"Mau kemana kau, Dobe?" Tanya Sasuke ketika melihat Naruto telah rapi dan hendak pergi.

"Tentu saja kerja."

"Hey, aku ikut."

"Tak boleh, kau baru pulang dari rumah sakit, jadi masih harus banyak istirahat," cegah Naruto.

"Ska-suka aku, Dobe," ujar Sasuke yang kini telah berada dihadapan pemuda berambut pirang yang hendak keluar rumah untuk bekerja.

"Hhh, terserah padamu, Teme," ujar Naruto, kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi bekerja yang diikuti oleh Sasuke dibelakangnya.

Disclaimer:

Masashi Kishimoto

Rate:

T

Warning:

Sho-ai,Typo, dll.

Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, akhirnya mereka sampai disebuah restaurant Jepang.

"Ohayou," sapa Naruto ketika memasuki restaurant tersebut.

"Ohayou Naru, Sai," sapa seorang gadis bercepol dua.

Setelah menyapa mereka Naruto pun segera pergi ke dapur untuk bekerja, namun langkahnya terhenti ketika dilihatnya pemuda bermata onyx itu tak mengikutinya.

"Teme, ayo ikut aku," teriak Naruto. Mendengar teriakan cempreng pemuda bermata sapphire itu, Sasuke pun mengikutinya. Tenten yang mendengar Naruto memanggil kekasihnya dengan sebuat 'Teme' membuatnya mengernyitkan dahi, pasalnya pasangan yang satu itu selalu menunjukkan kemesraan mereka ditempat umum.

"Sasuke, kau mencuci piring, ya. Aku mau menyiapkan bahan-bahan makanan dulu," ujar Naruto sambil berjalan menuju tempat persediaan makanan di restaurant itu.

"Cuci piring?" Diperhatikannya tumpukan piring kotor dihadapannya, "Bagaimana melakukannya? Ah, enak saja si Dobe itu menyuruhku," akhirnya Sasuke pun pergi meninggalkan tempat itu dan memilih untuk bersantai.

Setelah sepuluh menit Naruto mengambil bahan makanan, Naruto pun kembali memasuki dapur dan mendapati piring-piring kotor itu belum tersentuh sama sekali.

"Sasuke!"

Dijewernya telinga pemuda bermata onyx yang kini tengah bersantai seperti seorang pengunjung.

"Apa-apaan kau, Dobe. Menjewer telinga orang seenaknya," ujar Sasuke sambil memberikan death glare kearah pemuda berabut pirang tersebut.

"Kau yang apa-apan, seenaknya saja bersantai. Kau kan yang meminta untuk ikut, jadi kau juga harus bekerja, Teme."

"Hn."

"Gah, ayo Teme," ditariknya tangan putih pucat itu untk kembali kedalam dapur dan menyelesaikan pekerjaannya.

"Aku tak tahu caranya, Dobe."

"Hah? Masa kau tak tahu caranya, itu kan pekerjaanmu," ujar Naruto.

"Itu pekerjaan Sai, sedangkan aku adalah pewaris tunggal Saringan Corp." ujar Sasuke.

"Ya, ya, aku lupa. Baiklah, perhatikan aku baik-baik," diambilnya spon yang mempunyai warna seperti rambutnya, dan memasukkan kedalam cairan sabun. Setelah spon itu berisi sabun, naruto pun mulai menggosokkan spon itu kepiring kotor ditangannya dan membilas piring itu hingga bersih dari sabun.

"Nah, mudahkan. Sekarang kau kerjakan sendiri, Teme."

"Tapi aku masih tak mengerti, Dobe."

"Hhh, baiklah akan kutunjukkan sekali lagi," ujar Naruto, kemudian kembali mencontohkan kepada Sasuke.

"Nah, sekarang giliranmu," ujar Naruto sambil memberikan spon itu kepada Sasuke.

"Tapi, sepertinya yang ini berminyak, bagaimana mencucinya, Dobe?"

"Itu sama saja seperti mencuci piring biasa, Teme."

"Tapi aku tak mengerti."

"Hhh, baiklah. Seperti ini caranya."

"Kalau panci ini bagaimana cara mencucinya, Dobe?"

"Seperti ini, Teme," kembali dipraktekkannya cara mencuci panci tersebut.

"Bagaimana dengan gelas ini, Dobe?" kembali Naruto mempraktekkan cara mencuci yang baik kepada pemuda disebelahnya.

"Nah, seperti itu caranya, Teme."

"Hn, karena semua piringnya sudah bersih. Aku mau pergi dulu, nanti siang aku kembali kemari lagi," ujar Sasuke sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan dapur dan restaurant itu.

Naruto yang mulai bisa mengerti kejadiaan yang dialaminya langsung berteriak,

"Gah, kau mengerjaiku. Dasar Sasuke-Temeeeeee!"

XOXOXOXOXO

Setelah Sasuke berhasil pergi dari Naruto, dia pun memutuskan untuk pergi ke mansion Uchiha. Namun saat digerbang masuk, Uchiha bungsu yang kini tengah terperangkap dalam tubuh seorang Sai dihentikan oleh seorang anbu yang menjaga kediaman Uchiha tersebut.

"Untuk apa kau kembali lagi ke sini, Sai? Sasuke-sama telah memerintahkan kami untuk tidak membiarkanmu menginjakkan kaki di rumah ini lagi."

"Hn, aku mau bertemu Kakashi."

"Kakashi-san sedang sibuk."

Sebenarnya Sasuke bisa saja menerobos masuk kedalam rumahnya, namun mengingat para anbu itu sangat terlatih oleh bela diri, Sasuke pun mmengurungkan niatnya.

XOXOXOXOXO

Merasa tak ada tujuan lagi, Sasuke pun memutuskan untuk kembali ketempat restaurant dimana Naruto bekerja. Langkah yang tadinya berjalan lambat, kali ini dilangkahkan dengan cepat saat dia melihat seorang pria paruh baya yang menggunakan masker yang hampir menutupi sebagian wajahnya.

"Kakashi!" teriak Sasuke tak ingin Kakashi pergi meninggalkannya, Kakashi yang merasa namanya dipanggil pun langsung membalikkan badannya dan terkejut melihat pemuda yang sudah tak ditemuinya selama bertahun-tahun.

"Sai?"

"Kakashi, bisa kita bicara sebentar?"

"Maaf Sai, aku sedang sibuk," ujar Kakashi.

"Tapi ini menyangkut Uchiha Sasuke," ujar Sasuke membuat Kakashi mengurungkan niatnya untuk pergi.

"Baiklah, dimana kita bicara?"

Setelah mendapat persetujuan dari Kakashi, Sasuke pun mengajaknya memasuki restaurant tempat Naruto bekerja. Naruto yang masih kesal atas perbuatan yang dilakukan Sasuke tadi, langsung berjalan mendakati pemuda berambut hitam itu yang baru saja duduk disalah satu meja bersama orang yang asing bagi Naruto.

"Teme, seenaknya kau pergi dan seka-"

"Diam Dobe, aku ada urusan penting. Sebaiknya kau bawakan minuman untuk Kakashi-san," ujar Sasuke dingin memotong perkataan Naruto.

"Ba-baiklah," ujarnya kemudian pergi meninggalkan mereka untuk memberikan pesan Sasuke.

"Jadi apa yang ingin kau katakan tentang Sasuke-sama?"

"Sebelumya aku ingin bertanya, bagaimana dengan tubuh Sasuke, apa Sai ada dalam tubuh Sasuke?" Kakashi yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa mengernyitkan dahinya.

"A-" namun perkataannya terpotong ketika Naruto datang dengan membawa sebuah minuman dan meletakkannya dihadapan Kakashi.

"Selamat menikmati," ujar Naruto sambil tersenyum manis. Namun setelah berkata seperti itu, sosoknya masih saja tak beranjak dari tempat itu.

"Ada apa lagi, Dobe?"

"Tidak, aku hanya ingin menemanimu."

"Tak perlu, sebaiknya kau kembali bekerja saja."

"Tapi aku berhak tahu, Teme."

"Maaf, aku tak punya banyak waktu. Sebaiknya kau cepat katakana apa yang ingin kau katakan padaku."

"Hn. Duduklah, Dobe," setelah melihat Naruto telah duduk disampingnya, Sasuke pun mengulangi pertanyaannya.

"Apa Sasuke saat ini sudah sadar dan mulai beraktivitas?"

"Tentu saja belum. Dokter bilang Sasuke-sama sedang mengalami koma dan belum dapat dipastikan kapan dia akan sadar karena sampai saat ini, Sasuke-sama belum menunjukkan adanya kemajuan yang signifikan."

"Syukurlah, itu artinya si Sai bodoh itu tak akan merusak tubuhku."

"Apa maksudmu dengan Sai tak akan merusak tubuhmu, Sasuke?" Tanya Naruto dan membuat Kakashi menaikkan sebelah alisnya mendengar Naruto memanggil Sai dengan Sasuke.

"Ada dua kemungkinan, Dobe. Pertama, dia ada ditubuhku, namun karena luka yang berat, sehingga Sai tak dapat menggunakan tubuhku. Dan kedua, mungkin saja Saimu itu sudah meninggal," mendengar hal itu, cairan bening seakan-akan ingin keluar dari mata sapphire itu. Meskipun Naruto memang belum sepenuhnya percaya akan tertukarnya Sasuke dan Sai, tetapi jauh dilubuk hatinya dia dapat merasakan dan mengetahui kalau pemuda yang saat ini berada disampinya bukanlah Sai sang kekasih.

"Tunggu, jadi maksudmu. Kau itu adalah Sasuke-sama yang terperangkap dalam tubuh Sai?"

"Benar sekali, Kakashi."

"Heh, imajinasimu sungguh tinggi, Sai. Bahkan kau menyewa pemuda ini untuk menangis dihadapanku. Maaf Sai, aku tak punya waktu lagi untuk mendengarkan leluconmu, permisi."

"Dobe, ini semua salahmu."

"Salahku? Ini semua bukan salahku, tapi salahmu."

"Jelas saja ini semua salahmu, Dobe."

"Heh, dasar Uchiha tak tahu diri! Pantas saja kakakmu melakukan hal ini padamu," ujar Naruto, kemudian meninggalkan Sasuke yang terpaku mendengar penuturan pemuda berambut pirang itu.

XOXOXOXOXO

Semenjak insiden tadi siang, tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Jangankan pertengkaran yang selalu mereka lakukan, sepatah kata pun tak meluncur lagi dari bibir mereka, hingga mimpi menyelimuti mereka.

Naruto POV

'Dimana ini? Kenapa tak ada siapa-siapa?' batin Naruto

"Halo, siapa saja, tolong jawab aku!" teriak Naruto, namun tetap saja tak ada jawaban. Yang ada hanya suara desiran angin yang mampu membuat pepohonan disekelilingnya bergoyang.

Naruto pun melanjutkan langkahnya kemanapun, berharap ada seseorang yang dapat ditemuinya di hutan lebat ini.

"Naruto," mendengar namanya dipanggil, Naruto pun membalikkan badannya kearah datangnya suara. Dan betapa kagetnya dia ketika melihat seseorang yang sangat dirindukannya tengah berdiri sambil memberikan senyuman terbaiknya kearah pemuda pirang dihadapannya.

TBC

Ah, maafkan chira yang telat update m(_ _)m

Dan juga maafkan chira yang tak membalas review minna-san. Tapi chira sungguh berterima kasih sekali atas reviewnya dan juga bagi minna-san sang sudah meluangkan waktunya untuk membaca dan juga mereview. Special Thanks.

Hayashibara Nao

Uzumaki Andin

Gary Crystalla

Sibishii no kitsune

Dallet no Hebi

Anata Kiyoshi

Mikami

Vii no kitsune

Misyel

Hanami

Lady Spain

Adakah yang bersedia mereview?

~RnR please~