Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 4
"Jadi kau tidak bisa membaca pikiran Naruto, itu maksudmu?" decak Sai.
Hinata mengangguk. "Iya."
"Aduh, bisa gila aku." ucap Sai. "Lalu apa yang mau kau lakukan?"
"Tidak melakukan apa-apa." jawab Hinata pendek. "Memangnya aku harus apa?"
"Hinata," desah Sai. "Bagaimana rasanya tidak bisa membaca pikirannya? Bukannya kamu dari dulu tidak ingin memiliki kemampuan membaca pikiran orang?"
Hinata menghela napas. "Rasanya sangat membingungkan. Aku kira aku lega bila ada yang tidak bisa kubaca. Ternyata, aku justru khawatir."
"Khawatir soal apa?"
"Khawatir jika seseorang yang tak dapat kubaca itu akan mempengaruhi hidupku."
Sai menarik napas panjang. "Kalau begitu tidak perlu khawatir. Selalu berpikir kalau kau baik-baik saja."
Hinata mengangguk. "Aku tidur dulu."
Sai tersenyum, menatap punggung Hinata yang masuk kedalam bilik kamarnya.
-X-
Hinata mencuci tangannya di wastafel. Kemudian, setelah menutup keran dia memandang dirinya di cermin.
Lalu, seorang gadis muncul dari salah satu bilik kamar mandi. Gadis itu langsung berubah pucat.
"Hai," Hinata mencoba menyapa. "Apa kabar, Sakura?"
Gadis itu, Sakura, tersenyum tipis. "Lumayan."
"Kurasa kau baik-baik saja dengan teman barumu." ucap Hinata.
"Tidak, tidak begitu." sahut Sakura sedikit panik.
Hinata berjalan melewati Sakura yang masih berdiri terpaku.
-X-
"Hanabi, kau benar tidak mau melanjutkan sekolah yang sama denganku?" tanya Sasuke.
Hanabi tersenyum tipis, kemudian tertawa. "Kita sudah lama putus, jadi untuk apa aku bersekolah yang sama denganmu? Aku juga dari dulu ingin bersekolah di Konoha Gakuen, kuharap kau memakluminya."
"Baiklah."
Hanabi tersenyum lagi. "Oh ayolah, jangan manyun seperti itu. Jika kamu mau menemuiku, aku masih bisa menemuimu."
"Padahal kukira kamu mau bersekolah yang sama lagi denganku."
"Aku mau meraih beasiswa disana," ujar Hanabi. "Sekolah Konoha Gakuen sering memberikan beasiswa untuk naik tingkat lebih cepat dari seharusnya. Mungkin saja aku bisa satu angkatan denganmu nanti."
"Oke. Good luck."
"Ya."
-X-
Hinata berjalan pelan melewati taman sekolah. Sebelah tangannya memegang buku pelajaran. Ia sama sekali tidak memandang kedepan.
Ternyata, ada seseorang yang membawa setumpuk buku dan tidak melihat kedepan juga.
"Aduh!"
"Ahh!"
Buku-buku berhamburan kemana-mana, dan Hinata meringis.
Orang itu juga meringis.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Hinata, menyentuh bahu orang itu, lupa bahwa ia dapat membaca pikirannya.
Aduh, sialan, sialan!
Hinata melangkah mundur sedikit. "Maafkan aku."
"Hn. Setidaknya kau bantu aku membereskan semua ini." ucap orang itu.
Hinata mengambil buku-buku yang tersebar berantakkan tersebut, membaca nama yang tertera disana.
Hanabi Hyuuga.
Nama belakangnya sama dengannya. Apa ini kebetulan?
"Ini." Hinata menyodorkan buku-buku tersebut. "Namamu bermarga Hyuuga?"
"Ya. Emangnya kenapa?"
Hinata menatap gadis ini sejenak, lalu berkata, "Tidak apa-apa."
Gadis itu segera pergi membawa buku-bukunya, meninggalkan Hinata yang entah bagaimana merasakan kecemasan.
-X-
Sasuke berdecak, kemudian melangkah menjajari langkah Naruto. "Kau mau apa tadi?"
"Bertemu dengan rekan apartemen Sai."
"Yang... mengaku sebagai mind reader itu?"
Naruto mengangguk ringan.
Sasuke membelalakan matanya. "Kau bercanda?"
"Tidak. Aku hanya... hm, tidakkah kau penasaran?"
Sasuke tertawa pelan. "Sesungguhnya, aku takut dengan orang yang memiliki kemampuan seperti itu. Aku tidak percaya ada yang bisa melakukan hal itu."
Giliran Naruto yang tertawa. "Aku benar-benar penasaran dengan kelakuannya yang aneh kemarin."
"Saat itu, kau memikirkan apa?"
"Hmm..." Naruto berusaha mengingat. "Aku berpikir,..." kau cantik, Hinata. Kau benar-benar memiliki kemampuan itu? Aku juga memiliki kemampuan supranatural sepertimu..., tapi...
"Naruto? Kau berpikir apa saat itu?" tanya Sasuke lagi.
"Tidaak, bukan apa-apa. Itu rahasia." jawab Naruto sambil tersenyum penuh arti.
"Pikiran mesum ya?"
"Enak aja."
"Bagaimanapun dia cakep, kan?" canda Sasuke.
"Iya, sih."
"Hahaha."
"Tapi, kau jadi ikut denganku, kan?"
"Sebenarnya aku tidak mau, tapi, sepertinya aku terlanjur mengikuti langkahmu, Naruto." ujar Sasuke sambil tergelak.
"Tuh, apartemennya didepan sana..."
-X-
"Oh iya, Hinata, jadi bagaimana?"
Hinata memandang Sai yang sedang memotong sayuran. "Maksudmu?"
"Tentang Naruto yang tidak bisa kau baca itu."
Hinata mendesah. "Kau bilang, semua akan baik-baik saja."
"Iya, aku tahu ucapanku sendiri." ujar Sai. "Tetapi ini untuk pertama kalinya kan kau tidak dapat membaca pikiran seseorang, kau pasti memikirkannya terus."
Yah, sebetulnya Hinata tidak benar-benar memikirkannya. Ada kalanya dia sibuk untuk memikirkan hal macam itu. Tetapi kala dia lagi memiliki waktu kosong, yang dipikirkannya adalah lelaki itu.
Bagaimana bisa Naruto tidak bisa dibaca olehnya?
Tok! Tok! Tok!
"Hinata, kurasa kau yang harus membuka pintu."
"Siapa yang mau datang kesini?" tanya Hinata. "Pasti salah satu temanmu, aku tidak pernah memberi tahu siapapun tentang apartemen ini."
"Temanku adalah temanmu juga, Hinata!" seru Sai disaat Hinata sudah melangkah keluar dapur.
Hinata membuka pintu, dan sesuai dugaannya, teman Sai. Tapi teman Sai adalah temannya juga.
"Wah, ternyata tentang kalian satu apartemen tidak bercanda, ya?" ujar Sasuke. "Boleh kami masuk?"
"Tentu saja boleh, kan?" Naruto berujar, menatap Hinata dengan tatapan awas-kalau-aku-gak-boleh-masuk.
Hinata mengangguk kecil. "Ya... eng, Sai ada di dapur."
Naruto dan Sasuke melangkah masuk, melepas alas kaki mereka, tanpa canggung masuk dan duduk dimeja penghangat(sang author lupa nama meja penghangat saat musim dingin di Jepang itu apa, maklumin ya? Hehe.).
Hinata menghela napas. Kau mungkin sudah gila, Hinata. Di apartemen ini sekarang ada 3orang lelaki.
"Ah, kalian," Sai mengintip dari dapur. "Kalian mau yakimeshi(nasi goreng jepang)?"
"Boleh!" seru Naruto keras.
"Wah." decak Hinata. Dia ikut duduk diantara Sasuke dan Naruto. "Kalian menghabiskan bahan masakkanku saja."
"Hei, aku tidak memesannya, ya. Hanya Naruto." kilah Sasuke.
"Baiklah."
Mereka hening tiba-tiba.
"Ada apa kalian kesini?" tanya Hinata akhirnya.
"Eng, itu..." Sasuke bingung mau berbicara apa. "Hanya berkunjung, tak bisa kah?"
"Ya, bisa sih. Boleh aja." kata Hinata.
Aneh. Pikir Hinata dengan perasaan kalut. Jarang ada yang tahu kemampuannya, kemudian tidak menjauh dariku.
"Yakimeshinya telah siap!" ujar Sai, membawa nampan berisi semangkuk besar yakimeshi hangat. Asapnya mengepul, menyebarkan aroma sedap keseluruh ruangan.
Mereka makan bersama-sama. Mengobrol beberapa hal yang tidak penting, kemudian saat yakimeshi mereka sudah habis, Naruto memutuskan untuk pulang.
"Bagaimana dengan kau, Sasuke, kau mau tetap disini?"
"Sepertinya aku mau ikut denganmu kawan," ujar Sasuke.
"Biar aku yang membereskan semua ini," ujar Sai. "Kau antar mereka kedepan saja, Hinata."
Hinata menurut, mengikuti langkah Sasuke dan Naruto.
Sasuke sudah keluar dari apartemennya, tetapi Naruto masih menunggu diambang pintu.
"Terima kasih makanannya." canda Naruto.
"Kau harusnya bilang pada Sai." ujar Hinata. "Terima kasih sudah datang."
Naruto tersenyum. "Kau benar-benar bisa membaca pikiran seseorang, kan?"
Tanpa sadar Hinata mengulum bibirnya. "Ya."
"Ada beberapa hal yang mau kukatakan kepadamu," ujar Naruto, "Kau bisa datang Minggu ini di kafe yang sama dengan kemarin?"
"Untuk apa? Apa yang kau mau bicarakan?"
"Sesuatu yang penting... yang hanya bisa kau lakukan dan aku lakukan."
Wajah Hinata memerah, ia tahu. Hawa sedingin ini tidak akan pernah membuat kedua pipinya terasa hangat... pasti karena perkataan Naruto barusan.
"Naruto!"
Naruto menoleh sejenak menatap Sasuke. "Sebentar!" kemudian dia berpaling kembali menatap Hinata. "Bagaimana?"
Hinata masih bergeming.
"Itu hal yang penting Hinata. Mungkin bagi sebagian orang tidak penting, tapi aku tahu bahwa bagi kita penting."
Ucapan Naruto membuat Hinata merasa detak jantungnya semakin cepat. "Baiklah, minggu ini, di kafe yang sama."
Naruto mengangguk. "Sampai bertemu lagi."
Ya, sampai bertemu lagi.
-X-
Karena vote terbanyak adalah pair NaruHina, aku membuat fanfict ini menjadi pairing NaruHina. Dan yup, benar, Naruto-lah yang tidak dapat dibaca Hinata. Tidak mungkin Hinata tidak bisa membaca pikiran Naruto tanpa alasan tertentu, karenanya aku mau membuat alasan itu pada chapter berikutnya terima kasih banyak yang telah membaca sampai sini, dan aku mohon maaf karena kerterlambatan memposting fanfict ini karena kesibukan sekolah yang banyak sekali.
Ohya, ada banyak hal yang mau kusampaikan pada para readers, terutama para fans NaruHina. Mungkin ini agak sedikit menyinggung, tapi aku mohon kerja samanya agar aku terus mau berbagi kisah NaruHina terutama di fanfict ini. Yah, sekedar untuk kenyamanan bersama Tapi kalau gak mau baca juga gak masalah! Yang mau dibicarakan olehku hanya tentang flame dari para fans NaruHina yang mengganggu pikiran, jiwa, dan "ide" dalam menulis fanfict ini. Kesimpulannya, keputusan mau tidaknya membaca tulisan berikutnya ada ditanganmu
Kepada fans NaruHina yang terhormat,
Beberapa dari antara kalian ada yang memberi flame "JAHAT" pada salah satu fanfict-ku yang bukan berpairing NaruHina. Bukan hanya sekali, tetapi lebih dari itu. Dia bilang, kalau aku ini aneh, gila, ****n*, f**k atau semacamnya karena membuat fanfict NaruSaku dan SasuHina, padahal jelas-jelas nama penaku adalah Himawari Natalia, berembel-embel nama anaknya NaruHina. Bahkan, fans NaruSaku tidak merasa keberatan dengan nama pena ini, padahal semula aku lebih mengkhawatirkan perasaan para fans NaruSaku. Tapi ternyata yang terjadi sebaliknya, bukannya fans NaruHina seneng malah nge-flame (?).
Oke, aku mau menjelaskannya.
Aku bergabung pada bulan September 2014, dan itu jelas tertera pada profil. Masih baru memang, tetapi rasanya sudah mengenal lama karena teman dekatku juga bergabung pada situs ini. Yang mau kusampaikan, aku membuat nama pena Himawari Natalia kurang lebih sebulan sebelum Masashi Kishimoto menyatakan kalau nama anak NaruHina adalah Himawari. So, apa salahku? Aku juga memilih nama Himawari dari sekian banyak nama pena yang kupikirkan karena: novel yang sedang kubuat memiliki unsur matahari, dan sejak kecil aku menyukai "Himawari" pada film Crayon Sinchan dan Hamtaro kalau gak salah? Nama Himawari kan, bukan hanya di Naruto?
Kemudian, aku membuat fanfict NaruSaku, NaruHina, SasuHina, bukan karena aku mau menyinggung satu sama lain atau semacamnya. Aku bersikap netral, tidak terlalu menjagokan salah satu dari pairing tersebut. Dan aku sudah jelas-jelas menuliskannya pada profil bahwa aku "menerima saran pairing" bagi siapapun yang mau pairingnya dibuat fanfict olehku. Aku pernah menjelaskan ini pada fans NaruSaku juga-ini adalah , publish imajinasimu, jadi kenapa sih, masih adaaaa... aja yang nge-flame dengan alasan pairing canon? Ini publish yang bebas, suka-suka, whatever you think, jadi, boleh dong, mengirim fanfict ber-pairing bahkan yang paling enggak cocok sekalipun? Boleh saja, kan, membuat fanfict yang bahkan nyeleweng dari aslinya?
Flame boleh-boleh saja, sah-sah saja, hanya saja, asal jangan menggunakan bahasa yang tidak sopan sampai menyinggung(bahkan kebun binatang sampai keluar semua -,-), juga jangan review dengan guest dong. Kalau mau ngejek, pake nama penanya! Biar bisa dibales(sadis). *peace* ohya satu lagi... kalau mau flame yang berbobot :3 mengenai tulisannya begitu, jangan karena alasan simpel pairing canon. Kan malah melumpuhkan mental bangsa, terutama kalau nyuruh author berhenti nulis. Padahal bisa aja kan, kalau author-nya penulis di dunia nyata? Ckckck...
Yah, kalau sesudah membaca ini para fans NaruHina mengomel, marah-marah, review flame yang gak berbobot mengenai pairing canon lagi diberbagai fanfict-ku(Terutama fanfict "Touch Your Mind" ini), aku meminta maaf karena aku akan segera menghapus fanfict ini, kemudian, ikut memflame bagi author NaruHina, walau selama ini enggak pernah bikin flame. Ingat-author juga manusia, bukan robot. Author memiliki perasaan juga jika di flame dengan alasan yang gak bener. Author adalah penulis yang bisa juga mengeluarkan kata-kata "jahat" kalau ia mau.
Aku disini bukan membela fans NaruSaku, aku masih netral mengenai pairing seperti biasanya. Aku hanya mau membela kebenaran tentang nama penaku, dan mengingatkan tujuan sebenarnya dari , ya?
Karenanya, terima kasih kepada para fans NaruHina yang telah membaca tulisan ini, dan(bagi) yang memahami perasaanku sebagai author yang diflame secara gak bener ini, terutama yang setuju mengenai tulisan ini. Juga mohon maaf pada fans NaruHina yang mungkin pernah nge-flame siapapun diluar sana dan merasa tersinggung, karena tulisanku ini.
Aku berharap kerja samanya dari para readers untuk menegakkan tujuan sebenarnya, sehingga kesalah pahaman dan flame yang tidak jelas alasannya tidak terjadi lagi. Agar jadi lebih tentram.
-Himawari Natalia-
Oke, jadi udah paham semua maksudku? Silahkan review(PM juga boleh kalau merasa itu hal yang penting) untuk memberikan pendapat kalian semua mengenai tulisanku diatas. Semoga kalian mengerti perasaan para author yang mendapat flame. Trims, dan sampai jumpa di chapter berikutnya!
