Pairing: WonKyu, EunHae

Rated: PG

Warning: AU, OOC, MPreg, Typo(s),etc

"Hyung 'kan tahu kalau aku tidak suka sayur? Tapi kenapa Hyung malah membawakan makanan penuh sayur seperti ini?"

"Hari ini menu yang ditentukan oleh koki di dapur memang seperti ini, Kyuhyun-ah. Lagipula, sayur itu bergizi. Cocok untukmu yang bertubuh kurus seperti ini."

"Jadi maksud Hyung aku kurang gizi, begitu?"

Leeteuk hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menyerah saat Kyuhyun sama sekali tidak mau memakan makanan yang di bawanya. Memegang saja anak itu sudah kelihatan jijik, apalagi memakannya? Mungkin anak itu akan muntah setelah menelan makanan penuh sayur di tangannya.

"Aku mau makan, tapi singkirkan dulu semua sayurnya, Hyung!"

"Kyuhyun-ah… Aku sudah 2 jam berada di sini dengan piring dan sendok di tanganku, tetapi kau sama sekali belum memakannya, bahkan 1 sendok pun!"

Kyuhyun hanya menggembungkan pipinya dengan kesal. "Makanan yang Hyung bawa kelihatan tidak enak karena sayur-sayur itu bertebaran di sana. Bahkan untuk memasukkannya ke mulut pun aku tidak mau!"

"Kau ini rewel sekali, Kyuhyun! Makan atau aku yang akan memaksamu?"

Kesabaran Leeteuk rasanya sudah sampai ke ubun-ubun. Tidak ada lagi panggilan ramah, kali ini hanya ada kata penuh nada penekanan untuk Kyuhyun. Dan nada itu berhasil membuat Kyuhyun mengkeret karena dia mengetahui seberapa mengerikannya jika Leeteuk sedang marah.

"Ne… Ne… Aku akan makan." ucap Kyuhyun dengan nada yang terdengar menyerah.

Kyuhyun rasanya menyesal meminta Hyung-nya yang satu ini untuk menyuapinya. Padahal dia meminta Hyung-nya itu untuk menyuapinya karena ingin membuatnya kesal. Tapi nyatanya? Malah dia yang terkena sial dan harus memakan sayur-sayuran laknat yang paling tidak di sukainya!

Leeteuk tersenyum, dan menyuapkan satu sendok penuh makanan kepada Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun sendiri hanya bisa mengernyit saat mengunyah makanan tersebut, merasakan betapa buruknya rasa yang melekat di lidahnya. Bahkan saat dirinya menelan makanan itu pun, rasanya kerongkongannya menolak untuk membiarkan makanan itu melewati organ yang berada di belakang tenggorokkan tersebut.

Leeteuk sendiri? Dia hanya bisa tersenyum bahagia saat melihat Kyuhyun akhirnya mau memakan makanan yang sudah dibawanya dari 2 jam yang lalu, walau ada rasa prihatin sedikit saat melihat Kyuhyun mengunyah dan menelan dengan susah payah.

Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Leeteuk berucap seperti ini, "Rasakan itu, Cho Kyuhyun!"

- ) ( -

Hyukjae tersenyum saat akhirnya Donghae berhenti menangis, walau masih terlihat jejak-jejak air mata di pipinya.

Setelah sebelumnya Hyukjae memeluk Donghae agar namja itu tenang dan tidak terus bersedih karena memikirkan Kyuhyun, tangis namja itu kembali pecah. Tetapi Hyukjae hanya membiarkan Donghae menangis di dadanya, dirinya membiarkan Donghae menangis dan menumpahkan semuanya di dadanya lewat sebuah tangisan pilu yang dibarengi dengan suara sesenggukan.

"Apakah kau sekarang sudah merasa tenang?"

Donghae mengangguk, dan mengusap hidungnya yang memerah karena kebanyakan menangis. "Terima kasih, Hyukkie. Aku sekarang sudah merasa baikkan."

Hyukjae kembali tersenyum, dan mengusap pipi Donghae dengan lembut. "Pipi ini, aku tidak ingin lagi pipi ini dialiri oleh air matamu."

Pipi Donghae agak memerah setelah mendengar perkataan Hyukjae (yang menurutnya romantis). Jemari miliknya ditautkannya dengan jemari tangannya yang lain, ini adalah ciri khas saat dirinya merasa malu ataupun merasa tersanjung. Saat jemarinya saling bertautan satu dengan yang lainnya, tanpa disadarinya sebuah senyum manis terpatri di bibirnya.

"Aku ingin kau selalu tersenyum seperti ini. Kau tahu? Senyummu itu seperti sebuah kapas, lembut dan terlihat murni. "

Donghae rasanya ingin menguburkan kepalanya ke bawah tanah saat itu juga saat mendengar kata-kata romantis yang terus keluar dari bibir Hyukjae.

"Oh Tuhan. Kenapa kau mengirimkan orang seromantis ini kepadaku?"

Sedangkan tanpa disadari Donghae (yang kini pikirannya melayang entah ke mana), Hyukjae memisahkan tangan Donghae yang tadi bertautan satu sama lainnya, dan menautkan salah satu tangan itu ke tangannya.

Walaupun saat itu angin dingin berhembus, tetapi mereka berdua akan tetap merasa hangat. Karena jemari mereka yang saling bertautan tidak hanya menghangatkan tangan mereka, melainkan juga menghangatkan seluruh tubuh dan juga organ dalam mereka. Karena mereka tercipta untuk saling melengkapi, dan saling melindungi satu sama lainnya.

- ) ( -

"Kenapa kau tidak bisa mencari orang ini, hah?"

Penjaga itu hanya bisa menutup matanya saat mendengar suara lemparan berkas yang dilemparkan Tuan Mudanya ke meja.

"M-Maafkan saya, T-Tuan Muda. T-Tetapi Tuan Besar melarang saya untuk mematuhi perintah Tuan Muda untuk mencari orang yang bernama Lee Donghae itu."

Siwon mendengus marah mendengar perkataan penjaga itu. "Beberapa jam yang lalu kau mengatakan kau bisa mencari orang ini. Lalu kenapa hanya karena larangan Appa kau menolak untuk mencarinya?"

"S-Sekali lagi m-maafkan s-saya T-Tuan Muda. T-Tetapi perintah T-Tuan Besar tidak bisa d-dibantah begitu s-saja."

Dirinya memijit pelipisnya yang kini terasa berdenyut-denyut dengan tangan kanannya, sedangkan tangan yang lainnya memberikan isyarat kepada penjaga itu untuk keluar dari ruang kerjanya.

Penjaga itu membungkukan kepalanya dengan takut-takut, dan melangkah dengan agak tergesa-gesa keluar dari ruang kerja sang Tuan Muda.

Hal yang kali pertama Siwon pikir akan sangat mudah, kini menjadi sangat sulit hanya karena campur tangan Ayahnya.

Siwon baru menyadari kalau dia melupakan hal yang sangat penting tentang para penjaga yang bekerja di rumah keluarga Choi. Dia baru saja ingat kalau apa saja yang diperintahkannya kepada para penjaga harus dilaporkan oleh para penjaga tersebut kepada Ayahnya, agar mencegah dirinya berbuat hal-hal bodoh atau membahayakan keluarga Choi sendiri.

"Kenapa aku bisa melupakan hal sepenting itu?" pikirnya marah kepada dirinya sendiri.

Jika begini caranya, bukan tidak mungkin Ayahnya akan menjaga anak dari keluarga Cho itu lebih ketat, dan mungkin juga akan menyembunyikan keberadaan Lee Donghae agar informasi tentang anak dari keluarga Cho tidak akan bocor dan terdengar olehnya.

"Bila begini caranya, kesempatan untuk mengetahui informasi tentang dia hanya tersisa sedikit, atau mungkin aku tidak memiliki kesempatan sama sekali." gumam Siwon sambil memutar otak agar dirinya bisa mengetahui informasi (walaupun hanya sedikit) tentang anak yang dibeli Ayahnya dari keluarga Cho.

"Jika begini keadaannya, tidak ada yang bisa dilakukan lagi." ujarnya dengan nada putus asa. "Baiklah… Mungkin ini saatnya aku menjadi anak yang berbakti kepada Appa."

Siwon segera merogoh sakunya dan mengambil telepon genggam yang berada di sana. Matanya menelusuri nama-nama kontak yang berada di layar telepon genggam tersebut dengan tatapan serius, dan segera meng-klik 'call' saat dirinya sudah menemukan orang yang ingin di panggil.

"Stella, bisa aku bertemu denganmu sekarang?"

- ) ( -

Kyuhyun langsung merebahkan tubuhnya yang kini lemas ke tempat tidur, dengan dibantu Leeteuk pastinya.

"Baru 3 suapan, dan kau sudah muntah-muntah seperti ini, Kyuhyun-ah. Benar-benar reaksi yang terlalu berlebihan, kalau menurutku."

"Diam, Hyung."

Kini anak itu memejamkan matanya, mencoba untuk mengontrol rasa mual yang kini masih melanda lambungnya. Rasanya semua makanan yang tadi dimakannya serasa didorong keluar oleh sesuatu yang membuatnya mual-mual tidak jelas.

"Kau hamil, Kyuhyun-ah?"

Mata Kyuhyun langsung terbuka lebar mendengarnya. Inderanya yang satu ini langsung menyipit, menatap Leeteuk dengan penuh dendam.

"Hyung kira aku muntah-muntah ini karena siapa?" teriaknya penuh dengan rasa dendam.

Sedangkan yang diteriaki? Oh… Leeteuk bahkan hanya menatap Kyuhyun dengan pandangan innocent (yang Kyuhyun tahu itu hanya sebuah akting yang dibuat-buat oleh Hyung-nya).

"Kau benar-benar membenci sayuran, eoh?"

"Tentu saja! Makanan seperti itu hanya cocok dimakan oleh herbivore atau vegetarian! Dan aku, tidak masuk dalam dua jenis itu."

"Pandai sekali bicaranya. Lebih baik kau makan lagi, Kyuhyun-ah."

Hening.

Hening.

Hening.

"Hyung makan saja sendiri!"

Kyuhyun langsung berdiri dan mendorong Leeteuk keluar dari pintunya dengan penuh dendam, tanpa mempredulikan teriakan-teriakan protes dari Leeteuk sendiri.

Blam. Pintu itu segera dibanting oleh Kyuhyun dengan sangat keras, membuat Leeteuk agak sedikit terlonjak karena kaget.

"Sebegitu mengerikannya kah efek sayuran ini?"

- ) ( -

"Oppa, ada apa kau memanggilku ke sini?"

Suara dengan nada manis ini selalu membuat dada Siwon bergetar, penuh dengan getaran cinta. Suara ini selalu mampu membuatnya melakukan hal-hal yang tidak logis dan diluar nalar manusia sendiri. Suara ini selalu bisa menghipnotisnya dengan nada-nada manis yang selalu mengalun dengan indah di telinganya.

"Stella, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," Siwon menghela nafas untuk menghentikan detak jantungnya yang kini berdebar sangat cepat karena sebuah perasaan takut yang kini menggerogoti pikirannya, "dan ini berhubungan tentang hubungan kita yang sudah berjalan selama 3 tahun ini."

Stella tersenyum mendengar perkataan Siwon, mengira kalau Siwon akan melamarnya setelah sekian lama mereka berpacaran.

Siwon kembali menghela nafas, dan mulai mengucapkan kata-kata yang sudah dirangkainya di dalam otak terlebih dahulu, "Kau tahu? Kali pertama saat kita bertemu, kau terus saja menolak saat kuajak berjalan berdua denganku. Kau bahkan mengatakan kepada teman-temanmu kalau aku adalah orang gila yang terus-terusan mengejarmu walau sudah kau tolak berulang kali."

"Kau mulai menerima kehadiranku setelah 1 minggu aku terus-terusan memaksa untuk berada di sampingmu. Kau saat itu mulai mau kuajak jalan, walau harus bersama-sama dengan teman-temanmu yang lain."

"Kita berpacaran setelah 3 bulan aku terus bersamamu. Aku tahu, saat itu kau sudah mulai terbiasa dengan keberadaanku. Dan saat itu pula aku mengutarakan perasaanku."

"Dan aku tidak bisa menutupi lonjakan yang aku rasakan di dadaku saat kau menerima pernyataan cintaku. Saat itu aku sangat bahagia. Tapi saat ini rasanya perjuanganku dulu tidak berarti lagi saat ini, karena—"

Siwon rasanya tidak bisa menelan ludahnya yang kini serasa tersangkut di atas kerongkongannya. Sedangkan Stella sama sekali tidak bisa menghentikan degup jantungnya yang kini terasa semakin cepat seiring dengan perkataan Siwon yang mulai memasuki kalimat-kalimat terakhir.

"—Karena aku akan menikah dengan seseorang yang dipilihkan Appa."

Senyum di bibir Stella langsung jatuh saat mendengar kata-kata Siwon tadi. Menikah? Seseorang yang dipilihkan Appa?

"Maksudmu apa, Siwon oppa?"

"Kita harus mengakhiri hubungan kita sampai di sini, karena—"

"—Aku akan menikah dengan orang lain."

Stella merasa kalau saat ini kakinya sedang tidak berpijak di tanah lagi. Apa yang dikatakan Siwon tadi sudah mampu membuatnya merasa terluka.

"Jadi—?"

"Maafkan aku, Stella."

Dengan kata-kata terakhir, Siwon segera melangkahkan kakinya pergi dari hadapan kekasihnya yang baru beberapa detik yang lalu sudah menjadi mantan kekasihnya. Matanya tidak mampu melihat ekspresi terluka yang diperlihatkan Stella tadi.

"Bila ini yang terbaik, semuanya pasti akan menjadi baik-baik saja bagiku dan bagi dirinya."

- ) ( -

"Kyunnie? Boleh aku masuk?"

"Ne… Silahkan saja, Hyung."

Donghae menyiapkan dirinya untuk membuka pintu kamar Kyuhyun yang kini terasa seperti sebuah pintu yang akan mengirimnya kepada ajalnya.

Krett. Pintu terbuka, menampilkan sebuah wajah yang sangat ingin Donghae lihat saat ini.

"Kenapa Hyung tidak masuk-masuk? Aku 'kan sudah bilang, silahkan saja Hyung masuk."

Gelagat Kyuhyun menjadi seperti biasanya, seperti tidak memiliki kebencian dengan Donghae. Benar-benar berbeda dengan terakhir kali Donghae datang ke sini.

Tetapi gelagat Kyuhyun yang seperti ini malah membuat Donghae merasa semakin bersalah kepada Kyuhyun. Secepat inikah Kyuhyun melupakan kejadian itu? Secepat itukah Kyuhyun melupakan rasa sakit dan kecewanya pada Donghae?

"A-Aku… Maafkan aku, Kyu."

Kyuhyun memiringkan kepalanya ke kanan, memasang ekspresi bingung di wajahnya saat Donghae meminta maaf kepadanya.

"Maaf untuk apa, Hyung? Aku tidak merasa Hyung melakukan kesalahan apapun padaku."

Donghae menggigit bibir bawahnya, "Tentang apa yang kau dengar dari percakapanku dengan Hyukkie. Aku ti-"

"Sudahlah… Tidak apa-apa, Hyung." Kyuhyun tersenyum, "Aku sudah memikirkan semuanya. Aku yang terlalu egois. Seharusnya aku memikirkan apa yang terjadi kepada Hyung jika Hyung memaksa untuk menolongku."

"Aku sekarang mengerti, jadi tidak apa-apa Hyung. Anggap saja kita tidak pernah bertengkar sebelumnya."

"Tidak Kyu! Jangan seperti ini!"

"Anggap saja kalau masalah kemarin hanya masalah kecil, dan aku juga tidak pernah bertengkar dengan Hyung."

"Kau membuatku merasa bersalah!"

"Hyung adalah Hyung yang paling aku sayangi. Karena itu, jangan tinggalkan aku, Hyung."

Grep. Satu pelukan yang pertama kalinya diberikan Kyuhyun untuk Donghae. Berbeda dari biasanya, biasanya Donghae-lah yang memulai pelukkan itu terlebih dahulu. Tapi kali ini berbeda, sekaligus terasa menyesakkan.

Pelukan ini terasa seperti mengatakan kalau ini adalah sebuah perpisahan.

"Tentu saja."

Donghae balas memeluk Kyuhyun, dengan pelukkan erat, tetapi tidak mencekik seperti biasanya.

"Aku akan selalu berada di samping Kyunnie, apapun yang terjadi."

TBC

Apakah Chapter ini jelek dan tidak memuaskan? Soalnya saya merasa Chapter kali ini benar-benar lebay… -_-

Saya benar-benar berterima kasih kepada orang-orang yang telah membaca dan me-review Chapter sebelumnya. Tanpa kalian, mungkin saya tidak akan bersemangat untuk mengetik fic seperti sekarang… ^_^

Oh iya, bagi yang belum tahu (atau memang semuanya belum tahu?) saya ini cowok, bukan cewek. Jadi bagi yang sudah manggil saya Onnie, silahkan ganti panggilan kalian untuk saya ya… ^_^

Sekali lagi, Terima kasih untuk kalian semua! Maaf kalau saya tidak bisa membalasnya satu-satu, soalnya review kalian membuat saya speechless… Hehehee…

Baiklah… Sampai jumpa di Chapter depan ya! ^_^