A/N:Oke update selanjutnya adalah In Lost Word. Dan silakan nikmati Fic sederhana ini.
Disclaimer : Saya tidak akan pernah mengakui kepemilikan Naruto dan juga yang lainnya. Kecuali fic ini memang punya saya.
Rate : T
Pair : Kalian bisa tebak sendiri
Genre : Adventure, Romance, dan Familly
Warning : Typo, ooc, bahasa yang aneh, abal-abal, banyak kekurangan di sana-sini, alur yang terlampau cepat, dan sistim SKS
"Lebih cepat!"
"Lebih cepat!"
Tank..
Dua senjata saling beradu. Dua senjata yang saling mengeluarkan percikan bunga api. Suara dengungan yang dihasilkan dari aduan dua senjata tersebut menggema dalam Dugoen Bos. Naruto dengan cepat menebas dan menusuk Cardinal yang sedari tadi dihadapannya. Tebas serang dan tangkis menjadi hal yang menarik untuk ditonton.
Dengan Blood-Scythe miliknya Naruto berusaha untuk menebas kadal raksasa tersebut. Seraya melakukan serangan demi serangan. Namun, hasilnya nihil. Kadal itu sangat sulit dikalahkan bahkan olehnya sekalipun. Namun Naruto tetap berusaha untuk melawan Bos akhir dari lantai 60 ini. Bagaimanapun dia tidak bisa memaksa anggota tim pengambil alih lainnya untuk terus bertarung ditengah kondisi mereka yang sudah sangat kritis saat ini.
Sepertinya Cardinal juga tidak mau kalah dengan Player dihadapannya ini. Menebas beberapa kali Cardinal berusaha untuk membunuh Naruto. Tapi sayang setiap serangannya berhasil dihindari dan pada akhirnya hanya angin kosong yang didapat ketika Naruto berhasil salto kebelakang. Melihat hal itu Cardinal hanya mendesis keras.
Memang Cardinal bukannlah mahluk hidup sejati. Dia hanyalah sebuah program yang mempunyai banyak kekurangan. Dan Naruto sadar akan fakta itu, bahwa sebuah program mempunyai batasan dan bisa di Bug. Tapi ini Lost Word dimana nyawa taruhannya bukan Game Oline biasa.
Naruto yang telah bersalto kebelakang lansung mengambil ancang-ancang mengacungkan pedangnya kedepan seraya berucap. "Slide!" seketika disekitar Naruto muncul angin yang sangat kencang dan tanah yang ada disekitar pemuda tersebut retak.
Meluncur seakan diberi gaya pendorong. Naruto dengan cepat menusukkan pedangnya kearah Cardinal. Dengan pedang yang terarah Naruto yakin dapat menembus jantung monster tersebut. Dan dapat menyelesaikan Dugeon ini dengan cepat.
Ctangg..
Siapa sangka Cardinal dapat menahan serangan Naruto dengan pedang miliknya. Seakan tidak kehilangan akal Naruto kemudian memutar tubuhnya dan mengitari Cardinal genggaman pedangnya dipelonggar agar memberinya kesempatan untuk menebas ekor kadal tersebut.
Sraatt..
Kolom Hp milik Cardinal semakin berkurang ketika tebasan tersebut sukses memutuskan ekornya. Cardinal yang semakin mengamuk kemudian menyerang Naruto secara membabi buta.
Sraat..
Naruto berhasil mukai monster tersebut. dan malah dirinya menghasilkan luka melintang yang panjang bagi monster itu, yang mana juga akan semakin mengurangi kolom Hp milik Cardinal.
Dukk..
Tangan kiri Cardinal yang bebas memukul telak wajah Naruto. Namun dia masih bisa bertahan dan tidak jatuh kehilangan keseimbangan. Mengalihkan pandangannya, sejenak Naruto menatap semua pandangan mata yang tertuju kearahnya. Bahkan itu pandangan Kiba dan Shion. Pandangan mereka sama dengan kejadian dilantai 25 dan lantai 59. Lantai dimana insiden berdarah menjadi trauma bagi sebagian Player. Dan juga baginya.
"Lebih cepat!" ucap Naruto pada dirinya sendiri. Seraya matanya melirik bar Hp miliknnya yang secara perlahan namun pasti akan mencapai zona merah.
Ctaangg..
Serangan Naruto dapat ditahan Cardinal. Namun serangan tersebut tetap memberikan hasil, terbukti Cardinal yang kehilangan keseimbangan.
Ctangg...
Naruto yang mengira Cardinal yang kehilangan keseimbangan segera melompat untuk menusuk monster dihadapannya. Arah jatuh dan adrenalinya semakin besar ketika ujung pedang miliknya akan membus tubuh Cardinal. Namun sayang sekali Cardinal masih dapat menahan serangan miliknya
Melihat serangannya yang gagal Naruto kembali melompat mundur seraya mengatur nafasnya. Tiba-tiba dia merasakan Shion sudah kembali berdiri disampingnya. "Apa yang kau lakukan!?" ucap Naruto.
"Biarkan aku membantumu" ucap Shion seraya melirik Naruto.
"Tidak!" ucap Naruto tegas. "Kembali bantu Player lain yang terluka"
Shion menatap Naruto heran. "Kenapa?"
"Apa maksudmu?"
"Ke-.." belum sempat Shion menyelesaikan ucapannya Naruto sudah mendorong tubuh gadis itu untuk menghindari Cardinal yang tiba-tiba kembali menyerang mereka.
"Sudahku bilang diam disana!" ucap Naruto yang sedang bertarung kembali dengan Cardinal.
Pertarungan sengit kembali terjadi antara Naruto dan Cardinal. Tebas dan tangkis kembali terjadi. Naruto dengan gerakan lincah bermaksud melakukan tusukan pada perut Cardinal.
Dan Binggo serangan tersebut mengenai serangan. Monster tersebut lansung mengaum kesakitan dan hal itu semakin membuatnya menyerang liar Naruto.
Tidak sampai disitu saja serangan kali ini sangat membuat Naruto kewalahan. Walau sebagian besar serangan berhasil dihindari. Tapi, kolom Hpnya semakin berkurang karena sayatan-sayatan kecil tetap mengenai tubuhnya.
Tapi, itu tidak sebanding dengan apa yang dia dapat. Semakin monster itu meningkatkan tingkat serangannya semakin rendah pertahan milik monster tersebut. dan hal itulah yang dimanfaatkan Naruto.
Asik bahkan terlalu asik dengan rencananya. Naruto tidak menyadari adanya sebuah pukulan dari tangan kiri Cardinal yang sedang kosong.
Mata Naruto seketika melebar ketika pukulan Cardinal sudah hampir mengenainya. Tabuhnya lambat merespon diakibatkan konsentrasinya yang terpecah belah saat ini. Dengan perlahan Naruto menutup matanya bersiap untuk menerima rasa sakit yang sebentar lagi akan menghampirinya.
Dukk..
Belum sempat matanya menutup sempurna. Keterkejutan kembali menghampirinya, bahkan ini bukan keterkejutan ini adalah ketakutan. Shion, gadis itu melindunginya dari tinjuan Cardinal membuat matanya yang akan menutup secara perlahan kembali terbukan. Dengan cepat Naruto berlari kerah Shion seraya memeluk tubuh mungil gadis itu.
"Sudah kubilang bukan!" ucap Naruto marah, namun berbeda dengan raut wajahnya yang menunjukan kesedihan dan ketakutan yang luar biasa.
Shion hanya tersenyum kecil mendengar perkataan pemuda didepannya. Tangannya secara perlahan bergerak dan kemudian mengelus pelan wajah pemuda tersebut. Dia tidak mengerti kenapa tubuhnya bergerak sendiri untuk melindungi Naruto. Tapi, walau bagaimanapun sepertinya dia tidak keberatan dengan semua ini. Ada perasaan bahagia ketika mengetahui usahanya tidak sia-sia. Entah kenapa dia merasa bahagia mengetahui pemuda ini selamat.
Pandangan Naruto menjadi kosong. Inggatanya melayang pada kejadian dilantai 25, sama kejadian ini sama persis. Bahkan dia merasa De javu dengan semua ini. Melihat kolom Hp gadis itu Naruto dapat memastikan dengan skill Brow Attack milik Cardinal barusan membuat kolom Hp Shion sudah berada di Zona merah.
Pupil mata Shion melebar ketika Naruto membuat statusnya menjadi sleep. Pemuda itu sengaja menyuntikan sesuatu dalam tubuhnya. Skill ini salah satu skill dari job Assassin dia tau betul ini. Tapi bagai mana Naruto bisa memiliki skill Assassin sedangkan dia bertarung menggunakan Sword bukan Qatar atau Claw seperti Assassin lainnya.
Namun bukan itu yang ditakutkannya. Yang paling dikhawatirkannya saat ini adalah pemuda itu bernjak pergi meninggalkannya. Dia dapat melihat Naruto menuju kearah Cardinal yang sedang atau kembali bertarung dengan beberapa Player yang sempat menolong Naruto barusan ya selain dia tentunya.
Dengan jelas dia dapat melihat pemuda itu mengayunkan pedang besar tersebut.
Ctangg..
"Mundur semuanya!" ucap Naruto dengan intonasi nada datarnya. Para Player yang mendengarnya segera mundur. Menatap Cardinal yang dapat menahan serangan kejutnya dengan tatapan kosong. "Final Damage" Seketika Naruto lansung menghilang dari hadapan Cardinal seraya meninggalkan bayangan dirinya.
Muncul disamping Cardinal Naruto bermaksud untuk mengayunkan pedang miliknya pelan. Cardinal yang menyadari hal itu lansung menebas Naruto. Namun sebelum tebasan itu mengenai target, Naruto kembali menghilang seraya meninggalkan bayangan dirinya.
Kembali muncul dibelakang Cardinal Naruto bermaksud untuk kembali melakukan hal yang sama. Namun kembali juga Cardinal lansung menebasnya. Tapi seperti yang sudah terjadi Naruto lansung menghilang meninggalkan bayangan dirinya.
Naruto kembali muncul didepan Cardinal namun kembali menghilang dalam bayangan dirinya. Terus seperti itu muncul menghilang - muncul menghilang. Hingga akhirnya.
Naruto muncul diatas Caardinal seraya mengarahkan ujung pedangnya kearah Caardinal atau tanah bermaksud untuk menghasilkan ledakan yang besar. Salah satu Skill Assassin yang paling memiliki kerusakan tertinggi diantara skill lainnya.
Cardinal yang menyadari Naruto ada diatasnya segera mengacungkan pedang miliknya berusaha menusuk Player yang ada diatasnya.
Dengan serangan yang berlansung cepat jarak yang sudah mendekat. Semua tidak terhindari..
DUUAARRRR...
.
.
Shion hanya bisa menatap syok apa yang ditanggkap penglihatannya. Begitu pula dengan semua Player dalam kelompok pengambil alih. Tidak ada yang tau apa yang terjadi setelah ledakan tersebut. tapi, yang mereka tau adalah image Naruto yang terlihat juga tertusuk dengan pedang yang diacungkan Cardinal.
Dia inggin berteriak memanggil nama pemuda tersebut. Inggin kesana untuk memastika apa yang terjadi disana. Apa yang ada dibalik kabut hasil ledakan tersebut. Namun efek sleep yang masih dirasanya mengalahkan semuanya.
Hanya bisa menatap tanpa bisa berbuat apa-apa. Shion berharap agar pemuda tersebut selamat. Walau dia tau akan sangat kecil kemungikan untuk itu. Dan dari tempat ledakan tersebut, kabut dari debu yang menutupi perlahan-lahan memudar dan menampilakan sesosok mahluk yang sanagt dikenalnya...
Tapi!?
.
.
.
.
.
Memory
Kota angsa lantai 25
Naruto tak henti-hentinya tersenyum kepada gadis bersurai hitam kebiruan disampingnya. Hinata. Hatinya sangat bahagia ketika gadis yang telah lama disukainya ini ternyata menerima pernyataan cintanya. Mengenggam tangan Hinata dengan erat. Naruto dan Hinata menikmati pemandangan danau ditepi kota yang indah dan tenang.
Sedangkan bagi Hinata sendiri ini seakan seperti mimpi. Bagaimana mungkin? Orang yang sudah disukainya sejak lama ternyata juga memendam perasaan yang sama terhadapnya.
Semilir angin berhembus pelan menerpa wajah keduanya. Menerbangkan beberapa helai daun kering yang sekan menambanh keindahan tempat ini. Hinata merasakan wajahnya semakin memanas ketika Naruto merangkul tubuhnya. Menundukkan wajahnya dia merasa sangat malu jika Naruto sampai mengetahui atau mendapati wajahnya yang memerah.
"Kau kenapa Hinata-chan?" tanya Naruto heran sambil memperhatikan gadis itu yang tertunduk malu. "Apa kau kurang nyaman?"
Sungguh mendengar pertanyaan bodoh dari Naruto, Hinata seakan inggin pingsan seketika. Apa Naruto tidak peka dengan kondisinya atau apa? Andai saja dia punya keberanian, andai saja. Tapi, apa yang mau dikata. Hanya Naruto yang bisa membuatnya seperti ini, membuatnya nyaman dan gugup stadium akut.
"A-aku ti-tidak apa-apa N-naruto-kun" ucap Hinata gugup.
"Apa benar?" balas Naruto tidak percaya seraya matanya kemudian mendapati wajah Hinata yang sudah memerah. "Kenapa wajahmu memerah Hinata-chan? Apa kau sakit? Tapi, kok aku baru tau kalau kita bisa sakit dalam Game ini?" sambung Naruto bertubi-tubi sera memasang pose berfikir ala detektif.
Hinata semakin kewalahan mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Naruto. Mau dijawab dia terlalu gugup, mau tidak dijawab dia merasa tidak enak hati pada Naruto yang menanyainya apa lagi mereka beru menjalin hubungan. Dia merasa serba salah.
"Lihat A-ansanya lu-cu Naruto-kun" dengan cepat Hinata berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Wah benar juga ya" ucap Naruto antusian menyaksikan beberapa ekor angsa yang sedang berenang diatas danau dengan tenang.
Hinata kembali makin mengeratkan genggaman tangannya. Pandangannya kemudian fokus pada wajah pemuda yang sedang asik memperhatikan para Ansa yang berenang. Sebuah senyuman kembali terlukis diwajahnya ketika mendapati Naruto tersenyum senang atau bisa dibilang menyengir lebar ketika menyaksikan kelakuan salah satu Angsa yang menurutnya lucu.
Mengalihkan pandangannya Hinata kemudian mengikuti Naruto untuk menyaksikan Ansa yang sedang berenang di dalam Danau. Seraya tangannya makin mengenggam erat tangan Naruto.
.
.
.
.
.
Reality
"...ruto"
"Naruto"
Naruto kembali membuka matanya secara perlahan membiarkan retina matanya terbiasa dengan pencahayaan yang menerjang matanya secara tiba-tiba. Berusaha duduk tiba-tiba dia mendapati Shion yang lansung memeluknya dengan erat.
Basah.
Memperhatikan gadis itu. Kembali Naruto mendapati kenyataan bahwa gadis itu menangis untuknya. Sebuah senyum kecil tercetak diwajahnya dengan perlahan merilekskan badannya membiarkan dirinya menikmati sensasi dipeluk oleh wanita untuk kedua kalinya.
Namun Naruto kemudian merasakan sesak ketika dia mendapati pelukan Shion makin erat. "Kau bisa membunuhku jika kau memelukku begitu erat"
Shion yang mendengar ucapan Naruto tersebut hanya diam seraya membenamkan kepalanya pada dada bidang Naruto. "Bodoh" ucap Shion lirih namun masih terdengar jelas bagi Naruto.
Sekali lagi Naruto hanya tersenyum meyaksikan tingkah gadis dihadapannya ini. Kemudian pandangannya beralih pada empat dewan dan semua Player yang menatapnya kagum (Minus empat dewan yang menatapnya biasa-biasa saja).
"Naruto bagaimana kabarmu sobat?" ucap Kiba seraya menepuk pelan pundak Naruto.
"Buruk kau tau" balas Naruto sambil terkekeh mendengar pernyataan konyol dari Kiba.
"Bagaimana Naruto" ucap Gaara yang masih berdiri didekat Naruto. "Apa kau mau membuka gerbang untuk kelantai selanjutnya?"
"Tidak!" ucap Naruto seraya mengelengkan kepalanya. "Sebaiknya kalian saja yang membukanya"
Gaara yang mendengar pernyataan dari Naruto hanya mengangguk dan kemudian meninggalkan pemuda tersebut. dan diikuti oleh tiga dewan lainnya dan termasuk semua Player yang tergabung dengan kelompok pengambil alih.
"Yo sobat" ucap Kiba yang masih memilih tingga. "Bagaimana rasanya dipeluk Shion?" bisik pemuda tersebut.
Naruto hanya memandang Kiba bosan. "Cari tau sendiri" bisiknya.
"Ah.. kau ini" ucap Kiba kecewa. "Baiklah aku pergi dulu" ucap Kiba yang mulai meninggalkan Naruto dan Shion. "Jangan sampai kau menghamili anak orang" ucap Kiba yang kemudian kabur.
Perempatan muncul di kening Naruto ketika mendengar perkataan Kiba yang seenak jidatnya. Namun itu tidak berlansung lama dikarenakan dia masih bisa merasakan Shion yang masih menangis dalam memeluknya. "Hei kau menangisiku seakan aku sudah tiada saja?"
"Bodah Hiks" balas Shion. "Bagaimana kalau Hiks mati. Aku Hiks takut kehilanganmu" sambungnya seranya semakin membenamkan wajahnya.
Naruto hanya diam mendengar ucapan Shion barusan . memilik memandang langit Dugeon yang hitam, Naruto hanya bisa menghembuskan nafas pelan ketika apa yang dipikirkannya tidak mendapat jawaban.
"Percayalah padaku... bahwa aku tidak akan mudah untuk mati" ucap Naruto berusaha menenangkan Shion.
Namun dia tidak mendapat balasan dari gadis itu. Bahkan dia tidak lagi mendengar isakan dari gadis keras kepala yang memeluknya ini. Heran kemudian Naruto memberanikan diri untuk mengangkat wajah Shion dan terkejut ketika dia mendapati gadis itu telah terlelap.
Ibu jarinya bergerak untuk mengusap pelan butir-butir air mata yang masih tersisa disudut mata gadis itu. Berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Kemudian Naruto mengendong Shion ala bridal style. Berjalan kemudian Naruto melangkahkan kakinya untuk menuju gerbang lantai selanjutnya.
Terus melangkah kedepan gerbang sebelum dia menghilang dalam cahaya dunia luar yang menyilaukan.
Salah satu alasan mengapa saya tidak membuat pair NaruxHina adalah kesulitan saya dalam mendiskripsikan sikap hinata dalam Fic. Dan bagaimana dengan chap kali ini apa kalian puas.
Melihat dari pertarungan diatas bisakah kalian menebak Job dari Naruto?
Saya harap kali ini yang Review banyak he he he...
Kalau kalian kurang puas boleh sampaikan unek-unek kalian dalam kolom Review.
.
.
Drak Yagami out~
