Hallooo ^o^

Aku update lagi… mungkin….untuk chapter berikutnya akan sangat dan amat lama baru akan muncul…

O ya, alasan kenapa aku memilih Sora dan Roxas sebagai TWINS adalah karena ada hubungannya dengan jalan cerita bukan hanya suatu kesenangan dan dendam pribadi. Dan alasan kenapa VENTUS ada di sini juga akan terkuak di chapter-chapter berikutnya (kalo aku update, ya).

SETIAP HAL YANG TERJADI PASTI MEMILIKI SUATU ALASAN.

ADA ASAP ADA API.

ADA SEMUT ADA GULA.

Untuk ending, aku sudah memikirkannya jauh-jauh sebelum aku publish fic ini begitu pula dengan jalan cerita dan alasan kenapa Sora dan Roxas sebagai KEMBAR.

Nah, I think that's enough. I get my butt frozen here. My hands hurt and my head, my brain. I need some rest – some DAMN rest.

Kingdom Hearts and its characters are not mine. Though I hope Roxas is mine… *phew

Hahahahaa, enjoy this little fic of mine, guys!

~THE POSSESSED~

Chapter 4: It's getting worse

Keesokan paginya, si kembar menjalani hari seperti kemarin. Mereka berangkat ke sekolah dengan diantar oleh Cloud dan disambut oleh teman-teman sekelas yang meriah seperti melihat sirkus. Mengacuhkan ucapan selamat datang dari teman sekelas, Roxas segera duduk di kursinya. Dia melihat Ventus sendirian dan kesepian. Mirip sepertinya dulu..

"Ventus," kata Roxas memulai pembicaraan.

"….mereka mengacuhkanku…"

"Kau pasti sangat sedih… dulu, aku juga begitu…" kata Roxas pelan. "teman-teman di sekolah lamaku menganggapku penyihir hanya karena aku memiliki kelebihan yang sangat aneh…"

"…penyihir?"

"Ya. Ngomong-ngomong, kenapa mereka mengacuhkanmu?"

"…karena aku… dibenci…"

"Kenapa mereka membencimu?"

"Karena…. Entahlah…."

Di sudut lain ruang kelas, Hayner melihat Roxas bicara sendiri. Dia merasa aneh kemudian memberitahu Sora.

"Sora, ada apa dengan adikmu?"

"Apa?" Sora menolehnya.

"Dia bicara sendiri."

Sora tercegang. Dia menghampiri Roxas secepat yang ia bisa untuk menegurnya, untuk tidak bicara sendiri lagi.

"Roxas!"

"Tunggu, Sora. Aku sedang bicara dengan Ventus."

"Berhenti bicara dengannya!" bentak Sora tiba-tiba.

"Memangnya kenapa?" Roxas menglaihkan perhatiannya dari kursi kosong kepada Sora.

"Ventus, temanmu itu. Dia…"

"Dia kenapa?"

"Dia.. Dia .. Dia tidak ada!"

Roxas merasa jantungnya baru saja dipukul oleh palu besar. Keringat dingin bercucuran dan perasaannya sangat aneh. Dia sedih..

"Kau bohong!" teriaknya, membuat seisi kelas memberikan tatapan ingin tahu padanya, "Ventus ada di sini!"

"Dia tidak ada! Roxas, berhenti berhayal! Jadilah laki-laki dewasa!"

"Seharusnya, aku yang bilang begitu!" Roxas berdiri, "Jadilah laki-laki dewasa! Apa kau tidak suka aku berteman dengan Ventus?"

Ventus tersenyum.

"Aku kakakmu jadi kau harus mendengarkanku!"

"Kau hanya lebih tua 13 menit dariku jadi untuk apa aku mendengarkanmu!" Roxas keluar dari bangkunya sambil menggandeng Ventus walau dalam mata orang lain, dia menggandeng angin. "Lebih baik, kita pergi dari sini. Ada yang iri dengan persahabatan kita, Ven." Sindirnya pada Sora sambil berlalu. Sora merasa dirinya baru saja disiram air mendidih. Darahnya naik dan ingin rasanya dia berteriak keras. Dia mengurungkan niat untuk berteriak seraya mendengar bisik-bisik teman sekelas.

"Anak itu aneh."

"Ventus?"

"Siapa Ventus? Tidak ada yang namanya Ventus di sini."

"Mungkin dia sudah gila."

"Kasihan sekali."

"Berisik!" Sora berteriak, meninggalkan ruang kelas. Dia ingin mencari Roxas dan mengakatan bahwa dia mengkhawatirkannya. Sora sadar seharusnya dia tidak berkata demikian. Sora ingin minta maaf pada Roxas dan Ventus.

Sora menelusuri seluruh bagian gedung sekolah, mencari kemana Roxas dan Ventus pergi. Dia tidak menemukan mereka di mana pun hingga akhirnya, Sora berhenti di kebun barat sekolah.

Roxas dan Ventus ada di sana. Atau mungkin hanya Roxas.

"Roxas!" Sora memanggilnya. Roxas yang sedang duduk di tanah sambil menatap sekumpulan bunga lili putih, menolehnya namun kemudian membuang wajah begitu tahu bahwa yang memanggilnya adalah Sora.

Sora mendekatinya, "Kau marah?"

"…" Roxas tidak menjawabnya.

"Maaf… aku tidak bermaksud.." suara Sora melemah.

"Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada Ventus." Balas Roxas. Sora tercengang. Haruskah dia pura-pura minta maaf pada orang tak nyata? Dia merasa bodoh.

"Ok. Umm.. m-maaf ya, Ven.."

Roxas menoleh sampingnya sebentar, "Maafkan dia?"

"Ya…" jawab Ventus walau hanya Roxas yang mendengarnya.

"Berterima kasihlah padanya karena dia sudah memaafkanmu, Sora."

"T-terima kasih." Sora memberikan senyum aneh pada angin di samping Roxas kemudian dia ikut duduk untuk menunggu bel masuk berbunyi. Walaupun suasana terasa aneh dan hawa dingin menyeruak, Sora memaksakan dirinya untuk tetap duduk dan tidak panik.

~~XXX~~

Semakin hari, persahabatan misterius Roxas dan Ventus semakin kuat. Dia semakin sering bicara padanya dan di mata orang lain, dia bicara sendirian. Teman-teman sekelas mereka mulai menganggap Roxas gila namun hal itu disanggah oleh Sora. Sora mengatakan pada teman sekelas bahwa Roxas mempunyai teman hayalan. Setengah kelas tidak percaya dan masih menganggapnya gila. Sora semakin khawatir dengan kenyataan itu. Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan…

"Ven, kau tidak mengerjakan ulangan matematika ini?" tanya Roxas pada suatu hari Selasa saat ulangan matematika dadakan dilaksanakan.

"…aku tidak bisa menulis.."

"Tanganmu sakit, ya?"

"…iya…"

"Um…" Roxas menoleh sekeliling. Tidak ada yang memperhatikan mereka berdua. "Aku akan kerjakan untukmu, ya?"

Ventus tersenyum.

Roxas mengeluarkan kertas dan mulai menyalin semua pekerjaannya ke kertas yang bertuliskan nama Ventus Kirikaze. Dia mengerjakan miliknya dan milik Ventus secepat yang dia bisa hingga bel berbunyi. Murid-murid menyerahkan ulangan mereka pada Mr. Zexion yang berambut aneh dan kembali duduk di kursi masing-masing.

"Semua sudah mengumpulkan?" tanya Zexion, menatap seluruh muridnya.

"Sudah, Pak."

"Biar kuhitung dulu," Zexion mulai menghitung, "1, 2, 3….. 35, 36, 37."

Para siswa kelas 1-3 terbengong saat mengetahui jumlah kertas ulangan ada 37 lembar.

"Rasanya aneh." Zexion kembali menghitung. Sekarang dengan menyebut nama muridnya, "…Olette, Hayner, Pence, Kairi, Ruka, Mio, Kei, Chris, Sora, Mayu, Roxas… Ventus. Huh?"

Seisi kelas kembali bengong.

"Aku rasa, tidak ada yang namanya Ventus di kelas ini."

Kelas mulai berbisik-bisik. Sora memperhatikan Roxas yang terdiam seperti dihipnotis. Dia tidak bergerak, tidak merespon perkataan Mr. Zexion.

'Roxas…'

"Baiklah. Silakan istirahat." Kata Zexion mengakhiri jam pelajarannya. Murid-murid menghambur ke luar kelas, sebagian memilih untuk menggosip – khususnya para perempuan, dan Sora menghampiri Roxas.

"Roxas."

Seperti baru terbangun dari tidur panjang, Roxas sedikit terlonjak di tempat, "Ya?"

"…Tidak. Tidak ada apa-apa." Sora keluar dari kelas. Pening kepalanya memikirkan apa yang sudah terjadi pada Roxas. Dia berjalan pelan sambil menundukan kepala.

"Ventus?"

Terdengar suara dari ruang guru saat Sora melintas di depannya. Dia berhenti, menguping siapapun yang tadi mengatakan nama Ventus.

"Dia mengerjakan ulangan matematikamu, Zex?"

"Ya. Aku merasa aneh.."

"Tapi tidak ada yang namanya Ventus di kelasmu kan, Marluxia?"

"Ya, itu benar.

"Apakah itu salah satu dari murid barumu?"

"Bukan. Nama mereka Sora dan Roxas."

Di luar, Sora menelan ludah seakan tak percaya.

"Ventus.. sudah mati 15 tahun yang lalu, kan?"

Mata Sora terbelalak. Ventus sudah mati 15 tahun yang lalu? Tapi… jadi, yang dia pikirkan selama ini ternyata benar. Ventus adalah hantu! Arwah penasaran.

TBC

Hanya segitu sahaja iyah. Mohon dimaklumi. Aku butuh istirahat – sangat butuh istirahat. To heal my head, my hands, and my heart.

"If I don't have a heart, why does it have to be that hurt?"

Just some quotes I found last day.

Oke, aku akan beberkan sedikit chara di sini:

Sora

Roxas

Ventus

Vanitas (sedikit perannya dan akan muncul near the end of the story)

Guess what?

Ini akan menjadi fic pertamaku yang berending aneh. Maksudku bukan sad ending lagi seperti sebelumnya. Sora akan bertahan hidup karena aku kasihan bikin dia mati terus *evil laugh* tapi juga bukan happy ending. WAKAKAKAKAKAAAAAA

Oke, dadah!

See you next time!

Till' we meet again!

Silakan kontak ke FB-ku jika ada yang ingin ditanyakan atau sekedar mengisi waktu luang= rinoa(underscore)spenda(at)yahoo(dot)co(dot)id

DA: veronicanightmare(dot)deviantart(dot)com

"He was HIS reincarnation. HE felt guilty and HE wanted to apologize for what he had done to the BOY. This guilt and apologize feeling created a new personality and the personality was then born as the boy's twin which took the appearance of the BOY."