan Sayaka", dan kemudian, "pengganggu yang menjatuhkan Sayaka." Dua predikat yang amat bertolak belakang.

Sekarang, ia merasakan sendiri akibatnya; Homura seperti tak pernah belajar bahwa dalam misinya ini ia tak boleh melewatkan apapun. Semua orang punya peran dalam kisan ini. Bagaikan sebuah role-playing game, para NPC pun juga berperan dalam cerita keseluruhan.

Jadi, apa yang bisa dilakukan Homura sekarang?

Tak lain tak bukan, mengkonfrontasi Hitomi Shizuki sendiri. Ya, tak ada pilihan lain. Semua sudah terlanjur terjadi, dan sekarang Homura (juga Sayaka) harus menghadapinya.

Maka, si rambut hitam membuka mulutnya, "... aku mengerti perasaanmu."

Suara itu keluar dengan sedikit getaran. Jujur, kini Homura merasa gugup dan bingung... ini masuk teritori baru. Untungnya, Sayaka di seberang tidak menyadari ini.

"Semua yang telah terjadi, Hitomi Shizuki membuat permintaan dan menjadi Puella Magi, tak bisa kita cegah," kata Homura. "Bukan. Aku dan kamu, tak berhak mencegahnya."

Kalimat itu membuat Sayaka penasaran, "A-apa maksudmu?"

Homura menghela napas panjang. Ini akan jadi fakta yang menyakitkan buat Sayaka, tapi ia harus tetap mengatakannya... karena menurutnya, ini langkah pertama untuk menghadapi masalah ini.

"Sayaka, apa sebelum ini, Hitomi Shizuki pernah bercerita padamu... tentang perasaannya kepada Kyousuke Kamijou?"

Hening sejenak, lalu...

"EEEH?!" Sayaka memekik kaget. "Hitomi suka sama Kyousuke?!"

Suaranya kembali terdengar seperti Sayaka yang biasa. Sepertinya Homura sukses meredakan tangisannya, entah bagaimana.

"K-kok bisa... ah, bukan, dari mana kamu tahu ini?!"

"Aku mengambil kesimpulan dari beberapa fakta," kata Homura. "Sekarang, pikirkan. Buat apa Hitomi Shizuki menyembuhkan lengan Kyousuke Kamijou?"

"... karena ingin mendengar Kyousuke bermain biola lagi? Eh, tunggu-"

Sayaka terdiam sejenak, ia bisa merasakan Homura mengangguk di seberangnya.

"Oh. Oooh."

"Ya. Itu dilakukannya karena ia juga menyukai Kyousuke Kamijou."

Homura mendengar suara sesuatu yang jatuh di seberang, karena Sayaka menjatuhkan dirinya ke atas ranjang, shock. Sahabatnya itu... diam-diam menyukai cowok yang sama dengannya?!

"Tapi... kenapa? Kenapa Hitomi melakukan ini tanpa memberitahuku?! Bukan hanya soal perasannya ke Kyousuke, tapi juga kontraknya sebagai Puella Magi! A-aku 'kan sahabatnya!"

Terdengar bunyi berdebam, sepertinya Sayaka memukul sesuatu. Mungkin ranjangnya.

"Kenapa dia... merebut harapanku?" gumam Sayaka, suaranya lirih seolah tertelan jauhnya jarak yang memisahkan mereka.

Deg.

Perkataan itu menusuk telak hati Homura.

"... kalau, aku nggak tahu soal Puella Magi yang zombi, mungkin aku yang akan melakukannya. Aku akan menyembuhkan tangan Kyousuke, dan... menjadi pembela kebenaran," suaranya sudah diselingi dengan isak tangis, lagi.

"Benar," Homura menjawab pernyataan itu dalam hati. Dua hal itulah pengharapan Sayaka ketika ia menjalin kontrak dengan Incubator. Demi cintanya, demi teman masa kecilnya, demi dirinya sendiri, dan demi orang lain. "Sayaka, kamu terlalu rakus, dan kerakusan itulah yang akan menghancurkanmu."

Tapi, sekarang semua itu telah direbut orang lain. Sahabatnya, malahan.

Di satu sisi, Sayaka (mungkin) selamat dari takdirnya. Sedangkan di sisi lain... Homura tak bisa membayangkan apa yang dirasakan lawan bicaranya saat itu.

"Sayaka."

Ia tak menjawab, meskipun Homura masih mendengar isak tangis dari seberang.

"Sayaka..."

Sekarang isak tangisnya teredam. Sepertinya Sayaka membenamkan kepalanya atau apa... dan ini mulai membuat Homura khawatir.

"Sayaka, kamu masih ada di sana?! Jawab aku!" ia berteriak. Jarang sekali Homura menaikkan suaranya, bahkan saat marah sekalipun. "Jangan melakukan hal bodoh! Saya-"

"... Homura."

Si biru akhirnya menjawab. Suaranya kini benar-benar serak.

"U-untuk hari ini sudah cukup, se-sekarang biarkan aku sendiri-"

Oh, ayolah. Sudah cukup Homura meladeni patah hatinya! Ia membentaknya, "Sayaka! Jangan berlagak sok kuat!"

Teriakan yang di luar karakter itu menghentikan jari Sayaka dari menekan tombol 'Akhiri Panggilan'. Ia terpaku, mengabaikan telinganya yang berdenging. Homura yang pendiam itu, benar-benar bisa berteriak rupanya.

"Jangan sok menanggung semuanya sendirian," Homura melanjutkan meskipun ia mulai merasa ada yang aneh. "Eh, tunggu. Apa yang kukatakan?"

Tapi, mulutnya terus bergerak sendiri, mengabaikan pemikirannya.

"Madoka boleh mencuekimu, Mami Tomoe boleh menganggapmu idiot, Hitomi Shizuki boleh menusukmu dari belakang, Kyouko Sakura boleh bersikap judes padamu. Dan, meskipun kemudian mereka semua meninggalkanmu...

"Aku masih bersamamu, Sayaka."

Suasana jadi hening setelahnya... bahkan Homura bisa mendengar desahan napas Sayaka di seberangnya, yang perlahan menjadi normal. Tapi...

Detak jantungnya sendiri tak terkendali.

"Apa yang barusan kukatakaaaaaaan?!"

Homura memegang kepalanya dengan tangannya yang tidak memegang telpon, dan menggaruk rambutnya kasar. Itu... itu barusan, adalah kata-kata pernyataan cinta yang selalu ingin Homura ungkapkan ke Madoka! Kenapa kalimat itu bisa keluar kepada Sayaka?!

"A-apa aku terlalu terbawa suasana?" pikirnya, panik.

Ia tak mau ada orang lain yang mendengar kalimat tadi, karena berpotensi menimbulkan kesalahpahaman yang luar biasa. Jelas saja, tak perlu berpikir terlalu jauh untuk mengartikannya sebagai pernyataan cinta. Atau, minimal pernyataan loyalitas melindungi seseorang. Yang tetap saja sangat romantis.

Meskipun begitu,

"T-tapi, ini Sayaka... dia tak mungkin berpikir sejauh itu! Ya, ya...!" Homura meyakinkan dirinya sendiri. "Tak ada yang salah dengan perkataan tadi! Hanya penghiburan dari teman!"

Tiba-tiba, suara yang paling tak ingin ia dengar sekarang, bergema dari seberang sana.

"Homura."

Itu nyaris membuat yang terpanggil menerima serangan jantung. "Y-ya?!"

"Terima kasih."

Kata-kata itu terdengar begitu jelas, ringan seolah beban si pemilik suara sudah terangkat sepenuhnya. Homura seolah melihat Sayaka tersenyum padanya dari seberang telepon.

Maka ia melupakan seluruh kepanikannya tadi dan menjawab,

"Tentu saja, Sayaka."

"Ya... sampai besok di sekolah kalau begitu. Hati-hati sama Penyihir."

Sayaka menutup teleponnya, dan kembali berbaring di atas ranjang. Air matanya sudah mengering, walaupun kedua matanya masih lebam karena tangisan tadi.

Semestinya ia merasa lega karena penghiburan dari Homura tadi, tapi... jantungnya berdegup amat kencang, dan kedua pipinya terasa panas.

Ini pasti bukan karena kecapekan menangis.

"Ada yang aneh denganku..." gumam Sayaka.

-xXxXx-

Keesokan harinya, tak ada yang berubah dari Sayaka, kecuali matanya yang lebam karena kekurangan tidur (dan juga kebanyakan nangis). Bahkan, si biru masih sempat menyusun rencana untuk mengkonfrontasi Hitomi. Ia terdengar sangat jahat waktu mengajukan idenya, jadi Homura yakin kalau Sayaka sudah baik-baik saja.

Maka, mereka menyergap si hijau di gerbang, sepulang sekolah.

"Ya. Aku menyembuhkannya, karena aku menyukai Kamijou-kun."

Pernyataan singkat penuh ketetapan hati ini menjadi jawaban yang diterima Sayaka dan Homura.

Sayaka membeku. Ia sudah mempersiapkan hatinya demi mendengar perasaan sahabatnya itu... tapi tetap saja, mendengarnya langsung cukup menyakitkan.

Bagaimana bisa Hitomi melakukan ini padanya? Sayaka adalah teman masa kecil Kyousuke dan sering menceritakannya, sehingga Madoka dan Hitomi mengetahui perasaannya kepada anak itu. Madoka selalu mendukungnya; ia selalu menemani Sayaka saat berburu CD musik sebagai hadiah besukan, bahkan ikut membesuk kalau Sayaka lagi grogi entah karena apa. Sedangkan Hitomi...

Sayaka tak bisa menyombongkan diri sebagai orang yang bisa mengerti perasaan orang lain, tapi ia yakin,

Hitomi tak pernah mempedulikan ataupun terlihat tertarik pada Kyousuke. Bahkan Sayaka tak yakin si hijau itu benar-benar mengenalnya!

"J-jadi, kenapa?" tanya Sayaka kemudian, setelah rasa sakitnya sedikit memudar. "Kamu kan sahabat-"

"Justru karena kita ini sahabat," Hitomi menatap tajam si biru. "Sayaka-san adalah teman masa kecil Kamijou-kun, yang paling lama mendukung dan memperhatikannya. Aku tahu perasaanmu padanya, tapi, aku tak bisa mencegah diriku jatuh cinta. Aku serius soal Kamijou-kun, maka aku ingin bersaing secara adil denganmu.

"Jadi, anggaplah ini pernyataan perang dariku."

Sayaka terhenyak. Kesiapan Hitomi itu benar-benar berbeda darinya.

Memang, Sayaka menyukai Kyousuke. Ia tak tahu apa yang menariknya ke cowok kalem yang hobi bermain biola itu. Sikapnya? Atau musiknya? Atau karena efek 'teman masa kecil'? Yang jelas, perasaan ini sangat berharga buatnya.

Tapi, sekian lama bersama Kyousuke, ia tak juga berani bertindak.

Kenapa, takut? Jelas takut! Sayaka tak mau merusak persahabatannya dengan Kyousuke hanya karena alasan 'cinta'. Selain itu, Kyousuke kini berada dalam fase krisis kepercayaan diri karena kecelakaan yang melumpuhkan lengannya.

Sehingga Sayaka pun bisa merasa tenang hanya dengan berada di sampingnya.

Kini, setelah ada saingan kuat yang muncul, ia tak bisa bereaksi sedikitpun. Hanya terdiam, melongo, diceramahi sang rival/sahabat dekatnya.

"Kalau kamu memang menyukai Kamijou-kun, lawanlah aku sekuat tenagamu!" Hitomi menudingnya.

...

BRAK!

Kyouko menggebrak meja, membuat Sayaka meloncat dari duduknya. Homura, di lain pihak, meletakkan cangkir teh dengan anggun dan menoleh kepada si merah, seolah berkata, 'Jangan rusak mejanya.'

"Apa-apaan si daun bawang itu?! Menjadi Puella Magi demi cowok yang dia suka... dan di saat yang sama, merebutnya darimu?!" teriaknya.

"'Me-merebut'?" wajah Sayaka memerah. "Bukan! Aku dan Kyousuke bukan-"

"Kau kan teman masa kecilnya, dan di cerita-cerita biasanya kamu yang pantas menang!" Kyouko menuding Sayaka, membuat jari yang belepotan krim cake menyentuh hidungnya.

"U-uuh, itu terlalu klise, Sakura," jawab Sayaka. "Dan tanganmu kotor!"

"Hmph!" Kyouko mengabaikan si biru dan menghempaskan dirinya ke sandaran sofa. "Aku nggak terima! Dia main curang dengan bantuan Kyubey dan sihir!"

"... kau bisa katakan itu lagi," pikir Homura.

Sesuai janjinya ke Kyouko, Sayaka mentraktirnya makan cake... sekaligus dengan Homura di apartemen keluarganya. Si rambut hitam pun menjadikan acara minum teh ini sebagai rapat konsolidasi AAM... dan Kyouko langsung meledak begitu mendengar soal Hitomi dari Sayaka.

"Lagian, si Hitomi itu mengharap demi orang lain!" Kyouko melanjutkan omelannya, dengan mulut penuh cake. "Kebodohannya tak kenal batas!"

"H-hah?" ini menarik perhatian Sayaka. "Apa maksudmu? Bukankah mengharap keselamatan atau kesembuhan orang lain itu bagus?"

"Itu kan kalau buat manusia biasa! Tapi kita ini Puella Magi! Kita ini egois seperti dikatakan Homu," Kyouko menolehi Homura yang mengernyitkan dahinya mendengar panggilan imut itu. "Jadi harusnya kita juga memohon demi diri sendiri!"

"Eeeh, kok bisa?"

"Jelas bisa! Kalau kau memohon demi orang lain..." Kyouko terdiam sejenak, ia menggigit bibir bawahnya. Ia teringat permohonannya yang menghancurkan keluarga Sakura. "Maka kau akan menghancurkan dirimu sendiri."

Sayaka hanya bisa memiringkan kepalanya, tak mengerti apa maksud perkataan tadi. Ia ingin menanyakan ini lebih lanjut, tapi mengurungkannya karena Kyouko tampak benar-benar marah. Maka, ia mengalihkan perhatiannya pada Homura...

Menyadari pandangan Sayaka, si hitam menurunkan cangkir tehnya, dan menjawab dengan telepati, "Sepertinya itu luka lama. Jangan kamu sentuh-sentuh lagi."

Tentu saja, Homura mengetahui masa lalu Kyouko.

"T-tapi! Mendengar yang barusan, aku juga jadi khawatir sama Hitomi!"

"... kamu terlalu baik, Sayaka."

Pujian yang terdengar sarkastik itu malah membuat wajah si biru merona. Homura tidak menyadari apa efek perkataannya tadi, dan memandang Kyouko.

"Sakura-san. Kamu kemarin bertemu dengan Mami Tomoe dan Madoka, bukan?" pertanyaan ini dijawab dengan anggukan singkat. "Apa yang terjadi dengan mereka setelah kemunculan Hitomi Shizuki?"

"Hmm?" Kyouko melahap sepotong cake lagi, "Mereka shock berat... Mami pasti mikir karena Shizuki dulu mengikutinya, maka otomatis dia akan ikut kelompoknya... tapi nggak, dia milih beraksi sendiri," Kyouko mengangkat bahunya.

"Kalau boleh jujur, aku sedikit... sedikit, kuulangi, lega. Karena Hitomi memilih menjadi Puella Magi bukan karena ajakan Tomoe, tapi keputusannya sendiri," tambah Sayaka, suaranya tidak jelas karena ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Ia masih dongkol karena ditusuk dari belakang oleh sahabatnya itu.

Informasi ini membuka beberapa jalur bagi Homura.

"Jadi, di mana posisi Hitomi Shizuki sekarang? Kawan... atau lawan? Aku bisa merekrutnya untuk melawan Walpurgisnacht, tapi..." Homura menatap Kyouko yang masih menggerutu, dan kemudian Sayaka yang memain-mainkan cake-nya dengan malas, "Aku bisa mengacaukan solidnya kelompok ini."

Jika yang dimaksud kelompok adalah kumpulan 3 orang tidak beres itu.

Seorang pejalan waktu yang obsesif, seorang rakus yang super egois, dan seorang lagi tak bisa apa-apa selain merepotkan yang lain.

Homura ingin menepuk dahinya keras-keras memikirkan ini.

"Aku masih bisa diam-diam mengontak Hitomi Shizuki, sih. kalaupun nantinya ada masalah, pasti akan tenggelam bersama ancaman Walpurgisnacht."

Itu keputusan yang sangat pragmatis, tapi apa boleh buat. Tujuan Homura takkan berubah hanya karena beberapa perubahan cerita seperti ini.

"Jadi, apa langkah kita selanjutnya, Homura?"

Pertanyaan Sayaka menyadarkan si rambut hitam dari lamunannya. Kedua anak itu menatapnya, menantikan keputusan darinya selaku ketua AAM tak resmi (karena menurut Sayaka, Homura yang paling pintar di antara mereka).

"Tak ada perubahan. Kita tetap mengawasi Mami Tomoe, agar dia tidak menyeret Madoka-"

"Itu terlalu pasif!" komentar Kyouko. "Lagian, gimana dengan Shizuki itu? Sekarang ada 4 Puella Magi dalam 1 wilayah, perebutan Soul Gem bakal makin sengit! Dan kuingatkan, aku nggak mau mengalah. Bahkan kepadamu, Homu."

Benar, masih ada masalah itu.

Mitakihara memang kota besar, dan karenanya, banyak manusia beserta masalah-masalah mereka yang menarik kedatangan Penyihir. Tapi, jumlah Penyihir yang muncul takkan seimbang dengan jumlah Puella Magi. cepat atau lambat, perselisihan akan terjadi. Kalaupun tidak, pasti ada yang akan tergencet kerasnya persaingan berebut Soul Gem.

Jika itu, terjadi... Puella Magi itu akan menjadi Penyihir, dan rencana Homura bisa berantakan. Padahal, masih ada 2 minggu sebelum kedatangan Walpurgisnacht.

Bisakah kesenjangan situasi ini bertahan selama itu?

Kuncinya mungkin ada di...

"Oke. Sedikit perubahan rencana," Homura menyilangkan jari-jarinya di depan wajah. "Kita juga harus mengawasi Hitomi Shizuki-"

"Serahkan padaku," Kyouko memotong perkataan Homura. Ini menarik perhatian dua rekannya, jadi ia menjelaskan, "Homu, kau bisa terus mengawasi Mami, karena kupikir kau benar-benar serius ingin menghentikannya. Sayaka, kau awasi si pink, temanmu yang tersisa itu."

Ini membuat Homura menaikkan alisnya. Kyouko mengambil alih perencanaan?

Sementara Sayaka bangkit dari duduknya dan memprotes, "Oi, sejak kapan kau membuat rencana untuk kelompok kita-"

"Sejak sekarang."

Mendengar tegasnya suara Kyouko dan betapa seriusnya wajah anak itu, Sayaka menelan ludah. Ia belum pernah melihatnya seperti itu...

"Homu, kau setuju?" Kyouko menolehi si rambut hitam, yang lagi-lagi tenggelam dalam dunia pemikirannya sendiri.

"..."

-xXxXx-

"Kamu yakin ada di sini, Kyubey?" tanya Hitomi pada si putih yang duduk di pundaknya itu.

"Benar. Tapi Hitomi, ini familiar, bukan Penyihir. Apa kamu yakin mau melawannya? Kamu takkan mendapat Grief Seed, lho," jawab Kyubey.

Mereka berdua saat itu ada di wilayah pinggiran kota Mitakihara, lebih tepatnya di kompleks apartemen kumuh. Di tempat dengan banyak gang sempit yang mirip labirin itu, Hitomi mendeteksi pancaran sihir, dan dengan bantuan deteksi Kyubey segera mendatanginya.

"Tak apa," Hitomi mengeluarkan Soul Gem miliknya, yang memancarkan cahaya kehijauan lembut di sekitarnya, kemudian segera berubah ke kostum tempurnya, "Kalau dibiarkan, familiar akan memangsa orang dan menjadi Penyihir, bukan? Lebih baik mencegah itu terjadi."

"Hmm, aku tak bisa bilang itu keputusan yang tepat," kata Kyubey.

"Ini jalan pertarunganku, Kyubey. Oke?" Hitomi mencubit pipi Kyubey.

"Kyuu."

Dengan itu, muncullah sebuah... mainan pesawat? Yang melesat di atas mereka berdua. Benda itu tidak tampak menyatu dengan latar belakangnya, seolah benda 2 dimensi yang nyasar ke dunia 3 dimensi. Bunyinya berisik, dan dia terbang tanpa tujuan yang jelas. Sebuah familiar.

"Akan kuselesaikan dengan cepat," Hitomi menghunus kedua pisaunya, dan melesat. Ia menjejak dinding di sekitarnya, dan berlari mengejar si familiar yang sepertinya belum menyadari kehadiran seorang Puella Magi, sepertinya dia baru lahir.

"Fweeee?"

Familiar itu tak sempat bereaksi melihat kecepatan Hitomi. Tiba-tiba saja ia berada di atasnya, dengan dua ujung pisau mengarah ke bawah, siap menghunjam si familiar. "Maaf, kamu baru lahir tapi sudah harus mati," katanya. Tapi, tak ada ekspresi kasihan di wajahnya saat mengatakan itu.

Tranggg!
Bunyi logam beradu, bergema di gang kumuh itu.

Hitomi terpental, karena pisaunya menghantam sesuatu yang keras dan cepat, yang jelas bukan tubuh si familiar. Si hijau segera menjejak dinding dan mendarat di tanah setelahnya.

"Siapa?"

"Oi oi, kau bodoh, ya?" terdengar suara jutek yang tidak mengenal kompromi... dan Kyouko Sakura menampakkan wujudnya, rantai menghubungkan bagian tombaknya, mengelilingi anak itu bagai ular. Di mulutnya tampak tangkai permen lolipop. "Membunuh familiar itu nggak ada untungnya buatmu, tahu."

"Kamu... Kyouko Sakura, kalau aku tak salah ingat," Hitomi menatap si merah, dan menudingnya dengan sebuah pisau. "Kenapa kamu menghalangiku?!"

"Apa Kyubey nggak memberitahumu? Kau nggak akan dapat Grief Seed dari familiar!" jawab Kyouko. "Mestinya kau biarkan dia makan satu-dua orang dulu supaya jadi Penyihir, baru kau kalahkan!"

Alis Hitomi berkerut, merusak sedikit wajah manisnya.

"Membiarkannya menelan korban?! Ada apa denganmu?!"

"Kita butuh Grief Seed, kan? Dan hanya Penyihir yang menjatuhkannya," Kyouko menyandarkan tombak di pundaknya. "Buat apa kau membunuh angsa yang bertelur emas?"

Hitomi menundukkan kepalanya mendengar itu.

"Familiar memangsa manusia buat jadi Penyihir... dan kita Puella Magi, memangsa Penyihir itu. Bukannya sudah jelas? Apa di sekolah kau nggak diajari rantai makanan?"

Entah kenapa Kyouko merasakan deja vu dari kalimat dan situasi ini, tapi ia mengabaikannya. Tujuannya kemari adalah mengetes kekuatan Hitomi sebagai rival Puella Magi, makanya ia memanas-manasinya. Tipe-tipe ksatria sok suci sepertinya jelas akan marah kalau mendengar kalimat super egois seperti tadi! Ini terlalu mudah...

Shing!

Sesuatu melesat dengan kecepatan luar biasa di samping wajah Kyouko. Secara reflek ia menoleh... dan melihat pisau menancap di tubuh familiar yang masih kebingungan itu, menghabisinya seketika.

"Kau-!"

Ia melihat tangan Hitomi terarah ke depan, sepertinya ia baru melemparkan pisaunya.

"Aku tidak setuju dengan pendapatmu itu, Sakura-san," katanya tegas. Dalam sekejap, pisau yang baru muncul di tangannya, "Aku tahu kita butuh Grief Seed, tapi ada cara yang lebih elegan untuk mendapatkannya daripada mengorbankan orang lain."

"Hoo?"

Kyouko penasaran, kenapa Hitomi begitu tenang? Padahal, karirnya sebagai Puella Magi baru berumur 3 hari! Biasanya, anak baru sepertinya akan langsung kehilangan ketenangan dan menyerang Kyouko dengan marah setelah diprovokasi seperti itu...

Si merah tidak tahu, bahwa ada hal yang bisa didapat di luar pengalaman sebagai Puella Magi. Hitomi, sebagai pewaris utama Grup Shizuki, mendapat berbagai kursus dan les setiap harinya. Dimulai dari yang trivial seperti bermain piano, upacara minum teh... sampai yang mempengaruhi usia mentalnya seperti pelatihan leadership. Pengalamannya dari berbagai kursus itu bisa menutupi kekurangan pengalamannya sebagai Puella Magi.

Maka, bisa dibilang, kondisi mental Hitomi saat ini setara dengan Mami, yang sudah terasah dalam puluhan pertarungan.

"Aaah? Kalau kau nggak setuju, terus mau apa?" tanya Kyouko kemudian.

"Aku tak bisa membiarkan Puella Magi yang egois sepertimu terus melakukan cara yang keji itu. Jadi, aku akan menyadarkanmu..." Hitomi menghunus kedua pisaunya, "Dengan kedua tangan ini."

Dengan deklarasi itu, wujudnya menghilang.

"!?" Kyouko membelalakkan matanya, dan dalam sekejap merasakan nyeri di punggungnya. Ia membalikkan badan, dan melihat...

Hitomi sudah berada di belakangnya, dan menyabetkan pisaunya! Si merah segera meloncat ke belakang, dan melepaskan sambungan tombaknya.

"Cepat sekali... bukan."

Baru saja Kyouko berpikir begitu, wujud Hitomi kembali menghilang. Tapi, kini si merah sudah bisa menduga serangan yang akan dilakukan lawannya itu. Ia melepaskan rantai-rantai tombaknya dan menggerakkannya berkeliling sebagai pelindung.

Benar saja, si hijau itu sudah ada di belakangnya, lagi.

Tranggg!

Tapi kali ini, serangannya tertahan oleh rantai. Hitomi mengernyitkan dahi, dan meloncat mundur.

Kyouko menyeringai, ia bisa menahan serangan musuh hanya dari sekali melihat! Merasa menemukan cara untuk menangkal serangan Hitomi, Kyouko terus memutar-mutar rantai tombak mengelilingi tubuhnya.

"Tombak melawan pisau... ini tidak menguntungkanku," pikir Hitomi. Jelas saja, jarak serangan Kyouko dengan tombaknya hampir 4 kali jarak serangan Hitomi dengan dua pisaunya. "Jadi, aku harus..."

Dalam beberapa hari ini, Hitomi memang mempelajari seluk-beluk teknik bertarung dengan pisau. Pisau adalah salah satu senjata manusia yang paling primitif, yang sudah digunakan sejak zaman purba berupa pisau yang terbuat dari batu. Berbekal keberadaan yang paling lama di antara senjata-senjata tajam, cara menyerang dengan pisau bisa dibilang paling bervariasi. Dengan pisau, kau bisa menyabet, menusuk, memukul dengan gagangnya, dan... melempar.

Keunggulan pisau dari pedang yang muncul di kemudian zaman adalah, ukurannya yang kecil memungkinkannya untuk dilempar.

Psyu!
untuk mengetes, Hitomi melemparkan sebuah pisaunya tepat ke sela-sela rantai yang mengelilingi Kyouko. Si merah terhenyak, tapi ia masih bisa melihat dan menangkisnya.

"Masih belum!" Hitomi mengangkat gaunnya, dan dari sana berjatuhanlah banyak pisau. Kemudian, ia melemparkan semuanya! Satu-persatu, kemudian dua sekaligus, kemudian sebanyak jari-jarinya bisa memegang... memanfaatkan bantuan sihir, semua lemparan itu tepat menuju arah Kyouko!

Bunyi logam beradu bergema bagaikan musik yang mengiringi pertarungan bertaruh nyawa (dan ideologi ini). Kyouko menangkis semua pisau itu, sementara Hitomi terus melemparkan pisau-pisau baru.

Sekilas, Kyouko terlihat dalam posisi bertahan, tapi...

"Dari gaya bertarungnya, kau nggak bisa melihat kalau dia ini pemula," pikir Kyouko. "Cukup bagus. Sayang, pikirannya diracuni Mami... dan dia memohon buat orang lain."

Maka, si merah mengambil inisiatif serangan. Ia mengabaikan seluruh pertahanannya dan melesat. Kecepatannya luar biasa, membuat seluruh lemparan pisau Hitomi meleset... tapi itulah yang ditunggu-tunggu Hitomi.

Wung!

Ia kembali "meloncat" ke belakang Kyouko dengan kemampuan sihirnya!

Teknik ini adalah efek dari permohonan dan situasinya menjadi Puella Magi. Menurut Kyubey, permohonan Hitomi menyembuhkan lengan Kyousuke adalah hasil merebut permohonan Sayaka... dengan kata lain, "sahabat yang menusuk dari belakang".

Maka, kemampuan sihir Hitomi adalah teleportasi jarak dekat ke belakang lawannya! Kemampuan yang sebenarnya sedikit menyindir, tapi cukup efektif.

"Kena," pikir Hitomi. Tapi, ia tidak tega menusuk Kyouko (walaupun tahu kalau Puella Magi bisa sembuh dengan cepat), jadi ia membalik pisaunya, bermaksud memukul Kyouko dengan gagangnya...

Jeda sepersekian detik itu cukup bagi seorang veteran seperti Kyouko untuk membalik keadaan. Ksatria itu memundurkan tombak, dan "menusuk" perut Hitomi dengan gagangnya!

BUG!

"Kyaaah!" Hitomi pun terpental dan menghantam dinding, membuatnya retak. Darah membuncah keluar dari mulutnya, akibat patah tulang rusuk. Rasa sakit yang teramat sangat membuatnya nyaris pingsan seketika...

Pertarungan pun berakhir.

"Kuakui, sebagai pemula kau cukup hebat," Kyouko membalikkan badan dan memandang Hitomi dengan tatapan tajam. Si hijau bisa merasakan nafsu membunuh di sana. Nafsu membunuh sungguhan. "Kau akan merepotkan nanti kalau sudah banyak pengalaman tarung. Ya, kalau kau masih bisa hidup setelah ini."

"U-uhuk..." Hitomi terbatuk lemah, karena darah yang memenuhi mulutnya. Rasa sakit di perutnya sudah mulai menumpul, tapi pandangannya jadi semakin kabur. Dia bisa pingsan kapan saja, entah apa yang membuatnya masih bisa berbicara seperti itu. Mungkin rasa takut akan kematian mengunci pandangannya? "K-kamu... akan membunuhku?"

"Yap-yap. Aku mengamankan masa depanku... dengan menyingkirkan saingan," Kyouko mengatakan kalimat pengakhiran itu seperti ucapan salam saja. Ia memutar tombaknya, sehingga bagian tajamnya menghadap ke tubuh lemah Hitomi. "Nggak ada kata-kata terakhir buatmu, Shizuki-"

Saat itulah sebuah teriakan amat nyaring menggema, memekakkan telinga kedua petarung itu.

"HITOMIIIIII!"

Suara itu tak asing lagi buat mereka. Bagi Kyouko, itu suara rekan satu grupnya yang cerewet tapi suka mentraktir; dan bagi Hitomi, itu suara sahabat yang ia tusuk dari belakang...

Sayaka Miki.

Si biru menampakkan wajahnya di area pertarungan!

Itu sukses membuat Kyouko menghentikan serangannya sejenak... tapi waktu itu cukup bagi Sayaka. Ia merasa harus berterimakasih pada para senpai dan pelatih klub bisbolnya, karena latihan mereka yang terkadang menyiksa membuatnya punya stamina dan kecepatan di atas rata-rata anak SMP. Maka, ia pun bisa mencapai Kyouko dan Hitomi...

Di luar dugaan, mengimbangi kecepatan gerak dan reaksi Puella Magi!

"HENTIKAN!"

Tranggg!
Sayaka... meninju gagang tombak Kyouko, sehingga senjata itu menghantam dinding di belakang, menghancurkannya berkeping-keping. Tentu saja, bukan hanya itu yang hancur.

"Arggh!" Sayaka mengerang. Meninju suatu benda yang terbuat dari logam... apalagi itu senjata seorang Puella Magi, jelas bukan ide terbaik. Ia yakin tangan kanannya itu ikut hancur.

"?!"

Kyouko dan Hitomi hanya bisa terperanjat. Apa-apaan barusan itu? Tak mungkin manusia biasa bisa melakukan pergerakan ajaib seperti itu!

Mereka tidak tahu bahwa di dunia ini ada yang bernama "power of kepepet" rupanya... apalagi, Sayaka ini anaknya memang sangat atletik. Walaupun ia sendiri tak bisa menjelaskan kenapa bisa melakukan hal gila tadi.

"Hi-Hitomi, kau nggak apa-apa?" suara Sayaka bergetar. Air menggenangi pelupuk matanya akibat menahan sakit, tapi ia berusaha tampak kuat. "Karena Hitomi pasti lebih kesakitan dariku..."

Hitomi hanya bisa mengangguk lemah, lega karena terhindarkan dari kematian yang pasti. Sementara Kyouko, tentu saja, tampak kesal.

"Apa yang kau pikirkan, IDIOT?!" ia meraung langsung ke telinga si biru.

"Justru aku yang harus tanya! Kau mau membunuh Hitomi?!" Sayaka menolehi rekan satu aliansinya itu, rasa sakitnya terhalangi perasaan kesal, "Aku nggak akan membiarkanmu!"

Ini membuat Kyouko sangat marah. "Setelah semua yang dia lakukan kepadamu, kau masih mau membelanya?!"
"... benar," Sayaka menjawab dengan mantap. "Bagaimanapun, Hitomi itu sahabatku."

Si hijau yang sedang dibicarakan hanya bisa melongo.

"Ggh!" Kyouko melepaskan kostum Puella Magi-nya dan berbalik.

"Mau ke mana kau, Sakura?"

"Menyingkir. Semua tentang pertemanan ini membuatku mual," ia merogoh saku dan mengeluarkan sebuah permen. Menggigit bungkusnya keras-keras, ia menambahkan, "Jangan cari aku lagi, Miki."

Dan dengan itu, wujud sang ksatria tombak lenyap ditelan kegelapan malam.

Sayaka menghela napas panjang. Entah dengan keajaiban apa ia berhasil menghentikan pertempuran tadi... iapun mengalihkan pandangannya ke Hitomi, dan menjulurkan sebelah tangannya yang tidak terluka.

"Hitomi, kamu nggak apa-apa?"

"U-um..." ia meraih tangan Sayaka dan bangkit dengan perlahan. Rasa sakit di dadanya sudah berkurang, kekuatan sihir sudah mulai menyembuhkan lukanya.

Suasana menjadi hening dan canggung. Sayaka ingin mengatakan banyak hal, terutama tentang Kyousuke dan Puella Magi; sementara Hitomi sebenarnya tak ingin bertemu dengan Sayaka dalam kondisi seperti ini, setelah ia kalah.

"Hitomi-"

"Sayaka-san-"

Sepertinya mereka masih kompak, meskipun situasinya sedang perang dingin (?), ini membuat tawa mereka membuncah sejenak.

"Sebenarnya aku ingin bertemu denganmu dalam situasi yang lebih anggun, Sayaka-san," kata Hitomi, dengan air menggenangi ujung matanya. Ini jelas bukan karena rasa sakit di perutnya akibat serangan Kyouko, melainkan karena tawa yang tulus.

"Sama," Sayaka menggaruk pipinya. "Setelah tadi siang kita... ehm, berantem, aneh rasanya tiba-tiba ketemu kamu lagi."

"... sepertinya aku harus mengucapkan terima kasih, kalau begitu," si hijau membungkukkan badannya. Ia memang dididik sangat sopan seperti itu. Ini membuat Sayaka grogi, tak pernah sebelumnya menghadapi ucapan terima kasih yang sesopan ini. "Kamu telah menyelamatkan nyawaku."

"U-uh, yaa... begitulah."

"Tapi," Hitomi mengangkat wajahnya. "Ini tak ada hubungannya dengan urusan kita, soal Kamijou-kun."

Rasa grogi si biru langsung hilang mendengar perkataan arogan itu. "Apa maksudmu?"

"Jujur, Sayaka-san. Menolong seorang rival... maaf, adalah tindakan yang bodoh. Atau, ada alasan lain? Kamu ingin aku berhutang kepadamu?"

Sayaka terbelalak. Kenapa Hitomi-

"Kenapa kamu ngomong gitu? Aku nggak butuh alasan untuk menolong orang lain! Rival kek, teman kek, kalau ada yang kesusahan, ya aku tolong!" Sayaka menepuk dada, tak mempedulikan rasa nyeri di tangannya. "Memang kau menganggapku seperti apa? Kamu kenal aku, Hitomi! Aku memang seperti itu!"

Si hijau tak mau kalah, "Dengan situasi begini, semua orang pasti akan berpikiran begitu! Memangnya buat apa kamu membuang-buang kesempatan berkelompok dengan Puella Magi berpengalaman seperti Kyouko Sakura tadi?"

"Haah? 'Membuang'?! Kau pikir Sakura itu apa?"
"Rekan yang akan membantumu mengalahkan aku," jawab Hitomi tegas.

Ctak.

Bersamaan dengan bunyi sesuatu yang putus, kesabaran Sayaka pun habis.

"... lupakan kalau begitu! Semua kejadian tadi, semua perkataan kita. Anggap saja aku nggak pernah muncul di sini, dan kau selamat dari Sakura karena beruntung!" si biru menghela napas panjang, dan menuding lawan bicaranya. "Oke, aku terima tantanganmu, Hitomi Shizuki! Kita akan bertarung untuk Kyousuke, dan pemikiran kita masing-masing!"

Mendengar amukan sahabatnya itu, Hitomi malah tersenyum. Sebuah senyuman penuh kesiapan, dan naluri bersaing yang tinggi... amat pantas bagi seorang oujousama sepertinya.

"Justru itu yang kuharapkan."

Tanpa kalimat yang jelas, persahabatan kedua anak ini pun terputus. Apakah di kemudian hari mereka bisa berbaikan dan kembali seperti dulu, tak ada yang bisa mengetahuinya.

Yang jelas, roda takdir kini sudah berputar semakin kencang, entah siapa yang bisa menghentikannya.

"Sampai jumpa di medan pertempuran, Sayaka-san."

Dengan itu, Hitomi undur diri. Ia kembali ke pakaian kasualnya, dan berbalik untuk menghilang ditelan kegelapan, sisi lain gemerlapnya kota Mitakihara.

Kyubey, yang dari tadi diam saja menyaksikan pertarungan dan pembicaraan yang terjadi, akhirnya angkat bicara. "Bagaimana, Sayaka? Masa kamu mau diam saja ditantang seperti itu?"

"... tolong, tinggalkan aku sendiri."

"Hum, baiklah," Kyubey membalikkan badannya. Meskipun Sayaka menolaknya kali ini, alien itu tahu kalau kontrak dengannya tinggal menunggu waktu saja. "Kalau kamu sudah siap, kamu tahu bagaimana cara menemukanku."

Kata terakhir itu terdengar samar-samar, bersamaan dengan perginya si putih.

Kini, si biru hanya sendirian di gang itu. Terdiam, dengan kepala yang terasa sakit setelah apa saja yang barusan terjadi. Ia tidak bisa berhenti memikirkan tindakannya barusan.

Menyakiti perasaan Kyouko dan bertengkar hebat dengan Hitomi.

"Aku memang bodoh..." hanya kalimat merendahkan diri itu saja yang bisa diucapkannya sekarang.

"Benar. Ada garis jelas yang membedakan keberanian dengan kebodohan."

Suara dingin itu menggema, seolah menggetarkan ruang dan waktu... sebelum sang penguasa menampakkan dirinya. Homura, dengan tatapan yang tajam, muncul begitu saja di depan Sayaka.

"H-hey..." nampaknya sudah tak ada tenaga lagi buat si biru untuk merasa kaget. "Kamu lambat juga, Homura. Kenapa? Ngantuk?"

Si hitam tak mempedulikan upaya bercanda temannya itu. Ia memiringkan kepalanya, "Bukankah sudah kubilang, tunggu aku sebelum bertindak?"

"Habis! Mana bisa aku membiarkan Hitomi terbunuh?" jawabnya.

Homura-lah yang tadi memberitahukan soal pertarungan Kyouko dan Hitomi kepada Sayaka. Sayangnya, waktu itu ia sedang mengejar Penyihir, sehingga tak bisa melesat langsung ke lokasi. Maka ia memberi pesan agar Sayaka tak bertindak gegabah... tapi tentu saja si biru, dengan segala sifat sok pahlawannya, bertindak sesuai pemikirannya sendiri.

Sehingga, terjadi insiden barusan. Dari usahanya menolong Hitomi, Sayaka menjadikan Kyouko dan Hitomi sendiri sebagai musuh. Sekaligus.

Sungguh, sebuah kegagalan yang epik.

"Aku sudah menduga Hitomi Shizuki akan bersikap begitu kepadamu," jawab Homura terus-terang, yang disambut lawan bicaranya dengan anggukan lemah. "Dan Kyouko Sakura juga. Kemarahannya bisa kumengerti. Tapi... aku akan mencoba bicara lagi dengannya. Ia punya peran vital dalam aliansi ini."

Homura mengibaskan rambut hitamnya, memantulkan lemahnya cahaya di dalam gang itu.

"Haah. Semua gara-gara kenekatanmu."

"Maaf merepotkanmu, deh," Sayaka memajukan bibirnya.

Homura tersenyum kecil melihatnya. Kemudian ia melihat lengan Sayaka yang mulai membiru itu, dan mengernyit. Sepertinya itu sangat menyakitkan, "Daripada itu, tanganmu baik-baik saja?"

"Oh, ini?" Sayaka melirik lengannya. Setelah Homura mengatakannya, barulah ia merasakan sakitnya yang teramat sangat itu lagi. "A-aku pernah mengalami yang lebih buruk."

"... jangan pura-pura," Homura meraih tangan Sayaka.

"Gyaaaaaaa!" si biru mengerang amat keras, air matanya mengalir.

Homura menghela napas panjang. "Ikut aku."

...

Karena hari sudah larut dan Homura tak mau lagi berurusan dengan rumah sakit, iapun mengajak (baca: menyeret) Sayaka ke apartemennya. Tentu saja ia juga menggunakan sihir untuk menghilangkan rasa sakit di lengan si biru untuk sementara, daripada ia menangis terus sepanjang jalan.

Tak lama, mereka sudah sampai di kediaman keluarga Akemi, sebuah apartemen kecil yang berada di pojok jalan yang sepi. Sayaka pun sadar kalau tempat itu cukup dekat dengan apartemennya dan juga rumah keluarga Kaname. Daerah itu tak bisa dibilang kumuh... hanya lengang dan karena itu, terlihat kurang terurus, sepertinya karena jarang ditinggali.

"Ini rumahmu, Homura?"

"Lebih tepatnya tempat tinggalku," Homura merogoh saku dan mengeluarkan keycard-nya. Ia menggeseknya dan dengan bunyi 'ping', pintu kayu kusam di depan mereka terbuka.

"Eh...? Bedanya apa?"

"Rumah adalah tempat seseorang untuk pulang, beristirahat atau bertemu dengan keluarga. Sedangkan tempat ini," Homura mendorong pintu itu dan menampakkan sebuah ruangan yang... kosong dan putih. "Hanyalah tempatku singgah, dari kesibukan sekolah dan Puella Magi."

Sayaka hanya bisa melongo. Sungguh, tak ada apa-apa di depannya. Tak ada sofa untuk menerima tamu, meja kaca untuk menyuguhkan minuman hangat, wallpaper, bahkan karpet. Hanya ada ruangan besar dengan pendulum aneh di tengahnya, dan berbagai gambar yang tak kalah aneh menempel di dinding-dindingnya yang terlihat amat jauh. Tempat itu tak ubahnya sebuah ruang tanpa batas yang dikelilingi lukisan saja.

"Tempat ini... begitu sepi..."

"Aku sering dengar itu," Homura berjalan menuju suatu arah, dan Sayaka bisa melihat sebuah pintu di sana, yang bertuliskan 'Homura'. Sepertinya itu kamar tidurnya. Ia masuk sejenak, dan kemudian melongok keluar. "Di lemari kecil itu ada snack, kalau kamu lapar."

Perut Sayaka bergolak mendengar makanan. Tindakannya melerai Kyouko dan Hitomi memang begitu menghabiskan tenaga. Tapi ia berusaha menahan diri.

"Uhm, terimakasih, tapi nanti saja."

"Tak usah sungkan. Semua snack itu memang kubeli untuk tamu. Aku sendiri paling tidak suka makanan ringan seperti itu."

Sayaka pun menghampiri lemari itu dan membukanya. Benar saja, ada banyak sekali jenis snack di dalamnya; biskuit, keripik kentang, Pocky, permen... apa-apa saja snack favorit anak SMP.

"Untuk tamu? Sepertinya kamu mengharapkan kedatangan rombongan atau apa," komentarnya. Ia lalu mengamati lagi suasana ruang tengah itu. Yap, tetap sepi dan aneh seperti tadi. Jelas, bukan suasana yang pas untuk menjamu tamu, melainkan diskusi berat. "Tapi, kayaknya cuma aku tamu yang pernah kemari."

"... di alur waktu ini, mungkin," pikir Homura.

Di alur-alur lain, hampir semua pernah singgah. Yang paling sering adalah Kyouko dan juga Madoka. Sayaka, apalagi Mami, memang sangat jarang kemari. Memang biasanya Homura hanya mengundang orang luar kalau suasana sedang benar-benar gawat. Ia tak mau membongkar identitasnya sebagai pengelana waktu, sih.

Tak lama, Homura keluar dengan membawa perlengkapan P3K. Ia segera menghampiri Sayaka, yang kini sedang meminum jus kemasan dengan gugup.

"Sini, kulihat tanganmu," kata si hitam, dingin.

"H-huh? Apa kamu nggak bisa menyembuhkannya dengan sihir atau apa?" tanya Sayaka. Ia tak mau rasa sakit tangannya berlipat karena dipegang lagi. Melihat Homura menaikkan alisnya, ia melanjutkan, "Maksudku, seperti di video game! Rapalkan mantra, dan wush! Luka sembuh!"

"Sihir Puella Magi tak ada yang sepraktis itu," Homura menghela napas. "Paling-paling yang bisa kulakukan adalah mengurangi rasa sakit."

"O-oh... kalau begitu, mohon bantuannya, ya," Sayaka mengajukan tangannya.

Sebenarnya malah Sayaka-lah yang memiliki sihir penyembuhan, karena pengharapannya berhubungan dengan kesembuhan Kyousuke. Tapi, Homura ingat bahwa di alur waktu ini justru Hitomi yang menyembuhkan cowok itu, jadi mungkin kemampuan penyembuhan itu sekarang dimilikinya.

Lalu, Sayaka? Apa kemampuannya?

Bukan, bukan. Homura menggigit bibirnya. Ia kan tidak boleh jadi Puella Magi!

Sembari memikirkan itu, Homura mengamati di tangan Sayaka. Tampak beberapa ruas jarinya yang patah dan mulai bengkak, kepalan tangannya pun berdarah cukup parah.

"Hmm, kamu takkan bisa menggunakan tangan ini untuk seminggu, maksimal. Untungnya ini tangan kiri, jadi sekolahmu tak terlalu terganggu," kata Homura. Sayaka mengangguk-angguk mengerti. Si hitam merapal sihir untuk mengurangi rasa sakit, lalu mulai beraksi.

Pertama-tama, ia menuangkan alkohol ke luka Sayaka untuk mensterilkannya, lalu mengeringkannya dengan kapas lembut. Setelah itu, ia meneteskan obat ke sepotong kapas dan menempelkannya ke luka di telapak tangan, lalu membebatnya dengan perban.

Kemudian, Homura menyiapkan beberapa pembungkus gips kecil, dan membungkus jari-jemari Sayaka yang patah. Untung patahan tulangnya tidak menyembul keluar, mungkin ini bisa dibilang keajaiban mengingat lawan tangan itu adalah senjata Puella Magi. Homura lalu membebatnya, membuat tangan kiri Sayaka tampak seperti mengenakan sarung tangan khusus memasak saja, keempat jarinya tampak menyatu.

"Selesai."

Sayaka mengamati hasil perawatan Homura dengan wajah kagum. "Wah, cepatnya! Kamu jago sekali. Nggak kalah dari perawat sekolah! Kamu sering merawat orang luka?"

"Benar. Aku sudah cerita kan, kalau aku... mengenal banyak Puella Magi dan bertarung bersama mereka," jawab Homura sambil merapikan perlengkapannya. "Jadi, merawat luka seolah sudah jadi pekerjaan sampinganku."

Sebenarnya, Homura belajar ini dari Madoka yang asisten perawat sekolah, di suatu alur waktu. Ngomong-ngomong...

"Aaah. Madoka... di mana kamu berada sekarang? Masih disesatkan Mami Tomoe kah?" pikirnya. Dua hari terakhir ini ia memang tidak terlibat dan mengawasi si pink itu, kecuali di sekolah. Ia khawatir, itu jelas. Tapi, Homura yakin kalau Madoka takkan tiba-tiba jadi Puella Magi seperti Hitomi kemarin. Itu bukan sifatnya.

"... terima kasih," kata Sayaka kemudian, menyadarkan Homura dari lamunannya.

"Tidak perlu," kata Homura. Ia menoleh, dan melihat sang tamu yang tersenyum lembut kepadanya. Detak jantungnya seolah berhenti sesaat. "A-apa?"

"Uhm, ini pendapatku... kamu jangan marah, ya," kata Sayaka. "Kamu orang baik, Homura, berapa kalipun akan kukatakan ini.

"Kata-katamu dingin tapi maksudmu baik. Selalu bertindak dengan memikirkan orang lain, apalagi kita-kita yang sebenarnya nggak perlu terlibat dalam urusan Puella Magi ini. Jadi..."

Wajah Sayaka memerah setelah kata terakhir itu, dan ini membuat detak jantung Homura jadi tak karuan, seperti waktu ia masih punya masalah jantung dulu.

Bagaimana tidak?

Mereka duduk dekat, hanya berduaan di tengah ruangan yang sepi. Mood-nya pun hangat setelah perawatan luka. Suasana ini, tak salah lagi...!

"Untuk nasihat-nasihatmu, fakta-fakta menyakitkan yang menyadarkan aku. Untuk semua pertolonganmu, baik perkataan juga tindakan. Untuk semua perhatianmu kepadaku...

"Terima kasih sudah jadi temanku, Homura."

Senyuman di wajahnya sangat tidak cocok dengan air mata yang mengaliri pipinya.

- Chapter IV/? -

- End -


A/N

Menjelang klimaks?

Senjata Hitomi adalah pisau... karena dia menusuk temannya dari belakang, hahaha.