Oh, My Gay Moms!

WonCoups Couple

Wonwoo x Scoups

Meanie Couple

Mingyu x Wonwoo

Wonhui Couple

Wonwoo x Jun

! Don't try to take other people's work without permission

! Budayakan meninggalkan jejak setelah membaca

! Rated M keras, untuk yang under rate please close tab xD

! Main fokus Woncoups Couple

! Want to request ff? DM me

Enjoy it

.

.

"Wonwoo." Pemuda bersurai kehitaman itu terperanjat, nyaris menjatuhkan tutup kaca yang tengah di pegangnya kini. Ia menoleh, mencari tahu asal sapaan itu bermula. Mendapati iris mata sayu itu memandangnya sedikit khawatir, ia terdiam sesaat. "Aku mengagetkan mu ya?" Pemuda itu menggeleng cepat, melemparkan tawa pelan. Kembali meletakkan tutup kaca tadi pada tempatnya.

"Kau kelihatan sedikit aneh akhir-akhir ini. Sesuatu mengganggu fikiran mu?" Pria itu kembali bertanya, sesaat melirik pada letupan air dari rebusan sup kimchi yang tengah di buat oleh Wonwoo. "Tidak, tidak ada yang mengganggu fikiran ku. Mungkin karena efek kelelahan." Ia tersenyum samar. "Begitu 'kah?" Tukas Seungcheol kembali merasa belum begitu percaya dengan apa yang telah Wonwoo ucapkan.

Langkah lamban terdengar samar, setelahnya seseorang tampak berdiri di ambang pembatas antara dapur dan ruang keluarga. Wonwoo menoleh sesaat, mendapati Jun tengah berdiri disana. "Oh, kau sudah pulang? Dimana Mingyu?" Seungcheol berujar, melemparkan senyuman pada putranya itu. Sesaat Jun tak bergeming hanya memandang balik Wonwoo yang masih menatapnya dengan pandangan sendu tidak namun lelah. Ia menghela nafas, beranjak menuju lemari pendingin hanya untuk meraih sekotak minuman rasa jeruk yang di beli Wonwoo tempo hari.

"Entah 'lah, dia bilang akan pulang sedikit terlambat." Mendekati Wonwoo yang kini kembali sibuk dengan sup kimchi miliknya yang sudah matang sempurna. "Sup kimchi?" Ia menoleh, nyaris menabrak permukaan pipi Jun. Sedikit menggeser tubuhnya saat menyadari bahwa punggung miliknya berbenturan tepat pada dada pemuda tinggi itu. Hanya berdehem pelan sebagai jawaban dari pertanyaan retoris milik Jun.

Jun terdiam, masih menatap Wonwoo yang mencoba untuk tidak membuat kontak mata dengannya. Setelahnya menganggukkan samar kepalanya tanpa sebab. "Ayah tidak pergi ke pub semalam? Ku dengar ada pengunjung yang membuat keributan lagi." Seungcheol mengalihkan pandangannya dari beberapa makanan yang tertata rapih diatas meja makan. "Lagi?"

Jun mengangguk, menyandarkan dirinya tepat disisi Wonwoo berada. Menenggak kembali cairan segar dari dalam kotak jusnya. "Kau disana semalam?" Ia kembali mengangguk. "Minum lagi?" Ia terkekeh, mendapati pertanyaan sang ayah yang terdengar sedikit menyelidik. "Tidak."

"Lalu?" Ujar Seungcheol cepat. Pria itu sebenarnya sangat keberatan mendapati kedua putranya berada di pub miliknya. Ia hanya tidak ingin menjerumuskan keduanya dalam kubangan dunia malam. Namun Seungcheol menyadarinya, seberapa kuat ia mencoba untuk membentengi kedua putranya itu tidak akan berdampak banyak, terlebih kini Jun dan Mingyu sudah berada pada level dewasa dimana mereka tidak lagi dapat di perintah seperti seekor anak anjing.

"Mingyu memohon untuk di jemput. Sepertinya anak itu kehabisan uang." Ia tersenyum samar, sesaat menatap pada ujung kakinya. Wonwoo yang masih terdiam dan sibuk menyalin sup kimchi miliknya mencuri pandang pada Jun dari ekor matanya. Dan ia bersumpah bahwa seperti yang di katakan orang-orang diluar sana mengenai seorang Junhui itu benar adanya. Pemuda yang begitu pelit untuk tersenyum itu terlihat bak pangeran negeri dongeng saat ujung-ujung dari bibirnya tertarik, mengulaskan senyuman yang tampak samar namun menenggelamkan.

Seungcheol hanya mengangguk, kembali fokus pada makanan di depannya sesaat. "Oh, ya. Lusa nanti ayah akan pergi ke Jepang mungkin tiga sampai empat hari. Rekanan ayah mengundang dalam perayaan pembukaan pub barunya di Tokyo." Wonwoo terhenti sejenak, dan Jun menyadari itu. "Kau pergi lagi?" Dan pertanyaan itu meluncur begitu saja dari balik bibir Wonwoo. Seungcheol tersenyum kikuk, mendapati pandangan sedikit jengkel yang dilayangkan padanya.

"Hanya tiga atau empat hari. Aku tidak bisa menolaknya, Wonwoo." Ujarnya begitu pelan berharap Wonwoo dapat memahami posisinya kini. Wonwoo masih menatap tajam pria itu. "Aku ikut." Tukasnya telak, membawa langkah Seungcheol menujunya. "Maaf tapi aku tidak bisa mengajak mu."

"Karena?" Ia menyela cepat, masih melemparkan tatapan tajamnya. "Acaranya sedikit tertutup dan pihak mereka tidak mengizinkan membawa pasangan." Seungcheol kembali berujar begitu lembut. Tersenyum berharap Wonwoo melunturkan sedikit pandangan tajamnya. "Tertutup? Itu berarti akan ada pesta yang tidak-tidak?"

"Maksud mu?" Kurva yang sebelumnya bertengger mengendur. Menatap balik Wonwoo dengan pandangan bertanya meskipun pria itu mengetahui pasti maksudnya. "Pesta sex, apa lagi memang." Dan rahang pria itu mengeras sempurna. Dengusan menguar disana. Ia memandang tajam Wonwoo yang masih enggan melunturkan tatapan kesalnya. "Kau berfikiran seperti itu?"

"Aku tidak ingin di tatap seperti munafik murahan. Kumpulan petinggi sukses dengan pesta tertutup tanpa pasangan menurut mu akan jadi kesenangan apa lagi selain itu semua?" Wonwoo nyaris terjungkal, sebelah tangannya hampir mengenai sup kimchi panas yang berada dalam mangkuk kaca dibelakangnya saat dorongan kuat dari Seungcheol mengenai bahunya. "Dengar, aku tidak sebejat itu. Jadi berhentilah berfikiran buruk tentang ku."

Ia menelan salivanya sulit mendapati nada bicara Seungcheol yang begitu menusuk. Wonwoo bersumpah ini adalah kali pertamanya ia melihat cara pria itu marah. Setelahnya Seungcheol beranjak, menyisakan bunyi berdebum keras dari pintu utama kediamannya. Wonwoo terdiam, masih mengontrol dirinya yang begitu shock karena perlakuan Seungcheol tadi.

Nafasnya terasa begitu sesak kini, seakan bongkahan rasa lelah hinggap dalam dadanya. Ia meremat kuat pinggiran meja, merasakan kepalanya berdenyut semakin hebat. Wonwoo bersumpah ia tidak bermaksud berprasangka seperti itu hanya saja rasa takutnya akan di tinggal kembali oleh pria itu membuat ia tidak dapat mengontrol bicaranya. Wonwoo beranjak, berniat kembali menuju kamarnya, menyisakan Jun yang masih berada disana menatapnya dengan helaan nafas berat.

.

Wonwoo terlelap begitu dalam setelah sebelumnya menenggak 2 buah pil aspirin guna mengurangi sakit kepalanya. Pemuda itu masih tidak menyadari saat langkah lamat dari kaki jenjang itu memasuki kamarnya. Berdiri tepat disisi ranjangnya dan menjatuhkan pandangan padanya. Ia masih terlelap begitu dalam saat kedua kaki itu kini beranjak, berada di kedua sisi tulang pinggulnya. Masih disana menatap wajah terlelap Wonwoo yang begitu pulas.

Mendekat perlahan, berharap pemuda itu tidak akan terusik oleh perlakuannya. Meraih permukaan bibir miliknya yang terasa begitu hangat. Menyesapnya seakan ia tengah menyesap secangkir teh melati yang begitu menenangkan. Lumatan kecil mengaung disana, meninggalkan lelehan dari liur miliknya tertinggal pada permukaan bibir Wonwoo. Membuatnya terasa begitu licin.

Dan Wonwoo terjaga, nyaris berteriak kaget jika saja belum mencerna siapa yang tengah berada tepat diatas tubuhnya. "Aku membangunkan mu, maaf." Pria itu, Seungcheol berujar setengah berbisik. Tersenyum begitu hangat pada pemuda yang tampak membuang nafasnya. Mengusap dahi pemuda itu untuk mengibaskan poni dari rambutnya yang bertengger disana. "Kau baru pulang?"

Suara beratnya menguar, sedikit serak karena tenggorokkan pemuda itu agak terasa kering. Seungcheol mengangguk setelahnya terasa hening. Keduanya masih sama-sama saling menatap. "Maaf bersikap kasar pada mu." Tukasnya, dan Wonwoo masih enggan menjawab. "Aku bersumpah tidak akan melakukan hal yang diluar batas." Dan pemuda itu terkekeh pelan, menarik leher sang pria hanya untuk merengkuhnya. Memberikan tepukkan pada punggung pria itu karena menyadari rasa bersalah yang begitu besar tertanam dalam pandangannya.

"Aku mengerti, sudah-sudah jangan terlalu difikirkan." Berbalik meraih tubuh kurus di bawahnya. Hangat, entah mengapa Seungcheol selalu mendapati rasa itu setiap kali merengkuh tubuh Wonwoo. Sekalipun pemuda itu tampak begitu kecil namun kehangatan yang berada disekitarnya jauh lebih besar dari apapun. "Terimakasih." Bisiknya, mengecup belakang telinga pemuda itu beberapa kali. Aroma khas Wonwoo menguar setiap kali ia berada disana.

Ia masih disana, menyesap wewangian yang selalu berhasil menaikkan libido-nya. Merengkuh tubuh Wonwoo semakin erat. "Kau merindukan ku?" Wonwoo tak bergeming, merasa tidak perlu menjawab pertanyaan yang sudah diketahui oleh Seungcheol. Ia memutuskan berdiam diri, menikmati kecupan ringan yang terus di tinggalkan oleh pria itu. Kecupan yang terasa semakin turun menuju bahu miliknya.

"Aku begitu mencintai mu." Ia terseyum tipis, mengetahui dengan pasti bahwa kata itu akan selalu berada dalam ujung lidah Seungcheol untuknya. Menahan lenguhannya saat pria diatasnya menyesap kuat kanvas miliknya yang di pastikan akan menimbulkan warna kemerahan pekat disana. Beralih dari rengkuhan yang diberikannya untuk Wonwoo pada anak-anak kancing dari kemeja tidur pemuda itu. Menanggalkannya perlahan seakan mendramatisir setiap detik yang terlewat.

Ia terdiam, selalu merasa seakan dirinya dikelilingi oleh sihir setiap kali mendapati tubuh setengah telanjang pemuda itu. Seungcheol selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Wonwoo ialah pemuda paling paling paling mendekati sempurna untuknya. Memutuskan untuk mengembalikan kewarasannya, kembali mempertemukan dua ujung lidah mereka. Saling membagi rasa licin yang timbul dari air liur keduanya.

.

Wonwoo mengerang samar, merasa dirinya terhentak begitu kuat saat Seungcheol masih bermain disana. Mencari titik dari pelepasannya yang tampaknya masih begitu jauh. Merapatkan genggaman tangannya pada ruas jemari pria itu. Wonwoo bersumpah jika saja di rumah ini ia hanya tinggal berdua dengan Seungcheol, ia tidak akan perlu susah payah menahan hasratnya. Wonwoo masih memandang dua orang yang berada di kamar lainnya oleh karena itu ia selalu berusaha meredam lenguhan nikmatnya meski sesekali pemuda itu meloloskannya saat Seungcheol begitu mahir dalam membuatnya gila.

Seungcheol menggeram, merasakan bahwa pemuda itu begitu menaikkan libido-nya setiap sepersekian detik. Meraih garis tegas pada rahang pemuda itu dengan ujung lidahnya. Sensasi rasa sedikit asin tertinggal disana. Peluh yang mengucur samar dari pelipisnya membasahi ujung-ujung dari poni pekatnya.

Seungcheol masih mendorongnya kuat, nyaris mencapainya. Dan aktifitas itu berakhir oleh lenguhan serta geraman tertahan keduanya. Wonwoo merasa paru-parunya akan meledak karena kekurangan oksigen. Meraih udara sebanyak yang ia mampu setelahnya terkekeh bersama pria yang masih berada diatasnya. "Kau setingkat lebih binal di bandingkan waktu pertama. Belajar dari video porno mana?"

Dan sebuah tinjuan begitu keras mendarat pada bahu kanan pria itu, meninggalkan keluhan sakit yang terpampang jelas dari raut wajahnya. "Berhenti bicara yang menjijikan seperti itu. Jika aku mendengarnya lagi lebih baik jangan pernah mendatangi ku." Wonwoo mendesis, menatap dengan wajah masam yang dibuat-buat. "Kau malu 'kan?" Tukasnya dengan nada menggoda membuat Wonwoo kembali melayangkan tinjuannya. "Lalu kenapa kalau aku malu?"

"Tidak, hanya terdengar manis. Membuat aku ingin kembali mendatangi mu." Seungcheol terkekeh senang saat bisikkan yang dilayangkannya justru membuat Wonwoo mendorong kuat tubuhnya. "Aku mau tidur, pergi sana." Dan malam yang nyaris terlihat buruk untuk Wonwoo justru berakhir baik. Ia terlelap kembali dalam rengkuhan hangat pria yang belum bergeser sedikit pun dari dalam hatinya. Menanti sang fajar yang akan membawa kembali hari baru untuknya.

.

"Bangsat! Apa yang kau lakukan?!" Wonwoo menggeram kesal, masih mendorong tubuh Mingyu yang berusaha menghimpitnya pada badan sofa. Pemuda itu tidak menggubris cacian Wonwoo, hanya terus berusaha menggapai perpotongan leher pemuda yang berstatus sebagai ibu tirinya. "Mingyu!" Ia memekik keras, berharap pemuda yang kini tengah berada diatasnya akan menciut sedikit.

Namun Mingyu tetaplah Mingyu, sekeras apapun Wonwoo mencoba berteriak maupun memaki pemuda itu tampak tidak menggubrisnya sedikitpun. Menahan kedua tangan Wonwoo setelahnya meraih kulit seputih kanvas milik Wonwoo. Menggigitnya kasar setelahnya menyesap kuat. Meninggalkan lenguhan yang begitu keras menguar dari bibir Wonwoo.

"Mingyu!" Ia kembali memekik dengan suara beratnya. Menarik potongan rambut belakang Mingyu kuat meninggalkan ringisan yang bersumber dari pemuda itu. Melemparkan ludahan yang mengenai tepat pada wajah pemuda itu. Mingyu terdiam, menatap Wonwoo yang tengah menderu nafas. "Bitch!"

Ia masih terdiam, sejujurnya Mingyu merasa seakan di pukul berkali-kali mendengar penuturun Wonwoo yang begitu merendahkannya. Namun ia menyadari juga bahwa posisinya saat ini begitu salah. Terkekeh seraya mengendurkan genggaman tangannya pada pergelangan Wonwoo. Ia merunduk sedikit, merubah pandangannya menuju dada Wonwoo yang masih terbalut kaus berwarna serenity.

Dan hening seakan mengukung keduanya. Wonwoo masih disana, menatap balik pemuda yang belum beranjak dari atas tubuhnya itu dengan pandangan begitu muak. "Menurut mu.." Kata itu tergantung di udara, membuat Wonwoo menahan nafasnya tanpa sadar. "Aku sebejat itu, Wonwoo?" Tukasnya, memandang Wonwoo dengan raut wajah terluka. Menyisakan desakkan begitu besar dalam rongga dada Wonwoo.

Wonwoo menelan salivanya sulit, tidak berhenti untuk melemparkan tatapan seakan siap memenggal kepala Mingyu saat ini juga. "Aku hanya mencintai mu, menurut mu itu salah?" Wonwoo memutuskan untuk tidak bergeming. Hanya terdiam disana, menyimpan rapat jawabannya. Mingyu terkekeh paksa, menyadari ia terabaikan. Beranjak dari atas tubuh Wonwoo. Tampak menyeka bekas dari ludahan Wonwoo di wajahnya saat berlalu menuju kamarnya. Wonwoo beranjak, merubah posisinya menjadi terduduk. Mengacak helaian rambutnya begitu frustasi. Ia bersumpah tidak bermaksud menyakiti Mingyu, hanya saja ia begitu takut. Takut menghancurkan kepercayaan Seungcheol, takut menghancurkan hubungan ayah dan anak itu, takut untuk kehilangan pria yang begitu di cintainya. Ia mendesah berat, menyandarkan leher belakangnya pada badan sofa. "Kenapa seberat ini, Tuhan."

.

Ia menoleh saat langkah dari kaki jenjang itu menapak. Mendapati tubuh jangkung Mingyu beranjak menuju pintu keluar kediamannya. Ia menghela nafasnya berat saat bunyi berdebam cukup keras menguar. Mengalihkan tatapannya pada potongan roti yang telah di siapkannya untuk sarapan pemuda itu. "Oh, Jun."

Pemuda yang dipanggil menghentikan langkahnya, menatap Wonwoo yang kini berjalan menujunya. "Bisa tolong berikan ini pada Mingyu, ia belum makan sejak semalam aku hanya khawatir kalau-kalau ia terkena asam lambung." Menyerahkan kotak berisi roti isi yang telah di buatnya pada Jun. Menyisakan tatapan datar pemuda itu pada kotak makan dihadapannya. Setelahnya Jun berbalik menatapnya kembali. "Jangan membuatnya salah paham. Aku akan membelikannya sarapan di jalan nanti." Ia melengos, meninggalkan Wonwoo yang kembali membuang nafasnya panjang.

Nyaris memasuki waktu satu minggu kerengatan begitu terasa kentara antara Wonwoo dan Mingyu. Pemuda 19 tahun itu seakan menganggapnya hanya sebagai angin lalu setiap kali mendapati keduanya bertemu pandang. Seungcheol berkali-kali menanyakan prihal itu padanya yang hanya di jawab dengan perkataan kami tidak ada masalah apapun.

.

"Kau dan Mingyu sungguh-sungguh tidak sedang bertengkar 'kan?" Ia kembali mengangguk, belum mengalihkan pandangannya pada jejeran jaket yang bertengger. Menarik salah satunya yang berwarna kecoklatan. "Kau menyukainya?" Wonwoo menoleh, menatap pada Seungcheol yang kini menatapnya. "Tidak terlalu."

Kembali menyusuri toko yang tengah di singgahinya bersama Seungcheol kini. Memutuskan untuk menghabiskan liburan dengan berbelanja dibandingkan harus pergi ke suatu tempat, bagi Wonwoo itu terlalu merepotkan.

Iris matanya berkeliling sementara menunggu Seungcheol tengah membayar beberapa lembar pakaian yang di belinya tadi. Dan pandangannya jatuh pada sebuah kemeja kebiruan yang tampak begitu simple namun berkelas. Entah mengapa fikirannya justru mengawang jauh pada sosok pemuda tinggi yang sejak seminggu yang lalu terasa seperti seorang musuh baginya.

Ia merunduk, mendapati bahwa hubungannya dengan Mingyu semakin memburuk membuat semangatnya terasa hilang tiba-tiba. "Sudah ku bayar, kau ingin pulang atau makan dulu?" Ia tak menggubrisnya, hanya menatap pada kemeja yang dimaksudkan. "Wonwoo?"

Setelahnya tampak begitu kebingungan saat kesadarannya kembali. "Oh, ya kau bilang apa?" Ujarnya memastikan. Seungcheol mengernyit, menyentuh lengan pemuda itu. "Ingin pulang atau makan terlebih dulu?" Ulangnya dengan raut wajah sedikit menerka apa yang tengah Wonwoo fikirkan. "Kita pulang saja dan makan dirumah."

.

Ia mengetuk pelan pintu dihadapannya setelahnya menunggu sang pemilik kamar keluar. Namun sepertinya Mingyu enggan untuk membukakan pintu kamarnya bagi Wonwoo, ia mendengarnya namun mengabaikan pemuda itu. Kembali meraih ponselnya dan memasangkan volume tinggi pada music yang tengah terputar. Wonwoo mendesah kecewa, menatap sebuah kotak cukup besar di tangannya kini. Setelahnya kembali beranjak membawa benda itu.

.

"Mingyu." Pemuda itu terhenti, memandang Wonwoo yang kini berlari kecil menuju kamarnya dan kembali keluar dengan sebuah kotak di tangannya. "Untuk mu." Ujarnya, menyerahkan benda itu pada pemuda tinggi dihadapannya. "Terima 'lah, aku yakin akan bagus jika di kenakan oleh mu." Wonwoo tersenyum kikuk, menyisakan tatapan tanpa ekspresi dari Mingyu. "Terimakasih." Desisnya, kemudian berniat berlalu. "Aku minta maaf." Langkahnya yang semula begitu lebar terhenti saat nada suara Wonwoo menguar.

"Aku minta maaf sudah mengatai mu dengan ucapan kasar." Ia menatap punggung pemuda kecoklatan yang masih tampak berdiri mematung disana. Menarik nafasnya dalam setelahnya membuangnya. "Itu bukan salah mu. Kau memiliki hak untuk menyukai siapapun terlebih aku. Hanya saja.." Ia menggantung katanya. Mengusap belakang lehernya canggung. "Aku ini ibu mu, seharusnya kau bisa menyadarinya."

"Itu artinya kau menyalahkan atas rasa suka ku terhadap mu." Kata-katanya tercekat kembali, Wonwoo menatap lama Mingyu. Pemuda yang di maksudkan berbalik, menatap iris tajam yang tampak sendu itu. "Itu salah 'kan?" Ujarnya penuh penekanan. "Kau membenci ku?" Kembali mengatakan tanpa memberi jeda bagi Wonwoo. Melemparkan kotak yang sebelumnya di berikan Wonwoo untuknya. "Aku tidak mengingin 'kan itu sebagai permintaan maaf. Aku mengin 'kan mu, bukan sebuah hadiah. Tapi kau."

Wonwoo kembali menelan salivanya sulit. Mingyu begitu keras kepala dan Wonwoo mengakuinya. Pemuda itu beranjak mundur selangkah mengetahui Mingyu menujunya. "Benar 'kan, kau takut pada ku." Ia terkekeh putus asa. Melemparkan tatapan begitu terluka pada Wonwoo. "Bukan begitu Mingyu, aku tidak bermaksud menghina mu dengan cara ini. Sungguh aku hanya menganggap mu sebagai seorang anak, keluarga tidak lebih."

Dan pernyataan itu seakan membawa emosi Mingyu kembali meletup pada ubun-ubunnya. Ia melangkah cepat, meraih pergelangan tangan Wonwoo untuk merematnya kuat. "Tidak bisa 'kah kau menganggap ku lebih. Hanya saat ayah tidak ada di rumah." Itu adalah pertanyaan paling menyebalkan bagi Wonwoo. Mana mungkin baginya melakukan hal seperti itu, hal yang berarti ia mengkhianati Seungcheol. Berkhianat dengan anaknya sendiri, Wonwoo bahkan tidak dapat membayangkannya. "Maaf." Hanya kata itu yang menguar setelahnya.

"Bahkan untuk sekali saja, untuk saat ini saja. Untuk detik ini saja tetap tidak bisa?" Mingyu masih merengek dengan raut wajah begitu menyedihkan. Wonwoo menghela nafasnya kasar, jengah mendengar desakkan Mingyu. "Memang apa yang ingin kau lakukan jika aku menjawabnya?"

Hening sesaat dan Wonwoo dapat merekam dengan baik pandangan pemuda itu. Begitu tulus dan entahlah mungkin terluka. "Memiliki mu, tanpa paksaan. Bukan sebagai ibu dan anak. Hanya itu, Wonwoo." Dan kata itu membungkam Wonwoo. Ia takut namun entah mengapa jauh dalam rongga dadanya ia mendapati sesuatu yang terasa begitu mengganggu. Rasa yang begitu sama seperti saat Seungcheol mengatakan bahwa ia begitu mencintainya. Rasa yang seakan begitu banyak ngengat yang berterbangan dalam perutnya kini, menggelitik.

Keheningan itu mengukung, melemahkan kewarasaan Wonwoo. Membuat ia seakan terkena racun sihir. Ia terdiam saat Mingyu mendekat, menghapuskan jarak antara dirinya dengan Mingyu. Isi kepalanya berkata untuk lari namun hati berkata sebaliknya, diam. Dan entah apa yang kini berlarian di dalam otak Wonwoo ia terpejam saat permukaan bibir pemuda tinggi itu menyentuh lembut bibirnya. Melumatnya begitu pelan, tanpa rasa sakit yang menusuk baik disana maupun dalam dada Wonwoo.

Ia masih terpejam, seakan menikmati dengan baik jejak liur yang di tinggalkan Mingyu disana. Bahkan dengan begitu mudahnya melenguh saat ujung dari lidah Mingyu yang terasa begitu basah menjelajah pada garis bibirnya. Berakhir dengan pertemuan keduanya didalam rongga mulut Wonwoo.

Wonwoo bersumpah menyadari betul bahwa apa yang tengah di perbuatnya kini adalah kesalahan begitu besar tidak namun sangat sangat besar. Namun hati dan tubuhnya seakan tidak berada dalam jalan yang sama dengan logikanya. Wonwoo mengingikan sesuatu yang lebih. Lebih dari sekedar ciuman yang perlahan memanas itu.

Mingyu melepasnya, menyisakan deruan nafas keduanya yang terdengar naik satu tingkat. Dan ia bersumpah mendapati Wonwoo yang membuka kedua matanya seakan menatap kuncup bunga yang perlahan mekar. "Aku mencintai mu, Wonwoo." Ia berbisik, begitu lembut dan dalam. Menenggelamkan Wonwoo pada debaran bodoh yang seharusnya tidak berada disana.

.

Wonwoo melenguh hebat, merasakan dirinya terdorong begitu kuat dalam permainan Mingyu. Cepat namun lembut, mungkin hal itu yang bersemayam dalam ruang fikir Wonwoo. Mencengkram kuat lengan berisi pemuda yang lebih muda darinya itu hanya untuk menahan tubuhnya agar tidak terus terdorong. Mingyu menatapnya lamat, bagaimana Wonwoo mendesah tanpa jeda dalam permainannya. Membuncahkan rasa seakan Wonwoo adalah miliknya dan hanya miliknya.

Pemuda itu berujar samar di balik lenguhannya, menyisakan Mingyu yang harus mati-matian menahan hasratnya untuk tidak terus menyentak kuat disana. Ia masih waras dan tidak ingin membunuh pemuda itu hanya karena permainannya yang terbawa nafsu. Mendapati namanya terpanggil beberapa kali dengan desahan di akhir kata membuat Mingyu merasa akan menuju puncaknya.

Menenggelamkannya lebih dalam saat pelepasannya sudah berada di ujung dan detik selanjutnya menyisakan lenguhan begitu panjang dari keduanya. Mingyu menjatuhkan tubuhnya, bertumpu pada sikunya agar Wonwoo masih mendapat ruang untuk bernafas. Saling berlomba menggapai udara yang terasa begitu menyempit.

Ia hendak beranjak untuk menatap wajah pemuda yang masih terenggah di bawahnya namun di urungkan saat kedua lengan yang jauh lebih kecil darinya menariknya. Merengkuhnya kuat, membuat ia tidak dapat menatap pemuda itu.

Dan bongkahan rasa sesal memenuhi dadanya mendapati Wonwoo yang berujar begitu pelan, sangat pelan. "Maaf 'kan aku, Seungcheol."

.

.

Mingyu masih menghimpit tubuh Wonwoo yang sebelumnya tengah berusaha menggapai kotak gula pada lemari dapur. Meletakkan salah satu tangannya pada bagian belakang pemuda itu, memberikan remasan yang membuat Wonwoo merasa begitu risih. "Menyingkir 'lah, Mingyu." Ia berujar sedikit menaikkan tingkat suaranya. Jun tidak sedang berada dirumah, begitu pula Seungcheol dan hal itu membuat Mingyu merasa leluasa untuk bergriliya menyentuh sang ibu.

Ia menggigit daut telinga Wonwoo, masih menghimpit pemuda yang kini merasa begitu pengap dengan perlakuan Mingyu. Walau bagaimana pun Wonwoo tetap tidak suka mendapati pelecahan yang dilayangkan oleh anaknya itu. "Mingyu!" ia memekik tertahan saat satu dari tangan Mingyu yang terbebas meraih bagian depannya. Menampar tangan itu setelahnya menyingkirkannya. "Kenapa? Tidak ada siapapun disini 'kan?" Ujarnya berbisik.

Wonwoo membuang nafasnya jengah. Ia merasa salah telah membiarkan Mingyu untuk menyentuhnya tanpa perlawannan tempo hari, membuat Mingyu seakan menganggap dirinya sebagai seseorang yang hanya miliknya padahal nyatanya tidak. "Menyingkir 'lah kau membuat ku sesak!" Ia mendorong kembali pemuda di belakangnya. Berusaha untuk kabur dari kukungan pemuda itu. "Tidak akan. Kau milikku saat ayah tidak ada, Wonwoo." Mengklaim dengan sesuka hatinya membuat Wonwoo berdecih muak. "Milik mu apanya. Cepat menyingkir dari ku, Mi…"

"Apa yang kau lakukan terhadap ibu mu sendiri?! Kau meleceh 'kannya?!" Kedua orang itu menoleh bersamaan. Mendapati tatapan dengan alis bertaut milik Seungcheol sementara Jun, pemuda itu merasa begitu shock dengan apa yang tengah di lihatnya kini. Mingyu sesegera mungkin menjauh. Nafasnya menderu hebat.

Pria itu beranjak begitu cepat, melayangkan pukulan yang telak mengenai rahang milik Mingyu. "Kau ingin jadi bajingan kecil rupanya?!" Memekik cukup keras di bawah rengkuhan Wonwoo yang berusaha melerai. "Seungcheol, kendalikan dirimu."

"Bangsat ini! Kau sungguh-sungguh ingin mati di tangan ku?!" Ia kembali berteriak keras, berusaha menjauhi Wonwoo yang masih merengkuh tubuhnya untuk menahan. "Jun! tolong bantu aku!" Sementara pemuda itu hanya berdiri mematung, fikirannya berkecamuk mengenai Mingyu dan Wonwoo. Seberapa jauh sebenarnya keduanya sudah berjalan?

Seungcheol menarik tubuh Wonwoo menjauh dari rengkuhannya. Menarik kerah baju milik putranya, melemparkan tatapan begitu muak pada Mingyu. "Kau tahu dia ibu mu 'kan?! Apa yang hendak kau lakukan padanya, anak sialan?!" Mingyu terdiam, hanya menatap balik sang ayah dari pandangannya yang juga mengeras.

"Aku mencintainya." Dan cengkraman pada kerah baju Mingyu mengendur. Seungcheol menatapnya tak percaya. "Aku tidak pernah memandangnya sebagai seorang ibu. Aku mencintainya." Ujarnya kembali. Seungcheol merasa kepalanya begitu sakit kali ini. Nafasnya menderu cepat. "Kau membuat lelucon, nak." Ia terkekeh dengan nada begitu tak percaya. Menyisakan Wonwoo yang kini menatap kesal pada Mingyu dan Jun yang begitu bertambah shock.

"Maaf 'kan aku, yah. Aku mencintainya." Dan pukulan bertubi-tubi melayang dari kepalan tangan Seungcheol. Menyisakan keributan yang begitu kentara bagi Jun dan Wonwoo guna memisahkan keduanya.

.

Mingyu nyaris koma jika saja kedua pemuda yang masih waras itu tidak berusaha menarik tubuhnya menjauh dari dari amukan Seungcheol. Mingyu terbatuk pelan, merasakan bahwa rusuknya begitu sakit akibat pukulan sang ayah. Jun mendesah berat. Menatap sang adik dengan pandangan sulit di jelaskan. "Kau ini kenapa?"

Mingyu terdiam, membuang arah pandangnya dari Jun. Hening dan Jun masih menatap penuh tanya pada sang adik. "Mingyu, belajar 'lah untuk tidak menjadi serakah dan menghargai. Dia ayah mu dan Wonwoo adalah istrinya. Aku tidak meminta mu untuk memandang Wonwoo tapi ayah." Ia berujar begitu tenang. Jun selalu seperti itu sejak kecil. Setiap kali Mingyu membuat kesalahan fatal ia akan berada disana, menanyainya maksud dari perlakuan nakalnya setelahnya mencoba untuk membuka fikiran pemuda itu.

"Tidak 'kah kau ingin membalas budi atas apa yang telah ayah berikan pada kita? Bukan hanya kau yang mencintai Wonwoo. Aku jauh lebih dulu mengenalnya dibanding ayah, dan lebih dulu jatuh padanya. Namun mengetahui ayah begitu mencintainya membuat aku perlahan mundur karena aku tahu ayah lebih membutuhkannya dibandingkan aku." Mingyu masih terdiam, sejujurnya ia merasa sedikit bersalah hanya saja ego dan kebutaannya terhadap perasaanya pada Wonwoo membuatnya enggan mendengar kata-kata Jun.

"Berhenti 'lah selagi masih bisa." Tukasnya, untuk Jun seharusnya Mingyu memahami betul maksud dari kata berhenti itu. "Aku tidak ingin. Aku terlanjur berbalik mencintai Wonwoo. Bagi ku biar dia yang memilih, jika seperti itu mungkin aku bisa mundur." Dan rahang Jun mengeras sesaat. Merasa bahwa kata-katanya tadi hanya di anggap angin lalu pemuda itu memutuskan beranjak meninggalkan tanpa sepatah kata lagi keluar.

.

"Maaf, merusak semuanya." Wonwoo berkata takut. Masih menempatkan dirinya disamping Seungcheol yang di penuhi dengan amarah. Itu tampak dari deruan nafasnya yang sedikit tersengal. Ia terdiam, setelahnya beranjak meninggalkan Wonwoo yang hanya dapat membuang nafasnya berat.

"Wonwoo." Mengangkat kepalanya menatap Jun yang berdiri dihadapannya kini. "Aku ingin bicara sebentar." Dan berakhir di halaman belakang rumah sakit dimana Mingyu di rawat sementara. Jun terdiam, memandang pada hamparan halaman kosong di depannya. Mendesah berat setelahnya.

"Kau dan Mingyu, sudah sejauh apa?" Pemuda di sisinya masih bungkam. Menelan air liurnya sulit. "Kesalahan ku, Jun." Ia tertawa paksa. Meremat telapak tangannya sendiri. "Aku terbawa arus dan Mingyu mengira aku berbalik memiliki perasaan yang sama." Jun menatap sekilas pemuda itu, setelahnya membuang nafasnya panjang.

"Aku sudah mengatakan pada mu bukan mengenai tidak memberikan lampu merah bagi Mingyu. Kau mungkin bisa mencampakkan ku jika itu antara aku dan Mingyu atau aku dan ayah. Tapi tidak dengan ayah dan Mingyu." Ia berujar, mendapati tatapan sendu Wonwoo yang menahan tangisnya. "Mingyu dan ayah itu dua jurang yang samar. Dan kau terjebak, harus memilih salah satu." Wonwoo membuang nafas panjangnya. "Maaf." Hanya kata itu yang menguar, Wonwoo bersumpah ia tidak tahu harus berujar seperti apalagi selain kata maaf atas permasalahan yang kini menimpa keluarga itu. Seakan kata penghancur yang begitu di takutinya kini justru melekat kuat untuk dirinya.

.

Wonwoo terdiam, menatap pada punggung Seungcheol yang berada dihadapannya. Membuang nafasnya berat. Pemuda itu ingin sekali berada disana. Dalam rengkuhan Seungcheol seperti biasa, namun seakan hanya keinginan tanpa teralisasi. Ia tahu ia tidak akan mendapatkannya. "Wonwoo."

Pemuda itu terdiam selanjutnya berdehem atas panggilan yang Seungcheol layangkan. Menunggu pria itu untuk kembali berujar. "Aku ingin kau pergi sementara, Wonwoo. Hingga semuanya membaik." Wonwoo bersumpah begitu merasa tertohok dengan ucapan Seungcheol. Ia sedikit mengangkat tubuhnya, berniat untuk melihat apakah pria itu mengatakannya dengan sungguh-sungguh atau tidak.

"Maaf 'kan aku." Ia berbisik, kembali berbaring disisi tubuh Seungcheol yang membelakanginya. Menahan rasa sesaknya yang nyaris mendorong keluar airmatanya. Seungcheol terdiam membuat keheningan berlangsung begitu lama bagi Wonwoo. Jarum jam yang berotasi terdengar begitu nyaring memecah. Keduanya masih terjaga, masih merasakan hembusan dingin angin yang merangsek dari balik jendela yang tak tertutup. Deru nafas keduanya terdegar begitu kontras satu sama lain meski milik Wonwoo terdengar sedikit bergetar.

"Aku begitu menyayangi Mingyu dan Jun." Ujar Seungcheol, meremas keheningan menjadi debu yang berterbangan. Ia menarik nafasnya dalam dan Wonwoo masih membungkam. "Jeonghan dan Tuhan mempercayakan mereka padaku. Dan aku begitu menyesal memukul Mingyu. Aku bersumpah tidak pernah melakukan itu sejak mereka kanak-kanak, tapi kemarin aku nyaris membunuhnya hanya karena mu." Wonwoo menahanya begitu kuat. Ia menyadari arah pembicaraannya kini. Semakin menggelung tubuhnya, menatap pada punggung tegap dihadapannya.

"Seperti sebuah kesalahan, menikah dengan mu adalah mula dari keputusan sulit yang harus ku ambil. Bagaimana jika kita berpisah saja?" Dan detik yang berotasi itu seakan menghilang dari pendengaran Wonwoo. Pemuda itu terdiam, tak menjawab apapun. Beranjak mendekat pada punggung Seungcheol hanya untuk menyandarkan puncak kepalanya disana. Mengangguk samar. "Aku mengerti." Bisiknya begitu parau.

Seungcheol begitu menyadarinya bahwa pemuda yang kini berada di balik punggungnya tengah menangis. Ia mengakui dengan pasti bahwa Wonwoo merupakan pemuda terkuat yang pernah ia temui. Nyaris sejak pertemuan pertamanya dengan Wonwoo ia tidak pernah mendapati pemuda itu menangis sekalipun mengetahui bahwa dirinya hanya hidup sendiri tanpa keluarga. Wonwoo masih dapat menarik sudut dari kurvanya, menyembunyikan segala problematikanya disana. Namun kini, Seungcheol tahu bahwa ucapannya tadi begitu menyesakkan dada pemuda itu. Menyisakan isakkan yang begitu kuat di tahannya sesekali terdengar lolos. Seungcheol membencinya, namun ia tidak dapat berbuat apapun.

Mingyu dan Jun begitu berarti untuknya, karena melalui mereka rasa bersalah atas kepergian Jeonghan bisa sedikit terlepas perlahan. Dan Seungcheol hanya tidak ingin segala yang telah susah payah di bangunnya, rasa kekeluargaan serta kasih sayang yang sejak dulu ia tanamkan pada kedua putranya sirna begitu saja. Seungcheol mengalahkan ego atas kebutuhan dirinya sendiri demi kedua putranya. Memutuskan bahwa ia harus melepas Wonwoo yang perlahan menjadi cahaya baru atas kebahagiaannya. Menutup telinganya atas rasa sesak yang kini menghantam pemuda itu.


Chit Chat : update xD wkwkwk nah chapter ini lumayan panjang sih yaaa 10 page sih bikinnya jd maaf kalo kalian ngerasa bosen atau apalah-apalah xD maafin athoorrr x'D di chapter ini berasa angst banget yaak wkwkwk yahhh udah nyampe" mau klimaks sih makanya dibikin begini tp belum klimaks bg /ngomong apa sih lu xD. Banyak yg bilang di ff ini wonwoo keliatan ngenes yak, maaf bikin wonwoo ngenes gk maksud loh :p buat yg masih nerka gimana endingnya ya silahkan nerka wonwoo jones lg ky ff spiritum apa gk :p oh iya curcol dikit, entah kenapa di ff ini aku ngerasa feel dramanya berasa bgt yak xD mungkin krn sebelumnya mah aku banyakan nulis ff genre isteri adventure yg gk terlalu ngusung dramanya bgt kali yak, ngasah bgt sama buat nambahin kosa kata klo nulis ff yg dramanya lebih dominan. Dan buat kalian yg bilang ff ini lumayan bagus krn anti mainstream atau apalah-apalah /?, berterima kasihlah sama yg punya ide ohmyww tanpa ide dia aku cuma butiran berlian wkwkwk xD. nah, sekalian mau sayyy thankkkksss bgt buat yg masih review maaf yaaa gk bisa dibalesin atau" baik lewat pm atau chit chat, aku tuh orgnya suka bingungan mungkin di last chapt bakal aku bales baru xD pokoknya yg penting mah skrng aku ngucapin banyaaaaaaaakk bgt thanks buat kalian yg udh mau ninggalin jejak demi ff ini :*. last, tetep review dan laff yuuu all.

Salam,

Crypt14