.

.

Higher Than Dreams

Naruto is belong to Masashi Kishimoto, I take no profit of this and all the characters inside. All of the purpose for making this is just for fun and entertaining.

Uchiha Sasuke/Haruno Sakura; K, Romance/Friendship

© kazuka, february 15th, 2013

.

.

For SasuSaku Fan Day 2013!

#4: The Meeting

.

Cabang utama kehidupan remaja itu biasanya ada dua, 'kan?

Mau pilih yang mana? Impian, atau cinta?

. . .


Salah ya kalau Sakura ingin melihat sekali lagi impian dan cintanya dari jarak dekat? Benar-benar dekat jadi mereka bisa saling mengenali satu sama lain lagi setelah sekian lama berpisah.

Salah, ya? Jadi ia tidak diizinkan untuk bertemu seperti yang ia harapkan?


. . .

Sasori lari meninggalkan Sakura.

"Senpai!"

Sasori tidak peduli. Ia menghampiri seorang bodyguard, mengangkat ID Card yang ia kenakan untuk diperlihatkan pada laki-laki tegap itu.

"Anda—oh, Tuan Akasuna, maaf," penjaga itu membungkukkan dirinya. "Silahkan. Anda boleh masuk."

Sakura belum mengerti apa yang Sasori lakukan. Tubuh mungil seniornya itu menyusup diantara para penjaga dengan cepat. Kemudian masuk ke dalam ruangan yang tadi ... dimasuki Sasuke.

"Senpai!"

Dia menghilang di balik pintu yang kemudian tertutup.

Sakura cuma bisa menunggu.

x x x

"Ah, mawarnya cantik ..." Sakura menghentikan kayuhan sepedanya, kemudian menyentuh ujung bunga merah muda yang ia temuinya di tepi jalan itu.

Sasuke yang lebih dulu terpaksa ikut berhenti juga.

"Sasuke-kun, bagus ya!"

"Warnanya sama seperti rambutmu."

"Hihi, iya juga ya?" Sakura memandang mawar itu lekat-lekat. Warna merah jambu pucat itu nyaris tak berbeda dengan rambutnya.

"Dia pasti sama juga denganmu."

"Sama bagaimana? Warnanya?" Sakura melirik sepintas, masih betah untuk mengelus mawar tersebut.

"Sama menyebalkannya."

Sakura mendelik tajam. Bibirnya mengerucut dan dari matanya bisa ia lihat Sasuke menyeringai penuh kemenangan—walau tipis sekali. Sudut bibirnya hanya terangkat sedikit ke atas, namun jelas sekali kalau dia tidak sedang berekspresi dingin seperti biasa.

"Sana, kau pulang sendiri saja," usir Sakura—ia memalingkan wajah dan mendengus.

Lama, hanya sunyi yang mengisi keadaan sekeliling. Sakura jadi berpikir kalau Sasuke memang sudah pulang duluan.

"Sakura."

Eh, tidak?

"Apa?" Sakura merespons ketus.

"Ayo pulang."

Sakura mencibir.

"Sudah sangat sore."

"Hng~~ nanti saja~~" mood Sakura sedikit berubah, sepertinya karena melihat bunga yang bersemi cantik itu.

"Pulang."

"Kau duluan saja kalau mau."

"Sakura."

Sakura tersentak.

Tunggu sebentar.

Tadi khayalan atau kenyataan? Sepertinya ada yang bercampur. Suara yang persis memanggilnya—seperti apa yang ada pada kilas baliknya tadi—terdengar benar-benar nyata.

"Sakura."

Dua kali. Membuat Sakura menggelengkan kepalanya cepat untuk mengembalikan pikiran dan kesadarannya ke dimensi nyata—ke tempat ia menunggu Sasori dan Sasuke sekaligus.

"Sakura, aku pulang duluan, tidak apa, 'kan?" Sasori berucap. Sakura menoleh dan baru bisa mengakui kalau ia sudah kembali pada kenyataan.

Matanya beralih ke tepat seseorang yang di depannya.

Mulai mencerna semua yang terjadi. Jadi—tadi Sasori menyusup ke dalam menggunakan akses khusus sebagai keluarga dari panitia penyelenggara ... untuk memanggilkan Sasuke?

"Sakura."

Ia tidak bisa mempercayai matanya. Ini Sasuke!

Sasuke yang nyata!

Bukan ilusi, bukan sesuatu yang menjadi bagian dari khayalannya.

Mata hitam yang ia rindui, rambut hitam kebiruan yang mencuat dan basah karena keringat—tubuh tinggi yang sekarang benar-benar terlihat tegap, dan cara menatap yang tidak sama sekali berubah dari tahun-tahun yang telah lalu.

"Sasuke ... kun ..."

Kemudian lidah Sakura kelu. Waktu seakan dipaksa untuk berhenti, dan tak ada yang mau ia pedulikan dari dunia sekelilingnya karena sekarang porosnya cuma satu.

Uchiha Sasuke.

Pemuda itu mengelap keringatnya dengan handuk, cahaya pandangnya menyusup kepada mata Sakura dengan sorot kelam—namun punya kesan kehangatan yang menghipnotis dari sana. Di bahunya tersampir tas sport, serta sebuah jaket di tangan satunya.

"Apa kabar?" Sasuke duluan yang bertanya.

Sakura melihatnya! Serius! Tentang bagaimana kedua sudut bibir Sasuke terangkat dan sinar pandangnya berganti menjadi lebih hangat dan familiar.

Sakura makin tidak bisa berkata apapun. Ia beku seperti patung, bisu seperti orang tak bernyawa. Seperti ada yang membiusnya untuk masuk ke dimensi dimana tidak ada waktu yang berdetak.

"... Baik," akhirnya Sakura bisa melontarkan kata itu dengan perlahan.

Ini tidak bisa menjadi sebuah pertemuan ala negeri dongeng atau minimal seperti yang terjadi pada komik-komik romansa. Yang biasanya langsung dihiasi tangis mengharu-biru atau pelukan erat yang tidak mau dilepaskan. Bukan, bukan seperti itu. Sakura tidak kuasa melakukannya.

Ia takut.

Takut bahwa itu hanya akan menyiksa Sasuke dan merepotkan pemuda tersebut. Takut itu akan membuat Sasuke kecewa atau marah.

"Kau hebat, Sasuke-kun. Satu gol tunggal darimu. Selamat, ya," cuma itulah yang Sakura katakan berikutnya. Ia menyunggingkan senyum, dan tangannya terkepal sambil bergetar di depan tubuhnya.

Dekat sekali, tapi ia tidak punya kemampuan sedikit pun untuk merengkuh tubuh Sasuke.

"Terima kasih."

"Um, Sasuke-kun," Sakura memutuskan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. "Kau sekarang sudah jadi salah satu pemain terbaik tim nasional. Mimpimu tinggal sedikit lagi tercapai semua, eh? Kau senang, bukan?"

"... Masih ada yang belum. Aku harus bisa bertanding di level internasional."

"Hihi," Sakura tertawa kecil. "Sebentar lagi pasti bisa, kok. Sasuke-kun 'kan hebat."

"Empat hari lagi aku ada pertandingan di China."

Sakura membelalak kagum. "Kau—benar-benar akan bertanding di China?!"

"Ya."

Sakura pun berdecak. "Kau memang luar biasa, Sasuke-kun. Dengan ini, semua impianmu akan tercapai, bukan?"

"Belum."

Eh?

Sakura agak memiringkan kepalanya. "Masih ada lagi? Bukannya dulu ..."

"Nanti aku akan membuka sebuah usaha—meneruskan cabang perusahaan ayah. Hidup masa depanku tak akan terjamin kalau aku hanya hidup dari ini."

Manusia memang tidak pernah puas.

Tapi dengan itu—terbukti bahwa Sasuke benar-benar sudah memikirkan masa depannya. Semua tentang mimpi dan tatanan masa depannya ia rancang sempurna diusia yang bahkan belum genap dua puluh. Dia memang dewasa.

"Dan aku akan mengurusinya sambil bermain di klub daerah."

Gadis itu menggelengkan kepalanya, masih merasa kagum. "Kau tidak berubah, Sasuke-kun. Kau penuh rencana. Hm, kau akan bermain di klub daerah mana?"

"... Aku belum tahu."

Kali ini senyum Sakura beraura pahit. Dia akan bermain di daerah yang tak Sakura tahu dan ... Yah, kesempatan untuk mengulang lagi momen seperti ini akan sangat-amat langka.

Hanya disinikah kisah akhir semua mimpi dan cintanya? Apa ia harus mencari opsi lain untuk masa depan yang sedang dijelangnya? Karena untuk yang ini ... Sakura pesimis ia masih akan dapat harapan.

"Kau punya mimpi yang besar, ya? Kau pasti bisa melakukannya, meraihnya. Kau 'kan luar biasa."

Sasuke diam. Kemudian ia merogoh tasnya. Entah apa yang dia cari—Sakura belum mau mempertanyakannya.

"Sasuke, waktunya pulang!"

"Kami tunggu kau di mobil!"

Anggota tim kesebelasan yang lain melewati mereka—sementara Sasuke masih mencari sesuatu di tasnya, beberapa ada yang memanggil Sasuke dan beberapa diantaranya cuek.

Sasuke menarik salah satu tangan Sakura. Menaruh sebuah notes tipis di atasnya.

"Ini milikmu."

Dahi Sakura mengerut. Heh, sejak kapan ia punya benda ini? Segala kenangan tentang Sasuke masih ia simpan dengan sempurna namun rasanya ia belum pernah merekam ingatan tentang benda ini sebelumnya.

"Sampai jumpa."

Sasuke sudah keburu melangkah menjauhi dirinya. Sakura semakin bingung apa yang harus ia lakukan.

"Terima kasih," lelaki itu kembali mengucapkan hal ambigu. Sakura semakin ditelan kebimbangan.

Sakura menarik nafasnya dalam-dalam, "Cepat kembali lagi Sasuke-kun! Aku menunggumu!"

Cuma itu yang bisa ia teriakkan. Sasuke sempat menoleh sebentar sebelum ia memasuki mobil yang menjemput dia dan timnya.

Sakura pun memeluk notes itu erat-erat. Mengumpulkan keberaniannya kembali. "Jangan lupa kabari aku kalau kau ke sini! Aku pasti menunggumu!"

Hanya sampai sini pertemuan mereka. Tidak ada yang manis. Mereka hanya mengobrol tentang mimpi, itu pun pembicaraan satu arah—hanya Sakura yang menanyakan pada Sasuke tanpa ada timbal balik.

Karena mereka adalah pemimpi.

Sasuke hanya pengejar mimpi saja.

Sakura mengejar keduanya sekaligus.

Dan itulah yang membuat Sakura menderita, karena mimpi dan cintanya berdasar pada orang yang sama, sementara orang itu sendiri juga sedang berlari dalam mimpinya sendiri, yang membuatnya makin sulit terkejar.

Berarti, salah ya Sakura memimpikan ini semua? Bermimpi untuk diakui Sasuke sebagai penulis yang hebat, dan kemudian akan dicintai oleh Sasuke karena karya-karyanya yang memang terinspirasi dan bahkan dipersembahkan untuk Sasuke sendiri.

Mungkin itu memang sesuatu yang tidak bisa dibenarkan, ya?

. . .

. . .

Setelah selesai membereskan diri dan berposisi nyaman di atas tempat tidur, baru Sakura berani membuka notes yang tadi diberikan Sasuke.

Lho?

Kosong. Sakura buka halaman kedua, ketiga, dan seterusnya, masih kosong.

"Eh ...?"

Salah.

Ternyata ia menemukan beberapa lembar kertas yang disimpan di dalamnya. Oh, jadi notes ini cuma pengecoh?

"Ini ... 'Kan ..." Sakura menatap tidak percaya.

hei, ujung jalan belum kutemukan, wahai pangeran.

aku merajut temali untuk penunjangku mendaki tembok penghalang,

aku menyusun pohon mati untuk jembatanku ke seberang sungai,

tapi aku masih sesat.

bantu aku ke depan sana, bisa? bawa tanganku yang mulai lunglai ini dan aku akan memegang janji untuk terus tersenyum padamu.

bantu aku ke mimpiku sana, tolong? rangkul pundakku yang kotor ini dan aku akan berjanji untuk jadi yang kau sandari suatu saat nanti.

pangeran, aku hilang jalan. bawakan aku lentera, keluarkan aku dari kegelapan—dengan kau seret pun tak apa.

pangeran, aku buta arah. jadilah kompasku, bawa aku dari tempat tak dikenal ini—kau tak papah aku seperti putri pun tak apa.

aku tak tahu jalan keluar, pangeran.

apalagi tanpa kau.

Itu yang tertera pada lembar pertama yang ia dapat.

tuan, maukah kau membukakan payung untukku?

hujan di sini, aku terpekur sepi dan dikurung basah.

aku punya jalan pulang, tapi aku tidak bersedia pulang sendiri.

karena aku tahu, ketika aku sampai di rumah nanti—kau juga tidak akan mau mampir lagi dan mengecap teh panas bersamaku.

kau sudah pergi terlalu jauh.

kalaupun aku berlari di bawah hujan dan nanti sampai ke rumah, kau juga tidak akan menantiku di jendelamu seraya mengucap kalimat sapaan kita.

kau sudah melangkahiku terlampau jauh.

tuan, tolong—menggigil aku didekap olehnya.

menunggumu di tepi jalan ini, jalan mimpi yang kita rintis bersama tapi kemudian kau tidak pulang kembali padaku.

tapi ... aku tidak bisa menyebutmu ingkar janji.

karena—kita sendiri tak pernah berucap bait suci untuk saling mengikat, kita hanya dua remaja yang punya dua visi, tapi satu misi.

namun, bolehkah aku minta kau pulang?

Ini puisi yang ia tempelkan di mading dua minggu lalu! Ia berani bersumpah! Bahkan kertasnya asli, dan ini juga persis sekali tulisan tangannya, beserta paraf serupa bunga sakura di sudut kertas.

Tidak hanya dua. Tiga, empat, bahkan Sakura total semuanya ada delapan. Jumlah yang sama persis dengan apa yang tempelkan di mading sejak satu bulan lalu.

Bagaimana itu bisa sampai di tangan Sasuke?!

Ini 'kan kertas-kertas yang dicabut Sasori dari beberapa hari lalu ... Yang ia lepas karena harus digantikan oleh selebaran pengumuman kegiatan kampus—lalu kenapa bisa sampai pada Sasuke?

Oh Tuhan! Berarti Sasuke telah membaca karya-karyanya?!

"Sial!" Sakura memukul-mukulkan bantal itu ke wajahnya sendiri. Sajak dan puisi-puisi cintanya telah dibaca oleh yang bersangkutan—si tersangka utama yang merupakan inspirasinya sendiri!

Ini tidak lucu.

Ia malu, malu!

Bagaimana kalau Sasuke jadi tahu—kalau selama ini Sakura masih mencintainya sekaligus menunggunya? Dari bait-bait itu semua—Sasuke yang cerdas itu pasti sadar itu untuk siapa. Nyata sekali, kok.

"Duh ..." Sakura berguling ke tepi tempat tidurnya. Semua ini membuatnya pusing. Tanda tanya terlalu banyak sampai kelapanya sesak.

"Haaah ..."

Dan gadis itu pun memijit kepalanya. Ia harus merunut ini semua dari awal dan mencari pangkal penyebabnya.

Sasori-senpai —nama kontak yang kemudian ia tuju dan ia tekan 'panggil'.

"Halo? Sakura?"

"Senpai!" panggil Sakura. "Um ..."

"Bagaimana pertemuan dengan Sasuke tadi, huh?"

"Duh ... itu ..." Sakura memainkan ujung bantal yang sedang dipeluknya. "Hahaha, nanti saja kuceritakan. Ada yang mau kutanyakan dengan senpai."

"Hng? Apa?"

"Ano ... Puisi dan sajak-sajakku yang dulu senpai cabut ... Senpai taruh di mana?" Sakura mulai menyelidik.

"Oh, itu," jawab Sasori santai—kemudian ia lanjutkan, "Kuberikan pada Sasuke."

Andai bisa Sakura lihat, Sasori sedang menyeringai tipis sekarang.

"A-apa?! Ka-kapan senpai beri? K-kok bisa?!"

"Aku memberikannya waktu kami bertemu di hotel. Aku menemani ayahku menemui para pemain dua malam sebelum mereka bertanding."

"W-wow ..."

"Itachi bilang padaku—Sasuke sempat lama melamun setelah membaca isi kertas-kertas itu. Puisi dan sajakmu."

Perlu beberapa detik bagi sakura untuk bereaksi.

"—MELAMUN?! Se-sebentar! Kata senpai tadi—Itachi? Itachi-nii? K-kok ... senpai kenal Itachi-nii?"

"Hahaha, kau tidak tahu, ya? Aku dan Itachi teman sejak sekolah dasar. Kami kenal baik dan dia sering juga cerita soal adiknya. Adiknya yang tidak mau lepas dari seorang gadis berambut merah muda—dari kecil sampai dia remaja."

Semua ini cuma bisa membuat Sakura ternganga.

"Aku sudah tahu lama tentangmu, kok—dari pertama kota bertemu di kampus, aku sudah memastikan kau adalah teman perempuan dari adik Itachi itu."

"Ya Tuhan ... berarti senpai kenal Sasuke-kun dari dulu?"

"Yah, kenal tapi jarang bertegur sapa. Lagipula dia pendiam."

"Ha! Jadi yang waktu senpai tanya-tanya soal Sasuke padaku waktu itu, sebenarnya cuma kedok saja, huh?!"

"Hahahaha~ sebenarnya aku sudah tahu banyak tentang kalian. Ya supaya tidak dicurigai."

"Ada-ada saja ..." dengus Sakura. Tapi lantas kemudian—ia menghela nafas. "Terima kasih, senpai ..."

"Ya, sama-sama. Dengan senang hati."

"Kau ... baik sekali ..."

"Biasa saja. Jangan anggap ini hal besar. Aku hanya ingin membantumu. Kau terlihat benar-benar kesepian dan sangat menantinya dari puisi-puisimu itu. Waktu aku mencabutnya dari mading—kupikir bagus kalau kusimpan dan suatu saat kuberikan pada Sasuke lewat Itachi."

"Ugh ..." Sakura kemudian meringis. Malu, sebenarnya. Tapi—tak apalah. Toh akhirnya dia bisa melepas rindu barang sebentar—dengan bantuan Sasori. "Sekali lagi, terima kasih, Sasori-senpai. Aku berhutang padamu."

"Ah, kau ini. Biasa sajalah."

"Hihi~ sudah, ya? Maaf mengganggumu. Selamat malam, senpai."

"Ya, selamat malam."

Klik. Sakura menutupnya kemudian.

Lantas ia berbaring telentang menghadap langit-langit. Memikirkan kembali satu hal—bahwa dunia ini ternyata begitu sempit.

Dan ... Ternyata ia punya malaikat penolong yang menyambungkannya dengan Sasuke. Mulai dari memanggilkan Sasuke untuknya, memberikan kertas-kertas ini untuk Sasuke.

Yah, setidaknya mungkin isi sajaknya bisa sedikit mengetuk pintu hati Sasuke—bahwa ada dirinya yang terus menunggu untuk 'dibukakan' pintunya. Pintu hati, apa lagi memangnya?

Bagaimana ya—reaksinya ketika membaca? Sakura membayangkan hal itu dan kemudian menutup wajahnya sendiri dengan notes. Malu. Wajahnya memanas, berubah kemerahan.

Sasuke kira-kira sedang apa sekarang, ya? Sakura berbicara dalam hatinya sendiri. Sedang apa? Apa ia sedang pulas tertidur? Kelelahan? Sedang makan? Ah, kapan dia pulang, ya?

Tunggu.

Sakura membalik diri, berubah posisi jadi tiarap.

Bodohnya ia kenapa tidak tanya Sasuke tadi—kapan dia pulang?!

Sakura menepuk jidatnya.

Padahal jika tahu—ia 'kan bisa mengejarnya setidaknya sampai airport! Bodoh, bodoh!

Sabar, sabar—tenang. Ia 'kan masih punya akses lain!

"Halo? Sasori -senpai!"

"Ada apa lagi, Sakura? Ada yang kau tanyakan lagi?"

"Tim nasional kapan akan pulang kembali ke Tokyo?!" tanyanya tanpa basa-basi.

"Hmmm—setahuku sih besok. Tunggu sebentar, tutup saja dulu teleponnya, aku akan tanya pada ayah dan meneleponmu balik."

"Kutunggu!"

Sakura tidak bisa menenangkan dirinya sementara menanti Sasori. Ia berguling-guling seperti anak kecil di atas tempat tidur—spreinya jadi berantakan total namun ia tak mau tahu.

Ddrrtt—

"Senpai?!" jawab Sakura, menyambar seperti kilat.

"Agak membingungkan ... besok anggota tim nasional ada yang berangkat langsung ke Beijing untuk pertandingan mendatang, namun ada juga yang ke Tokyo dulu."

"Sasuke-kun ikut yang mana?"

"Ayah juga tidak tahu. Kurang jelas siapa yang akan ke China duluan dan mana yang mau ke Tokyo dulu. Waktu berangkatnya juga tidak terlalu jelas. Ayahku cuma tahu kalau yang ke Tokyo akan berangkat jam 10."

"Oh begitu—baik, terima kasih banyak, senpai! Terima kasih, sekali lagi terima kasih!" Sakura mengekspresikan perasaannya sambil tersenyum berulang-ulang. "Kututup, ya! Selamat malam!"

"Hng, selamat malam juga."

Baik! Ia akan bertaruh besok! Untuk mengejarnya—lagi. Kesempatan kedua untuk bertemu Sasuke! Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan nanti—ia sama sekali tak punya ide. Tapi, masa bodohlah dengan itu! Yang penting, sekali lagi ia bisa bertemu Sasuke. Tanpa kata pun tak apa. Bertemu mata sudah cukup, sebab ekspresi mata Sasuke mengatakan jauh lebih banyak hal daripada apa yang terucap dari bibirnya.

. . .

. . .

Setengah sepuluh lewat lima, dan Sakura telah turun dari taksi dan terus berlari seperti mengejar pencuri—dari depan komplek bandara sampai ke dalamnya. Secepat yang ia bisa.

"Sasuke-kun ... Sasuke -kun ..." nama itu seolah mantra, yang terus memompa semangatnya untuk lari meski jaraknya tidak dekat. Ia seperti seorang penyihir yang butuh mantra sebagai penyangga hidup, dan mantra itu, tak lain nama tadi.

Benar saja! Ada beberapa bodyguard yang masih Sakura kenali wajah-wajahnya dari kejauhan.

Dan, bandara sepi. Padahal ia pikir akan ada segerombol fangirl yang akan rela menunggui di bandara demi para pemain tersayang. Oh, mungkin mereka tidak tahu jadwal keberangkatannya? Hoho, mungkin Sakura patut berbangga diri—ia punya akses rahasia!

"Sasuke-kun mana?" tanyanya, sambil terengah-engah—setelah mencapai salah satu penjaga yang berjas.

"Tch, kau yang kemarin lagi," decihnya. "Mau apa kau? Uchiha Sasuke sudah berangkat ke Beijing dua jam lalu."

"Ah, kau bohong! Tidak perlu melindunginya begitu, aku bukan orang jahat, kok! Kau tidak izinkan aku bicara padanya juga tidak apa-apa, aku cuma mau melihatnya!" desak Sakura.

"Apa untungnya aku berbohong, hah, nona? Uchiha Sasuke dan empat temannya sudah berangkat duluan ke Beijing. Yang tersisa ini yang mau ke Tokyo. Kau terlambat!"

"Bo-bohong 'kan ..." suara Sakura mulai melemah.

"Sudah kubilang, apa aku dibayar untuk berbohong? Mereka cuma membayarku untuk menjaga para pemain, tidak untuk membohongi orang luar macam dirimu. Dia sudah pergi, kau terlambat!"

Sekali lagi—Sakura melemas.

.

.

.

| t b c |

.


A/N: haiaaaahh, terima kasih masih setia mengikuti! gimana? greget lagi ya di endingnya Sakura masih harus kejar-kejaran ala kayak Tom and Jerry (?) sama Sasuke? Well, chapter depan adalah yang terakhir, disana bakal dijelaskan dan dibongkar semuanya, segala tentang Sasuke. Insya Allah di-publish pas SSFD, tanggal 20 Februari : D : D

well, inilah balasan untuk review yang diberikan di chapter 3~ o/

karimahbgz: iya, FFn sempet error semaleman DX hahaha, sengaja authornya, buat bikin greget dan ada lika-likunya XD #plakdor dan, beginilah reaksi Sasuke. Malah makin gregetan? Oke, semuanya bakal diungkap di chapter depan, jangan hajar Sasuke dulu ya =)) #heh

skyesphantom: iyah, FFn ngadet =.=)a hehehe, terima kasih, terima kasih, terima kasiiiih :"D Hihi, ItaSasu memang lopelope deh, di chapter depan ada lagi kok merekanya, fufu #spoiler

Air Mata Bebek: *ikut jitakin Sasuke* XD #PLAKDORJDUENG *ditoyor Sakura juga* thankies yah~ hihi, ini udah update lagi :3

Api Hitam AMATERASU: yaha, namanya juga orang lagi tanding, biarpun mereka dengar, bisa-bisa gak dipeduliin loh saking konsennya, apalagi orang lagi tanding bola XD #pengalaman #eh

Beatrixmalf: Halo, Bea, ya? cieh, terima kasih sudah selalu ngikutin, aku seneeeng banget :3 cheeeehehe sempurna? masa sih? hihi, semoga, semoga, aaamiin! XD terima kasih juga koreksinya. dan, kyaaaak, twist-nya kerasa ya? itu sesuatu yang pengen banget aku capai, syukurlah kalau ternyata beneran terasa~ Sasori sengaja aku bikin semacem malaikat di sini, abis ganteng sih :") *emang ada hubungannya?* sekali lagi terima kasih, ya! hihi, suka deh sama reviewmu :3

Natsuya32: iya, sengaja kok banyak ngasih kilasbaliknya, biar lebih berwarna dan ngasih gambaran gimana mereka dulu, biar perasaan Sakura bisa dipahami, hihi :3 terima kasih untuk fave-nya, dear :3

Afisa UchirunoSS:iyah, FFn sempat error gitu~ kekekekek, di sini mereka ketemu kok, tapi yaaa hahaha begitulah. Nanti di chapter depan kebongkar kok semuanya. Iya, Sasori jadi orang ketiga penolong, gak dibikin antagonis, nanti makin panjang ceritanya kalo dia jahat, hihi~

crystahime: terima kasih! XD iya, panggil aja Nisa, salam kenal juga ya~ =]

nilakandi: wah, ada lagi yang ngerasa dejavu, authornya juga kok :3 #APA yah, Sasuke kelihatannya emang jauh dari Sakura, ya? Tapi lihat aja nanti, fufu~

mari-chan . 41: terima kasih~ hehehe, kesimpulan perasaan Sasuke mulai dijabarkan di chapter terakhir nanti, kok, turududududu~~ XD

iya baka-san: iya XD nanti deh 'ketemuan benerannya' :3 iyap! ini lanjutannya~ terima kasih suntikan semangatnyaaah X3

Grengas-Snap: pokoknya semua bakal ketahuan di chapter depan, semua tentang perasaan, niat, dan rencana Sasuke, liat aja nanti :) dan—oh, 'reguk' itu ada lho di KBBI, silahkan dicek kalau nggak percaya, hihi~ artinya sama dengan 'teguk', kok. itu salah satu diksi dong, biar ga terlalu monoton kata-katanya XD

terima kasih dukungannya! silahkan katakan unek-unek kalian, atau koreksi tentang fic ini, monggo~~ dan nantikan chapter terakhirnya, yaaaw X3

.

.

.

p.s.: ayo ramaikan SSFD 2013! sumbangkan karyamu, fanfiksi, fanart, fanvid, essay, semua boleh asalkan bertema SasuSaku dan tidak ada bashing chara~ :3