My Lovely Kid

Naruto © Masashi Kisimoto

Rated : K-T

Genre: Family & Romance

Warning: Terinspirasi dari sebuah komik tapi saya lupa *plak* dan beberapa fic semacam ini dan oke banyak Typo.

Chapter 4

"Huuh, tetep gak keren tau. Sudah ah non aktifkan sharinganmu, mukamu tambah jelek. Aku pusing melihatnya." Ujar Naruto cuek sambil memegangi kepalanya. Sasuke cemberut dikatai jelek oleh Naruto padahal bocah ini sudah susah-susah memamerkan sharingan-nya agar dikatai keren.

Satu sosok lain disana terlihat masih shock mendapati Sasuke bisa menggunakan sharingan. Dia masih memandangi Sasuke dengan intens.

"Sasuke-Uchiha?" Tanya Sumaru pada bocah berambut model pantat ayam itu.

.

.

.

Dengan pandangan polos dan sedikit memiringkan kepalanya dia menatap Sumaru dengan pandangan bingung.

"Sasuke Uchiha?" Senyum Sasuke mengembang mendengar nama itu. Dia pandangi sahabatnya yang masih memegangi kepala tanpa sebab.

"Dobe namaku keren juga kalau ada Uchihanya, kata Oka-chan ayahku memang dari klan Uchiha loh!" Pekik Sasuke riang untuk pamer pada Naruto lagi.

Sumpah Sumaru kali ini ingin menonyol kepala anak berambut pantat bebek, dia yang bertanya kenapa Sasuke menjawabnya ke Naruto. Bukannya memberi jawaban anak ini malah pamer nama.

"Sasuke seharusnya kau menjawabku bodoh!" Kata Sumaru dengan geram sambil menuding-nuding Sasuke yang malah cuek sambil cekikikan.

"Sumaru kalau marah-marah nanti cepat tua loh, satu lagi Sasu nggak bodoh yang bodoh itu si dobe." Ujarnya dengan nada innocent sambil tersenyum hangat. Pandangan black onix lugunya kini telah kembali menghiasi wajahnya.

"Aku gak bodoh Teme, kau yang bodoh. Aghhh lupakan, kepalaku sakit." Ujar Naruto sambil mengomel persis kakek-kakek kemudian berlalu dihadapan mereka untuk menuju ruang kesehatan. Entah mengapa dia mendadak merasakan pusing sejak melihat sharingan milik Sasuke. Dalam memorinya seolah ada banyak gambar yang melintas begitu cepat. Bayangan-bayangan kabur dengan suaru-suara samar begitu menggema dalam otaknya dan itu sungguh menyakitkan.

Sasuke bingung melihat tingkah Naruto yang mendadak aneh dan pergi seenaknya sendiri.

"Dobe, tunggu aku!" Teriaknya begitu sahabatnya melangkah pergi. Langkah kaki yang mulanya cepat kemudian sedikit tertahan ketika Sumaru menahannya sesaat.

"Tunggu Sasuke, kau belum jawab pertanyaanku." Kata Sumaru dengan serius.

Sasuke mengerling untuk menanggapi bocah yang notabene pujaan para gadis kecil.

"Pertanyaan yang mana ya?" Tanyanya dengan nada ingin tahu. Rupanya sedari tadi bocah ini tidak mengerti arah pembicaraan Sumaru. Dengan perasaan yang sudah dibuat sesabar mungkin pemilik mata merah kemudian kembali mengulang pertanyaanya.

"Kau keturunan Uchiha?" Tanyanya kali ini dengan kalimat diperjelas. Jujur Sumaru penasaran dengan identitas Sasuke, terlalu banyak kejanggalan dalam diri bocah tujuh tahun (sepengetahuan Sumaru) dan sahabatnya. Jelas sahabatnya yang dimaksud adalah Naruto, di sesi perkenalan dia juga sama terkejutnya ketika mengetahui Naruto putra Hyuuga Hinata. Tapi kali ini Sumaru abaikan dulu Naruto karena rasa penasaran pada hari ini masih seputar Sasuke.

Sasuke tersenyum pada Sumaru tentunya kali ini adalah sebuah senyum kebanggaan yang terukir di wajah kecilnya.

"Kata Oka-chan sih begitu." Jawabnya singkat tanpa alasan apapun.

"Tapi itu tidak mungkin karena-."

"Astaga Dobe!" Suara panik dari Sasuke jelas memotong perkataan Sumaru karena fokus matanya langsung teralih pada sahabatnnya yang mendadak jatuh. Secara mendadak Naruto yang berjalan di depan mereka tiba-tiba pingsan. Reflek mereka berdua berlari kearah Naruto yang sudah tidak sadarkan diri. Dengan sigap Sumaru membaringkan tubuh Naruto dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala. Bisa dia lihat wajah Naruto yang pucat banyak mengeluarkan keringat.

"Sasuke panggil sensei." Perintahnya pada Sasuke yang terlihat kebingungan.

Tanpa banyak basa-basi lagi Sasuke berlari untuk menuju kelas yang paling dekat. Tidak peduli itu kelas tingkat apa yang penting dia bisa cepat memanggil bantuan.

Sraaak!

Pintu kelas akademi dibuka secara kasar oleh Sasuke yang terlihat panik.

"Sensei, tolong temanku pingsan!" Kata Sasuke reflek pada seorang guru yang tidak dia kenal namanya.

.

.

.

Tes! Tes! Tes!

Hanya ada suara tetes air yang terdengar di indera pendengaran bocah berambut pirang. Matanya masih terpejam namun perlahan membuka saat mulai menemukan kendali tubuhnya. Melalui rangsang yang diterima oleh reseptor ruffini kulitnya kini dapat merasakan dinginnya lantai dimana dia berbaring.

Dingin, tempat ini terlalu dingin bagi Naruto.

"Apa rumah sakit memiliki kasur sedingin ini?" Batin sang bocah dalam hati. Secara perlahan dia membuka mata untuk melihat keadaan sekitar. Tempat itu seperti lorong bawah air dengan cahaya yang remang-remang. Dia kemudian bangkit untuk berdiri, pandangan matanya masih terheran-heran melihat tempat begitu besar.

"Akhirnya kau sadar juga, gaki." Sebuah suara berat menyapa indera pendengarannya. Reflek bocah itu mencari sumber suara dengan menengok ke kanan dan ke kiri.

"Hallo, apa ada orang?" Tanyanya pada suara misterius yang memanggilnya.

"Dibelakangmu gaki." Kata suara itu dengan nada dingin namun terdengar nada kejengkelan di dalamnya.

Deg! Deg! Deg!

Secara tiba-tiba jantung Naruto berdetak lebih kencang dari biasanya. Mendengar suara dingin nan berat yang ternyata dibelakangnya secara naluriah membuatnya ketakutan. Perlahan dia memutar tubuhnya dan sebuah ledakan suara langsung terjadi.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! Kaaa-chan ada anjing raksasa! Huwaaaaaaaaa!" Jerit Naruto sambil menangis sebisa mungkin. Karena ketakutan dia reflek langsung lari menjauh dari makhluk yang dikiranya anjing.

"Huwaaaaaaaaaaaaaa! Kaa-chan! Huwaaaaaaaaaaaaa! Tolong aku!" Tempat yang tadinya hening mendadak jadi berisik gara-gara teriakan bocah kecil itu.

"Gaki, percuma kau lari. Hentikan teriakanmu itu, aku tidak akan menyakitimu!" Kata makhluk besar berbulu orange dan memiliki ekor sembilan. Dengan gerakan perlahan makhluk itu menghampiri Naruto yang kini terdiam ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat karena melihat makhluk yang tidak biasa.

"Huwaaaa, ada anjing bisa bicara!" Teriak Naruto lagi sambil menjauhkan tubuhnya dari makhluk berbulu orange yang kini merundukkan tubuhnya di depan Naruto.

"Jangan menangis lagi, gaki." Dengan gerakan perlahan makhluk itu kemudian memajukan cakar besarnya untuk mengelus-ngelus kepala Naruto yang masih sesenggukan menangis. Secara perlahan akhirnya bocah berambut pirang itu mulai menghentikan tangisnya. Matanya sedikit sembab karena menangis dengan keras. Butuh waktu cukup lama sampai isakan tangisnya tidak terdengar lagi.

"Nah, begitu anak pintar." Ujar makhluk besar itu untuk lebih menenangkan Naruto. Tentu perilakunya ini sangat di luar kebiasaan dari monster macam dia. Tapi apa boleh buat lagi, hal itu harus dilakukan demi bocah yang menjadi wadah dan temannya.

"Hikz..hikz…hikz..jadi anjing-chan janji tidak melukaiku?" Tanya Naruto yang sukses menaikkan perempatan dari makhluk berbulu orange.

"Aku bukan anjing gaki! Aku Kyuubi monster rubah berekor sembilan." Protes Kyuubi pada wadahnya yang ternyata amnesianya keterlaluan sampai tidak bisa membedakan antara rubah dengan anjing. Dia pelototi Naruto dengan tatapan kesal, Naruto justru cuek. Bocah itu justru memandang Kyuubi dengan pandangan yang sudah berubah, bukan pandangan takut melainkan pandangan memuja.

Detik berikutnya Naruto hanya bisa garuk-garuk kepala karena malu sambil menyengir lebar pada monster berekor sembilan di depannya.

"Jadi tuan Kyuubi itu rubah ya? He he he kukira anjing. Gomen!" Ujar Naruto dengan riang disertai wajah tanpa dosa yang dapat melunakkan hati siapa saja. Andai Kyuubi manusia pastilah dia ingin menepuk jidatnya gara-gara melihat kelakuan Naruto.

Rubah itu memalingkan wajahnya dari Naruto, dia kibas-kibaskan ekornya dihadapan sang bocah yang kini malah asyik lagi melihat lambaian sembilan ekornya yang menari-nari bagai kipas.

"Gaki!" Panggil Kyuubi untuk memecah pusat perhatian.

"Ada apa, kyuubi-san?" Tanya Naruto bingung ketika perhatiannya harus teralih dari ekor Kyuubi.

"Kau tidak bertanya siapa aku? Dimana tempat ini? Kenapa kau bisa disini?" Setelah sekian lama tidak bisa bertemu karena cakra Naruto yang tidak cukup menemui dirinya ternyata wadahnya itu kelakuannya sangat berubah. Kyuubi tahu Naruto menyusut dan kehilangan ingatan akibat pertarungan itu namun sama sekali tidak menyangka jika Naruto akan sepolos ini.

"Oh begitukah? Kalau begitu siapa kau? Lalu tempat ini dimana? Kenapa aku bisa disini?" Tanya Naruto dengan nada polos mengulangi pertanyaan Kyuubi. Sungguh Kyuubi disini ingin bersweatdropria. Oh Naruto kenapa kau jadi selugu ini.

"Grrrr…kau memang polos atau sok polos gaki." Cibir Kyuubi dengan nada kesal. Dia pandangi Naruto dengan gahar namun sang bocah justru malah asik lagi menonton ekor kyuubi yang bergoyang sambil berjongkok, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti arah lambaian ekor Kyuubi.

"Gaki, kau mendengarkanku tidak?" Tanya Kyuubi pada Naruto yang malah terpesona pada ekornya.

"Ya aku dengar Kyuubi-san, sekarang jawab pertanyaanku tadi." Jawab Naruto dengan tenang. Awalnya dia memang ketakutan melihat makhluk besar ini namun ketakutannya perlahan memudar karena sikap Kyuubi yang jinak.

"Wah pasti keren kalau punya peliharaan sebesar ini apalagi aku bisa menaikinya sambil jalan-jalan di Konoha." Batin Naruto dalam hati sambil membayangkan betapa senangnya bisa naik di atas tubuh Kyuubi yang besar .

Kyuubi mendengus pendek lagi ketika makhluk kecil dihadapannya tidak fokus lagi pada pembicaraan mereka.

"Dengar, namaku Kurama. Seperti yang sudah kubilang tadi aku adalah monster rubah berekor sembilan dan tempat ini adalah dalam tubuhmu yang menjadi wadahku saat ini." Tutur Kyuubi dengan suara berat nan dingin yang berhasil membuat Naruto mendengarkannya baik-baik.

Naruto mengerutkan dahi untuk mencerna kalimat yang dilontarkan makhluk dihadapannya itu. Naruto sedikit mengernyit ketika mengetahui bahwa tempat ini adalah di dalam tubuhnya.

"Kurama, apa benar kau dalam tubuhku?" Akhirnya terdengar juga nada serius dari kalimat Naruto. Entah cuma perasaan Kyuubi saja atau memang Naruto kini yang memandang tajam sosok Kyuubi. Mata blue safire itu terlihat lebih dewasa dibanding tadi.

"Ya begitulah gaki, aku adalah monster yang disegel dalam dirimu. Meskipun kau belum mengingatnya namun satu hal yang perlu kau tahu bahwa kita ini adalah partner gaki." Ucap Kyuubi pada Naruto yang menampakkan wajah terkejut.

Mata safirenya membulat menatap Kyuubi, lidahnya sedikit keluh gara-gara menerima informasi dari Kyuubi.

"Mengingat? Ingat apa? Kita Partner?" Tanya Naruto bertubi-tubi dengan kalimat yang sedikit terputus. Entah mengapa kepalanya tiba-tiba pening lagi gara-gara memikirkan perkataan Kyuubi, tangan kecilnya digunakan untuk memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa berat. Dia remas rambut pirangnya dengan keras berharap dapat meredam kepalanya yang sakit.

"Jangan dipaksakan gaki, kesakitan itu terjadi karena cakramu masih belum cukup untuk menerima ingatan serta kekuatanmu yang dulu. Sekarang tenanglah, jangan berfikir apa-apa dahulu." Ujar Kyuubi sambil mendaratkan kukunya pada tubuh kecil Naruto yang mulai linglung.

"Arkhhh! Sakit!" Ujarnya keras sambil berjongkok. Nampaknya Naruto tidak mengindahkan peringatan dari partnernya itu terbukti dengan kesakitan yang menghujani pikirannya.

"Gaki, sudah kubilang jangan dipaksakan." Kata Kyuubi dengan nada khawatir. Bagaimanapun juga dia sangat peduli pada Naruto. Rubah itu tidak menginginkan bocah yang menjadi wadahnya mengalami kesakitan di depan matanya. Otaknya mulai berfikir untuk mengalihkan fikiran Naruto.

"Gaki buka matamu lihat aku!" Perintahnya pada Naruto untuk memandanginya.

Sepasang mata blue safire itu kemudian terbuka, untuk beberapa saat pemilik mata itu bingung memandangi Kyuubi namun beberapa detik berikutnya mata kekanakannya sudah mendominasi pandangan. Si anak pirang tertegun pada ekor Kyuubi yang melambai-lambai.

"Cantik." Ujar Naruto terpesona. Komentar Naruto tadi membuat Kyuubi lega karena berhasil mengalihkan perhatian si bocah meski dengan cara yang sedikit memalukan yaitu dengan menggoyang-goyangkan pantatnya agar kesembilan ekornya bisa melambai dengan alur yang indah. Tidak masalah caranya ini seperti anjing asal perhatian Naruto teralih.

"Gaki, jangan paksakan dirimu. Aku akan menunggumu dengan sabar." Ucapnya dengan nada tulus meski suara yang terdengar adalah suara berat dan dingin khas para monster berekor.

Naruto memiringkan kepalanya kemudian memandangi Kyuubi intens.

"Arigatou, kurama." Naruto sendiri tidak mengerti kenapa ingin mengucapkan terimakasih. Bocah itu memandangi Kyuubi cukup lama seperti memikirkan sesuatu namun anehnya dari pandangan Kyuubi tidak terlihat mengalami kesakitan kali ini.

Naruto tersenyum simpul pada Kyuubi. Senyum lemah yang terlalu dewasa untuk anak-anak.

"Ne, Kurama boleh aku bertanya sesuatu?" Tanyanya dengan nada takut-takut.

"Apa gaki, asal tidak memicu kesakitanmu akan kujawab." Kyuubi tidak mau memaksakan wadahnya untuk mengingat semuanya, dia berjanji pada dirinya sendiri akan menunggu Naruto kembali seperti semula.

"Kurama jika kau yang besar ini bisa masuk dalam tubuhku yang kecil ini, lalu bagaimana ya cara memasukkan gajah dalam kulkas?" Tanya Naruto dengan nada ingin tahu khas anak kecil. Mata blue safirnya yang memikat digunakan lagi untuk meluluhkan hati kurama agar menjawab.

Satu detik pertama, Kurama tersedak. Beberapa detik berikutnya Kurama menatap Naruto tidak percaya. Beberapa saat kemudian keringat kurama sudah mengalir deras.

"Ayo beri tahu aku caranya Kurama, aku ingin mencobanya." Rengek Naruto pada monster didepannya ini.

"Cara memasukkan gajah ke dalam kulkas, hmmmph?" Kyuubi menyeringai untuk menutupi kepanikannya.

.

.

.

"Kurama bodoh!" Suara Naruto itu langsung menarik perhatian Sasuke yang masih berdiri di jendela sambil menyandarkan kepala kecilnya pada kusen. Dengan cepat dia memalingkan wajahnya untuk melihat keadaan Naruto yang masih memejamkan matanya.

Penasaran, dihampirinya ranjang perawatan Naruto untuk melihat lebih jelas sang sahabat. Mata black onixnya menunjukkan kecurigaan ketika melihat kejanggalan pada sosok Naruto yang tertidur. Sudut bibir Naruto seperti terkedut menahan tawa.

Hup, dengan sedikit lonjakan kecil dia berhasil naik keranjang perawatan Naruto yang baginya cukup tinggi.

"Dobe, apa kau sudah sadar?" Tanya Sasuke sambil menonyol pipi Naruto yang tembeb. Jelas-jelas dia dengar Naruto berkata, "Kurama bodoh".

"Apa aku panggil suster saja?" Tanyanya pada diri sendiri. Kebetulan saat ini dia yang sedang menjaga karena Hinata dan Sakura pulang ke rumah untuk mengambil perlengkapan menginap. Sumaru juga sudah pulang karena saat ini sudah sore.

Dia amati baik-baik Naruto yang sedari tadi belum siuman. Sasuke tidak mungkin salah mendengar terlebih lagi melihat bibir Naruto tertarik membentuk senyum.

"Tuh kan, Dobe bangun!" Teriaknya sambil mencubit kedua pipi Naruto bersamaan yang hasilnya ternyata sukses besar.

"Huwaaa!" Teriak Naruto kesakitan dan tanpa sengaja mendorong tubuh Sasuke ke belakang hingga terjatuh.

Brugh!

"Huwwaa! Sakit!" Pekik Sasuke yang teriakannya menyaingi Naruto. Dia pelototi Naruto dengan cemberut.

"Dobe, baka! Apa-apaan kau ini, hah!" Ujarnya dengan nada kesal. Pantatnya cukup sakit akibat jatuh dari ranjang.

"Kau yang apa-apaan Teme? Kenapa kau mencubitku!" Kata Naruto marah sambil menunjuk pipinya yang memerah.

"Habisnya kau hanya pura-pura pingsan saja. Aku melihatmu tersenyum, mana ada orang pingsan bisa tersenyum." Tuduh Sasuke pada Naruto yang kini memandangi dengan ekspresi marah.

"Tidak Teme!" Sangkal Naruto pada temannya sambil mengepalkan kedua tangannya ke kasur.

"Jangan berbohong dobe, baka. Jelas-jelas tadi aku melihat kau tersenyum." Sasuke masih kekeh dengan pendapatnya bahkan sampai memperagakan bagaimana senyum sambil tidur Naruto tadi.

"Permisi!" Suara ketiga menginterupsi pertengkaran mereka. Seorang gadis kecil berambut hitam kebiruan menyapa mereka dari luar kamar. Pintu kamar Naruto memang tidak di tutup sehingga Koyuki dengan mudah menemukan mereka.

Naruto dan Sasuke memandang heran bersamaan.

"Eh Koyuki-chan? Masuk sini!" Pinta Naruto reflek ketika ada teman satu kelasnya datang menjenguk. Bukannya terlalu PD atau apa tapi untuk apa lagi dia datang membawa sekeranjang buah kalau bukan untuk membesuk.

Koyuki mengangguk pelan kemudian berpaling pada body guardnya dan memerintahkan mereka untuk pergi. Dengan membawa sekeranjang buah-buahan dia masuk.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya ramah sambil meletakkan buah-buahan yang dibawa ke atas meja samping ranjang. Koyuki begitu manis dengan tampilan gaun putih dengan renda bunga kecil di sekeliling lengannya, cukup membuat jantung Naruto dan Sasuke berdesir sesaat.

Naruto menggeleng-gelengkan pikirannya dan fokus Sasuke sudah beralih ke keranjang buah yang dibawa Koyuki.

"He he he, seperti yang kau lihat aku baik-baik saja." Kata Naruto sambil tertawa garing pada Koyuki. Di sisi lain Sasuke secara tidak sopannya sudah membuka bingkisan buah yang dibawa Koyuki dan hal itu tertangkap jelas oleh pandangan mata blue safire Naruto.

"Hei, Teme apa yang kau lakukan?" Reflek Naruto meneriaki bocah bermata black onix itu yang tanpa dosanya sudah membuka buah dari Koyuki.

Bagai anak kelinci yang baru lahir Sasuke menyengir lebar ketika sahabatnya sudah memasang pose marah akibat kelakuannya.

"Minta boleh? Aku hanya minta tomatnya kok." Ujar Sasuke dengan santai dan mengabaikan tampang horor Naruto yang sepertinya siap meledak.

"MANA ADA TOMAT DI SITU TEME!" Umpat Naruto dengan suara keras yang rupanya mampu terdengar sampai lorong. Tidak disangka Hinata dan Sakura mendengar teriakan itu. Dalam waktu singkat mereka telah muncul dihadapan para anak.

"Naruto kau sudah sadar?" Pertanyaan itu muncul dari Sakura yang masih terkejut melihat Naruto sudah sadar.

"Yosh Bibi Sakura! Dan itu gara-gara ulah Sasuke-Teme!" Rutuk Naruto sambil memandangi tajam Sasuke yang cuek bebek melanjutkan aktivitasnya ngubek-ngubek buah tomat yang dipastikan tidak bakal ketemu.

Kening Sakura mengerut mendengar penyataan Naruto.

"Ulah Sasuke?" Tanyanya sambil melirik pangeran kecilnya yang masih asik sendiri. Dibandingkan Sakura yang cukup shock gadis bersurai indigo langsung mengelus kepala Naruto. Hinata sangat bersyukur Naruto baik-baik saja.

"Maaf , selamat sore Hyuuga-san, Haruno-san." Sapa Koyuki untuk membuat kehadirannya diakui oleh dua gadis yang sepertinya lupa akan kehadiran Koyuki. Ah, Sakura dan Hinata baru sadar malah kalau ada Koyuki.

"Uhm, hai Koyuki-chan. Terimakasih sudah jenguk Naruto." Ujar Hinata dengan tulus. Perempuan itu sangat senang karena teman-teman pangeran kecilnya begitu peduli pada Naruto.

"Sama-sama, maaf tadi aku tidak menjenguk bersama teman-teman karena aku ada perkerjaan. Sebagai gantinya aku menjenguknya sekarang. Syukurlah kalau Naruto sudah sadar." Ujarnya dengan nada lembut.

"Dobe, kok nggak ada tomat ya?" Interupsi Sasuke pada Naruto, dia sudah putus asa mencari sebuah tomat diantara buah-buahan yang di bawa Koyuki. Sontak semua memandang Sasuke dengan pandangan geli tak terkecuali Koyuki yang tertawa.

"Sasuke-kun tidak ada tomat disitu, lagipula mana ada bingkisan buah yang menyisipkan tomat." Ujar Koyuki pada teman sekelasnya itu.

"Sasuke, jangan bikin malu Oka-chan!" Ketus Sakura sambil menepuk jidatnya yang sudah lebar. Raut wajahnya yang manis bahkan sudah mengkerut untuk menahan malu.

"Ha ha ha, Teme bodoh! Lagipula tomat itu sayuran bukan buah Teme." Cela Naruto dengan nada menghina.

Tentu saja bocah berdarah Uchiha itu tidak terima. "Tomat itu buah, dobe!" Sentaknya pada Naruto.

"Ha ha ha ha ha, Teme payah." Komentar Naruto untuk menghina Sasuke.

"Naruto-kun, Sasuke-kun hentikan tidak baik bertengkar." Sela Hinata untuk meredam keributan akibat perdebatan kecil masalah tomat. Jika tidak dihentikan Hinata yakin mereka akan terjadi adu mulut yang cukup panjang.

Naruto memandang kesal Sasuke lalu beralih pada Hinata untuk melihat wajah cantik orang yang dikiranya ibu. Hinata risih ketika Naruto menatapnya dengan pandangan memuja.

"Naruto-kun ada apa?" Tanya Hinata.

"Aku kesal pada Teme! Dia mencubit pipiku Kaa-san, kan sakit pipi Naru." Curhat Naruto untuk mengadukan kelakuan bocah raven yang sudah memilih duduk dipangkuan ibunya di kursi samping. Hinata, Sakura, Koyuki reflek memandangi Sasuke yang langsung membuang muka.

"Apa yang kau lakukan pada Naruto, Sasuke?" Tanya Sakura dengan nada persis ibu-ibu memarahi anaknya. Iris viridian Sakura menatap tajam Sasuke yang terlihat cuek bebek.

"Habisnya tadi dobe ketika belum sadar dia berkata "Kurama bodoh," terus aku melihatnya tersenyum ketika tidur. Aku kira dia hanya pura-pura lalu aku cubit saja pipinya agar bangun. Tuh kan, dia langsung bangun." Bukannya merasa bersalah tetapi Sasuke justru mengatakan dengan nada bangga.

Hinata dan Sakura membeku bersamaan, sedangkan Koyuki justru tertawa mendengar cerita polos Sasuke.

Hinata dan Sakura saling lirik tanpa memberi komentar apapun.

"He he he he, gomen sepertinya aku mengigau ketika tidak sadar." Tawa Naruto memecah keheningan.

"Tadi aku bermimpi bertemu rubah raksasa warnanya orange Kaa-saan. Ekornya ada sembilan, rubahnya ajaib lo bisa bicara." Cerita Naruto sambil memeperagakan jumlah ekor Kyuubi dengan tangannya. Hinata dan Sakura jadi semakin shock, jelas mereka tahu siapa sosok yang diceritakan oleh Naruto yaitu Kyuubi.

"Apa pingsannya Naruto ada berkaitan dengan Kyuubi? Ini perkembangan yang bagus untuk Naruto-kun." Batin Hinata dengan gembira.

"Wah benarkah? Masa ada rubah ekornya sembilan Naruto?" Tanya Koyuki pada Naruto yang membuat Sakura dan Hinata berpaling padanya. Ah, mereka lupa lagi ada Koyuki. Gadis kecil itu sepertinya tertarik dengan cerita Naruto.

"Semoga anak ini tidak tahu tentang Kyuubi dan Naruto." Batin Sakura berharap, tampaknya dia cukup cemas jika sampai Koyuki menyadari ada kejanggalan dalam diri Naruto.

"Iya, badannya besar Koyuki-chan. Ekornya sembilan, giginya tajam, tapi kalau bergoyang lucu deh." Tutur Naruto dengan semangat.

"Rubah ekor sembilan katamu dobe? Bukankah itu Kyuubi, monster berekor sembilan yang disegel dalam tubuh Uzumaki Naruto." Kali ini kata-kata Sasuke yang jadi pusat perhatian. Sakura memandang tajam pada Sasuke, Hinata menatap Sasuke dengan mata pasrah, Koyuki terlihat ingin tahu dan Naruto terlihat berpikir.

"Waaah, keren! Jadi Kyuubi itu monster milik Naruto Uzumaki. Apa jangan-jangan Naruto itu putranya Naruto Uzumaki, tidak mungkin tidak ada hubungan hingga bisa bertemu lewat mimpi." Skak Mat, hampir mengenai sasaran. Berterima kasihlah pada Uchiha Sasuke dengan pengetahuannya yang diberitakan pada waktu yang salah.

"Sasuke bodoh!" Teriak Sakura dalam hati untuk menanggapi ucapan Sasuke yang tepat sasaran dan berhasil memancing rasa ingin tahu Koyuki.

Bersambung

Thank to

Light Starry Hope, Akira No Sikhigawa, Bhie Forsaken, huddexxx69, , fajar jabrik, Yourin Yo, Hakane ryuuga, Yukori Kazaqi, , SoulHarmoni, Lhylia Kiryu, Benafill McDeemone, 93, Guest, Nabila, SyHinataLavender, jhe naru-chan, Haruno Hikari-Chan, Mysterio, GazzelE VR, Apras, Shin 41, Yuki no Ame, sheren, poo, Ifaharra sasusaku, jj bunshin, dikdik717, mitsuka sakurai, Kyoanggita, koga-san, Nitya-chan, Fizan Darwis, Yamamoto Hikaru, afirstletter, Naruhina Luna, uzumaki naryo, Nabila, sami haruchi, Guest, violynchan, Vj Baka Dobe, naninuneno, khuzaeri, amexki chan gak log, yuto, Nabila Chan BTL, Soputan, armida. , TheBrownEyes'129, NaruGankster, koga-san, kushina, Bluexa dan seluruh yang udah mampir.

Terimakasih atas reviewnya. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan.

Terimakasih

Mind to Review?