Previous~

.

.

.

.

.

"Permisi?" sapa wanita cantik pada receptionist di sebuah hotel megah berlantai 40 dengan arsitektur romawi modern.

"Ada yang bisa saya bantu nyonya?"

"Bisa aku mendapat duplikat key card kamar suamiku?"

"Bisa anda tunjukkan kartu pengenal anda?"

"Ini.." Gadis berusia dua puluh lima tahun itu menyerahkan id cardnya.

"Nama anda Oh Joo Hyun dan suami anda Oh Sehun benar?"

"Ya benar!"

.

.

.

.

.

.

Chap 4!

-Secret Love-

.

.

.

Cast : Oh Sehun & Lu Han(GS)

M (Mature).

.

.

TwinkleDEER present

Don't like? Just go away.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun termanggu menatap Luhan.

Menatap si pemilik mata rusa yang redup. Nampak tak bergairah.

Dari tadi hanya tidur tengkurap sambil melamun. Kadang terdengar nafasnya yang menghela.

"Hah.." oke! Ini kesekian kalinya Baekhyun mendengar sang model menghela nafas. Membuat gadis ber-eyeliner itu jengah.

"Perlu teman untuk bercerita?" Baekhyun bersuara dahulu. "Kudengarkan selama itu tak menyangkut si brengsek Sehun,"

"Ini tentang Sehun,"

"Baik! Lupakan penawaranku sebelumnya."

Luhan kini menatap Baekhyun. Dan yang ditatap masih sibuk dengan New York Times Magazine ditangannya. "Baek, menurutmu Sehun orang seperti apa?"

Baekhyun tak bergeming. Kemudian bersuara, "Brengsek, bajingan, dan sialan. Itu deskripsi seorang Oh Sehun," wah.! Luhan rasa Baekhyun harus mendapatkan penghargaan wanita dengan sumpah serapah terbaik.

Luhan cemberut, kemudian membenarkan ucapan si mulut licin, "Yah kurasa kau benar,"

Sedetik kemudian Baekhyun menoleh. Menatap Luhan bingung. Sejak kapan modelnya berpikir sejalan mengenai Oh Sehun yang selalu Luhan agungkan.

"Lu kau baik?" sejujurnya Baekhyun sedikit khawatir. Ini bukan Luhan yang Baekhyun kenal.

"Sehun bilang tak berfikir mengenai menikah denganku," Luhan bergumam. Masih dengan tatapan sayu.

"Lu?"

"Dia bilang mencintaiku tapi tak mau mengikatku dalam status," kali ini Luhan menatap Baekhyun. Dan yang ditatap terdiam. Kesal dan marah tentu saja. Seenaknya Oh Sehun memperlakukan sahabatnya seperti jalang menyedihkan.

Baekhyun mendekati Luhan. Ikut terlungkup serta merangkul bahu rusa manis yang kini nampak rapuh.

Sudah cukup Baekhyun melihat betapa kejamnya hidup Luhan semenjak ibunya meninggal.

Dan sekarang ia tak akan membiarkan Sehun membuat Luhan kembali terlihat menyedihkan.

"Lu? lihat aku!"

"Huh?" kini beralih menatap Baekhyun. Satu-satunya orang yang ia punya. Sahabat, saudara dan manager baginya.

Meyakinkan Luhan bahwa masih ada ia yang akan selalu bersamanya. "Tinggalkan Sehun. Aku sudah berkali mengingatkanmu kan?" Kali ini Baekhyun berkata teduh. Tak ingin membuat Luhan terluka jika menggunakan emosi.

Luhan diam. Kemudian tersenyum lirih, "Kau pernah jatuh cinta Baek?"

"Hah?." Kini gantian Baekhyun yang menatap Luhan bingung.

"Waktu ayah memilih menikahi wanita lain dan tak ada lagi hubungan baik antara aku dan ayah," Luhan menerawang. Memulai bercerita.

"Saat itu kau masih berada di London untuk menyelesaikan sekolahmu. Kau ingat Baek? 3 tahun yang lalu,"

Diam sesaat. Kemudian Baekhyun menangguk pertanda iya.

Luhan mengenang betapa sulitnya dulu baginya untuk sesuap nasi.

Disaat ia memutuskan untuk tak lagi hidup bergantung pada ayahnya dan memilih pergi dari rumah.

Ia harus rela menjadi penghantar susu saat fajar, kemudian menjadi pelayan sebuah kedai sup tulang sapi sampai sore. Tak hanya sampai disitu, malamnya ia menjaga mini market sampai 1 dini hari. Itu terekam baik di ingatan Luhan.

Luhan tau dengan baik bagaimana kerasnya hidup. Perjuangan, keringat, dan air mata yang menjadi temannya setiap hari.

Mengingat saat seorang pelanggan pria kisaran usia setengah abad meneriakinya dan mengatai bodoh didepan semua orang. Karena Luhan yang tanpa sengaja menumpahkan semangkuk sup tulang sapi panas keatas meja –padahal tak mengenai pria itu, malah sebenarnya tumpah mengenai pergelangan Luhan sendiri saat disajikan.

Dengan mata nyalang meneriaki Luhan dengan berkaca pinggang. "Kau punya otak tidak? Jika mengenaiku bagaimana? Dasar bodoh! Jangan bekerja jika tidak pecus" Ya! Kurang lebih seperti itu yang dikatakan.

Padahal saat itu Luhan sedang dalam kondisi saikit. Maag nya kambuh tapi ia harus terus bekerja demi mengais beberapa lembar won sialan yang ia butuhkan.

Hingga seorang pria datang. Menarik Luhan kebelakang pria berpunggung lebar tersebut. Melindungi dan membela Luhan.

Serta mengobati bekas melepuh pada pergelangannya.

"Kau baik-baik saja?" itu pertama kalinya Luhan mendengar nada khawatir seseorang untuk dirinya.

"Aku baik,"

Kemudian membungkus pergelangan Luhan dengan perban. Sungguh! Kala itu Luhan merasa dihargai sebagai manusia.

"Aku Oh Sehun," itu namanya. Pria yang berhasil mencuri perhatian dan hati Luhan dalam sekali tatap.

Meningat kebetulan yang mempertemukan Luhan dan Sehun, kemudian mereka dipertemukan lagi dua tahun kemudian.

Saat Luhan sedang mulai naik daun sebagai model. Oh iya! Luhan bukan lagi Luhan yang gembel dengan cemoohan dan tatapan remeh dari orang lain.

Tapi Luhan dua tahun kemudian adalah seorang model yang mulai dikenal public. Dengan Baekhyun sebagai managernya setelah pulang satu tahun yang lalu dari London.

Luhan melihat Sehun. Disebuah bar ternama di distrik Gangnam. Terlihat sangat kacau dan berantakan.

Dengan percaya diri Luhan menghampiri Sehun. Dan– Oh demi tuhan! Sehun yang sekarang berlipat tampan.

"Oh Sehun?" Oke! Luhan memang agresif menyapa dahulu. Tapi tak apa, karena Sehun cinta pertamanya.

"Kau– eug Lu–Han?" agak kesulitan mengingat nama Luhan bagi Sehun akibat alkohol yang ia minum.

Smirk tipis Luhan sunggingkan kala itu. Biar saja ia terlihat jalang. "Kau ingat aku ternyata,"

"Tentu saja! gadis sepertimu tak mudah terlupakan cantik," oke! Ini berlebihan. Karena Sehun dengan beraninya menjawil dagu Luhan. "Bahkan dua tahun pun tak cukup,"

Hingga selanjutnya Luhan harus dibuat patah hati mendengar kalau Sehun baru menikah. "Aku baru saja menikah. Dengan wanita yang tak kucintai sama sekali,"

Luhan diam. Ini Sehun antara mabuk atau curhat yang membuat saikit hati sih?

"Harusnya ini malam pertama kami. Tapi aku muak melihat wajahnya," ya! Luhan sangat ingat yang Sehun katakan saat pertemuan mereka di bar.

Dan sejak saat Sehun berkata, "Aku memang bajingan. Tapi cinta tak datang hanya pada orang suci. Dan bajingan sepertiku telah jatuh cinta padamu Luhan."

"Terlepas dari aku yang telah beristri tapi hatiku mencintaimu,"

Dan semenjak saat itu, mereka berdua terhanyut. Dalam pusaran besar dosa dan kenikmatan.

Hingga mereka lupa arah kembali.

Luhan tersenyum tipis.

Dan si pendengar cerita masa lalunya –Baekhyun terdiam seribu bahasa.

Ia tau kalau Luhan sangat mencintai Sehun. Pria yang memperlakukan manusiawi disaat yang lain mencaci.

Saat dirinya tak ada untuk menjaga Luhan, Sehun lah yang membela Luhan dihadapan banyak orang –walau hanya sekali.

Bagaimanapun juga Sehun meninggalkan kesan 'pria baik' dimata Luhan remaja saat itu.

Tapi kini? Jangan tanyakan.

Sehun adalah pria terbangsat sumur hidup Baekhyun.

Tepukan prihatin Baekhyun hadiahkan punggung sempit Luhan. "Aku tau aku tau.!" Nada bicara Baekhyun terdengar seperti orang menyerah.

"Kalau kau ingin Sehun menikahimu–" Baekhyun menatap tajam Luhan. Yang ditatap hanya memasang wajah sayu.

"–Buat Sehun dan istrinya berpisah"

"Apa?"

"–agar Sehun menikahimu,"

Luhan terpana. Sungguh ide Baekhyun sangat gila. Ia bahkan tak pernah berfikir melakukan hal itu. Terlintas pun tidak.

Luhan tertawa menyebalkan, "Hah tidak mungkin," kemudian menatap sahabatnya Baekhyun. Wajahnya terlihat serius. Membuat Luhan berdehem sebentar.

"Ayolah Baek ini bukan ide bagus."

Bola mata Baekhyun berputar jengah, "Aku hanya menyarankan Lu.!" "Lagipula aku kasihan melihatmu seperti idiot yang menunggu kepastian bajingan seperti dia,"

"Huh," Luhan mendengus kesal. Baekhyun menghinanya?

"Atau–". "Bagaimana dengan membuatmu hamil?"

.

.

.

.

.

.

Tiga puluh menit lagi Chanyeol menjemputnya.

Seperti yang sudah direncanakan, sore ini ia akan menemani Chanyeol bertemu sahabat yang Luhan tak tau siapa.

Chanyeol bilang, sahabatnya itu adalah orang yang membantu memberi saran perihal bunga waktu itu.

Luhan jadi penasaran seperti apa pria itu. Ck! Kenapa firasatnya buruk?

.

.

.

Suara bel menggema. Menandakan Chanyeol mungkin saja sudah datang menjemputnya.

Ini jam empat kurang sepuluh menit. Lebih awal sepuluh menit dari janji mereka.

"Sudah siap? Apa aku datang terlalu awal?" Chanyeol tertawa bodoh. Sambil menggaruk tengkuk. "Maaf,"

Hey! Ada apa dengan Chanyeol?

Seingat Luhan dulu waktu awal bertemu Chanyeol terlihat dewasa dan membosankan.

Luhan tertawa kecil. Tapi ia suka punya teman seperti Chanyeol. "Tidak apa-apa. Lagipula aku sudah siap,"

Luhan tersenyum manis membuat Chanyeol sweetdrop.

Semoga tuhan mengijinkan ia menjadi pendamping Luhan.

.

.

.

.

.

.

Mereka berjalan beriringan memasuki sebuah restoran yang berada dilantai atas.

Menghadap view malam kota Paris yang indah dan romantis.

Jika Chanyeol bisa memilih, ia ingin membawa Luhan pergi dan mengajak kencan. Tapi ia sudah cukup bersyukur Luhan mau menemani bertemu sahabatnya.

Setidaknya Chanyeol tak terlihat terlalu menyedihkan.

"Emh Luhan, kau keberatan kalau aku menggandeng tanganmu?"

Luhan tersenyum singkat. Kemudian mengatikan lengannya ke lengan Chanyeol. Menatap pria itu manis, "Yahh karena aku tak mau kau nampak menyedihkan didepan sahabatmu maka baiklah,"

Chanyeol tertawa. Kemudian mengusak rambut Luhan yang sudah tertata rapi. Membuat Luhan menatap kesal. "Seharusnya dari dulu kau bersikap manis. Biar aku tidak takut mendekatimu."

"Rambutku rusak sialan," Luhan mendengus. Ouh! Umpatannya,

.

.

.

Ditempat yang sama, restoran yang sama. Sehun sedang duduk disebuah meja. Disampingnya ada sang istri –Joo Hyun yang menempel manja.

Sehun mendengus. Menyebalkan saat masuk ke hotel menemukan Joo Hyun sedang berbaring sambil membaca majalah.

Bagaimana wanita itu bisa ada didalam?

Sehun kesal bukan main.

Masalahanya dengan Luhan saja belum selesai kenapa wanita ini datang dan membuat suasana hatinya makin kacau.

Tapi Sehun bukan seorang yang tega menyuruh istrinya pulang jika tak ingin disomasi mertua.

"Sehun-ah mana temanmu? Kenapa belum datang. Ck! Ini sudah telat 10 menit,"

"Diamlah Joo Hyun. kau bisa pulang jika mau."

"Ish! Aku tak mau melihatmu seperti bujang kesepian kalau kutinggal,"

Sehun menghela nafas panjang. 'kalaupun aku kau tinggal dengan senang hati menelfon Luhan untuk menemaniku. Dan mengenalkannya sebagai istriku bukan kau!' itu hanya suara hati Sehun.

"Sehun-ah maaf terlambat!" suara berat mengintrupsi Sehun dari kekesalannya.

Mendongak kemudian menatap Chanyeol.

Tidak! Bukan kearah Chanyeol.

Lebih tepatnya kearah pusat kehidupannya. Luhan. Berdiri menawan disamping Chanyeol. Lengan ranting Luhan digandeng mesra membuat kepalanya berdenyut. Ingin menghabisi Chanyeol jika tidak mengingat itu sahabatnya.

"Sayang kau melamun?" Oke! Ini suara Joo Hyun. menarik kesadaran Sehun dari tatapan mengintimidasi pada Luhan.

"Silahkan duduk Chanyeol-ssi," Bersikap sopan selayaknya istri berbakti adalah yang sedang Joo Hyun tunjukan.

Namun suasana tegang makin terlihat disaat tak ada satu dari mereka bersuara.

Sehun? Dia masih menatap tajam Luhan. Seolah bertanya, 'Apa yang kau lakukan disamping pria itu. Kau miliku Luhan.'

Luhan? Ah! Rusa itu masih terlalu kaget. Ia mengutuk keadaan yang harus mempertemukan mereka dalam keadaan sialan ini. Jemarinya dari tadi hanya memilih ujung gaun satin yang dikenakan.

Chanyeol? Sebenarnya ia sudah mengajak Sehun berbicara. Tapi entah sahabatnya hanya menjawab 'ya' atau 'tidak'.

Joo Hyun? ck! Istri Sehun dari tadi diam dan tak paham situasi. Terang saja! ia kan tak tau suaminya kini sedang berhadapan dengan Luhan. Kekasih gelap suaminya.

"Oh iya! Dia Luhan," Chanyeol tersenyum. Memperkenalkan Luhan pada Sehun maupun Joo Hyun. lebih tepatnya pada Joo Hyun sih! Karena Sehun telah mengenal Luhan lebih dalam.

"Dia wanita yang dulu aku ceritakan," menatap Sehun! Alis mata Chanyeol naik turun.

Sial! Jadi wanita incaran Chanyeol adalah Luhan? Kekasihku? Oh tidak Park Chanyeol! Luhan miliku! Tegas Sehun membatin.

"Luhan?" oh bagus! Kali ini suara Sehun. Memanggil Luhan dengan nada dalam. Jangan! Jangan sampai Sehun kelewatan dan mencium Luhan karena merindu.

"I-iya?" Luhan gugup. Tentu saja! Ia dihadapkan dengan pasangan suami istri dimana dirinya menjadi orang ketiga.

Kalau boleh jujur, Luhan gugup karena Sehun saja.

Joo Hyun? Ah bahkan Luhan merasa dirinya jauh lebih baik.

Tatapan Sehun tajam dan mengintimidasi. Membuat Luhan mendadak keringat dingin, "Aku sering melihatmu pada sampul majalah,"

Oh Luhan! Ayolah.. jangan perlihatkan sisi lemahmu pada si sialan Oh didepanmu!

Chanyeol memukul bahu Sehun, kemudian tertawa. "Kau bicara pada model dunia man! Tentu saja kau sering melihatnya pada sampul majalah,"

Luhan tertawa kecil. Model dunia? Ia rasa itu berlebihan. Well walau Luhan sendiri tak menyangkal hal itu.

.

.

.

Seperti yang diperkirakan. Makan malam ini didminasi suara perlatan makan yang berpadu. kenapa? Tentu saja mereka terlalu canggung untuk sekedar berinteraksi. Khususnya Sehun dan Luhan.

"Bagaimana? Bukankah calon kekasihku sangat mempesona." Chanyeol melirik Sehun.

"Uhk.!" Luhan tersedak. Kemudian secepat kilat dua gelas air ditujukan padanya. Dari Chanyeol dan Sehun tentu saja.

Membuat Joo Hyun memandang tak suka terhadap respon Sehun. "Terimakasih," ya. Luhan mengambil gelas pemberian Chanyeol dan menggaknya.

Untuk pertama kalinya Sehun ditolak oleh Luhan. Membuat kepalanya ingin meledak.

Demi tuhan! Sampai kapan ia harus tertahan dalam keadaan seperti ini. Melihat Luhan didekati pria lain saja membuatnya ini membunuh pria itu. Walaupun Chanyeol sekalipun.

"Aku harus kebalakang sebentar," suara Sehun. Kemudian pria berwajah datar itu berlalu.

.

.

.

Tring!

.

.

.

Bunyi ponsel memecah kebosanan makan malam mereka. Kali ini dari ponsel Luhan.

Sebuah pesan singkat dari kekasih brengseknya dimana istri dari sang kekasih sedang duduk dihadapannya.

'temui aku di belakang. Sekarang!' itu isi pesan yang lebih tepat dikatakan perintah untuk Luhan lakukan.

"Maaf aku harus menelpon seseorang," kemudian Luhan pun berlalu.

.

.

.

.

"Jadi karena dia? Kekasih barumu?" baru menginjakkan kaki Luhan sudah dihadapkan pertanyaan stoic Sehun.

Melihat lelaki itu bersedekap angkuh membuat Luhan jengah. Namun tak memungkiri aura seksi menguar kuat.

Luhan menghela nafas panjang, "Kukira kau menikmati waktu dengan istrimu Oh Sehun. Bukan begitu?"

Sehun menautkan alisnya. "Dia tiba-tiba datang. Bukan berati Joo Hyun datang ber –"

"Bilang saja jika tujuan kalian sesungguhnya adalah bulan madu," Luhan memotong. Dengan tatapan mata rusa yang terlihat kecewa dan sebal dalam waktu bersamaan. Matanya merah, menunjukan betapa kecewanya ia.

"Lu? bukan begitu,"

"….."

"Sayang," Sehun maju selangkah, mencoba meraih pergelangan Luhan yang kenapa semakin jauh dari jangkauannya.

"Kau brengsek Oh Sehun!" sambil menggigit bibirnya. Luhan menumpahkan kekesalannya. "Harusnya aku tak pernah mau menjadi kekasihmu. Harusnya aku tak pernah mau menjadi orang ketiga dalam hidupmu. HARUSNYA AKU TAK PERNAH MAU MENJADI SELINGKUHANMU OH SEHUN!"

Untuk satu alasan Luhan merasa seseorang merengkuhnya erat. Terlampau erat dan hangat. Mempuat sesuatu dalam hatinya tumbuh dan menghangat.

Ini pelukan Oh Sehun. Pria yang baru saja ia maki didepan matanya. Kemudian datang dan meraihnya dalam sebuah pelukan hangat yang tak penah Luhan dapatkan dari siapapun.

"Hkss.. kau brengsek Oh Sehun," Tangis Luhan pecah. Hatinya membuncah. "Harusnya aku aku memberikan hati dan kepercayaanku. Harusnya tak pernah hkss.." Luhan memukul dada Sehun lemah. Sungguh Luhan terlihat amat rapuh.

Dada Sehun berdenyut sakit. Ia tau Luhan pasti tersaikit dengan semua ini. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

Ia tau wanita yang ia cintai sangat telah melalui banyak hal sulit. Tapi Sehun tak berniat menghentikannya.

"Maaf,"

"Hkss…"

"Apa aku harus melepasmu sayang?" Sehun bertanya disela pelukannya yang meregang. Wajah Sehun menerawang. "Aku mencintaimu, tapi jika memintamu terus bersamaku membuatmu sakit haruskah aku membiarkanmu pergi?"

Luhan terkesiap. Wajah nya tiba-tiba pias. Apakah Sehun sedang mencoba mengakhiri hubungan meraka?

"Oh Sehun kau –"

Hati Luhan yang retak kini hancur sudah. Sehun sudah menghancurakan segalanya. Hati dan perasaannya.

"Apa kau akan baik-baik saja jika kita sudah tidak bersama?" Sehun melepas pelukan mereka. Menatap kedua iris rusa Luhan yang nampak lemah.

Demi tuhan Sehun! Bahkan Luhan sudah berjuang sejauh ini. Dan sekarang kau akan mengakhiri segalanya? Seluruh pegorbanan Luhan yang bahkan kau sediri tak tau betapa sakitnya berada di posisi wanita yang tiap malam kau bisikan kata cintamu yang hanya omong kosong!

Kau bukan pria sejati Oh Sehun.

Lutut Luhan melemas. Ia pasti jatuh tentu saja, jika Sehun tidak memegang kedua sisi bahunya saat ini.

"Lu jawab aku. Katakan kalau kau –"

.

.

Plak!

.

.

.

"Aku menyesal mengenal pria bajingan dan sepengecut dirimu Oh Sehun," Luhan melangkah pergi ketika telapak tangannya berhasil mencetak karya seni pada pipi pria bermarga Oh itu.

Namun gagal, pergelangannya secara kasar ditarik kemudian dipaksa masuk kesebuah bilik toilet diujung.

Bilik toilet yang sempit membuat keduanya hanya terpisah inchi.

Tatapan tajam Sehun dan mata nyalang Luhan seolah saling membunuh satu sama lain.

"Jadi kau ingin kita berakhir seperti ini?" suara rendah dan intonasi Sehun menajam. Seolah akan menerkam rusa mungil didepannya.

"Cih. Bukannya kau yang menginginkannya tuan Oh Sehun,!" Luhan tersenyum remeh. Kemudian memalingkah muka bosan.

"Apa?"

"Tentu setelah kau bisa mendapat tubuhku kapanpun kau mau. Padahal kau sendiri punya seseorang yang menunggumu. Itu membuktikan betapa rakusnya kau jadi pria Oh Sehun. Lalu –"

Dan lagi Sehun memotong ucapan Luhan. Kali ini dengan bibirnya yang panas.

Mencium Luhan dengan rakus dan tamak. Mungkin benar jika Luhan mengatakan Sehun rakus. Terbukti dengan ciuman panjang dan menuntut yang ia berikan pada Luhan. Hanya pada Luhan sesungguhnya.

Luhan diam.

Tak berekasi pada ciuman menuntut dari sang kekasih atau mungkin yang sebentar lagi menjadi mantan kekasih.

Sehun terkesan kasar dan Luhan tak suka.

Biarlah mungkin ini yang terakhir. Fikir Luhan.

'Lakukan semua sesukamu Sehun. Karena setelah ini, setelah malam ini, semua tak akan sama lagi. Tak ada lagi kita. Hanya kau dan aku' isi batin Luhan menyerah.

Ini akhirnya.

Luhan menyerah dan membiarkan Sehun melepasnya.

Tak ada alasan untuk tetap bersama ketika orang yang dicintai memberi pilihan untuknya bagi bertahan atau berakhir. Itu yang ada dikepala Luhan.

Terhitung dalam hitungan detik pula Luhan merasa benda hangat mengalir pada pipinya.

Sehun menangis?

Seiring ciuman Sehun yang melemah batin Luhan merasa dirobek.

Apa-apaan ini?

Apa yang telah ia lakukan pada Sehun? Kekasihnya?

Luhan merasa telah melukai Sehun terlalu jauh.

Setelah semua kasih sayang yang Sehun berikan apakah ini balasannya? Luhan membatin pedih.

Tapi disisi lain, Luhan melupakan fakta bahwa orang yang menangis didepannya kini adalah orang yang sama telah menawarkan cinta yang buta.

Membuat mereka tak sadar jika permainan cinta mereka terlalu jauh.

Dan ini saatnya untuk berhenti.

Dia bukan dalam pikiran serius untuk membawa hubungan kalian lebih jauh. Sadar lah Luhan.

Meninggalkan Sehun adalah pilihan tepat.

"Jangan menangis. Kau tau kan aku bukan orang yang pantas untuk itu."

Detik itu pula, Sehun menghapus kasar air matanya. Kemudian tersenyum dipaksakan.

"Sayang– ah maksudku Luhan. Berjanjilah untuk bahagia setelah ini,"

"Ya aku akan." Aku tak bisa bahagia jika itu bukan denganmu Sehun-ah.

"Berjanjilah untuk makan dengan baik dan beristirahat. Ya?"

"Umh tentu saja," Bisakah kau mengingatkanku tiap hari untuk itu?

Ini mungkin yang terakhir. Luhan memandang Sehun lembut. "Bersikaplah baik dengan istrimu hm?"

Dan Sehun hanya diam. Ia terlalu larut memandangi wajah cantik kekasih didepannya. Koreksi. Sudah menjadi mantan kekasih berapa menit yang lalu.

"Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa mengatakan ini. Aku mencintaimu Luhan,"

"Ya. Terimakasih Sehun-ssi"

.

.

.

.

.

"Chanyeol, aku mau pulang," ini adalah kalimat pertama yang Luhna ucapkan setelah ia kembali dari kamar mandi. Lebih tepatnya kembali dari menyelesaikan hubungan gelapnya dengan Sehun.

Chanyeol memandang Luhan yang terlihat agak kacau dan pucat. Mungkin ini efek lipstick nya yang mulai memudar. Ingat kan Sehun baru saja menciumnya dengan kasar beberapa saat yang lalu? "Kau baik-baik saja Luhan?"

"Hanya bawa aku pergi dari sini. Hm?" Lihatlah! Luhan memohon dengan tatapan sendunya. Membuktikan betapa ia ingin segera beranjak dan menjauh dari Sehun. Secepatnya.

Chanyeol berdiri, merangkul pundak Luhan cemas. Sepertinya kau sakit Luhan. Kuantar sekarang,"

Seiringan dengan itu, Sehun pun kembali. Tak jauh berbeda dengan Luhan. Pria itu diam dan nampak melihat Luhan kini berada dalam dekapan pria lain. –chanyeol, sahabatnya sendiri.

Betapa hancurnya hati Sehun melihat Luhan yang tak menatapnya sama sekali.

Tapi itu lebih baik daripada ia harus bertatap dengan si pemilik mata rusa yang ia harap selalu ia lihat saat akan terlelap maupun ketika pertama kali ia membuka mata. Itu hanya harapan semata.

Karena kini ia dan Luhan sudah berakhir. Sesuai keinginan Luhan.

Bukan! Itu adalah penawaran si mulut sialan Oh Sehun lalu di iyakan oleh Luhan. Dan bodohnya ia kini menyesal.

"Sehun sepertinya aku harus pergi sekarang. Luhan kurang enak badan." Kemudian chanyeol berlalu hingga –

"Park Chanyeol,!" Chanyeol menoleh, kemudian menatap Sehun.

"Tolong jaga Luhan," Chanyeol menautkan alis bingung.

"Kau terlihat aneh dengan menghawatirkan Luhan. Tapi apapun itu aku akan menujaga Luhan dengan baik"

Luhan masuk dengan langkah gontai. Kepalanya berdenyut sakit mengingat ia baru saja mengakhiri hubungan gelapnya dengan Sehun.

Hey, bukankah itu terdengar bagus? Bukankah itu artinya ia tak perlu merasa bersalah lagi pada JooHyun? meskipun Luhan sendiri tak yakin ia mermpunyai rasa bersalah ketika ia masih memiliki hungan bersama Sehun dibalik JooHyun.

"Selamat datang wanita yang baru pulang bekencan dengan super hot Park Chanyeol." Itu Baekhyun. Menyambut Luhan dengan cirri khasnya yang tak bisa hilang walaupun sampai ke Paris sekalipun.

Luhan tersenyum dipaksakan. Menatap Baekhyun dengan tatapan kesedihan yang bagaimanapun tak bisa ia sembunyikan meskipun ia sudah menyembunyikan dibalik senyumannya seklipun, "Baek,?"

Baekhyun mengmpiri Luhan, "Hey adapa dengan wajahmu Lu? kau terlihat tidak baik,"

Luhan menatap Baekhyun. Kini menampilkan senyum lebar yang terlihat palsu, "kami sudah berkahir,"

"Huh?"

"Aku dan Sehun. Kami baru saja memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami," Baiklah. Salahkan Luhan si bodoh yang kini terlihat gila. Ia tersenyum lebar, tapi fakta memperlihatkan dua lelehan air mata mengalir dari sudut matanya. "Kami sudah benar-benar berakhir Baek, hikss"

Isakan pertama membuktikan bertapa Luhan sangat kesakitan kali ini.

Dan berterimakasih lah kepada Baekhyun. Karena ia langsung merengkuh Luhan dalam pelukannya. Membiarkan rusa menyedihkan itu menumpahkan segala beban pada pundaknya.

"Luhan,"

"Hikss jadi kau – hikss tak perlu lagi takut aku menjadi Luhan yang merusak rumah tangga orang lain –, hikss"

Telapak tangan lembut Baekhyun mengusap punggung Luhan. Rusa yang malang.

"Bodoh," hey ada apa dengan Baekhyun. Kenapa ia malah menghakimi Luhan. "Bukankah kau mencintai Oh Sehun brengsek itu? Lalu kenapa kau melepaskan dia hgg? Apa otakmu pidah ke pantat? Benar-benar bodoh,"

Luhan tertawa kecil disela isakkannya. "ya! Luhan-mu benar-benar bodoh Baekhyunaa. Lalu apa yang harus si bodoh ini lakukan. Hikss,"

.

.

.

.

A week later

.

.

.

Katakan hello pada seoul.

.

.

Karena kini Luhan sudah kembali menginjakkan kalinya di tanah kelahirannya.

Well walaupun ia blasteran China-Korea, ia adalah kelahiran Korea asal kalian tau saja.

"Jadi besok jadwalmu adalah pemotretan untuk edisi musim panas dari Dazed magazine ingat?" Baekhyun berjalan beriringan dengan Luhan ketika mereka di sepanjang airport.

Perbedaan yang mencolok adalah si supermodel yang terlihat sexy dan menawan dengan dress off white dipadukan selendang tipis yang manis dipadukan shoes dengan hils rendah serta kacamata, dan si manager byun masih dengan setelan kaos oblong oversize warna khaki dan ripped jeans dipadukan sepatu converse.

Dan sialnya, baekhyun harus menahan hasratnya untuk menjambak si supermodel ketika Luhan malah asik dengan earphone yang terhubung dengan ponsel. Double sialan memang.

"Dan jangan lupakan kau punya kontrak iklan dengan brand kosmetik dari Jepang."

"….."

"Kau mendengarkanku nona Luhan?" penuh penekanan memang. Sabar Baekhyun. Ingat si supermodel disapingmu ini sedang dalam masa move on dari Sehun.

"Kau terlalu cerewat Baek. Biarkan aku pulang dan istirahat. Kita bicarakan perkerjaan besok saja.," lihatlah. Dan yang terjadi kini Baekhyun ditinggalkan.

.

.

.

.

.

Beda dengan Luhan beda pula dengan Sehun. Pria berwajah beku itu masih sama. Hidupnya hanya dipenuhi pekerjaan pekerjaan dan pekerjaan.

Bahkan tak jarang Sehun tidur di kantor. Ah, itu tak hanya terjadi sekali dua kali. Itu terus terjadi beberapa kali akhir akhir ini.

Dan beberapa kali pula Sehun harus menerima tamu tak diundang. Seperti– "Sehun kau tak pulang lagi semalam?" ya, itu JooHyun yang mengunjunginya tiap pagi kalau semalam Sehun tak pulang kerumah.

Sial. Dan itu membuat Sehun frustasi.

"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Jadi tak bisa pulang. Dan bukankah aku sudah berkali-kali bilang kau tak perlu mengunjungiku. Kau kan sedang sibuk dengan usaha butikmu." Bukan. Sebenarnya Sehun hanya ingin tak terlalu sering melihat istrinya.

Joohyun bersender di sisi meja Sehun. Menatap suaminya yang tak lepas dari layar monitor.

"Kau sudah punya banyak uang untuk aku dan anak-anak kita nanti. Jangan berkerja terlalu keras mengerti.?"

Anak-anak kita kepalamu! Yah sekiranya begitu batin Sehun.

Sehun menutup laptop dihadapannya. Kemudian menghela nafas panjang. "Baiklah, kali ini apa yang kau mau?"

Seringai cantik –namun memuakkan bagi Sehun Joohyun pamerkan. "Ayo mengunjungi doktor Kim!" kali ini lengan rantingnya mengait dengan Sehun. Mungkin mencoba merayu suami esnya.

"Joohyun-ah kumohon," Suara Sehun merendah. Setengah memohon. Agar setidaknya istrinya ini mengerti kesibukkannya dan membiarkan Sehun bekerja. –mungkin sambil menghilangkan Luhan dari fikirannya.

Joohyun menggeleng. "Tidak lagi Sehun-ah. Kau pernah berjanji sebelumnya." Dasar ular!

.

.

.

.

.

"Kenapa Luhan bisa pingsan hah?" suara Baekhyun terdengar panik. Menabraki staff yang menghalangi langkahnya untuk masuk ke ruang tunggu. Melihat Luhan yang lima belas menit lalu pingsan saat akan take off shooting iklan komersil dan kini dibawa ke ruang tunggu.

Baekhyun menyeruak, melihat artisnya yang masih belum sadar tengah berbaring pada ranjang kecil seadanya.

"Bodoh! Apa yang kalian lakukan. Cepat telfon ambulan sialan!" Baekhyun memaki siapapun yang berada disana yang hanya bisa bersuara panik kesana kemari. Tidak melakukan langkah pertolongan pertama sama sekali.

Tidak membantu!

"Luhan? Hey sayang kau baik hm?" mengelus rambut Luhan, Baekhyun berkaca-kaca melihat tampang pucat pada sahabat sekaligus artisnya.

.

.

.

.

.

"anda wali dari pasien bernama Luhan?"

"iya saya orangnya. Tolong bicara apapun mengenai keadaan sahabat saya," Baekhyun kini sedang berada diruang dokter muda berkulit coklat eksotis. Uhh mungkin Baekhyun akan menggerling manja pada dokter muda dihadapannya jika saja ia kini tidak dalam situasi yang rumit.

"Begini em"

"Byun baekhyun,"

"Ya, begini Baekhyun-sii. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan teman ada. Ia hanya sedikit kelelahan,"

"Hhh syukurlah bukan sesuatu yang serius," baekhyun bernafas lega seraya menijat kepalanya yang pening nyaris meledak,

"Kusarankan agar pasien Luhan istirahat dan makan makanan yang bergizi. Serta mengurangi minuman beralkhol karnena itu sangat buruk untuk kehamilannya yang ma-"

"HAMIL?"

Kim Jong In –si dokter itu hampir saja melompat dari singgasananya ketika suara melengking Baekhyun mengudara.

Berusaha bersikap layaknya dokter professional Jong In mengangguk singkat. "Ya. Usia kehamilan sahabat anda masih muda dan sangat rentan. Mungkin baru memasuki minggu ke -4,"

Ini Baekhyun. Melangkah terseok sepanjang koridor rumah sakit. Bagaimana ini? Apa yang akan ia katakan pada Luhan?

Apa ia harus berbohong?

Tidak! Luhan tidak akan memaafkan dirinya kalau suatu saat Luhan tau tudak dari mulutnya.

Lalu kini apa? Mana mungkin ia harus mengatakan, selamat Luhan sayang. Akhirnya kau ini mengandung anak dari lintah darat Oh BRENGSEK Sehun. Semoga kalian berbahagia. Sementara kini ia tahu sendiri hubungan Luhan dan Sehun sedang dalam tahap saling melupakan.

Tuhan tolong aku!

Dan kini seseorang menarik lengannya dan ia menemukan– Oh persetan apalagi ini?

Mendapati bajingan keparat Sehun dihadapannya. seperti biasa dengan setelan mahal membalut tubuh proposionalnya. Namun tak bisa menutupi kebusukan hati dan fikirannya –itu pendapat Baekhyun.

"Apa terjadi sesuatu dengan Luhan,"

Mata baekhyun memerah. Ingin menghantam si pemilik rahang tegas dengan tatapan tajam yang dulu sangat Luhan cintai –mungkin sampai sekarang.

"Lepaskan tanganmu brengsek," Baekhyun menggeram marah. Melihat Sehun membuat tingkat amarahnya melonjak ke angka seratus.

Apalagi mengingat Luhan yang kini berbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan benih sialan milik Sehun pada rahimnya. Double sialan!

Oh semoga baekhyun tidak membenci bayi itu ketika lahir.

"Sesuatu terjadi dengan Luhan?" Sehun menghiraukan sorot amarah Baekhyun. Dan fokus nya tetap pada Luhan.

Mengingat beberapa menit lalu ia melihat situs berita yang dengan highlight 'Model Sekaligus Bintang Iklan Luhan Dikabarkan Dilarikan Kerumah Sakit Setelah Pingsan Saat Shooting Iklan. Apakah Yang Terjadi?'

Kemudian ia melihat Baekhyun dan seketika otaknya terpenuhi oleh Luhan.

"Ya! Sesuatu terjadi pada Luhan. Dan itu karenamu,"

"Apa– apa yang terjadi pada Luhan?" Demi Tuhan. Kepala Sehun akan pecah. Karena dirinya? Oh ini terdengar buruk.

"Yang perlu kau lakukan hanya pergi dan jangan pernah muncul dihadapan Luhan. Selamanya,"

Pintu terbuka. Menampilkan Luhan dengan wajah lemahnya terbaring di ranjang dengan tangan yang terhubung dengan selang infus.

Baekhyun masuk, Luhan terlihat sudah sadar namun masih terlalu lemah untuk bersuara dan hanya menatap Baekhyun diiringi senyum tipis. Sialan! Bagaimana kau bisa tersenyum seperti itu dengan keadaanmu sekarang hah? Dasar rusa idiot!

Arah mata Baekhyun beralih pada perut Luhan yang masih terlihat rata. Janin kecil yang malang, bahkan sebelum kau lahir ayahmu sudah meninggalkanmu.

"Apa aku baik-baik saja?" nada suara Luhan serak dan terlihat lemah. Jangan terlalu memaksakan diri Lu.

Baekhyun mengangguk, air matanya tanpa sadar menetes. Dia ingin marah, tapi tidak tau dengan siapa.

"Lu?"

"Hm?"

"Apa kau sudah tau perihal ini?" Baekhyun mengusap airmatanya kasar. Ia menyalahkan semua hal yang membuat hidup sahabatnya terlihat sangat menyedihkan.

"Mengenai apa?"

"Ke-kehamilanmu?" baiklah, ini pilihannya. Baekhyun menceritakan segalanya. Kemudian antisipasi dengan Luhan yang nanti akan menjerit atau menangis meraung.

Namun– apa?

.

.

Yang ia dapati justru Luhan yang terkejut sekilas. Kemudian megusap perutnya sendiri dan menatapnya penuh takjub.

"Jadi benar aku hamil?"

Diam. Baekhyun membeku melihat sahabatnya.

"Kukira itu hanya perasaanku saja, namun benar ada sesuatu yang tumbuh dalam rahimku," Bodoh! Dan kini Luhan tersenyum amat tulus. Tak pernah Baekhyun melihat ini sebelumnya. Luhan yang seperti malaikat.

"Aku tidak mendapatkan periodeku bulan ini. Kukira karena stress."

"….."

"Dan akhir-akhir ini aku kerap pusing dan mual namun kukira itu efek akhohol yang tiap malam kuminum. Tapi-" Luhan menjeda sekilas. Kemudian mengusap air matanya yang jatuh manis pada pipi.

"Sekarang aku akan menjadi ibu Baek. Lihat, aku hamil" Luhan menangis. Karena bahagia atau meratapi takhdir anaknya yang kelak terlahir tanpa ayah. Entahlah.

"Sayang, ini ibu. Mulai sekarang, ibu akan menjagamu dengan baik. Hm? Ibu janji…"

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue….!