Toki: Halo semuanya! Kangen deh sama kalian semua! (teriak-teriak gaje)

Yukiko: (sweatdrop) Seneng banget kayaknya yang udah selesai UTS! Gimana nilainya To-chan?

Toki: (energi langsung drop, merenung diri di pojokan) Ja-jangan ngingetin soal hasilnya dong

Yukiko: (sweatdrop) E-eh? To-chan kenapa tuh?

Rukia: (nongol) Palingan nilai-nilainya jeblok semua!

Toki: (merasa tertusuk paku karatan) Ugh!

Momo: (nongol disamping Rukia) Betul tuh! Pasti IPA-nya yang terjeblok!

Toki: (merasa tergilas buldoser) AGH!

Yukiko: (sweatdrop) Udah deh! Daripada kelamaan ngobrolnya, mendingan Yu aja yang buka fic-nya kali ini! To-chan gak akan-pernah-selamanya memiliki Bleach!

Aizen: (tiba-tiba nongol) Kalo dia yang punya Bleach, palingan gue udah-

Toki: (nodongin bazooka ke Aizen) MATI!

Aizen: GYAAAAAA!

Yukiko: (sweatdrop lagi) Anata no tame ni ichi rittoru namida-

All character: DOZOU!


Warning: menyebabkan anda semua ingin muntah, lalu ingin membunuh saya (?), abal, pasaran, typo(s)

Petunjuk:

"Hai" – percakapan

"Hai" – bicara dalam hati

Hai – flashback/isi diary Rukia


One Litre Tears for You

"A-aku... Aku sudah tau yang sebenarnya..."

DUNG!

"KYAAA! RUKIA-CHAN HEBAT!"

Hisana melihat Rukia bermain basket dengan spektakuler. Hisana sangat menyukai saat-saat dia melihat Rukia bermain basket.

Tapi, dalam hatinya, dia takut tidak bisa melihat Rukia bermain basket lagi.

Dengan kuat, Hisana menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikiran konyolnya. Tapi, kali ini, kejadian kemarin berputar di otaknya.

"Ne nee-chan... Sebetulnya, penyakitku itu apa?"

Hisana berhenti di tempatnya sejenak. Kenapa adiknya bisa berpikir demikian?

Hisana membalikan tubuhnya. "Eh? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang hal itu?"

Rukia terlihat pucat pasih, lalu menggeleng perlahan. "Tidak, aku hanya ingin bilang, besok aku ada pertandingan basket! Jadi kondisiku harus prima, iya kan?"

Hisana terdiam sejenak, merasakan ada yang cangung dikata-kata Rukia. Lalu, Hisana tersenyum. "Baiklah! Bagaimana kalau besok nee-chan ke sekolahmu untuk mendukungmu?"

BRAKK!

"KYAA! RUKIA-CHAN!"

Hisana terbangun dari lamunannya, mendapati adiknya terjatuh dengan keras ke lantai lapangan basket indoor yang terbuat dari kayu. Seketika, Hisana panik.

"Hisana-chan?"

Merasa namanya dipanggil, Hisana langsung menengok kebelakang, mendapati seseorang yang sangat dikenalnya – Hinamori Momo.

Momo tersenyum menenangkan. "Mo daijobu! Rukia-chan pasti akan bangkit lagi!"

Suara sorakan penonton menggema kembali, pertanda bahwa Rukia sudah bangkit dari posisi terjatuhnya. Hisana menghela nafas lega.

"Rukia-chan itu kuat, Hisana-chan"

Hisana melihat kearah Momo, yang sedang mengeluarkan alat melukisnya. "Sekuat apapun Rukia-chan terjatuh, seberat apapun rintangan yang Rukia-chan lalui-"

DUNG!

PRITTT!

Teriakan penonton mewarnai lapangan. SMA Karakura menang.

"-Rukia-chan pasti dapat mengatasinya"

Momo menunjukan lukisannya kepada Hisana. Hisana dengan mata berlinang air mata karena melihat lukisan Momo, mengangguk kecil.

"Ya, kau benar... Kelihatannya aku kalah banyak darimu kalau soal Rukia... Padahal aku kakaknya"

Momo tersenyum lagi. "Bukan kok, itu hanya dari dasar penglihatanku saja, yang merupakan sahabatnya!"


"RUKIA! RUKIA!"

Ichigo, yang sedang mengambil air untuk mengisi aquarium ikan, teralihkan konsentrasinya mendengar banyak orang memanggil teman sekelasnya.

"Jadi, hari ini ya pertandingannya?"

"Kau ingin mengajaknya pergi ke festival?"

Kali ini, perhatian Ichigo terpusatkan kearah dua lelaki yang melihat Rukia dekat pintu keluar. Ichigo mengenali salah satunya, Shiba Kaien.

Muka Kaien terlihat memerah. "Bagaimana ya? Aku bingung..."

Temannya terkekeh. "Sudahlah! Tinggal ajak dia dan masalah selesai!"

Ichigo, yang terlihatnya tidak tertarik lagi dengan keadaan sekitarnya, berbalik dan pergi dari tempatnya semula.


"Unohana-sensei, ada yang ingin menemui anda"

Unohana mengangguk tanpa melihat ke asistennya, pandangannya tetap terpaku kepada monitor komputer. Lalu bertanya, "Siapa?"

"Kuchiki Rukia dan Kuchiki Hisana"

Mendengar nama salah satunya pasiennya, Unohana mengangguk lagi. "Persilahkan mereka masuk"

"Baiklah"

Unohana membalikan posisi duduknya, mendapati kedua kakak-beradik Kuchiki di dekat pintu. Unohana tersenyum. "Silahkan duduk"

Rukia dan Hisana pun duduk. Unohana membuka pembicaraan, "Apa ada masalah?"

"Aku... sudah tau..."

Hisana dan Unohana terkejut mendengar kalimat itu keluar dari mulut Rukia. "Sudah tau?"

Rukia melihat Unohana dengan mata berkaca-kaca. "A-aku... Aku sudah tau yang sebenarnya... Unohana-sensei... Nee-chan..."

Hisana menundukan kepalanya, menahan air mata yang sudah berada di ujung matanya.

"Penyakitku itu... Spinocerebellar ataxia kan?"

Air mata Hisana mulai menetes, setitik dua titik.

Suara Rukia mulai terdengar parau. "Kenapa... kenapa penyakit ini memilihku...?"

Unohana memejamkan matanya, bukan yang pertama kalinya dia mendengar pertanyaan itu

"S-sensei...Ke-kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal...?"

"A-aku mau semua waktuku kembali... kepadaku..."

"Se-sensei... o-onegai"

Unohana membuka matanya lalu berkata, "Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memperlambat efeknya. Jadi, aku minta Rukia-chan memulai rehabilitas mulai liburan musim panas ini"

Bersambung !


All:...

Toki: (keringet dingin) Kok... Pada diem?

Rukia: (muka horror) Kok gue disini cengeng banget ya?

Toki: (sweatdrop) Uhm... Ugh...

Yukiko: Kok cuma sedikit sih chapter kali ini? Padahal kan-

Toki: (ngacir duluan) HUWA! KALI INI CHAPTERNYA TOKI BAGI JADI DUA! OTAK TOKI MATI GARA-GARA UTS!

Rukia: (ngejar Toki)

Yukiko: (sweatdrop) Sudahlah! Maaf ya minna-san! To-chan benar-benar minta maaf kali ini gara-gara gak bisa memberikan senpai-senpai semua chapter yang bagus kali ini...

Toki: (teriak gaje) TAPI TETEP REVIEW YAAAA!